OMCIA! YBIMA [Part12] –Membahas Masalalu–


huhuh

| Title |

One Month Crush In Apartemen! [Yadong boy in my apartemen!]

| Author |

Bekicot Princess aka @Saarahsalsabil

| Main Cast |

Park Leera

Kim Jong In

Park Chanyeol

Seo Joo Hyun

| Genre |

School life, romance, fluff, AU

| Length |

Chaptered

| Rating |

PG-15

| Summary |

Tinggal dengan namja mesum itu di apartemen ini?! GILA! Shireo!

Previous Part

| Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6a | Part 6b | Part 7a | Part 7b | Part 8 | Part 9a | Part 9b |Part 10| Part 11|

~don’t confused with your feelings. Feelings are something real of you~

 
100% ORIGINAL BY @SAARAHSALSABIL

Previous Part

“Mian, merepotkan kalian. Ada yang harus kubeli.” Bisik yeoja berambut blonde. Pada kedua temannya.

Min Ka langsung menghambur masuk ke dalam toko. Seorang pramuniaga menyambutnya, yang tak lain tak bukan adalah Jiyeon. “naneun dangsin-eul wihae mueos-eul hal su issseubnikka? (Ada yang bisa saya bantu)?” Min Ka mengangguk polos.

“Aku mencari pensil khusus menggambar sketsa.” Jawabnya sembari menatap rak-rak raksasa.

Jiyeon tersenyum ramah seolah professional. “Ikuti aku.” Lalu ia menunjukkan rak yang tepat pada Min Ka.

“Yang Ini?” Tunjuk Jiyeon.

Min Ka mengangguk dan mengambilnya. “Gamsahamnida (terimakasih)!”

Pandangan Jiyeon menemukan sepasang yeoja di dekat pintu masuk. Yeoja berambut emas sedang bermain tarik-tarikan syal dengan yeoja berambut hitam pendek (Leera dan Min Hee). Syal,

Syal ..

Jiyeon menatap syal itu dengan alis mengerenyit. “Syal itu ..?”

“Untukmu.. aku tidak mau lehermu membeku. Makanya kuberikan ini, khusus untukmu. Dan aku yakin.. hanya ada satu di dunia ini.”

Jiyeon terkesiap dan memandang syal itu baik-baik.

Iya! Dengan sangat jelas, itu adalah syal miliknya.

Atau lebih tepatnya, syal yang sudah dikembalikan kembali pada namja masalalunya.

Terbesit dalam memori Jiyeon. Disaat Desember, musim dingin.. disaat ia akan pergi. Ia menyerahkan syal itu tanpa mengucapkan kata-kata apapun, terkecuali selamat tinggal.

“Selamat tinggal..”

Karena ia pikir. Ia tidak akan bertemu namja itu lagi.

Apa itu artinya,

Aku akan bertemu dengan dia lagi?

***

sorry for typos!

Min Hee sudah tak kuasa lagi melihat temannya berkeliling kota dengan leher telanjang. Cuaca di luar amatlah dingin, namun Leera masih tidak percaya jika ia akan mendapatkan demam lagi jika ia tidak mau memakai syal.

Andwae! (Tidak mau)”

Mereka berdua masih saja bertingkah seperti anak kecil. Menarik-narik syal. Pertikaian yang tidak berarti juga tidak berujung. Sementara itu Lee Min Ka sedang membayar barang belanjanya di kasir. Mereka datang ke sini untuk menemani Min Ka membeli alat tulis. Dan kebetulan yang mengerikan, bahwa mereka sedang mengunjungi tempat magang Jiyeon dan Hyomin, siswi-siswi Seoul Suwon School. Jiyeon sedari tadi masih terpaku di depan rak, sementara untaian memori muncul satu demi satu di benaknya layaknya sungai mengalir. Jiyeon bisa ingat itu dengan sangat jelas.

Flashback

Jiyeon berdiri dengan tangan gemetar. Di atas trotoar yang membeku di tengah kepadatan kota Seoul. Kendaraan lalu lalang menembus salju tipis, hari ini masih awal musim dingin. Cuaca tidak begitu ekstrim. Angin Karibia menghempaskan tubuhnya, mantel bulunya sempat ikut bergoyang bersama angin. Tangannya yang terkepal sarung tangan tebal itu tiba-tiba mengepal keras, kepalanya menunduk ragu. Gadis kecil ini berjalan menyusuri trotoar beku yang sudah dilapisi butiran salju.

Ia memberianikan diri menatap namja di depannya.

Namja bertudung dengan jaket tebal. Ia menggunakan penutup telinga yang terbuat dari bulu domba, berwarna hijau. Kulit putihnya yang kedinginan membuat pipinya mengeluarkan rona kemerahan. Sedangkan anak rambut hitamnya menyelip diantara bulu penutup telinga, menutupi seluruh dahinya. Anak itu mengeluarkan sinar mata senang, khawatir, sedih, juga haru. Namja ini adalah Kai. Kai yang sudah menunggu kedatangan Jiyeon 2 minggu lamanya.

“Jiyeon?” Pekiknya. Langkahnya terseok-seok kedinginan. Namun semangatnya membara tidak sabar untuk memeluk yeoja di depannya. Ia merasa hatinya telah diisi kembali. Ia merasa sudah dapat menggapai sesuatu yang sudah dinantikannya sejak dulu. Ia kangen senyum grogi yeoja ini. Sepatu hangat Kai akhirnya bersentuhan dengan milik Jiyeon. Namja itu tersenyum karena Jiyeon kini ada di dekatnya. “nan dangsin-eul nohchin (Aku kangen kamu)” Raut Kai terlihat senang.

