OMCIA! YBIMA /Part 4/


crush month apartement

| Title |

One Month Crush In Apartemen! [Yadong boy in my apartemen!] Part 3

| Main Cast |

Park Leera

Kim Jong In

Park Chanyeol

Seo Joo Hyun

| Another Cast |

All Member EXO K

All Students in class

Eomma

| Genre |

School life, romance, fluff, AU

| Length |

Chaptered

| Rating |

Teen

PG-15

| Summary |

Tinggal dengan namja mesum itu di apartemen ini?! GILA! Shireo!

Previous Part

| Part 1 | Part 2 | Part 3 |

NO PLAGIARISM PLEASE. AND IF YOU ARE SILENT READERS PLEASE GO OUT^^

Khusus part ini bakal panjang. Jadi stay tune and maybe prepare some popcorn?^^

Previous Part

“Telat atau malah lebih buruk?” Gumamnya pada diri sendiri. Namun dengan jelas D.O yang duduk tepat di depannya mendengar dan bergidik ngeri. Tak lain tak bukan kedua bangku tersebut adalah milik Kai dan Leera.

D.O yang menyadari kedua temannya itu akan telat langsung memejamkan matanya dengan keras. Tak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka.

#

Author POV

Kedua pasang kaki itu terengah-engah mencapai gerbang sekolahnya. Melihat dentingan jam raksasa yang terpantri di sekolah itu, segeralah mereka berdua melayangkan pandangan ke arah pintu masuk gedung dan berlari.

Leera dan Kai terus bertahan berlari sembari mengenakan tas yang berat. Mereka mengitari areal taman yang luas dan memutari sebuah jembatan kecil. Baru mereka bisa sampai di dalam gedung. Pertama-tama mereka baru sampai di koridor yang panjang dan seakan tidak berujung.

Leera berhenti dan menopangkan sikutnya di dinding koridor. Ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Sesekali ia terbatuk karenanya. Ia lalu menatap bahu Kai yang masih kuat untuk berjalan—yang seharusnya berlari. Dengan nada rapuh ia memanggil Kai.

“Kai….” Katanya parau sambil mengatur nafasnya.

Kai yang mendengar suara Leera yang menggema itu sontak berbalik kepala—tidak untuk badan. Ia menatap yeoja rapuh itu dengan malas dan kesal. “Wae? Kita ini sudah telat! Kajja!”

Kai lalu menunggu respon dari yeoja itu. Tapi nihil, Leera masih saja mengatur nafasnya dan terbatuk. Melihat itu Kai mendengus kesal. Ia tidak menyukai yeoja yang sangat rapuh dan lemah, bahkan dia hanya lari dari areal taman kesini. Menurut Kai ini belum seberapa.

Kai lalu memanggil nama Leera untuk mempercepat tindakan yeoja itu, “Park Leera..”

Leera terus menunduk dan menopangkan telapak tangannya di lutut. Ia tidak bisa menjawab panggilan Kai. Kai yang mellihat itu mendengus kesal dengan nafas berat ia berjalan kembali ke arah yeoja itu menahan langkahnya.

“Park Leera.. ppali, aku sudah telat begitu juga dengan kau!”

“Jangan buat aku terkena hukuman karena ulahmu!” Timpal Kai.

Leera masih mengatur nafasnya. Sejenak ia menaikan dagunya, dan menatap Kai. “Ya, kau duluanlah..” Leera sungguh parau. Suaranya masih terdengar diluar batas normal. Namun, Kai menurut tentu saja. Menurut karena itulah yang memang dia inginkan. Dia tidak ingin menunggu yeoja itu.

Kai pun segera berbalik dan berlari. Meninggalkan suara decitan sepatu pada lantai.

#

Kai sampai di koridor di depan kelasnya. Sepi, sunyi.. hanya suara decitan sepatunya lah yang terdengar. Dengan langkah yang dibuat santai, Kai melangkahkan kakinya ke dalam kelasnya. Disambut tatapan tatapan iba dan takut dari seluruh temannya dan tatapan mengerikan dari gurunya yang sedang menjelaskan di depan.

Kai keukeuh meneruskan jalannya hingga ia menuju bangkunya. Namun,

“Kim Jong In berdiri di luar!”

Kai yang mendengar itu memutar bola matanya dan berbalik ke pintu. Sejenak ia merasakan tatapan D.O yang iba padanya. Namun Kai mengacuhkannya dan segera keluar tanpa menatap siapapun. Ia berdecak sembari melangkah.

Ia pun menggeser pintu itu kembali. Menutupnya dengan rapat. Ia lalu berdiri di luar kelasnya. Di koridor, sendirian. Namun ia berinsting bahwa sebentar lagi ada yang menemaninya berdiri disini, Park Leera.

Masih menggunakan tas punggung nya, Kai berdiri di luar kelasnya itu dengan acuh. Matanya lah yang berkali-kali mencari bayangan sosok Leera sampai di kelas.

Lalu, terdengar suara orang berlari menujunya. Tak lain tak bukan adalah Leera. Dia berlari dengan nafas yang tersengal-sengal. Kai memutuskan untuk menutup mulutnya rapat-rapat saat itu. Sehingga dia tidak mau menjawab pertanyaan dari Leera yang kini menatapnya bingung.

“Ya Kai-a? mengapa kau tidak masuk kelas? Pabo..” Leera mengejek Kai dan segera masuk kelas.

Sementara dengan Kai dia terkekeh kecil saat bayangan Leera menghilang masuk kelas. Yeoja itu benar-benar keras kepala dan pabo. Apakah ia tidak sadar mengapa Kai diluar?

Beberapa detik kemudian Kai mendengarkan oecehan guru itu lagi—ya nyaring. Kai pun tertawa kecil seolah bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam. Pasti Leera sedang menahan malunya.

‘Ckckck dasar yeoja pabo..’ Gumam Kai dalam hati. Ia terus terkekeh hingga suara geseran pintu terdengar dan menyembul lah sosok Leera dari sana. Tentunya dengan wajah yang kusut dan eum… abstrak.

“Ya! Mengapa kau tidak memberi tahuku, pabo?” Leera memelototi Kai dengan tajam. Sementara Kai hanya terkekeh kecil. Kai lalu menaruh jari telunjuknya di depan bibir mungil Leera seraya mendesah pelan, “sshh..”

Leera menepis jari telunjuk Kai dan semakin menatap Kai tajam. “Awas kau ya, paboya!”  Lalu Leera berdiri di samping Kai. Menjalani hukuman berdirinya hingga bel istirahat kembali berderang

Berdiri disana dilalui dengan kejengahan dan hening. Tak ada sepatah katapun menghiasi waktu hukuman mereka. Pandangan Kai terkunci kedepan, sementara Leera hanya menekuk alisnya. Mereka larut dalam kesunyian dan fikiran masing-masing.

Leera POV

Pabo namja paboya! Kim Jong In! Mengapa kau tidak memberi tahuku eoh? Kalau kau beritahu aku kemungkinan aku akan mengikutimu berdiri di sini dan tidak akan menahan malu di dalam! Tch, hidupku semakin sial saja denganmu. Masalah kita belum selesai! Aku belum sepenuhnya tahu apa yang kau lakukan padaku sehingga kau bisa tidur satu ranjang denganku? AHHH! Kai!

Bisa tidak dia sedikit serius menghadapiku? Mengapa ia terlampau santai dengan semua kelakuannya? Apa ia tidak tahu kalau aku menganggap itu hal besar? Bodoh..

Aku tidak akan berfikir aku lemah. Aku tidak lemah! Aku hanya waspada. Dan dia—Kim Jong In adalah orang tanpa rasa kewaspadaan sedikitpun! Cuek dan pemalas! Yah! Itulah ia! Kurasa butuh berabad-abad bagiku untuk bisa berteman akur dengannya. Aku juga tidak tahu,

Aku pun terus menerus menekuk alisku karena terbayang seluruh keburukan Kai. Aku terus mengumpatnya dalam hati dan mengutuknya. Namun, tiba-tiba aku mendengar sebuah ketukan dari jendela. Aku pun membalikan kepalaku. Begitu juga Kai, yang kurasa ia menyadarinya juga.

