[Unimportant] Love Someone That I Don’t Know His Face


 

Title:  Love Someone That I Don’t Know His Face

Author: Saarah / Bekicot Princess

Cast: Saarah ( Sasa ), Calista, Nina, Fira, Yudith, Dinda, Family, ETC

Special Cast: The Boy Who No Named

Genre: Family, Comedy, Fluff Romance

Rating: Teen!

Length: Oneshot

WARNING: BAHASA KURANG BAKU, TYPOS, EMOTICONS BERTEBARAN, BERDASARKAN KISAH NYATA AUTHOR

AND NO SILENT READERS!

Lol..

 

Udah baca judulnya? Yang bisa ngartiin siapa? Tunjuk tangan coba,

 

Jadi gini topiknya. Kurasa aku merasakan jatuh cinta ( lagi ) nih. Tapi, that’s must be something different. Aku jatuh cinta sama orang yang gak aku tau wajahnya dan juga namanya ( ya iyalah. Wajah aja gaktau gimana apalagi nama. Dasar dodol-_- ). Hell yeah banget emang. Udah ketemunya cuma sekali seumur hidup. Firstly, aku mau nanya sama kalian. Pernah gak kalian jatuh cinta sama stranger? Yaitu orang asing yang gak kalian kenal? Misalnya kalian pergi ke suatu tempat umum ( rumah sakit, mall, bioskop, game center, etc ) terus kalian menemukan sesosok stranger yang mencolok di mata kalian? Dan kalian merasa kalau si stranger tsb spesial buat kalian dan malah juga ada rasa ‘ih spertinya si stranger sadar akan kehadiran aku’ . Apa pernah, pernahkah kalian?

 

Nah, aku ngalamin hal di atas. Hal tersebut terjadi 2 hari yang lalu. Tepatnya hari Jumat, 9 Agustus 2013. Pukul 21.00. Di bioskop 21, Central Plaza di kota #####. Oke detail banget kan? sip. Aku cuma mau momen ini diabadikan. Jadi sewaktu aku dewasa, aku gak akan mungkin lupa sama dia. Mau kuceritain dari awal kisahnya? Oke, akan kuceritain yah^^

 

#

 

Sasa POV

 

“Mbak, gimana kalo kita nonton aja di bioskop?”

 

Calista, atau lebih tepatnya sepupuku. Ia berkunjung dari Jakarta kesini. Demi bisa menemui neneknya yang tinggal di kota ini.  Oke, biar kuceritakan dari awal. Keluarga dari ayahku ada 7 bersaudara. Suku kami palembang. Sebenarnya sebagian besar keluarga kami menempatkan diri di Provinsi Sumatera Selatan. Namun, seiring berjalannya waktu. Ayahku dan saudara-saudaranya merantau untuk pendidikan. Mencari ilmu dan menimbanya. Ada yang sampai ke Semarang, Jakarta, Lampung, Bekasi, etc. Bermacam-macam tujuan dan modus lah yang menghantarkan mereka kesana. Karena ayahku adalah anak bungsu maka akan kupanggil tante dan om ku itu dengan sebutan ‘uwak’ atau ‘uak’. Yeah, it’s not different at all. Just like ‘unnie and hyung’ right?

 

3 keluarga tinggal di pulau Jawa. Dan 3 keluarga lagi tinggal di Lampung. Lalu 1 keluarga tinggal di Palembang. Nenek tinggal di Lampung, sehingga saat lebaran. Otomatis semua anggota keluarga yang tersebar keluar Lampung harus berkunjung ke Lampung untuk bersilahturahmi dengan ibunya sendiri yang aku panggil, ‘nenek’. 2 keluarga yang tinggal di Jakarta akhirnya tidak berhalangan datang ke Lampung, alhamdulillah. Kemudian 1 keluarga yang tinggal di Palembang juga demikian. Akhirnya mereka juga ke Lampung. Dan lengkaplah kebahagiaanku sebagai anak perempuan yang kesepian tanpa teman di rumah. Berhubung sepupu-sepupu aku yang tinggal di luar kota/provinsi itu seumuran aku ( cewek pula, gosipan dah😄 ) ya cucoklah maen sampe puas. Mereka semua datang kecuali satu keluarga di Jakarta itu. Kami berkumpul di rumah nenek di Lampung.

 

Sampai suatu saat Calista bertanya kepadaku. “Mba, udah nonton The Conjuring belom?”

