The Sexiest Agent – Part 1 [It’s Begin]


nARCOTICS

~ Title ~

The Sexiest Agent

~ Author ~

Bekicot Princess

~ Genre ~

Action, Romance, Fluff, Life, Angst, AU

~ Main Cast ~

Kwon Yuri

~ Support Cast ~

Kim Jong In aka Kai EXO

Cho Kyuhyun aka Kyuhyun SJ

Choi Siwon aka Siwon SJ

~ Special Cast ~

Choi Seunghyun aka TOP Bigbang

Park Jiyeon aka Jiyeon T-ara

BoA

~EXO, GG, SJ, SHINee, INFINITE, BToB~

WARNING: PG-15 / PG-17 [English]

~ Summary ~

Information is the most dangerous weapon of all

###

Yuri POV

Kantor CIA, kantor paling bergengsi di USA. Tentunya bekerja disana adalah aset yang sangat berharga. Diberi kepercayaan oleh Presiden USA, apa yang tidak memungkinkan? Semua bisa kau dapatkan di CIA. Fasilitas, royalti, uang dan segalanya bisa kau dapatkan jika kau melaksanakan tugasmu dengan baik. Bisa dibilang aku sangat bangga dengan semua ini.

Menjadi anggota baru CIA…

Aku anggota termuda di kantorku, umurku 19 tahun. Dan aku bangga bisa bekerja di CIA.

#

Author POV

Lantai beralaskan karpet hitam, layar bening, aneka perunggu bermeja. Ruangan itu dipenuhi beberapa orang yang berdesas-desus. Puluhan orang berkumpul mengelilingi sebuah layar besar. Mereka menyaksikan banyak sensor program, pemetaan yang rumit, dan beberapa wajah yang runyam. Semua itu muncul di sebuah layar transparan yang menjadi pusat perhatian mereka sekarang. Terdengar juga satu-satunya sumber suara, menghujani pikiran mereka.

We just have a big trouble, ladies and gentlemen.”

A narcotics organitation are getting active this year. Ecspecially in Asian.. our soldier, South Korean…

Di layar muncul visualisasi dari gambar negri gingseng itu. Terlihat jelas wajah-wajah yang runyam itu, kotor penuh dosa.

Alrich Fredman.. the great one, he’s done with his project in Afganishtan.”

Semua terkesiap mendengar nama itu. Mafia terbengis. Penyebar NAPZA terluas di Asia. Bahkan bawahannya pun punya masing-masing mata-mata di negara pemegang cukai terbesar. China, Korea Selatan, Jepang, dan Thailand.  Bahkan Negara terbawah pun dimanfaatkan untuk tempat persembunyian, dan impor lokal. Alrich Fredman.. sampai sekarang CIA tak pernah menemukan keberadaannya. Markas kelompoknya, sekali mafia itu menempatinya dia akan langsung meledakkan tempat itu agar CIA tak menemukan sepeser petunjuk pun. Walaupun markasnya itu terbuat dari wolfram terdalam sekalipun, akan diledakkan demi keselamatan produknya itu.

Cyan Lorrington, salah satu agen CIA terpercaya presdir Own. Dia mengagguk mengerti. Di dalam otaknya berputar banyak ide ide bersembunyi. Cyan menyelidiki layar besar transparan di depannya itu, dan mendapati seringai ketika dia melihat Negara yang akan menjadi sasarannya.

Korea Selatan.

#

Author POV

“Yuri,”

Cyan menatap Yuri lekat saat dia sudah duduk di ruangannya.

“Tentu saja kau diterima di CIA bukan tanpa alasan.”

Kata-kata yang keluar dari mulut Cyan sontak membuat jantung Yuri berdetak lebih keras. Terlihat jelas kening Yuri yang mulai berkerut.

“Yes, sir?”

Cyan menyeringai lepas saat Yuri gugup di depannya. Lalu Cyan melipat kedua tangannya dan menaikkan alisnya.

“Terjadi kenaikan cukai illegal, suap kepolisian Negara.. masalah terjadi dimana-mana. CIA sudah lama ingin menyelesaikannya.”

Cyan tiba-tiba bangkit dan menghampiri Yuri. Mengelilingi kursi yang kini dibebani Yuri. Yuri hanya bisa melihat pantulan siluet  tuskedo putih yang buram. Yuri membisu, membiarkan atasannya itu untuk berbicara lebih banyak lagi.

Do you hear me, Yuri?”

Yuri terkesiap, dia mendongak dan mendapati wajah Cyan.

Got it, sir

Cyan lalu berhenti di depan Yuri dan melanjutkan omongannya.

“Aku membutuhkanmu, Yuri. Seorang agen muda yang terampil memainkan senjata. Act,  aku kira kau punya semuanya yang dibutuhkan CIA.”

