The Sexiest Agent – Part 3 [ The Past Memories ]


NKNK

~ Title ~

The Sexiest Agent

~ Author ~

Bekicot Princess / Saarah Salsabila Shofa

~ Genre ~

Action, Romance, Fluff, Life, Angst, AU

~ Main Cast ~

Kwon Yuri

~ Support Cast ~

Kim Jong In aka Kai EXO

Cho Kyuhyun aka Kyuhyun SJ [Agent Siwon di Korsel]

Choi Siwon aka Siwon SJ [Senior Yuri di CIA]

Carlos aka OC

Choi Soo Young aka Sooyoung GG

~ Special Cast ~

Choi Seunghyun aka TOP Bigbang [Kepala Kepolisian]

Park Jiyeon aka Jiyeon T-ara [Translator Yuri]

BoA [Partner Yuri]

~EXO, GG, SJ, SHINee, INFINITE, BToB~

~ Summary ~

Information is the most dangerous weapon of all

###

WARNING: PG-15 / PG-17 [ BIT English ]

NO PLAGIATOR AND SILENT READERS

 Previous Part | TEASER | CHAP 1CHAP 2a | CHAP 2b |

“Krystal Jung? sudah siap untuk bertanggung jawab?”

Krystal menaikan pandangannya ke arah wajah namja dengan mata kecil itu. “Bertanggung jawab dalam apa? ini sudah bel ” Alih Krystal seolah-olah tidak tahu. Ia paling malas jika dihadapkan dengan sebuah tugas mengangkat-angkat. Lagipula mengapa sasangnim itu selalu menyuruhnya begini?

Myungsoo berdecak kecil menatap yeoja keras kepala di depannnya. Ia lalu menghembuskan nafas berat. “Setidaknya kau harus tanggung jawab. Tugas mengangkat buku ke perpustakaan tadi kan juga tugasmu. Minimal kali ini untuk menebusnya kau harus membantuku mengantar ensiklopedia ini ke yayasan “

Krystal memandang malas ensiklopedia yang didekap Myungsoo. Lalu Myungsoo menyeringai pada Krystal “Atau kau mau kuadukan pada sasangnim?”

Tidak, Krystal bukanlah murid yang suka melanggar peraturan. Dalam kacamata sekolah, ia adalah seorang murid yang manis, prestasi stabil, jauh dari blacklist, cantik dan juga pandai bicara. Walaupun masih banyak yeoja yang lebih baik dibanding dirinya. Namun, ciri khas yeoja ini masih unggul. Jika sasangnim mengetahui sifat Krystal yang tidak bertanggung jawab ini, tentunya akan mencoreng nama baik Krystal yang sudah ditatanya selama hampir 3 tahun. Lebih baik ia mengalah sedikit daripada dianggap sebagai murid tak patuh.

“Baiklah, ” Krystal menghembuskan nafas berat dan berjalan duluan menuruni tangga. Myungsoo menatap sebal yeoja itu namun sedikit terkekeh mendapati sikapnya yang mudah ditebak. Buktinya, ia mengalah. Lalu Myungsoo menyusulnya. Masih dengan tangan penuh dengan ensiklopedia.

###

Author POV

Yayasan, Seouls Academy

“Apa kau yakin? ini sudah bel ” Sepasang mata hazel itu mendelik pada namja tinggi yang membuntutinya. Mereka hendak menaruh buku-buku berat itu ke sebuah rak raksasa di sebelah kantor utama presdir.

“Gwaenchana, kan aku sudah bilang. Kita harus bertanggung jawab. Jika kau mengulur waktunya. Kau akan terkena balasannya bukan? ” Jawab Myungsoo dengan wajah tanpa beban.

Shit, kenyataan yang sangat pahit. Jadi ia harus berlari ke kelas setelah meletakkan semua buku yang berat ini di rak. Berlari dengan tergesa-gesa dan terengah-engah agar tidak di cap murid telatan. Memang dasar Myungsoo sial.

