OMCIA! YBIMA 9B


OMCIA!-Yadong-Boy-In-My-Apartement!

| Title |

One Month Crush In Apartemen! [Yadong boy in my apartemen!]

| Author |

Bekicot Princess aka @Saarahsalsabil

| Main Cast |

Park Leera

Kim Jong In

Park Chanyeol

Seo Joo Hyun

| Genre |

School life, romance, fluff, AU

| Length |

Chaptered

| Rating |

PG-15

| Summary |

Tinggal dengan namja mesum itu di apartemen ini?! GILA! Shireo!

Previous Part

| Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6a | Part 6b | Part 7a | Part 7b | Part 8 | Part 9a |

 NO PLAGIARISM PLEASE. AND IF YOU ARE SILENT READERS PLEASE GO OUT^^

Previous Part-

Kai berkali-kali berusaha untuk mencapai daratan. Namun, tubuhnya tak kuat untuk naik. Begitu sulit. Ia pun terpaksa memikirkan cara lain.

“Kai…?” Leera mulai bergidik. Langit sudah hampir sepenuhnya gelap. Apalagi sekarang Kai dan Leera tidak membawa sebuah alat penerang.

Leera mengerutkan alisnya dan mencoba menerawang dimana Kai sekarang. Karena suasana sudah menggelap saja. Danau itupun yang terlihat hanya semak belukarnya saja dan air danau yang berkilau terkena sinar bulan. Sementara tidak ada tanda-tanda dari Kai.

Leera mulai panik. Ia pun bangun dari posisi duduknya dan mulai berdiri di tepi danau. Mencari Kai.

“Kai?”

“Dimana kau?”

“Kai?”

Setelah hening beberapa lama, Kai tidak kunjung menyahut.

“Kai?” Nada suara Leera mulai merendah, melemah…

“Kai………..”

Leera menggenggam erat tangannya sendiri. Mengepalkannya kuat-kuat.

“Dimana kau Kai? Kai? Kai!!”

“Kai!”

“Kim Jong In! Cepat jawab aku!”

Yang terdengar hanyalah suara katak yang bersaut-sautan. Leera bergidik. Angin dingin malam hari mulai menyerbunya, dan bayangan Kai tidak kunjung terlihat.

Dimana kau Kai..

“Kai? Jika kau mendengarku, jawab aku! Kai?!”

Masih hening. Tidak ada yang menyahut.

Dan saat ini, suasana sudah gelap sepenuhnya. Leera tidak bisa melihat apa-apa, kecuali benda-benda tertentu yang memantulkan sinar bulan.

“Kai……..” Leera melemas. Tidak ada tanda-tanda bahwa Kai masih ada disini. Suasana begitu senyap.

Leera terduduk di tempatnya dengan memeluk lututnya. Ia menangis disana dengan menunduk. “Kai… dimana kau…” Suara Leera bergetar.

Ia terus menangis disana, di tengah kegelapan malam yang menyerbunya. Di dalam benaknya ia berfikir. Apakah tidak ada seorang pun yang dapat membantunya sekarang? Apakah tidak ada manusia yang peduli padanya? Bahkan teman camping nya sendiri? Tidak adakah yang mencarinya?

Khususnya namjachingu nya itu. Kemana dia sekarang? Bukannya seharusnya ia tak jauh-jauh dari sisi perbatasan?

Kai menghilang… atau ia tenggelam…

Ini… ini gawat,

#

Leera memanyunkan bibirnya kesal. Ia berdecak kesal, mengapa ia selalu ada di posisi sulit seperti ini? Matanya sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi. Malam ini justru ia tidak membawa senter. Bodohnya ia malah berdiam mematung disini, bukannya menjerit-jerit meminta bantuan.

Seharusnya sekarang ia bersyukur namja yadong nan byuntae itu sudah hilang ditelan bumi. Namun, kenapa sekarang ia justru ketakutan? Dasar labil. Masih saja gadis itu duduk meringkuk di tanah.

