The Sexiest Agent – Part 2a [It is Seoul]


nARCOTICS

~ Title ~

The Sexiest Agent

~ Author ~

Bekicot Princess

~ Genre ~

Action, Romance, Fluff, Life, Angst, AU

~ Main Cast ~

Kwon Yuri

~ Support Cast ~

Kim Jong In aka Kai EXO

Cho Kyuhyun aka Kyuhyun SJ [Agent Siwon di Korsel]

Choi Siwon aka Siwon SJ [Senior Yuri di CIA]

~ Special Cast ~

Choi Seunghyun aka TOP Bigbang [Kepala Kepolisian]

Park Jiyeon aka Jiyeon T-ara [Translator Yuri]

BoA [Partner Yuri]

~EXO, GG, SJ, SHINee, INFINITE, BToB~

~ Summary ~

Information is the most dangerous weapon of all

###

WARNING: PG-15 / PG-17 [ BIT English ]

NO PLAGIATOR AND SILENT READERS

Previous Part

Seouls Academy

Sebuah mobil babybrance hitam melaju kencang di jalanan lembap Seoul. Memperlihatkan rodanya yang berputar cepat. Kota metropolitan itu terlihat sangat ramai kali ini.

Mobil itu lalu berhenti di depan sebuah gedung yang amat luas.

“Seouls Academy?”

Alis Yuri mengrenyit saat melihat tulisan di sebuah papan besar di depannya.

BoA yang sedang menyetir lalu berdehem kecil dan menghadap ke kursi penumpang.

“Kau tahu ini adalah objek penyamaranmu?”

“Ayo turun,”

Yuri lalu melepas sitbelt nya begitu juga BoA. Ia menyambar purse miliknya, sedangkan Yuri mengenakan sebuah backpack anak sekolahan. Yuri juga mengenakan rok selutut yang biasanya di pakai anak-anak SMA.

“Sucks..”

PIP PIP

Mobil itu sudah terkunci dengan system otomatis. BoA lalu menyerahkan sebuah kunci pada Yuri.

“Thanks.. mengendarai Babybrance tidak terlalu buruk. Untung aku bisa stir kiri”

“Ya,” Yuri menjawabnya sembari menaikki tangga kecil yang menghubungkannya dengan gedung Seouls Academy.

Pintu geser otomatis gedung itu pun terbuka dan memperlihatkan arsitekturnya yang sangat indah. Sebuah monument raksasa di tengah gedung itu menyapa mereka. Sebuah replika buku raksasa, yang melambangkan ketekunan dan pembelajaran.

Yuri mendecak dalam hati,

Korea Selatan tidak terlalu buruk…

“Annyeong, lewat sini..”

“Gamsahamnida..”

Seorang petugas memberi intruksi pada BoA dan Yuri. Mengarahkan mereka ke sebuah ruangan yang luas dan tertutup.

CKLEK

BoA menyambar kenop pintunya dan pintu itu pun terbuka. Benda itu mengantarkan BoA ke sebuah ruangan formal yang luas. Terpampang sebuah kursi besar berwarna abu-abu tepat di seberang wajanya.

###

BoA melenggang ke arah kursi besar di depannya. Yuri berinisiatif untuk menyamakan langkahnya. Ia terus menatap ke depan, ke air muka seseorang yang telah tersenyum akademis pada mereka berdua. BoA membalas senyumannya, raut yeoja tua ini seketika berubah lebih manis. Guratan di wajahnya membentuk rangkaian yang indah di sekitar pipi. Sementara Yuri lebih memilih menetralkan auranya dengan percaya diri.

BoA menarik sebuah kursi kecil. Sebuah kursi sofa yang terpampang jelas di depan meja kantor yang panjang. Cukup untuk memuat aneka gadget seorang presdir sekolah. BoA merapikan duduknya, memastikan posisinya nyaman. Seketika ia mendelik pada Yuri yang masih kelihatan tidak menyukai situasi ini. Yuri lalu balas mendelik ke wajah tirus di sebelahnya, memandangnya sejenak dan mulai membalikan dagunya kembali ke arah wajah presdir sekolah. Presdir itu masih terdiam tanpa kata namun seulas senyum masih terpantri di wajahnya. Mungkin ia menunggu para tamunya menyesuaikan diri terlebih dahulu.

