Since 5 Years I Waiting For You~ [Myungsoo-Jiyeon]


since 5 years i waiting for you 2

Tittle

Since 5 Years I Waiting For You~

Main Casts

Kim Myungsoo / INFINITE

Park Jiyeon / T-ARA

Other Casts

Lee Ji Eun / IU

Park Family

ETC

Genre

Romance, Fluff, AU

Length

Twoshot

Author

Bekicot Princess

Summary

~5 Years is not a short time~

-oOo-

IF U ARE SILENT READERS PLEASE DON’T READ THIS FANFICT OR  U WILL GET THE REGRETS. THANKS. AND IT’S SERIOUS!

Yanggeng University,

Sekarang musim gugur. Kicauan burung menghiasi taman dengan daun kekuning-kuningan itu. Pohon disana memang selalu lebat dan berdaun dengan aneka warna yang janggal. Membuat universitas ini terkenal familiar diantara warga kota. Suasana disini akan sangat indah, ya.. walaupun tempat ini adalah sebatas bidang taman di Universitas Yanggeng. Semua mahasiswa selalu menumpahkan isi hatinya disana, memandangi pepohonan dan merindangkan hatinya sendiri.

Myungsoo seorang namja yang suka menggunakan kemeja ke tempat kuliahnya. Kini ia sedang mengenakan kemeja biru cerah dengan celana putih simpel. Di lehernya terdapat sebuah kain yang mengikatnya longgar, sehingga menutupi hampir seluruh bahunya. Tas punggungnya tidak ia pakai secara utuh, melainkan hanya mengikatkannya di salah satu tangannya sehingga tasnya terjuntai kebawah begitu saja. Di tangannya terdapat sebuah buku bacaan kecilnya.

Dia melangkah riang di taman dan sepertinya ia ingin menemui seseorang yang sangat penting.

“Lee Ji Eun!” Myungsoo menyapa Ji Eun/ IU saat melihat yeoja itu menengokkan kepalanya. “Myungsoo!” Balasnya bersemangat. Terlihat raut antusias di wajah Ji Eun.

Myungsoo lalu berdiri di hadapan Ji Eun, lalu mencari sebatang pohon untuk digunakan bersandar. “Mwoya?” Tanya Eun Ji seraya menatap gelagat Myungsoo.

Myungsoo lalu berdehem dan mengumpulkan kata-katanya. Lalu ia menarik sebelah bibirnya. “Aku ingin minta tolong padamu Ji Eun..”

Ji Eun menatap Myungsoo menyelidik. “Apa itu?” Tanyanya.

Myungsoo lalu menghembuskan nafas lega. Lega karena Ji Eun mau menerima permintaan tolongnya. Myungsoo lalu menggaruk tengkuknya, “Ya.. ini tentang, eum..” Katanya gugup. Sementara Ji Eun yang menatap kegugupan Myungsoo lalu tersenyum jahil.

“Ya! aku tahu.. Park Jiyeon ne?” Tebaknya. Pipi Myungsoo yang semula seperti salju lalu berubah menjadi udang rebus yang matang. “Ya! kecilkan suaramu..” Timpal Myungsoo pelan. Sementara Ji Eun hanya terkekeh kecil.

“Aku ingin.. meminta bantuanmu untuk menanyakan kepada Jiyeon tentang..” Ujar Myungsoo. Terputus-putus. Sementara Ji Eun hanya menautkan sebelah alisnya.

Myungsoo lalu melanjutkan, “Tanyakan padanya, apa barang yang paling ia suka..”

Ji Eun lalu terlihat berfikir keras. Jari telunjuknya ia tempelkan di bibirnya dan matanya menatap langit sejenak. “Eumhh.. sebaiknya kau jangan buru-buru..”