Aku pun melihat siapa sosok yang mengetuk pintu. Ah? Baekhyun? Untuk apa ia mengetuk jendela? Berkomunikasi dengan kami?

Aku pun membaca gerakan bibirnya yang pelan dari luar. Kurasa Kai juga berusaha memahaminya.

“Se-la-mat men-ja-la-ni hu-ku-man!”

Sial! Baekhyun mengapa dia mengatakan itu? Mengapa ia juga menyebalkan eoh?

Aku pun membalas ejekannya dengan memutar bola mataku dan mengibaskan rambutku. Lalu sekejap mata aku sudah membelakangi Baekhyun. Mengapa banyak sekali lelaki yang menggodaku seperti itu? Apa karena aku terlalu cute? Huh, menyebalkan menjadi cute.

Respon Kai terhadap Baekhyun?

Seperti biasa, aku tidak bisa menemukan gejolak emosinya saat itu. Dia hanya mengangkat alisnya dengan malas lalu berbalik. Yeah, santai. Anak itu terlalu santai untuk menjalani hidup.

TETTTTT~

Bel istirahat berderang. Tetapi bel itu di peruntukan untuk kelas reguler. Kelas kami unggul sehingga kami mengalami istirahat lebih lambat. Ya, ampun. Memalukan, haruskah aku terus berdiri disini dan membiarkan seluruh murid regular menatapku mengejek? AH!

Satu-persatu murid melewatiku. Aishh namjanamja tampan dari kelas regular lewat! Tidak! Ini bisa menurunkan reputasiku!

Aku pun segera menunduk saat aku sadar Luhan dan Tao lah yang ingin melewati ku. Aku berusaha menutup mukaku agar mereka tidak mengenaliku. Tjah! Aku malu sekali sekarang!

Aku lalu terus menunduk saat mendengar kerumunan murid reguler yang melewati kami. Untung saja mereka terlalu asyik dengan dunia mereka sendiri. Sehingga mereka tidak sadar akan dua manusia yang dihukum di luar kelas ini. Fiuh, akhirnya semua kerumunan itu pergi.

Namun, beberapa yeoja dengan rok pendek menatapku mengejek. Mereka lalu tertawa kecil. Namun, entah mengapa tertawaan mereka hilang begitu saja saat menatap seseorang di sebelahku. Ya! Yeojayeoja itu menatap Kai dan langsung mengeluarkan tatapan iba pada Kai! Sesuatu terbesit di fikiranku.

Mereka penggemarnya Kai? Si pabo ini punya penggemar?

“Ah! Oppa? Kau kenapa?”

Oppa terlambat yah?”

Oppa oppa!”

Oppa kenapa? Oppa bertahanlah disana!”

Ya! Mengapa jadi rusuh begini! Sekarang di depanku sudah banyak yeoja yang mengerubungi kami! Menyebalkan!

Aku pun memandang malas yeojayeoja hiperaktif di depanku. Ih ya ampun! Risih sekali. Aku pun mendelik pada Kai. Mengeluarkan tatapan risih ku padanya seakan mengatakan ‘Usir mereka sih!’

Namun, Kai.. bibirnya tetap terkatup rapat. Ia tidak mengindahkan omongan penggemarnya sama sekali. Berkali-kali yeoja itu menanyakannya, namun Kai hanya terdiam menatapnya malas. Seakan mengatakan ‘Bisa kau pergi?’ Yeah, kalau kau jantan Kai. Kau boleh katakan itu pada mereka semua agar mereka segera pergi!

But, Kai tidak segera mengucapkan itu.

Pandanganku menyeruak. Memandangi yeojayeoja ababil itu. Lalu ada seorang yeoja yang matanya bertemu denganku.

“Ya! Oppa! Dia siapa?” Yeoja itu memekik seraya menunjuk ke arahku. Aku tersentak mundur karena gelombang arus (?). Dan aku semakin menekuk alisku pada mereka. Jangan sampai mereka berfikiran yang tidak-tidak.

“Iya! Siapa dia oppa?”

“Apa dia yang membuatmu begini?”

Kai diam.

Matanya lalu menatapku. Dan aku menatapnya sembari menggeleng padanya. Oh God, bayangkan kalau Kai menjawab ‘iya, dia yang membuatku telat’ bisa-bisa aku sudah tidak aman lagi bersekolah disini.

Lalu salah seorang yeoja memandang rokku dan berkata dengan mengejek. “Cupu…”

Aku pun menganga mendengarnya mengejekku. Tanganku hendak menyambar rambutnya yang tidak lebih bagus dariku itu. Dan aku hendak menjerit, namun perkataan Kai menghentikanku.

“Dia tidak penting. Bisakah kalian pergi?”

DEG

Sebuah batu kecil seperti menghantam dadaku. Entah apa maksud pernyataan sekaligus pertanyaannya itu. Mengejekku bahwa aku tidak penting atau sekedar mengusir mereka dari sini? Aku memandang Kai dengan tidak percaya. Lalu kembali menundukan pandanganku saat mata Kai hendak menatapku juga.

“Sekali lagi, bisakah kalian pergi?” Kai mengucapkan kalimat perintah itu tanpa menggerakan badannya. Ia hanya menggerakan bibirnya dan menatap seluruh yeoja itu dengan tatapan malas dan datar.

Yeojayeoja di depannya menatap Kai tidak puas. Sebagian dari mereka ada yang mendecak sebal dan mempelototi ku. Ya ampun? Apa salahku?

Lalu sekejap waktu mereka mulai bubar dari hadapanku. Mereka pun segera berlalu, namun ada sesuatu yang membuatku takut. Karena, sebagian dari mereka ada yang membisiki sesuatu di telinga temannya. Entah mengapa? Apa kah yang mereka bicarakan adalah aku? Bodoh Leera.. apa ini sebuah masalah baru?

“Sekarang, kau selamat..”

Suara bass Kai menyadarkanku. Ia tersenyum tipis padaku dan kembali mengembalikan pandangannya ke depan. Aku menatapnya masih dengan sedikit dendam.. entah mengapa aku begitu keras kepala.

Tak terasa 10 menit berlalu.

TETTTTTT

Bel istirahat untuk kelas unggul mulai berderang. Setidaknya aku menghembuskan nafas lega dan kini aku menuju kelas ketika guru sialan itu sudah keluar. Dan langsung menuju bangkuku saat sudah mencapai kelas.

Kini suasana di mataku berganti menjadi lebih hangat. Kini aku sudah tentram di kelas.

“Hah..” Aku menghembuskan nafas lega saat mendudukan diriku di kursi. Lalu dengan segera aku membenahi barang-barangku. Setelah semua beres baru si pabo itu masuk kelas. Bukannya duduk ia malah berhenti di tengah jalan dan mengobrol dengan kawanan exo exo-an nya itu.

Aku tidak bisa mendengarnya. Aku terlalu jauh dan mereka seperti biasa mengobrol di depan kelas dengan beberapa orang yang duduk di meja.

Aku hanya membaca pergerakan bibirnya dan berkonsentrasi. Entah hal apa yang membuatku sangat tertarik dengan pembicaraan mereka.

Aku  pun terus memandangi mereka hingga seorang namja tinggi dengan rambutnya yang berkibas berjalan ke arahku. Bodoh! Apa ia benar-benar berjalan ke arahku atau malah? Namun aku serius! Dia sekarang menatap mataku dan.. mata kami bertemu.

Dan… ia tersenyum,

“Leera-a!” Sapanya riang. Membuat jantungku berdegup sangat kencang saat ia menunjukan deretan giginya. Posturnya yang sangat sempurna, wajahnya yang tampan dan juga kepintaran yang dimilikinya. Sungguh namja yang sangat sempurna. Dan kini ia menghampiriku entah untuk apa!

Aku tersenyum kaku membalasnya. “Ne, Chanyeol-a? Waeyo?”

Chanyeol, namja sempurna itu lalu bergumam sebentar. Aku baru sadar dia menyembunyikan sesuatu dibalik tangannya. Spontan, mataku terkunci untuk memandang benda yang disembunyikannya. Darahku berdesir dan kepalaku pun mengalirkan aliran panas hingga wajahku. Benda apa yang ingin ia berikan padaku?

