OMCIA! YBIMA /Part 7b/


OMCIA!-Yadong-Boy-In-My-Apartement!

| Title |

One Month Crush In Apartemen! [Yadong boy in my apartemen!]

| Main Cast |

Park Leera

Kim Jong In

Park Chanyeol

Seo Joo Hyun

| Another Cast |

EXO Members

The Blonde Curly Girl

Sasangnim

| Genre |

School life, romance, fluff, AU

| Length |

Chaptered

| Rating |

PG-15

| Summary |

Tinggal dengan namja mesum itu di apartemen ini?! GILA! Shireo!

Previous Part

| Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6a | Part 6b | Part 7a |

NO PLAGIARISM PLEASE. AND IF YOU ARE SILENT READERS PLEASE GO OUT^^

warn! belum kuedit! jadi mian for typo yaaa :*

Previous Part

Apartemen Kai-Leera

“Kemana saja kau?”

Leera berdiri di depan pintu. Menyilangkan kedua tangannya. Lalu menatap Kai sinis.

Kai mendelikan bahunya. “Menyelamatkanmu dari Minyoung” Balas Kai asal. Lalu melempar tasnya ke sofa.

“Ya! Sudah kubilang gantung tas mu di belakang lemari!” Pekik Leera tidak terima. Sudah bagus sofa itu ia bersihkan tadi sore. Namun, kini Kai merusaknya.

“Terserah..” Kai berlalu ke kamar. Lalu menutup pintunya.

Leera terlihat menggeram kesal. Ia mengepalkan telapak tangannya kuat – kuat. Memandan pintu kamar itu dengan sebal. Ya! kau ini merepotkanku saja!

Akhirnya Leera menuju ke depan pintu. Tanpa basa – basi lagi. Ia membuka pintu.

Setelah pintu itu terbuka lihat. Lihat lah apa yang Leera dapatkan.

Kai sedang berganti baju! Omona!

“KYAAA!” Leera terperanjat dan mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Ia menutup wajahnya dengan tangannya dan menjerit – jerit karena telah melihat Kai toples.

Leera langsung meninggalkan pintu dan berlalu ke kamar mandi untuk cuci muka. Ingin membersihkan matanya yang telah kotor karena pemandangan yang tidak mengenakan tadi. Sial, mengapa aku harus melihatnya? Menyebalkan. Untung saja ia belum membuka celana nya , kalau tidak, matilah aku!

Leera terus mencuci mukanya dan menatap wajahnya yang basah di cermin. Kepalanya masih mengeluarkan asap karena emosi pada namja yadong nan byuntae itu.

#

Sekolah, Pengumuan nilai sosiologi

“Sasangnim akan membagikan hasil ulangan kalian”

“Chanyeol dengan nilai 97.. dan Kai..”

#

“Dan Kai … ”

Suasana senyap sejenak. Kai menahan nafasnya. Sementara Chanyeol sedang tersenyum kemenangan.

Paling juga ia dapat 50 atau 65…

Sasangnim itu mendelikan wajahnya pada Kai. Guru itu menyadari Kai yang menahan nafasnya. Kemudian, ia tersenyum kepada Kai.

“Selamat.. Kai mendapatkan nilai tertinggi di kelas ini. 100!”

Suara sorak – sorai mewarnai kelas dihiasi aneka tepuk tangan. Kai bangun dari kursi untuk mengambil kertas ulangannya. Sembari berjalan ke depan, ia menyeringai ke arah Chanyeol. Chanyeol pun terkesiap, matanya membulat tanda kaget. Tangan lelaki itu mengepal keras.

Kai tersenyum pada guru itu, lalu membungkuk. Setelah ia mendapatkan kertas ulangannya, ia langsung kembali ke kursinya.

Dari kursinya, Leera membulatkan matanya juga. Tak percaya. Setengah percaya dan setengah tidak. Kai? Kapan ia belajar? Mengapa .. nilainya bisa sebesar itu? Aku, aku tidak percaya…

Seohyun yang semula ikut teman – temannya dalam bertepuk tangan mendelik ke arah Chanyeol dan berhenti menepukkan tangannya. Wajahnya menunjukan raut bingung.

“Kau kenapa, Chanyeol-Ah?”

Chanyeol tidak menghiraukan ucapan Seohyun. Ia masih saja menatap Kai lekat, tangannya masih dikepalkan. Sial!

#

Istirahat,

“Chanyeol-Ah..”

Kai menepuk pundak Chanyeol. Lelaki itu tersenyum sembari memasukan tangannya ke kantung. Yang ditepuk pundaknya hanya diam.

“Kau harus membayar semuanya, Park Chanyeol” Ujar Kai lagi sembari bersandar di tiang koridor. Lagi-lagi koridor itu sepi, terisolir dari beberapa murid yang berlalu – lalang.

Chanyeol masih diam. Sehingga Kai masih saja berujar.

“Sudah jelas kan?”

Kepala Chanyeol yang semula menghadap ke tanah langsung berbalik ke atas. Memandang bola mata cokelat milik Kai. Kai kembali menepuk pundaknya.

“Baiklah..”

Dari jauh terlihat Sehun, Suho, Kyungsoo, dan Baekhyun berjalan ke arah dua lelaki yang secara sentimentil sedang bertemu itu. Baekhyun yang melihat Chanyeol ada di depannya hendak menjerit.

“Chanyeol-Ah!” Baekhyun langsung berlari menuju Chanyeol. Ia langsung merangkul pundak Chanyeol.

“Ayo..” Lanjut Baekhyun lagi.

Suho menatap Chanyeol dan Kai secara bergantian. Lalu mengajak mereka berdua untuk turun.

“Ayo turun dari sini. Apa yang kalian lakukan di koridor sepi seperti ini huh?” Tanya Kyungsoo. Sehun mengiyakan.