Presdir itu lalu menarik nafas untuk memulai pembicaraannya.

“Annyeong, mianhae aku yang menggantikan ketua yayasan disini. Ia sedang berhalangan masuk” Presdir itu menatap manik mata Yuri yang terlihat malas. Yuri masih terdiam tidak menampakan perubahan di raut wajahnya.

“Gwaenchana, perkenalkan dia Kwon Yuri kerabatku yang baru saja mencari sekolah disini. Maaf kami baru mendaftar di akhir bulan. Ini sedikit mendadak atau ia tidak akan bersekolah” BoA tersenyum hingga matanya menghilang lalu menghantarkan Yuri pada presdir di depannya.

Yuri yang melihat percakapan di depannya tentu saja harus berfikir keras. Mereka berbicara dengan Bahasa Korea dan sangat cepat. Yuri juga sedang memutuskan apa yang harus ia lakukan setelah ini. BoA sedang memperkenalkan dirinya pada presdir dan pada hakikatnya Yuri memang harus membungkuk sopan padanya.

“Kwon Yuri imnida..” Yeoja itu membungkuk dan kembali menegakan badannya. Senyum kaku terpantri di wajahnya. Lalu ia kembali menetralkan gerak bibirnya, terdiam dan mencoba memahami apa yang akan mereka bicarakan.

Presdir itu lalu berdiam sejenak. Memandangi penampilan Yuri dari atas hingga bawah. Kaus sederhana dibalut sebuah sweater juga rok selutut berwarna abu-abu polos. Anak itu juga memakai sebuah kaus kaki abu-abu yang senada. Rambutnya digerai bebas, ia membiarkannya menjuntai hingga bahunya. Presdir itu diam-diam memerhatikan dan berusaha mencerna apa kepribadian calon muridnya ini. Apakah menunjukan sebuah keberanian? kecerdasan intelektual? seorang yang agresif?

BoA yang tidak suka mengawali pembicaraan dengan kata-kata yang tidak berguna pun segera bertindak. Tugas utamanya ialah mengarahkan Yuri untuk mengalami kehidupan di Korea Selatan dan penyamaran. Yuri membutuhkan seorang guide untuk memandunya. Bagaimanapun juga, pikiran Yuri belum terlalu matang dan ia masih tetap seorang yeoja berumur 20 tahun. Ia adalah seorang Junior. Yang secara beruntung dipilih oleh Cyan.

“Ia ingin mengambil kelas 3 disini. Apakah Yuri bisa langsung masuk mulai lusa?” BoA berbicara tanpa jeda. Rentetan kalimatnya itu semuanya adalah kebohongan. Namun, sepertinya BoA sudah sangat terlatih dalam berbohong atau yang bisa disebut juga menyamar. Mau bagaimanapun juga menyamar sudah pasti berbohong  dan risikonya sangat besar namun demi agensi BoA akan selalu bisa melakukannya. Ia adalah agen yang mudah mengontrol rasa takutnya. Oleh karena itu tiap kesempatan ia berbohong detak jantungnya akan tetap normal dan lulus dari scan.

Presdir yang mendapat fakta baru bahwa seseorang yang akan menjadi siswa baru di sekolahnya ini menginginkan kelas 3 pun menautkan alisnya. Siswa kelas 3 adalah siswa yang sudah siap dilepas ke perguruan tinggi dan universitas. Semua penjadwalan penerimaan siswa baru sudah di atur sedemikian rupa oleh pihak sekolah dan salah satu penjadwalan itu adalah ‘tidak menerima siswa baru di akhir bulan’. Hal tersebut adalah sebuah peraturan mutlak yang tidak bisa dibantah. Penerimaan siswa baru kelas 3 tidak boleh sembarangan. Presdir itu lalu meneguk ludahnya dan merias senyum di wajahnya. Ia berusaha menyampaikan peraturan mutlak itu pada rekan siswa barunya, BoA.