 

Ahaha. Aku ingat sekali tadi malam aku menontonnya. The Conjuring, film horror Holywood yang bikin anak ABG gempar gempar pengen pada nonton. Yang padahal mah ceritanya lurus-lurus aja dan kurang kejutan. Menurut aku ending nya kurang nges banget. Masa ya happy ending? Sebagai penikmat film buatan Hollywood aku lebih suka ending yang gantung dan bikin mulut ku pengen ngomong ‘pengen gue bunuh tuh si pembuat cerita!’ . Nah, kalo gantung endingnya. Itu baru best film. Layaknya Insidious, The Hunger Games, Hide And Seek, Etc. The Conjuring itu menang efek suara kayaknya, dan menang nama. Sekalinya The Conjuring muncul di 21. Namanya langsung membludak. Entah sihir apa yang membuat orang-orang tertarik. Namun sekali lagi aku katakan. Film Hollywood memang sudah terlanjur keturunan bagus oke? Actor profesional dan lain-lain. Oke, The Conjuring masih bagus deh, walaupun rating rendah hehe.

 

Akhirnya aku menjawab pertanyaan Calista. “Udah, malahan mba download film nya. Itu ada di laptop”

 

Okeh sip. Bisa diperhatikan, raut Calista berubah bahagia seketika. “Yeah! nonton yok mbak! Mana leptopnya?”

 

“Nanti, mba sasa cari dulu ya” Jawabku dengan senang juga. Aku senang kalo bisa bikin orang lain senang. Namun, asal gak ngerepotin aku aja ya hihi.

 

Setelah beberapa menit nyari leptop. Akhirnya ketemu. Lagi di cas dan posisi leptopnya ketutupan meja. Jadilah susah ditemukan. Dengan sigap kucopot kabel listrik dan setelah beberapa hambatan akhirnya kuhantarkan laptop ke kamar nenek ( ada AC nya jadi enak hihi ).

 

Nah, terus ada hambatan lagi nih. Kan ada karpet luas tuh di kamar nenek. Tapi sayangnya mau dipake uwak Vera buat sholat. Oke, kami yang bukan anaknya tidak bisa protes. Kami ( Calista, aku, Fira, Dinda) akhirnya mau ngalah dan keluar kamar. Namun, anak dari uwak Vera yaitu yang aku panggil Mbak Yudith akhirnya beraksi. Ia masuk ke kamar dan i think she try to complains.

 

“Mi, Yudith nak nonton film. Mami solat di luar aje mi. Tak pacak nonton Yudith” Yeah, bahasa Palembang. Hanya Mbak Yudith lah yang lancar berbahasa Palembang diantara kami ber-5 ( Calista, aku < Sasa >, Fira, Dinda, Yudith ). Karena ia lahir di Palembang dan kedua orang tuanya sepertinya Palembang asli ( pantes pempek buatan uwak Vera enak banget gih -,- ).

 

Akhirnya si mami dari mbak Yudith pun mengalah. Beliau mengangkat sajadahnya dan menggeret mukenah nya keluar kamar. Merdekalah untuk kami ber-6 ! Woohoo! The Conjuring here we comee! Ingat, kami nonton di laptop. Bukan di bisokop. Bagian pas di bioskop khusus besok malam.

 

Taruh leptop di tengah tengah karpet. Oke. Susun formasi. Oke. Sebagai pemilik leptop aku menuju file movies dan terpampang jelas film dengan judul ‘The Conjuring’ itu. Aku klik 2 kali. Dan windows KMPlayer muncul dengan frontal. Film mulai diputar. Dimulai dengan opening yang memperlihatkan label produser film dan patung liberty yang di samber samber petir itu. Lalu langsung ke set pertama. Dimana aboneka Annabelle di munculkan. Si Annabelle itu mirip boneka serem gitu. Tonton ajageh on the spot. Para penonton yang belum nonton ( Calista, Dinda, Fira ) sibuk berkaget kaget ria karena hal yang serem muncul pertama kali. WTF banget itu boneka udah muncul pertama kali terus di close up pula -_-

“Ih, serem amat bonekanya” >> Respon sang penonton.

SKIP

Sampe adegan serem pada jerit. Nenek yang sedang tiduran pun kaget.

“Film apa yang korang tonton tu?”

“Film serem nek” Jawab Dinda yang berpredikat sebagai anak SD. Kami ( Calista, Fira, Sasa, Yudith ) udh SMP semua kecuali mbak Yudith yang udah SMA. Oh iya lupa cerita. Sembari kami nonton, kami diganggu oleh semacam makhluk bayi yang balita centilnya gak nahan. Ada sekitar 2 balita yang mengganggu kami sembari menonton. Entah sambil ngehalang halangin layar leptop lah, mencet mencet keyboard lah, duduk dudukin badan kakaknya lah, jerit jerit, nyanyi nyanyi, dan ngomong sendiri. Terus ngaku ngaku pacarnya boboyboy. Balita satunya adekku sendiri. Namun, syukurlah dia udh lumayan ngerti kalo diomongin. Sedangkan satunya harus terkena cacian lembut dr kakak kakaknya gegara nakal.

