OMCIA! YBIMA [part_10]


ii

| Title |

One Month Crush In Apartemen! [Yadong boy in my apartemen!]

| Author |

Bekicot Princess aka @Saarahsalsabil

| Main Cast |

Park Leera

Kim Jong In

Park Chanyeol

Seo Joo Hyun

| Genre |

School life, romance, fluff, AU

| Length |

Chaptered

| Rating |

PG-15

| Summary |

Tinggal dengan namja mesum itu di apartemen ini?! GILA! Shireo!

Previous Part

| Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6a | Part 6b | Part 7a | Part 7b | Part 8 | Part 9a | Part 9b |

NO PLAGIARISM PLEASE. AND IF YOU ARE SILENT READERS PLEASE GO OUT^^

Previous>>

Kai tersenyum miring dan menatap Leera yang tidak balas menatapnya.

“Sejak saat ini.”

Bola mata Leera yang sedari tadi bergerak mulai berhenti bergerak. Spontan lehernya bergerak dan menatap Kai. “Sejak saat ini?” Gumamnya.

Kai mengangkat alisnya yang menyatakan benar.

Lalu mereka terdiam kembali. Belum bisa menyesuaikan keadaan. Leera merasa aneh, perutnya merasa aneh mendengar kata-kata Kai tadi.

“Bagaimana jika kita menceritakan riwayat hidup masing-masing?”

“—masa lalu?” Tegas Leera.

Kai terlihat berfikir keras. Ia tak mau berbicara tentang masa lalu. Karena masa lalu itu begitu menyakitkan. Jika ia disuruh memilih, ia lebih memilih mati daripada kembali ke masa lalu. Masa lalu itu pahit. Pahit.

Pahit bagi Kim Jong In.

“Bagaimana?” Tanya Leera santai. Kai masih terdiam, ia menarik nafas dalam-dalam dan sudah memutuskannya.

“Baiklah.”

Leera mengangguk mengerti lalu memulainya. Ia kali ini menatap Kai, berbicara secara normal.

“Kau duluan,” Ujarnya.

Kai merasa menyesal telah menyetujuinya. Menceritakan tentang masalalunya? Kapan ia bisa bersikap terbuka seperti ini? Sampai sekarang, yang tahu ini hanya gang EXO kecuali Chanyeol yang termasuk pendatang baru. Jadi, mengapa ia dengan mudahnya bisa memberitahu Leera masa lalu terkelamnya?

“Hei, Kai-ya. Jangan terlalu lama.” Kilah Leera tak sabar.

Kai memejamkan matanya dan menekan alisnya. Seolah-olah sedang mengingat. Padahal tanpa mencoba mengingat, ia sudah ingat. Secara detail malah.

“Desember 2009. dulu aku punya seseorang yang kucinta.”

“Kami bahagia dan selalu bersama dalam hal apapun. 2009 yang indah. Namun Desember yang buruk.”

“Kami selalu bersama hingga saatnya ia tidak kembali lagi padaku. Tepat 2 Desember, ia tidak pernah datang ke tempat yang selalu kami janjikan. Aku sudah menunggu sampai malam, namun ia tidak kunjung datang. Esoknya, ia tidak masuk sekolah. Hingga 1 minggu aku tidak pernah melihatnya lagi. Tetapi suatu saat… ia datang kembali padaku,”

“—tetapi ia melihatku tidak sebagai diriku. Entah mengapa ia jadi berubah. Ia bukan seperti yang aku kenal lagi. Ia datang kepadaku hanya ingin mengucapkan ucapan selamat tinggal. Hanya untuk ucapan selamat tinggal, dan aku tidak sempat berbicara dengannya.”

“Ia langsung pergi dan aku tidak pernah melihatnya lagi .. hingga saat ini.”

Pada kata-kata terakhir mata Kai beralih ke Leera yang terdiam. Leera menyadari Kai yang menatapnya dan langsung menunduk.

Apa aku tidak salah lihat? Mata Kai? Mata Kai tadi berair?!

Leera terlonjak. Benarkah apa yang ia lihat tadi. Kai yang byuntae dan tidak tahu diri itu? Menangis?

Dia menangis?

Leera meneguk ludahnya, masih terdiam.

“Kau tahu, Kai?”

Kai menengok. “Mwo?”

“Disaat seperti ini, kau tidak seperti Kai si namja menyebalkan yang pernah kukenal—“

“—Kau hangat…”

Leera tersenyum samar. Keajaiban apakah yang membuatnya berkata seperti itu?

Setidaknya suasana saat ini menjadi hangat.

>>

Hangat?

Satu kata yang mencerminkan keseluruhan dari pribadi Kim Jong In. Boleh diingat kembali, kata-kata itu terlontar dari mulut Park Leera. Gadis yang bersumpah setengah mati benci dengan Kim Jong In. Dasar labil.

Suasana dingin yang menusuk hingga tulang itu langsung pudar. Tak sadar, Kai tersenyum. Hendak tertawa hingga memejamkan matanya. Lelaki ini mencoba mengontrol dirinya agar wajahnya tetap datar. Ia memain-mainkan jaketnya agar ia tak terus tersenyum. Ia merasa gadis di depannya baru menyadari sifat asli Kai yang memang hangat.

Rembulan yang begitu bulat mulai terbebas dari awan yang menutupinya. Malam yang semula menegangkan berubah menjadi terang karenanya. Gadis yang bernama Park Leera ini sadar apa yang diucapkannya tadi, ia. Ia memuji Kai bukan? Apa ia tidak merasa menyesal? Atau malah memang ia sengaja mengungkapkannya? Berkali-kali Leera merasakan gejolak yang aneh di perutnya saat ia menimbulkan aura positif pada namja di depannya ini. Ia merasa aneh, ia merasa.. mengingkari paham yang dianutnya dahulu, yaitu paham antikaisme (anti terhadap Kai yang tidak tahu diri dan byuntae). Leera sadar ia tidak akan pernah menumbuhkan benih apapun di antara mereka saat ini, karena Leera sudah memiliki Chanyeol dan Kai sudah membantunya untuk mendapatkan Chanyeol. Leera juga berfikir, akan amat aneh jika ia tertelan ludahnya sendiri. Sampai kapanpun, ia tidak akan mungkin suka dengan namja seperti Kim Jong In!

“Kau baru sadar hah? Aku memang hangat. Dan aku tidak byuntae seperti yang kau fikirkan kau tahu?”

“Aku selalu bersikap baik terhadap dirimu… aku ini bukanlah namja sembarangan yang kau sebut byuntae itu.”