Jiyeon masih bertahan dengan wajah datarnya. Tidak peduli namja di depannya ini tersenyum selebar apa. Yang harus ia lakukan sekarang hanya menyerahkan syal pemberian orang ini, dan segera pergi meninggalkannya. Ia tidak mau Kai sakit hati. Ia tidak mau memberi senyumannya pada Kai. Karena ia tidak mau memberikan sesuatu yang manis kemudian ia pergi begitu saja. Bukannya dengan membenci Kai, Jiyeon akan lebih mudah pergi? Dan lebih mudah melupakan? Bukannya dengan mengakhiri hubungan ini lebih mudah bagi mereka untuk tidak terikat kembali? Jiyeon benar-benar tidak tahan dengan hidupnya. Waktunya tinggal satu menit lagi,

Kai tetap tersenyum lebar. Hendak tertawa lepas untuk menyambut kedatangan Jiyeon kembali. Sehabis ini terbayang rencananya untuk mengajak Jiyeon main ke rumahnya untuk minum cokelat panas bersama lalu menanyakan Jiyeon pertanyaan seputar ‘kemana kau akhir-akhir ini?’ atau ‘aku sangat merindukanmu bodoh’. Lalu Kai akan segera melihat senyum grogi Jiyeon kembali, dan mengacak-acak rambutnya sampai ikal. Kegiatan bodoh yang membuat Kai begitu senang.

“Ayo pulang, kita ke rumahku dulu minum cokelat panas ..” Kai berbisik, mendekatkan bibirnya pada telinga Jiyeon. Jiyeon menunduk tanpa memberiikan respon apapun. Tangan Jiyeon menyambar syal yang dililitkannya ke leher. Lalu membukanya, menyampirkan syal itu pada leher Kai. Ia tetap menunduk, ia tak kuasa melihat bola mata Kai. Wajah Kai, sungguh merangsangnya untuk menangis. Wajah suci polos itu, dengan rona kemerahan di pipinya membuatnya begitu lucu. Jiyeon sering mencubitnya. Namun, sekarang bukan waktunya untuk itu. Ini perpisahan. Kuatkan dirimu Jiyeon.

Tinggal ucapkan selamat tinggal. Lalu pergi dari hadapan namja itu untuk selama-lamanya.

Belitan syal sudah tertata di leher Kai. Kai mengedarkan pandangannya pada Jiyeon. Tepatnya ubun-ubun yeoja itu, karena yeoja itu menunduk begitu dalam.”Apa maksudmu?”

Jiyeon tetap diam. Tetap menunduk. Malah semakin lama, ia semakin memundurkan langkahnya. Kai terperanjat tidak mengerti mengapa Jiyeon bersikap begitu aneh. “Jiyeon?”

Tepat pada saat itu Jiyeon meneguk ludahnya. Sudah berjuta-juta kali Jiyeon mengulangi kalimat yang akan di ucapkannya pada Kai yang seharusnya sudah diucapkannya 3 detik lalu. Namun, tenggorokannya selalu terhalang oleh sesuatu. Mengapa susah? Hanya selamat tinggal kan?

Jiyeon memejamkan matanya, masih menunduk. Tangannya di kepal kuat menahan gemetar.

“Selamat tinggal”

Jiyeon langsung berbalik. Lari.

Lari.

Langkahnya semakin besar. Ia semakin menjauh.

Kai terpaku menatapnya. Entah mengapa ia tertahan untuk mengejarnya. Kalimat itu terngiang-ngiang di benak Kai bagai alarm pengingat. ‘selamat tinggal’. Apakah Jiyeon hanya bergurau? Atau jangan-jangan ucapan itulah hadiah natalku tahun ini?

Kaki namja ini berkontraksi, rahangnya mengeras. Dalam hitungan detik, Kai sudah berlari seperti atlet yang sedang bertanding. Menembus trotoar yang sesak akan pelanggan pasar natal. Ibu-ibu dengan kantung pelastik besar, pedagang kaki lima, hingga anak-anak sekolah yang berkejar-kejaran. Semuanya ditumpas Kai. Tubuhnya yang membeku masih sanggup mengejar Jiyeon. Kepulan uap keluar dari saluran pernafasan namja itu, menandakan ia benar-benar berusaha.

Namun sayang, langkahnya terhenti di sebuah halte yang terlihat 50 meter di depannya.

Ia melihat Jiyeon dan ayahnya memasuki pintu sebuah bis antar daerah. Lalu mereka berdua lenyap, tertelan pintu. Dia, sudah hilang dibalik jalanan kota.

Kai tidak bisa apa-apa lagi.

Ia mematung tanpa mengerti satupun.

Lelaki itu tidak pernah mengerti dengan sifat Park Jiyeon. Setelah tidak bertatap muka selama dua minggu lebih. Menunggu sekian lama sama saja dengan kehilangan setengah jiwanya. Sore ini dia datang.. tentu hati Kai memekik senang. Namun, mengapa ia hanya menyerahkan syal ini dan hanya mengucapkan dua kata?

Selamat

Dan

Tinggal ?

Bukannya dua kata itu nama lain dari sembilu? Bukannya kata itu juga nama lain dari ‘aku-tidak-mau-melihatmu-lagi’ ? Benar kan?

Air mata Kai tidak mengalir layaknya di drama murahan. Ia justru merasa marah pada dirinya sendiri. Ia merasa ia tidak memperlakukan Jiyeon dengan baik. Ia mengartikan seluruh kejadian tadi dengan “ini semua akibat diriku sendiri”

Ia tidak mau menyalahkan Jiyeon. Ia yakin, Jiyeon hanya menunggu Kai untuk minta maaf. Ia yakin, jika ia bisa bertemu dengan Jiyeon kembali dan meminta maaf. Pasti mereka akan kembali bersama seperti dulu.

~

abeoji (ayah).. kita hendak kemana?”