Cyan tersenyum pada Yuri lalu kembali mengelilingi kursi Yuri.

“NAPZA.. telah berkembang di Asia. Khususnya di Negara bawahan Amerika ini. Mereka loyal pada kami, kami saling membantu. Mereka ekspor bahan bakunya, kami ekspor bahan jadinya. Mereka menghasilkan uang, so don’t let the fu*king mafia take it all from us. Do you know what country that we discuss?”

Yuri mencari-cari di pikirannya. Kini Cyan sudah ada di belakang tengkuknya, menghembuskan kata ke telinga Yuri.

“Korea Selatan.”

Yuri pun kaget dan langsung bangkit dari kursinya, dia membelalakan matanya pada Cyan. Cyan tau Yuri akan kaget namun dia memberi aura santai pada ruangannya.  Dia memberikan kata pada Yuri dengan tangan yang dimasukan ke saku.

“Kau akan berangkat kan Yuri?”

Yuri memandang lelaki 26 tahun itu. Cyan, atasanya, memberi Yuri kepercayaan atas Asia (Korea Selatan) untuk menyelesaikan misi CIA. Sejenak otak Yuri tersendat. Apa yang bisa dilakukannya?

Yuri lalu memutar pikirannya dengan pasti, berusaha menenangkan dirinya. Dia sadar dia adalah anggota termuda, baru masuk CIA satu bulan lalu. Dan Cyan langsung mempercayainya melaksanakan misi? Tentu saja butuh 2 tahun untuk mendapatkannya. Namun kenyataannya tidak untuk Yuri.

Sir, are you sure with your words?”

Yuri mengubah air muka atasannya itu. Yang semula dingin menjadi hangat. Cyan lalu tertawa kecil dan tersenyum pada Yuri.

Nope Yuri. Believe me,”

Cyan lalu mendekat pada tubuh Yuri, dia mendekapnya dengan refleks. Yuri membeku, dia lalu melepaskan dekapan atasannya itu. Yuri benar-benar tidak enak dengan hal itu. Diapun langsung berujar.

Okkay I will

Yuri lalu langsung meraih pintu keluar dari ruangan itu. Dia berfikir bahwa atasannya itu sudah gila. Dia berjalan cepat ke tangga dan meninggalkan desakan hak nya. Lalu dalam waktu tak sampai satu menit dia sudah sampai di lobby. Kini dia menempatkan sikutnya di atas meja resepsionis . Menunggu layar hijau yang akan muncul dalam 3 detik lagi.

Layar itu muncul dan mengeluarkan suara pop pelan. Terdengar suara robot wanita yang berbicara di layar hijau itu.

Please Insert

Yuri memberi sidik jari ibu jarinya pada layar hijau itu. Melahirkan nada dering pendek dari suara robot itu.

Thankyou for insert yours” Katanya yang berbunyi setelah Yuri membelakanginya.

Kini Yuri meninggalkan gedung luas itu dengan segala kebisingannya. Dia hendak keluar dari segala kebisingan di kantor itu. Kakinya menapak di hadapan sebuah lempengan kaca raksasa. Tak lama kemudian lempengan itu langsung membuka memberikan celah pada Yuri. Yuri langsung melangkahkan kakinya keluar celah itu dan mendapati dirinya di hamparan jalan yang luas.

Sampai di luar Yuri mengenakan kacamata hitam miliknya. Dan memainkan kunci mobil yang kini ada di telapak tangannya.

“Habis hujan ya..” Yuri bergumam melihat lantai aspal yang basah. Terlihat cucuran air dari sebuah traffic light di seberangnya.

Yuri lalu mencari-cari sosok Babybrance nya. Dia mendapatkannya dan menghampirinya dengan gelagat dingin. Suara haknya yang fenomenal jelas memekakkan telinga. Benda kecil di telapak tangannya tadi mulai dia fokuskan kembali. Dia menekannya dan mendapati Babybrance nya yang telah terbuka.

SLAPT

Pintu Babybrance nya itu tertutup . Yuri kini sudah ada di dalamnya. Dia mengendarainya hingga mencapai rumahnya.

Yuri POV

Dasar lelaki gila. Jangan mentang-mentang kau atasanku dan kau bisa berbuat seenaknya padaku. Cyan, aku bukan perempuan murahan seperti mantan-mantanmu. Wajah yang tampan tidak bisa menjadi modal bagimu untuk memelukku. Cyan, mulai sekarang aku tahu. Semua yang mereka katakan tentangmu itu benar. Cyan si kepala pengiriman misi, yang selalu di percaya oleh presdir CIA dan selalu mempergunakanku sebagai visualisasi dari presentasi miliknya. Dan kini dia menggunakanku untuk menyelesaikan misi di Asia? Tidak mungkin.

