OMCIA! YBIMA [Part13]


huhuh

| Title |

One Month Crush In Apartemen! [Yadong boy in my apartemen!]

| Author |

Bekicot Princess aka @Saarahsalsabil

| Main Cast |

Park Leera

Kim Jong In

Park Chanyeol

Seo Joo Hyun

| Genre |

School life, romance, fluff, AU

| Length |

Chapter 13/16

| Rating |

PG-15

| Summary |

Tinggal dengan namja mesum itu di apartemen ini?! GILA! Shireo!

Previous Part

| Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6a | Part 6b | Part 7a | Part 7b | Part 8 | Part 9a | Part 9b |Part 10| Part 11|Part 12|
100% ORIGINAL BY @SAARAHSALSABIL

no plagiat !

Previous Part

Leera mengusap wajahnya sebal. Mencoba bersikap bisaa dan menghilangkan auranya yang mengerikan. “nan gwaenchanh-a (aku tidak apa-apa kok)” Balasnya mencoba santai. Min Ka masih terlalu dini untuk mengerti pertikaian antara Leera dan Kai atau dengan nama lain … … … Blok Barat dan Blok Timur.

“Syukurlah kalau tidak apa-apa.” Balas Min ka dengan menghembuskan nafas lega. Wajahnya masih takut-takut. Leera kalau sedang marah wajahnya sangat mengerikan. APANYA YANG CUTE?!

Sementara itu Leera masih ragu. Kira-kira apakah Kai akan menjemputnya atau tidak? Tiba-tiba mematikan telfon begitu saja! Dasar seenaknya! Bagaimana jika ia mati kedinginan disini? Tidak ada yang menguburkannya? Hah! Kim Jong In pokoknya kau harus menjemputku!!

“Tadi kau menelpon siapa?” Min Ka menyergahnya.

DEG

“Bukan siapa-siapa. Hanya orang tidak tahu diri yang mematikan telepon seenaknya.” Jawab Leera ketus. Tetapi tiba-tiba.

TIN TIN!

Sebuah mobil spot berwarna merah menepi ke dekat halte. Leera spontanitas kaget. Seakan sinetron yang diputar di televisi. Waktu serasa slow motion. Wajah Leera di close up saat menoleh kea rah suara klakson mobil. Lalu rambutnya berkibas-kibas tertiup angin dan syalnya menghempas mengikuti arah bertiupnya udara yang lembut.

“Sepertinya Leera sudah dijemput.” Tukas Min Ka. Membuyarkan dunia Leera.

“Eh eh?” Leera salah tingkah.

“Kau sudah di jemput.” Jawabnya.

Leera terlihat berfikir sejenak. Lalu menatap Min Ka. “Ikutlah bersamaku.”

“Mwoya?” Tanya Min Ka bingung.

“Eh maksudku, ikutlah bersamaku. Biar kami antar sampai gerbang rumahmu. Lagipula salju semakin lebat.” Tukas Leera cepat sambil menggandeng tangan Min Ka. “Ayo” Ujarnya secara cepat. Min Ka semakin tertarik. Leera dan Min Ka akhirnya memasuki mobil. Leera duduk di sebelah kursi pemudi dan Min Ka di belakang.

Kai tidak mengenakan pakaian pergi, hanya kaus yang terakhir di pakainya saat menonton televisi tadi dan celana pendek. Mata Kai mengamati Leera yang duduk lemas di kursi. Leera yang merasa diperhatikan merasa risih.

“Apasih? Ayo segera jalan..” Ujar Leera menjerit tertahan.

Kai menyeringai dan mendengus tertawa. “Ternyata kau pakai juga syal itu sampai pulang.”

Leera melongo tidak percaya. Hellow? Disini ada Lee Min Ka. Dasar bodohhh!

“Cih.”

Kai mencoba menoleh ke belakang. Melihat siapa yang dibawa jalan-jalan oleh Leera.  Kepala Kai menoleh ke belakang. Dan saat ia melihatnya. Ia sangat tercengang.