“Aku… curiga”  Sahut dompet EXO, Sehun.

Chanyeol langsung menyahut semangat. Berubah 360 derajat dari sifatnya semula. Ia tertawa dan berbicara seperti biasanya. Menjadi seorang Happy Virus, Park Chanyeol si telinga besar.

“Apa kau ketinggalan berita huh? Ada fans Kai yang meminta selca ku!” Jerit Chanyeol. Kemudian merangkul balik Baekhyun.

“Yasudah ayo.. lagipula kita kan harus melaporkan anggota tim kemah kita pada sasangnim bidadari itu” Ujar Suho santai dengan wajah yang berbinar.

Sehun mendesah sebal. “Ya, dasar Suho hyung”

#

Ruang Diskusi,

“Ehem..” Suho berdehem untuk memulai diskusi. Yang lainnya menatap malas dengan tidak bersemangat. Apa-apaan sih dia?

“Oke, besok adalah hari dimana kita kemah! Jadi mulai sekarang kita harus saling memastikan bahwa kita adalah satu tim yang kuat! Disini .. aku akan membagikan informasi” Ceramah Suho sambil memegang kertas – kertas. Seperti peta.

Kai memutar bola matanya. Dasar lamban.. dari tadi to the point saja apa susahnya sih?

Seohyun duduk di sebelah Leera. Kai disebelah Kyungsoo. Lalu seperti biasa, Chanyeol dan Baekhyun bersebelahan. Sementara Sehun berada di sebelah Suho yang berada di tengah. Suho sedang berdiri agar semua orang dapat melihatnya. (Maklum tinggi badan)

“Kita akan pergi ke hutan di arah selatan. Hampir menyentuh perbatasan Daejeon. Disini tertera namanya, Hutan Daeyul. Luas hutan sekitar 300 hektar. Pohon disana dominan tinggi dan berdaun lebat” Timpal Suho lagi.

Leera bergidik. Pasti ia akan menjumpai lumpur, cacing – cacing menggelikan dan yang lainnya. Kalau begitu bagaimana ia bisa bertahan hidup? Mungkin, ia tidak akan mandi selama 3 hari.

Leera pun mengangkat tangannya untuk bertanya.

“Apa disana ada binatang buas?”

Suho terdiam sejenak. Sementara Kai mendelik ke arahnya sembari menaikan alisnya.

“Tidak, tidak akan ada binatang buas” Jawab Suho.

Leera menghembuskan nafas lega.

“Tenang saja, nanti Kai pasti akan melindungi mu, Leera-ya. Hihi” Baekhyun mendelik ke arah Kai sembari tersenyum jahil. Kai hanya diam, tidak meladeni Baekhyun yang menggodanya. Sementara Leerah hendak menjerit, namun ia tahan karena banyak orang disini.

“Cih”

“Baiklah aku lanjutkan ya” Suho berdehem.

“–Kita hanya diberikan waktu 3 hari 2 malam, jadi kita harus mendapatkan tumbuhan langka itu secepatnya. Katanya sih, kita mendapatkan hutan termudah” Suho sedikit memelankan suaranya. Takut di dengar peserta kemah lain.

“APA? HUTAN TERMUDAH?!” Jerit Sehun. Spontan Suho membekap mulutnya. Lalu menatap sekitar.

Daehyun mendelik ke arah Sehun dan Suho yang saling membekap mulut. Lalu kebingungan sendiri.

“Apa? apa tadi? Hutan apa?” Tanya Daehyun sembari mengorek kupingnya.

Suho berfikir sejenak. Daehyun terbengong.

“Tadi itu, hutan ter– gzppp” Sehun yang ingin berbicara lagi di sela sela tangan Suho langsung dibekap kembali. Kali ini ditambah Kyungsoo yang ada di sebelahnya.

Suara Sehun tambah tidak jelas. Suaranya seperti orang yang berbicara di dalam air.

“Hutan ter- ter apa?” Tanya Daehyun lagi. Ditambah Suzy yang datang, menimbrung diantara pembicaraan tidak penting itu.

“Ada apa?” Tanya Suzy pada Daehyun. Daehyun mengangkat bahu. Lalu Suzy langsung menarik Daehyun pergi dari sana.

“Ayolah.. diskusi tim kita kan akan dimulai” Ujar Suzy sedikit tegas. Daehyun mengangguk pelan lalu pergi.

Setelah mereka pergi, Suho menghembuskan nafas lega.

“Paboya, Sehun-Ah!”

PLETAK!

“Ah, sakit hyung” Ujar Sehun sembari mengusap – usap kepalanya.

Suho melotot padanya dan dibalas gelengan dari Kyungsoo. Sementara Seohyun dan Leera menahan ketawanya.

“Yasudah, ayo kita mulai diskusi nya lagi”

Diskusi itu akhirnya berjalan dengan normal.

#

Pulang Sekolah,

Bodohnya kali ini Leera sedang sendirian di koridor sekolah. Ia tidak sadar kalau ia masih menjadi incaran Minyoung. Tentu saja Minyoung tahu bahwa Leera satu tim dengan Kai. Minyoung sangat geram dan mencari Leera ke seluruh penjuru sekolah. Ia akhirnya menemukan Leera sendirian di koridor.

Babo sekali yeoja itu. Apa ia tidak ingat peringatanku kemarin huh?

“Hei Kau!”

GREBB

Kerah baju Leera kini sudah digenggam kasar oleh Minyong. Sorot mata Minyoung yang terlihat benci itu menatap Leera tajam. Sementara Leera terhenti dari langkahnya. Ia ketakutan. Tak tahu harus meminta tolong pada siapa.

“Kau tahu kan konsekuensinya?! HAH!”