“Buru-buru maksudmu? Hei, ulang tahun Jiyeon kan? masih seminggu lagi, Myungsoo..” Ji Eun menelan ludahnya dan menatap Myungsoo dengan tatapan malas. Myungsoo lalu mengerucutkan bibirnya,

“Bilang saja kau sibuk minggu ini jadi kau tidak bisa melaksanakan tugasku? Yasudah aku minta tolong yang lain saja..”

Myungsoo bangun dari sandarannya. Lalu berbalik dari wajah Ji Eun. Ji Eun yang merasakan aura tidak sedap dari namja di depannya lantas menjerit. “Ya! Myungsoo-a tunggu!”

Myungsoo sontak menghentikan langkahnya. Ia membalikan kepalanya dan tersenyum miring pada Ji Eun. “Baiklah, lakukan secepatnya..” Lalu Myungsoo berlalu. Ji Eun menghelakan nafas lega.

Esok Harinya

Ji Eun sangat sibuk dengan mata kuliahnya minggu ini. Bahkan ia sama sekali tidak melakukan apa yang diminta Myungsoo. Jangankan bertanya, dan sekedar mengobrol dengan Jiyeon. Ji Eun saja tak pernah melihat dan bertemu dengan yeoja itu. “Mungkin semua ini akan berakhir dalam seminggu..” Gumam Ji Eun. Ia merasa bersalah pada Myungsoo.

Dari pagi hingga sore tak kunjung ia bertemu dengan Jiyeon. Gedung universitas yang sangat luas dan mata kuliah yang berbeda mungkin menjadi alasannya. Dalam benak Ji Eun ia terus teringat janjinya dengan Myungsoo. Angka 7 terus berputar di dalam otaknya.. 7 Juni 7 Juni dan 7 Juni.. Hari dimana Jiyeon ulang tahun dan Myungsoo ingin melaksanakan rencananya. Entah namja itu berani atau tidak. Yang jelas ia sudah memendam rasa dengan Jiyeon sejak SMA kelas 1 dan itu berarti sudah hampir 5 tahun. Dan.. semua ditentukan pada tanggal 7 Juni. Dimana Myungsoo akan bertindak.

Myungsoo POV

Aku memasuki rumahku yang di bagian depannya termasuk toko reparasi. Ya, keluarga Kim-keluargaku- memang sudah 10 tahun membuka toko reparasi. Design tokonya memang terlihat seperti sebuah toko kue Eropa. Bernuansa cokelat hangat dengan sedikit polesan warna emas dan karat. Kim Ahjussi lah/Pamanku yang merawat semuanya. Menjadi seorang reparator bukanlah sebuah pekerjaan baginya. Melainkan sebuah kebiasaan dan juga hobby yang tidak bisa dihilangkan. Ia benar-benar naif untuk berdiri di meja reparasi itu tiap harinya. Menunggu segelintir pelanggan yang membutuhkannya. Entahlah, namun ia pernah bilang kalau ia mempunyai seorang pelanggan setia, yang selalu datang membenarkan barang miliknya. Namun, aku tidak peduli dan aku memang tidak tertarik dengan reparasi. Sama sekali.

Kini aku menyelonjorkan kakiku di kamar. Memandangi isi kamarku yang berantakan. Tak bisa dipungkiri, kamarku adalah kamar terburuk di rumah ini. Tiba-tiba pandanganku tersita ke sebuah secarik kertas kecil yang tertempel begitu saja di lemari.

Untuk: Myungsoo, dari: Eomma

Bereskan kamarmu nak. Buang semua barangmu yang sudah rusak dan tidak terpakai agar kamarmu rapi arraseo? Eomma hari ini pergi lagi keluar kota selama seminggu. Jadi eomma hanya bisa menyampaikan pesan ini lewat kertas. Jaga dirimu baik-baik.

Aku menatap kertas itu dengan tatapan merengut. Lalu segera mencabut kertas itu dari lemari dan membuangnya begitu saja ke lantai. Aku muak dengan pesan seperti itu. Eomma tidak pernah punya waktu untukku. Ia selalu saja ke luar kota. Dan yang menemaniku di rumah hanyalah pamanku. Karena ayah sudah meninggal.