Tiba-tiba saja Kai bersuara di tengah keheningan. Ia berdiri dari tempat duduknya yang terbuat dari batang kayu tua. Ia menatap Leera dari sudut matanya dan beranjak untuk mendekati yeoja itu. Leera spontanitas kaget. Untuk apa Kai mendekatinya sekarang? Ia tidak akan berbuat aneh-aneh kan? Lagipula, apa ia tidak ingat bahwa ada Chanyeol di dalam tenda itu?

Sembari menenteng jaketnya di pundak, Kai berjalan menyesuaikan tinggi badannya dengan Leera yag sedang duduk. Namja ini menunduk dan kini wajah mereka berseberangan. Leera tak bisa menelan ludahnya, ia menahan nafasnya. Sebaliknya, Kai malah tersenyum jahil dan tanpa diduga ia menyentil dahi yeoja itu.

PLEK

Leera langsung kaget. Ia terdiam sebentar dan terus memandang namja di depannya. Ia merasakan sesuatu yang aneh lagi di perutnya. Kai yang berada di depannya malah tertawa disaat Leera masih melongo tidak mengerti.

“Kau ini yeoja yang sangat polos.” Tutur Kai sambil menjauhkan wajahnya dan menegakkan cara berdirinya.

Setelah itu Kai berbalik hendak menuju tendanya. Lalu ia menguap.

“Kurasa aku akan tidur. Berbincang denganmu membuatku mengantuk..” Kai pun kembali ke tendanya. Sementara itu Leera memandang bahu Kai yang semakin menjauh, hingga bahunya hilang ditelan tenda.

Saat aku menangkap senyumannya, aku merasakan kegelian di perutku.

Leera tersenyum secara refleks. Tiba-tiba semilir angin hutan menerpanya, rambutnya pun berkibas seiring angin yang melaluinya. Di antara angin itu, yeoja ini masih tersenyum memandang tenda yang Kai masuki tadi. Namun beberapa menit kemudian ekspresinya berubah takut dan heran.

Kai.. punya mantan yeojachingu?

#

“Kau fikir sesusah apa mencari tanaman?”

Chanyeol bersumpah serapah di tengah kerumunan hiking nya. Sudah satu setengah hari mereka berkeliling di antara pepohonan yang lebih tinggi dari tiang listrik di kompleks rumah manapun. Namun, keberuntungan belum berpihak kepada mereka. Tanaman yang –bahkan—Chanyeol belum bisa melafalkannya dengan benar itu tak kunjung ditemukan. Sebenarnya bukan hanya dia yang bersumpah serapah, bahkan Baekhyun dan Sehun pun melakukan demikian.

Tanaman langka yang diperintahkan gurunya itu bahkan tidak terlihat ekornya. Suho merasa sudah setengah bagian hutan mereka sisir. Kemudian sudah sepanjang sungai mereka jelajahi. Kelaparan dan kehausan, cuma itulah yang mereka dapatkan sepanjang perjalanan. Gadis cute bernama Park Leera itu bahkan sudah mengeluh jutaan kali karena sinar terik yang menerpa wajahnya, kalau bukan karena Chanyeol yang bersedia meminjamkan topi nya agar ia kuat berjalan, ia takkan ikut mencari tanaman sial itu. Kalau bukan karena hatinya yang berbunga-bunga sekarang ini, ia takkan mungkin kuat.

“Ayolah.. sisa waktunya tinggal satu hari lagi. Semangat teman-teman!”

Pemimpin regu itu alias lelaki bantet bermata sipit memberikan semangat kepada kawanannya. Ia tahu kalau mereka sudah hampir menyerah, makanya ia harus memberi harapan sedari awal. Lelaki bantet yang berwajah manis itu membuka sedikit topinya agar bisa menghapus keringat di dahinya.

“Terus jalan!”

Yang lain hanya mengangguk tanpa memberi jawaban. Lebih tepatnya mengangguk dengan lesu. Kali ini Chanyeol dan Sehun tidak berkomentar.

Leera memandang ke arah Chanyeol. Lelaki jangkung itu tidak mengenakan apa-apa di kepalanya. Topi pun tidak, karena sekarang ia sendiri sedang memakainya. Peluh lelaki itu mengalir jelas dari pelipis nya hingga ke ujung dagunya. Panas.. saat ini Korea Selatan memang  panas. Dalam hati Leera, entah mengapa timbul rasa prihatin. Lelaki itu memang terlalu baik. Tanpa sadar Leera mematung di tempatnya. Chanyeol menengok padanya,

Waeyo? Lekaslah.. “

Chanyeol langsung menarik tangan Leera dan langsung memberikan celah untuk berjalan. “Nah, begini lebih baik. Kau tetaplah disebelahku oke?”

Leera meneguk ludahnya. Tak tahu bahwa dibalik wajah Chanyeol yang kelelahan seperti itu, ternyata ia masih sempat mengkhawatirkan dirinya. Ia jadi tambah merasa bersalah.

“Mm.. maafkan aku ya.” Lirih Leera, tangannya bergetar saat Chanyeol semakin mengeratkannya. Chanyeol menengok ke arah kiri, memerhatikan arah suara minta maaf tadi.

“Untuk apa minta maaf? Kau tidak salah.” Jawab Chanyeol skeptis.

Sukses membuat Leera melongo tidak percaya.

“Jangan fikirkan yang tidak-tidak. Selagi kau tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja. Arachi?” Tegas Chanyeol lagi dengan wajahnya yang datar kelelahan. Lalu lelaki ini memutar kepalanya dan kembali menghadap ke depan.

Sepertinya rombongan tidak menyadari kejadian ini dan sudah larut di dunianya sendiri.

#

Jiyeon’s Apartment

“Ayah?”

“Ah, tumben menelfonku.”

Jiyeon baru saja membersihkan meja riasnya. Lalu ponsel nya berdering hebat. Rupanya dari ayahnya,

Maaf ayah tidak bisa ke Seoul sekarang. Apa kau betah disana?”

Jiyeon menggigit bibirnya. ‘Betah’ ? Kalau mau realistis, Jiyeon sama sekali tidak betah tinggal di ruangan kecil sendirian. Ia lebih memilih tinggal di rumah kumuh kecil namun beranggotakan keluarga lengkap lagi ramai. Mau gendang telinga nya pecah juga tidak apa.

“Lumayan,”

Senyap. Ayahnya tidak kunjung berbicara di ujung sana.

“Eh, ayah.. bagaimana pekerjaan ayah?”