Setelah berfikir dengan jernih, bahwa mencari jalan keluar lebih baik daripada berdiam di tepi sungai seperti ini, akhirnya ia bangkit dari sana. Seluruh anggota tubuhnya gemetar saat berusaha bangun, rasanya seperti mengangkat beban berat. Apalagi seluruh pandangan Leera hitam gelap. Di telinga Leera, ia hanya bisa mendengar keheningan dan beberapa suara jangkrik yang lewat. Dan justru itu juga membuatnya merinding.

Ia memeluk dirinya sendiri karena dingin. Kakinya gemetar saat ia mau melangkah.

“Lebih baik aku kembali ke hutan..” Gumam Leera pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar.

“—memberitahu kepada mereka kalau Kai sudah tenggelam di sungai itu..” Lirihnya,

Leera memejamkan matanya karena merasa bersalah juga takut. Mengapa suasana menjadi seperti ini?

“Padahal…” Lirihnya lebih dalam.

“—padahal aku bisa menyelamatkannya. Kalau saja aku berani mencebur kesana..” Air mata mengucur dari mata gadis ini. Ia bahkan tidak bisa merasakan bahwa ia sendiri menangis.

Leera terus berjalan dengan limbung tak tahu arah.

Aku harus kuat!

Leera terus berjalan memasuki hutan. Terkadang ia tertabrak sesuatu, ya batang pohon karena suasana yang begitu gelap dan ia bukan pengamat yang baik.

BRAK

Ia tertabrak batang pohon lagi. Namun, ia terus meneruskan jalannya. Kali ini tangannya ikut membantu untuk menghindar dari pepohonan.

BRAK

Sial tertabrak lagi.

“Leera?”

Bulu kuduk Leera meremang, ia bergidik ngeri. Mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi?

“Leera?”

Leera mematung di tempat. Mulutnya tak kunjung bisa menjawab panggilan entah siapa disana. Tangan nya gemetar hebat. Ia hendak menangis lagi,

“Leera ini kau?”

Suara itu kembali menghujani fikiran Leera. Sial, siapa ia ? Lagi-lagi Leera hanya terdiam. Ia tidak sadar bahwa arah suara ini sudah semakin dekat.

Tiba-tiba sebuah cahaya lurus menyilaukan matanya. Leera spontan menutup wajahnya karena cahaya itu sangat terang mengarah padanya.

“Benar. Kau Leera.”

“—Ayo pulang.” Kata suara itu.

Leera masih menutup wajahnya dengan takut. Ia belum melihat siapa orang yang berada di depannya.

“Hey?”

Leera spontan membuka matanya, ia mengenali hembusan nafas ini. Juga wangi tubuhnya.

“Kai?”

“Bisa-bisanya kau ada disini?”

“—bukannya kau tenggelam hah?!”

BRUG

Pukulan yang tidak bisa dibilang keras itu mendarat di perut Kai. Kai menekan alisnya bingung. Bisa-bisanya Leera marah karena sudah diselamatkan. Harusnya kan ia berterimakasih!

“Kau ini sembarang mengerjaiku! Kupikir kau sudah mati tahu!” Leera kembali memukuli Kai. Kai hanya diam ditempat karena pukulan Leera sama sekali tidak sakit baginya.

“Ya! Justru aku menyelamatkanmu, babo.” Tegas Kai masih dengan wajah datarnya.

Kai menelusuri wajah Leera yang kusut. Baru kali ini Leera sesesal ini. Dan Kai bertaruh, Leera pasti habis menangis.

“Jadi kau menangis karena aku menghilang?”

DEG

Suasana senyap dan sunyi. Leera tak dapat menjawab pertanyaan Kai barusan. Ia merasa serba salah. Jika ia menjawab ‘iya’ maka secara tidak langsung harga dirinya akan merosot. Dasar Kai,

“Aku anggap itu jawaban iya.” Tutur Kai sambil menarik tangan Leera. “—ayo kita pulang yeoja babo.”