Aku lalu melangkah menelusuri kamar kecilku itu. Mencari sebuah barang yang memang tidak terpakai.

BLAM

Sebuah barang terjatuh dari atas lemari. Menimbulkan suara yang lumayan memekakan telingaku. Aku pun segera berjongkok dan meraihnya. Berdebu dan kasar. Itulah bendanya. Namun saat aku membaliknya.

“Sebuah kotak musik?”

Aku tertegun memandanginya. Kotak musik yang indah, dipadu dengan ukiran-ukiran di masing-masing sisinya. Terdapat tulisan di atas kacanya yang berdebu dan kusam itu. Namun, tulisan itu sudah tidak jelas lagi dan pudar. Aku pun berinisiatif membuka kaca itu.

Sebuah lagu akhirnya mengalun~

Lagu balet dan instrumennya. Masih terdengar jelas memenuhi telingaku. Tidak ada cacat dan bunyinya tidak seperti kaset rusak. Yeah, tidak seburuk penampilannya. Namun,

Aku kan tidak membutuhkannya. Lagipula aku tidak perlu. Dan eomma menyuruhku membuang seluruh barang yang tidak perlu. Aku memang sangat menuruti nasihat eomma. Yeah, aku anak yang penurut. Walau eomma selalu memberiku nasihat lewat secarik kertas.

Aku pun meraih sebuah kantung besar berwarna cokelat. Lalu aku memasukan seluruh barang yang tidak kuperlukan disana. Aku memasukannya dengan tergesa-gesa. Lalu hingga barang terakhir yang kumasukan adalah kotak musik itu.

KRASH~

Aku mengikat kantung itu dan menaruhnya di luar kamar dan sekarang aku bisa bersantai..

“Oh iya.. apakah Ji Eun sudah melaksanakn tugasnya?”

Tiba-tiba hal itu kembali teringat di benakku. Walaupun ini baru 2 hari selepas kemarin. Namun, tidak salah kan kalau aku mendesaknya? Lagipula semakin cepat semakin baik.

Aku lalu menyambar ponselku dan mencari kontak Ji Eun. Aku mengetik kata ‘Ji’ dan muncul dua kontak. Kontak ‘Ji Eun’ dan tepat dibawahnya ‘Jiyeon’. Entah mengapa aku tersenyum sendiri. Sudah lama aku mempunyai kontak Jiyeon namun aku tak kunjung berani mengiriminya pesan atau yang lainnya.

Lalu aku memencet kontak Ji Eun dan menelfonnya..

“Yoboseyo?” Sapaku,

“Ne, Myungsoo-a waeyo?” Balas Ji Eun. Aku lalu mengehembuskan nafas berat dan menjawabnya.

“Apakah kau sudah melaksanakan tugasmu?”

Terdengar kejengahan diantara kami. Hingga aku bertanya lagi padanya. “Apakah kau sudah menanyakan barang kesukaan Jiyeon?”

“Err.. Belum. Aku, aku tidak sempat bertemu dengannya Myungsoo. Mianhe..”

Aku tidak kaget. Ini baru 2 hari dan wajar jika ia belum melakukan tugasnya. Namun, mengapa ia begitu eum.. panik? Nada bicaranya parau.

“Begini Myungsoo-a. Aku tak yakin bisa bertemu dengan Jiyeon pekan ini. Aku sungguh sangat sibuk. Sungguh sangat sibuk. Mungkin hanya keajaiban yang bisa membawaku padanya”

Aku tertegun. Aku meneguk ludahku dan membalas pernyataan Ji Eun. “Apa kau tidak tahu dimana dia? Dia kan sahabatmu dari SMA Ji Eun”

“Apa kau bodoh? Dia berbeda gedung dan juga jurusan denganku. Dia musik dan aku arsitektur. Bisakah kau pahami itu?”

