Réalisé ~ PROLOG ~


Ff poster realise

Réalisé

Presented by Saarah / Bekicot Princess
 Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Choi Minho | Kim Jongin – Kai
Chapter
Dark, Fluffy romance, Adventure, Mystery
PG-17

————————————–

menunggu kebangkitan sang penakluk

————————————–

— Réalisé —

27 Maret 1785,
Istana Versailles, Prancis

Mataku mengejar embun di kedalaman senja. Meniti dari balik jendela bulat yang terpampang jelas dari luar. Bingkai ini mengalirkan suasana dingin padaku. Hingga aku memeluk diriku dengan kain sutra yang hangat dan juga syal yang menyelimuti leher hingga pundakku. Aku terpaku pada pemandangan senja. Esok hari perang dimulai dan aku harus siap. Harus siap menerima kenyataan yang sebenarnya. Bahwa Myungsoo akan mengikuti sejarah keluarganya. Menduduki takhta ayahnya yang akan lenyap. Menjadi raja Espron yang ke XIIV membalas dendam keturunannya.

Bonsoir, maître… (selamat malam, tuan)”

Aku mendelikan leherku ke arah pelayan yang memanggilku. Atau bisa disebut juga, pengawal tetapku. Yang mengawasiku selama 10 tahun terakhir.

Aku tidak menjawab sapaan malamnya. Tetap terkatup hingga si pengawal membuka mulutnya,

“Kau sudah siap, maître ?”

Kalau boleh jujur, aku belum siap. Sepenuhnya, aku belum siap. Sama sekali. Bolehkah aku bilang padanya agar perang dibatalkan. Bolehkah aku bilang bahwa sebaiknya kita mengalah untuk Espron ?

“Iya, jika ayahku memang bilang begitu. Aku siap mempertaruhkan takdirku demi menjadi putri yang menjaga martabatnya” Lirihku sembari menarik sedikit syal dari areal wajah. Kebiasaanku setiap menggunakan syal. Pasti mulutku akan selalu kulindungi. Yaitu terbekap dalam syal. Syal yang tebal, ayah membelinya dari sebuah toko di Merseile.

“–dan .. tolong jangan panggil aku maître. Namaku Jiyeon..”

Pengawal itu berubah raut. Matanya dialihkannya ke tempat lain. Ia tidak berani menatap mataku. Ia … tersentak.

“Ah… ” Ujarnya dengan raut yang sama.

Aku tersenyum. Berusaha menunjukan keramahanku yang sudah sekitar satu dekade tersembunyi. Aku bukan tuan putri yang ramah. Karena kesedihan yang semrawut di dalam diriku, aku pun berubah menjadi ‘dingin’.

Lagi – lagi pengawal itu tersentak.

“Aku serius. Anggap saja aku teman. Aku sungguh butuh teman malam ini–“

“–siapa namamu?”

Walaupun ia pengawal tetapku selama 10 tahun. Selalu bersamaku tiap harinya. Namun, dia tidak pernah memberitahukan namanya.

“Ini melanggar peraturan..” Jawabnya sembari gemetar.

“Tidak apa – apa, aku berani menjamin kau tidak akan dihukum” Ujarku menenangkannya. Pengawal itu terlihat sedikit berfikir lalu menjawab dengan singkat.

“Minho”