Krystal menggerutu dan mempercepat langkahnya ke rak raksasa itu. Stainless kukuh dengan balutan kaca sedingin es. Kaca yang bening menembus udara. Memperlihatkan aneka bilangan ensiklopedia–Tua. Gadis itu menggeser kaca rak deret dua secara perlahan karena sedikit macet. Lalu mencari relung kosong untuk diisi. Gotcha, Krystal mendapatkan tempat yang diinginkannya dan dengan segera meraih ensiklopedia itu. Lalu menyelipkannya dengan susah payah agar ensiklopedia itu nyaman di tempatnya. Kakinya yang berjinjit membuat dirinya pegal. Juga tangannya yang meraih-raih. Lagi-lagi dia mengumpat. Myungsoo sialan!

Myungsoo menatap Krystal sambil tertawa dalam hati. Tubuh rampingnya yang terus menggapai rak mungkin terlihat sangat menghibur. Ditambah raut wajah gadis berambut cokelat itu, raut kesal dan bercampur lelah. Hati Myungsoo bergerak membantunya. Sehingga sekarang Krystal menghembuskan nafas lega. “Jika begini jadinya, kubiarkan saja kau mengangkat ini sendirian” Umpat Krystal. Namun, sayangnya cukup keras. Krystal meninggalkan Myungsoo dengan dua buah ensiklopedia tersisa. Ia berjalan melalui pintu utama dan memutar balik koridor. Tidak ada tanda-tanda Myungsoo memanggil namanya dan mengejarnya. Namja itu harus diberi pelajaran.

Saat ia memutari koridor. Ia melihat banyak kerumunan yang berlalu lalang. Terkadang ia bingung. Apa Seouls Academy sebenarnya? Mengapa arus kesibukannya begitu padat dan runyam? bukankah ini hanyalah sebuah sekolah? Namun satu hal yang Krystal tidak tahu. Bahwa Seouls Academy adalah.. Sekolah tertua di Seoul, Korea Selatan. Manik Krystal menangkap wanita tua dengan gayanya. Juga kopor hitam seperti di film-film yang sering Krystal tonton. Kopor itu menggantung di tangan wanita tua namun bergaya itu. Hak nya yang fenomenal berdengung di telinga Krystal. Entah perasaan kagum atau apa. Wanita itu berjalan mengiringi koridor dengan rambut gelombang yang bergerak-gerak. Membuat hati Krystal serasa segar. Gayanya super keren..

Krystal melambatkan arah jalannya. Atau mungkin secara tidak sadar. Wanita itu mulai berjalan mendekati bayangan Krystal. Krystal menganggap itu sebuah slow motion dan suara hak darinya menghilang seiring kepergiannya. Krystal terantuk dan membalikan badannya. Ia melihat kopor hitam menghilang di balik pintu utama. Bersama wanita itu dan … gadis yang seumuran dengannya.

Bukan kali pertama Krystal merasa sekagum itu. Ia merasa jiwanya terisi kembali, seakan dirinya tenggelam dan ada seorang pahlawan menyelamatkannya. Seakan membuka sebingkai jendela dan voila.. kau merasakan udara dingin menyapu kulit wajahmu. Krystal serasa melangkah ke sebuah lembar baru. Dan ia sudah tidak peduli lagi jika ia telat masuk ke dalam kelas. Senyuman di wajahnya bangkit kembali, lalu rambutnya berkibas seiring iring langkahnya.

###

“Donasi?”

Mata Yuri menatapnya penuh keraguan. Presdir yang menggantikan ketua yayasan itu.

Langkah awalnya yang begitu percaya diri terhapus perlahan karena pertanyaan-pertanyaan yang terlontar oleh predir sekolah matrealistis itu. Air mukanya kini seakan menunjukan senyum kemenangan abadi. Yuri merasa harapan yang di cercahnya sedikit pudar. Namun, sikap dinginnya harus tetap ia pertahankan.  Ia memeras erat roknya.

Apakah wajah BoA tidak terlihat seperti donatur?

Atau lebih mirip seorang debt colecctor?