Seperti biasa, terdengar hening barang 5 detik hingga ayahnya menjawab dengan sangat-sangat lancar seperti mesin penjawab otomatis.

Cukup baik.”

Oke, kita bisa simpulkan kedua anak dan ayah sama saja. ‘Lumayan’ dan ‘cukup baik’ adalah dua kata yang hampir sama.

Jiyeon mendesah tidak puas karena berkali-kali mendapatkan jawaban yang sama.

“Maksudku, apakah ada perubahan? Panen ikan yang melimpah bulan ini?—“

“…. atau musim yang tidak menguntungkan untuk menangkap ikan?”

Senyap. Lalu terdengar suara telfon yang terputus.

TUT TUT TUT

Jiyeon melempar ponselnya ke kasur. Ia berdecak-decak sebal tak keruan. Lagi-lagi seperti ini. Lagipula, siapasih oknum yang membuat ayahnya bangkrut beberapa tahun lalu? Mengapa perusahaan oknum X itu terlalu kejam pada ayahnya sehingga ayah jadi bangkrut tanpa sisa? Sebenarnya, masih terdapat sisa..

Sisa hutang.

Ini tidak adil bagi Jiyeon. Segala usaha dilakukan ayahnya agar Jiyeon masih bisa sekolah. Namun, kini perusahaan  ikan kecil-kecilan ayahnya di Insandong belum juga subur? Jiyeon mengacak rambutnya lalu bersungut di sudut ruangan.

“Ayah yang baik pasti akan baik pula hidupnya.” Jiyeon mengulang kata-kata ayahnya sekitar 2 tahun yang lalu. Ketika Jiyeon menangis tersedu di dalam bus untuk sekedar menghiburnya.

“Kita akan cari rumah baru, sekolah baru, dan teman-teman yang jauh lebih menyenangkan.” Lirih Jiyeon sambil menatap kosong jendela apartemennya. Masih mengulang kata-kata ayahnya.

Jiyeon menelungkupkan wajahnya di lutut dan menghela nafas berat. Ia merangkai memorinya satu persatu agar terbentuk satu-kesatuan kenangan indah. Ia mencoba mengingat masa kecilnya dengan ayahnya di suatu villa yang terletak di Seoul. Rumah kaca bertingkat miliknya, kolam renang yang selalu direnangi nya tiap minggu juga anjing peliharaannya, Monggu.

Namun yang terbesit di memorinya adalah lelaki itu.

Ia langsung menepis ingatannya dan bangkit dari posisi jongkoknya. “Bodoh,” Ia berdiri dan berlari ke ponselnya yang tergeletak di kasur. Lalu memberi pesan pada Kim Myungsoo.

Apakah kau ada acara malam ini?

#

Pukul 2 siang.

“Hei Suho hyung! Berapa lama lagi kita akan berjalan?”

Baekhyun menjerit dari balik pohon. Ia menopang kesana sambil mengeluh. “Aku capek.”

Suho menghentikan langkahnya dan langsung turun dari undakan. Perjalanan kali ini memang menanjak. Belum sempat ia menjawab pertanyaan Baekhyun, Baekhyun sudah mengeluh lagi.

“Hutan termudah apaan!”

Peluh di dahi Baekhyun bercucuran. “Aku capek.” Ulangnya lagi.

Kyungsoo menanjak mendekati pohon yang ditopangi Baekhyun. Ia merangkul Baekhyun dan mengajaknya menanjak lebih jauh. “Hey, ayolah.. sedikit lagi.”

Kyungsoo menerawang jalan di depannya yang berupa tanjakan dengan rerumputan yang liar. Ada yang setinggi lututnya dan juga ada yang setinggi mata kakinya. Semak yang harus ditebas dengan pisau untung saja tidak ada disini. Sementara sinar terik menjamu mereka di pucuk bukit.

“Hutan yang berbukit ya..” Gumam Seohyun. Ia baru saja mencapai undakan yang sama dengan Baekhyun dan Kyungsoo. Ia menoleh untuk melihat keadaan Baekhyun.

Ani, ani. Aku capek hyung. Sumpah.”

Celoteh Baekhyun dengan wajah yang hampir menangis. Kali ini dia serius. Tidak ada lagi Baekhyun yang jahil disini. Bahkan Chanyeol pun tertinggal di barisan belakang karena kelelahan—bersama Leera.

“Baekhyun-Ah…” Kyungsoo mengelus pundak Baekhyun prihatin. “Sebentar lagi kita sampai ke bukit itu tahu.”

“Aku tidak peduli. Aku capek.”

“Baekhyun ngambek.” Ledek Chanyeol tiba-tiba.

Baekhyun memanyunkan bibirnya. “Lantas? Aku capek. Masih mending kau..”

Baekhyun melirik gadis disebelah Chanyeol. Lalu matanya beralih ke tangan mereka yang saling berpegangan. “Oh, jadi begitu?”

Ledakan tawa datang dari Baekhyun. “AKU TIDAK MENYANGKA!”

Suho dan Kyungsoo terkejut seketika. Ada gerangan apa Baekhyun jadi tertawa? Gila? Hantu hutan Daeyul? Mitos?

Suho menyahut khawatir. “Kau sakit?”

Baekhyun tidak melirik Suho sama sekali. “Ya, aku sudah bilang aku capek.”

“Yuk kita jalan.” Tutur Baekhyun lalu menyetarakan jalannya dengan Chanyeol dan Leera.

“Terimakasih telah mengembalikan mood ku. Telinga besar.” Tegas Baekhyun sambil menepuk pundak Chanyeol. Chanyeol hanya mengendikkan bahu. Masih dengan raut kelelahan.

Leera menatap Baekhyun dengan perasaan aneh. “Dia sakit ya?” Tanyanya pada Chanyeol. Chanyeol mengacak rambut Leera dengan menjawab singkat. “Sedikit.” Lalu mereka tertawa.

Suho menoleh ke belakang sedari tadi. Memerhatikan 3 manusia yang sedari tadi beraktifitas tidak jelas. “Kali ini aku lebih dari bingung pada Baekhyun.”

Kyungsoo mengamini nya dan mengangguk setuju. “Memang.”

Mereka semua melanjutkan perjalanan. Namun,

“Kai kemana?”

Suara kecil yang ragu menyempil diantara mereka. Suara Leera,

Semua mata mengarah kepadanya. Tidak bisa berkata apa-apa. Tidak bisa berfikir lagi. Bahkan diantara mereka ada yang menahan nafas karena terkejut.