“Mianhae, pendaftaran kelas 3 sudah ditutup di awal bulan. Penjadwalan sudah mutlak dari pihak sekolah” Presdir itu menunjukan ekspresi tegasnya. Melihat repon BoA yang terdiam ia lalu melanjutkannya lagi. “Itu sudah mutlak. Jika Kwon Yuri ingin mendapatkan sekolah dengan senang hati aku akan merekomendasikan Yuri ke sekolah lain”

Mulut BoA yang sedari tadi terkatup rapat kini terbuka sedikit. Memperlihatkan sedikit deret gigi serinya yang tampak rapi. Ia lalu sedikit membenarkan duduknya dan menghembuskan nafasnya. “Aku yakin hanya sekolah ini lah yang bisa ku andalkan, nyonya presdir” BoA lalu menyandarkan sedikit bahunya di kursi. Yuri masih tidak bergeming. Setelah ia mencerna dengan baik, ia sadar bahwa sesuatu yang negatif menimpanya.

Sang presdir kembali berujar dengan santai. “Aku hanya mencoba mengikuti peraturan” Presdir itu lalu menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya dan menopangkan sikutnya di atas meja kaca yang panjang. “Miansahamnida, nyonya” Ia berujar dengan penekanan.

Yuri menggelemetukkan giginya. Ia berfikir keras tentang bagaimana kelanjutan dari ini dan apakah BoA bisa menghadapinya. Sebuah masalah yang harusnya datang di tengah-tengah dan menjadi klimaks justru muncul di awal dan kontras dengan sebuah kenyataan. Dari balik kursi yang diduduki BoA, Yuri mendelik pada yeoja tirus itu dan menatap gelagatnya juga berusaha membaca pikirannya.

Setelah kejengahan berlangsung lama Yuri teramat kaget saat melihat bayangan BoA yang beranjak dari kursinya. Purse yang berada di pangkuannya kini berpindah ke lengan kirinya. Ia lalu menatap sang presdir lama dan mengucapkan sebuah terimakasih dengan menyesal. Sementara Yuri masih mematung di belakang kursi. Langkah Yuri mulai berubah disaat bersamaan BoA berbalik badan dan mulai berjalan ke arah pintu keluar.

BoA membisikan sesuatu ke telinga Yuri.

“Ayo kita pergi”

###

Rumah cokelat hangat. Tepatnya bisa dibilang sederhana. Rumah itu merupakan pemberian terakhir orang tuanya untuknya. Beberapa tanaman kecil terpampang di terasnya. Tanaman berbalut sebuah pot tanah liat yang mungil. Hamparan rumput di depan rumahnya tampak terurus, potongannya yang terlihat rata dan rapih. Di halaman rumah itu terdapat satu buah pohon. Pohon itu sudah ada sejak umur mereka masih muda dan juga menjadi sasaran nostalgia jika mereka meresapinya. Namun, sejak kepergian orang tua mereka. Pohon itu mulai berdaun dengan warna yang sedikit pudar dan terlihat kurang kuat-rapuh. Namun, batangnya yang besar termasuk kuat.

Dari balik jendela dapur nya terlihat seorang namja muda yang sedang menuangkan sebuah teh hangat dari balik ceret. Ia mengalirkan teh itu ke dalam sebuah cangkir kuno dengan sebuah piring kecil yang ditapaki. Setelah cangkir itu penuh dengan cairan hangat. Ia lalu menyambar satu buah cangkir lagi yang serupa dan mempersiapkannya. Namja itu dengan cekatan ia kembali menuangkan teh hangat ke dalamnya.