Kelopak mata BoA bergerak menutup dan biji matanya kembali memandang lawan bicaranya. Atmosfer terasa sendat bagi Yuri dan terasa biasa bagi BoA. BoA meraih gantungan kopor dan sedikit mengangkatnya. Membuat pasang mata presdir itu menitikan secercah harapan. Terlihat jelas dari matanya kerakusan serta ketamakan. Memanfaatkan jabatan dan royaltinya sebagai pengumpul uang suap. Hal ini sudah umum di benak BoA. Sudahlah jangan mengelak presdir kotor. Jangan berupaya sok suci di hadapanku

Lalu benar saja. Wanita bermata runcing cekung itu menerima kopor. Dengan raut wajah yang dibuat tidak berseri-seri. Seakan sesuatu itu memang tidak membuatnya begitu senang. BoA memandangnya penuh kemenangan. Dibarengi senyum lega Yuri, wajahnya tampak lebih cerah sekarang. Sesekali BoA mendelik saat itu pada Yuri. Memastikan perubahan ekspresi nya. Apakah gadis itu terlalu khawatir pada rencana BoA? Atau malah tidak perduli? Pilihan pertama lah jawabannya. Yuri peka dan dia tahu apa kelanjutan hidupnya jika dia tidak bisa bersekolah disini.

“Silahkan datang besok, Kwon Yuri ” Presdir dengan mata runcing itu memandang Yuri dari atas sampai bawah. Kembali meniti dan tersenyum akademis. ” Seragam bisa di ambil di konveksi. Akan dipesan ” Wanita itu menangkupkan tangannya di depan wajahnya. Yuri membungkuk sopan dan memberi pandangan pada BoA.

BoA bangkit dari kursinya. Tidak ingin berlama-lama dengan wanita rakus ini. ” Kalau begitu gamsahamnida ” Tersenyum bisnis dan meninggalkannya di ruangan presdir itu sendirian. Di ambang pintu–membelakangi presdir rakus itu. BoA dan Yuri saling berpandangan, melempar senyum kemenangan. “It’s too easy to traped her” BoA mengangguk setuju dan menatap lamat sekitarnya.

“Konveksi” Lanjutnya,

###

Cafe,

“Annyeonghaseyo.. “

Ryewook memandang senang kedua gadis di depannya. Apakah sebuah keajaiban yang membuat sepupunya berkunjung? Sulli dengan temannya entah siapa. Namun, hati Ryewook merasa segar. Sulli merangkul teman terbaiknya itu kehadapan Ryewook. “Oppa, ini Jung Soojung ” Sulli tersenyum lebar mengarah entah ke Ryewook atau Krystal. Mungkin terlalu bahagia.

“Ani, panggil saja aku Krystal. Ryewook-ssi ” Tambah Krystal seraya melepaskan rangkulan Sulli yang memadati lehernya. Sesak bukan? Sulli kau sedikit keterlaluan siang ini

“Panggil aku oppa saja ” Sahut Ryewook. Krystal mengangguk lalu menatap sekeliling cafe. Kebiasaannya sejak kecil, meniti sesuatu hingga tuntas. Sekedar memuaskan hatinya. Bahkan cafe nya masuk kategori 10 cafe terindah di Seoul..

Krystal memandang kagum sekelilingnya lalu menggandeng Sulli. Membisikan sesuatu di telinga “Kapan kita memasak cokelat?”

Sulli mendelik singkat ke arah Krystal. Tidak membuat gerakan. “Tunggu saja. Kalau mau cepat utarakan lah ke Ryewook oppa”

Krystal memandang malas Sulli. Mengapa dia selalu menyulitkan urusan? Lalu ia mengajak Sulli berkeliling. Setidaknya ada tempat bagus? Sulli mengangguk saja karena takut akan death glare Krystal sepersekian detik yang lalu. Pertama-tama mereka mengitari cafe bagian bawah. Menikmati aneka lukisan dan suasana vintage yang melekat di jiwa. Meja yang unik namun sederhana. Krystal menyukainya dan tersenyum. Setelah puas berkeliling di lantai dasar. Mereka digiring ke arah tangga memutar, suasana mendadak berubah menjadi zaman millenium. Silver, warna yang mendominasi semuanya. Membuat pandangan mereka all silver. Serasa melihat tumpukan es yang mengkilat mewah. Tempat ini outdoor–Lantai dua. Pelanggan bisa merasakan angin menerpa mereka, menghempas kain yang membalut tubuh mereka atau apa itu namanya gaun malam? dan harus menerima resiko jika merica yang mereka taburkan ke areal makanan terbang karena angin. Krystal tidak begitu menyukai lantai dua. Pantas pelanggan di lantai dua hampir tidak ada