Mata Jiyeon yang berair menatap pahatan wajah ayahnya dari samping. Ayahnya sedang duduk tepat di sebelah jendela bus. Menatap rentetan toko-toko usang yang dilewatinya dari waktu ke waktu. Di sudut jendelanya menyelip kapas-kapas salju. Ayahnya tidak menjawab apapun. Hanya memeluk Jiyeon dan mengusap kepalanya.

Di dalam hatinya, ia sangat gusar. Otaknya memutar-mutar berbagai materi. Ia berfikir keras bagaimana dapat menghidupi keluarganya kembali. Menghidupi anak gadis satu-satunya ini, Park Jiyeon. Bagaimana menyekolahkannya kembali dan sebangsanya. Tuan Park mengalami krisis perusahaan. Ia bangkrut karena harga saham yang jatuh melebihi kapasitasnya. Tak ada gunanya lagi ia berbisnis. Ia sudah menyerah dari Seoul. Perusahaan yang sudah dirintis keluarganya turun-temurun malah kandas di tahun yang dijabatnya. Memalukan. Tuan Park merasa berdosa dengan ayahnya dan kakek buyutnya yang sudah berusaha keras.

Anak gadisnya ini tidak tahu apa-apa. Hanya mengikuti perintahnya sedari di rumah mewahnya yang sudah disegel bank.

“Jiyeon, bawa seluruh bajumu.”

“Kenapa?”

“Jangan Tanya. Cepat masukkan seluruh barangmu yang penting ke dalam koper ini. Dan jika selesai keluarlah. Aku akan menyusul.”

“Baik”

Jiyeon mematuhi perintahnya dari awal. Sejak saat itu Jiyeon tidak pernah bertanya lagi ‘kenapa’. Kecuali 1 menit yang lalu. Itu kedua kalinya ia bertanya tentang alasan ayahnya mengajaknya pindah dan pergi secara cepat dari Seoul. Karena kasihan dengan anaknya yang tidak tahu apa-apa. Akhirnya tuan Park membolehkan Jiyeon pamit dulu dengan satu orang saja yang penting baginya di kota ini. Namun, waktu Jiyeon terbatas, hanya sekitar dua menit tidak lebih. Bis akan berhenti beroperasi hingga pukul 6 sore. Sedangkan Jiyeon harus segera keluar dari kota ini sebelum malam. Hidup memang tidak adil bagi Jiyeon , Desember ini. Ia harus banyak berkorban.

“Tenang..” Ayahnya bersuara.

“Jiyeon tetap bisa main lagi seperti bisaanya. Kota yang menyenangkan bukan cuma Seoul. Di kota baru yang akan kita tempati juga ada sekolah, tempat bermain, dan teman-teman yang menyenangkan. Juga, titik plusnya di kota baru kita akan langsung berbatasan dengan laut. Sungguh menyenangkan.” Nada ayahnya mulai hangat—menyenangkan. Senyum Jiyeon mengambang melihat ayahnya yang tertawa lebar. Jarang sekali ia melihat ayahnya tersenyum, apalagi dulu kerjaan ayahnya hanya bolak-balik pintu ruang tamu. Kantor- rumah- kantor- rumah. Rumah hanyalah tempat untuk tidur. Bahkan ayahnya pernah tidur di kantor.

“Ya, aku percaya pada ayah.”

Jiyeon memeluk ayahnya.

Sampai saatnya mereka sampai di kota yang disebut Insandong. Disebut juga mulgogi ma-eul atau kota ikan. Kaki Jiyeon menginjak tanahnya. Baru sampai di suatu gerbang yang terbuat dari papan kayu dengan paku bertaburan dengan asal. Jiyeon sudah bisa mencium bau amis. Ini kota ikan. Dalam benak Jiyeon, ia sudah bisa meramal bahwa Ia akan jadi anak nelayan. Nelayan Park. Jiyeon percaya tidak ada anak bermarga Choi disini.

Jiyeon bingung tentu saja. Namun ia tetap mengikuti ayahnya yang mulai memasuki gerbang itu. Langkahnya terseok-seok menjinjing tas yang menggembung. Peralatan tidur adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Gadis itu memakai topinya dan sengaja untuk menutupi wajahnya.

Ayahnya mengedarkan pandangan kesekeliiling. Hanya dirinya sendiri lah yang mengenakan kemeja dengan dasi menggantung. Sedangkan yang lainnya menggotong baki yang berisi ikan-ikan kering dengan kaus putih yang kuning kecokelatan. Karena musim dingin, hanya satu-dua orang yang keluar rumah. Sisanya mungkin anak-anak yang dengan polosnya menangkap salju dengan lidahnya. Jiyeon semakin menunduk saat beberapa orang memandang mereka dengan penuh tanda tanya. Utusan presiden kah? Begitu pikir warga kota Insandong. Sebenarnya tempat ini adalah desa. Namun, desa ini masuk dalam kawasan Insandong. Tentu saja Insandong dibagi menjadi berbelas-belas desa terpencil. Di satu desa biasanya terdapat secara maksimal satu gedung sekolah. Namun ada juga desa yang tidak mempunyai gedung sekolah sehingga harus menyeberangi desa lain demi mendapatkan pendidikan. Mata pencaharian utamanya tentu saja nelayan. Namun ada juga yang memilih untuk berdagang tekstil dan buah-buahan.