PLAK

Leera mendapat tamparan dari Minyoung. Sangat keras, hingga Leera terjatuh. Kini tubuh Leera terhempas ke tanah. Rasanya ia tidak kuat untuk bangun. Tubuhnya terlalu kaku dan lidahnya kelu, tak mampu mengucapkan apapun. Sementara itu Minyoung semakin marah. Ia mendekati tubuh Leera yang terjatuh lemas.

“HAH! Dengar ya kau yeoja tidak tahu diri! Sudah kuperingatkan kau beberapa kali namun kau masih saja dekat-dekat dengannya!”

Minyoung menendang tubuh Leera. Leera meringis kesakitan, ia memejamkan matanya. Takut untuk menatap mata Minyoung. Tiba-tiba datang Ahryin dan Hyerin. Berdiri di samping Minyoung dengan seringai.

“Butuh bantuan kami?” Tanya Hyerin sembari tersenyum evil ke arah Minyoung. Minyoung mengangkat alisnya. Lalu berujar,

“Ambilkan aku tongkat baseball, Hyerin-Ah” Ujar Minyoung santai lalu menggulung kerah bajunya. Siap untuk memukul wajah Leera.

Ahryin menjerit ke arah Leera agar ia segera bangun. “Ayo bangun! Berdiri! Dasar kau ini lemah sekali!” Ahryin mengelilingi tubuh Leera yang terbaring lemas sembari melipat kedua tangannya.

“Kalau kau tidak segera berdiri, akan kutendang kau!” Jerit Ahryin, masih dengan raut yang sama.

“Satu.. dua…”

Akhirnya Leera pun mencoba berdiri. Ia tertatih, berpegang pada tiang disebelahnya.

Lalu Ahryn menendangnya sebelum Leera sempat berdiri tegak. Leera pun kembali terjatuh.

“Ups, maaf.. tidak sengaja” Katanya sembari tertawa. Minyoung menyeringai kearah Leera.

“Ini semua ulahmu sendiri, Leera-ya. Karena KAU! TIDAK MAU MENJAUHI KAI!” Jerit Minyoung penuh kemenangan.

“Sebentar lagi Hyerin akan datang dengan membawa tongkat baseball.. Sebentar lagi, wajahmu akan memar. Bersiaplah”

Leera memejamkan matanya sembari menangis. Ia tak kuat lagi memendamnya. Sekarang ia lebih dari takut pada Minyoung. Ia tak bisa lagi menggerakan tubuhnya. Ia sekarang kaku. Ia tak bisa berbuat apapun. Mengapa.. mengapa Minyoung terlalu egois?

Leera terus berbaring di lantai dengan lemas dan takut. Tangannya gemetar hingga telinganya mendingin. Nafasnya berderu..  dan jantungnya berdegup sangat kencang. Leera, ia sangatlah takut.

Ya Tuhan.. kapan ini akan berakhir?

#

“Kau.. kau tidak menjaganya?”

Ujar Kai sedikit menjerit pada Chanyeol. Lelaki tinggi itu menoleh ke arah Kai dengan raut bingung.

“Menjaganya, memangnya aku baby sitter nya apa?” Tanya Chanyeol balik dengan tidak terima. Kai kembali menepuk pundaknya.

“Pergilah sekarang, dan selamatkan dia. Perasaanku tidak enak” Ujar Kai sembari memasukan tangannya di kantung. Ia menatap ke arah belakang. Mencari – cari gadis rapuh itu. Apakah Minyoung masih mengejarnya?

Chanyeol mendesah sebal. “Ya, Kai-ya.. kalau kau khawatir mengapa bukan kau yang menjaganya huh?” Tanya Chanyeol sembari memberi raut malas.

Kai tersentak. Khawatir? Kai khawatir pada Leera? Tidak!

“Aniya! Aku tidak khawatir padanya” Ujar Kai sedikit menjerit. Chanyeol menyeringai,

“Kalau kau mau tahu, aku sama sekali tidak mengkhawatirkannya tahu” Lanjut Kai lagi, sembari menunduk.

Chanyeol menatap ke depan dan mengangkat alisnya. “Ya ya.. baiklah, aku akan mencarinya..” Ujar Chanyeol.

Seohyun mendelik ke arah Chanyeol. “Kau mau kemana?” Tanyanya. Chanyeol menunjuk gedung sekolah.

“Mencari seseorang, tunggu aku ya!” Ujarnya bersemangat lalu berlari ke pintu masuk. Mencari Leera,

#

Tongkat baseball itu sudah berada di tangan Minyoung. Ia mendekati tubuh Leera yang meringkuk diatas tanah.

“Hyerin, Ahryin.. angkat dia!”

Spontan kedua temanya itu mengikuti apa kata Minyoung. Mereka langsung mengangkat tubuh Leera yang lemas dengan paksa. Kasar, membuat Leera kembali meringis. Sakit…

Mereka membanting Leera ke arah dinding. Ahryin dan Hyerin menahan tangan Leera agar gadis itu tidak memberontak. Mereka menahannya dengan kasar,

Tidak… aku mohon jangan..

Minyoung mendekati Leera yang sudah tertahan. Ia menggenggam erat tongkat baseball itu dan berujar penuh kemenangan.

“Aku tak segan memukuli mu sampai mati Leera-ya. Kau memang pantas mati karena perbuatanmu itu”

Tongkat itu mulai terayun ke udara. Perlahan – lahan dengan slow motion tongkat itu menyentuh atmosfir di atasnya, berayun dari jarak yang jauh hingga hampir menyentuh permukaan wajah Leera.

Namun,

SRETTTTT!