Aku tidak bisa menjawabnya, kudengar Ji Eun mengoceh lagi.

“Justru Myungsoo-a! kaulah yang satu jurusan dengannya.. mengapa kau tidak tanyakan langsung? Malu? itu alasanmu selama ini kan?”

Aku terdiam lagi.

“Mengapa kau harus menunggu 5 tahun baru kau akan berbicara dengannya?”

Jengah. Nafasku tercekat mendengar kata ’5 tahun’. Sungguh bodoh jika orang lain mendengarnya. Mencintai seseorang 5 tahun dan kau gagal. Itu tampak bodoh. Satu-satunya alasanku tidak kunjung mendapatkan Jiyeon adalah malu. Dan.. itulah alasan mengapa aku kini berteman dekat dengan Ji Eun. Untuk meminta pertolongannya. Dialah koneksiku dengan Jiyeon.

“Myungsoo-a mianhae.. tapi itulah kenyataannya. Kau harus berani perlahan-lahan dan jangan terus mengandalkanku”

“Iya, baiklah..”

Aku langsung mematikan ponsel dan menjauhkan ponsel itu dari telingaku. Memikirkannya membuatku tampak bodoh. Ya, bodoh. Betapa banyaknya namja lain yang menyatakan cintanya lebih cepat daripada aku. Mereka sekarang bahagia bisa mendapatkan yeoja yang dicintainya. Sedangkan aku? berbicara saja tidak berani. Dan belum tentu Jiyeon juga mencintaiku… bodoh, aku hampir kehilangan harapan.

Aku pun membaringkan tubuhku di ranjang. Memejamkan mataku,

#

Yanggeng University, Next Day

Author POV

Myungsoo berdiri kaku di depan kelasnya. Ia memandangi gelagat Jiyeon yang sibuk dengan buku-bukunya. Jiyeon tampak kesusahan. Berkali-kali poninya menjuntai ke depan wajahnya, membuat Jiyeon susah melihat. Jiyeon sedang membawa tumpukan buku itu ke ruangannya.

“Huft.. melegakan..” Gumam Jiyeon, saat tumpukan buku itu didaratkan di mejanya.

Myungsoo menatapnya iba, ia meremas erat tali tasnya. ‘Ah! andai saja aku membantunya membawakan buku tadi, babo!’ Pekik Myungsoo dalam hati. Myungsoo terus menatap Jiyeon dari balik kaca. Terus menatap dan menatap. Wajahnya juga tampak konyol karena berfikir keras.

Tanpa sepengetahuan Myungsoo, Jiyeon tersadar kalau dia sedang diamati oleh seseorang. Jiyeon lalu menengok ke arah kaca dan mendapati Myungsoo menatapnya dengan tatapan kosong.

“Gila..” Gumam Jiyeon. Ia lalu menengokan kembali tatapannya ke buku yang ia baca.

DRAP DRAP DRAP

Tiba-tiba Ji Eun datang dengan tergesa-gesa. Ia masih membawa banyak buku di tangannya. Ia lalu menatap Myungsoo yang hanya berdiri kaku di depan kaca kelas. “Ya? apa yang kau lakukan?”

Myungsoo hanya terdiam dan Ji Eun langsung masuk ke dalam kelas musik itu. Myungsoo menatapnya kaget,

‘Ternyata Ji Eun kesini untuk melaksanakan tugasnya?’

Ji Eun dengan langkah buru-burunya masuk menghampiri Jiyeon. Ia duduk di bangku yang terdapat di depan Jiyeon.

“Hey! Jiyeon! sudah lama kita tidak bertemu sejak 4 hari lalu!” Ji Eun memekik. Membuat raut Jiyeon kaget, namun lama-kelamaan Jiyeon tersenyum riang. “Ya! Ji Eun kau kembali!” Jiyeon langsung memeluk sahabatnya itu.

“Bagaimana kabarmu selama ini tanpaku?” Jiyeon memulai pembicaraan dengan kekehan khasnya. Sementara Myungsoo hanya menahan tawanya dari luar.