“Dia menghilang!”

Chanyeol membuka mulutnya. “Bodoh! Dia kemana?!”

“Pantas saja suasana agak berbeda!”

Suho menjerit paling histeris. Disusul Kyungsoo.

“Dia hilang?”

“Kemana anak itu pergi, huh?”

Leera menepuk jidatnya. Mengapa dia sering menghilang sih? Dari di sungai hingga di daratan. Ia selalu saja menghilang. Wujudnya yang abstrak membuat menemukannya secara kasat mata itu sangat susah. Perlu alat mikroskopik untuk dapat menemukan makhluk itu #iniapaan?

Kyungsoo menengok ke kanan dan ke kiri, menjerit.

“Kim Jong In!!!”

“Kai!!”

“Kkamjong!!”

“Dimana kau?!!!!”

Suara Kyungsoo hanya menggema hingga ujung hutan dan kembali lagi. Tidak ada gunanya. Suho bersungut kesal.

“Mungkin anak itu tersesat.” Tutur Suho sarkatis.

Senyap. Mereka hanya fokus pada pikiran masing-masing.

“Tidak.”

“—Kai bukanlah namja yang mudah tersesat. Ia cerdas dalam berfikir!”

Semua menengok ke arah suara. Suara seorang gadis, yang ternyata Park Leera.

Semuanya melongo memandang anak itu yang begitu antusias. Mengapa ia membela Kai hingga seperti ini? Semua orang dengan jelas melihat matanya yang sudah berair.

Tidak ada satupun mulut yang sanggup berbicara saat itu. Lidah mereka kelu.

“Kalau kalian temannya, pasti kalian akan sadar dari awal!” Lirih Leera dengan jeritan khasnya. Ia tak tahan dengan sikap mereka yang acuh terhadap Kai. Sedari tadi Kai menghilang dan hanya Leera yang mengetahuinya namun, ia pendam rasa keinginannya untuk membela Kai.

Leera teringat dengan kejadian di api unggun tadi malam. Dan hal itu seakan menunjukkan kepada Leera bahwa Kai bukanlah namja yang tak pantas untuk diperhatikan.

“Sabarlah, Leera-ya. Aku yakin kita pasti dapat menemukannya.”

Kyungsoo melirik prihatin ke sorot mata Leera yang terlihat kesal. “Aku juga cemas terhadapnya.”

Leera menghembuskan nafas kesal. Matanya mulai mengalirkan air mata. Satu persatu rintikan air itu membasahi pipinya. Leera dengan cepat langsung menghapusnya, tak mau satupun temannya melihatnya. Ia kecewa pada mereka semua. Jika mereka temannya? Teman yang sudah bersama sejak lama. Mengapa mereka tidak menyadari hilangnya Kai sejak awal hah? Apa mereka sudah tidak peduli lagi dengan dia?

“Tolong carikan dia…” Leera menggamit tangan Chanyeol dengan lemas. Menatap namja tinggi nya itu penuh harap. Sosok namja di depannya menatapnya dengan prihatin. Ia menatap lekat bola mata cokelat milik Leera, yang persis sama dengan bola mata miliknya.

“Iya.”

Chanyeol menatap Leera serius.

“ Tunggu ya, aku pasti akan membawanya kembali.” Chanyeol mengangguk mantap lalu tersenyum seperti biasanya.

Leera balas tersenyum –spontan—tidak seperti Leera yang biasanya. Yang selalu gugup apabila disandingi dengan namja yang disukainya ini.

Dia sangat baik.

Chanyeol berlari menyusuri hutan sendirian. Meninggalkan rombongannya.

Kakinya berlari secepat kijang. Ia terus menerobos batang-batang pohon dan semak belukar yang menghalanginya. Ia seakan lupa dengan rasa dahaganya. Pikirannya terus terfokus pada kawannya satu itu, Kim Jong In.

Matahari yang terik terus bersinar dengan angkuh. Tidak peduli ada orang yang tidak menyukai sinarnya. Ia tetap bersanding diatas awan tanpa cemas. Lelaki yang sedang berlari itu mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangannya. Lalu menghembuskan nafas lelah.

Aku akan terus mencarikan Kai,

Untukmu..

1 Hours Later~

Sial.

Sudah dua kali Kai berkeliling gundukan rumput ini. Tapi ia tak kunjung menemukan tanaman yang barusan ia lihat tadi.

“Apa itu cuma fatamorgana?”

Fatamorgana dapat ditemukan di daerah padang pasir. Jika dalam keadaan kehausan dan kekurangan ion tubuh maka sering terjadi kesalahpahaman otak dan indra pengelihatan. Dan.. apakah Kai barusan merasakannya?

Beberapa menit lalu ia merasa melihat tanaman langka yang ditugaskan oleh gurunya. Berdaun kemerahan dengan pucuk bunga berwarna kuning. Kai memang lupa apa namanya. Tapi ia sangat ingat bagaimana bentuknya dan rupanya.

Ia merasa melihat tanaman itu disekitar pohon oak. Namun, setelah ditelusuri. Tanaman itu seakan lenyap dari dunia ini. Menyebalkan.

Setelah puas mencari-cari, Kai berniat untuk beristirahat sebentar. Ia bersandar di sebuah pohon dan mengecek ponselnya.

Tidak ada sinyal. Kemana mereka sekarang?

Kai sadar bahwa ia terpisah dari rombongan.

Namun, Kai mengambil keputusan bahwa. Lebih baik ia terus mencari dimana tumbuhan yang dilihatnya barusan, lalu baru mencari kawan-kawannya dengan membawa berita gembira. Lelaki ini menyisir rambutnya kebelakang dengan tangan. Rambutnya basah karena keringat, begitu juga dengan dahinya. Apalagi banyak bulir keringat yang turun dari pelipisnya. Ia pasti sangat lelah.

Sudah kuduga. Tugas ini merepotkan.

Ingat bahwa Kai tersadar bahwa ia hilang dari rombongan?

Tapi apakah Kai sadar bahwa mereka semua mencarinya dengan cemas? Khususnya Leera?

Jawabannya adalah

Tidak.

Ia tidak pernah punya waktu untuk memikirkan yeoja lain selain mantan yeojachingunya. Ia tidak akan bisa lepas dari hati gadis itu. Karena ia masih butuh kepastian dari yeoja itu. Ia masih tidak mengerti maksud yeoja itu saat 2 tahun yang lalu.

#

Jiyeon menunggu di halte bus sendirian.