Tuan Park mendapat sukarela rumah dari seorang warga. Sebulan pertama Tuan Park bekerja menjadi nelayan kecil. Hingga 3 bulan Tuan Park mulai terlatih, dan sejak 4 bulan mendapatkan penghasilan yang cukup. Ia mulai mengurusi rumahnya dan keperluan Jiyeon. Ia membayar Tuan Shim yang memberikannya rumah kecil untuk keluarga Park. Tentunya dengan balasan yang setimpal. Keluarga Park berhutang budi sangat besar dengan keluarga Shim. Dalam kurun waktu itu tentu saja Jiyeon selalu penasaran akan segala hal di sekitarnya. Mulai dari pekerjaan ayahnya, anak-anak sebayanya yang sekolah di gedung yang kecil. Jiyeon hanya mengintip-intip dari jendela. Dan duduk di ayunannya selama 3 jam untuk menunggu mereka pulang. Entahlah, menurut Jiyeon itu kegiatan menyenangkan. Tentu saja beberapa siswa sekolah itu jadi mengenal Jiyeon secara tidak langsung. Khususnya Park Chanyeol. Terkadang Chanyeol—namja seumuran Jiyeon, tinggi, berambut cokelat dengan bola mata yang cokelat pula. Terkadang memakai kacamata dan tas punggungnya yang berwarna merah. Selalu memakai mantel ayahnya yang kebesaran saat musim dingin—itu membawakan roti buatan ibunya pada Jiyeon tiap pulang sekolah. Jiyeon tentu saja menerimanya. Pada akhir pekan biasanya Chanyeol mengajak Jiyeon belajar membuat roti di rumahnya. Mengaduk adonan dan bermain tepung. Itu menyenangkan bagi Jiyeon. Hingga saatnya satu tahun berlalu, akhirnya Jiyeon sudah bisa sekolah seperti anak-anak lain. Ia satu sekolah dengan Chanyeol, pulang sekolah bersama Chanyeol dan segalanya dengan Chanyeol. Chanyeol merupakan murid yang pintar sehingga ia juga terobsesi. Sampai saatnya Chanyeol mulai bersikap dewasa. Ia tentu saja penasaran dengan kehidupan Jiyeon sebelumnya. Sudah lebih dari setahun mereka berkawan bersama, namun Chanyeol tak kunjung mengetahui latar belakang gadis ini?

Jiyeon menceritakan dari awal sampai akhir.

“Jadi dulu kau punya namjachingu? Hm.” Respon Chanyeol.

“Apa? Mengapa kau tidak membawa anjingmu juga ke Insandong bodoh!”

“Bangkrut? Bisnis keluarga?” Tanya Chanyeol.

Respon Chanyeol sangat aneh. Ia sangat agresif dan eksplosif dalam bertanya. Namun, semua respon Chanyeol itu justru membuat Jiyeon kembali bangkit dan tertawa-tawa karena tingkah konyol kawannya ini.

“Kalau namjachinguku itu yang kuceritakan. Mungkin ia akan memberikan respon yang mengharukan sehingga aku akan menangis.” Kilah Jiyeon menutup mulutnya karena terlalu banyak tertawa.

“Ini cerita sedih! Bukan cerita lucu!”

Namun mereka masih saja tertawa.

Mereka akhirnya saling mengetahui riwayat hidup masing-masing. Detik disulap menjadi menit, menit disulap menjadi jam dan jam lama-lama berubah menjadi tahun. Roda pun berputar dan tibalah pengumuman kelulusan.

Seorang wanita setengah baya dengan rambut putihnya yang tergulung rapi berdiri lunglai di atas podium. Memegang secarik kertas yang menyembul dari balik amplop putih. Sinar terik matahari menyinari lapangan hijau sekolah itu. Speaker bergetar-getar mengeluarkan getaran suara. Semua murid menyimak baik-baik dengan telinganya. Hari ini pengumunan 2 siswa terbaik yang akan memenangkan beasiswa ke Seoul. Iya, hanya dua.

Seakan air mengalir tanpa hambatan apapun… … …

“Park Chanyeol.. “ Kepala sekolah—wanita setengah baya—membolak-balikan kertas amplop tadi.

“—dan Park Jiyeon!”

Suara riuh terdengar. Seisi lapangan mengeluarkan berbagai suara yang berisik. Mereka mengelu-elu kan nama Chanyeol dan Jiyeon. Bersorak-sorai senang.

Hingga saatnya Jiyeon dan Chanyeol bertemu Seohyun. Mereka bertiga satu mobil menuju Seoul. Namun, Jiyeon tinggal di apartement yang berbeda dengan Seohyun dan Chanyeol. Karena mereka berbeda sekolah. Seouls Academy Senior hanya menerima dua siswa pindahan dari luar kota. Jiyeon terpental ke Seoul Suwon School. Namun Jiyeon tidak protes. Ia tetap mengikuti arus hidupnya. Ia selalu bersyukur karena ia bisa kembali ke Seoul lagi. Namun, bayang-bayang Kai masih menghantuinya. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah ia akan kembali lagi bersama Kai? Jawabannya adalah tidak. Ia tidak mau membuat Kai sakit hati dengan menciptakan perpisahan selanjutnya. Mau tidak mau, Jiyeon pasti akan segera berpisah (lagi) dengan Kai. Walaupun ia bersekolah di Seoul sekalipun. Dalam hati Jiyeon ia juga merasa Kai pasti membencinya. Ia pun tidak mau membuat dirinya semakin dibenci. Lebih baik menghilang dari ingatannya, daripada kembali diingat namun segera dilupakan.

Usaha Jiyeon untuk melupakan Kai adalah dengan mencoba menyukai Chanyeol, mencoba cemburu dengan Seohyun, intinya ia mencoba menyukai Chanyeol. Namun, tetap saja. Tidak bisa. Perasaan tidak mudah berpindah. Lagipula sekarang, ia jarang bertatap muka dengan Chanyeol. Namun kini, ia mempunyai teman baik bernama Hyomin dan Myungsoo. Dan hidup bagai remaja normal di ibukota Korea Selatan, Seoul.

Flashback end.