Chanyeol sudah berdiri di depan Leera. Ia melebarkan tangannya ke kanan dan kekiri agar tongkat baseball itu tidak mencapainya. Chanyeol berdiri dengan raut lelah, nafasnya tersengal – sengal. Alisnya menekuk tanda marah pada Minyoung. Leera kaget, ia langsung membuka matanya. Dari sana Leera hanya mampu melihat bahu seorang lelaki yang melindunginya. Lelaki itu jauh lebih tinggi dari pada tubuhnya. Leera terkesiap dalam hati ia mengucapkan rasa syukurnya.

Chanyeol-Ah? Itu kau?

Sementara Minyoung, ia kaget dan membulatkan matanya. Tangannya yang semula terdorong begitu kuat untuk memukulkan tongkat baseball itu ke wajah Leera kini langsung melemas dan kaku. Ia terdiam membeku menatap lelaki tinggi di depannya yang menghalangi sasarannya.

Spontan Ahryin dan Hyerin melepaskan tangannya yang menahan tangan Leera. Tangan Leera terjatuh begitu saja.

Angin musim panas berhembus dari jendela besar. Menerpa mereka semua yang masih dalam keadaan kaget.

Sebutir keringat menetes di dahi Minyoung. Perlahan tangannya mulai turun dari udara, pegangannya pada tongkat baseball itu mengendur dan akhirnya terjatuh. Bunyinya menggema ke telinga Leera. Tongkat itu berguling menjauh dari mereka. Sunyi, senyap menghiasi keadaan sekarang.

“Jangan pernah ganggu dia lagi”

Chanyeol membuka suara beratnya. Suasana senyap itu pecah. Leera terus menatap lelaki di depannya, tiba-tiba saja detak jantung nya kembali cepat.

Chanyeol… ia melindungiku?

Chanyeol kembali berdiri tegap. Ia membalikan tangannya. Setelah itu, ia memandang tongkat baseball yang jatuh itu. Lalu menendangnya jauh – jauh.

“Kau hampir saja membunuhnya,” Ujar Chanyeol lagi pada Minyoung.

Minyoung hanya menatapnya kaku. Perlahan gadis itu mundur dari langkahnya.

“Ini semua karena ulahnya,” Balas Minyoung pelan. Ia menatap Leera geram dari balik tubuh Chanyeol yang menghalanginya.

“Ia yang memintanya,” Timpal Minyoung lagi. Ahryin dan Hyerin terdiam.

Chanyeol tetap menampilkan raut marah. Ia tak percaya Minyoung sekejam ini pada Leera. Ia ternyata sekejam ini, ia hampir saja membunuhnya.

“Kau itu egois, Lee Minyoung”

“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri..”

“Dan.. kau salah paham terhadapnya”

Senyap… suasana kembali hening, Minyoung mengolah baik-baik kata – kata lelaki di depannya. Pikirannya semrawutan, Minyoung tenggelam dalam perkataannya sendiri. Lidah gadis ini menjadi kelu, ia tak bisa mengucapkan apapun ataupun mengelak.

“Kau membohongi kedua temanmu ini, “

“Kau memfitnah Park Leera demi mendapat pembelaan ..”

Chanyeol melangkah ke arah Minyoung. Hendak mencapai kerah Minyoung untuk memukulnya. Namun, ia mengurungkannya karena sadar Minyoung masihlah wanita yang tidak pantas dikasari.

“Kau itu egois”

Minyoung memundurkan dirinya ke dinding. Tubuhnya terhempas ke dinding dengan hati yang masih shock. Bagaimana tanggapan teman-temannya tentang ini? Apakah Ahryin dan Hyerin akan meninggalkan dirinya begitu saja?

“Aku tidak menyangka, Minyoung..” Ucap Hyerin tiba-tiba. Ia menatap Minyoung tajam dari sudut matanya. Temannya, tega menipunya?

“Kau menipu kami ” Ujar Hyerin lagi. Ia mengepalkan tangannya kuat – kuat.

“KAU MENIPU KAMI!”

Hyerin menatap Minyoung tidak percaya dan hendak menangis. Lalu gadis itu tak sudi menatap Minyoung lagi. Pandangannya berada ke pihak Ahryin yang masih terdiam.

Hyerin langsung menarik tangan Ahryin untuk pergi dari sana. Suara langkah kaki menuruni tangga pun menggema ke penjuru koridor. Kedua teman yang  merasa di bohongi itu menuruni tangga dengan kesal. Meninggalkan mantan sahabatnya yang telah tega memanfaatkan temannya sendiri.

Chanyeol memasang ekspresi marah ke arah Minyoung.

“Aku adalah namjachingunya, jadi tak mungkin ia mengejar Kim Jong In milikmu itu!”

Lalu menarik Leera pergi dari sana.

Kini Minyoung sendirian disana. Ia terduduk lemas di lantai. Menangisi perbuatannya sendiri. Ia menatap lamat tongkat baseball yang sudah menjauh itu. Ia merangkul lututnya sendiri , menangis di dalam kegelapan koridor disana.

#

Mobil,

“Kau tak apa?”

Leera terdiam. Wajahnya masih hangat karena sentuhan dari Chanyeol. Lelaki itu menyentuh dagu Leera agar bisa menghadap ke arah wajahnya.

Tentu saja Leera sangat gugup. Ia tak biasa dengan tingkah Chanyeol yang seperti ini. Ia masih terdiam, hanya anggukan dan gelengan yang membuatnya berkomunikasi dengan Chanyeol.

Chanyeol berujar pada Kai yang sedang menyupir. “Nanti urusi dia, sepertinya ia mendapat luka ringan di bagian kaki dan pipi”

Kai hanya membalas dengan, “Nde..”

Seohyun yang duduk di sebelah Kai ( sebelah kursi kemudi ). Sedari tadi terus menghadap ke belakang, menatap Leera cemas. “Separah itu kah?” Tanya gadis itu dengan alisnya yang ditekuk tanda khawatir.