“Nih…”

Mwo? Sebuah buku tulis? Untuk apa ia memberikan itu padaku?

Sejenak kondisiku menjadi seperti semula dan aura rona panas itu kembali menjadi ‘dingin’ setelah aku sadar, sebuah buku tak ada sisi romantisnya sama sekali. Rasa putus asa.. ya aku merasakannya sekarang. Babo Leera!

“Tadi kami mencatat.. dan banyak sekali yang penting..” Lanjut Chanyeol. Kini tubuhnya membungkuk diatas meja membuat wajahku terkaku saat melihat hidungnya itu semakin mendekat. Ia lalu mengambil telapak tanganku dan membukanya. Lalu mendaratkan buku catatannya diatas telapak tanganku. Lalu ia berujar padaku secara lembut dan perlahan.

“Anggap saja ini permintaan maafku soal kemarin..”

Lalu Chanyeol memundurkan wajahnya perlahan. Membuat bulu kudukku meremang. Dia memang sedikit… gila.

Kini Chanyeol menatapku dan aku harus segera memberikan respon atas perkataannya yang bertubi-tubi tidak aku balas tadi. “Nne.. gomawo catatannya. Akan kukembalikan besok”

Dengan tingkah yang dibuat-buat aku membalikan badanku kebelakang dan membuka sleting tasku. Lalu dengan perlahan buku catatan milik Chanyeol kumasukkan ke dalam tas. Lalu saat aku berbalik untuk melihat sosok Chanyeol. Ia sudah menghilang. Kemana lagi kalau bukan dengan gang exo?

 

Author POV

“Ya! Mengapa kau bisa telat ?”

“Kenapa huh?”

“Ada masalah dengan kalian?”

Suho menatap selidik dongsaengnya itu. Begitu juga dengan Baekhyun. Berbagai pertanyaan menghujani Kai saat itu. Dan Kai hanya menganga saat ditanyakan secara menggebu-gebu.

“Ya hyung, bisa santai sedikit? Aku merasa seperti diintrogasi di kantor polisi” Kai mengerucutkan bibirnya. Mencoba menetralkan suasana yang menurut Kai terlalu mencekam. D.O lalu mengiyakan Kai. Kai tersenyum pada D.O yang mendukungnya.

“Baiklah, mengapa kau bisa datang terlambat tadi, dongsaengku tersayang?” Baekhyun melembutkan nada bicaranya dan memajukan wajahnya pada Kai. Kai melotot pada Baekhyun dan namja jahil itu langsung tertawa. “Gyahahaha… mian, katanya kau minta santai?” Baekhyun lalu tertawa lagi. Begitu juga dengan Chanyeol yang tertawa dengan menepuk meja.

“Ya! Hyung!”

“Oke oke, maafkan Baekhyun dan sekarang tolong jelaskan pada kami” D.O menepuk pundak Kai dan Kai menghembuskan nafas berat.

Ne, alasan ku telat adalah karena aku bangun kesiangan. Puas?” Kai mendelik pada Suho. Suho mengangguk kecil.

Sementara dalam benak Kai. Ia teringat jelas kalau semalam ia tertidur tepat di sebelah tubuh Leera. Ia mengingat dengan detil kejadian saat ia mengangkat tubuh berat Leera ke dalam kamar dan menjatuhkannya pelan. Lalu ia melihat raut Leera yang teduh saat tidur. Dan kesalahan terjadi saat Kai hendak duduk sebentar di ranjang Leera, dan justru Kai malah tertidur disana hingga pagi. Bukankah bisa saja mereka dikatakan tidur satu ranjang? Dan.. ini bisa jadi masalah.

“Atau jangan-jangan kalian melakukan sesuatu sehingga kalian bangun kesiangan?”

DEP

Pertanyaan Baekhyun sontak membuat Kai menjerit tidak terima. Hyungnya satu itu memang jahil berat. “Ani hyung!”

Chanyeol lalu membuka suara.

“Haa.. tidur berdua ya?”

Kai yang mendengar itu lalu membantah keras. “Aniii!”

Lalu member exo lainnya langsung terbahak. Tertawa paling keras dialami oleh Baekhyun dan Chanyeol. Entah mengapa Chanyeol sangat mudah untuk beradaptasi. Apalagi ia langsung akrab dengan Baekhyun. Dari sorot mata mereka, mereka terlihat sangat bahagia. Suho yang melihat keakraban keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala, namun di hatinya ia merasa senang karena Baekhyun mempunyai teman sepergilaannya, yaitu Park Chanyeol.

“Ya.. baguslah kalau kau dan Leera tidak melakukan apa-apa, aku tidak mau dongsaengku ini teracuni oleh hal-hal seperti itu” Suho lalu merangkul Kai yang memandangnya dengan tatapan malas. “Ya, kalian selalu saja mencurigaiku!” Balas Kai.

Dari depan kelas mereka saling bercanda tawa, meneriaki satu sama lain dan terkadang gila. Exo memang tiada habisnya. Mereka selalu saja membuat ribut kelas saat jam istirahat. Mereka juga selalu jadi pusat perhatian chingudeulnya, apalagi mereka adalah lulusan Seouls Academy Junior dan mereka tampan. Hal tersebut menjadi poin plus untuk menjadi sebuah pusat perhatian. Siapa yang tidak tahu gang exo di tahun ajaran pertama ini? Baru saja ajaran pertama, namun Kai sudah mendapat penggemar yang terang-terangan di depannya.

Park Leera adalah yeoja yang tidak sengaja masuk dalam arus popularitas mereka. Mungkin begitu juga dengan Seohyun yang tidak tahu menahu dengan kondisi sekolah barunya ini. Sedangkan Chanyeol? Mungkin namanya akan membludak di tahun ini, karena ia juga memiliki postur yang sempurna. Juga karena ia menjadi juara umum di sekolah ini.

#

Kantin, Seouls Academy Senior  [SAS]

SAS, sekolah yang memang berdiri swasta dan mandiri. Pendirinya memiliki dana yang lebih untuk membangunnya, ditambah banyak donatur yang setia memberikan donasi mereka secara berkala. Sekolah ini terkenal akan prestasi dan lulusannya yang selalu sukses. Walaupun bukan termasuk 5 besar sekolah terbaik di Korea Selatan. Namun, sekolah ini bisa dibilang memiliki fasilitas yang melebihi sempurna.

Kantinnya pun didesain secara sempura, nyaman, berwarna dan higenis. Poin plusnya siswa di SAS memang selalu bersedia untuk menjaga kebersihan kantin.

Beberapa yeoja dengan roknya yang dipendekan juga kaus kaki yang hampir menyentuh lututnya itu sedang berbincang-bincang di pojok kantin. Sesekali mereka memainkan sedotan. Yeoja yang berambut lurus agak bergelombang itu memandang sebal gelas banana float nya.

“Ya! Bagaimana aku tidak kesal. Yeoja itu seenaknya saja bersebelahan dengan Kai” Yeoja itu mengerucutkan bibirnya. Membuatnya tampak lucu dan menggemaskan. 2 temannya itu memandangnya serius tak mau kehilangan kata.

“Kai?” Tanya salah seorang temannya saat hening menyapu mereka.

Yeoja yang mengerucutkan bibirnya itu lalu mengangguk, masih dengan posisi yang sama. Lalu ia diam. Menunggu ada yang perhatian dan menanyakan masalahnya.

“Apa yang terjadi sebenarnya eoh?” Tanya temannya, membuat yeoja yang sedang kesal itu tertawa puas di hatinya. Ia lalu menghembuskan nafasnya seakan-akan yang dikatakannya itu adalah hal paling menyedihkan di seluruh dunia.

“Saat itu istirahat.. dan aku melihat Kai berdiri disamping yeoja cupu itu. Lalu yeoja itu sangat sinis padaku dan.. ia berusaha merebut hati Kai, padahal dengan jelas Kai bilang yeoja itu tidak penting. Ya! Aku bisa lihat dari tatapan yeoja itu padaku! Tatapannya mengatakan seolah-olah ia ingin mendapatkan Kai begitu saja” Timpal yeoja yang kesal itu bertubi-tubi.

