(My)unfeminine Future Wife (EXO Members Love Series vers Baekhyun)


This fanfic is the one of EXO Members Love Series vers Baekhyun
future2
first warn!! TYPO , PENJEDAAN KURANG PAS, DIBUAT SAAT TERKENA WB
inspirated: Detective Conan’s series

Cast : Baekhyun EXO | Kim Jee In / OC | Another

Genre : Family, Fluff

Read First >> Project Fanfic | (My)Unfeminine Future Wife

Born as girl who basically acting like a guy –Kim Jee In

100% BY SAARAH ( @SaarahSalsabil ) NO PLAGIATOR NO COPYCAT. THIS IS MINE , ALL! EXCEPT CASTS! NOT RECOMMENDED FOR SILENT READERS!

SAARAH©

(My)_Job_LIfe_Family

“Pilihlah salah satu dari foto itu, Jenie!”

Jenie, nama kecil untuk satu-satunya putri di keluarga kecil Kim.

“Ah, umma.. tolonglah.”

Jee In memasukan wajahnya ke dalam selimut untuk menutup telinganya. Berharap ibunya itu tidak akan mengusiknya lagi disaat ia sedang menikmati waktu berharganya. Ini acara favorit Jee In, yaitu acara ……………………………………………………. bola. Sesuatu yang tidak lazim menjadi obyek tontonan seorang perempuan. Kalian tahu? Kim Jee In itu perempuan! Perempuan! Berparas cantik dengan kulit seputih susu warisan dari ibunya, bibir yang seperti permen gula-gula, dan proporsi wajah yang sempurna. Namun, justru terbalik dengan kelakuannya!

“Ayolah… ini pukul 2 malam, umma. Waktu ku istirahat di rumah kan tidak banyak. Lagipula, minggu depan kan masih ada waktu.” Jee In mengoceh di dalam selimutnya, membuat suaranya yang biasa dipergunakan untuk memerintah barisan terdengar redup karena kain selimut.

Ada yang tahu mengapa Jenie alias Jee In berkali-kali diperintahkan ibunya untuk memilih salah satu foto? Jawabannya bisa kita temukan sebentar lagi.

“Kau sudah cukup umur untuk menikah! Umurmu sudah genap 23 tahun. Sudah berapa kali kau mengingkari janji umma mu ini? Kau selalu mengundur nanti, nanti, dan nanti. Bahkan sekarang kau berani mengundur lagi untuk minggu depan? Dengar Jenie, kau adalah anak satu-satunya keluarga ini, dan .. dalam peraturan keluarga, anak cantik umma satu-satunya ini harus menikah di usia 23 tahun. Lihatlah dunia sekitar, Jenie sayang. Semua lelaki di kepolisian sudah melamarmu, tertarik denganmu .. tapi hatimu tak kunjung tergerak juga? Ya ampun Jenie!”

Jee In masih menyumput di dalam selimutnya. Posisi nya yang berada di ruang tv dengan ukuran minim dengan tv kecil di depannya, membuatnya tidak merasa aman. Bukannya apa, jika ia mengundur lagi kegiatan ‘memilih-milih foto calon suaminya’ maka ia akan terkena hukuman pingit selama sebulan… dan Jee In paling tidak suka berdiam mematung di rumah seharian. Keluarga Jee In memang sederhana. Rumah Jee In adalah rumah tradisional Korea Selatan yang kecil, bukan dari dinding yang kokoh, dan di dalamnya hanyalah ada ruangan yang sempit. Meja makan yang di pergunakannya masihlah meja cetek, jadi tidak perlu menggunakan kursi. Satu-satunya ruangan di rumah Jee In yang menggunakan penghangat hanyalah ruang tv nya. Yang memang termasuk ruangan favoritnya dalam segala hal, termasuk mengerjakan berkas kepolisian, menonton tv, tidur, makan dan lain sebagainya.