Akhirnya Leera kembali bersuara, “Ah, aku tidak apa – apa Seohyun-Ah” Jawab Leera , namun masih kaku dan gugup. Nadanya sedikit bergetar,

Chanyeol tersenyum hangat ke arah Leera. “Untung kau sudah mulai bisa berbicara” Ujarnya lembut. Leera tersenyum malu, pipinya mulai memerah. Darahnya kembali berdesir seperti biasa disaat Chanyeol berdekatan dengannya.

Aku tak bisa terus berdekatan dengannya, atau kalau tidak aku takkan kunjung bisa berbicara dengan lancar.

Leera terus menguasai detak jantungnya yang liar. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela, berusaha memandang jalanan yang luas. Mungkin pemandangan toko dan mall bisa merindangkan hatinya saat ini. Walaupun sekarang harusnya ia senang karena Chanyeol mengakuinya sebagai namjachingu nya namun ia masih merasa sedih. Rasa sedih itu  masih terbesit di hatinya. Entah karena Minyoung atau yang lainnya?

“Jika kau lelah, tidurlah” Ujar Chanyeol sembari membelai rambut Leera. Leera tersentak, pandanganya langsung berpindah ke bola mata cokelat milik Chanyeol. Mata Chanyeol yang teduh menghanyutkannya, Leera pun mengangguk lemas.

Dengan spontan Chanyeol menaruh kepala Leera dengan lembut di pundaknya. Ia berujar di tengkuknya, “Tidurlah..” Ujar Chanyeol.

Leera kembali mengalami sakit jantung. Mengapa Chanyeol begitu romantis? Mengapa? Apakah perjodohan itu berhasil? Apa yang Kai lakukan pada Chanyeol?

Dari waktu ke waktu akhirnya Leera terbuai. Matanya yang lelah itu akhirnya terpejam erat. Wajahnya yang panas mulai normal. Ia tertidur di pundak Chanyeol.

Kai menatap ke belakang barangkali sebentar. Memastikan keadaan mereka berdua. Lalu kembali menatap ke depan untuk menyetir. Dia.. kelihatan bahagia

#

Apartemen,

“Kau sudah jadian dengan Leera?”

Tanya Seohyun sembari menuangkan teh hangat ke cangkir. Ia mengawasi raut Chanyeol yang sangat aneh.

“Ya begitulah..” Ujar Chanyeol singkat. Rautnya terlihat sangat aneh, tidak seperti orang yang sedang jatuh cinta.

“Masih shock dengan keadaan Leera ya?”

Seohyun menatap Chanyeol khawatir. Lalu mencoba tersenyum, “Tenanglah, besok aku yakin Leera akan sembuh. Ia tidak akan apa – apa”

Chanyeol tersenyum kaku. Lalu meminum teh nya. Rasa teh yang semula manis itu berubah pahit di tenggorokannya. Ia merasa aneh, “Terimakasih” Balasnya.

“–terimakasih sudah menghiburku”

Seohyun tersenyum malu lalu mengangkat baki teh. “Itu gunanya teman kan?” Sahut Seohyun. Lalu berbalik ke dapur.

Teman?

Dada Chanyeol merasa sakit mendengarnya. Teman? Kali ini memang saat yang tepat untuk memanggil Chanyeol teman. Chanyeol bingung, sebenarnya apa perasaannya saat ini terhadap Seohyun. Ia merasa senang jika bersama gadis itu. Ia senang melihat senyumannya, tingkahnya, dan yang lainnya. Namun, sekarang ia justru terbelenggu? Ini rumit.

Chanyeol melepaskan mulut cangkir itu dari bibirnya. Ia menatap bahu Seohyun yang menjauh ke dapur.

#

Leera masih kaku. Ia duduk di sofa memandang televisi yang menyiarkan acara komedi di channel yang sama disaat ia kesal waktu itu. Ia menggenggam cokelat panasnya dengan kaku.

Baru saja kemarin ia melihat Kai yang toples. Dan hal itu masih saja terbayang – bayang olehnya. Ia juga masih membayangkan kejadian di koridor tadi, disaat Minyoung memukulinya. Dan.. Chanyeol..

Perlahan bibir Leera menyeruput cairan hangat itu. Aliran cokelat hangat mengalir ke tenggorokannya. Mengalirkan aura hangat keseluruh tubuhnya. Sedari tadi gadis ini tidak tenang. Ia hanya ingin menenangkan dirinya.

“Hai..”

Kai duduk di depannya. Mengambil secangkir cokelat panas juga. Ia meniupnya, menimbulkan asap yang bercampurkan ke atmosfir.

Untuk apa ia menyapaku?

“Aku hanya ingin membahas yang tadi”

Kai masih meniup asap di atas cokelat panasnya. Leera masih terdiam kaku, masih terbayang olehnya tubuh Kai kemarin.

Tidak, aku tidak bisa menatap wajahnya sekarang.

“Hei..” Tegur Kai yang menyadari Leera hanya terdiam.

“Apa kau senang sekarang, apa perasaanmu?”

Aku tidak tahu Kai.. aku bingung,

Leera langsung melepaskan bibir cangkir itu dari bibirnya. Menjauhkannya dari areal wajahnya dan menaruhnya di atas coffee table. Ia meneguk ludahnya dalam – dalam dan memberanikan untuk melihat lelaki di depannya.

“Nde.. Gamsahamnida..”

Leera mengucapkannya dengan sangat pelan. Namun, seperti biasa Kai bisa mendengarnya. Leera menundukan wajahnya, Ish! Mengapa aku tidak berani menatap wajahnya. Babo!

Kai meneruskan kegiatan meminum cokelat panasnya. Sepertinya sudah tidak terlalu panas untuk lidahnya.

“Ah, kau tidak menjawab pertanyaanku..” Ujar Kai sembari menatap gadis di depannya. Ada apasih dengannya? Mengapa menunduk begitu?