Kedua cangkir itu terisi. Atmosfer di dapur itu dipenuhi oleh kepulan uap kecil darinya. Namja itu menghirup aroma teh dari balik cangkir dan tersenyum hambar. Ia lalu melangkahkan kakinya keluar dapur dan menjumpai seseorang yang tertidur di sofa.

Seorang yeoja. Rambut-rambutnya sedikit ikal itu menutupi sebagian wajahnya. Raut mukanya menunjukan kelelahan. Namja yang membawa teh itu menatap lama dirinya dan melangkahkan kakinya menuju sofa. Sebelum ia menyadarkannya ia menaruh kedua cangkir kembar itu di atas coffee table.

“Noona?” Ia sedikit mengguncang tubuh noona nya yang sedang tertidur. Dalam hitungan detik noona nya itu terbangun dengan ekspresi kaget karena situasi yang berbeda dari sebelumya. Yaitu tepat pukul 2 malam tadi, disaat ia pulang dari pekerjaannya dan masih harus mengerjakan sesuatu di laptopnya. Kini laptopnya itu masih hidup dan terbuka di atas coffee table di depan sofanya. Tanpa tahu waktu, semalaman yeoja itu mengerjakan entah apa di laptopnya hingga waktu mempersilahkannya untuk tidur atau lebih tepatnya tertidur dengan tugas di laptopnya yang masih belum selesai. Akhirnya noona itu tertidur di sofa dengan raut yang amat lelah. Noona itu lalu mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat siluet kabur di depannya. Juga dua buah cangkir di meja. Ia lalu mendengar suara samar-samar.

“Sudah kubilang jangan paksakan dirimu. Aku tidak mau noona sakit” Sebuah suara bass dari namja di depannya. Namja itu berujar lagi. “Aku sudah membuatkan teh untukmu. Minumlah “

Noona itu kini menangkap bayangan namja di depannya, Kim Jong In. Adiknya satu-satunya. Yang satu-satunya juga tinggal bersamanya di rumah tua ini-rumah bekas ia tinggal bersama orang tuanya. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan di Daejeon yang berdekatan dengan Cheonan di provinsi Chungcheongnam. Kenangan terburuk dalam hidupnya disaat ia menangis dan hampir bertekad untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Noona itu mengunci dirinya di kamar hampir seminggu. Sementara Jongin semakin sedih akan keadaan noona nya. Ia terus berada di rumah selama seminggu dan absen dari sekolah. Membuat prestasinya menurun drastis. Namun hingga kini kepahitan hidup itu masih terasa dalam benak mereka berdua. Hidup mereka serasa abu-abu dan kelam.

“Jangan mengkuatirkan ku begitu, kalau aku tidak bekerja lantas siapa lagi yang akan membayar sekolah mu pabo?” Noona itu- Kim Neul  Mi mengacak rambut adiknya. Jongin lalu menampakan deretan giginya tertawa manja “Kau gila noona, kau bekerja hampir tiap waktu”

“Tetapi dengan begitu aku mendapatkan uang yang banyak arrachi? sekolahmu itu mahal Jongin. Seouls Academy, aku juga bersekolah disitu dan aku berhasil mendapatkan beasiswa. Kau harusnya mencontohku” Balas Neulmi mencibir Jongin/Kai. Sementara yang dicibir hanya meng ‘Oh’ kan mengejek. “Nde, nde.. aku tahu kau jauh lebih pintar dibanding aku, noona”

Kai lalu mengambil telinga cangkir itu dan mengarahkannya ke arah noona nya. “Nah, minumlah dan kembalilah sehat!”

Heena terkekeh melihat tingkah adiknya ini. Ia lalu menyambut cangkir dan segera menyesap cairan hangat itu. Setelah itu ia berujar “Kau juga harus minum teh nya, agar kau tambah pintar! Sepertiku”

“Nde nde baiklah. Lihat saja aku akan jadi lebih pintar darimu!”