Gadis berambut pirang (blonde) keriting panjang. Memakai kacamata. Gadis itu.. gadis itu kan? Dia kan yang waktu itu. Gadis yang aku lihat saat aku sedang berunding dengan Chanyeol. Aku harap ia tidak mengetahui isi taruhan itu. Dan aku harap,

Ia tidak buka mulut dengan Leera

# sorry for typos!

Leera POV

Dalam hati aku lega dan bahagia. Namun, di luar aku kesal setengah mati. Aku berusaha mati-matian menahan mengeluarkan rasa kagum. Hasilnya bibirku kutekuk dan mataku tak sudi untuk menatapnya barang sedetik. Karena aku akan marah dan membanting tas ku di sofa. Kai tidak bereaksi apa-apa saat aku melakukannya dengan baik. Dia malah tidak mengacuhkanku dan terdiam sembari menerawang ke belakang. Aku tidak tahu apa yang dilihatnya, namun dia bilang dia akan mengecek apakah di belakang mobilnya terdapat mobil yang terparkir. Aku bilang tidak namun lelaki byuntae itu masih saja cuek. Tidak. Itu hanya alibi agar ia bisa melihat ke belakang. Aku tahu ia memandangi Min Ka dari atas hingga bawah. Gadis bernama Lee Min Ka itu memang tidak cantik dan fenomenal, kalau begitu buat apa Kai memandangnya terlalu serius? Sorot mata Kai menekan penuh kecurigaan. Namun aku tetap tidak mengerti. Lee Min Ka pasti mengguncang dunianya. Atau ia melihat gadis berambut pirang keriting itu sebagai alien yang baru turun dari UFO? Mungkin. Mungkin saja. Dan aku tidak berhak untuk curiga berlebihan.

Mobil sport merahnya yang panjang menembus salju. Melewati dua perempatan dan gedung-gedung menjulang yang hampir menyentuh langit. Salah satu dari gedung itu adalah apartemen kami. Rumah Min Ka tidak jauh dari sekolah sehingga belum lama menempuh perjalanan ia sudah turun. “Hati-hati salju semakin tebal!” Aku berteriak cemas hingga ia hilang dibalik gang. Rambut ikalnya yang pirang bergoyang-goyang karena berlari.

“Tadi itu siapa?”

Byurr! Hampir saja aku tersedak karena air mineral yang kuteguk. Sudah kuduga Lee Min Ka memang mempunyai aura yang misterius dan … aneh. Manik mata Kai menerawang raut wajahku dan memaksaku menjawabnya. Sesulit apa untuk menjawabnya?

“Lee Min Ka. “ Kuputuskan untuk menjelaskan lebih jauh. Masih tidak menatap wajah lelaki itu. “Kelas 10-4 temannya Kim Min Hee. Anaknya baik, misterius, dan aneh. Dia minta nomor ponselku namun tidak kuberikan.” Panjang. Dan kuharap Kai meresponnya lebih jauh. Namun sepertinya namja itu tidak tertarik. Ia diam sampai hitungan satu menit setelah aku selesai bercerita dan menurutku itu tidak adil. Namun, aku akan terus bersabar agar emosiku tidak memuncak. Karena aku tidak mau ditelantarkan di bawah sapuan salju lebat.

Kai masih diam. Jika saja aku punya kendaraan sendiri untuk pulang. Pasti aku sudah berani menjitak kepalanya. Jadi aku hanya bisa berkata “Waeyo (kenapa)? Kau tertarik dengannya?” Ada nada mencibir. Namun aku sungguh tidak cemburu. Untuk apa mencemburuinya ? Buang-buang waktu dan aku sudah punya namjachingu yang menyayangiku sepenuhnya. Cih!

Kai menatap lurus kedepan. “Tidak.”