Jee In adalah perempuan yang berperilaku tidak selayaknya perempuan, berambut panjang namun sialnya selalu dikumpulkan menjadi satu dan diikat tepat diatas ubun-ubunnya, bekerja sebagai detektif kepolisian, seorang bintang di tempat kerjanya maupun di sekolahnya dulu, pekerja keras, juga keras kepala. Jee In sangat menghindari saat-saat yang diidamkan setiap wanita. Ya! Menikah! Jee In tidak pernah menyukai lelaki manapun di dunia ini. Ia tidak pernah memandang seorang lelaki layaknya lelaki, dan ia tidak akan pernah bersikap manis. Ia lebih memilih melakukan pekerjaannya seumur hidup. Yaitu membasmi penjahat-penjahat disana yang bertindak seenak jidat, menyelamatkan korban, dan memecahkan ribuan kasus. Daripada melayani satu orang lelaki yang berkandidat menjadi suaminya? Daripada menjadi pelayan dan dipaksa memuja-muja seorang lelaki yang menjadi suaminya? Tentu saja menyelamatkan nyawa ribuan orang lebih baik! Jee In tidak pernah ingin terus-menerus di rumah sambil memasak, menyapu, mengepel, membersihkan kaca dan memandangi wajah yang membosankan tiap harinya. Ia ingin bebas dari takdirnya sebagai wanita!

Namun sayangnya. Kali ini Jee In dalam posisi sulit. Rencananya untuk membohongi dan mengundur-undur kegiatan ‘sakral’ itu pasti akan gagal. Tak ada pilihan lain, sekarang waktunya dia membalas segala perbuatannya.

“Pilihlah salah satu dari foto ini, Jenie ku sayang.” Ibu Jee In tersenyum ‘bisnis’ dan juga tersenyum ‘bangga’ atau mungkin juga tersenyum kemenangan karena telah berhasil membujuk anaknya. Ia bisa membayangkan anaknya yang tomboy ini mengenakan gaun pengantin dengan anggun lalu tersenyum pada suaminya sembari memasakkan sarapan.

“Yasudah nanti kau pilih ya, ppali.”

Tangan wanita paruh baya yang mengacaukan hati Jee In, peri kecilnya itu kini menyentil hidungnya. Entah dengan tujuan apa, untung saja Jee In tidak mengeluarkan auman singa jantan andalannya saat marah pada anak buahnya yang bekerja dengan asal.

Jee In sebenarnya ingin langsung mengaum pada saat itu juga, namun melihat kondisi dan juga pikirannya yang sudah melayang jauh ke masa depan.

Lebih baik kutahan amarahku,

Pintu berpayet bunga-bunga sebangsa sakura yang mekar di negeri seberang–itu digeser dengan nafsu yang membara oleh ibunya. Entah ingin meninggalkan aura dingin atau sengaja menakut-nakuti Jee In. Tetapi Jee In bukanlah lelaki *cough* wanita yang mudah merasakan aliran-aliran mistis seperti itu.

Wanita itu menguap, jauh lebih lebar dari gaya simpanse yang menguap. Dilihat dari keadaan, oksigen di dalam ruang tv masih terisi penuh[1]. Mengapa ia bisa sampai menguap begitu? . Biar dijelaskan, Jee In menguap karena ia bosan. Sekaligus kesal. Takdir yang diulurnya datang menjemputnya dengan cara yang menjengkelkan. Apa itu bukan masalah?

Tumpukan foto itu tersebar di atas sigtag[2]. Tersusun rapih dengan potongan yang pas satu sama lain. Di dalam benda persegi itu terpampang beberapa wajah yang menaikkan semangat dan spontan bisa membuat kita menjerit histeris seperti yeoja yang terjepit pintu mobil. Lelaki maskulin dengan gel yang dipakai di rambut hitamnya yang sudah mengkilat. Sempurna, kaya, pengusaha, punya kantor sendiri.. satu kata yang bisa menggambarkannya dengan singkat… sem-pur-na. Namun, sejuta lembar foto itu tidak kunjung menggerakan hati si putri pangeran, Jee In.

Gadis ini memandang foto itu dengan sebelah matanya dan berdecak.

“Tidak akan…”

Tiba-tiba kilat-kilat suara yang menggema mengalir ke dalam telinganya.

“Gawang Spanyol kembali tersisih dan uh!! Apakah kali ini Spanyol akan kembali mencetak gol untuk ke tiga kalinya…?”

Leher gadis ini berputar hingga sudut perbatasan. Disusul tubuhnya yang berputar dan langsung menghentakkan tubuhnya di atas selimut. Matanya yang indah terfokus ke tengah tv. Layar berwarna-warni itu membias di bola matanya yang bening. Kilatan-kilatan warna itu terus mengambang di mata Jee In.