Krystal menangkap 2 orang yang sama. Berada di cafe ini, berbincang, tertawa. Rambut bergelombang, suara hak yang menggema di telinga Krystal sekitar beberapa jam yang lalu. Kopor hitam tadi. Wanita itu dengan rekannya yang muda. Gadis yang seumuran dengannya. Menggunakan sweater biasa. Tidak begitu istimewa. Namun lagi-lagi Krystal merasakan itu semenjak melihat wanita tua bergaya. Merasakan, betapa mengagumkannya dia. Seakan melihat malaikat. Namun, gerakan Sulli memberhentikannya dari terus menatap ke arah tadi.

“Apa yang kau lakukan? tak dengar kah kau?” Sulli terus menarik lengan Krystal hingga menghilang dibalik tangga. Kini mereka menuruni tangga dan menembus ke daerah dapur. Wangi khas jahe memenuhi ruangan. Asap kecil dari teflon, uap dingin dari kubahan es dan kulkas. Serta daging-daging sambung yang menggantung di atas tiang sederhana. Berwarna kemerahan segar.

“Bersedia membuat cokelat?”

Seseorang berwajah oriental asia dengan mata kecil. Namun, rambutnya berwarna pirang kekuning-kuningan. Kulitnya pucat. Ia memandang keduanya dengan senyum hambar. Ia mendapat tugas dari Ryewook hyung-nya untuk mengajari bocah-bocah ini memasak cokelat yang enak. Key, merasa seperti akan mengajari anak taman kanak-kanak yang ingusan.

Wajah Krystal dan Sulli yang begitu berbinar. Membuat Key menurunkan daya semangatnya untuk berkreasi diatas meja dapurnya. Terbayang olehnya cairan cokelat menempel dimana-mana. Bahkan di celemek dan juga peralatan memotongnya yang bersih dan teratur. Dan itu karena ulah kedua bocah ingusan ini. Yang dengan seenaknya mengaduk cairan panas itu lalu menyolek sebagian dan ditempelkannya ke bibir kawannya itu. Sungguh, Key hampir marah melihat bayangan masa depan ‘versinya’ itu. Tak sadar, ia terdiam begitu lama hingga Sulli menyadarkannya.

“Key oppa?”

Key tanpa basa-basi langsung sadar dan menggiring mereka ke tempatnya. Dapur paling bersih di cafe ini.

“Yeay! memasak cokelat!” Sulli dan Krystal girang senang melihat peralatan memasak Key yang terlampau indah di mata mereka. Krystal merasakan bunga di hatinya jauh bertambah jumlah. Bungkus cokelat merek ternama. Produksi Brussels, Belgia. Nama seorang tokoh terpampang jelas di lipatan pembungkusnya. Jean Neuhaus.

Key memandang mereka berdua sedikit maklum bercampur kesal. Apa yang membuat para wanita senang dengan hal semacam… cokelat?

“Oppa!” Pekik Sulli mengambil kocokan telur. Lalu mengambil beberapa stroberi mungil di dekatnya. “Ya! biar aku yang mencucinya!” Krystal menyambar.

Key menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru permulaan saja mereka sudah begitu apalagi nanti.. sial Ryewook hyung

“Kuingatkan kalian agar berhati-hati ” Key berdehem lalu melanjutkan.

“– karena cokelat akan sangat panas jika terkena kulit ” Key menutup bibirnya lalu mengenakan celemek. Cekatan, Key mengambil beberapa buah-buahan dan mencucinya. Ditaruhnya buah-buah itu ke dalam mangkuk kecil. Setelahnya ia mengocok sebatang cokelat keras di atas kompor. Mencairkannya agar bisa di cetak ulang. Lalu aneka kegiatan memasak handal lainnya.

Sulli dan Krystal terkagum dan tertarik untuk mencicipi cairan kental itu.

###

Cafe,

” Cool! “

Yuri menyeruput jus stroberinya dengan nikmat. Ia merasakan segarnya cairan itu melalui tenggorokannya.