Kai memutar bola matanya dan mengerti mengapa Leera begitu. Apa ia tidak terbiasa dengan sentuhan namja? Kulihat Chanyeol tadi terlalu banyak menyentuhnya.. atau? Kemarin? Disaat ia mendobrak pintu dan aku sedang berganti baju?

“Sudah, jangan fikirkan itu lagi…”

Raut Kai terlihat biasa saja. Ia masih mengawasi raut Leera. Ternyata gadis itu kaget. Mungkin karena Kai berhasil menebak isi hatinya?

Mengapa Kai begitu mudah membaca fikiran orang lain?

Leera mengedipkan matanya beberapa kali. Ia pun mendongakkan kepalanya perlahan untuk menatap lelaki itu. Lalu menghembuskan nafas berat.

“Kau tidak perlu mengetahui apa perasaanku sekarang. Ya kau pasti tahu”

Senyap.. mereka terfokus pada cokelat hangat masing – masing. Pikiran Leera masih melayang ke arah Chanyeol. Mengapa, yang aku bingungkan mengapa ia tidak mengakui perasaannya dahulu kepadaku?

Kai memandang Leera lama. Menunggu gadis itu bertanya sesuatu padanya. Kai tahu, ia pasti bingung. Mungkin hari ini adalah hari teraneh untuknya. Namun, setelah waktu bersenggang lama, Leera tak kunjung bergeming. Akhirnya Kai bangkit dari kursinya,

#

Pagi Harinya,

“Siapkan barang – barangmu, Chanyeol-Ah”

Seohyun membenahi ranselnya. Peluhnya mengalir, berkali – kali ia bolak – balik dari arah dapur ke ruang tengah.

“Tunggu sebentar! Aku belum selesai mandi!”

Chanyeol menjerit dari arah kamar mandi. Semalam lagi – lagi  Chanyeol tidur terlalu awal sehingga ia tidak sempat membenahi barang – barangnya untuk kemah nanti. Kemah akan dilakukan hari ini, pertama – tama mereka harus berangkat ke sekolah untuk berkumpul. Baru mereka akan pergi dengan kendaraan masing – masing.

Seohyun menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Yasudah, daripada kau telat. Aku siapkan saja ya” Ujar Seohyun sedikit menjerit. Chanyeol membalasnya dengan ‘iya’ yang keras.

Seohyun pun masuk ke kamar Chanyeol. Menuju lemari dan membukanya. Ia mengambil beberapa kaus dan celana panjang. Ia pun menimang – nimang mana baju yang bagus untuk Chanyeol pakai. Lalu ia memasukannya ke ransel.

Seohyun tersenyum kecil sembari melihat susunan baju Chanyeol yang berantakan itu. Perlahan ia merapihkannya.. hingga terlihat rapi.

Baju dan celana panjang sudah terselesaikan. Jaket dan aneka keperluan lainnya juga sudah. Kini tinggal pakaian dalam, Oh tidak… Chanyeol membiarkan Seohyun menyentuh pakaian dalamnya?

Seohyun pun berfikir sejenak. Alangkah tidak sopannya aku jika menyentuh pakaian dalamnya..

Setelah berkali – kali berfikir. Seohyun pun menghembuskan nafas berat lalu menuju lemari kecil di sebelahnya. Ia sudah bersiap membuka lacinya,

“JANGAN!!!!”

DZIINGG

Seohyun terkesiap. Tangannya sudah digenggam Chanyeol erat. “Jangan.. kumohon..”

Seohyun pun dengan sangsi melepaskan panel pembuka laci itu dan menjauh. Ia pun membungkuk pada Chanyeol untuk meminta maaf. “Mianhae, Chanyeol-Ah.. aku tidak tahu”

“Mian nde..” Seohyun kembali meminta maaf.

Chanyeol memandang Seohyun dengan tidak enak. “Ah, maaf aku juga terlalu kasar menjerit padamu, hehe”

“Lain kali jangan ya” Ujar Chanyeol. Ia mengacak rambut Seohyun. Seohyun merasa malu. Ia pun langsung terbirit keluar kamar Chanyeol.

Ah, mengapa aku bertindak tidak senonoh seperti itu. Ya ampun..

Chanyeol menutup pintu kamarnya. Ia langsung beranjak ke arah lemarinya. Ia membuka pintu lemarinya dan menatap bajunya yang sudah tersusun rapih. Kemudian lelaki itu tersenyum simpul. “Dasar yeoja kerajinan..”

Ia pun mengambil sebuah kaus simpel dan celana jins hitam. Dengan cepat ia melakukannya. Sekejap kemudian ia sudah rapih dengan pakaiannya.

Di cermin ia merapikan rambutnya, menyusun bagaimana gaya rambutnya pagi ini. Berjambul atau poni? Atau?

Ia pun terus memutar otaknya, dan memutuskan…

“Jambul saja deh..”

Ia menaruh sisir di tempatnya dan memandang cermin sembari bergaya – gaya. Lalu tertawa.

“Kau tetap tampan.. seperti biasanya”

#

“Ya!!! bangun!!”

Leera yang semula malu – malu dan kaku itu, kini berubah menjadi seekor singa seperti biasanya. Ia memukuli Kai yang tertidur di dalam selimutnya dengan sebuah guling.

“Ya! Hari ini kemah!”

“Babo!”

Kai baru menyadari nya. Ia pun meringis kecil.. lalu memegangi kepalanya yang menjadi sasaran guling. Lelaki itu melenggangkan badannya.

“Hoaamm…”

Leera memandangnya kesal. Sedari tadi hampir 1 jam Leera membangunkannya, dan ia baru bangun sekarang? Keterlaluan!