Hingga saatnya tiba…

“GOL!!!!!!!”

(My)_Job_LIfe_Family

Orion Officer Building

“Bisa kau bantu aku?”

Print bagian ini dan serahkan padaku usai makan siang. Nde, Gamsahamnida.”

Sorot mata lelah tersirat dari mata kecil Byun Baek Hyun. Kekalahan product nya mengunggah dirinya kelihatan kusut pagi ini. Atau lebih tepatnya siang ini, karena ini sudah pukul 11:37 KST. Kepribadian lelaki ini yang tidak mau kalah memang ada dan sudah di aplikasikannya di kehidupannya. Namun, sifat dasarnya yang mendominasi yaitu mudah terpukul, membuatnya terjatuh saat ini. Mana mungkin ia kalah dengan perusahaan kecil seperti Cowon?

Semua karyawannya menyadari auranya yang memang sangat berbeda. Dasinya yang tidak terpasang dengan baik dan kemeja nya yang tidak di setrika. Baek Hyun dalam keadaan dibawah garis buruk saat ini.

Flashback:

“Tapi kau .. “

Salah satu pegawai Baek Hyun menahan pundak Baek Hyun yang hendak menyempitkan jaraknya dengan pemimpin Perusahaan Cowon, Kim Jong Dae. Lelaki muda ini (Baek Hyun) sudah tidak tahan lagi dengan kekalahan yang dialaminya. Ini adalah kekalahan pertamanya. Harusnya ia bisa memenangkan presentasi ini namun entahlah apa yang membuat perusahaan murahan itu menang!

Cowon.. perusahaan yang keanggotaannya diragukan. Sistem yang tidak konsisten dan banyak kritisi lain dari Baek Hyun yang ingin di lontarkan langsung pada wajah menyebalkan milik Kim Jong Dae!

Mulut Kim Jong Dae bergerak mencibir…

Aku yang akan bekerja sama dengan perusahaan itu. Karena presentasiku kupersiapkan dengan matang.”

Lelaki berambut jamur dengan warna kemerahan itu berlalu, diikuti keempat rekan presentasinya yang ia pilah dengan pemikiran yang keras; Shin Hyemi, wanita berumur dengan pemikiran yang cerdas, Zhang Yixing, Lelaki berkacamata dengan penampilan yang menarik nan rapih ini adalah mantan pengacara. Bisa bayangkan sehandal apa ia berdebat dan berbicara di depan umum? Wajahnya yang polos itu memang bisa mengelabui, ia handal juga dalam mempermainkan ekspresinya, dan 2 sisanya pandai di bidang teknologi dan manajemen. Ya, setidaknya semua ini diucapkan dari sudut pandang Baek Hyun. Yang entah dengan dasar apa, membenci komplotan Perusahaan Cowon yang ia juluki secara pribadi; ‘Alay’. Bahasa yang tidak sengaja Baek Hyun temukan di website internet.

Lima orang elit yang terangkat derajatnya karena dipilih secara hormat untuk bekerja sama dengan Lotte Group terkesan angkuh bagi Baek Hyun. Balutan jas yang dikenakan Kim Jong Dae bergerak bagai slow motion ke depan dan ke belakang. Menciptakan gerakan yang dinamis.

Aish, menyebalkan sekali orang itu. Lain kali akan kupelintir mulutnya yang mirip bebek itu!

“Tenang bos,”

Satu-satunya pegawai di sebelah pundak Baek Hyun itu sudah bersiap siaga. Kali-kali saja bos nya ini akan mengejar Kim Jong Dae dan mengajaknya berkelahi. Pegawai ini cukup pintar, ia mengenali sekali aneka macam ekspresi di wajah bosnya.

Tangan pegawai itu menempel di pundak bosnya. Sekedar menenangkan secara pribadi.

Baek Hyun menepisnya kesal seraya berdecak. Lalu pergi.

Ia melangkahkan kakinya dengan langkah besar dan terburu-buru. Pelipis nya berkali-kali ia tekan dengan spontan. Ia tak tahu apa yang ia khawatirkan dan apa yang ia takutkan. Byun Baek Hyun seharusnya tidak takut dengan apapun dan siapapun–kecuali Tuhan.