Mereka berdua tertawa bersama dibalut kehangatan. Namun, sebuah dering ponsel mengalihkannya. Mata Kai terarah kesebuah ponsel di atas meja. Itu adalah ponsel Heena. Kai sudah bisa menebaknya. Lagi-lagi pekerjaannya yang telah membuat noona nya seperti manusia ‘romusha’. Sebenarnya apa sih pekerjaan yang ditekuni kakaknya sekarang ini? Mengapa ia bisa menjadi sesibuk ini? Dalam hitungan detik ponsel itu sudah berada di telinga kiri Neulmi.

“Yoboseyo? nde aku sudah mengerjakan separuhnya. Namun aku belum mengrimikannya ke distributor. Mianhae, mungkin aku baru bisa menyelesaikannya tengah hari”

“Ani. Bagaimana caraku menebusnya? Datang kesana sekarang? Baiklah. Jeongmal mianhae”

Neulmi menutup ponsel lalu ia menatap manik mata Kai yang terlihat kecewa. “Bosku.. ia membutuhkanku secepatnya. Jikalau tidak. Aku dipecat. Aku pergi dulu arachi?” Neulmi mengusap rambut Kai lalu menutup laptopnya, memasukannya ke dalam tas khusus. Ia lalu mengambil tas itu dan beranjak. Sebelumnya Neulmi merapikan rambutnya dan mencuci mukanya. Ia mengganti bajunya dengan sebuah kemeja kantoran yang baru. Yeoja itu lalu mengoleskan sebuah krim pada wajahnya. Setelah itu ia mengenakan tas nya dan pergi.

“Dah!”

BLAM

Pintu ditutup.

###

Cafe,

“Tenanglah. Kau makanlah dulu”

BoA mendongakan dagunya pada Yuri. Yuri mengangguk pelan lalu mengaduk-aduk sup hangat nya. Sup yang tampak kental karena pengaruh maizena. Beberapa potong wortel lembut tersebar disana. Yuri kini menyendok sedikit kuahnya lalu meniupnya beberapa kali dengan pelan. BoA sedikit memperhatikan gelagat Yuri, ia berusaha memahami watak sesungguhnya dari yeoja itu. Yang belakangan ini akan terus beraktivitas dengannya.

“Kau belum tahu sepenuhnya tugasmu kan?” BoA menanyakan hal sensitif pada Yuri. Yuri lalu memandang sekelilingnya, berusaha memastikan tidak ada yang mendengar obrolan mereka. Yuri bersyukur karena BoA pintar dalam memilih posisi duduk di cafe. Kini hanya mereka berdua yang duduk di seat lantai dua yang langsung berhadapan dengan dunia luar.

“Menyamar? hanya itu kan tugasku?” Jawab Yuri sekaligus bertanya lagi. BoA lalu menghembuskan nafas berat. “Kau belum tahu secara detil, Yuri” BoA lalu meneguk segelas air dan kembali menatap Yuri “Biar kujelaskan”

Yuri mengangguk antusias. Lalu berhenti menyendokkan sup ke dalam mulutnya. “Nde jelaskan lah” Ia sedikit mencoba aksen korea.

“Kau berada disini karena kau harus menguak informasi dan menjebak seorang penyebar NAPZA ilegal. Memang bukan bos besarnya yang berada disini. Namun, dari kabar yang kudengar salah satu kaki tangannya berada di Seoul. Salah satu tempat berasalnya kabar itu adalah pihak sekolah Seouls Academy. Kami sepenuhnya menaruh curiga pada sekolah itu. Kau harus menjadi murid disana hingga kau menemukan informasi. Jika kau berhasil dapatkan informasi, tinggal hubungi kami dan kau temukanlah markasnya”

BoA kembali meneguk air dan menjaga keadaan. Yuri meneguk ludahnya saat mendengar semua yang dikatakan BoA. Ia mengolah dan mencerna tiap kata ke dalam otaknya. “Namun, bagaimana dengan bahasa korea ku yang buruk? juga hangul?” Yuri menyadari salah satu kelemahannya.