Kedua temannya itu menatapnya sambil menganga. Namun mereka langsung mengangguk maklum. Bagaimanapun juga, ini adalah wajar untuk seorang penggemar berat seseorang.

“Ya, wajar sih kau merasa cemburu. Kau kan penggemarnya” Salah satu temannya itu menenangkan.

“Aku.. aku merasa yeoja itu mengejekku. Bagaimana bisa aku tenang” Yeoja itu lalu mengaduk aduk banana floatnya dengan kasar. Lalu menghancurkan ice creamnya hingga menjadi cairan.

“Ya.. apa boleh buat kalau yeoja itu mengejekmu. Balas saja dia kalau kau mau. Buktinya ia belum minta maaf ne?” Teman yeoja itu yang sedari tadi belum berbicara sama sekali langsung berujar. Ia mengangguk dengan senyum evilnya.

Yeoja yang kesal itu lalu tersenyum evil juga. Lalu ia menyesap cairan ice creamnya.

“Baiklah, bantu aku untuk membalas perbuatannya..”

#

Kelas Unggul SAS, 13.30

Tok Tok

Bunyi dentingan jam itu terdengar jelas di dalam kelas. Sasangnim sedang berdiri mematung di depan papan tulis sambil menghadap murid-muridnya yang sedang mengerjakan latihan. Guru itu melipat tangannya sambil mengawasi gelagat muridnya satu-persatu. Mulutnya sedari tadi terkatup hingga ia bisa melihat gelagat murid yang mencurigakan atau bisa dibilang, mencontek.

Seluruh murid menunduk memandangi soal latihan yang diberikan sasangnim. 5 butir soal uraian panjang tentang Vegetal Sains. Mereka dipaksa untuk membayangkan kejadian alamiah yang dialami aneka macam tumbuhan dalam 3 musim tertentu. Dan itu menyangkut keadaan kelempaban daun, dan juga akar yang berada di dalam tanah. Guru itu tidak memberikan kesempatan bagi muridnya untuk openbook ataupun meminta bantuan temannya. Semua bangku ia renggangkan hingga sesama murid tidak bisa menjangkau. Ditambah pengawasan dari guru itu sendiri yang berdiri mematung dengan mata jeli di depan kelas.

Leera keringat dingin memandang soalnya. Ia kembali meremas roknya dan berusaha berfikir keras. Alangkah bodohnya ia karena tidak mengingat materi saat di JHS dulu. Yeoja itu menggigit bibirnya dan berusaha mencari-cari jawaban di otaknya.

‘Ayolah Leera! Semangat! Kau pasti bisa menjawab soal ini!’

Namun nihil. 3 nomor belum dijawab oleh Leera. Padahal dari masing-masing nomor, jawabannya bisa saja 3 baris lebih. Yeoja itu terus memukulkan penanya ke kertas seakan mencari jawaban. Ia lalu mencoba membaca ulang soalnya. Berharap agar soal itu berubah ke soal yang lebih mudah. 1 menit berlalu dan Leera dalam masalah.

“Waktu kalian tinggal 10 menit lagi”

Sasangnim berbicara tanpa mengecek jamnya. Pandangannya masih terfokus pada murid didikannya yang sedari tadi serius memandang soal.

Leera semakin panik dan ia pun memutuskan untuk melihat sekeliling dan mencoba mencari jawaban di kertas temannya. Berhubung yang berada di sebelahnya adalah Bae Suzy yang terkenal masuk 5 besar. Ia pun melirik-lirik jawabannya sekilas tanpa sepengetahuan sasangnim.

Mata Leera kembali melirik pelan ke arah lembar jawaban Suzy yang terbuka lebar. Sementara Suzy sendiri tidak menyadarinya.

“Yes..” Leera berdesis pelan saat ia mendapat sedikit clue dari jawaban Suzy yang samar-samar dilihatnya. Ia pun menuliskan dan menjabarkan clue dari Suzy di kertas jawaban miliknya.

Sampai akhirnya ia tinggal mengerjakan 1 nomor lagi. Yaitu nomor 5. Ia lalu kembali mengedarkan pandangannya pada Suzy. Namun, ia mendapat pandangan yang tidak mengenakan saat melihat bangku Kai.

‘Kai mencontek juga?!’ Pekik Leera dalam hati.

Ia lalu memandang Kai sambil melotot dan melihat selembaran kertas panjang yang Kai pegang dibawah lacinya. Dengan santai Kai mengecek kertas panjang itu secara berkala tanpa sepengetahuan sasangnim. Apakah sasangnim itu terlalu bodoh atau apa?

“Ya! Waktu habis. Silahkan kumpulkan kertas kalian”

DEG

Leera membeku mendengarnya. Belum saja ia mengerjakan nomor 5. Ia pun segera melanjutkan menulis jawabannya dengan asal-asalan dan seadanya saja. Namun sasangnim memerhatikannya.

“Waktu habis dan tidak ada yang boleh menulis lagi. Atau latihannya tidak akan saya terima”

Leera langsung menjatuhkan penanya dan menggigit bibir bawahnya. Ia lalu mengambil kertas jawabannya dan bangun dari kursinya. Kemudian menuju ke tempat sasangnim berada dan menyerahkan kertasnya dengan diam. Sasangnim hanya memandangnya cuek.

TETTT~

Bel pulang sudah berderang. Kini pukul 2 siang dan tepat saatnya murid SAS menuju ke rumahnya masing-masing. Atau lebih tepatnya untuk Leera, yaitu ke Apartemennya dan kembali hidup bersama namja yadong nan menyebalkan, Kim Jong In.

Sasangnim keluar tanpa permisi dan murid-murid kembali membenahi tasnya masing-masing.

Tanpa sadar Leera membanting tasnya ke atas meja dan merutuki hidupnya sendiri. Kai melihatnya dan tersenyum geli. ‘Yeoja gila’ Ujarnya dalam hati sambil mengenakan tas punggungnya sembari berdiri.

“Bye Kai!” Ujar D.O pada Kai yang masih mengenakan tas. Namja itu lalu pergi dengan Suho. Kai hanya memandangnya lalu membalas dengan anggukan singkat hingga namja itu benar-benar menghilang.

Baekhyun menunggu di pintu kelas. Atau lebih tepatnya menunggu soulmate barunya, Park Chanyeol. Terlihat disana Chanyeol sedang memasuki seluruh bukunya ke dalam tas. Ia lalu memandang Baekhyun dan berlari ke arahnya.

“Kenapa kau menungguku?”

Baekhyun menjawab singkat “Tidak apa-apa bukan? Rumahmu dimana?”

“Apartemen.. aku pulang dengan dia” Chanyeol menunjuk Seohyun yang baru sampai di ambang pintu. Sementara itu Baekhyun mengangguk. “Yasudah bye, aku pulang duluan ne”

Baekhyun lalu dengan sigap  mencoba mengejar punggung D.O yang sudah agak jauh dari koridor.

Chanyeol dan Seohyun berpandangan dan Chanyeol berujar. “Ayo kita pulang..” Seohyun lalu mengangguk dan menjawab “Ayo..”

Mereka lalu keluar kelas. Disertai Daehyun dan Choi Jun Hee.

Kini semua murid sudah keluar kelas kecuali Kai dan Leera. Terdengar suara berisik dari bangku Leera. Ia ternyata berusaha memasukan beberapa bukunya ke dalam tas. Kai lalu berbalik badan untuk melihat arah suara dan berjalan ke arahnya. Sementara Leera tidak sadar kalau Kai berjalan ke arahnya.

Tap Tap

Kai kini meraih beberapa buku yang terjatuh di bawah meja Leera. Ia menunduk untuk mengambilnya dan kini berdiri. Ia menyerahkan buku itu pada Leera dan mengangkat pundaknya. “Punyamu?” Tanyanya seolah cuek. Leera kaget dan segera berbalik. Yeoja itu lalu menghembuskan nafas kesal saat ia sadar bahwa namja yang membantu memungut barangnya itu adalah Kai.