Kalau aku gagal, aku bisa mempermalukan agensi. Cyan gila.. Cyan gila.. Atau mungkin aku yang salah tingkah? Seharusnya kan aku belum pulang sekarang. Berkas yang ku kerjakan masih terpancar di monitor mesin itu. Tidak,, aku benar-benar salah tingkah.

Kalau aku tebak. Dia habis menghadiri sebuah rapat besar tadi. Dan pasti itu tentang misi yang dia berikan padaku sekarang. Dia sengaja sekali, tidak pernah mengizinkanku ikut rapat. Alibinya selalu saja karena aku anggota yang baru saja di resmikan agensi. Selalu dan selalu.

Aku tidak menyangka bekerja di CIA seberat ini. Huft..

Aku ingat bahwa, Cyan lah yang membuatku bekerja disini. Cyan lah yang mengurusi semuanya sehingga aku bisa begini, menjadi anggota dalam usia dibawah 20 tahun. Cyan bilang aku berbakat, kuat dan seorang yang terampil. Cyan juga bilang aku punya bakat yang tersembunyi. Dia membutakanku, dia bilang bahwa aku diutus untuk CIA. Dan sekarang aku baru sadar, dia ada maunya.

Dia tahu itu.

#
Keesokan Harinya,

Morning, Becca”

Aku menelan raut muka ReBecca yang tersenyum padaku. Dia bilang dia akan bekerja keras hari ini. Dia akan lembur habis-habisan. Dia tahu kalau Cyan ada banyak masalah di pikirannya. Negeri kesayangannya telah diancam cukai yang illegal, itu merugikan baginya. Yah, walaupun ReBecca tak begitu paham apa hubungannya Cyan dengan Korea Selatan namun dia rela membantu Cyan hingga titik penghabisan.

Yeah, morning too

ReBecca mendekat pada kursi ku. Dia membisikkan sesuatu padaku yang sangat-sangat membuatku geli setengah mati.

“Aku melihat Cyan hari ini. Dia tampak keren sekali dengan gel”

ReBecca lalu menjauhkan wajahnya pada telingaku dan hendak menjerit.

“Oh Godddd!”

Oh.. ternyata dia tak bisa menahan jeritannya yang khas itu. Suara ReBecca agak berat. Mungkin karena dia pernah mengalami masa kelam dengan rokok. Maklum ReBecca adalah seorang negro, kawan-kawannya saat kuliah sangat memprihatinkan. Dia tinggal di Las Vegas selama 2 tahun dan itu benar-benar memuakkan. ReBecca bilang dia sangat beruntung bisa sampai di kota yang waras seperti Washington. Dimana kebanyakan orang hanya fokus pada pekerjaan dan tugas. Apalagi disini dia bertemu dengan Cyan Lorrington , seorang bangsawan muda -tampan yang jadi atasannya di kantor agensi CIA.

Sekilas aku memandangi ReBecca, merenungi masa lalunya yang pernah dia ceritakan padaku. Baru satu bulan dia sangat dekat denganku. Padahal dia 6 tahun diatasku, haha. Disini aku terpaksa bergaul dengan orang-orang yang jauh lebih tua dariku. Itu resiko,

“Hey, aku akan ke ruangan lelaki tampan itu. Doakan aku ya,”

Usikan ReBecca sangat mengangetkanku yang sedang merenungi masa lalunya.

“Yeah, good luck!” Kataku membalasnya dengan sebaik mungkin.

#
Ruangan Cyan

Author POV

Angin dingin berhembus dari sebuah bingkai jendela yang dibuka oleh seorang pemuda. Gel yang dipakai di rambutnya kini membuatnya terlihat fresh. Angin-angin menerpa rambutnya seakan menggoyahkan Cyan. Karena takut, Cyan menarik kembali kusennya. Meninggalkan bunyi kecil efek dari jendelanya. Tak lama setelah itu Cyan mendengar sebuah ketukan mendarat di pintu ruangannya.

Cyan tak sengaja mengembangkan senyumnya. Tangannya lalu menjelajahi saku tuksedo hitamnya yang dia pakai hari ini. Dan mendapati sebuah remote kecil seukuran ibu jari.

PIP

Dia mengarahkannya pada pintu ruangannya. Lempengan kaca pintunya langsung bergeser kedalam dinding dengan cepat. Pintu itu meninggalkan sosok wanita berkulit hitam dengan senyum terbaiknya.

ReBecca.

Cyan mendesah pelan, lalu menuju kursi hangatnya. Menunggu tamunya itu duduk di sofa yang ada tepat di depannya.