‘Dasar anak perempuan..’ Timpal Myungsoo dalam hati.

“Kabarku tanpamu? Wah tentu saja sangat hampa!” Ji Eun tersenyum riang pada sahabatnya. Lalu Jiyeon mencubit pipi Ji Eun yang seperti bakpao itu. “Ya! kau bisa saja!”

BLABLABLA

Percakapan pembukaan-basa basi- itu berjalan agak lama. Sementara Myungsoo masih sanggup memerhatikan dari luar. Tanpa Myungsoo sadari Jiyeon memerhatikannya sedari tadi karena gelagat Myungsoo memang sangat mencurigakan baginya.

Namun akhirnya pertanyaan yang ditunggu-tunggu Myungsoo tiba..

“Jiyeon, ngomong-ngomong apa barang kesukaanmu?” Ji Eun memandang Jiyeon antusias. Sementara Jiyeon terlihat berfikir keras. Lalu Jiyeon mengembangkan senyumnya.

“Kau tahu benda itu? Itu adalah sebuah mesin yang berbunyi.. Sebuah kotak dan dari kotak itu kau bisa mendengarkan lantunan lagu yang mengalun indah~” Timpal Jiyeon bersemangat sekali.

Terdengar kejengahan.

Myungsoo yang mendengar itu dari jauh sontak membekap mulutnya sendiri. Ia menatap Jiyeon dengan tatapan ‘Kenapa kau tidak bilang! benda itu sudah kubuang!’

Sontak Myungsoo berlari. Ia langsung menuju pintu keluar universitas. Tentu saja untuk memastikan keadaan kotak musik itu. Kotak musik paling berharga.. kau tahu ? kotak musik pada tahun ini sangat jarang ditemukan dan sangat mahal. Hana kotak musik milik Myungsoo lah yang paling memungkinkan. Tanpa babibu Myungsoo langsung mengendarai sepedanya dan menuju ke rumahnya. Untuk memastikan keadaan kotak musik itu. Apakah sudah dibuang?

Myungsoo sudah meninggalkan kuliahnya. Padahal jam kuliah belum berakhir.

#

“Paman!”

DRAP DRAP DRAP

Myungsoo langsung menghampiri pamannya yang sibuk dengan aneka alat reparasinya.

“Dimana kantung itu?!” Myungsoo bertanya panik. Sementara pamannya hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Mana paman tahu..”

Myungsoo lalu langsung berlalu dari hadapan pamannya dan menaiki tangga.

DRAP DRAP DRAP

Ia lalu menuju koridor rumahnya. Dimana ia menaruh kantung itu. Ia lalu menghelakan nafas lega saat melihat kantung itu masih utuh berdiri di sandaran dinding.

“Untung saja.. “

Dengan cepat Myungsoo menyambar kantung itu. Menguras isinya dan akhirnya ia mendapatkan kotak musik yang dicarinya. Ya, kotak musik adalah benda kesukaan Jiyeon. Yang akan diberikan Myungsoo pada Jiyeon di hari ulang tahunnya nanti.

Myungsoo tersenyum puas saat memandang kotak musik itu. Ia lalu berlari ke kamar nya dengan semangat.

“YEAH!”

Yanggeng University

“Bodoh! aku tentu saja sangat menginginkan benda itu! Apa itu namanya? kotak musik?” Timpal Jiyeon menggebu-gebu. Ji Eun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sebegitunya kah kau terobsesi dengan sebuah kotak musik?” Tanya Ji Eun dengan kekehan. Jiyeon menjawabnya dengan jeritan kecil.

“Ya! tentu saja ! Sudah 5 tahun aku mengincar benda itu!” Jawab Jiyeon.

Sementara Ji Eun tertegun.

’5 tahun? sama saja dengan Myungsoo.. ‘

“Kau tahu.. aku mengincar benda itu bukan tanpa alasan Ji Eun. Aku akan sangat bersyukur jika mendapatkan benda itu. Sungguh!”