“Aku bisa sendiri” Balas Leera sambil mengambil bukunya dari genggaman Kai. Kai lalu menaruh kedua tangannya di belakang kepala dan duduk di atas meja Leera. “Terserah apa katamu. Tapi aku hanya mencoba membantu”

Leera lalu tertegun sejenak dan membalikan badannya. Ia menyipitkan matanya pada Kai. “Mengapa kau ingin membantuku, pa-bo?” ujar Leera pada Kai.

Kai lalu menghadapkan pandangannya ke arah lain dan berujar. “Ya.. habisnya kau lama sekali” Jawabnya. Leera hanya mengangguk dengan dibuat-buat.

Tiba-tiba Leera berjalan duluan ke arah pintu. Tentunya dengan langkah cepat. Kai yang melihat itu seolah merasa tidak dihargai. Dengan jelas Kai menunggunya hingga selesai, ini malah Leera dengan seenaknya meninggalkannya? Apa yeoja itu tidak punya otak?

Kai hanya memutar bola matanya dan turun dari duduknya di atas meja. Lalu ia menyusul Leera.

Kini langkah mereka berdua sejajar sembari melewati koridor yang panjang. Hening menyapu mereka hingga sampai seperempat koridor. Ternyata Leera yang membuka percakapan. Di tangan leera sudah terdapat kertas panjang yang dipakai Kai untuk mencontek tadi.

“Ha!”

Dengan gerakan tiba-tiba, Leera menunjukan kertas itu dihadapan muka Kai. Kai tidak bisa melihat, pandangannya gelap karena jarak benda yang terlalu dekat dengan matanya.

“Tsskk apa itu?” Desah Kai. Leera hanya menaikan sebelah alisnya dan tersenyum evil.

“Aku tahu kau mencontek babo!” Leera melambai-lambaikan kertas itu di udara dan kembali tersenyum evil pada Kai. Kai mencoba meraih kertas itu namun gagal. Leera terus menghalanginya dengan cara menarik tangannya.

“Ahaa.. kau tidak bisa sembarangan mendapatkannya Kai. Aku bisa saja mengadukanmu ke sasangnim dan kau akan dihukum karena mencontek menggunakan ini” Leera kembali melayang-layangkan kertas itu di udara. Membuat Kai sedikit kesal. Kai pun kembali meraih-raih kertas itu dari tangan leera namun ia kembali gagal.

“Sudah kubilang Kai. Kau tidak bisa sembarangan menarik kertas ini dari tanganku..” Leera menatap tajam Kai sambil tertawa mengejek. Lalu kembali melayang-layangkan kertas itu di udara. Kai menghembuskan nafas kesal dan menaikan sebelah alisnya.

“Jadi, apa yang kau mau ha yeoja pabo?” Kai menatap leera sembari berjalan. Leera lalu mengeluarkan seringainya dan mengatakan seluruh kemauannya pada Kai.

“Pertama, berhenti memanggilku pabo. Kedua, mulai malam ini kau harus tidur di ruang tamu. Bagaimana?”

Kai terhenti sejenak. “Tunggu.. kau menyuruhku tidur di luar? Kau gila? Aku tidak bisa leera pabo! Aku tidak tahan dingin!”

Leera mengangguk-anggukan kepalanya dan membuat desisan kata ‘Ooh..’. Leera lalu kembali melayangkan kertas itu ke arah muka Kai. “Yasudah kalau begitu, aku akan adukan ke sasangnim

“Aku akan bilang bahwa Kim Jong In mencontek saat latihan awal. Ia membawa catatan kecil di bawah lacinya. Dan semua jawabannya itu tidak murni! Aku juga akan mengusulkan agar nilai sains mu dikosongkan di rapor! Bagaimana? Fantastis bukan?”

Leera tertawa mengejek pada Kai. Kai mendengus kesal.

“Baiklah. Aku juga akan bilang pada sasangnim kalau seorang Park Leera mencuri pandang pada jawaban Bae Suzy. Siswi 5 besar yang pintar. Yang duduk tepat di sebelahnya” Kai berujar santai pada Leera yang tadi kelihatannya sangat puas. Kini justru terbalik, tubuh Leera serasa lemas mendengar perkataan Kai yang memvonisnya mencontek.

Mulut Leera hendak berucap. “Mmwo?” Ia mendelik pada Kai yang terlihat tersenyum puas. Kai mengangkat sebelah alisnya pada Leera yang memucat. “Jadi.. bagaimana kita empas?”

Leera terdiam. Ia terus menggenggam erat kertas panjang milik Kai yang digunakan untuk mencontek tadi. Dalam benak yeoja labil itu ia berfikir keras, apa yang harus dilakukannya saat ini. Membatalkan perjanjian dan dirinya selamat atau tetap menjalankan perjanjian dan dirinya terancam di laporkan ke sasangnim? Huh. Salahnya sendiri dia juga mencontek Suzy saat itu, hingga berakibat satu sama saat ini. Jika Leera mengadukan Kai ke sasangnim tentang kekhilafannya ini dengan pasti juga Kai akan melaporkan leera. Pada akhirnya juga mereka berdua akan dicantumkan ke dalam blacklist SAS. Pilihan yang terbaik hanya mengalah dan Kai tidak akan melaporkan dirinya ke sasangnim. Dengan mengalah, keduanya tidak akan masuk blacklist dan juga mereka akan hidup tenang sebagai siswa baik SAS.

Tetapi bagaimana caranya Kai tahu kalau leera mencontek? Bukannya ia duduk di paling depan saat itu. Perlahan Leera mendelik ke arah Kai. Masih dengan wajah pucatnya yang seperti maling ketahuan. Ia melihat Kai yang bertampang cuek dan seolah mengatakan ‘aku tahu kau akan kalah Leera’. Akhirnya, leera menghembuskan nafas berat dan mencoba untuk mengatakan dirinya mengalah. Namun, kali ini leera tidak akan mengalah secara langsung. Ia tidak kehabisan akal.

“Kau tidak punya bukti yang menguatkan kalau aku mencontek” Leera menaikan sebelah alisnya dan kembali bersikap biasa. Wajahnya yang memucat kini kembali seperti semula, kakinya juga mulai melangkah cepat.

Kai terbatuk lalu diam. Tak terasa mereka sudah hampir melintasi jembatan yang berada di taman. Kini kaki mereka berdua melangkah sejajar menyeberangi danau kecil di taman itu. Beberapa meter lagi mereka sudah sampai di pintu gerbang. Kerumunan siswa ternyata masih banyak disana.

Kai yang sedari tadi diam lalu berlari agar bisa mencapai mobilnya dengan cepat. Leera yang melihat itu tersentak karena Kai sedari tadi memang belum menanggapi gertakannya.

“Ya! Aku belum selesai!”

Leera memandang kesal punggung Kai yang terus berlari menjauh ke arah tempat parkir mobil merah spotnya itu. Leera hanya berkacak pinggang, kesal karena ketidakpedulian Kai. Leera pun terus menunggu di tempatnya berdiri, menunggu mobil spot merah berhenti untuknya. Untuk apa ia mengikuti namja babo itu sampai lapangan parkir? Melelahkan bukan?

BRMMM

Belum terhitung satu menit. Mobil spot merah itu berhenti di hadapan Leera. Roknya sedikit terkibas juga rambut ikalnya. Lalu ia melihat kaca hitam pekat mobil itu yang perlahan-lahan terbuka, memperlihatkan wajah Kai yang menaikan alisnya. Ya, ini pertama kalinya ia pulang sekolah dengan mobil Kai.

Beberapa pasang mata yeoja disekeliling mereka terfokus karena mobil merah itu. Bukan karena mobil yang super mahal dan keren itu melainkan karena orang yang mengendarainya kini dengan kerennya membuka kaca mobil. Sungguh pemandangan yang bisa membuat yeojayeoja meleleh seketika. Apalagi kalau masuk ke dalam mobil itu dan di antar oleh Kai, benar-benar mengobsesi para yeoja di SAS.