ReBecca melangkahkan kakinya dengan pasti. Sorot matanya langsung tertuju pada Cyan yang sudah terduduk di Sofanya. Pertanda dia tahu kalau yang nanti ReBecca bicarakan hanyalah sebuah hal sepele. Air muka ReBecca langsung berubah, senyum yang dia sajikan tadi mulai luntur seketika.

Jadi apa yang akan kau bicarakan?”

Cyan memulai pembicaraan dengan dingin. Tidak seperti biasanya yang menyambut tamu-tamunya dengan sebuah gingsul yang manis. Selembar koran mendarat di tangannya sekarang.

“Ukh, I not just wanna tell you something unimportant.”

Cyan menangkapnya, memperlihatkan kebiasaannya mengangkat sebelah alisnya. Sejenak selembaran yang di dekapnya berpindah ke meja di depannnya.

Okkay, tell me Becca. I’m sorry.”

“Aku tahu kau akan mengirim agen barumu ke Asia.” Kata ReBecca yang mulai serius.

Cyan membisu, hatinya belum puas membuat lisan ReBecca sampai duluan.

“Cukai illegal, wabah NAPZA, cikal bakal peledakan. Aku tahu mengapa kau begitu cemas, don’t be so calm it’s a big problem.”

Lalu ReBecca menghantarkan beberapa lembaran kertas di tangannya. Cyan mengamatinya dengan wajah ditekuk. Setelah beberapa detik kemudian, Cyan menyerahkan itu kembali pada dekapan ReBecca dan menghela nafas panjang.

“I’m sorry Becca. Tapi aku mendapati kau tak mengerti apa-apa. Aku punya agen yang lebih tepat untuk mengurusinya.”

ReBecca terpaku menatap Cyan, lalu melihat gerakan mulut Cyan yang berujar ‘Im Sorry’ pelan dan tersenyum untuknya.

Ah, okay I’ll go out. Thanks

ReBecca memunggungi Cyan dan menuju pintu lempengan kaca itu. Seperti biasa lempengan itu langsung bergeser memasuki dinding dan memberi celah pada ReBecca.

#

Yuri POV

Becca, what’s going on?”

ReBecca melaluiku. Dia menggeleng dan berlalu,

It’s not good

Ouch Becca, don’t hate me please. Aku juga tidak tahu bagaimana jalan pikiran seorang Cyan Lorrington. Cyan adalah seorang kulit putih, kau kulit hitam. Aku kulit Asia tapi eksotis-_- tidak ada yang berjodoh disini. Yang jelas aku benci Cyan, dan aku tidak benci ReBecca. Mood ku sekarang mulai membaik, aku sudah latihan di rumah bagaimana bergaul dengan orang Asia. Aku mulai percaya diri kan, lagipula aku pernah tinggal di Korea Selatan selama 7 tahun. Bahasa korea ku fasih, namun hangul? Mungkin aku akan sedikit lupa tentang hal itu.

Aku dengar pengiriman agen misi akan dimulai besok. Aku tidak sendiri , banyak orang menemaniku di Asia. Namun kami hanya berbeda Negara saja.

“Kau sudah siap kan untuk esok?”

Kudengar seseorang menaruh berkasnya di mejaku. Dia Siwon, salah satu staff disini. Ku dengar dia salah satu partnerku. Sekarang aku sadar mengapa hanya kami yang dikirim.

Karena kami punya wajah Asia dan juga pengalaman.

Wait, hanya karena itu si Lorrington bilang aku terampil dan semua hal abal lainnya? Karena itu dia memperkerjakanku disini?

Excuse me?”

Siwon memperlihatkan aksen keseriusannya, wajahnya yang penuh karisma memang sering meluluhkan hati. Aku sudah tahu apa yang ditugaskannya untukku, memeriksakan semua agen ataupun staff ke Asia tentu saja kelengkapan juga. Apalagi aku junior nya, tentu aku harus dipandu habis-habisan.

Yeah, aku siap.” Kataku

“Kata mereka, bawa semua barang-barang primer mu.”

Membawa semua barangku? Oke tidak masalah,

Got it.” Aku menjawab dengan mantap.

Siwon mulai membalikkan badannya hendak berlalu, namun seiring kakinya melangkah ia terpaku dan kembali menoleh padaku.

And.. Kau mau beli mobil baru stir Asia atau tetap? Kami bisa mengirimnya kesana.” Siwon mendelik namun nadanya masih serius dengan karismanya yang cool itu.

“Ah, tetap saja.” Aku mengangguk padanya, memberi salah satu petunjuk yang dia inginkan.