Oh, aku mulai yakin ia menyembunyikan sesuatu. Dan entah kenapa perutku merasa mulas saat mendengar jeda terakhirnya. “Kau bercanda.” Lanjutnya tanpa diselingi ketawa garing yang membuat orang percaya dengan elakanmu. Kai bukan tipe orang yang mudah tertawa menghadapi diriku. Mungkin ia sudah mengeraskan dirinya. Agar tidak kalah dalam ‘pertempuran’ ini. Aku sudah membenci namja ini sejak awal kami bertemu. Sejak menatap manik matanya yang aneh. Tidak sama sekali indah. Aku membenci Kai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku sempat tertipu saat ia melunakkanku dengan cara menemaniku di api unggun saat berkemah. Ia pasti membuat raut wajah lemah mengharukan yang akan membuatku sedih dan aku terbawa suasana sehingga aku mulai menampakkan aura persahabatan di antara kami. Lalu pada saat itu mulai lah aku dengan bodohnya untuk menanyakan riwayat hidupnya. Riwayat hidup Kai terdengar sangat rumit. Ia bercerita tentang mantan yeojachingunya yang dengan tiba-tiba meninggalkannya begitu saja tanpa pemberitahuan. Lalu ia menjadi lelaki terpatah hati sepanjang sejarah sampai saat ini, yang tentu saja membuat sifatnya menjadi dingin. Namun, aku tahu itu hanya bualan dan siasatnya untuk melunakkan hatiku. Aku tidak mau terjerembab ke dalam perangkapnya. Dan aku tidak mau mengungkit-ungkit lagi tentang kejadian api unggun memalukan itu padanya! Namun aku mau pertanggung jawaban atas semua kebohongannya.

Aku yakin wajahku sangat absurd dan penuh dengan kekesalan sekarang. Rokku kuremas hingga lecek seperti belum di setrika dan alisku ditekan lamat-lamat. Namun Kai tidak menghiraukannya dan tetap melesat. Mobil kami ehem maksudku mobil Kai mulai memasuki lapangan parkir dan sebelum Kai sempat mematikan mesin mobil aku langsung turun dan membuka pintu. Kali ini kubiarkan ia mengekor lagi sampai ke pintu kamar. Tapi, kenyataannya dia santai. Mengapa namja itu begitu menyebalkan?!

Saat aku sampai ke kamar apartemenku tidak ada pertanda namja itu masuk. Jadi aku bebas memaki-makinya sampai tenggorokkanku habis suara. Perlu dipertanyakan memang mengapa aku marah tiba-tiba. Padahal sejak awal Kai melakukan tugasnya dengan benar. Namun, aku marah karena sifatnya yang membuatku takluk padanya. Aku harap kejadian api unggun itu tidak pernah ada. Namun Kai membuatnya ada.

“Dasar namja byuntae sialan! Tidak tahu diri!” Aku melemparkan tas ku di sofa sesuai prediksi dan memasuki kamar yang kubagi dua dengannya. Lebih baik aku tidur sekarang sebelum dia datang. Tapi sayangnya aku belum mandi. Sehingga aku terpaksa menghidupkan air panas dan berendam di bath tub. Kurasa aku sempat ketiduran selama 5 menit. Kemudian aku bangkit berganti baju dan menyiapkan segala pakaian hangatku untuk dikenakan ke sekolah esok hari. Mengingat sekolah membuatku ngeri. Guru sosiologi itu merebut kertas dariku. Padahal aku tahu kertas itu pasti sangat penting, dan itu dari Chanyeol. Menurutku seluruh hal yang berhubungan dengan Chanyeol adalah penting. Karena tanpa dia aku merasa tidak berguna. Kertas itu. Entah apa isinya. Sebaiknya aku menanyakannya esok pada Chanyeol. Sudah tidak waras lagi jika aku malu-malu terhadapnya. Karena aku sudah resmi jadi yeojachingunya selama beberapa hari dan sungguh tidak wajar apabila seorang yeojachingu  tidak berani menegur namjachingunya sendiri. Besok tujuanku adalah kertas. Dan aku akan tetap marah dengan Kai.