Leera masih terdiam. Pipinya memerah karena malu. Entah malu karena apa. Namun, tangan Kai tidak ia tepis begitu saja. Karena ia takut, ia akan terpisah lagi darinya. Kali ini hatinya sudah tenang, ternyata masalah enggan untuk menghinggapinya.

Gamsahamnida… Kai..

Mereka berdua saling terdiam selama perjalanan ke perkemahan. Sepertinya Kai hafal betul jalan untuk pulang, layaknya mempunyai jiwa petualang yang terpendam. Ia melangkah dengan wajah serius. Kai terus memandu sembari menarik tangan Leera juga memegang dan mengarahkan senter agar jalan yang dilaluinya terlihat jelas. Leera tidak bisa protes atau apapun. Karena ia tidak tahu arah hutan ini dengan baik, dan ia juga takut dengan kehidupan nokturnal seperti ini. Bagaimana Kai bisa seberani ini sih?

Setidaknya Leera bisa selamat apabila ia tidak bertindak macam-macam, seperti berteriak-teriak mengejek ataupun marah-marah dengan menepis tangan Kai. Mungkin itu akan berakibat fatal seperti, Kai meninggalkannya di hutan sendirian atau Kai akan bertindak seperti hantu.

Leera harus bersikap layaknya putri agar bisa selamat.

“Tumben kau diam.” Sindir Kai dengan wajah seriusnya.

Leera hanya diam. Namun, ia menatap Kai kesal. Ia melihat tangannya yang dengan mudahnya menggelayut searah dengan gerak tangan Kai. Sial…

“Jangan terus melihat ke arahku. Nanti kau terselandung.” Sindir Kai lagi.

Leera memutar bola matanya dan langsung beralih pandangan. Bisa-bisanya ia menyulut api di gelap gulita begini.

Leera terus mengawasi jalan di depannya. Meskipun tangannya merasa sangat gatal karena bergelayut bersama tangan Kai sekarang, ia harus menahannya kalau tidak ia bisa terpisah lagi. Pikiran Leera sangat terganggu karena masalah ‘tangan’ ini. Ia merasa sangat tidak nyaman.

Habis ini aku harus cuci tangan yang bersih.

Setidaknya itu yang difikirkan Leera. Bisa-bisa nya ia menolak pesona namja sekeren Kai. Apa ia tidak sadar posisinya sangat beruntung saat ini? Ada puluhan fans Kai di sekolah dan mereka sama sekali tidak punya harapan untuk mendekati Kai. Sekedar menyapa saja, fans Kai tidak berani—walaupun sangat anarkis sih (re: Minyoung).

Namun, Leera tetap tidak mau mengubah pola pikirnya. Sekali namja byuntae ya tetap byuntae, sekali mengesalkan tetap mengesalkan!

“Kita sudah sampai.” Tegur Kai pada gadis di sebelahnya.

Mereka sudah menginjak tanah tempat mereka mendirikan tenda juga api unggun. Hati Leera langsung terlonjak kaget begitu melihat beberapa pasang mata memandang ke arah tangannya.

Spontan, Leera langsung menepisnya.

“Sial kau Kim Jong In..” Kutuk Leera dari balik tubuh Kai.

Kai memegang tangannya yang habis ditepis tadi. Sakit bukan main, berbeda jauh dengan pukulannya tadi. “Dasar..”

Leera langsung menunduk malu dan masuk ke dalam tenda yang ditempati Seohyun. “Aku mau tidur.” Kilah Leera langsung masuk ke dalam tenda yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

Kyungsoo dan Baekhyun yang sedang duduk di depan api unggun menatap Kai kaget. Untuk apa malam-malam begini mereka berdua baru pulang?

Kai menekan alisnya begitu menyadari tatapan mereka berdua yang tidak bisaa. Ia sudah bisa membaca keadaan.

“Aku sehabis tercebur ke sungai. Butuh waktu lama untuk kembali kesini hyung.” Kai memberi alasan. Kyungsoo menyipitkan matanya tidak percaya. Ia menghebuskan nafas berat.

“Haruskah dengan yeoja itu?” Selidik Kyungsoo.