“Udah ya sayang. Main diluar aja”

“Kamu mau keluar apa masuk sayang? kalo mau keluar ya keluar. Kalo masuk ya masuk. Jangan mainan pintu sayang”

“Anindia cantikk. Jangan ngehalangin mbak ya”

“Heeh! kok keyboard nya dipencet pencet sih sayang?”

“Palaknya awas dek”

BLABLABLA

Banyak cacian ‘halus’ dan cacian ‘frontal’ yang di keluarkan oleh para kakak yang antusias menonton itu. Sedangkan aku karena sudah nonton itu film. Akhirnya cuma nyaksiin si balita ngoceh ngoceh dan kakak kakak yang sibuk fokus sama film. Aku nyaksiin itu sambil makan kue lebaran. Enak, keju banget rasanya.

Di tengah tengah film. Mbak Yudith yang dikenal dengan ‘sudah nonton film The Conjuring di bioskop’ pun mengajukan pendapatnya.

“Sialan. Gue nonton ini di bioskop anjir serem banget. Sampe kepikiran 2 minggu tuh. Lah di leptop kok biasa aja yak?” Ujar Mbak Yudith sambil merhatiin layar leptop. Yeah, aku juga hampir gak percaya. ‘Mengapa orang bilang film ini serem’

“Ah masa mbak? Banyak yang jerit gak?” Kataku sembari bertanya.

“Banyak banget. Apalagi pas adegan hantu loncat dari lemari itu hii. Efek suara sih sebenernya” Jawab mbak Yudith santai.

Oh gitu. Jadi, efek suara doang? Sip banget. Bisa bayangin kan kalo layar bioskop itu segede apa? sedangkan layar leptop? udah kecil, suara nya seupil kan?

SKIP

Kami sudah selesai nonton The Conjuring. Sampai saatnya. Kami kebayang film itu sampe malemnya. Lalu setelah agak maleman atau siangan gitu ( lupa njir ) . Aku pulang dari rumah nenek ke rumah aku ( deket, jaki aja bisa kok ). Lalu istirahat dan menghitung uang THR. Juga twitteran. Lalu aku tidur dengan aman dan tentram.

Keesokan Harinya,

Pagi-pagi aku bangun tidur. Membereskan tempat tidur dan beres-beres rumah. Menyapu, beresin karpet, beresin kamar, nyuci piring, dll. Lalu belum sempet mandi. Aku dikagetin oleh suara mama.

“Sa! Fi! Itu ada wak Emi dateng ke rumah nenek! buruan ! mau bagi-bagi THR!” Mama ngejerit dari kamar.

WTF? Bagi-bagi THR dan gue belum mandi?

“Buruan sa!” Jerit mama lagi. Membuatku takut karena wajahnya yang mengerikan.

“Iyadeh”

Karena aku keluar rumah pake hijab. Jadi yang semula aku pake baju tidur mirip baju renang. Langsung ganti rok dama kaus panjang ditambah jilbab layang warna hitam. Ini sungguh buru-buru! Kalo gak buru buru aku mungkin udah mandi dan bedakan. Sungguh keterlaluan -_-

Ayah sudah menyiapkan motornya. Ditambah adikku yang paling kecil yang gangguin aku nonton Conjuring waktu itu udah siap duduk di paling depan. Rafi, adekku yang gamers dan suka anime abis. Lalu tanpa basa-basi dan ganti baju langsung naek motor. Plus aku yang nyusul dari dalem rumah sambil lari.

“Mah pergi ya samlikum”

Pintu kututup dan pager juga. Disusul bunyi gemerincing dari lonceng pager.

BRMMM

Sampe rumah nenek. Aku bisa lihat sendal di depannya yang tadinya sekardus jadi se gros. Kayak pabrik sendal. Aneka warna dan bagus-bagus semua buat lebaran. Ada yang satunya di depan pintu, satunya depan pager. Kebolak bolak, udah kayak es sendal campur ala rumah nenek.