Beberapa yeoja yang notabene merupakan penggemar Kai lantas hampir berdiri mematung di tempat. Namun, juga ada beberapa yeoja yang hanya memandang sambil berlalu. Yeoja itu rupanya sangat menikmati pemandangan itu. Tetapi beberapa di antara yeoja itu ada yang mendengus kesal begitu melihat yeoja yang akan masuk ke dalam mobil itu.

“Leera, mengapa terus diam? ayo masuk” Bisik Kai pada Leera yang masih berdiri di tempatnya.

“Ya ya..” Leera memutari kap mobil itu dan menarik pintu mobil. Ia lalu sedikit menunduk untuk bisa masuk dan duduk di jok, bersamaan dengan waktunya saat ia menutup pintu mobil dengan keras. Kai spontan langsung mendelik pada Leera yang hadir dengan wajah tanpa dosa.

“Pelan-pelan saja, kau tak tahu ini mobil mahal?” Lalu Kai langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Ia langsung mengemudikan mobilnya.

Sementara Leera kembali mencibir. Ia mengulangi perkataan Kai dalam desisannya.

“ Hah! ‘pelan-pelan saja, kau tak tahu ini mobil mahal?’ Cihh” Umpatnya pelan, namun Kai tidak mendengarnya. Atau justru pura-pura tidak mendengar? Kai adalah namja yang sangat tajam pendengarannya dan mengetahui apa saja. Ia bisa lebih pintar disbanding yang lain, namun hanya saja ia kurang tekun. Padahal kalau tekun sedikit, ia bisa saja menyusul prestasi Do Kyungsoo atau Park Chanyeol yang berada di juara umum.

Bisa dibilang Kai itu namja dewasa dengan pemikiran yang matang dan baik. Walau diluarnya ia sangat cuek dan bersikap apatis. Tidak seperti Leera yang kekanak-kanakan dan mudah marah. Marah disini berarti ia lebih suka dimanjakan dan diratukan. Karena manja ia belum bisa beradaptasi sempurna untuk mandiri. Leera juga jaim. Ia tidak suka dicap menjadi orang yang tidak baik, maka ia akan selalu menjaga sikapnya di waktu dan tempat tertentu. Ia hanya akan mengeluarkan sikap aslinya kepada seseorang yang dianggapnya tidak ada hubungannya dengan keberhasilan dirinya (biasanya bukan orang yang penting). Terkadang juga yeoja ini egois dan hanya mengikuti kemauannya sendiri. Namun, ia bisa menjadi sangat baik apabila orang itu lebih dari baik padanya dan juga orang baru yang bersikap manis.

Mobil Kai yang sudah berjalan itu kini melintasi beberapa murid yang melihat ke arah mereka dengan antusias. Leera bisa melihat beberapa mata yeoja yang terlihat cemburu padanya. Bukannya bangga justru Leera malah memutar bola matanya dan bersikap seolah-olah menyepelekan popularitas Kai. Ia malah lebih bersyukur menjadi yeoja yang bebas tanpa gangguan namja yadong seperti Kai. Bebas kemana saja dan bisa mengendarai kendaraan. Dengan begitu ia tidak akan membutuhkan bantuan namja sialan itu.

Mobil spot Kai terus berjalan hingga sekarang sudah melintasi jalan raya. Spontan Kai memasang sitbelt nya. Karena tidak ingin memasang siltbelt secara bersamaan, Leera sengaja menunggu barangkali 1 menit 2 menit setelah Kai memasangnya duluan dan baru yeoja itu memasangnya. Lalu setelah 1 lebih 38 detik berlalu (Leera menghitung dengan jam tangannya) baru yeoja itu memasang sitbeltnya dengan wajah yang tidak tersenyum sama sekali. Kemudian setelah terpasang yeoja itu melenggangkan tubuhnya pada jok kursi dan memandang lurus ke depan.

Hening.

Dalam benak Leera ia terus berfikir. Bagaimana caranya agar orang tuanya cepat pulang dari luar negeri. Dan juga, bagaimana caranya ia berpisah dengan Kai dalam tempo waktu yang cepat. Kalau bisa besok atau lusa? Setidaknya agar Leera bisa hidup dengan tenang. Sebulan ini memang penuh perjuangan dan pengorbanan. Pengorbanan tenaga leera tentunya. Leera mulai sekarang harus mencuci piring untuk dua orang. Memasak untuk dua orang dan juga mencuci baju untuk dua orang. Apalagi yang tinggal dengannya adalah seorang Kim Jong In. Yang dari awal saja memang terlihat ketidakpeduliannya dan juga kemalasannya untuk bersih-bersih. Sebulan ini juga Leera mau tak mau harus menjadi pembantu dadakan untuk raja Kai. Ya, istilahnya begitu. Padahal masa-masa SMA adalah masa yang ditunggu Leera. Shopping, teman-teman, pesta, namja keren dan lainnya. Namun, harapan itu luluh begitu saja saat Kai datang dengan seluruh masalahnya.

Tanpa sadar Leera menutup wajahnya sendiri dengan telapak tangannya. Ingin menangis? Itu konyol. Menangis karena kai tentu bisa menjadi sangat konyol. Ingin marah? Leera sudah lelah untuk itu. Hampir tiap menit bahkan detik ia selalu marah dengan Kai. Namun, mengapa Kai terlihat tegar menghadapi seluruh masalahnya? Apa karena Kai memang tidak punya masalah dalam hidupnya?

“Park Leera..” Tiba-tiba Kai membuka suara dengan suara bass nya seperti biasa. Namun, terdengar kaku di nada bicaranya. Leera langsung tersentak dari lamunannya dan menyingkirkan telapak tangannya dari wajahnya. Ia memandang Kai yang masih menghadap ke depan. “Waeyo?” Balas Leera.

“Maafkan aku. Saat itu aku tidak bermaksud apa-apa padamu, sungguh” Kai berbicara dengan pelan dan sedikit di lembutkan. Tentunya masih ada nada ragu dan kaku. Leera hanya terpaku mendengar kejanggalan nada bicara Kai. Leera sendiri semakin penasaran karena ia juga belum mengerti apa maksud Kai yang tiba-tiba minta maaf.

“Tidak bermaksud apa-apa padaku, maksudmu?” Leera kembali bertanya pada Kai. Ia memandang wajah Kai dari samping. Dan ia melihat jakunnya turun yang berarti ia sedang meneguk ludahnya dalam-dalam.

“Ya, tadi malam. Sungguh aku tidak berbuat apa-apa padamu. Aku hanya tak sengaja tertidur dan tiba-tiba pagi-pagi aku sudah berada di sampingmu. Sungguh aku tidak berbuat apapun. Jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak tentangku. Arraseo?” Untuk kalimat terakhir Kai memandang Leera dengan rautnya yang memohon. Tentu saja leera kaget, baru kali ini ia melihat wajah kai yang begitu memohon dan terlihat seperti… namja yang baik.

Leera juga tersentak karena apa yang dikatakan Kai. Kejadian tadi pagi saat ia menjerit pada Kai dan berpikiran yang tidak-tidak pada Kai saat menyadari bahwa kai tertidur di sebelahnya saat itu. Bahkan Leera sudah tidak ingat. Dan sekarang Kai memohon-mohon padanya. Meminta maaf dengan tulus. Kali ini Leera masih terpaku menatap Kai. Entah terpaku dengan apa..

“Kumohon.. aku ini masih namja baik-baik. Tolong maafkan aku,”

Leera terlihat menarik nafas. Ia lalu menepis perasaan anehnya itu dari benaknya. Memikirkan bahwa Kai adaah namja yang baik? Huh. Mau bagaimanapun Kai itu namja byuntae, yadong dan tidak berperikemanusiaan! Leera kembali menetralkan tatapan anehnya ke arah Kai dan kembali merubah raut mukanya menjadi lebih garang. “Kau yakin? Apa kau hanya berbohong hah?”

Kai menganga dan melebarkan matanya. “Apa kau tidak percaya huh?”

Leera menggeleng ketus.