Baekhyun menatap Kyungsoo takjub karena Kyungsoo mampu menggoda Kai juga. Kyungsoo balik menatap Baekhyun dengan tatapan mematikan, ternyata ia tak bermaksud menggoda Kai sama sekali. Tetapi, karena hal lain yang membuat Kyungsoo curiga.

“Aku pikir kalian tidak akur.. “

Kyungsoo mengangkat bahu. Lalu meneruskan kata-katanya dengan wajah datar. “Ingatlah Kai, kau masihlah namja berumur 16. Jagalah yeoja itu dengan baik.”

Hei hei.. Kai mulai tidak mengerti dengan perkataan Kyungsoo. Apa maksudnya hah? ‘menjaga’? ‘masih berumur 16’ ? Kyungsoo pikir Kai ini namja seperti apa ?

Hyung, berhentilah berfikiran buruk tentangku.” Desah Kai.

Baekhyun melongo pada Kyungsoo. Menyembunyikan tatapan takjubnya seperti biasa. Baekhyun mendelik pada Kai, wajahnya terlihat seram menurutnya. Kenapa anak itu hah?

Kyungsoo melototi Baekhyun yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Semacam kode. Mata Kyungsoo terlihat seperti mengatakan ‘jangan-goda-kai-lagi.’

Baekhyun mengangguk lesu, lagipula sekarang ia sedang tidak mood dalam menggoda Kai. Mungkin dongsaengnya satu itu butuh istirahat sekarang.

“Yasudah, lebih baik kau ganti baju. Bajumu basah kuyup begitu.” Ajak Kyungsoo, Kai pun mengikutinya ke dalam tenda.

Ada yang bertanya kemana Suho, Chanyeol, Sehun dan Seohyun? Tentu saja mereka sudah berada di dalam selimut masing-masing karena sudah kelelahan. Suho berintruksi untuk segera istirahat karena mulai besok mereka akan segera mencari tanaman langka itu dan harus dibawa ke sekolah dengan keadaan selamat.

Sementara Kyungsoo dan Baekhyun sepertinya terkena insomnia.

Leera menggigil di dalam tenda. Ia mencari baju hangat yang sudah dipersiapkannya untuk dipakai malam ini. Sama dengan Kai, baju yang ia kenakan sekarang basah karena tercebur ke sungai. Sehingga Leera harus ganti baju.

Sweater..”

Leera mengobrak-abrik isi ranselnya dan akhirnya menemukan sweaternya. Sedetik kemudian ia baru ingat kalau celana dalam pinknya itu tertinggal di sungai.

Ah! Ini semua karena namja tidak tahu diri itu!

Leera menghembuskan nafas berat dan memilih untuk mengikhlaskan selembar kain dengan warna cerah itu. Ia mulai fokus dengan sweaternya sekarang.

Ia merapatkan kain tenda dan mengancingnya. Disamping posisinya ada Seohyun yang sudah tertidur. Dengkuran halus terdengar diselang-seling kesenyapan ini. Ia tidur dengan tenang. Leera mulai menjaga-jaga keadaan sekeliling tenda, siapa tahu Kai berusaha mengintipnya?

Akhirnya keadaan aman dan Leera pun berganti baju. Ia melepaskan kausnya yang tadi basah dan celana yang ia kenakan. Lalu mengganti bajunya secara bergantian. Kemudian, ia sukses berganti baju. Seperti seseorang yang handal. Leera bingung apa yang akan ia lakukan setelah ini, ia mendelik ke arah Seohyun, dan mengambil kesimpulan bahwa setelah ini ia akan tidur, Tapi percuma saja, ia sedang tidak mengantuk sekarang. Gadis ini berfikir untuk mencoba tidur.

Ia mulai merebahkan tubuhnya diatas balutan kain yang ia umpamakan sebuah bantal. Beberapa nyamuk sepertinya mengganggunya lebih cepat.

“Ah!”