“Aku akan mengajarimu dan kuperingatkan kau, kalau bahasa itu natural. Juga alamiah. 90% faktor keseharian daripada sebuah teori”

“Bagaimana caranya aku bisa menjadi murid disana sedangkan mereka sudah tidak menerima murid lagi di akhir bulan?” Yuri mendelik pada BoA yang terlihat santai. BoA lalu menaikan alisnya dan menjawab. “Semuanya bisa kita lakukan. Tidak ada yang tidak bisa, aku akan menunjukanmu sesuatu nanti” BoA menyipitkan matanya pada Yuri. Membuat kalimat terakhirnya terdengar misterius.

BoA masih terlihat santai sembari melahap Galbi Tajo miliknya, sajian kebab asli Korea Selatan. Yuri terpaksa menatap BoA yang sedang makan. Entah kenapa jantung Yuri berdetak lebih cepat menghadapi kenyataan ini. Apakah dunia kejahatan begitu buruk? Apa kematiannya sudah dekat? Yuri hanya ditugaskan untuk menguak informasi bukannya membantai sebuah aliansi namun yeoja itu sudah terlalu takut. Berkali kali kini ia mulai menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak mau menampakan kekalutannya di depan BoA. Kemudian BoA sadar ia diperhatikan. “Kau tidak menghabiskan Bibimguksu(*) milikmu?”

Yuri menggeleng. Entah mengapa sekarang ia tidak lapar.

“Yasudah, ayo kita pergi..”

###

BoA mengantarnya ke tempat yang belum lazim bagi Yuri. Sebuah gedung dengan beton mengkilat memantulkan sinar matahari. Gedung itu ada dua, kembar. Dengan warna ungu tua yang cenderung hitam. Berkilat seolah tembus pandang. Di depannya terdapat pagar listrik yang mengalirkan banyak cahaya kebiruan. 3 orang guard berdiri tegap di dekat pagar sembari memegang sebuah MP7-sebuah senjata. Mobil Yuri yang kini di stir oleh BoA berhenti di depan pagar itu. Seseorang yang mengenakan tuxedo rapih mengetuk kacanya dan menyerahkan sebuah mesin kecil seukuran kalkulator. Layar mesin itu berwarna hijau polos dengan beberapa garis khayal yang halus. BoA memberi pandangan pada layar mesin itu sekitar 5 detik. Hingga mesin itu berbunyi dengan bahasa Korea dan mengeluarkan sebuah tulisan hangul.

BoA lalu mengarahkan mobil ke dalam saat pagar itu mulai terbuka. Memakirkannya dan dengan kilat keduanya sudah keluar dari mobil. Mereka saling terdiam sembari berjalan memasuki areal gedung. Di papan gedung itu terdapat tulisan hangul. Yuri terdiam memandang sekelilingnya. Beberapa orang yang berlalu lalang dengan barangnya masing-masing. Suara hak yang terdengar dimana-mana. Bunyi mesin kecil. Suasananya hampir sama seperti di Washington. Namun Yuri merasa risih saat beberapa pasang mata mengamatinya.

BoA menuju ke meja panjang. Ia menjumpai wanita bersanggul. Setelah bercakap-cakap singkat, si wanita bersanggul menyerahkan BoA sebuah alat seperti papan kode. Papan kode itu layar sentuh, terdiri dari beberapa digit angka dan simbol. Yuri memandang serius alat itu. Lalu ia mengikuti gerak BoA yang mulai menjauhi meja.

“Where’re we going?”

BoA tidak menjawab dan terus mengitari jalannya. Yuri terpaksa mengikutinya dan mereka sampai di sebuah pintu yang sangat besar. Pintu beton mengkilat seperti diluar. Tingginya mungkin bisa mencapai seperempat tinggi dari gedung ini. Di pintu itu sama sekali tidak terlihat benda atau kenop pintu. Polos seakan dinding. Namun, Yuri dengan sigap mengerti bahwa benda itu adalah sebuah pintu.