Leera sudah rapih dengan pakaian kemahnya. Ia sudah antisipasi dengan berbagai obat yang tak keruan dan lotion -lotion nya itu. Tubuhnya pun sekarang sangat wangi. Wangi bunga. Entah bunga apa namanya,

Kai masih saja bermanja – manja pada kasurnya,

“Ya! Kau ini!”

Kai pun kembali menguap dan mengucek – ucek matanya. “Iya, iya.. ini aku bangun. Ah, dasar cerewet kau ini”

#

“Annyeong, Leera-ya”

Seohyun menyapa Leera. Ia sudah siap dengan ranselnya dan topinya. Sementara Leera, ia mengenakan topi lebar seperti mau ke pantai. Ia tidak peduli, yang penting kulitnya tidak terbakar matahari. Ini musim panas kau tahu?

“Annyeong, Seohyun-Ah” Sapa balik Leera. Sembari tersenyum hangat. Masih pagi, dan mereka masih segar.

Leera  memandang sekitarnya. Jika ada Seohyun, pasti ada Chanyeol juga bukan?

“Kemana Chanyeol?”

UPS. Entah hal apa yang membuat Leera menanyakan itu. Biasanya ia tidak akan berani atau wajahnya akan langsung memerah apabila disinggung seputar Chanyeol.

Seohyun tidak kaget. Ia sudah tahu akan hubungan Leera dan Chanyeol.

“Sebentar lagi ia datang..” Ujar Seohyun.

Leera mengangguk kaku. Dan benar saja, tiba – tiba seseorang menyapanya.

“Lee–!”

Ia langsung menggenggam tangan Leera. Leera tersipu, ia masih belum bisa mengendalikan detak jantungnya rupanya. Ia pun hanya menunduk, lalu berusaha menyapa balik namjachingu (?) nya itu.

“Nde, Chanyeol-Ah” Balas Leera gugup.

AH! Bodohnya mengapa aku begitu gugup!

Chanyeol pun mengembangkan senyumnya untuk Leera. “Semangat dong!”

Leera mengikut tersenyum lalu merasa hatinya tentram. Ia merasa hangat. Sepertinya kupu – kupu beterbangan di perutnya. Juga beberapa bunga yang tumbuh di hatinya. Genggaman tangan Chanyeol begitu hangat. Ia merasa terlahir kembali.

“Ayo..” Ujar Chanyeol. Leera mengangguk.

Mereka pun menuju mobil Kai. Kai ternyata sudah berada lama di dalam mobil itu. Ia menyetel mobilnya dengan atap yang terbuka karena hari ini adalah hari yang menyegarkan. Ia sudah siap dengan memegang stir dan mengenakan kacamata hitam. Leera menangkap bayangan Kai dari jauh. Ia meneguk ludahnya,

Keren…

Tapi ia membuang pikirannya jauh – jauh. Untuk apa ia bilang Kai keren? Gila! Tidak akan pernah!

Tidak! Tidak!

Mereka pun akhirnya masuk ke mobil Kai. Lagi – lagi Seohyun duduk di sebelah kursi pemudi.

“Annyeong Kai-ya… terimakasih sudah menyediakan mobilmu untuk kami” Seohyun tersenyum ramah pada Kai. Kai hanya mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.

“Duduklah” Ujar Kai pada Seohyun. Lalu menyetel lagu di Ipod nya.

Kai mengetuk – ketuk stir mobilnya sembari menyetel musik. Ia menunggu semua temannya siap. Juga menunggu semua perlengkapan masuk ke bagasi.

Setelah menunggu beberapa lama,

“Sudah selesai?” Jerit Kai dari depan. Ia membuka sebelah headset nya.

Chanyeol memberikan satu jempolnya dan mengangguk. Lalu masuk ke dalam mobil dengan meloncatinya.

“Chanyeol-Ah.. masuklah lewat pintu oke?” Sahut Kai sembari menghadap ke arah Chanyeol. Chanyeol hanya tertawa cengengesan.

“Nde.. mian mian” Ujarnya sembari tersenyum jahil.

Mereka pun memulai perjalanan mereka ke sekolah. Semilir angin menerpa mereka. Menerbangan rambut mereka. Beberapa di antara mereka ada yang tertawa dan bercanda satu sama lain,

Kai lebih memilih memandang jalan. Sekarang entah mengapa bayang – bayang gadis masa lalu nya itu kembali mengganggu. Kai sesekali melayangkan pikirannya untuk mengingat wajahnya lagi, senyumannya, hubungannya dengannya yang berbuah manis. Namun, mengapa hubungan itu harus berakhir begitu saja. Dan yeoja itu pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak? Mengapa?

Rasa kehilangan itu kembali membekas.

Kai menyetir dengan pandangan kosong. Ia berusaha melupakan ingatan terlarang itu. Ia tidak boleh mengingatnya lagi. Atau ia akan menjadi namja yang lemah.

#

Sekolah

Upacara pelepasan siswa untuk berkemah dimulai. Seluruh siswa unggul berbaris rapi di lapangan sekolah, mereka mendengarkan instruksi dari guru sosiologinya itu, Ms. Nam.

“BAIKLAH ANAK ANAK APAKAH KALIAN SIAP?”

Berbicara melalui toa yang biasa digunakan beberapa orang saat melakukan demo. Wajah guru yang terlihat anggun itu berubah menjadi sangar dalam hitungan detik. Suho langsung berubah pikiran dan menyesal telah menyukai guru itu. Namun, ia tetap mendengarkan ceramah dari guru itu. Guru yang dijuluki cantik namun membunuh itu.

“BERSIAPLAH! KARENA KALIAN AKAN DILEPAS KE ALAM LIAR!”

Oke, bahasanya terlalu hiperbola. Tentu saja membuat Leera bergidik.

“DAPATKANLAH TUMBUHAN LANGKA ITU DALAM JANGKA WAKTU KURANG DARI 3 HARI OKE?”