Tenang Baek Hyun, engkau pasti bisa menyelesaikan masalah ini.

Layaknya seorang yang terbiasa mendapat medali emas. Pasti kecewa jika tidak lagi mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan. Sama seperti Baek Hyun saat ini. Patah hati, namun bukan karena seorang gadis. Patah hati yang berbeda-sangat-berbeda.

Langkah lelaki ber-tuxedo luxius style ini menghasilkan bayang-bayang tidak jelas dari kaca besar di gedung itu. Langkahnya melayang jauh keujung ruangan, entah kemana tempat yang ditujunya. Pikirannya semrawut dan tidak beraturan, rencananya yang sudah dipersiapkannya dengan matang kini sudah terpecah berkeping-keping dan–hilang..

Karir ku belum berakhir kan?

Baek Hyun menggigit bibirnya. Sepersekian detik berikutnya, ia memejamkan matanya seraya menempelkan telapak tangan ke dinding marmer.

Flashback_END.

Tapak kaki berjalan memutari gedung Orion. Mencari sekat yang dicari olehnya.

“Oh iya bodoh! Ini pukul berapa?”

Gadis ini merutuki dirinya sendiri, ini sudah pukul 12 siang lewat dan ia lupa dengan tugasnya. Yaitu, menyerahkan-laporan-kepada-bosnya. Baru 1 jam yang lalu bosnya memberinya tugas simpel. Bahwa, ia harus mencari data tentang letak tanah kosong di Seoul. Tanah kosong itu akan dijadikan lokasi kantor Orion yang baru apabila bosnya menyetejuinya.

Walaupun berotak setengah. Lee Ah Rin tetap bertekad bulat. Kaki kecilnya berlari di tengah kesibukan teman-teman kantornya. Suara sepatu nya menggema mengisi ruangan. Perhatian tersita padanya yang berlari dengan ekspresi konyol, spontan membuat beberapa percakapan terlontar:

“Mengapa dia itu?”

“Gila. Dari kemarin saja ia sudah begitu.”

“Oh gadis itu ya, Lee Ah Rin. Anak baru rupanya.”

“Umur berapa sih? Kok kekanak-kanakan begitu?”

Gadis setengah otak itu menyadarinya diam-diam. Perlahan ia memelankan larinya dengan kikuk dan menunduk. Tidak minta maaf tentunya, mengapa? Karena ia malu. Kaki kecilnya kini mulai dilantahkan dengan death glare teman-temannya yang mengatakan.

‘tolong jangan berlari di kantor!’

Baiklah.
Setidaknya kini Ah Rin tidak berlari lagi.

Beberapa menit kemudian, tubuh Ah Rin sudah berada di ruangan yang berbeda. Ia dihantarkan ke depan sebuah pintu besar yang ditakutinya. Pintu ruangan bosnya, Byun Baek Hyun.

Tangannya mengepal dengan sedikit gemetar. Lalu diangkatnya hingga sejajar dengan hidungnya.

Tok

Satu ketukan pertamanya. Terlalu kecil untuk telinga Byun Baek Hyun!

Tok Tok Tok

Perlahan tangan yang gemetar itu mulai turun dan kembali berada di samping pinggangnya. Sedikit berayun, lalu berhenti bergerak. Pintu di depannya bergerak dengan suara decitan kecil. Secepat kilat, matanya langsung melihat bosnya yang duduk dengan menekan pelipis.

Langkah Ah Rin mulai memasuki ruangan itu hingga ia sekarang berada tepat di depan meja Baek Hyun. Gadis itu menggenggam map guna tugasnya tadi.

“Waktu yang tepat, sehabis makan siang.” Serak bosnya-Baek Hyun.

Ah Rin terdiam. Tangannya di remas-remas. Sementara bosnya yang bercakap-cakap.

“Bisa kulihat datanya?”

Gadis ini menyerahkan hasil print nya seraya menunduk sopan yang lebih mengarah ke tunduk. Baek Hyun tidak mengulas senyum sama sekali, matanya langsung menyelidik ke lembaran kertas di depan matanya.

Suasana senyap,
Terdengar bunyi lelusuhan dari kertas yang di utak-atik oleh Baek Hyun.