Kai mendengus sebal. “Ya! Kalau kau tidak percaya, periksakanlah ke dokter kandungan babo!” Lalu Kai kembali terfokus dengan jalanan. Di benaknya masih terbayang sosok Leera yang sangat keras kepala. Apakah yeoja itu (lagi-lagi) tidak punya otak? Untuk apa Kai berbohong. Lagipula jika dia berbohong hasilnya juga akan ketahuan. Tapi setidaknya Kai lega karena mungkin Leera sudah lupa dengan ancamannya padanya tentang kertas panjang yang digunakan Kai untuk mencontek tadi.

“Kau! Jika kau berbohong.. kau harus tanggung jawab!”

Leera menjerit pada Kai yang sudah tenang dan diam. Menyadari Kai yang begitu tidak peduli dengan jeritan Leera, akhirnya Leera memalingkan mukanya dari Kai dan menyilangkan tangannya.

Suasana hening hingga mereka sampai apartemen.

 

 

Apartemen,

Dinding yang dengan rata bernuansa abu-abu. Beberapa rak kaca minimalis yang didesain sedemikian rupa. Bantal kotak-kotak kecil yang berwarna-warni sedang bertengger di atas sofa empuk. Sebuah TV flat hitam tergantung di dinding dengan apik, menyisakan sedikit ruang.

Tampaknya ruangan di apartemen itu tertata dan bersih. Menyiratkan bahwa seseorang yang menjaganya pasti selalu tekun. Terlihat sebuah bingkai foto dengan frame stainless tua namun terlihat muda karena terurus dengan baik. Di dalamnya ada seorang lelaki tua yang mengenakan kemejanya. Bukan brand yang cukup berkelas, namun garis-garis dan lekukannya tampak indah. Lelaki itu mengenakan gaya rambut seadanya, dan juga sedikit terkibas angin. Membuatnya seperti berfoto saat liburan di pantai. Lelaki tua itu walaupun bisa dibilang berumur, namun air mukanya jauh lebih muda dibanding usianya. Sekiranya hanya terdapat sedikit kerutan diantara matanya. Namun senyumannya menyiratkan kebebasan dan kebahagiaan yang luwes. Lelaki itu merangkul seseorang. Tepatnya seorang gadis yang tersenyum simpul. Tak satupun deret gigi yeoja itu terlihat. Yang terlihat hanyalah seulas senyumnya yang simetris. Matanya kecil. Saat ia tersenyum matanya hampir saja menghilang. Rambut lurusnya yang tampak natural itu berkibas mengikuti arah angin. Tangannya hanya terjuntai kebawah. Ia sama sekali tidak menunjukan kebahagiaannya dengan baik.

Bingkai foto tua itu milik Seohyun. Dia dan ayahnya. Yang kini tengah bekerja menjadi nelayan di kota asalnya. Kini ayahnya hidup sendiri tanpa Seohyun. Tanpa istrinya. Namun, semangat bekerjanya… Seohyun yakin, ayahnya kuat. Terkadang jika Seohyun sedih. Ia bisa memandangi foto ini. Mengelus bingkainya bahkan bisa saja menangisinya. Di Seoul, Seohyun sudah bertekad. Bertekad untuk dapat menghidupi keluarganya, menjadi orang sukses yang dapat membanggakan Appa dan Eomma. Oleh karena itu Seohyun selalu belajar. Ia tekun dan ia mampu menghadapi apapun.

“Sedang belajar? Lagi?”

Chanyeol menghampiri Seohyun yang tengah asik membaca ensiklopedia sains tua dari perpustakaan. Di tangan Chanyeol bukannya sebuah buku malah sebuah kaleng soda yang baru saja dikeluarkannya dari kulkas. Terlihat kepulan uap dingin dari lubang kalengnya. Menyeruak ke atmosfer di ruangan itu.

Seohyun mengangkat wajahnya untuk melihat Chanyeol. “Ya.. tentu saja” Lalu ia kembali menelungkupkan wajahnya ke dalam ensiklopedianya.

Chanyeol mendesah sebal. “Ayolahh kita habiskan waktu bersama!” Sebelah tangan Chanyeol langsung menarik lengan Seohyun. Seohyun dengan spontan mengikuti arah gerak Chanyeol. Chanyeol semakin menariknya ke luar ruangan itu.

Chanyeol terus berjalan dan memandu Seohyun untuk mengikutinya. Kaki mereka terus berjalan hingga sampai ke teras kamar mereka, atau balkon. Disana terdapat lantai yang cukup luas berpagarkan logam tipis yang dibalut kaca. Terlihat pemandangan kota Seoul darisana. Gedung-gedung pencakar langit, taman, laut di ufuk barat, dan sekolahnya. Juga Langit yang hari ini cukup bersahabat untuk mereka. Angin pun langsung menerpa wajah Seohyun saat Chanyeol menggeser pintu kacanya.

“Nah! Kau tahu, aku bosan tinggal disini tanpa suara. Aku hidup denganmu namun aku merasa hanya hidup dengan sebuah patung yang tidak berbicara” Chanyeol menaruh tangannya diatas pagar pembatas balkonnya. Kepalanya agak ia condongkan ke luar dan ia rambutnya mulai terkibas karena angin. Seohyun masih diam, namun ia tersenyum pada Chanyeol. Ia pun menyusul Chanyeol yang berpegangan pada pagar. Rambut Seohyun juga mulai terkibas.

“Jangan terlalu serius dengan buku-buku mu itu. Aku.. membutuhkan suaramu untuk menenangkan hidupku..” Chanyeol berujar pada Seohyun sembari tertawa. Ia bahkan tak tahu apa yang ia bicarakan. ‘Membutuhkan suaramu untuk menenangkan hidupku’ ? Apakah ini semacam rayuan?

Seohyun mendongakan kepalanya ke arah Chanyeol. Ia akan berbicara. Sebenarnya ia masih bingung dengan maksud Chanyeol. “Maksudmu?”

“Sudah lupakan. Aku hanya tidak suka ketenangan. Hidup itu.. butuh sebuah keributan. Sehingga jiwa kita bisa seakan bangkit kembali. Apa setiap harinya kau hidup seperti ini? Tanpa sedikitpun berbicara dan kau hanya belajar dan belajar?”

Seohyun tertegun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Rambutnya menghalangi pandangannya. Lalu Chanyeol dengan reflex menyingkirkan helaian rambut itu dari wajah Seohyun.

“Aku hanya ingin menjalankan obsesiku. Appa dan Eomma, mereka yang membuatku terus bulat untuk menjalankan tekad. Sejak aku pergi bersama kalian untuk ke Seoul. Aku selalu memikirkan mereka. Appa di rumah dan Eomma di surga. Appa bilang, dengan belajar saja aku sudah bisa membahagiakan mereka. Mereka ingin melihatku menjadi sukses” Seohyun mengembangkan senyumnya. Lalu ia menatap langit. “Yah begitulah.. maaf kalau aku selalu diam dan jarang berbicara denganmu, Chanyeol-a”

Chanyeol meresapi cerita Seohyun. Sebuah obsesi seorang Seohyun. Umum memang. Namun apakah hanya karena itu Seohyun harus mengorbankan simpatinya kepada orang lain demi belajar? Pemikiran Chanyeol memang sangat konyol.

“Kau mau tahu ceritaku?” Chanyeol menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. Seohyun hanya menganggu pelan. Wajahnya terlihat antusias.

“Dulu aku dikenal sebagai anak yang bodoh. ‘Chanyeol si bodoh’ ‘Chanyeol si telinga besar’ hahaha aku masih ingat itu”

“Namun seiring berjalannya waktu, aku sudah tidak dijuluki seperti itu lagi. Aku terlihat jauh lebih dewasa saat aku menginjak usia 13 tahun. Prestasiku dengan drastis meningkat. Dan aku juga tidak tahu mengapa. Aku dikenal sebagai ‘Chanyeol si jenius dan sempurna’ namun kenyataannya aku tidak pernah meniatkan diriku untuk itu. Aku.. tidak berniat menjadi jenius. Dan kau lihat sekarang? Aku juara umum di SAS. Padahal aku tidak belajar sama sekali untuk tes nya! Haha.. pabo

Seohyun dan Chanyeol tertawa. Seohyun tertawa dengan menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Sedangkan Chanyeol hanya tertawa lepas.