Setelah dia mengucapkannya, suasana menjadi senyap. Aku bangkit dari tempat dudukku dan mengambilkannya sebuah jubah. Jubah yang cukup lebar untuk menutup seluruh tubuhnya. Sebelum aku memakaikan ini padanya dan menceritakan yang sesungguhnya padanya. Aku harus meyakinkannya dahulu. Kalau tidak, tentu saja ia akan melaporkan segalanya pada ayah. Tentang diriku yang tidak menginginkan perang, menentang ayah, dan kabur dari istana. Bahwa aku mencintai Myungsoo. Seorang lelaki gagah dari Kim bersaudara. Putra mahkota dari sang raja yang ingin membalas dendamnya pada kerajaan keluargaku. Bisa diartikan jika kau mengumpamakan hidupku ini adalah sebuah dongeng, bahwa kerajaan Espron adalah jahat dan kerajaanku ( Tour De Magie ) adalah baik. Kim bersaudara ( Myungsoo & Kai ) dahulu adalah seorang putra mahkota yang baik, gagah, tangguh, dan manis. Namun, kenyataan berubah sejak usia mereka menginjak remaja. Namun, cinta ku pada Myungsoo tidak akan pernah berubah. Memang jatuh cinta padanya adalah sebuah kesalahan. Namun bersikeras aku menjaga perasaanku ini. Aku .. adalah tipikal yang keras kepala namun rapuh. Rapuh adalah kelemahanku. Jadi sekarang, aku membutuhkan Minho … untuk melanjutkan misiku yang tidak terencana ini.

Aku mendekat ke arah pengawal itu sembari menggegenggam sebuah jubah.

“Bersediakah kau menjadi temanku? Membawaku berpetualang bersamamu, membela keadilan semata demi aku?”

Lagi – lagi pengawal itu gemetar. Ia pasti sibuk berfikir. Ya, kutahu ia pasti lebih takluk pada ayah dibanding aku. Mau bagaimanapun, aku hanyalah seorang putri yang masih dalam naungan ayah dan ibu. Tak pantas menghakimi pengawal seperti dia. Tak pantas memberontak seperti ini. Namun, ini demi..

“Apa kau berjanji?”

Pengawal itu menunduk. Menggenggam erat kepalannya, berfikir keras, menelaah tiap kata yang dikeluarkan olehku.

“Oh ayolah…” Ujarku. Sembari menatap penuh harap ke arah bola mata cokelat milik Minho. Minho–pengawal itu– seketika langsung menundukan kepalanya kembali. Tak ingin beradu matanya denganku.

Aku kembali menahan emosi. Aku ingin rasanya membuang jubah yang kupegang ini begitu saja di lantai. Aku mengepalkan tanganku kuat – kuat. Mengapa pengawalku ini tak kunjung mengerti?

“Baiklah .. aku berjanji. Jika perlakuanmu masih dibatas normal”

Pengawal itu akhirnya berani menatapku dari sudut mata elangnya. Ia membungkuk padaku hendak keluar dari padi – padi kamarku. Aku menatap bahunya yang menjauh.

Baiklah, kurasa siasat ini akan kulakukan nanti

— Réalisé —

“Ayah..”

Aku bersimpuh pada ayah. Ia sedang memandang langit senja dibalik jendela. Dari sini mungkin ia ingin memandang suasana Espron.

“Diluar sana burung wallet beterbangan… kerajaan Espron hidup dalam kekerasan. Tidak seperti kita”

Suaranya yang bijaksana memenuhi ruangan. Gaunku yang lebar serasa membasuh karpet merah kulit domba itu.

“Ayah…” Sekali lagi aku memanggilnya.

Ayah tak kunjung berbalik. Ia terus melanjutkan kalimatnya. Seperti biasa, ia pasti bisa membaca fikiranku, walau terkadang meleset dan jauh.

“Kau takkan bisa meredam dendam mereka. Mereka adalah manusia yang bergejolak nafsu untuk membunuh. Tour De Magie harus bisa membalasnya, ini dendam keturunan keluarga. Ini sejarah. Takkan ada perdamaian”

Rasanya aku ingin menangis. Mengapa takdir mengerikan ini menimpaku? Mengapa orang yang kucintai ada di pihak musuhku?

“Musuh tetaplah musuh. Espron tetaplah Espron”

Aku memejamkan mataku sembari bersimpuh. Lalu aku bangun untuk berdiri tegak. Perlahan kugerakan sendiku dan memandang ayahku dari jauh.