“Daewoo, Intercoom, Ugneol, hmm…”  Bisik Baek Hyun pada dirinya sendiri. Bagaikan seorang anak kecil yang sudah terfokus dengan layar video game nya dan bergumam-gumam menghujat musuhnya. Seakan dunia miliknya sendiri. Bahkan Baek Hyun sampai lupa ada Ah Rin di depan mejanya.

Baek Hyun masih asik memilah-milah lembar demi lembar.

“Kerjamu bagus..”

Dagu luncip bosnya mengarah kepadanya. Matanya tertuju pada gadis ini–yang sibuk kikuk sedari tadi– . “Kerjamu rapih dan kau tepat waktu. Pertahankanlah.”

Lalu pandangan bosnya kembali teralih ke lembar-lembar kertas.

Seulas senyum menyelinap di bibir Ah Rin. Perasaan bangga sekaligus senang. Jiwanya seperti terangkat mendengar itu.

Gamsahamnida, kau boleh melanjutkan aktivitasmu.”

Baek Hyun menaruh lembaran-nya di atas meja. Lalu melipat tangannya sembari tersenyum tipis. Ah Rin membungkuk sopan kemudian berbalik. Meninggalkan bunyi dentuman pelan.

Kring

Telepon kantor di atas meja Baek Hyun berdering sesuai dengan kelipatan. Baek Hyun tanpa basa-basi langsung mengangkatnya.

“….. benar, datanglah ke kantor ku sekarang..”

“— banyak yang harus kita bicarakan..”

***

Kediaman Jee In

Sebenarnya matahari sudah bersinar angkuh di atas buaian. Namun, gadis kepolisian ini masih saja memejamkan matanya. Ia masih menunggu kelanjutan dari mimpinya ternyata. Jee In tertidur di ruang tv, ruangan yang digunakannya untuk menonton bola tadi malam. Juga ruangan yang digunakannya untuk memilih salah satu dari foto itu.

Ia lupa, tidak ingat, dan tidak mau tahu siapa calonnya. Yang penting ia sudah memilih! Kalau Jee In merasa tidak cocok, langsung ceraikan saja! Begitu pikiran Jee In.

Gadis 23 tahun ini masih tertidur pulas. Hingga gedoran pintu gesernya menggelegar hingga menusuk awan mimpinya.

“Jenie sayang!!”

“Jenie sayang!!”

Ibunya berteriak ke telinga Jee In. Jee In yang tertidur pulas di dalam selimut abal-abal miliknya yang digunakan untuk menonton bola. Jee In yang masih mengantuk akibat begadang untuk menonton acara itu. Jee In yang lelah dan kesal karena harus memilih calonnya tadi malam.

Mata Jenie masih di ambang kabut-kabut putih. Telinganya hanya bisa mendengar samar-samar suara.

“Jenie!! Kau memilih dia? Ya ampun!!”

“Seleramu tidak jauh-jauh dari aku ya!”

Jee In mengucek matanya. Baru saja membuka 1/4 matanya, kepala besar milik ibunya muncul. Mulutnya komat-kamit seakan mengucap mantera, sementara kedua tangan ibunya tercinta itu mengangkat-angkat selembar foto dan di tunjukannya di depan hidung Jee In.

“Ini! Kau pilih ini!”

Ada apasih? Dia ngomong apa?

Jee In hanya bingung memandangi ibunya yang komat-kamit tanpa suara.

“Pilihanmu sangat tepat Jee In!”

Setelah pekikan yang entah sudah keberapa kalinya, ibunya langsung mmemeluk Jee In dengan girang. Sembari berkomat-kamit lagi, Jee In belum sepenuhnya sadar. Ia masih mengorek-orek telinganya dengan spontan dan mengucek-ucek matanya lagi.

Eomma..

“Ada apasih?”

Pelukan ibunya semakin erat. Ibunya tertawa-tawa kegirangan & hampir menangis bahagia. Bagaimana tidak? Akhirnya setelah sekian tahun, putri tersayangnya satu-satunya ini mau menikah juga. Akhirnya juga, Jee In menurut dan tidak main-main dengan pilihannya. Padahal ibunya pikir, Jee In akan melupakan tugas memilih fotonya begitu saja. Namun, ternyata? Tidak! Jee In benar-benar memilih foto itu!