PLAK

Leera menepuk hewan kecil yang beterbangan itu dengan ganas. Satu persatu dibantainya, namun sayangnya tidak ada yang mengenai sasaran. Leera terpaksa menggunakan alternatif terakhir yang dibawanya. Lotion anti nyamuk!

“Hahaha… untung aku punya senjata ampuh disini..”

Leera mulai mengolesi lotion itu ke tangannya juga leher. “Pergi kau nyamuk-nyamuk nakal!”

Gadis itu pun bersorak ria di tengah kesenyapan. Lalu kembali merebahkan badannya dan mencoba tidur. Ia menutup matanya erat-erat, berharap agar peri tidur segera merestuinya untuk mengantuk.

Sementara dengan Kai–

“Kai, jangan grasak grusuk. Cepatlah tidur… amnyyam..” Chanyeol yang terbangun mendesah kesal karena Kai yang menimbulkan suara-suara aneh.

“Aku tidak bisa tidur.” Balas Kai pelan. Ia menutupi wajahnya dengan jaketnya.

“Yasudah, cobalah untuk tidur.” Sahut Suho sambil meringis pelan. Ia sangat mengantuk dan ingin tidur.

Kai hanya mengangkat alisnya. Memangnya semudah itu hah untuk tidur? Kai sama sekali tidak ada niat untuk tidur sekarang. Rasanya ia ingin keluar tenda dan duduk di depan api unggun berjam-jam dibanding tidur.

Kai hendak bangun. Belum saja sempat, Suho sudah menegurnya. “Hey, jangan kabur. Lekaslah tidur. Besok adalah hari yang melelahkan.” Tegur Suho dengan aksen tegasnya. Kai memutar bola matanya dan kembali merebahkan badannya dengan kasar.

“Ya, puas?” Gumam Kai kesal.

#

Hawai,

“Mencoba menelfon anakmu?”

Nami menengok untuk mencari arah suara, dia Hyunsik. Hyunsik memegang pundak sahabatnya itu. Memasang raut khawatir.

“Tidak.” Jawab Nami.

“Katanya kau tidak betah di Korea? Dan ingin berlibur bersama kami?” Tanya Hyunsik jujur. Belakangan ini Nami kelihatan tidak tenang, ia selalu memegangi ponselnya dengan ragu.

Nami mendelik untuk menatap Hyunsik. “Ah, aku hanya heran pada Leera. Ia tidak kunjung memberiku kabar. Bagaimana dengan Kai?” Balas Nami balik bertanya.

“Kai? Ah, aku yakin dia baik-baik saja. Malah, ia sama sekali tidak mengabariku dari hari pertama kita pergi ke Hawai. Dia tidak suka diganggu. Malah, ia tidak suka denganku sepertinya?” Ulas Hyunsik panjang lebar.

Nami mengangguk mengerti. Mungkin Leera juga sekarang sudah lupa akan dirinya dan sudah asik dengan teman-temannya. “Aku takut saja ada yang sesuatu yang terjadi pada mereka. Mereka kan masih  bocah 16 tahun.”

Hyunsik tertawa garing, lalu menepuk pundak Nami. “Kau tampak murung sekali Nami-ya. Santai saja. Aku bisa bayangkan sekarang mereka sedang tenang dan menonton televisi bersama. Sarapan sereal, dan pergi ke sekolah dengan wajah berseri.”

Nami tertegun. Ia melepas ponselnya perlahan. “Terimakasih sudah menghiburku.”

Hyunsik bangkit dari sofa dan hendak menuju kamar mandi. Nami memandang bahu Hyunsik yang menjauh. Walaupun ia sekarang sedang berlibur di sebuah cottage yang mewah dan berlibur dengan suasana yang sangat indah. Namun, tanpa anaknya semua ini terasa sia-sia. Mengapa feeling ini kembali datang pada Nami. Nami yang semula egois dan hanya peduli pada dirinya sendiri.

Ia tahu sifat anaknya, persis seperti dirinya. Pemarah namun pemalu, labil namun tegas, suka shopping dan mengoleksi benda-benda antik—ya walaupun Leera hanya suka mengoleksi lipgloss—Nami sudah dapat menebak apa yang terjadi di antara anaknya Hyunsik—Kai—dan anaknya—Leera—pasti ada yang tidak beres.