Kututup gorden kamarku dan melihat cahaya keunguan di ufuk barat. Ini sudah senja dan aku sangat lelah. Tidak ada matahari yang terlihat. Beberapa atap sudah ditumpuki es. Aku menyalakan pemanas ruangan di ujung kamar dan menarik selimutku hingga ke leher. Tidak ada cokelat panas untuk sore ini. Karena aku malas bergerak. Aku tidur dengan posisi menyamping ke kiri sambil menggenggam ponsel. Sedari tadi aku lupa memberi tahu kalian bahwa aku sedang mengirim sms dengan Min Hee dan itupun aku sedang membicarakan Chanyeol.

#

Keesokan Harinya

Aku terbangun pukul lima pagi. Pemanas masih menyala karena aku yakin Kai tidak suka dingin. Namun lampu kamar sudah mati menandakan aku bisa membaca aktivitas apa saja yang dilakukan namja itu selagi aku tidur. Pasti ia masuk, meminum air, menonton televisi hingga larut, lalu terbirit-birit ke kamar dan mematikan lampu. Aku tidak bisa membayangkan ia makan malam dengan apa. Untuk urusan makan, harusnya aku lebih bertanggung jawab. Karena walaupun kami marahan. Ibu sudah menentukan peraturan bahwa tugasku selama sebulan ialah melayaninya. Aku lebih menyukai sebutan baby sitter dibanding istri. Karena tiap kalimatku tidak diindahkannya sama sekali.

Aku bangkit dengan kepala sedikit pusing dan menghidupkan lampu. Tidak peduli namja itu akan mengerang atau apalah. Tujuanku sekarang adalah dapur, karena aku tidak memasukkan karbohidrat ke tubuhku sejak pukul enam sore hingga lima pagi. Aku melewati sofa tempat Kai bersandar untuk menonton televisi lalu melewati kaca bening berlapis baru aku melihat dapurku. Dan kali ini dapur itu tampak mengerikan.

“KAIII!!!!”

Tidak mungkin! Namja itu merusak semuanya! Ia mencoba memasak ikan namun yang terlihat di pandanganku sekarang adalah. Ikan gosong di atas minyak yang masih menggenang, teplon yang menghitam, meja irisan yang penuh daun-daun dan rempah-rempah yang tidak keruan, lantai dengan lender-lendir oranye yang sepertinya saus. Kai memang destroyer tingkat kakap. Untuk saat ini aku mulai takut meninggalnya tidur dan melakukan aktivitas-aktivitas mengerikan.

“KAIIII! BODOH!”

Otot-otot kepalaku mulai muncul. Rambut emasku yang seperti singa bermetamorfosis menjadi rambut rapunzel yang tidak keurus. Tanganku mengepal keras dan aku berlari menghentak ke kamar. Memukuli namja itu dengan guling.

“KENAPA DAPUR BISA SEKOTOR ITU HAH!”

“KAU KAN YANG MELAKUKANNYA.”

“DASAR TIDAK TAHU DIRI AYO BANGUN!”

Kali ini aku marah besar padanya. Dia harus bertanggung jawab! Kudengar Kai hanya mengerang kecil, dan tangannya menggapai-gapai guling. “TIDAK BOLEH!” Sergahku lalu menarik telinganya hingga tertarik ke atas. “AKU TIDAK RAGU LAGI UNTUK MENGHUKUMMU BODOH!”

Sang kerbau pun mengucek-ucek matanya. Aku heran mengapa ia tidak kesakitan dengan jeweranku. Namun, senyumku tertarik karena ia berhasil bangun. Kai memandangku dengan lemas. “Kenapa?” Tanyanya manja.