Berkali-kali angin musim panas menerpa rok yang dipakainya. Gadis ini menerawang jauh ke ujung jalan. Mencari apakah ada bus yang akan lewat. Masalahnya cuaca begitu terik untuknya.

Sudah bermenit-menit ia mematung di atas trotoar di kota megah ini—Seoul– . Ia sudah lelah dan hendak pulang. Namun, demi bertemu dengan Myungsoo ia akan berjuang. Hari ini mereka akan makan di sebuah café. Tentunya café favorit Jiyeon. Myungsoo dengan senang hati akan menraktirnya. Sebenarnya tujuan utama Jiyeon untuk bertemu Myungsoo adalah untuk mengembalikkan mood nya. Karena ia sedang sebal dengan ayahnya. Siapatahu dengan pergi bersama Myungsoo mood nya akan membaik kan?

“Ah sudahlah. Aku pulang saja.”

Belum beranjak. Sebuah mobil mengklaksonnya.

TIN TIN

Sebuah mobil hitam dengan brand menengah ke atas menepi.

“Jiyeon ayo masuk!” Ujar namja itu dengan melihat sekeliling. Ia menunjuk kearah plang yang bertuliskan ‘dilarang parkir’. Jiyeon tertawa lepas melihat ekspresi Myungsoo yang begitu takut.

“Jangan takut begitu, namja tampan..” Goda Jiyeon. Namun dengan segera ia masuk ke dalam mobil Myungsoo.

Myungsoo, namja keren di sekolahnya. Berperilaku bak seorang malaikat. Tipikal namja yang suka memanjakan yeoja. Apalagi Jiyeon. Rambutnya yang hitam konvensional membuatnya tampak menawan. Pahatan diwajahnya juga terlihat sempurna. Jika di SAS EXO adalah bintangnya, maka di Seoul Suwon School Kim Myungsoo lah bintangnya.

Myungsoo tersenyum menyambut kedatangan Jiyeon. Tentu saja ia harus berfikir seribu kali mengapa Jiyeon mengajaknya keluar. Apakah ini sebuah keajaiban? Atau Tuhan telah berbaik hati padanya kali ini karena sarapan yang ia habiskan tadi pagi?

Jiyeon mengajaknya keluar?

Itu jauh lebih baik daripada memotret di surga sekalipun. Karena, dalam benak Myungsoo. Keluar itu mempunyai arti tersirat, yaitu … ‘kencan’. Dengan kata lain, ‘keluar’ berarti ‘kencan’. Dan, sekarang… yeoja berkepribadian sempurna itu mengajaknya kencan.

Ini adalah surga bagi seorang Kim Myungsoo.

“Baiklah. Ayo kita jalan.” Myungsoo mengangguk mantap dan menginjak gas.

#

Hutan Daeyul

Pikiran Kai melayang ke arah Leera.

Yeoja itu pasti senang karena aku menghilang.

Kai tersenyum sendiri. Atau lebih tepat, tersenyum getir. Kemudian namja itu bangkit dari sandarannya dan kembali mencari tanaman tadi. Ia menyusuri pepohonan dan akhirnya ia bertemu sungai.

Mata Kai membulat sempurna saat ia menangkap bayangan sebuah tanaman langka di air tersebut. Yang tak lain tak bukan adalah tanaman yang dicarinya selama ini! Ini merupakan kesempatan besar buat Kai. Ia langsung berlari ke tepi sungai dan berjongkok untuk mengamati tanaman itu.

“Akhirnya kutemukan kau juga.” Kai melakukan smirk. Sambil menunduk menatap tanaman itu dengan raut puas.

Tinggal mencabutnya dan aku akan mendapat nilai plus.

Tangan Kai segera menjulur ke arah tanaman untuk mencabutnya. Namun,

Ada sebuah tangan lagi yang ingin meraih tanaman itu.

“Park Chanyeol?”

Tutur Kai tidak percaya. Apa-apaan anak ini? Bukannya ia bersama rombongan lelet itu? Bukannya ia sedang bersama yeojachingu barunya itu?

TAP

Tangan Chanyeol berhasil mencabut tanaman itu. Ia tertawa puas ke arah Kai. “Kau terlalu lamban. Aku duluan yang mencabutnya hahah. Paboya.” Chanyeol berdiri.

Kai mendesah tidak terima. “Bisa kau terima keadaan? Aku melihatnya lebih dulu. Dan kau..baru datang.”

Chanyeol hanya menaikkan alisnya. “Ini empas. Kau dapatkan 100 di ulangan sosiologi. Dan aku akan mendapatkan nilai plus di praktek kemah ini.” Kilah Chanyeol sembari memasukkan tanaman itu kedalam sebuah kantung. “Setuju?” Ulangnya.

Kai menggeleng. Lalu dengan cepat menarik tangan Chanyeol. “Berikan padaku.”

“Tidak.” Jawab Chanyeol.

Kai tetap menarik tangan Chanyeol. Chanyeol mengelak.

“Mau kurebut Seohyun-mu itu hah?” Tantang Kai. Chanyeol menelan ludahnya.

Bagaimana bisa Kai mengetahui perasaannya? Apakah Kai terlalu peka dengan lingkungannya? Chanyeol kini berdiri dengan kaku. Kai tersenyum puas. Lihat saja, apakah caranya berhasil.

Suasana hening.

“Bagaimana?” Tanya Kai dengan smirk andalannya.

Chanyeol terdiam. Lalu berucap.

“Ambil saja. Lagipula kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya.”

“Dia berbeda dari semua yeoja di dunia ini. Dan dia, tidak akan tertarik dengan semua rayuanmu itu. Ia hanya akan memilih namja yang terbaik untuknya..”

Chanyeol gantian tersenyum puas. Kai melemah, namun ekspresinya masih datar.

“Seohyun bukanlah yeoja biasa.” Tutur Chanyeol serius.

Lalu namja itu melepaskan genggaman Kai terhadapnya. “Buruan kita susul mereka. Mereka cemas.”

“Terutama yeojachinguku sendiri. Yang menangis untukmu.”

Kai terantuk. Ia merasakan kata-kata yang janggal disana. Kata-kata yang sangat mustahil ia dengar di dunia ini. Yeoja itu? Mimpi apa ia semalam sehingga ia menangis untuk dirinya?

Chanyeol menyadari ekspresi kaget Kai. Tidak biasanya lelaki cool ini kelihatan berekspresi kaget seperti ini. Bukannya ia adalah pangeran maha datar?