Nami sekarang sedang membayangkan anaknya yang memarahi Kai habis-habisan karena tidak menaruh baju kotor di tempat yang benar dan bau keringat yang memenuhi apartemen. Ini gawat. Apakah Leera betah begitu?

Nami kembali menepis pikiran buruknya dan kembali berkonsentrasi pada liburannya. Ia punya firasat buruk untuk anaknya. Ah, bukan anaknya… melainkan

Anaknya Hyunsik.

#

“Sudah kuputuskan, aku tidak bisa tidur.”

Leera bangun dengan menghentakkan kakinya. Masa bodoh Suho mau menceramahi dirinya atau apapun. Yang penting sekarang, Leera tidak bisa tidur titik!

Leera mengendap untuk dapat duduk di depan api unggun. Ia merapatkan sweater yang dikenakannya, lalu menggosok-gosokkan tangannya karena dingin yang luar bisaa. Di dalam kantung sweaternya masih banyak lotionlotion nyamuk yang tersisa. Jadi ia memutuskan untuk membawanya ke api unggun.

Sekarang, gadis ini sudah duduk manis di depan api unggun. Ia menatap lekat api unggun itu, hangat, ia merasa hidupnya hangat dan tentram. Mungkin kalau ada Chanyeol sekarang, ia bisa sangat bahagia. Leera duduk disana dengan fikiran yang melayang-layang entah kemana.

Chanyeol,

Sekarang ia berusaha memikirkan Chanyeol. Apa reaksi Chanyeol terhadap tragedi celana dalam argh.. lupakan.

Lupakan itu.

Harusnya Leera merasa kegirangan disaat Chanyeol sudah menjadi miliknya. Namun, mengapa ia tidak bisa mengekspresikan rasa senangnya dengan baik? Harusnya ia menyapa Chanyeol setiap pagi, tersenyum setiap berpapasan dengannya, dan melakukan segala hal bersama-sama. Harusnya, dialah orang yang menggenggam tangan Leera tadi. Harusnya, ialah orang yang tinggal seapartemen dengan Leera. Agar hidup Leera bisa jauh lebih baik dari sempurna. Tapi mengapa, peran itu dimainkan oleh Kim Jong In bukannya Park Chanyeol? Takdir memang tidak bisa terjadi sesuka hati si pemilik takdir. Takdir dimainkan oleh Tuhan.

“Huft,”

Leera menghembuskan nafas berat. Ia sama sekali tidak takut walaupun ia hanya sendiri di depan api unggun. Tamengnya hanyalah rasa ketenangan. Ketenangan hati yang membuatnya berani.

Setelah Leera memikirkan semuanya, ia menatap kosong ke dalam api unggun. Lalu mengarahkan tangannya kesana. “Hangat…”

Tiba-tiba seseorang duduk di depannya, mencoba merasakan kehangatan api unggun juga. Ia menatap Leera sejenak.

“Hei..” Sapanya.

Leera tersentak dan kepalanya mendongak ke arah suara. Ia mendesah sebal melihat siapa yang datang. Pemikirannya sedari tadi benar, peran Chanyeol harusnya ditukar dengan peran Kai. Harusnya Chanyeol lah yang menyapanya sekarang, bukan Kai.

Kai melepas jaketnya, lalu menatap Leera.

Leera balik menatapnya sensi.

“Tidak usah tawarkan aku jaket. Aku sudah punya sweater.” Gadis ini mengalihkan pandangannya.

Kai mengangkat alisnya. Gila yeoja itu, siapa juga yang mau menawarkannya jaket.. umpat Kai dalam hati. Namun enggan mengucapkannya pada Leera karena takut memicu ehem perkelahian.

Mereka saling terdiam hingga salah satu dari mereka berbicara. Terkadang jangkrik yang berbicara atau beberapa burung-burung entah apa namanya yang terbang diatas mereka.