Aku, Rafi, Kekey, dan Ayah pun masuk tanpa anggun-anggun sama sekali. Ya mau gimana lagi orang belom mandi -_- SHIT. Itu yang di dalem pada rapih, seger, udah mandi, kaftan nya ajib abis, rambut di sisir masih keliatan basah. Lah aku? kayak orang ileran baru bangun tidur–” Yeah, mau begimanapun. Ini amanah dari mama dan gak boleh di sia sia in. Sedangkan Rafi dan Kekey. Mereka ngincer THR. Udah diduga.

Aku masuk dan salim sama sekitar lebih dari 15 orang. Mulai ddri yang bau tanah sampe yang bau baju baru. Dari yang tue tue sampe yang mude mude. Dari yang kinclong sampe yang empet gara gara mantengin laptop mulu buat maen game. Dari yang berbaring di kasur sampe yang lagi nyantap rendang. Dari yang lagi duduk sampe yang lagi terbang (?)

Salim satu-satu sampe leher pegel.

Lalu aku langsung membaur ke ruang tamu dan menemukan…. segelintir anak anak SMP-SMA yang lagi ngomongin pacar masing masing dan tinggi badan-_-

“Woy cal, ukur tinggi badan yok” Sepasang anak yang baru SMA ini sibuk negakkin badan buat ngukur tinggi.

“Wah! masih tinggian gue” Sahut mbak Yudith yang memenangkan pertandingan-_- Cal adalah panggilan dari bang Ical. Dia cowok baru SMA. Tinggi badannya membludak secara brutal sejak kelas 3 SMP. Padahal waktu kelas 1 SMP tinggi nya sama aja kayak aku-_- Yah. Itulah cowok ya.

Lalu sekejap waktu, kami sudah berkumpul di kursi panjang. Duduk berjejer sambil megang hape masing-masing. Calista, Ical, dan Fira dengan Blackberry nya. Dinda dengan tangan kosong. Dan aku dengan tangan kosong. Yah mau gimana lagi. Sampe gak kepikiran tadi pagi itu mau bawa gadget-_- kalo taunya gini mah, aku bawa andorid aja hah-_-

Topik pun mulai beralih ke ‘pacar’. Dan aku, adalah seorang kpopers sejati yang sengaja jomblo demi bias. Dan juga seorang muslim yang mencoba taat aturan agama ( cielah ). Jadi intinya adalah. Dari 5  sodara ku yang remaja disana. Okesip, aku jomblo sendiri. Wahahah. Setidaknya ada kebanggaan tersendiri kan kalo jomblo?

“Nih ganteng gak fir?” Kata Calista pada Fira. Sembari menunjukan sebuah foto di ponselnya. Terpampang foto cowok embuh siapa. Lalu Fira merengek.

“Kok disini aneh kak? di Facebook dia ganteng banget loh” Jawab Fira.

Yeah, aku ngecun. Pasti dia pacarnya Calista._.v dan aku hanya diam tak bernyawa. Lalu si bang Ical menyahut entah lupa. Tapi kira-kira ini kejadiannya.

“Pacar kamu cal? Wkwk.. Pacar bang ical dong cantik” Pamer bang ical sembari mainin hapenya. Oke! gue tau kamorang punya pacar semua! tapi plis gue jomblo disini!

“Mana mana?” Tanya Calista dan Fira antusias. Aku juga sih, hehe.

“Weh kepo kamorang ini” Jawab bang Ical sambil nyengir nyengir. Yaampun bang. Kalo gak mau ngasi tau ya jangan pamer dong-_-

Namun, sedetik kemudian dia nunjukin sebuah foto. “Ininih, pacar bang Ical. Cantik kan :p” Katanya dengan bangga nan ajib sambil nunjuk layar hapenya.

Si Calista sama Fira yang gaktau apa-apa cuma bengong aja. Aku bisa liat dari raut wajah cewek dua ini. Raut mereka berkata ‘Gila! cantik banget! serius tah ini? bukan ngibul?’

Dan setelah gue tengok itu hape bang ical.

SHIIT! ITU KAN CINDY GULLA JKT48!

Si Calista dan Fira yang gak tau JKT48 cuma bengong dan percaya aja itu cewek ( cindu gula ) pacarnya bang Ical. Dan gue kagak terima. Akhirnya aku datang untuk meluruskan dan membela kebenaran.

“Itukan Cigul -_________- ( cindy gula ) ” Balas aku datar. Seolah olah dengan emot -_-

“Hehe” Si bang Ical ketawa tiwi aja. Gagal kan dia nipuin sodara tercinta gue tadi-_- rasain. Emang lu pikir gue bukan wota apa?