“ ‘kenapa’ ? Apa kau tidak sadar telah berperang di dapur semalam hah?!” Aku menariknya agar berdiri dan sekarang ia sudah bangun dengan telinga yang masih kutarik. Karena ia lebih tinggi dariku aku meski memanjangkan tanganku. Rambut Kai terlihat berantakan sepertiku namun kuakui dia tampak seksi. Namun aku tidak tertarik.

“Kau mengacaukan dapurku.” Bentakku. “Sekarang bersihkan!”

Kai menyipitkan matanya padaku tanda tidak mengerti. Aku yakin ia masih di alam mimpi. Kalau begitu percuma saja aku menghalaunya. “Kai? Kau mendengarku?” Tanyaku takut-takut. Ia belum sadar sepenuhnya. Gaya berjalannya saja kaku dan patah-patah.

Mata Kai tiba-tiba memandangku dan aku langsung menghindarinya. Namun tangannya yang terbalut piyama langsung memeluk tubuhku. Gila! Aku mencoba melepaskan dan akhirnya ia terjatuh. Aku mundur beberapa langkah ke belakang dan memandangnya ngeri. Aku mencoba mencerna semua ini. “Jiyeon..” desahnya. Aku makin tidak mengerti. Namun dia masih tetap melanjutkan kata-katanya. “Jiyeon..” Nadanya makin sedih.

Aku jadi kehilangan nafsu untuk membentaknya. Ia kelihatan tidak berdaya. Ia mengucap kata Jiyeon sebanyak 5 kali dan seterusnya aku tidak menghitung lagi. Aku baru sadar kalau matanya setengah tertutup. Itu menandakan ia tidak sadar kalau memelukku. Itu bagus. Aku berusaha menjauh dari pandangannya—takut dipeluk lagi—dan berlari ke dapur. Aku akan berpura-pura memanggilnya dari sini.

“Kai!” Panggilku seolah-olah tadi aku tidak diapa-apakan olehnya. “Ayo cepat kesini. Lihat apa yang kau lakukan!” Aku tidak bisa membentak lebih jauh lagi.

Kai terhuyung-huyung dari kamar dan datang. Aku senang dia sudah pulih. “Apa yang terjadi?” dan aku akan menjawab seolah-olah tidak ada yang terjadi. “Mengapa aku bisa tidur di bawah?” Tanyanya.

“Tidak ada yang terjadi. Namun, semalam mungkin terjadi sesuatu dengan dapur ini.” Sindirku memandangnya sengit. “Kau harus bertanggung jawab. Akibat ulahmu aku jadi tidak bisa memasak sarapan!” Nadaku naik agar bisa mengembalikan image ku.

Alis Kai mengernyit dan berusaha menyorot kotoran-kotoran di lantai. Seolah-olah itu bukan ulahnya. “Ya ini salahmu.” Katanya barbar. Aku nyaris berteriak namun kutahan karena ia baru bangun tidur dan baru pulih.

“Aku tidak melakukan apa-apa tadi malam. Karena aku tidur.” Tukasku cepat tanpa basa-basi. Senyum Kai tertarik dan menuju dapur lebih dalam. Ia mengangkat sebuah lap dan melambaikannya padaku.

“Baiklah, aku mengaku.” Katanya. Itu cukup menyebalkan. Melihatnya tersenyum berarti kekalahan bagiku! Aku rapuh saat melihatnya terluka dan lemas. Apalagi melihatnya yang memelukku seperti tadi dan menuturkan sebuah nama. Jiyeon.

Apakah itu nama seseorang yang disayanginya?

Tidak. Aku sudah mengambil kesimpulan bahwa ceritanya di api unggun hanyalah dongeng yang tidak nyata. Ia hanya berbual. Namun aku tidak bisa berpikir panjang lagi. Siapalagi nama itu kalau bukan mantan yeojachingu Kai? Nama ibunya bukan Jiyeon dan ayahnya juga. Jiyeon adalah nama remaja seumuran kami.