Semua berkas yang Siwon daratkan di mejaku sekarang sudah aman terselip di map keseharian skripsi agensi milikku. Aku akan bekerja selamanya dengan berkas itu hingga tugas mulia ini selesai. WTF? ‘tugas mulia’ ? setidaknya itu yang Lorrington sebutkan. Sepertinya aku tidak bisa selalu tenang mulai dari sekarang, karena pembenahan itu melelahkan. Para packing-servicer tentu akan membantu membenahi barangku namun tidak akan pernah untuk semua barang pribadiku, tentu aku tidak akan mengizinkannya. Termasuk ReBecca sekalipun.

Gosh? Becca, aku jadi merasa bersalah padanya. Tetapi kan memang setidaknya pilihan ini sudah terlanjur tepat, karena aku junior dan aku agen kesayangannya Lorrington untuk misi ‘mulia’ ini.

Aku selesai membenahi seluruh meja kerja ku, dan kini tujuanku hanyalah rumahku. Tentu saja untuk mengatasi SELURUH barang pribadiku.

#

Hari Keberangkatan,

Author POV

Suasana kota Washington hari ini lembab, melebihi setitik embun di selembar daun talas. Atap langit yang begitu hitam menghiasi kota dan menyihir jutaan manusia yang berlalu lalang disana. Washington tengah dilanda cuaca ekstrem bulanan, dan hari sial itu datang tepat hari ini. Hujan belum berjatuhan di titik pusat Big Hall Of CIA Agency, itu yang membuat mereka semua bersyukur. Mungkin hanya sekelebat petir kecil yang menemaninya. Tim cuaca Washington memang sudah mengingatkan para ketua agensi tentang badai kecil ini, namun CIA menolak. Hari ini adalah hari H nya, dimana nasib perhubungan negara di pertaruhkan.

Pengiriman agen ke Asia.

Hal ini dirahasiakan pihak perhubungan Negara juga agensi. CIA kali ini tidak bekerja sama penuh dengan pemerintah. Mereka anggap ini hal sepele dan juga hanya berkaitan dengan kepala pengiriman CIA, Cyan Lorrington. Atau lebih tepatnya CIA hanya sedang mengurusi masalahnya sendiri dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan USA. Tidak ada siaran di TV, tidak ada kabar dari radio ataupun telegram. Hal ini dirahasiakan penuh dari dunia.

Yuri POV

Aku benar-benar khawatir melihat warna cuaca pagi ini. Kuharap semua berjalan dengan lancar, karena mulai saat ini jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku tak percaya ini, ternyata pengiriman agen dilakukan dengan ceremonial yang benar-benar panjang.  Tidak ada staf yang melakukan operasi pelastik, kami benar-benar tidak kekurangan aksen Asia.  Walaupun agen yang dikirim hanya berjumlah 8 orang.

“Yuri!”

Aku melihat bayangan orang yang mengejarku hingga ke tengah lapangan. ReBecca! Aku tidak menyangka dia mengamatiku sejauh ini.

“Yuri..” Dia langsung memelukku. Aku bisa mendengar isakannya, dia menangis. Aku harap dia mau melepaskanku.

“Becca.. I’m sorry” Aku mengeratkan pelukannya. Namun aku tidak akan menangis. Aku sudah berjanji sebelumnya.

Kurasa Becca akan mengucapkan sesuatu, kumohon Becca maaf kan aku. Tolong izinkan aku pergi dengan tenang dan jangan membenciku.

“Yuri, kau tidak salah. Kau memang tepat. Aku yang terlalu memaksakan diri.” ReBecca memegangi pundakku yang tegap.

Angin hasil badai kecil itu pun mulai berdatangan, menyapu rambut panjang hitamku dan juga rambut cokelat cepak milik Becca.

“Thanks, Becca.” Aku memeluknya lagi, berharap dia benar-benar mengikhlaskanku pergi.

Aku pun melepaskannya dan segera berujar lagi.

“Jangan lupa, selama aku pergi kau harus jujur akan perasaanmu pada Cyan. Manfaatkan kesempatan ini, karena aku akan pergi lumayan lama.”

ReBecca lalu tersenyum, “3 bulan adalah waktu yang sangat singkat, namun aku akan berusaha.”

Aku pun terkekeh kecil dengan ReBecca. Namun, seseorang meneriakki ku dari jauh.

“Yuri! Comeback here!”

Park Shin Wa memanggilku dari jauh, aku benar-benar mengenalinya karena dia punya gaya rambut yang khas. Ku lihat dia sedang berada di suatu barisan, dan disana semua agen memakai baju hitam, termasuk Siwon dan juga Kris. Kris adalah seorang Canada campuran China, oh pantas dia dikirim juga.

Aku pun langsung bergegas mengejar suaranya, menuju barisan 4 banjar 4 baris itu. Yang sudah tersusun rapi di hadapan limosin hitam yang berkilauan. Aku tersenyum melihatnya.