NB: Wota adalah fans JKT48 ( nama fandom )

Terus masih mamerin pacar masing-masing. Sedangkan aku cuma ‘nggeh nggeh’ aja. Manggut manggut aja. Lalu giliran aku yang mamerin pacar.

“Pacar sasa, namanya Kim Jong In! Kai!!” Jawab aku.

“Ganteng tau dia itu” Jawab aku lagi. Mereka manggut manggut aja.

“Ah, kpop” Kata Bang Ical. “Masih mendinglah dari pada CJR” Katanya lagi. Terus aku ketawa aja.

“CJR itu maho wkwkw” Kataku dengan kekehan. Oops! ternyata Calista dan Fira adalah Comate. Sorry mbak sasa khilaf wkwk. Ya abisnya, CJR itu pas banget buat jadi bahan bulian. Sorry ya^^

“Si Iqbal itu aja belom sunat” Sahut adekku, Rafi. Si Bang Ical ketawa keras. Gila ini anak-_- nyulut api aja.

“Masih mending kpop ceweknya cantik-cantik” Bales Bang Ical. Ya iyalah cantik , oplas gitulohh wwkwk😄

SKIP

Tiba tiba nina, saudara aku dateng. Namanya Nina, seorang penggemar berat anime + JPOP + novel. Pengikut setia Trilogy The Hunger Games dan film film Hollywood terbeken. Anak ini ajib dan pengetahuannya patut di kasih jempol. Apa-apa yang kuomongin sm dia pasi nyambung. Dan dia pasti ngerti walaupun dikit-dikit. Dia pakai kacamata, kurus seperti lidi, suka ketawa. Adekknya ada dua, satunya cowok seumuran adekku Rafi, namanya Fathan. Penggemar berat game dan anime. Cocok banget sama Rafi. Kalo disatuin udah kayak Lilin sama Api. Pasti Leptop seharian dimaenin. Btw si Fathan ini mukanya mirip Taylor Lautner. Serius! Cuma badannya aja yang kecil😀

Kami semua nyapa Nina yang baru dateng. Disambut suara anjingnya yang bernama Rokkie, gaktau sih jenis apa. Tapi masih termasuk ukuran mini anjingnya. Dia bakal ngengonggong terus kalo ada kucing. Unyu banget. Tapi sayang ayah larang aku megang. Dan jujur, aku juga gakmau megang binatang sembarangan. Berhubung aku orangnya jijikan juga kan?

SKIP

Kami ( Nina, Calista, Fira, Dinda, Aku ) berencana untuk nonton The Conjuring di bioskop. Karena jam segini udah terlanjur sore ( Jam 5 sore ) akhirnya kami memutuskan untukk

“Cobageh cari dulu di internet. Hari ini jadwal film nya apa aja”

“Ya bener tuh! ntar sampe sana tiket nya abis pula”

“Hape ku gak ada internet”

“Yaudah coba hape kamu aja nin”

“Oke”

GRNGGGG ( Suara kipas angin )

“Nah, ini filmnya”

*dibacain satu satu*

“Asddfghjklwertyuio,wdfygqiudnnoeoievniovnirovni” *baca judul film yang diputer di bioskop satu-satu sama film coming soon nya juga* *kayak baca mantra asli* *dan aku manggut manggut aja*

“Oke, jadi mau nonton apa? masih mau conjuring?”

“Gak nyesel nih, kan udah pada nonton iyagak?”

“Ihh tapikan efek di leptop gak serem. Aku pengen ngerasain yang serem di bioskop. Biar deg degan gitu”

“Yaudah deh”

“Jam segini adanya paket jam berapa?”

“Adanya juga jam tujuh palingan”

“Bangunin Mbak Yudith gih. Kita ajak aja. Masa gaada anak SMA nya?”

“Oke”

Ke kamar nenek

Mbak Yudith yang sedang tidur di karpet sepertinya sedang nyenyak. Kita ber 5 akhirnya mengerubungi mbak yudith bak seorang iluminati ngelilingin piramid.

“Mbak..”

“Mbak Yudithh”

“Bangun mbakk”

“Mbak”

Cara gak ada yang berhasil. Udh jam segini, tapi mbak yudith gak kunjung kunjung bangun. Kita semua pasrah dan duduk di kasur nenek.

“Nah, terus gimana? kok mbak Yudith nya gak bangun si?”

“Mbak sasa.. bangunin gih”

“Iya tadi dibangunin gak bangun nah terus gimana?”

Kita ber 5 mikir keras. Lalu adeknya si Calista dan Dinda yaitu Anindia. Masuk ke kamar. Kita main sama dia sejenak.