Aku terus berfikir berputar-putar dengan mengamati Kai menunduk-nunduk mengelap lantai dari lendir oranye. Aku tidak bisa berhenti berfikir sampai Kai selesai membersihkan semuanya dan melempar lap itu ke arahku. “Sudah selesai.” Katanya. “Kenapa kau tetap disana?” Tanyanya. Aku merasakan sensasi terlempar dari jurang baru bisa menjawab.

“Memastikanmu tidak kabur.” Lalu aku pergi menghambur ke kamar mandi. Kai tidak mengecewakanku pagi ini. Namun ia hampir membuatku melunak. Pagi ini aku tidak perlu memaksanya mengantarku ke sekolah karena ia pasti akan berangkat dan aku juga tak perlu berebut kamar mandi dengannya. Aku membasuh ujung rambutku hingga kaki. Melihat refleksi ku di cermin dan bertanya-tanya disana. Jiyeon. Perkara baru yang membuatku setengah mati penasaran. Kai tidak pernah terlihat serapuh itu sebelum ia menyebut-nyebut nama Jiyeon dan tiba-tiba memeluku seperti orang mabuk. Kalau Jiyeon adalah mantan yeojachingunya, bisa saja. Namun ceritanya tida sedramatis yang ia ceritakan padaku. Namun, mengapa ia bisa sesedih itu kalau ceritanya tidak begitu menyilet hatinya? Satu-satunya kemungkinan adalah.. ia benar akan semua ceritanya dan ia tidak berniat membuatku melunak. Kai memang mencoba berteman denganku dan menjaga agar aku akur dengannya. Kalau begitu, artinya aku salah dan suatu saat aku harus minta maaf tapi ingat bukan hari ini. Untuk sementara aku harus menghapus Jiyeon dari benakku dan mulai berfikir rasional tentang tujuanku hari ini. Aku langsung teringat dengan kertas yang Chanyeol berikan kepadaku dan aku akan menanyakannya.

Setelah tubuhku kering aku membalutnya dengan kimono berbulu halus dan rambutku kuselimuti dengan handuk yang memanjang ke atas. Aku terbirit ke kamar dan ganti baju. Tak ada halangan sedikitpun. Hari ini Kai memang tidak macam-macam. Aku mengenakan seragam hari selasa dan mengenakan sarung tangan bulu. Juga tak lupa mengenakan syal abu-abu milikku dan menyingkirkan syal warna merah milik Kai—yang katanya milik mantan yeojachingunya—aku berasumsi bahwa syal merah ini milik Jiyeon dan menyimpannya di laci Kai. Kemudian aku berlari ke cermin berukuran tubuh manusia sembari menyisir rambutku. Terakhir aku menuju dapur untuk memasak sarapan sembari Kai mandi. Persediaan ikanku sudah habis. Ikan terakhir digunakan Kai untuk kelinci percobaan bodohnya dan berakhir naas dengan gosong dan minyak menggenang. Aku memutuskan untuk membuat sandwich seafood. Kai suka seafood dan aku tidak terlalu bermasalah dengan binatang laut. Jadi menurutku menu sarapan pagi hari ini merupakan keputusan yang tepat. Seafood yang kupilih adalah udang. Sandwich udang, itulah nama resminya. Piring ceper putih kuhias dengan daun-daun selada secara asal—kutiru dari yang di televisi—sedangkan di ujung piring aku menempelkan saus berwarna merah segar. Kepulan uap nikmat terbang dari permukaan roti sandwich. Membuat Kai terbawa ke dapur dan duduk di meja makan bersamaku. Tak ada satu patah katapun yang kuucapkan. Begitu juga dia. Rasanya aku ingin menanyakan apa enak atau tidak. Tapi aku tidak bernyali dan terlalu malas untuk menggetarkan pita suaraku.

“Eh..” Aku ingin mengutarakannya namun tertahan dan akhirnya tidak jadi. Namun Kai mengerti dan membalasnya dengan anggukan mantap dan bergumam dengan mulut tersumpal sandwich.