Ji Eun mengembangkan senyumnya. Ia mendapatkan berita yang lezat untuk Myungsoo. Ji Eun lalu melirik jam tangannya, dan alisnya bertaut.

“Ya Jiyeon-a.. mianhae. Aku sudah telat untuk ke kelas..” Ujar Ji Eun. Membuat raut wajah Jiyeon sedih. Namun yeoja itu tampak mengiklaskannya. “Ne, hati-hati dijalan ne..”

Ji Eun langsung bangkit keluar dari kelas Jiyeon lalu mengedarkan pandangannya ke luar kelas.

#

Esok Harinya, Kantin Yanggeng University

“Kuberitahu kau Kim Myungsoo.. kau pasti akan kaget mendengarnya!” Timpal Ji Eun kali ini dengan nada menggebu. Walaupun suaranya tidak jelas karena ia sedang mengunyah sebuah burger namun dengan jelas Myungsoo menangkapnya.

“Aku tidak akan kaget.. ” Myungsoo mengeluarkan senyumnya. Ia puas sekali mendapatkan kembali kotak musiknya. “Kau tidak tahu kan kalau aku punya kotak musik terindah sepanjang masa? hahaha!” Myungsoo tertawa sambil memukul meja kantin.

“Kau seperti orang gila, Kim Myungsoo” Ji Eun menatap malas namja di depannya itu. “Ya! bagaimana aku tidak gila dan senang berlebihan jika aku tahu aku bisa membuat Jiyeon bahagia dengan kotak musik milikku itu?”

Ji Eun hanya memandang Myungsoo dengan tatapan malas. “Ya baguslah jika kau sudah punya barangnnya. Semoga-kau-beruntung!” Kata Ji Eun dengan penuh penekanan. Myungsoo terkekeh.

Kehangatan Ji Eun dan Myungsoo ternyata sudah ditatap seseorang sejak lama. Ya, Jiyeon. Jiyeon berada di meja yang jauh dari mereka berdua. Dia sudah menatap mereka berdua dari awal. Menatap mereka dengan tatapan curiga, kesal dan eumm entahlah sulit dijelaskan. Suasana Jiyeon berkecamuk saat ini.

“Sebenarnya apa relasi mereka?” Gumam Jiyeon sambil menyeruput teh kotaknya. Jiyeon terus menatap gelagat Ji Eun dan Myungsoo. Ia hanya bisa melihat mereka tertawa, berbicara dan bercanda satu sama lain. Namun, Jiyeon sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

Dalam hati Jiyeon sangat curiga dengan mereka. Terutama Myungsoo.. yang sampai saat ini Jiyeon tidak tahu namanya. Namun, akhir-akhir ini Jiyeon sering menangkap basah Myungsoo yang menatapnya lekat. Seakan terjadi sesuatu. Dan saat hari itu, hari dimana Ji Eun bertemu Jiyeon di dalam kelas. Dengan jelas Jiyeon juga melihat dan menyadari Myungsoo yang terus berdiri di luar kelas. Entah untuk apa.

Semula Jiyeon berfikir bahwa mereka-Ji Eun dan Myungsoo- tidak kenal satu sama lain. Namun, sekarang? Jiyeon mendapat fakta baru bahwa mereka… saling-kenal. Dan mereka sangat-dekat.

“Apa yang disembunyikan Ji Eun dariku?”

~~

“Ya, Ji Eun.. aku ingin bertanya padamu..” Kata Jiyeon sambil berjalan dengan Ji Eun di taman. Jiyeon lalu menunjuk seorang namja dengan sebuah kain kuning melilit pundaknya. “Siapa namja itu?” Tanya Jiyeon pada Ji Eun.

Ji Eun tertegun. Namun ia langsung menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

“Itu Kim Myungsoo.. Wae?”