“Aninn.. pacar anin siapa?” Tanyaku sama Anin.

“Pacal aku boboboy!” Jawab anin si bayi itu sambil nyengir. Kitorang ber 5 ketawa. Gila ini sumpah gak nahan. Boboboy? Re u fucking kidding me? Iya iya, aku akuin dulu aku pernah bilang boboboy itu ‘ganteng’ tapi yah ternyata merenggut banyak fans dari kalangan balita.

SKIP

Kami ber5 ganti baju pergi terus naik mobil.

“Hoy! gadis buruan udah jam berapa ini!”

Alamak. Jam 6 ini.

Akhirnya kami naik ke mobil dengan tentram. Duit THR udah semuanya di dompet. Minimal harus ada cepek. Supaya bisa bayar makan ndewek.

Tujuan CP, 21.

BRMMMMMMMm

Om Surya nyetir dengan ganas *dusta*. Lalu sampai di jalan tertentu tetapi kok kita malah belok kanan. Itu orang palembang lupa jalan apa gimana? Aku yang orang Lampung tuh tau banget. Kalo mau ke 21 itu lurus. Bukan belok kanan! Tapi kok beliau belok kanan?

Aku dan Fira diem. Pasrah aja Om Surya belok kanan. Kita mencoba positif thinking.

okey sa tenangin diri lo. Siapatau aja Om itu mau beli semacam obat buat anjing nya’

BROMMM

Mobil terus melaju. Hingga sampai jalan yang entah dimana. Dalam hati aku bertanya tanya.

‘jangan jangan kesesat beneran ini? yaampun ini udh jam setengah 7 om!’

Aku dan Fira sebagai orang Lampung yang udah terbiasa tahu jalan lalu senggol senggolan pundak. Seakan berkata. ‘ini mau kemana sbenernya?’

Damn! Udah jam segini tapi belom nongol juga jalan yang aku kenal! Ini sebenernya mau kemana sih! Pokoknya disini aku emosi banget,

“Pah, perasaan jalan keluarnya lewat sini loh” Si istri bertanya, dan aku spontan nepok jidat. ‘kamvre*t ini om kayaknya beneran lupa jalan deh, Napa gak nanya aja sama gue n fira? gue ini orang lampung yang udah tau jalan loh-_- yasudah lah biarkan*

Sial banget taugak. Perasaan aku yang udh sering ke 21 itu gak selama ini jalannya. Lah ini kayak udah mau jalan ke daerah yang di ujung sono-_- Sudahlah sa, sabar sabar.

Aku berbisik “Fir, sebenernya ini mau kemana?” Tanyaku pelan. Fira Jawab.

“Mungkin nyari jalan pintas mbak” Jawabnya.

Sial! Kalo nyari jalan pintas kok malah sejauh ini! ini mah nyari jalan sesat! Urghhh! Emosi emosi emosi.

Lalu sembari emosi aku nengok ke kursi belakang dan samping. Itu anak anak Jakarta malah santai santai masih aja ketawa ketiwi. Gak nyadar kalo kita salah jalan. Gak nyadar kalo aku udah emosi banget saat itu. Gak nyadar kalo waktu yang kita pake udah bener bener banyak cuma buat jalan doang! Gak nyadar kalo  Si Om pasti cuma tau jalan ini buat ke 21. Kalo aja kamuorang nyadar.. eh, udah kamuorang keplak pasti.

Setelah masih jalan gak jelas nih mobil. Si anak dari Om bertanya dengan polosnya. “Kok lama banget ya”

Anjir… pengen aku tabok bener.

YA JELAS LAH LAMA. DASAR !@#$%^ !!!!!!!

Sumpah, emosi banget saat itu -_-

Beberapa menit kemudian,

Akhirnya tembus juga. Mata ini akhirnya sudh melihat gedung Mall nya. Dengan jelas ‘Central Plaza’ ’21’ Seakan syujud syukur di dalem mobil. Akhirnya si Om nemu jalan tembus juga. Aku doain semoga si om nyadar kalo dia udh bikin orang geter geter nahan emosi.

Akhirnya mobil parkir di depan lobby. Kita turun. Pamit.

“Ntar kalo mau pulang sms aja ya”

“Iya tante”

TAP TAP

6 cewek kece melangkah masuk Mall *sombong amat-_-* suara langkahnya bagai suara lonceng di surga. Menyeruak hingga lantai paling atas mall.

Langsung buru buru naik eskalator. Naik lagi, naik lagi, lalu naik lagi. Hingga nemu pintu masuk 21. Kita lari lari di depan game center dan Solaria kayak orgil. Bodo ah.