Jiyeon tersadar dari lamunannya. Ia menyadari ia sudah sangat lama berdiri mematung di depan rak alat tulis. Bola matanya kembali menari-nari mencari dimana yeojayeoja tadi. Matanya mengejar ke pintu masuk toko. Namun mereka lenyap bagai ditelan bumi. Yeoja yang punya syal, yeoja yang menarik syal, dan yeoja yang membeli pena tadi sudah menghilang. Pergi.

Apakah yeoja yang mempunyai syal itu adalah yeojachingu nya Kai sekarang?

Jadi, ia sudah bisa melupakan aku ya..

“Jiyeon-a! Kau ini ayo bantu aku !”

Suara Hyomin yang melengkinng di telinga menyerang Jiyeon yang mematung. Kepala Jiyeon spontan menengok cepat dan berlari ke arahnya. Ia menatap Hyomin dengan raut kesal. Ia berjongkok mengambil tumpukan pena dari dus berukuran sedang.

“Dari tadi aku kau panggil. Mengapa hanya bengong sih? Ayo bantu aku menyusun ini.” Mulut Hyomin berkoar-koar. Jiyeon baru sadar bahwa sejak tadi memang ia tidak sadar. Ia sibuk mengurusi masa lalunya. Ia tidak menyangka sekarang ia bisa berdiri disini. Rasanya 3 tahun terlalu cepat.

***

Leera menyerah. Yeoja bebal nan cerewet itu akhirnya mau juga mengenakan syal.

“Jangan sok gengsi. Gengsi bisa membunuh orang lho. Tidak enak kan kalau kau mati hanya karena tidak mau memakai syal?”

Iya. Ada benarnya juga omongan Min Hee.

Mereka bertiga kini sudah sampai di tempat tujuan. 3 pasang kaki yang dibalut bulu-bulu putih halus pernak-pernik musim dingin itu kini sejajar di depan sebuah bangunan mungil namun rapih. Tertera spanduk besar ‘CLUB ICE SKATING’. Min Hee yang mengusulkannya sejak di sekolah tadi. Lumayan untuk mengisi liburan musim dingin.

“Ayo mendaftar.” Min Hee bersedekap tangan sambil menyengir kuda. Leera menoleh kearah bangunan mungil tersebut yang dihiasi spanduk. “Oh, Ice Skating.” Ia menghembuskan nafas berat.  Sementara Min Ka hanya memandang dengan wajah datar. Ia sudah tahu rencana Min Hee sejak awal. Yaitu bergabung di club Ice Skating dan bermain tiap pulang sekolah. Atau mengisi waktu liburan.

“Kau bisa main Ice Skating kan Leera-a?” Tanya Min Ka sangsi. Gadis blonde ini melakukannya sembari menyibak rambutnya. Diam-diam Leera terpesona dengan sosoknya yang kutu buku namun tahu situasi dunia luar. Khususnya club – club ice skating seperti ini. Bukannya Min Ka adalah anak perpustakaan juga? Leera kan pernah bertabrakan dengannya saat ia ke perpustakaan bersama Seohyun.

Leera mengangguk untuk menjawab pertanyaan Min Ka. “Dari kecil aku sering main ini bersama orang tuaku.” Jawabnya mantap. Sedikit menyombongkan diri. Sebenarnya tidak sering. Hanya sekali dalam suatu musim dingin. Sebenarnya itu bisa dibilang jarang. Leera lebih suka menghabiskan waktu di mall dan di kamarnya.

“Oh baguslah kalau begitu berarti kami tidak perlu khawatir!” Min Hee menyahut semangat. Lalu menarik kedua tangan temannya memasuki tempat bermain Ice Skating itu.

Leera mengedarkan pandangannya saat memasuki ruangan Ice Skating. Ia melihat memang banyak orang seusianya. Apalagi yang mengenakan seragam sudah tidak bisa dihitung jari lagi. Tempat ini penuh dengan anak-anak SMA. Leera yakin salah satu dari mereka semua pasti ada yang sedang berkencan. Tak salah lagi. Ia teringat namja tinggi dengan rambut berwarna cokelat itu,

PARK CHANYEOLLL!!

Ia langsung tersenyum kecut mengingat namja itu yang tidak pernah mengajaknya kencan. Jika Leera berada bermil-mil jauh dari Chanyeol ia bebas mengungkapkan rasa sukanya terhadap Chanyeol pada teman-temannya sesuka hatinya. Ia tidak merasa malu dan tidak enak. Namun jika ia berada dekat dengan Chanyeol, rasa percaya diri itu luntur bagai tersiram sabun. Kegugupan akan melanda Leera tiba-tiba. Bisa saja Leera berkoar-koar disini bahwa ia menginginkan kencan. Namun, saat ditanya Chanyeol ia mau kencan atau tidak, ia akan gugup setengah mati. Itulah kebodohan yeoja yang sedang jatuh cinta. Apalagi yeoja labil ini.

“Hey. Mengapa melamun?”

“Park Leera?”

Min Hee menggoyang-goyangkan bahu Leera. “Isi formulirnya!” Bisik Min Hee mendesis. Leera mengangguk pasrah dan menuliskan data-datanya.

Sampai ia bingung dengan kolom alamat.

Aishhh yasudah tulis alamat apartemennya saja

“Sudah selesai. Ayolah kita masuk ke esnya,” Tukas Leera.

Sejauh mata memandang warna biru keputih-putihan mendominasi tempat itu. Terlihat banyak siswa yang bermain ice skating sepulang sekolah. Leera mengedarkan pandangannya ke segala arah. Berharap ada Chanyeol disana. Berharap namja itu akan meluncur dengan sepatu skatingnya dan mengulurkan tangan untuk bermain ice skating bersama. Namun, nihil. Tak ada Chanyeol disini.