“Gwaenchana.. tak ada apa-apa..”

Di dalam hati Jiyeon ia tersenyum puas. Sekarang ia tahu,

‘Ternyata namamu Kim Myungsoo. Orang yang sangat mencurigakan,’

#

Seminggu sudah berlalu. Musim gugur yang semulai terjadi sudah berganti dengan musim dingin. Salju-salju di kota itu berjatuhan. Menumpuk di sekitar atap, pohon dan peralatan lainnya yang tidak diselamatkan dari langit. Toko reparasi Kim terlihat sepi pelanggan. Namun Paman Kim tetap keukeuh berdiri di meja reparatornya. Menatap pintu toko itu dengan lekat. Menunggu bunyi gemerincing darinya. Ya, seorang pelanggan.

Hari ini hari minggu. Tak ada kegiatan kuliah, hari yang bebas bagi Myungsoo. Sejak malam minggu Myungsoo begadang. Ia baru tidur sekitar pukul setengah 3 malam untuk berlatih. Ya, berlatih untuk memberi Jiyeon ucapan selamat ulangtahun dan juga memberi kotak musik itu pada Jiyeon. Hari ini tepat tanggal 7 Juni. Berlatih seperti itu bagi Myungsoo membutuhkan waktu berjam-jam.

Pagi ini tidak terdengar gemingan dari kamar Myungsoo. Dan sekarang pukul 9 tepat. Paman Kim juga tidak ada inisiatif untuk membangunkan Myungsoo. Alhasil Myungsoo tertidur hingga siang pada hari ini.

~~~~

Sekarang pukul 11.00 KST dan Myungsoo baru terbangun dari tidurnya. Ia menguap lebar dan melenggangkan tubuhnya. Tanpa banyak gaya, ia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan menyambar handuk. Dengan langkah terbirit, ia menuju kamar mandi.

DADADIDUUU~

Ia bersenandung dan selesai. Langsung ia keluar dari kamar mandi dan menuju kamarnya, dengan cepat ia menyambar baju yang sudah disiapkannya sejak malam yang sudah tergantung rapih di lemari.

DSLAP~

Kini Myungsoo sudah rapih dan siap. Kini ia tinggal mengambil kotak musiknya dan membawanya. Ia lalu mencari di laci meja belajarnya.

“Mwoya? dimana kotak musiknya?”

Keringat Myungsoo mulai menetes saat ia sadar ia tidak dapat menemukan kotak musik itu dikamarnya. Ia lalu menepuk jidatnya.

“Babo! dimana aku menaruhnya semalam!”

Myungsoo lalu berlari keluar kamar. Menuruni tangga dan kembali menghampiri pamannya dengan tatapan yang sama.

“Paman.. kau lihat kotak musikku?” Timpal Myungsoo buru-buru.

Raut wajah Pamannya yang semula serius dengan peralatannya langsung kaget. Ia menatap Myungsoo sembari menganga padanya. Lalu menepuk jidatnya.

“Ya! Myungsoo.. mengapa kau tidak bilang kalau itu masih kau perlukan?” Paman itu menatap Myungsoo kecewa. Myungsoo lalu berfikir keras dan meneguk ludahnya dalam-dalam.

“Pam.. paman apakan? paman buang?” Tanya Myungsoo panik. Keringat mengucur di dahinya.

“Apa itu sangat berharga bagimu Myungsoo-a?”

“Tentu saja paman!”

Paman itu terdiam sejenak. Ia menunduk dan berusaha mengumpulkan keberaniannya pada keponakannya itu. “..Jual.. Kotak musik itu paman jual pada pelanggan paman sejam yang lalu..” Nada bicara paman kim parau. Myungsoo spontan memegang pundak pamannya. Ingin menjerit, namun ia tahan niatnya.

“Kenapa paman? kenapa paman melakukannya? paman tidak bilang dahulu padaku?”

Rahang Myungsoo mengeras. Rencananya yang ditunggu selama 5 tahun gugur sudah. Hanya karena kecerobohan pamannya.

“Mianhaeyo Myungsoo-a. Mianhae..” Pamannya mengusap rambut Myungsoo. Myungsoo terdiam, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Memberi tahu pada paman tentang keadaan sebenarnya? itu tidak mungkin. Hanya keajaiban yang membuatnya berhasil.

Spontan Myungsoo memundurkan langkahnya. Melepas tangannya dari pundak pamannya. Ia terdiam, entah kesal, marah, kecewa atau malah sedih. Perasaannya bercampur aduk saat ini.

Myungsoo membeku dalam waktu lama. Pamannya juga terdiam, tak tahu apa yang harus ia perbuat.

Pamannya itu lalu mengecek laci-laci meja reparasinya. Rautnya senang ketika menemukan secarik kertas disana.

“Ini! Ini alamatnya!” Paman itu memekik pada Myungsoo yang membeku. Spontan Myungsoo menengok antusias. “Apa itu paman?”

Paman itu tersenyum dan merangkul keponakannya. “Ini.. alamat si pelanggan yang membeli kotak musik itu..”

Myungsoo terdiam memandang kertas itu. Pamannya kembali berujar, “Kau bisa kesana dan kembalikan uangnya, nih..” Pamannya menyerahkan segepok uang dari dompetnya. Myungsoo menatap pamannya tidak percaya.

Ia lalu memeluk pamannya. “Ya! Gomawo paman!”

#

Myungsoo mengayuh sepedanya. Suasana saat ini sangat dingin, ia mengenakan jaket super tebal dan topinya. Belum saja sampai di rumah pelanggan setia pamannya itu. Langit sudah tdk bersahabat. Myungsoo terjebak badai salju.

ZRRRRR~

Udara dingin menembus kulit Myungsoo yang bersembunyi dibalik jaket tebalnya. Myungsoo menggigil seketika.

ZRRRRR~

Udara dingin itu kembali menyerang Myungsoo. Ia sudah tak tahan lagi mengayuh sepedanya. Apalagi banyak tumpukan salju di jalan akibat badai salju ini.

Myungsoo pun memarkirkan sepedanya di depan sebuah toko dan melanjutkannya dengan jalan kaki.

“Dingin…” Gumam Myungsoo sembari memeluk dirinya sendiri. Namun ia tetap nekat menembus badai salju demi menemukan rumah pelanggan setia pamannya itu.