Langsung ke meja mbak mbak nya. Sang kakak tertua, Mbak Yudith. Yang membicarakan about tiket dengan mbak mbak bioskopnya.

“The Conjuring mbak, jam 7 an”

Saat aku liat jam. Udah jam 7 pas.

“Maaf dek tiketnya udah abis”

SIP banget. Aku udah nerka kita pasti dapet giliran yang jam 9 an. Yeah, akhirnya aku dan Fira bergegas dulu ke mushola.

“Yaudah, sasa sama fira ke mushola dulu ya. Mau solat maghrib”

Aku dan Fira ke mushola. Wudhu. Saling nitip nitip jam dan juga tas selempang yang aku pakai. Lalu solat.

Dan tau apa yang terjadi. Kita masih harus menunggu lagi. Soalnya jamaah yang sebelumnya masih rakaat ke 2 kayaknya-_- lalu aku ngecup mukena warna ungu. Tapi sial cuma atasan nya doang yang ada itupun rusak talinya-_- lalu bawahannya terpaksa pake mukena warna putih ( okeh, mukena atas bawah beda ._. ) aku udah gapeduli lagi. Pokoknya harus cepet solat.

“Assalamualaikum warah matullah”

Alhamdulillah, jamaah nya udah selesai.

Dengan secepat kilat. Jamaah tadi langsung mundur ke belakan karena mempersilahkan jamaah selanjutnya untuk solat. Aku ngambil barisan paling belakang sama Fira. Lalu memulai solat sendiri ( tanpa jamaah ) sangking buru-burunya.

SKIP

Selesai solat. Langsung lepas mukena. Aku gantungin lagi mukena nya tapi jatuh. Ah, ngapain pake ada acara jatoh segala? yaudah. Nasib mukena itu apes.

Selesai dari mushola. Pake sendal lalu keluar. Kita melintasi banyak orang yang ngantri buat jam 7. Berlalu lalang. Kami menempuh lalu lalangan yang ramai. Lalu mencari rombongan kami ( Calista, Yudith, Dinda, dan Nina ) . Setelah puas mencari akhirnya mereka ketemu di bangku paling ujung sana.

Dari taun kemaren sama aja pilihan bangkunya. Itu itu mulu. Ujung sana mulu.

Nyamperin mbak Yudith.

“Jadi gimana kita nontonnya”

“Jam 9 nan”

“Lu lu pada. Bayar ke gue gocap” Jawab mbak Yudith

“Nih, *ngeluarin duit* “

“Sip, gue bokek nih soalnya haha”

“Berarti kita nunggu dong?”

“iyalah, pada laper gak?”

“Kalo di traktir sih laper”

“Yaudah laper aja deh walopun gaada yang nraktir”

Akhirnya kita berangkat ke Hypermart di lantai satu. Belanja dengan anggun di minimarket nya. Beli jajanan dan air mineral.

Di tempat air mineral

“Mana nih yang paling murah?”

Kami ( Sasa, nina, fira ) adalah kelompok yang telat ngambil minum.

“Hmm.. ini 600 ml tapi harganya Rp 1.150 “

“Yaudah ambil aja. Daripada yang kecil. Kecil tapi harganya 1000 an. Cuma beti 150 perak doang! aca beli yang gede lah”

Irit iritan ceritanya.

Lalu udah mantep megang yang merek GRA*D. Lalu mau menuju kasir. Nemu lagi yang merek A*UA.

“Yang ini agak gedean harganya sama”

“Ah mana masa?”

“Ini nih” *nunjuk*

“Oh ini” *ngambil* *neliti*

“Coba aku liat ii keterangannya berapa mili”

“Eh sama aja inimah 600 ml kayak tadi”

“Mending yang ini aja deh”

Ke Kasir

“Nin kamu yang bayar aku gak ganti ya”

“Iya”

Fira bisikin aku,

“Tuh mbak katanya gakpapa”

“Heeh”

Toko Roti

“Nih, pada mau beli roti kagak?”

“Mau!”

Aku dan Nina lebih tertarik beli MCDonalds. Pengen makan nasi aja. Biar kenyang sekalian yagak?

Akhirnya kami menahan untuk tidak beli roti. Lalu sampe MCDonalds beli paket Medium.

Si Fira beli McFurry. Atasannya milo sama kentang. Aku dan Nina yang medium, Mbak Yudith makan roti yang tadi “kan udah gue bilang bokek” katanya, Dinda paket medium, Calista nyomot punya Dinda sambil makan rotinya.

Ayam aku gak abis jadi kusumbangkan buat mereka.