“Bukan hanya ibumu yang menjadi korbannya.. melainkan buyutmu juga. Raja Tour De Pagie ke XVI mengalami mimpi terburuknya. Tidak ada lagi perdamaian, dendam tetaplah dendam”

Aku terlemas dan kesal. Sudah cukup ayah mengutarakan seberapa bencinya ia dengan Espron. Sudah cukup! Aku tidak ingin menemuinya lagi! Aku benci pada negeri ini!

Aku pun meninggalkan ruangan ayahku. Menelusuri koridor yang panjang dengan pajangan disetiap dindingnya. Dinding kami adalah sebuah dinding kayu yang terbaik di negeri ini. Bahkan kami diakui sebagai kerajaan terbaik di negeri ini.Aku berlari terus menyusuri tangga dan memasuki kamarku. Di dalam kelambu aku  menangis. Mengapa perang antar kerajaan yang sudah bertahun – tahun kuhindari, menjadi begitu cepat? Mengapa? Aku hanya ingin, memastikan ia aman. Ia cinta pertamaku,

Ibu memang menjadi saksi kekejaman Espron. Ia ditemukan wafat di daerah Basilika Saint-Denis ( wilayah kekuasaan Espron ). Ia dinyatakan diculik oleh pihak kerajaan. Walaupun jantung ibuku tetap di awetkan dengan alkohol dan disemayamkan dengan hormat. Namun, dendam tetaplah dendam. Tour De Magie, tetap saja tidak terima.

— Réalisé —

Flashback

Seorang gadis kecil yang manis. Berkendara dengan kereta kudanya. Dikemudikan oleh seorang sipir yang ramah. Tudung kereta itu terlihat indah bak megah. Sang putri kecil itu merasa di agungkan. Ia bangga sekaligus senang, ia sadar akan takhta yang ia akan jabat. Ia .. putri kecil yang cerdas..

Di sebelahnya duduk sang ibunda.. membelai rambut cokelatnya yang halus tergerai.

“Jiyeon, kita akan berkelana ke pasar”

Sang ratu tersenyum kepada anaknya. Lesung pipi nya yang nyata terlihat. Ia merapikan rambut anaknya itu, lalu ia menyanggulnya sendiri seperti tata rambut yang lihai. Tiba – tiba sang sipir berhenti mengemudikan kereta kudanya.

“Désolé (maaf), tetapi kita hampir menyentuh perbatasan kerajaan. Diseberang adalah Espron, reine (ratu)”

Sang sipir membungkuk dengan lututnya yang bersimpuh di pintu dekat kereta. Sang Ratu pun mengiyakan. “Lanjutkan perjalanan”

“Baik, reine (ratu)” Sipir itu mengangguk mengerti dan segera bangun. Kembali menaiki kudanya.

Kereta kuda pun berjalan seperti biasanya. Hingga saatnya sepatu kuda itu menapakan kakinya ke sebuah pasar kecil di ujung perbatasan,

Sang Ratu dan putri kecil nya menuruni kereta kuda dengan anggun dan mulai memasuki areal pasar.

Mereka melihat – lihat aneka sayuran dan rempah – rempah disana. Juga beberapa badut penghibur yang beratraksi untuk menghibur anak – anak.

Si putri melepaskan genggaman tangannya dengan ibunya.

Ia menikmati hiburan dari badut itu. Tak satupun orang disana mengenali dirinya sebagai calon ratu Tour De Magie. Mereka acuh, tak peduli akan sosok Jiyeon yang begitu suci.

Dua orang lelaki kecil menghampiri Jiyeon dengan pedang yang tersimpan di pundaknya masing – masing.

“Aku tidak pernah melihatmu di kerajaan ini” Seorang lelaki dengan rautnya yang ramah menyapa Jiyeon. Ia mengulurkan tangannya pada Jiyeon. Ia tampak lebih pendek dibanding lelaki kecil disebelahnya.