~~~

“Itu dia rumahnya!”

Myungsoo tersenyum lebar mendapati pagar rumah itu. Ia lalu memencet bel dan menunggu seseorang keluar.

TENG TUNG~

Myungsoo kembali menunggu di bawah badai salju. Ia terus menggigil.

ZRRRRRR~

Udara dingin terus menyapu tubuhnya. Ia hendak jatuh namun,

“Nugu?” Seorang yeoja menyembul dari pagarnya. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan kaget. “Ada perlu apa Kim Myungsoo?” Timpalnya berusaha tidak kaget.

Yeoja itu lalu menatap langit diatasnya. Eum.. badai.. Dia berfikir keras. Untuk apa Kim Myungsoo datang ke rumahnya pada saat begini.

Myungsoo yang menggigil spontan kaget setelah melihat siapa yeoja yang menyambutnya dipagar. Dia, Park Jiyeon! Pelanggan setia pamannya yang telah membeli alat musiknya.

“Kim Myungsoo?” Lanjut Jiyeon lagi. Sementara Myungsoo membeku menatap yeoja itu.

‘Sejak kapan ia tahu namaku. Dan .. bagaiman caranya aku memberinya hadiah ulang tahun kotak musik jika ia sendiri yang menjadi pelanggan yang membelinya?’

‘Apa aku harus mengucapkan yang sesungguhnya disini? Atau? Kalau aku melakukan hal itu… ARGHH mengapa jadi serumit ini?!’

~To Be Continued~

5 comments

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s