Lagi-lagi pelukan itu semakin erat dan Jee In sudah tidak kuat lagi.

Eomma, sudah… egh…”

Akhirnya ibunya itu melepaskan pelukannya. Wanita paruh baya itu langsung menyeka air matanya. Jee In bingung dengan ibunya yang menangis.

Hanya karena aku memilih foto itu? Ibu menangis? Apa saja katanya tadi?

Ibunya masih menyeka air matanya. Namun, semakin lama memandang Jee In dengan tampang polosnya. Ibunya itu sudah tidak tahan lagi, air matanya kembali mengaliri pipinya yang mulai menua. Ingin ia memeluk anaknya lagi, namun ia menahannya.

Eomma… mengapa menangis?”

Jee In tentu saja bingung. Ia menatap ibunya dengan tatapan polosnya. Ia mengulang kejadian tadi malam, ia berfikir dengan keras. Mengapa ibunya kini menangis? Tersedu-sedu pula. Ibunya menangis lepas di depannya dan ini pertama kalinya. Beliau menangis seraya menunduk-nunduk sangking tidak tahannya. Suara tangisnya terdengar di telinga Jee In. Jiwa Jee In tergerak. Gadis tomboy ini terdiam –terharu– melihat ibunya yang menangis hingga menunduk-nunduk. Telapak tangan ibunya yang halus menutupi wajahnya yang penuh air mata.

Jee In terus menatap dalam bingung. Ada insting untuk kembali memeluknya. Juga air matanya yang ingin mengalir keluar. Hidung Jee In mulai memerah dan kembang kempis. Jee In spontan menutup mulutnya dan menahan isakan yang menjadi kebiasaannya saat menangis.

Kalau aku menangis, ibu pasti akan menjadi tangisannya.. aku harus menahannya..

Jee In memejamkan matanya–erat. Alih-alih tidak menangis. Air matanya justru keluar melalui celah matanya dan mengalir ke pipinya. Dengan memejamkan matanya, ia bisa melihat perjuangan ibunya yang mengurusinya sejak kecil hingga menjadi polisi yang sukses seperti ini. Menjadi seorang Kim Jee In sesungguhnya…

Dan kini ia harus melepaskan anaknya begitu saja untuk dinikahkan dengan seorang namja?

Jee In menyeka air matanya dengan terburu-buru dan langsung memeluk ibunya. “Sudahlah, eomma.. maafkan aku ya.. Mi, mi-an-mian…

.. mianhanda..

Tes

Air mata Jee In justru terjatuh.

Ibunya melepaskan pelukannya. Lalu menghapus air mata Jee In yang tersisa. “Ibu tidak apa-apa. Ibu menangis karena ibu senang, kau kan akan hidup dengan calon suami mu. Jadi kau harus bersiap-siap mulai minggu ini. Oke?” Ibu tersenyum getir, sembari tersenyum dipaksakan. Sudah seharusnya kan ibu merasakan ini? Sudah seharusnya kan ada pengorbanan untuk hidupnya.

Kalau Mrs. Kim berfikir lagi, mungkin tindakannya bodoh. Ia memaksakan Jee In untuk menikah, sedangkan ia sendiri tidak kuasa melepaskan Jee In. Tapi… itu sudah umum dikalangan ibu seusianya. Ia harus menerimanya dengan lapang dada. Sebentar lagi, ia akan menyaksikan anaknya menjadi dewasa.

Arachi Jenie? Kau harus mandiri mulai sekarang. Tidak ada lagi menonton bola dan sebagainya. Kau itu perempuan.. memakai rok dan harus bisa memasak!”

Ibu tertawa seraya menyentil hidung anaknya. Jee In masih terdiam dengan ekspresi lusuhnya sehabis menangis. Sekarang, bahkan ia tidak bisa merasakan sentuhan ibunya terhadap hidungnya. Ia merasa terhempas begitu saja. Ia mengerti sekarang betapa beratnya perjuangan ibunya.

“Mulai sekarang kau harus latihan menjadi seorang istri yang baik.. memasak, menyetrika, mencuci dan sebagainya. Juga ingat lagi ya! Tidak ada menonton bola. Masa kau mau menonton bola? Suami mu pasti sangat heran..”