“Enak.” Katanya. Adrenalinku mengalir begitu cepat dan seketika detak jantungku melonjak seribu kali lipat. Yang menandakan aku senang sekaligus kaget. Lidahku tidak mau bekerja sama untuk mengucapkan terimakasih. Kai terdiam, terlihat tidak terlalu menginginkan ucapan terimakasih dariku.

Hening. Aku tidak suka ini, aku takut detak jantungku akan terdengar .

“Ngomong-ngomong…” Dia mengawali. Suaranya agak serak.

Banyak prasangka buruk yang menyertaiku. Aku berprasangka ia akan membahas soal api unggun, Jiyeon, Lee Min Ka, atau kejadian yang barusan terjadi yaitu memelukku. Dan aku tidak mau ia mengulas salah satu dari itu.

“Aku bertindak aneh saat tidur.” Katanya. “Akhir-akhir ini aku kumat. Mungkin karena musim dingin. Mengingatkan aku akan sesuatu. Kau tidak mengenakan syal ku hari ini? Bagus. Lebih baik buang saja.” Semua ini membuatku kaget. Apakah semua ini ada hubungannya dengan Jiyeon? Jiyeon, syal, musim dingin. Semua ini adalah puncaknya. Teka-teki yang harus aku pecahkan dari awal. Namun sialnya aku tidak berani bertanya apapun.

“Iya.” Aku hanya menjawab itu. Mengiyakan seluruh pernyataannya. Aku jadi sedikit merasa bersalah karena menyingkirkan syal itu. “Syal itu kan milik mantan yeojachingumu.”

“Pasti Baekhyun yang menyeploskannya.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Aku tidak puas. Namun aku tidak berusaha mendesaknya lebih jauh karena aku yakin ia bukan orang yang terbuka tentang masa lalunya. Aku yakin.

Kai bangkit dari kursi dan menaruh piringnya di cucian tanpa mencucinya. Aku mengerang sebal namun tidak mau memecah keadaan, sehingga aku hanya membisu sambil berjalan menghentak ke bak cucian. “Lain kali cuci sendiri.” Tegurku. Ia tidak mengindahkannya dan menyambar tas. Sehabis itu kami sudah siap keluar dari apartemen dan berangkat sekolah.

#

Seoul Academy Senior [SAS]

Aku tidak melihat Chanyeol pada pukul setengah tujuh. Kami berdua—Kai dan aku—bodoh karena tidak menumpanginya. Padahal kami tinggal di apartemen yang sama. Namun mengapa kami membiarkan mereka berjalan kaki ke sekolah sembari menumpas salju. Bodoh. Aku bodoh dan Kai mungkin juga. Atau ia menyembunyikan idenya karena ia kesal dengan Park Chanyeol. Bukan, bukan karena dia cemburu. Dia punya hal tersendiri. Karena di kelas begitu sepi aku main ke 10-4 untuk bertemu Min Hee. Tidak ada rasa penasaran lagi dengan Min Ka dibanding dengan cerita Jiyeon.

“Min Hee!” Pekikku mencoba menarik perhatiannya dari rombongan siswa yang menghalangiku masuk. Min Hee mulai mendesak agar aku boleh masuk ke kelasnya.

Akhirnya aku bisa masuk ke kelasnya dan duduk di ujung ruangan. Kami melanjutkan untuk membahas Chanyeol. Ya, membahas kira-kira apa isi surat itu dan bertanya-tanya mengapa Chanyeol tidak pernah mengajakku kencan. Pertanyaan besar untukku. Jadi aku mendiskusikannya dengan Min Hee. Namun Lee Min Ka datang dan Min Hee membeberkan semuanya padanya hingga ia tahu. Min Ka memberii respon yang buruk dan aku sedikit ketakutan.

“Mungkin ia memang tidak suka padamu.”

“Mungkin ini bukan rencananya.”

Dor! Dua komentar darinya sudah membuatku merinding. Akhirnya Min Hee menyuruhnya diam. “Bisa tidak memberi komentar yang positif?” Min Ka mengangguk tapi ia menjawab lagi.