“Hosh, hosh.”  Aku sudah sampai di barisan, Park Shin Wa memandang dalam wajahku. Aku bisa melihat matanya yang melotot pada diriku. Dia senior ku, dia hampir berkepala 4. Wajar dia seperti itu, melihatku lemah seperti ini.

Aku pun mengatur nafasku dan berusaha mencoba tenang dan menghadapi sesuatu yang ada di depan mataku. Seseorang memandu dari depan barisan kami dan dia?

Cyan Lorrington?

Ukh aku terbatuk melihat gayanya yang sok-sokan dengan tuksedo putih kesayangannya itu. “Uhuk,”

“Shh..” Park Shin Wa menggubris pundakku dan kembali menerjang dengan sorot matanya yang tajam.

Sorry,”

Oke aku minta maaf, karena sudah batuk dan tidak sopan. Seharusnya Park Shin Wa lah yang batuk. Dia jauh lebih tua dibanding Lorrington yang berdiri dengan angkuh di depan sana. Dia sama sekali tidak tersenyum menghadapi pasukan yang akan mengerjakan ‘tugas mulia’-nya. Yang artinya dia sangat serius. Ya, wajar aku kena marah. Oke, aku mengalah.

Kulihat Park Shin Wa yang membenarkan gaya tubuhnya. Lalu mendongak untuk melihat sesuatu di depannya, Cyan. Cyan akan mengucapkan kata-kata terakhir. Aku dengar memang dia tidak berpartisipasi ke Asia. Dia hanya megirimi agen dan duduk manis di Washington dengan cappuccino nya. Cyan menarik nafas dan melirik semua agen, termasuk aku..

Ladies, and gentlemen..”

Ya, aku tahu aku satu-satunya ‘ladies’ di barisan ini. Dia tidak lupa karena aku agen utama. Kalau tidak dia hanya akan mengucapkan ‘gentlemen’ dan aku akan gemetar sendiri mendengarnya. PSY?

Let’s we reach Asian. Do what you should do. Anything you need are in your soul. Keep calm to doing your mission. Be loyal to us, our CIA need you. Contact us or our helper communicator if you got some spicy. Thanks.”

Cyan, stelah dia mengucapkan ‘thanks’ ia langsung berbalik dan turun. Yang kulihat hanya siluet tukskedo putihnya yang berkibar terkena badai kecil ini. Dia berbalik dan menuju gedung utama Big Hall. Sedangkan tepat saat itu hujan turun menyapu kami semua.

Lagi-lagi Shin Wa memanduku memasuki salah satu diantara beberapa limosin berkilauan itu. Aku pun bergegas dan kabar baiknya aku terhindar dari hujan. Kini aku aman di dalam sebuah limosin dengan semua agen Asia di dalamnya. Limosin ini akan mengantar kami ke sebuah bandara ternama di Washington dan aku tidak perlu repot-repot memegangi barang-barangku. Karena aku tahu, mereka sudah sampai duluan di sana.

#

Korea Selatan

Penat, lelah, dan deg-degan. Sungguh aku merasakan komplikasi dari semuanya. Walaupun aku tidak di agensi kan untuk membantai sekelompok aliansi antah berantah namun sungguh aku sangat takut akting yang ku lakukan akan salah. Ya, salah dimengerti. Namun, mereka memang sudah melatihku jika aku mendapat tekanan atau paksaan dari target. Aku sudah mempelajari shotgun, light gun, dan snipper. Membidik sudah lumayan keahlianku, bahkan agen Siwon mengetahuinya.

Oh iya aku hampir lupa. Sejak di pesawat tadi Siwon bilang padaku kalau nomor agen ku 12.  Jadi aku harus selalu mengerti jika terdapat beberapa vertifikasi kode di kantor CIA pusat Korea Selatan.

BIP BIP

Suara notifikasi dari ponsel ku membuyarkan pandanganku sejak bangun. Tanganku pun langsung menjelajahi kolong bantal yang merupakan tempat tetap aku menyimpan ponsel berisik itu. Saat ponsel itu sudah mendarat di genggaman tanganku aku langsung mengusap layar besarnya dan tersenyum karena pesan elektronik yang kudapat.

From: Choi Siwon
To: Kwon Yuri
Take care for yourself 12. I know you can beat South Korean! I’d have to stay to Bangkok since this day, so if you wanna get some help you can’t just hope the best from me. Call my agent: 0219087.
Sincerely,

Dia.. sungguh seorang senior yang baik. Walaupun selalu tampil dingin setiap harinya. Ada rasa bangga tersendiri jika kau mendapat sebuah pesan khusus seperti ini dari seorang Choi Siwon. Apalagi ini bukan automatic reply, ini diketik pribadi olehnya!