Kai berdehem sambil menatap kosong ke arah kirinya. Tiba-tiba Leera menanyakannya dengan nada menyelidik.

“Buat apa kau kesini?” Tanyanya tanpa menatap Kai sama sekali.

Kai menjawab tanpa ekspresi. “Insomnia.” Singkat.

“Oh.” Balas Leera tak kalah singkat.

Suasana kembali senyap. Leera mulai menghangatkan tangannya ke arah api unggun dan menggosokkan tangannya beberapa kali lalu meniup udara.

Sedangkan Kai hanya diam dan menatap kesekeliling. Tidak ada topik yang pas untuk mereka omongi sekarang. Leera masih kesal karena Kai telah mengumbar aibnya di depan Chanyeol. Celana dalam lah, tercebur ke sungai lah, mengerjainya dengan membuatnya menangis, tidur di pundaknya saat di mobil, dan sebagainya yang mengganggu hidupnya. Leera lelah dengan semua itu,

“Hei,” Suara Kai menembus gendang telinga Leera.

Leera masih terdiam, masih menatap kosong api unggun itu.

“Leera-ya… aku ingin berbicara denganmu.”

Leera berdecak kesal. Masih menatap kosong api unggun itu. Ia tidak mau menatap wajah Kai.

Kai mendesah pelan. Ia tidak mengerti wanita, marah, sedih, menangis, ekspresi mereka suka berubah-ubah dengan tidak jelas. Kai sungguh bingung dengan wanita di depannya ini. Hal apa yang akan membuatnya berubah sih?

“Leera-ya. Mohon lihat aku saat aku berbicara denganmu.” Ulang Kai. Dengan penekanan. Suara kayu yang terbakar dari api unggun terdengar menjadi latar belakang suasana ini. Leera masih saja menatap kosong kayu yang terbakar dan mulai keropos itu. Perlahan ia gerakan lehernya, terasa sangat berat. Walaupun hanya ingin menatap manusia di depannya ini.

Wae?” Singkat gadis ini.

Kai menatapnya lekat. “Aku mau minta maaf.”

Leera tertegun.

“Maaf?” Lalu berdecak. “Cih,” Pelan.

Suasana masih sunyi. Kai terdiam barang 5 detik. Ia mencoba mencari ketulusan diantara bola mata Leera. “Kau marah kan? Yasudah aku minta maaf.”

Leera mengipas-kipas dirinya sendiri. “Minta maaf yang sangat singkat.” Ujarnya mencibir.

“Aku tidak pandai meminta maaf.” Dalih Kai. “Namun, aku akan mencoba minta maaf dengan caraku sendiri.” Kai menatap lekat Leera. Leera segera mengalihkan pandangannya.

Leera terbatuk garing. Kai menunduk,

“Ya baiklah, terserah.” Ujar Leera acuh. Ia kembali menghangatkan tangannya di api unggun. Kai tersenyum samar.

Kai kembali menatap Leera. “Kau itu baik..” Gumamnya pelan.

Ternyata Leera menyadarinya. “Apa katamu? Aku baik ? Oh ya? Sejak kapan?” Tanya Leera sepele. Dengan mengangkat alisnya sensi.

Kai tersenyum miring dan menatap Leera yang tidak balas menatapnya.

“Sejak saat ini.”

Bola mata Leera yang sedari tadi bergerak mulai berhenti bergerak. Spontan lehernya bergerak dan menatap Kai. “Sejak saat ini?” Gumamnya.

Kai mengangkat alisnya yang menyatakan benar.

Lalu mereka terdiam kembali. Belum bisa menyesuaikan keadaan. Leera merasa aneh, perutnya merasa aneh mendengar kata-kata Kai tadi.

“Bagaimana jika kita menceritakan riwayat hidup masing-masing?”

“—masa lalu?” Tegas Leera.

Kai terlihat berfikir keras. Ia tak mau berbicara tentang masa lalu. Karena masa lalu itu begitu menyakitkan. Jika ia disuruh memilih, ia lebih memilih mati daripada kembali ke masa lalu. Masa lalu itu pahit. Pahit.