“Nih, yang mau ayam silahkan”

“Yang mau minum soda, minum aja”

GRAUK

Ayam jadi ludes. Minuman tapi gak abis.

Akhirnya kenyang. Tapi masih harus nunggu 1 setengah jam lagi.

“Ah, belom jam 9 nih”

Si Calista bangkit dari kursinya.

“Mbak, aku mau online gratis dulu yah” katanya sambil nyengir.

“Iya” Balas Mbak Yudith sambil geleng gelenngin pala. Di MCDonalds emg ada komputer buat online gratis gitu. Si Fira dan Dinda ngikut Calista yang online gratis. Buat apalagi coba kalogak buat buka Fb sm Twitter?-_-

Setelah kepergian mereka. Si Nina ngeluarin tiketnya.

“Pinjem sih nin tiketnya” Kataku. Lalu dia ngasih.

Aku langsung ngeluarin gadget. Lalu bersedia mau foto.

“Pasti mau di upload ke instagram ” Kata mbak Yudith terus aku nyengir nyengir aja. Instagram? belum tentu sih heheh.

“Sini biar gue foto sama tiketnya” Mbak Yudith nyambar tiket lalu naro di depan mukanya buat nutupin muka.

“Ciss”

JPRET

Ke foto. Lalu mbak Yudith sibuk milih effect yang bagus ( Camera360 ). Beliau memilih effect retro yang sweet. Oke di save.

Lalu tiket aku baringkan di meja. Nyari angle yang bagus. Lalu di jepret.

JPRET

Pilih effect yang bagus lalu aku pencet tombol back. ( Baru nyadar saat di rumah kalo pencet tombol back ternyata gak ke save. Yang kesimpen cuma foto Mbak Yudith dengan tiket di mukanya itu ._. akhirnya gue ngehujat kamera sialan itu ) . Sedangkan waktu di MCDonalds aku masih seneng 2 aja abis ngefoto tiket itu.

Nina udh selesai makan.

Mbak Yudith ngomong lagi. “Eh, solat isa aja dulu gih. Mumpung sambil nunggu kan?”

Oke, akhirnya aku nyusul fira calista dan dinda yang lagi ‘online gratis’. Langsung duduk di bangku nya fira. Ngeliat timeline facebook. Yang aku heranin kok mereka berani ya chatting depan umum. Dan yang aku heranin lagi. Si Fira dan Calista kan duduk sebelahan tuh. Tapi kok diorang malah chattingan ya? Kok ? Ah bodo ah ._. fenomena tersebut memang sudah sering terjadi. Misalnya saat aku kerja kelompok. Temen temen itu sedang berdekatan dengan aku. Malah aku smsan sama dia-_- orang jarak gak nyampe dua meter kok smsan toh ndok-_-

Para takenes yang lagi maen facebook itu terhenti.

“Fir solat isa dulu yok”

“nanti”

PRET

“Fir”

“Iya nanti… HAHAHA emot nya lucu bangett!”

“Iya haha” Sahut Calista.

Okeh, kalo gini mah susah mau ngajakin solat. Terpaksa aku nunggu sampe setengah jam baru mereka bangkit ( Yaps, setengah sembilan ).

Menuju ke lantai atas lewat eskalator. Lalu masuk ke ruangan khusus 21. Lalu ke mushola buat solat. Tapi..

“Kok sepi amat yak fir?”

TAp TAp

Aku melangkah ke bagian solat. Dan… TIDAK ADA SIAPA SIAPA DISANA! OH GOD!

Gak gak gak. Kalo gini mah aku beneran gak berani. Jangan jangannn!

“Udah ah mbak solatnya di rumah aja” Kata Fira.

“Heeh. Bener bener”

Abis itu kitorang ngacir pergi dari mushola.

SKIP

Theatre satu sudah dibuka. Para penonton yang memiliki karcis segeralah masuk ke ruangan ini

Kami akhirnya masuk. Dan sebelum masuk. Sempet ngemper duduk di bawah. Nungguin sampe si cleaning service selesai bersiin tempat duduknya. Abis itu baru membaur masuk ke dalam bioskop.

Dan disinilah mulai sesuatu yang membuat hatiku dag dig dug gaje. The Boy who i don’t know his face and his name. He just appeared his voices. Actually his voices while laugh.

Disinilah kejadian itu berlangsung. Klimaks dari cerita ini. ( Bakal di update ) MAU LANJUT GAK? WKWK SEMOGA ADA YANG TERTARIK SAMA CERITA INI-_-

TBC

3 comments

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s