BoA lalu mendekati pintu itu dan meletakan alat papan kode tadi di pintu. Menempelkannya. Lalu munculah beberapa digit angka di papan kode itu. BoA lalu menekan angka-angka secara berurutan dan cepat. Lalu diakhir tekanan, alat itu berbunyi.

Beberapa detik kemudian. Dengan sangat lambat pintu itu terbuka ke dalam. Meninggalkan suara yang khas. BoA dan Yuri masuk ke dalam dan otomatis pintu itu kembali tertutup. Di dalam gelap hingga Yuri menepukan tangannya dan akhirnya ruangan menjadi terang.

Mulut Yuri menganga menatap sebuah rak besar di depannya.

Di rak itu berjejer aneka jenis uang. Mulai dari mata uang terkecil nilainya hingga besar. Semua jenis mata uang terkenal di dunia! Layaknya sebuah perpustakaan uang. Di balik raknya terdapat keterangan dan tulisan dengan komputer. “450 USD” dan seterusnya. Yuri mendekat pada rak dan mencoba meraba lapisan kaca itu. “Apa maksud dibalik semua ini?” Ia bertanya pada BoA yang sibuk mengurusi alatnya.

BoA lalu mendesah pelan dan menjawabnya. “Kita akan mengambil beberapa untuk membayar sekolahmu”

Yuri mengangguk “Menyogok mereka? Apakah itu akan berhasil? Tadi saja mereka kelihatan sangat tegas..”

“Semua tercipta karena uang, Yuri. Uang adalah penguasa segalanya. Jika mereka tidak mau menerima uang, mereka bodoh. Anggap saja uang ini adalah sebuah donasi untuk mereka. Arra?”

Yuri menghembuskan nafasnya berat. Ia lalu mengikuti langkah BoA. “Karena kita berada di Korea Selatan. Maka kita butuh Won” BoA bergumam sendiri. Lalu mengamati rak di depannya. Rak yang tingginya sangat menjulang seperti perpustakaan internasional. Namun bedanya di dalam rak tersebut bukannya buku, melainkan segepok uang. BoA lalu mengarahkan sebuah alat kecil dari sakunya dan mengarahkannya ke sebuah rak dengan tulisan ‘WON’.

“Baiklah.. berikan mereka jauh lebih banyak dari gaji ku 5 tahun. Agar mereka puas. Toh, nanti juga saat misimu selesai. Kau bisa memberi mobil baru dan kurasa kita untung” BoA mendelik pada Yuri yang kelihatan antusias. “Tolong ambilkan aku kopor hitam itu, Yuri”

Yuri memutar bola matanya dan mengambil yang ditunjuk BoA. Ia lalu menyerahkan pada BoA. Segepok uang itu dipindahkannya ke dalam kopor. “Apakah satu kopor saja bisa memuatnya?” BoA bergumam sendiri. Yuri menyeringai kecil “Kurasa kita butuh 50 kopor lebih agar sekolah haus harta itu mau menerimaku” Jawab Yuri. Sementara BoA hanya tertawa kecil mempelihatkan deret giginya.

###

Another Day, Seouls Academy

“Jung Krystal?” Seseorang menyapa yeoja ramping itu. Ia hendak menuju ke kelas seseorang yang terletak di lantai 3 gedung sekolahnya. “Hendak kemana kau? bukannya kita berdua ditugaskan untuk menaruh buku-buku ini ke perpustakaan?”

Krystal mengembalikan tubuhnya. Rambutnya sedikit tersibak dengan bando merah muda yang dikenakannya. “Apa lagi hah? Myungsoo-a? hal itu bisa kita lakukan nanti”

Myungsoo yang sedang mengemban aneka macam buku tebal pun mendesah sebal. “Bisa tidak kau bertanggung jawab sedikit? aku membutuhkan bantuanmu sekarang”

“Jangan bodoh Myungsoo-a aku ini sedang sibuk!”