“Kau tidak percaya? Lihat dan pastikanlah. Ia menangis untukmu.” Sindir Chanyeol sembari tersenyum kecut. Lalu lelaki ini melanjutkan jalannya.

Kai terdiam membatu. Namun, ia segera mengikuti langkah Chanyeol. Entah mengapa ia langsung lupa dengan tujuannya untuk mendapatkan nilai plus. Mungkin semua itu teralihkan oleh seseorang.

Later…

Chanyeol menarik tangan Kai untuk menghadap Suho.

“Kai? Kemana saja kau ha?” Selidik Suho. Ia melihat Kai dari atas hingga bawah. “Kau tersesat ya?”

Kai menjawab singkat. “tidak.”

Lalu melepaskan tangan Chanyeol dengan kasar. Sial kau, Park Chanyeol..

Kyungsoo yang baru sadar akan keadaan Kai langsung menghambur. “Kai?”

“Kau kemana saja? Aku khawatir denganmu.”

Kai hanya diam. Ia langsung mencari-cari dimana yeoja yang menangisinya itu. Park Leera. Ia mulai menyisir pandangannya dari ujung ke ujung. Mencari yeoja dengan rambut kecoklatan itu.

Kai berbisik pada Chanyeol. “Hey, dimana yeojachingumu itu?”

Chanyeol mengangkat bahu dan segera pergi. Sementara itu Suho, Sehun, Baekhyun, dan Kyungsoo masih bertanya-tanya penasaran dengan Kai tentang apa yang terjadi kepadanya sembari ia menghilang.

Dan,, kalian tahu?

Kai hanya membalas dengan kata-kata ‘ya’ ‘tidak’ ‘hem’ ‘entah’ ‘tidak tahu’. Terus begitu hingga pertanyaan terakhir. Chanyeol dari jauh hanya geleng-geleng kepala.

Diam-diam Chanyeol penasaran juga dengan yeojachingunya itu. Dimana dia sekarang? Oh ya. Bahkan Chanyeol saja lupa bahwa ia sudah berhasil mendapatkan tanaman yang sudah dicari seharian ini dengan penuh rasa sakit dan lelah.

Chingu-ya!”

Mereka semua menoleh kecuali Kai.

Mwoya, Chanyeol-Ah?”

Chanyeol tersenyum evil. Lalu mendekat kearah namjanamja itu. “Aku telah mendapatkan tanaman yang kita cari-cari itu!” Kata Chanyeol heboh. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tas nya.

“Tara!”

Pekik Chanyeol. Kini tanaman itu sudah ada di tangannya. Yang lainnya memandang Chanyeol kagum. Mata mereka mengarah ke sebuah tanaman yang ada di genggaman Chanyeol.

“Kau hebat, Chanyeol-Ah! Mulai sekarang kita tidak perlu repot-repot lagi kan? Kau memang jenius!”

Mereka berujar dengan nada gembira pada Chanyeol. Suho menepuk-nepuk pundak Chanyeol tanda bangga. Bahkan ada kegiatan berpelukan sangking bangga nya mereka terhadap lelaki yang berasal dari Insandong itu.

“Aku memang jenius! Haha!” Balas Chanyeol tertawa bangga.

Kai mau muntah rasanya.

Kalau mengingat jerih payah Kai tadi. Bukan Chanyeol lah sebenarnya yang menemukan tumbuhan itu. Melainkan Kai sendiri.

Kalau bisa, Kai muntah saat itu juga.

Chanyeol masih saja tersenyum bangga sembari memamerkan hasil jerih payah nya itu. Sampai akhirnya ia menyerahkan tanamannya kepada sang leader, Uri Suho.

“Lihat. Kau akan mati besok.” Tutur Kai dengan bahasa isyarat. Chanyeol hanya memandang Kai malas. Mau bagaimanapun juga, Chanyeol adalah tipikal yang tidak mudah menyerah dan keras kepala.

Chanyeol masih tersenyum evil pada Kai. Lelaki tinggi ini lalu mendekati telinga Kai dan membisikkan sesuatu kepadanya. “Lebih baik kau jenguk dulu dia.” Lalu Chanyeol berlalu.

Kai terdiam di tempatnya, rombongannya sudah kembali berjalan ke arah perkemahan. Lelaki ini terus memandang keseliling, berharap ia dapat melihat yeoja itu. Ia masih tidak percaya bahwa yeoja pemarah itu menangisinya karena menghilang?  Kai mengacak rambutnya kesal. Ada apasih dengan yeoja itu? Ia semakin bingung dengan dirinya sendiri. Sesuatu yang aneh mulai memperingatinya. Tapi Kai selalu mengelak, pastilah itu tidak mungkin.

Lelaki ini mulai berjalan lunglai ke perkemahan karena lelah. Ia memperkirakan pasti mereka akan menginap satu malam lagi di hutan karena kelelahan. Mana mungkin si bau tanah itu mau menyetir dalam keadaan seperti ini?

Kai terus berjalan mengejar teman-temannya. Matanya terus menerawang mencari Leera.  Leera, Leera… kau gadis yang susah ditebak..

Hingga masuk ke tenda, Kai tidak kunjung menjumpai yeoja itu.

Lelaki ini kemudian langsung membaringkan tubuhnya. Ia menyisir rambutnya ke belakang dan menghembuskan nafas berat. Lalu ia mencoba untuk memejamkan matanya.

Padahal ini baru tengah hari. Aku sudah mengantuk.

Kai menimang-nimang ingatannya, ia tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak perlu di dalam benaknya.

#

Malam Harinya,

“Langsung pulang ke Seoul?”

Suho menerawang mata lelah kawan seperjuangannya satu-persatu, mulai dari Chanyeol si penemu tumbuhan langka, hingga Seohyun. Mereka semua sudah sangat lelah menanjak bukit dan menerobos rerumputan liar.

Baekhyun yang biasanya suka menyahut tidak jelas hanya mengangguk lesu. Chanyeol menepuk-nepuk pundaknya tanda prihatin. “Sabar, sampai Seoul kita akan kembali ke lumpur.”

“Aku bukan babi!” Teriak Baekhyun pada telinga ‘bagus’ milik Chanyeol. Chanyeol hanya menghembuskan nafas berat. Ternyata Baekhyun kalau sudah lelah pasti marah-marah tidak jelas. Layaknya wanita PMS.

“Tentu saja langsung ke Seoul. Kau tidak mau pulang?” Kyungsoo menceletukkan singgahannya. Baekhyun memanyunkan bibirnya. “Aku masih lelah.”

“Ya! Kau hanya akan duduk. Yang menyupir itu aku,” Kilah Suho muncul di tengah-tengah mereka.