“Ternyata ia benar-benar wanita serakah” Ujar Yuri lagi. BoA menatapnya dengan senyum biasa.

“Daripada memikirkan itu. Lebih baik kita memikirkan plan mu selanjutnya. Pion – pion mu belum kau susun bukan?” Sahut BoA sembari menyeruput minumannya juga. Sama persis dengan yang dipesan Yuri. Minuman ‘jus stroberi’ itu melambangkan good mood pada Yuri hari ini. Hari ini sungguh berwarna bagi Yuri. Ia merasa kemenangan menyelimutinya.

“Ya? susunkanlah pion – pion itu untukku ” Jawab Yuri santai. Menganggap BoA adalah seorang yang menjadi barang serbaguna baginya. Seorang asistennya yang selalu sedia membantu. BoA menatap tajam Yuri yang terlihat santai.

“Sombong sekali kau. Hanya kubantu sedikit saja ” BoA mengangkat alisnya. Yuri tertawa.

“Mulai sekarang kau yang menyusun pion nya. Sedangkan aku hanya membantumu mengarahkan ” Tegas BoA. Yuri menatapnya tidak percaya.

“Tidak! selama ini kau selalu bersamaku ” Yuri menjerit kecil. BoA menatapnya dengan raut serius.

“Kita baru bersama selama 2 hari lebih. Itu waktu yang singkat. Kau harus mengerti dirimu sendiri dan keadaan. Kau tidak berhak menggantung padaku. Kalau begitu alangkah bodohnya Cyan yang memilihmu bukan? Kau mau mengecewakannya hah?”

Yuri terdiam.

“Tidak” Jawabnya.

“Bagus, aku sudah ada rencana agar bahasa korea mu bagus. Mengingat aku punya tugas lain. Posisi ku akan digantikan olehnya. Namun, dia hanya pintar seputar bahasa.. jika kau mengandalkannya–“

“Tidak” Tegas Yuri.

Ia menggenggam tangan BoA seraya berkata “Kau tidak boleh pergi, BoA. Never, “

“Kalau begitu datanglah sehari sekali ke kantorku. Atau kau bisa menelfonku”

Tidak, bukan itu yang Yuri maksudkan. Yuri bukannya terlalu simpati pada BoA, wanita yang membantunya 2 hari terakhir. Yuri bukan kagum akan kepedulian BoA padanya dan hal-hal lain. Melainkan ia hanya butuh perlindungan. Yuri menganggap BoA adalah semacam tameng baginya. Tidak lain.. Jika Yuri bisa melindungi dirinya sendiri, dia bisa saja tidak bertatap muka dengan BoA seharian penuh. Apakah dengan begini Yuri dikatakan pengecut? Tidak. Karena Yuri hanya mengalami ketakutan sementara yang selalu melandanya. Dan suatu saat nanti ada seseorang yang akan membangkitkan kembali semangat Yuri. Bukan BoA, bukan Cyan, dan bukan siapa-siapa. Tidak ada yang tahu itu siapa dan tidak akan ada yang menduganya.

“Aku punya lebih banyak kasus yang harus diselesaikan dibanding kau. Aku masih termasuk detektif kepolisian setempat. Kau hanya agen yang bekerja pada CIA. Yang sedang menyelesaikan masalah ‘pribadi’ antara pejabat CIA di Washington dan musuhnya yang entah apa namanya”

“Jika belum ada kematian di kasus yang kau tangani, Yuri. Itu tidak masalah. Sedangkan aku harus pergi meladeni kasus pembunuhan, ke daerah yang berjauhan dengan ini. Jauh.. hingga sinyal telfonmu tidak masuk padaku”

Tidak,

“Apakah penggantimu itu setimpal? ” Yuri bernada dingin. BoA tidak menatapnya dan mengangkat bahu. ” Molla “

“Apa itu ‘Molla’ ?” Tanya Yuri. Membuat BoA menatapnya keheranan.

“Tidak tahu” Jawab BoA seadanya. Membuat Yuri terkekeh keras. Suasana berubah hangat setelah Yuri mempermainkan kosakata.