Tidak ada respon dari Jee In. Jika ini adalah keadaan normal, Jee In pasti sudah membantah keras kata-kata ibunya. Ia pasti akan segera bilang bahwa tidak bisa memasak itu tidak salah dan menonton bola itu normal untuk setiap kalangan.

Jee In langsung bangkit dari tempatnya dan mandi untuk bersiap-siap ke kantornya. Ia masih belum mampu berkata-kata. Kali ini ia merasa akkward. Belum pernah ia merasakan suasana sehangat ini dengan ibunya. Belum pernah sebelumnya ia menangis karena ibunya. Ini adalah kali pertamanya berhadapan seperti ini dengan ibunya. Makanya, ia belum mampu berbicara apapun dengan ibunya.

By the way too.. Ia sama sekali belum melihat gambar calonnya. Karena ia memilih dengan asal dan tidak menggunakan jari tangan. Melainkan jari kakinya. Konyol bukan?

Gadis ini berjalan angkuh ke kamar mandi. Ia mandi dengan fikiran yang kosong. Entah pikirannya kemana sekarang. Hingga ia berganti baju seragam kepolisiannya yang serba hitam itu. Pandangannya kosong seraya ia memasukan lubang baju nya ke lingkaran leher.

Begini ya rasanya..

Jee In keluar dari kamarnya karena sudah selesai. Ia tidak pernah peduli dengan penampilannya. Mau cantik mau tidak, yang penting ia mengenakan pakaian. Ia mengambil tas selempangnya.

“Jangan lupa, besok ia akan datang melamarmu!”

Suara itu terlontar dari dalam rumah. Jee In spontan berhenti dan menjawab dengan ‘iya’ yang keras. Lalu pergi dengan sepeda nya.

Ibunya melambaikan tangannya dari balik pintu seraya tersenyum.

***

Kantor Kepolisian

“Sshh.. hoi bodoh. Lihat itu si cantik sudah datang.”

“Ah. Jadi itu yang kalian bicarakan dari kemarin.”

Beberapa anak buah kepolisian bagian lalu lintas menangkap bayangan bidadari di ujung pintu. Bidadari itu adalah … Kim Jee In dengan tampang angkuhnya. Cara jalannya yang seperti anak lelaki dan aksennya yang kasar memang mendominasi pribadinya. Namun, lelaki-lelaki disana masihlah mengincarnya. Hampir semua sesisi kantornya,

Annyeong, bidadari ku yang manis.”

Tangan milik Jee In langsung diangkat oleh salah satu ketua kepolisian disana, Huang Zi Tao. Lelaki bertubuh tinggi dan kekar, juga sopan dan berasal dari keluarga bangsawan di China. Lelaki ini langsung mengecup punggung tangan Jee In dengan nikmatnya. Menyisakan sedikit kebasahan di punggung tangan Jee In. Juga suara kecupan yang khas.

Jee In menatap jengkel Tao. Lelaki yang seenaknya ‘menjilat’ tangannya itu. Ia langsung mengelap tangannya dengan terburu-buru dengan lap.

“Huang Zi Tao. Apa hak mu memperlakukanku seperti ini huh?”

Jee In menegapkan tubuhnya agar bisa mensejajarkan tingginya dengan Tao–walaupun mustahil– Ia menatap jengkel lelaki sok di depannya ini. Memang tampan, cool, maskulin, dan sebagainya. Ia juga merupakan pengincar Jee In dari dulu. Apa mungkin terdapat foto Tao di salah satu pilihan foto itu? Ya ampun,

Bagaimana jika yang aku pilih itu Tao hah?!

Pandangan horror Jee In beralih ke Tao. Ia curiga, bahwa lelaki ini lah yang dipilihnya menjadi calon suaminya. Jangan… jangan sampai Tao lah calonnya, karena ia tidak akan pernah terima. Jika kalian bertanya siapa lelaki pertama yang berani menyentuh Jee In.. itu adalah Tao, Huang Zi Tao.

Tidak, bukannya Tao bertindak semena-mena dengannya. Justru Tao bersikap sangat sopan, berjiwa pemimpin, dan terkadang mereka menjadi partner bersama. Namun, Jee In sajalah yang terlalu geli dengan sikapnya.