Chanyeol melenggangkan tangannya di leher Baekhyun. “Ayolah, kita siapkan barang-barang kita…” Sedangkan Baekhyun hanya tersenyum kecut karena keinginannya untuk tetap tinggal tidak dipenuhi.

Tiba-tiba Chanyeol menangkap bayangan Kai. Saat sudah jauh dari rombongannya, ia menghampiri Kai.

“Bagaimana?”

Kai menengok ke arah Chanyeol seakan tidak mengerti apa kata Chanyeol. Ia pun menjawab dengan asal.

“Aku tidak ingin pulang sekarang, tidurku tidak akan nyenyak.” Jawab Kai sambil malas. Ia masih menguap. “Bolehkah aku tidur lagi? Lagipula ini sudah malam.” Lanjut Kai.

Chanyeol mendesah tidak puas. Maksud Chanyeol menanyai Kai sekarang adalah tentang Leera. Bukan tentang tidurnya nyenyak atau tidak. “Heh, aku tidak mau tahu kau tidur nyenyak atau tidak. Maksudku, apakah kau sudah menemui Leera? Dia terlihat sangat aneh. Menangis, dan dia sangat pendiam terhadapku. Ada apa sih dengannya?”

“Apa jangan-jangan, ia lebih nyaman berada di dekatmu?” Chanyeol menyipitkan matanya pada Kai. Menatap namja itu dengan serius. “Apakah ini sebuah kesalahan ia berada di dekatku?” Tegas Chanyeol. Membuat dada Kai sedikit bergetar.

“Apa yang kau bicarakan huh? Dia itu menyukaimu. Dan hal itu mutlak tidak akan berubah.” Tutur Kai datar. Ia mengalihkan pandangannya dari Chanyeol. “Ia hanya membutuhkan waktu beradaptasi denganmu. Asal kau tahu, ia gugup.” Kai kembali menatap Chanyeol.

Chanyeol berdecih pelan. “Aku tidak merasa dibutuhkan.”

“Mau bagaimanapun juga, dia yeojachingumu. Perlakukanlah dia sebagai yeojachingumu. Yeojachingumu itu bukan Baekhyun kau tahu?” Sinis Kai penuh penekanan. Kai tentu saja memerhatikan kedekatan Chanyeol dan Baekhyun yang lebih mirip sepasang kekasih yang hiperaktif.

“Aku tidak tahu. Tetapi yang jelas, sekarang yeoja itu sedang sedih. Dan apakah kau tahu siapa penyebabnya ia merasa sedih?” Tanya Chanyeol dalam.

Kai terdiam.

“Penyebabnya adalah kau.” Jawab Chanyeol singkat.

Dalam benak Chanyeol ia berharap agar Kai mau menemui yeoja itu. Untuk sekedar meredakan rasa sedih yeoja nya itu.

Aku mengandalkanmu.

Kai terdiam di tempatnya. Sebenarnya siapa yang saling mempunyai perasaan? Apa semua ini penuh rahasia yang menyakitkan? Mengapa masing-masing orang tidak mau mengakui perasaannya sendiri dengan jujur? Kai tahu semua posisi disini adalah salah. Semua pion catur disini tidak berdiri di tempat yang benar. Kapan semua rahasia ini akan terbongkar?

Mulai dari Seohyun. Gadis itu begitu tertutup hingga Kai tidak dapat mengetahui apa-apa tentangnya. Sedangkan Leera, gadis itu sangat tidak stabil.

Semua ini membingungkan.

Namun Kai tetap mengunci pikirannya. Ia tetap mengutamakan konsep hidupnya,

Tidak usah memikirkan yang tidak perlu. Pikirkanlah urusanmu sendiri dan jangan pikirkan sesuatu yang bisa menjatuhkanmu, Kai.

Kai memasang wajah seriusnya. Ia menatap keseliling. Ia melihat teman-temannya yang sibuk mengantarkan barang-barang ke dalam bagasi. Dan pada akhirnya, ia memutuskan untuk menemui Leera. Bagaimanapun caranya,

#

Mobil,

Waktu berjalan terlalu cepat. Harapan Kai untuk berbicara dengan Leera sebelum masuk ke mobil ternyata gagal begitu saja. Leera duduk di tempat yang berjauhan dengan Kai. Sebaliknya, ia duduk bersebelahan dengan Chanyeol. Ia merasa lemas sekarang dan daerah di sekitar kelopak matanya mulai hangat. Ia merasakan panas di sekitar tubuhnya, dalam hatinya ia berharap agar ia tidak kembali demam.

“Kau tidak apa-apa?” Chanyeol menyingkirkan rambut Leera yang menutupi matanya. Wajahnya di tundukkan agar bisa mencapai wajah Leera.

Leera mengangguk lemah sementara jantungnya berdegup sangat kencang.

“Aku tidak apa-apa.” Leera melontarkan senyumannya pada Chanyeol. Senyum getir nan rapuh.

Chanyeol memberi jempol kepada Leera lalu mengacak rambutnya. “Jangan sampai kau kau sakit.” Tutur Chanyeol. Leera hanya mengangguk lemas.

“Ah..”

Tiba-tiba jari Chanyeol mengarah ke bibir Leera. Ia mengusapnya,

“Bibirmu kering.” Ujar Chanyeol. Leera sedikit kaget dan mengusap bibirnya juga. “Mwo?” Tanyanya.

Chanyeol menarik kembali tangannya.

“Bibirmu kering. Mau kubasahi?” Tanya Chanyeol lepas.

Kyungsoo, Baekhyun, dan Sehun menengok ke arah mereka.

“Hold on guys! Hold on!” Pekik Baekhyun.

“Kalian ini… dasar.” Tutur Sehun. “Aku masih kecil, tidak boleh melihatnyaaa.” Lanjut Sehun.

Semuanya yang menyadari akan hal yang akan Chanyeol lakukan lalu memberikan pandangannya ke arah pasangan baru itu. Mereka tidak percaya Chanyeol akan melakukannya disini?

Baekhyun saja merasa geli di perutnya karena kata-kata Chanyeol barusan.

“ Biar kuulangi kata-kata mu Chanyeol-Ah! ‘mau kubasahi ?’ hahaha!” Baekhyun menirukan suara berat Chanyeol dan langsung tertawa lepas.

Sementara Leera tersipu malu di tempat duduknya, pipinya memerah sempurna. Ia tidak tahu bahwa teman-temannya menyadari kegiatannya dengan Chanyeol. Chanyeol pun hanya tertawa-tawa saja menanggapi mereka. Lagipula Chanyeol hanya bercanda.