“Banyak orang berkencan. Tidak asik.” Tutur Min Ka sembari mengucir rambut blonde keritingnya yang panjang. Lalu melepaskan kacamatanya. “Membuat iri saja.” Lanjutnya.

Min Hee menyenggol sikutnya. “Justru itu kita kesini bodoh.” Singkapnya. Min Ka mengernyitkan dahi “Maksudmu?” Tanyanya penuh bingung. “Kau mau melihatnya?”

“Bukan. Kalau banyak yang kencan. Pasti banyak juga yang hanya sekedar menemani. Contohnya namjanamja tampan yang tidak punya pasangan. Pasti ia celingak celinguk seperti orang bodoh. Atau ber ice skating ria sambil menatap kosong es. Banyak namja tampan disini Min Ka baboya! Biasanya berponi dengan rambut hitam konvensional dan ia ber ice skating sembari memakan permen karet! Ia meniup permen karetnya di depanku dan melirik ke arahku! Kyaaa!” Min Hee menyelesaikan kalimatnya dengan jeritan. Yeoja berambut cokelat pendek itu histeris saat mengingat kembali masa-masa itu. Tujuan yeoja kesepian satu ini adalah mencari pemandangan namjanamja tampan. Tujuan yang cukup masuk akal. Mengajak dua teman untuk objek penyamaran? Ah, bisa saja.

“Oh jadi itu tujuanmu? Hah.” Min ka menatap merendahkan. Temannya ini memang aneh-aneh saja. Min Hee memang cantik, namun hingga saat ini entah mengapa ia tak kunjung mempunyai pasangan. Aneh saja menurutnya. Mungkin karena sikapnya yang terlalu over?

“Oh iya, kau tidak mengajak Chanyeol, Leera-a?” Tanya Min Ka tiba-tiba.

Pipi Leera langsung memanas. Menyisakan rona merah. Raut Leera langsung berubah.

“Ah, aku..”

Min Hee melongo kaget. Ia menatap kaget teman di sebelahya itu degan mulut terbuka. “Kau serius?”

Leera masih membatu. Lalu menggaruk-garuk kepalanya “Hehe , iya.” Balasnya untuk Min Hee. Sementara itu pertanyaan Min Ka belum dijawabnya. Min Ka pun kembali bertanya.

“Apa ia menyusul?” Tanyanya lagi dengan nada yang sama. Tidak ada nada menggoda atau apapun.

Leera menggeleng malu, malu mempunyai namjachingu yang kurang peduli padanya. Leera hanya mencoba positive thinking dengan Chanyeol. Mungkin saja Chanyeol perlu belajar dan mengulang pelajaran sekolah.

Tetapi kan Chanyeol tidak pernah belajar. Tanpa belajar juga Chanyeol bisa pintar. Otak seorang Park Chanyeol memang sudah dirancang menjadi jenius. Tidak perlu belajar titik! Namun sayangnya Leera tidak menyadari fakta penting itu.

Alis Leera mengernyit. Tunggu, kenapa Min Ka bisa tahu? Bukannya yang baru tahu hanya aku, Seohyun dan anggota gank EXO saja? Mengapa bisa?

Ini aneh..

Namun, Leera mengusir pikiran itu jauh-jauh. Lagipula mungkin saja Chanyeol dengan bangga menyebar-nyebar statusnya di depan umum kan? Pikir Leera begitu sangking percaya diri.

“Yasudah deh. Ayolah, aku sudah selesai memakai sepatu ice skatingnya nih. Ayo kita mulai berseluncur di es!” Pekik Min Hee tidak sabar. Min Ka tersenyum sumringah, begitu juga Leera. Mereka bertiga bangun, berjalan menuju pintu masuk ruang lingkaran besar yang dilapisi kaca tebal dengan salju asli yang tertimbun di lantainya. Beberapa pasang manusia sedang berseluncur di atas es itu dengan aneka tawa. Bahu mereka bertiga mulai hilang ditelan kaca pembatas. Bersiap memasuki dunia es.

***

Sasangnim sosiologi itu bersandar di sofa rumahnya. Setelah seharian lelah dengan mengajar murid-murid di Seoul Academy Seniors ia memilih beristirahat dengan cara tidur ringan di sofa panjang miliknya sembari menonton televisi.

Iya meraba kantung blazernya dan menemukan kertas yang sudah dilipat-lipat asal. Itu adalah kertas yang di lemparkan Chanyeol kepada Leera saat di pelajarannya. Guru itu tentu saja naik pitam. Tidak ada yang boleh main lempar-lemparan kertas saat pelajarannya, itu sudah mutlak aturan mainnya.

Guru itu menyambar kertasnya dan membukanya perlahan.

‘Sebaiknya, akhiri saja hubungan ini. Aku tidak menyukaimu, dan tidak akan pernah menyukaimu’

Jemari guru sosiologi itu langsung mengendur saat melihat isi kertas tersebut. Cinta monyet yang bermain dibelakangnya. Ternyata ini isi surat penting yang dilemparkan muridnya. Guru itu mengingat nama-nama muridnya. Chanyeol dan Leera. Ya, ia sangat ingat. Ia ingat sekali. Ternyata sebentar lagi ada yang akan sakit hati.

Guru itu kembali melipat kertas. Menggumpalkannya dengan keras agar menjadi bola kertas kembali. Lalu memandangnya. Ia tak mengacuhkan televisinya yang menyala.

“Eh, itu privasi murid.”

Suaminya menghampirinya. Guru itu terkaget dan memasukkannya kembali ke dalam blazernya. “Iya maaf habisnya aku tidak tahan.” Jawab guru sosiologi itu dengan kaku.

“Ini hanya permainan lempar kertas.” Jawabnya lagi mencoba santai.