Tiba-tiba Seohyun teringat sesuatu. “Bagaimana dengan Jiyeon?”

Entahlah, namun sepertinya Seohyun begitu antusias dengan Jiyeon. Salah satu partnernya saat diberangkatkan ke Seoul beberapa hari lalu. Chanyeol mengangkat sebelah alisnya pada Seohyun.

“Jangan katakan kalau kau merindukannya? Haha, padahal ia tidak bersikap cukup baik padamu” Chanyeol memandang Seohyun dengan penuh selidik.

“Jebal, aku penasaran dengannya. Dimana ia bersekolah sekarang?”

“Baiklah. Jiyeon sekolah di Seoul. Namun, aku juga tidak mengerti di bagian mana. Yang jelas Jiyeon sebelumnya memang tinggal di Seoul”

“Mwoya? Jiyeon memang tinggal di Seoul? Jadi.. ia bukan..”

“Ne, dia pindahan dari Seoul.. dia pindah ke Insandong sejak kelas 2 JHS. Ia pernah menceritakan padaku alasannya pindah. Namun, aku pikir itu tidak logis. Ia, dicampakan namjachingu nya. Lalu ia pindah. Apa itu adalah sebuah alasan? Apa orangtuanya akan selalu mengikuti apa perkataannya? Apalagi pindah ke daerah seperti Insandong. Sebuah kota nelayan yang kumuh?”

Seohyun terdiam.

“Jiyeon itu kuat. Disaat kami bersekolah bersama dulu. Ia selalu berbagi ceritanya denganku. Ia tidak pernah menangis, sedikitpun air mata turun dari matanya? Aku tidak pernah melihatnya. Namun ia pernah bilang bahwa jika ia bertemu kembali namjachingunya itu. Dia bilang ia dengan pasti akan menangis. Ya, aku harap di Seoul ini ia tidak kembali bertemu dengan namja sialan itu”

“Ya.. kuharap juga begitu”

~

“Ya! Kim Jong In! Kau tidur di luar ne! Atau kalau tidak, aku akan melaporkanmu pada sasangnim!”

“Sudah kubilang aku akan melaporkanmu juga yeoja pabo!”

Ani! Kau tidak punya bukti yang kuat!”

“Mataku adalah buktinya!”

“Bisa saja kau menuduhku!”

Blablabla. Malam itu dihiasi aneka jeritan tak keruan dari 2 pasang remaja ababil. Mereka saling memperebutkan satu ruangan tidur yang luas dengan dua buah deluxe bed di dalamnya. Sebenarnya pemikiran Leera bisa dikatakan bodoh.

Dengan jelas. Mereka hanya tidur satu ruangan dan bukannya satu ranjang. Tapi mengapa ia begitu khawatir? Saat ia tertidur di sofa, gelagatnya tidak aneh-aneh. Dan dengan jelas kejadian saat ia tidur dilihat oleh Kai. Malahan saat itu Kai mengangkatnya ke kamar agar yeoja itu tidak kedinginan. Apakah Leera tidak ada rasa berterimakasih sama sekali? Atau ia sudah ditelan oleh gengsi?

“Ya! Kim Jong In!”

BLPP

Kini telunjuk Kai sudah berada di bibir Leera. Agar anak itu berhenti berkoar. Telinga Kai sungguh sudah pusing dengan semua ocehannya hari ini. Leera harusnya bersyukur karena Kai hanya menggunakan telunjuknya untuk membuat bibir Leera berhenti berbicara, karena di sebagian cerita drama. Biasanya bibir yang mengoceh akan dihentikan dengan sebuah ciuman.

Leera yang disentuh (lagi) bibirnya lalu menegang tubuhnya. Ia semakin mundur dan mundur karena Kai juga berjalan ke arahnya. Mundur mundur dan mundur. Entah mengapa wajah Kai terlihat berbeda. Ekspresinya mulai menyiratkan sebuah seringai evil atau semacamnya. Leera lagi-lagi terancam mundur dan mundur. Hingga akhirnya, punggung Leera sudah tersentuh dengan dinding. Dalam artian, Leera sudah terpojok.

Kai lebih tinggi dari pada tubuh Leera. Sehingga untuk menatap namja itu, Leera butuh sedikit mendongak. Sedangkan Kai, hanya matanya yang menghadap ke bawah. Jari telunjuknya masih saja menempel di bibir lembut milik Leera.

Wajah Kai kembali datar. Ia menatap Leera lekat dan Leera kembali menegang. Ia tidak bisa berbicara. Mulutnya kaku untuk berbicara. Apalagi telunjuk Kai yang menghalanginya. Jantung Leera juga berdegup sangat kencang. Leera bersikeras bilang bahwa rasa ‘deg-deg-an’ ini bukanlah semacam rasa suka. Tentu saja Leera hanya kaget dengan sifat Kai yang berubah tiba-tiba.

Telunjuk Kai mulai berpindah dari bibir Leera. Ia memegang halus tengkuk Leera yang terbuka. Perlahan dan perlahan wajah Kai mulai maju untuk mendekati wajah Leera. Leera terdiam kaku, darahnya langsung berdesir. Jantungnya berdegup dengan tambah cepat. Mata Leera hanya dapat melihat wajah Kai yang begitu dekat dengannya. Wajah itu semakin mendekat dan mendekat, akhirnya Leera tidak sanggup lagi dan memejamkan matanya erat-erat. Dalam pejaman matanya, Leera dapat merasakan deruan nafas dari Kai yang menerpa wajahnya. Leera merasa kehangatan di areal wajahnya. Leera juga menahan nafasnya saat itu.

Kai lalu memiringkan sedikit wajahnya. Tinggal beberapa inci lagi bibir Kai bisa menyentuh bibir lembut milik Leera.

To Be Continued

A/N

Annyeong. Senangnya bisa menyelesaikan part 4 nya. Mian banget setelah satu minggu lebih gak update akhirnya baru update nih. Sekali lg makasih buat para readers^^ Terutama yang udah komen dan memberi respon, mian kalo komennya gak author bales ne. Soalnya kadang gak sempet kadang juga komputer rada eror, kalo kata google chrome sih ‘ngadat’ hehe. Yang kmaren req supaya lebih panjang. Oke, ini sudah 6000 kata lebih hoho. Biar mantep tuh biar mantep. Yang req KaiRa momments nya dibanyakin hmm.. apakah ini kurang banyak? Yang penting dibagian akhir ada kan? hot lagi yaampun kopel ku ><  Mian bikin gantung yang bagian akhirnya, sengaja biar readers penasaran. Itu kira-kira Leeranya bakal diem aja apa gimana. Atau nanti ada yang menghalangi kiss scene mereka. Atau malah Leera membalas ciuman Kai? wah >< jujur author sendiri belum mau ngerencanain selanjutnya gimana (yang tentang kiss scene).
Disini ada yang penasaran gak sama cewek-cewek menel di kantin itu? Atau dengan kisahnya Jiyeon yang super gaje? Adakah yang penasaran mengapa Jiyeon jadi author angkat-angkat lagi disini? Itu semua ada terketaitannya sama Cast Utama kita, ingat Jiyeon bukan cuma cameo yang berada di mobil aja. Part selanjutnya bakal banyak konflik~~ dan juga akan lebih banyak KaiRa moments nya juga dong xD

Buat readers thanks supportnya dari awal. Mian pidatonya kepanjangan, soalnya kangen dan mesti banyak yang disampein >< Readers aku mohon tetep RCL ya^^ Soalnya aku masih butuh tanggapan kalian, kritik, saran, hehe. Mau kritik gakpapa mau saran juga gakpapa, dengan senang hati saya terima^^

Oh iya, author juga lagi butuh cast OC buat part selanjutnya. Yang mau jadi cast tinggal komen nama korea kamu yaa

Papay! Sampai bertemu di part selanjutnya ya^^

27 comments

  1. Eit, duhh, Leera jangan d tinggal Kai, kalau asam gmn coba…
    WAH, Leera ada skandal sama Chanyol #Dzing
    Dan siapa itu ><!!
    THOR FF INI KEREN YE!!! DAN LEERA KAI COUPLE MY FAVOURITE DAH!😄

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s