Dari kejauhan, beberapa lelaki memandang tindakan Tao terhadap Jee In.

“Berani sekali dia..”

“Namanya juga Huang Zi Tao.. Panda sangar dari Cayna[3].”

“Taruhan dengannya, kalau dia berhasil mencium Jee In!”

Blablabla–

Entahlah, apa setiap hari para polisi yang terkena krisis muda-mudi itu akan berperilaku seperti ini?

“Jee In! Untung kau sudah datang!”

“Aku punya kasus untuk kau selesaikan!”

Jee In menengok angkuh dan berlari menuju temannya yang bekerja dibagian informasi. Kang Li. Panggil saja Li. Air mukanya tidak ramah, alisnya menekuk dan tebal. Tubuhnya melar seperti donat juga terdapat beberapa kerutan di bawah matanya, maklum ia senior di kantor ini. Tetapi Jee In tidak perlu memanggil Li dengan embel-embel ‘Sir’ atau ‘Tuan’. Cukup dengan Li saja.

“Kasus ini agak rumit. Kami kurang tahu apa modus tabrakannya..”

“Perempuan ini tewas tetabrak sebuah truk yang lewat…”

“–dan.. menurut para saksi, dia sedang mabuk.  Karena pandangannya kosong, dan ia selalu melihat ke segala arah.”

Jee In berfikir untuk mencerna kata-kata Li. Secara otomatis, bayang-bayang calon suami dan aneka kegiatan pernikahan itu buyar. Ia sudah terfokus dengan pekerjaannya kembali.

To Be Continued

SAARAH©

***

Kamus_

[1]Menguap dilakukan ketika kita kekurangan oksigen.
[2]Meja makan ala Korea.
[3]Sebutan lain untuk Negara China.

:: preview nextchap ::

“Cepat berpakaian yang rapih! Calon tunanganmu akan datang sebentar lagi!”
*
“Shit! aku tidak tahu cara makan di restoran mewah!”
*
“Siapa dia?”
“Perkenalkan namaku ……”
*
“Terberkatilah jari indahmu karena sudah memilih foto ku saat itu.”

Saarah’s says: Annyeong ders! Tabik pun?? *ngomong pake bahasa lampung-_-* Ini adalah fanfic yang kallian tagihin pass nya. Sebenarnya aku kasih pass supaya aku bisa baca via mobile. Akhirnya aku bebaskan untuk kalian semua tepat tengah malam. Yay! fanfic ini sebagaimana telah dijelaskan di paling atas. Termasuk salah satu fanfic yang masuk di EXO Members Love Series! Tapi ini yang vers Baekhyun!!!😄 Silahkan yang suka bacon >.< mohon krisar nya ders. Sasa sangat butuh krisar dr kalian semua , soalnya krisar bisa membangun fanfic ini supaya lebih baik ^^

Kritik:
Saran:

49 comments

  1. kritiknya sih, kyaknya gaada yah, FF karya author ini bagus” kok ide”nya bagusss banget .. karakter nya jga pas banget, di tunggu next nya yah thor .. author JJANG !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! ff nya DAEBAKKKKK !!!!1

  2. Woah, Jenie milih Baek? Pilihan tepat Jenie! (walaupun sebenernya ga tega-_-)
    Entah mau ngomong apa tentang ff ini, yang bisa kubilang cuman.. Jalan ceritanya seru!😀
    Lanjutannya sangat ditunggu ya eon, hwaiting!

  3. Hwaaa. Bacon lagi.
    Kenapa ya setiap costnya bacon ceritanya jadi bagus aja gitu. Ngalir aja..
    Padahal bukan bias aku. Bias aku aja chanyeol. Maafkan aku chanyeol. Hwaa lanjut lanjut.

  4. kirakira apa reaksi baekhyun pas tau kalo jeein pilih fotonya pake kaki?😄 haha lanjut sa. btw, omcia season2 nya juga yap jgn lamalama. fighting saaa

  5. Gak ada kritik kok thor, udah keren banget ceritanya. Kalo saran, sebaiknya kalo tbc jngan di waktu yg penting gitu thor, aku jadi pnasaran -_-
    Ditunggh next chapternya thor ^_^ DAEBAK!!!

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s