###

Danau, Taman Kota

Kim Jong In, memandang danau yang terbentang luas di depan manik matanya. Indah, timpal Jongin. Ia tidak akan pernah bisa melihat pemandangan seindah apapun dengan keluarga utuhnya.

Untuk apa ia di danau kota sedangkan normalnya pukul – pukul seperti ini para pelajar kelas 3 pulang ke rumahnya atau berbincang dengan teman – teman ?

Tidak untuk Kim Jong In. Dia melakukan ini untuk sedikit menentramkan jiwanya. Dari guncangan ombak dan angin kencang di dalam hatinya. Ia merasa otaknya terperangkap jaring laba – laba. Dan hidupnya di ambang kegelapan. Yang terang hanya bayang – bayang noonanya. Kim Neulmi, yang tersenyum hangat padanya. Cuma itu yang bisa mewakilkan kenangan indahnya di masa lalu. Orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan di Daejeon yang berdekatan dengan Cheonan di provinsi Chungcheongnam. Itu mimpi buruk sepanjang masa. Mimpi buruk. Bahkan Jongin tidak mengerti bagaimana mereka bisa meninggal.

Pernah seseorang bertanya padanya,

“Apa kau yakin mereka meninggal karena sebatas kecelakaan mobil, Kai-sshi?”

Kai mengingat itu. Sangat mengingatnya. Sangat membekas. Hingga sampai ke ubun-ubunnya rasa panas itu menjalar. Ia meredam emosinya yang hendak menjerit. Ia akhirnya melampiaskan dengan melempar sebuah batu.

CMPLUNG

Air yang tenang itu mulai membentuk pola – pola melingkar. Memusatkan pada pusat batu yang jatuh. Kai memandang batu itu lekat hingga turun ke dasar.

Seketika Kai mendelik ke arah ponselnya.

“Kemana perginya dirimu, noona?” Tanya Kai bergumam sembari mengecek ponselnya. “Yeah, kau tidak memberiku kabar. Bagaimana kalau tiba-tiba seseorang memberitahuku kalau kau meninggal juga dalam kecelakaan?” Gumamnya lagi.

Bodoh, pikir Kai. Tak ada yang tak mungkin. Pastilah lambat laun kematian akan menyusul kakaknya, bahkan dirinya yang terlalu percaya diri ini. Kematian akan menghancurkan keluarganya. Hingga berkeping – keping. Kai percaya, tak ada satupun nama yang masuk ke dalam siklus kematian keluarganya. “Tidak ada pembunuhnya. Yang ada hanya kematian ” Gumamnya lagi lalu menghempaskan diri di rumput. Badannya yang sempurna itu melenggang di atas rerumputan. Pancaran mata Kai terlihat sendu. Mencari seorang teman yang ingin diajak nya bicara. Tapi siapa?

Tak ada satupun orang yang mau berteman dengannya. Dan Kai tahu itu, dia.. tidak perduli seakan-akan ia bisa menemukan kembali kebahagiaannya.

Flashback

23 Desember 2001

“Mereka bilang mereka akan membeli peralatan untuk natal”

Kim Neulmi memandang ramah adiknya, Kim Jong In. Mengelus rambutnya seperti biasa. Sang adik bertanya antusias.

“Kemana ? Kemana mereka pergi ?” Tanyanya.

“Kukira ke Daejeon. Mereka merahasiakan nya ” Neulmi memandang adiknya. Lalu memandang jam dinding.

“Kau tahu, tak baik bagimu tidur selarut ini ” Ujar kakaknya, sembari menepuk pundak Jongin. ” Lantas? Tidak memberi efek padaku kok ” Sahut Jongin tanpa dosa.

“Hush, kau harus tidur. Agar kantung matamu tidak separah aboji ” Neulmi mencoba merayu adiknya agar mau tidur. Jongin kali ini menurut dan menuju ke kamarnya.

“Mukamu terlalu memelas, Kim Neulmi “

“Hush, pangil aku noona dan lekaslah tidur nde? “

Semua kegiatan di dalam rumah itu terhenti. Lampu dimatikan, sang kakak menutup seluruh pintu. Juga membersihkan beberapa cangkir teh yang tersisa di coffee table di ruang tamu. Ia mengantar cangkir itu ke dapur lalu mencucinya sebentar. Lalu menuju kamarnya. Namun, terlintas di benaknya untuk mengunjungi kamar adiknya yang tampan itu.