Toa itu kembali mengeluarkan suara. Para murid yang berbaris itu sontak menjerit.

“SIAP!”

“OKE!”

“BAIK!”

Guru itu mengangguk mantap dan tersenyum. Suho kembali terhipnotis dan pikirannya berubah lagi.

“Barisan dibubarkan..”

Semua siswa itu pun membubarkan diri. Lalu mengambil beberapa bekal makanan dari sebuah kotak besar yang tersedia. Beberapa diantara mereka ada yang mengompakan warna regu. Kemudian, mengenakan pin yang sama. Setelah selesai mengambil bekal makanan, para siswa diperbolehkan ke areal tempat parkir untuk segera berangkat.

Leera, Seohyun dan anggota gank beken itu (EXO) berjalan beriringan menuju sebuah mobil besar. Van.. yeah, sebuah van..

“Siapkan semua barang kalian. Kita naik van milik Suho hyung!”

“YEAH!”

Baekhyun menjerit terlalu gembira. Ia melempar ransel nya ke bagasi van itu. Disusul Chanyeol yang melempar ranselnya juga.

“Aku lebih jauh 0,5 meter! HAHA!”

“Kau tidak punya otak? Aku sudah melempar hingga kursi kemudi!”

Blbalbalablabla..

“Ayo masukan barang – barang kalian..” Sambut Suho.

“Ye.. dia kan orang kaya, pantas saja sanggup membeli van” Bisik Sehun ke Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk – angguk tanda mengerti. “Kudengar ia membelinya tanpa menyicil”

“Benar”

Suho datang.

“Eh! Mengapa jadi bergosip sih?” Suho memandang dengan death glare nya.

“Ayolah.. pukul 10 kita harus sudah berangkat nih” Lanjutnya,

Sehun dan Kyungsoo pun mengangguk menurut.

Kai mengunyah sebuah permen karet sembari memasukan ranselnya. Entah mengapa ia merasa ada yang berbeda. Aneh? Mungkin itu fikirnya…  Mungkin karena ia terlalu banyak memikirkan yeoja masa lalunya. Yeah, aku harus melupakannya cepat atau lambat

Kai memasukan ranselnya. Lalu ia menatap Leera yang ingin memasukan ranselnya ke bagasi atas.

“Tidak sampai? sini biar aku saja”

Leera sedikit kaget namun ia tetap menyerahkannya. Lagipula ia tidak akan sampai. Kai pun memasukan ransel Leera tanpa hambatan. Leera pun meninggalkan Kai dan langsung masuk ke dalam van.

Suho pun menghampiri seluruh temannya.

“Baiklah, kuminta semuanya keluar dari van. Aku akan mengatur tata duduknya!” Ujar Suho memerintah. Semuanya mendesah sebal, namun tetap keluar dari van.

“Ya? ada apa sih hyung?” Tanya Sehun malas.

Suho berdehem dan memulai ceramahnya.

“Baiklah, kita akan pergi berkemah”

Senyap..

“Tata letak duduknya… ehem” Suho kembali berdehem lalu memandang satu persatu temannya.

“Baekhyun, Sehun, Kyungsoo dan aku di depan”

Leera tercengang. Oh tidak..

“Kai duduk di belakang. Dengan Leera”

DEP

“Kau bercanda?!”

To Be Continued

a/n: THANKS FOR ALL SUPPORT GUYS! ESPECIALLY WHO MENTIONED ME ( @Saarahsalsabil )😄 @Sarah_Muliana , @RizKkamjong , @Euwhieg , @aanisanatasya , @Winda_ELF407 , @Cute_KimSoHyun , @luthfiahumairo , ETC ( Gak muat kalo semuanya ditaro disini ). Mian kalo part ini pendek. Ini adalah ( mungkin ) persembahan terakhir *EA sebelum aku hiatus :3 Kalo kalian kangen -_- mention aku aja di @Saarahsalsabil *cielah sapa juga yang kangen-_-* Bentar lagi ni FF end. Tapi kalo mau move on sementara ke Realise, Heart Choices, atau ke Can I Marry You My Sister juga boleh. Masih banyak kok FF ku yang bertengger nganggur :* Btw makasih udh support guys^^

89 comments

  1. Jangan jangan masa lalu kai itu jiyeon??, si leera sama chanyeol emang kapan jadiannya hahaha harusnya yg nyelamatin itu si kai pasti si minyoung akan lebih teguncang gempa(?)

  2. aku gak sukanya ini nih chanyeol maksain diri buat keliatan suka ama si leera,😦
    memang ya kaira ini suka berantem mulu, gak cape apa -3-
    makin seru aja ya konfliknya, minyoung jahat banget —
    segitunya ya gara gara leera deket kai, terus chanyeol pura pura bantu lagi, idih chanyeol nyebelin!!!!!!
    hahaha akhirnya mereka duduk di bagian belakang van :v suholang kaya emang pintar :v

  3. hmm kren kai oppa dapet nilai 100. tapi itu jga curang hhaha😀 daebak lakh buat yg bikin ff ini aku masih penasaranih sma ff selanjutnya hwathing

  4. entah kenapa, aku malah punya firasat kalo masa lalunya Kai itu Leera. Nginget di chapter sebelumnya katanya mereka akrab + deket waktu kecil. <– sok tau😀
    Chanyeol.. Jangan gitu please~
    Bikin sulit dipercaya, muka-muka kaya' Chanyeol jadi punya sifat begitu. :3 Tapi, sifat happy virusnya itu juga mendukung sih, buat jadi seseorang yang .. ya begitulah.

    Ijin lanjut baca..🙂

  5. Jd skrg leera udh jdan ma chanyeol??
    Tp,kykny sbnrny mrk gk bnr2 slg suka dh…aplg chanyeol.dy jelas suka ma seohyun

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s