“Apa isinya penting?” Tanya suaminya sembari melepas jaket. Istrinya terdiam, lalu menjawab dengan pelan. “Tidak.”

Suaminya mengangkat alis dan menuju ke kamarnya. Meninggalkan istrinya tercenung di ruang televisi. Guru itu berfikir dalam hati, apa peduli suaminya terhadap kertas ini? Memangsih, suaminya itu sangat mengutamakan privasi. Dan guru sosiologi ini telah melanggar aturan privasi.

Isinya penting. Berarti aku harus mengembalikan ini dengan siswa itu.

***

Sore ini matahari sudah hampir tak terlihat, salju melebat. Min Ka dan Leera berjalan sepanjang trotoar. Sedangkan Min Hee sudah ada jemputan.

Min Ka menatap menyelidik pada Leera. “Minta nomor telfonmu?” Ujarnya.

Leera hanya tercenung sejenak dan menatap wajah Min Ka dalam-dalam. “Darimana kau tahu aku berhubungan dengan Chanyeol? Tau darimana kau bahwa Chanyeol adalah namjachinguku?” Tanya Leera menuduh.

Min Ka melongo. Lalu tertawa, “Itu perihal mudah. Jangan mencurigaiku nona Park.” Balasnya sembari tertawa kecil.

“Perihal mudah apa?” Tanya Leera mencoba mencurigai sekali lagi. Min Ka menyeringai.

“Aku mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui, Leera-a. Dan itu sangat penting, namun kau masih butuh waktu untuk menyadarinya.” Sergah Min Ka sambil menatap bola mata Leera yang terlihat tidak percaya.

“Apa maksudmu?” Tanya Leera setengah tidak percaya.

Min Ka tertawa dengan menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Rambut blonde keritingnya berkibas mengikuti angin. “Hahaha, tak usah bertanya lagi. Nanti juga kau mengetahuinya.”

“—Dan tak perlu memberikan nomor ponselmu. Aku akan mencarinya sendiri..”

Leera terdiam. Mencoba tidak meladeni orang ini lebih jauh. Sedari tadi, ia tidak merasakan sifat Min Ka yang seperti ini. Ia terlihat pendiam dan tidak banyak bicara.

Udara dingin semakin bertiup. Leera memutuskan untuk duduk di halte yang beratap dan hangat. Ia memutuskan untuk memanggil jemputan. Yaitu, Kim Jong In. Kira-kira sedang apa anak itu sekarang? Jangan sampai ia tidak mau menjemputku…

Leera menoleh pada Min ka yang sibuk mengamati jalanan. Ia berfikir alangkah lebih baik jika ia mengajak Min ka menumpang juga dengan mobil Kai. Kasihan jika ia berjalan sendiri ke rumahnya. Lagipula ini sudah hampir malam. Pukul 5 sore. Tak terasa waktu bermain mereka terlalu panjang.

Leera mengusap layar ponselnya. Lalu mencari kontak Kai di ponsel. Ia mencari nama ‘Kkamjong babo’ di daftar kontaknya. Ya, ia mendapatkan nama Kkamjong dari teman-teman EXO nya. Nama itu cocok sekali untuk wajah Kai yang terbakar seperti arang. Jemari Leera mulai memencet tombol ‘call’. Karena jika hanya mengirim pesan, pasi Kai akan pura-pura tidak membacanya dan ogah-ogahan untuk menjemput. Lebih baik di telfon kalau begitu.

Yeobosseyo (Halo)?” *suara di seberang sana—suara Kai—*

Yeobosseyo Kai-a?”

Nde (Ya)?”

“Jemput aku.”

Mwoya (Apa)?”

“Jemput aku…” Balas Leera menjerit tertahan. Matanya tetap mengawasi Min ka.

“Oh, dimana?”

“Di Halte Greungeol.”

“Ha? Dimana? Halo?”

“Di Halte Greungeol. Bodoh.”

“Dimana?”

“DI HALTE GREUNGEOL, BODOH!!”

Tut tut tut~

Telfon di matikan.

Ish sial! Apa sih maunya Kim Jong In byuntae sialan dan tidak tahu diri itu!!!

Min Ka menoleh pada Leera. Wajah Leera memerah karena marah. Untung saja tidak keluar asap dari pucuk kepalanya. “gwaenchanha (kau tidak apa-apa) ?”

Leera mengusap wajahnya sebal. Mencoba bersikap bisaa dan menghilangkan auranya yang mengerikan. “nan gwaenchanh-a (aku tidak apa-apa kok)” Balasnya mencoba santai. Min Ka masih terlalu dini untuk mengerti pertikaian antara Leera dan Kai atau dengan nama lain … … … Blok Barat dan Blok Timur.

“Syukurlah kalau tidak apa-apa.” Balas Min ka dengan menghembuskan nafas lega. Wajahnya masih takut-takut. Leera kalau sedang marah wajahnya sangat mengerikan. APANYA YANG CUTE?!

Sementara itu Leera masih ragu. Kira-kira apakah Kai akan menjemputnya atau tidak? Tiba-tiba mematikan telfon begitu saja! Dasar seenaknya! Bagaimana jika ia mati kedinginan disini? Tidak ada yang menguburkannya? Hah! Kim Jong In pokoknya kau harus menjemputku!!

“Tadi kau menelpon siapa?” Min Ka menyergahnya.

DEG

“Bukan siapa-siapa. Hanya orang tidak tahu diri yang mematikan telepon seenaknya.” Jawab Leera ketus. Tetapi tiba-tiba.

TIN TIN!

Sebuah mobil spot berwarna merah menepi ke dekat halte. Leera spontanitas kaget. Seakan sinetron yang diputar di televisi. Waktu serasa slow motion. Wajah Leera di close up saat menoleh kea rah suara klakson mobil. Lalu rambutnya berkibas-kibas tertiup angin dan syalnya menghempas mengikuti arah bertiupnya udara yang lembut.