Pahit bagi Kim Jong In.

“Bagaimana?” Tanya Leera santai. Kai masih terdiam, ia menarik nafas dalam-dalam dan sudah memutuskannya.

“Baiklah.”

Leera mengangguk mengerti lalu memulainya. Ia kali ini menatap Kai, berbicara secara normal.

“Kau duluan,” Ujarnya.

Kai merasa menyesal telah menyetujuinya. Menceritakan tentang masalalunya? Kapan ia bisa bersikap terbuka seperti ini? Sampai sekarang, yang tahu ini hanya gang EXO kecuali Chanyeol yang termasuk pendatang baru. Jadi, mengapa ia dengan mudahnya bisa memberitahu Leera masa lalu terkelamnya?

“Hei, Kai-ya. Jangan terlalu lama.” Kilah Leera tak sabar.

Kai memejamkan matanya dan menekan alisnya. Seolah-olah sedang mengingat. Padahal tanpa mencoba mengingat, ia sudah ingat. Secara detail malah.

“Desember 2009. dulu aku punya seseorang yang kucinta.”

“Kami bahagia dan selalu bersama dalam hal apapun. 2009 yang indah. Namun Desember yang buruk.”

“Kami selalu bersama hingga saatnya ia tidak kembali lagi padaku. Tepat 2 Desember, ia tidak pernah datang ke tempat yang selalu kami janjikan. Aku sudah menunggu sampai malam, namun ia tidak kunjung datang. Esoknya, ia tidak masuk sekolah. Hingga 1 minggu aku tidak pernah melihatnya lagi. Tetapi suatu saat… ia datang kembali padaku,”

“—tetapi ia melihatku tidak sebagai diriku. Entah mengapa ia jadi berubah. Ia bukan seperti yang aku kenal lagi. Ia datang kepadaku hanya ingin mengucapkan ucapan selamat tinggal. Hanya untuk ucapan selamat tinggal, dan aku tidak sempat berbicara dengannya.”

“Ia langsung pergi dan aku tidak pernah melihatnya lagi .. hingga saat ini.”

Pada kata-kata terakhir mata Kai beralih ke Leera yang terdiam. Leera menyadari Kai yang menatapnya dan langsung menunduk.

Apa aku tidak salah lihat? Mata Kai? Mata Kai tadi berair?!

Leera terlonjak. Benarkah apa yang ia lihat tadi. Kai yang byuntae dan tidak tahu diri itu? Menangis?

Dia menangis?

Leera meneguk ludahnya, masih terdiam.

“Kau tahu, Kai?”

Kai menengok. “Mwo?”

“Disaat seperti ini, kau tidak seperti Kai si namja menyebalkan yang pernah kukenal—“

“—Kau hangat…”

Leera tersenyum samar. Keajaiban apakah yang membuatnya berkata seperti itu?

Setidaknya suasana saat ini menjadi hangat.

 

To Be Continued

♥ ❤ ❥ ❣ ❦ ❧ Big thanks to readers who follow this fanfic till the end -Regards, sasa ♥ ❤ ❥ ❣ ❦ ❧

Mind to read my other fanfics?

The Souls Ending

 

(My)Unfaminine Future Wife

 

Can I Marry You My Sister?

 

Réalisé

 

176 comments

  1. Siapa sbnrnya msa lalu kai,,?apa mgkn jiyeon?*bisa jd kan
    Kaira akur,,,gitu kan enak..
    Ok aq lanjut lg y thor..

  2. kai itu baiknya dia suka minta maaf kalo leera keliatan murung tapi kadangkan leera kek gitu juga bukan karna kai saja, kai baiknya❤
    terus aku seneng pas kai mau nunjukin sikapa aslinya pas di depan api unggun ama leera, wah kai mulai terbuka sekarang!

  3. ciecie yg udah baikan palingan ntar berantem lagi haha😆
    btw aku suka banget sama jalan ceritany♥♥
    keep writting thor~

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s