“Sibuk apa hah? untuk apa kotak makan itu? pasti lagi-lagi namja dan namja? hanya namja yang ada di pikiranmu”

“Dengar ya, tolong jangan campuri urusanku”

Krystal berlari menuju kelas yang ditujunya. Kelas 3-1, kelas dimana belahan jiwanya berada. Namja yang membuatnya tergila-gila. Hanya namja itu yang mewarnai hidupnya. Ia memegang erat kotak makan yang berisi cokelat miliknya untuk namja itu. Hampir setiap hari Krystal melakukannya untuk namja itu.

“Annyeong Krys? Kemari lagi?” Sapa Minho sang ketua kelas dengan sopan. Tinggi badannya lah yang menjadi titik unggul namja itu. Krystal mengangguk sopan juga lalu bersegera masuk ke dalam kelas itu. Disana ada beberapa teman yang dikenalnya.

“Sulli!” Sapa Krystal sembari menepuk pundak yeoja dengan kulit susu itu. Rambutnya yang hitam kelam itu diikat dua, membuatnya terlihat layak anak kecil. Sulli lalu tersenyum khas pada Krystal.

“Kau mencarinya lagi? dia sedang keluar kelas. Kau datang di waktu yang tidak tepat” Sulli mencibir lalu memandang ke arah bangku namja yang digilai Krystal.

“Aku akan menunggunya” Balas Krystal tegas. Sulli hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari awal kelas dua sejak Sulli dan Krystal dekat satu sama lain. Krystal mulai bolak-balik ke kelasnya. Untuk melihat namja itu. Sebenarnya Sulli agak bingung dengan Krystal. Ia punya tubuh yang sempurna dan juga wajah yang sempurna. Tak bisa dipungkiri banyak namja yang menaruh hati padanya. Namun, kenyataannya Krystal tidak meladeni namja-namja keren di sebelah sana dan malah tergila gila pada seorang pemurung seperti Kim Jong In? Pemurung, tidak pernah berprestasi, tukang tidur, dan segalanya yang membuat namanya tampak buruk.

Walaupun tampak manis saat bersama noona nya. Namun, seorang Kim Jong In/Kai itu akan tampak buruk di sekolah. Ia tidak memedulikan siapapun, tidak peduli akan prestasinya, tidak peduli akan kawannya, dan sebangsanya. Ia adalah siswa yang patut dikasihani karena latar belakang keluarganya. Namun, pihak sekolah tidak mengerti dan memasukannya ke dalam blacklist.

“Krys… aku ingin memberitahu satu hal padamu” Sulli menatap manik mata hazel Krystal. “Kai, dia tidak lulus test biologi dan tertidur selama pelajarannya. Ia kembali dimasukan dalam blacklist dan hampir di DO dari sekolah” Sulli menatap Krystal khawatir.

Namun Krystal tetap tegar dan ceria. “Ya, itulah ia. Aku juga tidak mengerti mengapa aku begitu tergila-gila padanya. Sekalipun ia tidak memerdulikanku”

“Aku akan terus mengejarnya sampai dapat dan.. jika ada seseorang yang merebutnya dariku begitu saja. Aku tidak akan segan-segan melabraknya. Dia tidak akan hidup tenang” Lanjut Krystal. Sulli bergidik ngeri mendengarnya. “Kau yakin?” Tanya Sulli sementara Krystal mengangguk.

Krystal lalu tersentak saat bayangan Kai sudah berada di pintu kelas. Dengan sigap Krystal sudah mempersiapkan dirinya untuk menyambut Kai. Yang kemungkinan besar akan menolak cokelat darinya mentah-mentah. Sulli menepuk jidatnya, namun ia membiarkan ulah Krystal. Toh, ia sendiri yang akan terkena getahnya.

To Be Continued To Part 2b

NO SILENT READERS PLEASE. GIVE YOUR COMMENTS, AND ADVICE IT’S HELPED

3 comments

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s