“Sepertinya Leera sudah dijemput.” Tukas Min Ka. Membuyarkan dunia Leera.

“Eh eh?” Leera salah tingkah.

“Kau sudah di jemput.” Jawabnya.

Leera terlihat berfikir sejenak. Lalu menatap Min Ka. “Ikutlah bersamaku.”

Mwoya?” Tanya Min Ka bingung.

“Eh maksudku, ikutlah bersamaku. Biar kami antar sampai gerbang rumahmu. Lagipula salju semakin lebat.” Tukas Leera cepat sambil menggandeng tangan Min Ka. “Ayo” Ujarnya secara cepat. Min Ka semakin tertarik. Leera dan Min Ka akhirnya memasuki mobil. Leera duduk di sebelah kursi pemudi dan Min Ka di belakang.

Kai tidak mengenakan pakaian pergi, hanya kaus yang terakhir di pakainya saat menonton televisi tadi dan celana pendek. Mata Kai mengamati Leera yang duduk lemas di kursi. Leera yang merasa diperhatikan merasa risih.

“Apasih? Ayo segera jalan..” Ujar Leera menjerit tertahan.

Kai menyeringai dan mendengus tertawa. “Ternyata kau pakai juga syal itu sampai pulang.”

Leera melongo tidak percaya. Hellow? Disini ada Lee Min Ka. Dasar bodohhh!

“Cih.”

Kai mencoba menoleh ke belakang. Melihat siapa yang dibawa jalan-jalan oleh Leera.  Kepala Kai menoleh ke belakang. Dan saat ia melihatnya. Ia sangat tercengang.

Gadis berambut pirang (blonde) keriting panjang. Memakai kacamata. Gadis itu.. gadis itu kan? Dia kan yang waktu itu. Gadis yang aku lihat saat aku sedang berunding dengan Chanyeol. Aku harap ia tidak mengetahui isi taruhan itu. Dan aku harap,

Ia tidak buka mulut dengan Leera

To Be Continued

a/n: Hai! maaf ya sasa gak bisa bales komentar kalian😦 sasa gak sempet.. soalnya rada sibuk *cielah* tapi ini serius sasa gak bisa balesin komentarnya maaf ya😦 tapi komentar kalian aku baca semua kok. Makasih yang udah komen dan like! thanks banget! dan juga makasih yang udah ngasih aku support di twitter!❤ Lovee yahh:* waktu baca komentar kalian itu ada yang bkin aku ketawa tawa ngakak, ada yang bkin bingung saking gaje nya, ada jg yang bikin aku cengo. pokknya kocak deh!>.< makasih ya yang udh support ff ini! makasih banget! semoga kalian gak bosen dan gak berhenti penasaran ya! aku mau nargetin ff ini tamat pas part 16…~ hehe. bye readers! i love you so much!

siapanih yang nonton SMTown di Beijing? masa waktu intro Kai nya sipek banget:(

196 comments

  1. huaaaaaaaaa ditunggu selanjutnya hehe author, oh ia maaf aku baru komen karena aku ketinggalan ff ini, aku bacanya bukan di sini thor di website satu lagi jadinya ketinggalan gini deh, ditunggu ya thor selanjutnya hehe^^

    1. Akuu penasaran apa aja yg dirundingkan kai sm chanyeol,haaa author sukses bikin aku penasarn sm nih ceritaa,,author mangatyak

  2. Aaa laff bgt sm ff ini:* never getting bored kalo baca ini :3 apa lagi kalo bagian kai sm leera, suka senyum” sendiri bacaya <3<3<3 *thumbs up* bagus bgt deh ini ff:*

  3. Eon, sebenarnya kai sama chanyeol taruhan apa sih?^^ aku takut kalau KaiRa bakalan pisah hahaha… Trus efek slow motionnya itu bagus banget eon~ aku serasa jadi Leera hahaha.. Next part ditunggu eon^^ semangat!

  4. Minka t kepo y,,,mau tahu urusan orang dan nguntutin orang,,,hub. Ma dia apa cb,,,,?
    apa sih taruhan kai sma chanyeol itu,,,ada kaitannya sma leera atau g sma jiyeon y thor.,,.

  5. Haa chanyeol bikin sakit ya ternyata(?), kasian leera dia anak polos yg tidak tahu apaapa._. Yaaaakkkkkk gk ngebayang gimana reaksi leera nantiii T-T

  6. syal:/ si jiyeon pasti sakit hati pas liat syal satu satunya yang ada pemberian kai ke dia udah di pake orang lain, dan kai tau kalo minka deket ama leera haduh siaga aja kalo si minka bocorin semua ke leera..

  7. eonni,, aku mau nanya nih…
    kan aku dah banyak banget baca fanfiction” tentang exo…
    nah,, kenapa kebanyakan tokoh ceweknya pake anak ulzzang yah? @@
    sama mau kasih saran nih eonni
    kalo bikin ff lg and karakter cewek nya anak ulzzang,, aku tau anak ulzzang yg dari indonesia tp cantik kek orang korea gt u,u
    > Jeannd Wawa
    > Vania Griselda
    nah itu anak ulzzang dr indo eonni

    ngmng” ijin lanjut baca ya eonni..
    daebak sih ceritanya…
    kekeke

  8. Yaampun ternyata min ka yg fenger toh, kukira jiyoung :v hadoh, ntar guru slsiologinya ngasih kertas itu ke leera, yahh tambah rumitt dehh.. hadooh, sukaa banget sama ff ini! Jalan ceritanya ga mudah ditebak! Meskipun aku bacanya telatt banget, tapi gapapalahh. Maachh laff😚 #alay mode: on

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s