“Yasudah kulakukannya kapan-kapan ya.” Sahut Chanyeol pada Leera. Leera masih tersipu. Ia terdiam dan hanya tertawa kecil melihat kekonyolan mereka.

Kai pura-pura tertidur. Seakan tidak mau ikut campur dengan keadaan.

Mobil pun segera melaju menyusuri hutan. Pemandangan hutan di malam hari tentu saja begitu menyeramkan, sepanjang jalan Leera terus memejamkan matanya agar tidak melihat suasana yang menyeramkan itu. Kaca begitu gelap, dan suasana yang sangat senyap. Belum lagi beberapa kilat yang menyambar-nyambar satu sama lain. Entah mereka memberitahu akan terjadi hujan atau tidak.

Sementara itu Suho masih menyetir dengan fokus.

“Sampai  keluar hutan. Kau harus menggantikanku.” Tunjuknya pada Kyungsoo.

#

Leera terombang-ambing dalam mimpinya. Bayang-bayang putih masih menghantui benaknya. Ia masih ada di dalam mimpinya. Namun, sejak sorotan cahaya mengenainya. Semua bayang-bayang putih itu berubah. Kelopak matanya membuka dengan cekatan.

Seakan baru menerima sebuah jantung yang baru.

Leera langsung melihat dunia yang lebih terang dari sebelumnya. Bau dedaunan dan tanah yang basah tak lagi diciumnya. Tetapi aroma Air conditioner kamar apartement nya lah yang ia rasakan sekarang. Kasur yang empuk ini hanya ada di kamarnya. Juga cahaya yang terang ini adalah …

“Bangunlah..”

ZLEPT

Leera langsung melihat namja itu berdiri di samping tempat tidurnya. Tangannya baru saja lepas dari gorden. Ternyata, ia yang membiarkan cahaya itu masuk ke dalam kamarnya.

Leera tentu saja kaget. Terakhir kali kelopak matanya terbuka ialah saat ia berada di samping Chanyeol. Tepatnya di dalam van Suho. Dan sekarang, ia sudah ada di apartemennya?

“Hah..”

Leera langsung bangun untuk duduk. Rambut panjang nya yang tergerai masih menutupi wajahnya. “Ini jam berapa?” Tukas Leera panik.

“Kita sekolah atau tidak?!” Tanya Leera.

Kai hanya mengendikkan bahu. “Kalau aku tidak mau.” Ujarnya. Sorot mata Kai terlihat berbeda dari biasanya.

“Sekarang kita kembali ke apartemen. Hidup seperti biasa. Dan aku kembali dimarahi oleh yeoja cerewet ini.” Tutur Kai sembari keluar kamar. Leera hanya terdiam. Ia masih merasakan gejolak yang aneh, bukan… ia merasa ia tidak akan leluasa lagi memarahi Kai sekarang. Entah mengapa.

Leera ingin saja kembali marah-marah dan menjerit. Namun, ia sudah tidak terbiasa lagi dengan semua itu setelah ia melalui semuanya kemarin. Dunia,

Serasa berubah..

To Be Continued

Sasa: AAA gak kerasa udah part 10! akhirnya aku bisa curi-curi waktu juga buat nulis part ini ya ampun t,t padahal esok mid t,t pokonya ini part yng paling ekh banget! maaf kemunculan part ini harus nunggu sampe lumutan dulu. soalnya ku sibuk bukan main😐 banyak masa yang nagihin di @Saarahsalsabil wkwkwk =D makasi loh udh setia support aku smpe skrg salut deh sm kalian😉 to review the story just leave a comment okkay? it;s easy way to prove that you read this fanfic😀 I need your review guys ^^
btw…. ada yang bingung sama mereka? sbnrnya apa yang terjadi dengan kai? apa yang terjadi dengan leera? ngapa YeolRa jadi lengket? dan ngapa Leera jadi care sama Kai? semua ada secretnya pokonya. semuanya ada secretnya. :p

Contact me on @Saarahsalsabil
or ask.fm @Saarahsalsabil

I’ll wait for you ders laff yahh :* :*

194 comments

  1. Eonniiii aku penasaran banget sama mereka berdua hahaha… Ga kerasa selama ini aku udah comment di 10 part hahaha… Pokoknya next chap ditunggu neon^^ semangat!!

  2. Lucu,,,kai sdh pasrah sma skap leera,,yg suka marah2+cerewet,,tpi leera udah simpati ney sm kai,,,bgtu jg chanyeol dia kayaknya jg mulai ska sma leera,,,trus seohyun bagaimana?,,next chapter pasti seru ney,,

  3. waaahhh miaann aq bacanya ngebut dari part 1…
    maap yah gak ninggalin jejak..hiksss…
    karena penasaran bangeettt sama ceritanya..

    ini seruuuu banget dehhh…
    seruu…
    dan aq lanjut baca lagi yaaaa…
    keep fighting !!!!

  4. Sebenernya maunya chanyeol itu apasihh-_- masa agak sebel sama karakter chanyeol. Cieee kaira udah saling perhatian uhukkkk *keselekmeja

  5. chanyeol kau tau !
    kau itu biasku tapi pas liat kau memiliki perangai burul disini aku mulau tidak suka denganmu /hayoh author udah buat aku gak suka ama chanyeol

    ffnya makin seru ayo ayo mulai klimakd ini :v

  6. Omegot omegot/heboh sendiri/ kyaaa kakak, welopun aku udah pernah baca nih FF sampe habis, tetep aja aku bacanya sambil grasak grusuk >oo< *ehkenapajadieluyangngefly?*–" okeoke yang penting aku komen :* /ditabok/ '-'v

  7. Baekhyun aneh, suka ketawa mendadak -_- entah apa yg dipikiran anak itu wkwkwkw
    Yg agak bener disitu keknya cm kyungsoo ama suho hehe..

  8. hish, apa maksud dari ‘kubasahi’ park?😄 /ngakak bareng baek/
    Yeol juga rese’, tanaman yang diperjuangin Kai malah seenaknya diambil. :3
    Leera khawatir cie.
    Aku lanjut baca ya.🙂

  9. eh eh.. @@
    ternyata mantannya kai oppa jiyeon ya eonni? @@
    tp dr awal aku malah mikir ke anak cewek rambut blonde itu -_-# gaje *plakkk
    yauda deh dr pada makin penasaran ijin baca next chap ya eonni ^^

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s