Aku pun segera melepaskan ponsel itu dengan masih ada sedikit guratan senyum di bibirku. Lalu aku menuju sebuah bingkai jendela yang rapuh tepat menempel di dinding ruangan ini. Sejenak aku akan terlena dengan Seoul. Terlena oleh kenangan indah bersamanya. Kali ini musim gugur, waktu yang tepat jika kau ingin melihat daun kuning maple yang berguguran dan juga rimbunan daun di tengah jalan. Mataku selalu nyaman melihat seseorang dibawah sana yang menyapu dedaunan dengan garpu besarnya. Seakan, yeah itu hiburan bagiku. Di Washington kami membersihkan dedaunan itu dengan mesin penggerek kecil. Jadi bisa kau bayangkan betapa uniknya jika orang Amerika tulen melihatnya.

TOK

TOK

Aku mendengar sebuah ketukan yang mendarat di pintu apartemen kecil ini. Pintu itu sebuah wazelnut yang tipis, dari jauh kau hanya bisa mengira itu sebuah tripleks. Aku heran mengapa ia tidak membunyikan bel. Padahal dengan jelas tombol bel menyeruak dari balik permukaan dinding.

Aku pun segera menghampiri pintu itu. Menyentuh gagangnya dan membukanya.

Annyeong..” Sapanya,

Aku menyipitkan mata saat melihat wanita yang tampak seperti wanita tua di depanku itu. Ia terlihat jauh lebih tua dariku, namun kecantikannya tidak pudar seakan selalu menemani umurnya. Ia lalu tersenyum padaku memperlihatkan deret giginya yang benar-benar sangat kusukai. Sangat sopan, tipikal sopan.

“Yuri? Kwon Yuri ne?”

Ia berbicara dengan Bahasa Korea. Siapa dia? Seorang saudara jauh yang lupa ingatan atau rekan pemilik apartemen kecil ini? Atau penjual sake keliling? Namun, aku kira tidak. Lihatlah purse yang dipakainya dan juga oh! Highheels itu! Coco Channel, original.. aku tahu ciri khas utama purse koleksinya , lambang huruf C yang khas ditambah motif pattern of pattern yang selalu menjadi pusat perhatian.

Tidak tidak..

Aku yakin dia bukan seorang saudara jauh yang lupa ingatan ataupun rekan pemilik apartemen kecil ini.

Aku mengikuti kata hatiku dan mempersilahkannya masuk dengan sebuah isyarat tangan. Tentu isyarat yang umum untuk semua orang. Aku tidak ingin menggunakan bahasa asli ku—American English karena aku takut akan terjadi apa-apa.

Kini ia duduk di sebuah sofa oranye sederhana yang terletak di dekat rak sepatu. Ia tampak mengeluarkan sesuatu dari purse mahalnya.

Apa itu..

Sebuah remote kecil?

Have any plain wall?”

Ia lalu berbicara dengan bahasa inggris yang memang tidak terlalu fasih. Namun aku menjawabnya dan mengangguk.

It is in my room

Aku lalu berbalik menuju bilik kamarku yang seluruh dindingnya memang pure polos. Dan tidak terisi lukisan apapun, kecuali bagian dinding yang terdapat jendela rapuh tadi. Aku lalu menunjuk sebuah dinding yang diinginkannya. Kini ia melangkah lebih dekat dengan dinding itu dan terlihat memencet salah satu tombol di remote kecilnya.

PIP

Sebuah layar transparan muncul di dinding polos itu. Gambarnya sangat buram, seperti kotak-kotak kecil yang seakan dipaksakan menyatu untuk menjadi sebuah gambar seutuhnya. Namun, lama –kelamaan gambar di layar itu membaik dan kini membentuk sebuah bayangan yang sangat kukenali. Ya, itu Cyan.

“Yuri, jika kau melihat ini. Itu berarti kau akan langsung memulai tugas utamamu disana”

Suara Cyan terdengar seperti suara mesin yang berbunyi. Suara Cyan yang berat itu sukses melengking berkat rekaman layar yang buruk itu. Aku hendak terkekeh, namun melihat ekspresi wanita tua di sebelahku aku merasa yah, mungkin takut melukai teknologi CIA disini?

Cyan mengoceh lagi,

“Dia BoA.. wanita di sebelahmu sekarang. Dia akan memandumu untuk melaksanakan tugas agensi ini, tanpa dia kau akan gagal”

Cyan menekuk mukanya.

“Kau tahu, aku minta maaf jika rekaman ini…”

Aku menyeringai mendengarnya, lalu berdehem agar aku tidak tertawa di depan .. hmm siapa? BoA ya namanya? Ya, walaupun tak ada efek samping yang khusus, namun harga diri lebih ku pentingkan.