CUP

Dia mengecup adiknya di dahi dan membalut tubuhnya dengan selimut yang hangat. ” Terimakasih atas kehadiranmu “

Lalu dengan segera Neulmi keluar. Menutup pintu dengan pelan. Hingga ia menemukan sepasang orang berdiri di depan pintu rumahnya. Berpakaian rapih dengan sisiran rambut yang terlampau indah. Lelaki berkulit pucat dibalut setelan jas nya. Juga wanita berperwakan tinggi seperti model. Rambutnya yang indah tergerai panjang menutupi pundaknya. Lelaki pucat itu menekan bel lagi lalu berdecak kesal.

Neulmi dengan langkah terburu-buru membuka pintunya. Angin musim dingin menerpa wajahnya. Ia sedikit terhuyung lalu menatap raut wajah kedua orang itu. Ia ….. tidak mengenalnya sama sekali. Neulmi menerka siapa mereka, namun tidak kunjung menemukan jawabannya.

” Kim Neulmi? ” Ujar salah seorang lelaki. Alis Neulmi bertaut. “Ya?”

Lalu tubuh Neulmi terhempas di dorong lelaki pucat di depannya. Sedangkan wanita tinggi itu diam. Memandang Neulmi datar.

“Siapa kalian?” Ujar Neulmi. Takut. Suara nya bergetar. Si wanita tinggi angkat bicara dan melayangkan senyum palsu pada Neulmi. ” Izinkan kami duduk dan kami akan bicara “

Lalu mereka bertiga sudah duduk di depan perapian. Neulmi duduk dengan perasaan takut menyelimutinya. Sedangkan dua orang di depannya merasa tidak seharusnya di perlakukan seperti ini oleh tuan rumahnya. Mereka biasa di perlakukan menawan. Sang tuan rumah harusnya menyambut mereka dengan ramah, lalu dengan segera mempersilahkan nya duduk di sofa terbaik. Demikian hingga sang tuan rumah menyajikan wine Chianti Classico yang secara spesial di datangkan dari Tuscany, Italia.

“Itu tidak jadi soal, Carlos ” Wanita tinggi tadi duduk dengan anggun dan menyinggung partnernya, Carlos Slim Helu. Seorang lelaki pucat yang berasal dari Mexico.

Wanita tinggi itu menatap Carlos lama lalu mengalihkannya ke Neulmi yang ketakutan. ” Santai saja ” Ucap wanita tinggi itu lalu menepuk pundak Neulmi. ” Kau akan baik – baik saja ” Lanjutnya,

” Dimana orang tuaku ? ! ” Neulmi sudah tidak bisa menyembunyikan instingnya yang sedari tadi meluap – luap. Pasti kedua orang ini berhubungan dengan orang tua nya di Daejeon.

Lelaki pucat tadi mengangkat sebelah alisnya dan berdecak kesal. Tangannya hendak menyentuh dagu Neulmi. Namun, wanita tinggi itu menepisnya. ” Tidak, Carlos “

Wanita tinggi itu memperkenalkan diri. ” Choi Sooyoung. Sedangkan dia Carlos Slim Hel–“

” Cukup Carlos saja ” Cegah Carlos tiba – tiba. Nama tengah dan akhirnya sungguh memalukan. Sooyoung tidak melanjutkan dan menatap Neulmi.

” Kau mencemaskan mereka? “

Neulmi mengangguk ” Tentu saja. Mereka orang tuaku “

” … Yang terbaik dari seluruh orang tua di dunia ” Lanjutnya serius. Rasa ketakutan sudah memudar darinya.

” Mereka kami bunuh, namun bilang saja pada adikmu. Mereka kecelakaan ” Wanita bernama Sooyoung itu menatap tajam Neulmi. Lalu tersenyum palsu.

To Be Continued

A/n : ada yang nunggu OMCIA ? Kemungkinan akn sedikit tersendat karena kemalasanku >.< mian nikmati dulu TSA  alias The Sexiest Agent -nya yaa😉

NO SILENT READERS OR YOU WILL GET THE REGRETS

15 comments

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s