“Perkenalkan.. aku Kim Myungsoo dan dia saudaraku Kim Jongin”

Ujarnya lagi. Lalu memperkenalkan saudaranya yang lebih tinggi darinya namun dengan warna rambut yang berbeda, yaitu pirang. Nampaknya lelaki kecil berna ma Kim Jongin itu tampak malu untuk berkenalan dengan orang asing.

Kim Jongin pun menaruh tangan di dadanya sembari membungkuk. Seperti adat yang di ajarkannya oleh kerajaan.

“Kim Jongin”

Ujarnya kikuk.

Myungsoo menepuk pundaknya. Lalu membisiki nya sesuatu, “Santai saja, dia hanya teman baru.. kurasa dia baik”

Jiyeon hanya memandang mereka berdua dengan raut bingung. Ternyata ada juga yang menyadari bahwa dirinya adalah orang asing. Namun, Jiyeon bingung bukan karena itu.. namun, karena mereka terlalu terburu – buru memperkenalkan diri mereka sendiri.

Kedua lelaki kecil itu memakai seragam berwarna cokelat. Kembar, walapun wajah yang tidak sama. Kantung pedang terlihat diangkutkan ke baju mereka. Diisi dengan sebilah pedang panjang bermata runcing. Myungsoo menyadari apa yang Jiyeon fikirkan. Ia pun menarik pedang itu dari bahunya.

“Nah..” Ia pun mengarahkan pedang itu ke arah Jiyeon. Gadis itu merasa takut dan spontan mundur. Namun, masih menstabilkan cara berdirinya.

“Kau gila” Ujar Jiyeon pelan. Sembari menutup mulutnya,

Myungsoo tertawa, lalu memasukan pedangnya kembali. “Kau terlihat penasaran, nona asing”

Kim Jongin yang disapa Kai oleh sekitar itu hanya tertawa kecil.

“Jadi siapa namamu nona asing?”

Jiyeon mengernyit namun ia tetap menjawab pertanyaan Myungsoo.

“Jiyeon..” Jawabnya pelan.

Myungsoo dan Kai tersenyum lalu membungkuk dengan gaya yang sama.

“Selamat datang di Espron, Jiyeon”

Flashback End

— Réalisé —

To Be Continued

Please don’t be a plagiator, silent readers, or anything that i hate it. This is my first fanfic with ‘dark’ and ‘adventure’ genre and this is my second fanfic with cast Myungsoo and Jiyeon (My Fav Couple XD). Too this is my first fanfic which placed in France with a kingdom stories and past time (1785). Please support me and this fanfic😄 If you love Myungyeon please subscribe ! ^^

Google Translate: *sangking males nulis ulang-_-*
Tolong jangan menjadi plagiator, pembaca diam, atau apapun yang aku benci. Ini adalah fanfic pertama saya dengan ‘gelap’ dan ‘petualangan’ bergenre dan ini adalah saya fanfic kedua dengan cor Myungsoo dan Jiyeon (My Fav Couple XD). Terlalu ini adalah fanfic pertama saya yang ditempatkan di Perancis dengan cerita kerajaan dan masa lalu (1785). Tolong dukung saya dan ini fanfic😄 Jika Anda menyukai Myungyeon silakan berlangganan! ^ ^

My Twitter: @Saarahsalsabil

PLEASE COMMENT READ AND LIKE !AND I ALSO NEED YOUR ADVICES AND CRITICISM !
MOHON KOMENTAR BACA DAN SUKA !
DAN AKU JUGA MEMBUTUHKAN SARAN DAN KRITIK !

^^ THANK YOU ^^

18 comments

  1. I seldom write remarks, however i did some searching and
    wound up here Réalisé ~ PROLOG ~ | Sasa Fanfiction. And
    I actually do have 2 questions for you if it’s allright.
    Is it only me or does it give the impression like some of the responses appear like coming from brain dead folks?
    😛 And, if you are writing at other online sites, I’d like to follow anything new you have to post.

    Could you make a list of the complete urls of your community sites like your Facebook page, twitter feed, or
    linkedin profile?

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s