PIP

Tiba-tiba layar transparan itu menghilang. Sekilas BoA tersenyum padaku dan menekuk alisnya.

“Ya, kau tahu kadang Cyan berbicara yang tidak perlu. Jujur, garis besarnya hanya itu. Aku agen BoA yang akan memandumu menyelesaikan tugas agensi. Karena aku punya peranan khusus.”

“Kalau boleh tahu, nomor agensi mu?”

BoA terus mengucapkan kalimat – kalimatnya sementara aku hanya mengangguk mendengarnya.

“12”

Aku menjawab datar. BoA hanya menghembuskan nafas  berat saat itu.

“Dasar anak muda”

BoA lalu melangkah keluar dari kamar kecil ku dan menuju dapur. Ku dengar suara ia membuka kulkas.

“Kau punya wine?”

Ia menjerit dari kejauhan. Ia agen atau bukan sih? Mengapa bisa sebodoh itu, huh. Aku baru saja berumur 19 tahun dan ada wine di dalam kulkasku. Ya, jujur aku juga tidak suka alkohol. Hal itu hanya akan membuatku mudah mati saja. Aku masih mau hidup lama di dunia ini,

Aku pun menuju ke kulkas dan tidak menjawab pertanyaanya. Merombak isi kulkasku dan akhirnya kusodorkan padanya minuman ringan.

“Isotonik?”

Kataku padanya. Ia pun menaikan alisnya. Namun ia tetap meraih minuman isotonik yang kusudorkan padanya.

“Thanks”

Ia lalu duduk di kursi kayu rapuh yang tepat di seberangku. Meneguk seluruh air segar itu hingga masuk ke kerongkongannya. Aku hanya terpaku menatapnya, sehaus itukah ia?

BoA pun tersadar akan tatapanku kepadanya, ia lalu membuka mulutnya untuk mengeluarkan uap dari balik kerongkongannya.

“Hah..”

“Kwon Yuri, aku rasa kau harus bergegas untuk hari ini. Better to taking shower early..”

Katanya dengan nada keibuan. Ia lalu menutup minuman isotonik itu dan terus menatapku yang kelihatannya malas untuk mengerjakan perintahnya.

“Please..” Katanya lagi,

“Umhh.. okay”

Aku pun menjawabnya dengan senyum tipis dan segera berlalu dari hadapannya. Aku menuju kamar mandi dan mulai menghidupkan shower.

#

Seouls Academy

Sebuah mobil babybrance hitam melaju kencang di jalanan lembap Seoul. Memperlihatkan rodanya yang berputar cepat. Kota metropolitan itu terlihat sangat ramai kali ini.

Mobil itu lalu berhenti di depan sebuah gedung yang amat luas.

“Seouls Academy?”

Alis Yuri mengrenyit saat melihat tulisan di sebuah papan besar di depannya.

BoA yang sedang menyetir lalu berdehem kecil dan menghadap ke kursi penumpang.

“Kau tahu ini adalah objek penyamaranmu?”

“Ayo turun,”

Yuri lalu melepas sitbelt nya begitu juga BoA. Ia menyambar purse miliknya, sedangkan Yuri mengenakan sebuah backpack anak sekolahan. Yuri juga mengenakan rok selutut yang biasanya di pakai anak-anak SMA.

Sucks..”

PIP PIP

Mobil itu sudah terkunci dengan system otomatis. BoA lalu menyerahkan sebuah kunci pada Yuri.

“Thanks.. mengendarai Babybrance tidak terlalu buruk. Untung aku bisa stir kiri”

“Ya,” Yuri menjawabnya sembari menaikki tangga kecil yang menghubungkannya dengan gedung Seouls Academy.

Pintu geser otomatis gedung itu pun terbuka dan memperlihatkan arsitekturnya yang sangat indah. Sebuah monument raksasa di tengah gedung itu menyapa mereka. Sebuah replika buku raksasa, yang melambangkan ketekunan dan pembelajaran.

Yuri mendecak dalam hati,

Korea Selatan tidak terlalu buruk…

Annyeong, lewat sini..”

Gamsahamnida..”

Seorang petugas memberi intruksi pada BoA dan Yuri. Mengarahkan mereka ke sebuah ruangan yang luas dan tertutup.

CKLEK

BoA menyambar kenop pintunya dan pintu itu pun terbuka. Benda itu mengantarkan BoA ke sebuah ruangan formal yang luas. Terpampang sebuah kursi besar berwarna abu-abu tepat di seberang wajanya.

To Be Continued

A/N: Don’t Be Silent Readers Please *puppy eyes with sehun*😀

7 comments

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s