“Aku ini realistis.”

Dalam hati aku berceloteh bahwa ia adalah manusia paling sok tahu di dunia.

Aku mulai menjelaskan pada Min Ka bagaimana asal-usul aku bisa bersama dengan Chanyeol. Semuanya kutumpahkan padanya serta memberi sedikit bumbu-bumbu manis agar ia bisa mengubah komentar pedasnya menjadi komentar yang lebih baik. Namun, tetap tidak berubah dan aku jadi berkecil hati. Min Hee menjitak Min. Aku tetap berpikiran postif bahwa komentar pedas memang terkadang dibutuhkan karena biasanya komentar pedas itu jujur, dan Min Ka bilang ia realistis. Aku sudah mempunyai kesimpulan kalau ia adalah orang yang jujur. Suatu ketika aku ingat ucapannya.

“Aku mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui, Leera-a. Dan itu sangat penting, namun kau masih butuh waktu untuk menyadarinya.”

Baiklah. Sekarang aku makin merinding. Aku berusaha menghapus prasangka-prasangka anehku dan berharap segalanya baik-baik saja. Aku mendesah lega saat Min Hee mulai mengganti topik ke pasangan-pasangan yang kencan saat musim dingin.

“Kemungkinan Chanyeol tidak mengajakmu berkencan karena ini musim dingin. Sedangkan laki-laki senang berkencan pada saat musim panas.” Tuturnya lembut. Aku terkagum. Dia membuatku tenang dan aku suka sifat Min Hee yang begitu.

“Ya mungkin saja.” Aku lega Min Ka menyetujuinya.

“Atau dia terlalu malu untuk mengajakmu. Atau hah! Aku mendapatkannya! Kertas yang diambil guru sosiologimu itu adalah kertas ajakan kencan! Mungkin isinya ‘temui aku di taman sepulang sekolah’ atau yang lainnya. Kau taulah seperti di film-film!” Kali ini aku tidak lagi merinding mendengar Min Hee berkoar. Aku bahagia terlalu cepat. Min Hee memang yang terbaik!

Min Ka terdiam.

“Bagaimana menurutmu?” Tanyaku. Ia menjawab bahwa ia masih dalam proses berfikir. Lalu dia menggeleng. Mungkin ia tidak punya ide untuk ini.

“Berjuanglah, Leera-a!” Min Hee menepuk bahuku sampai aku terbatuk dan aku memeluknya senang. Aku juga memeluk Min Ka dan dia tampak tersenyum ramah. Min Ka bilang padaku untuk jangan pesimis hingga takdir mengatakan sesuatu dan Min Hee tampak tertawa menyambutnya.

“Bel sebentar lagi berbunyi.” Kataku. Lalu bangkit, aku melambaikan tangan pada mereka sambil tersenyum senang. Aku berjalan mengitari lorong dan aku tidak perlu takut dilabrak Minyoung lagi. Masalah itu sudah berakhir sejak lama. Dan Chanyeol lah yang membantuku. Aku menggeser pintu kelasku dan pada saat itulah bel berbunyi. Aku mulai menduduki tempat dudukku dan melihat Kai menunjuk sesuatu.

Kai menunjuk secarik kertas.

Lebih tepatnya gumpalan kertas yang di remuk asal lalu di lemparkan ke mejaku. Kertas itu tergeletak di dekat kaki meja dan menggodaku untuk mengambilnya. Tanpa pikir panjang tentu saja aku langsung meraih kertas tersebut. Tanpa babibu aku tahu isinya penting. Aku terbelalak senang melihat isinya. Ini bagai mimpi yang jadi kenyataan. Chanyeol memang seribu kali lebih baik dari lelaki manapun. Karena ia akan mengajakku kencan pada musim dingin ini!

#

Pulang Sekolah

Dadaku berdebar. Dalam kertas itu Chanyeol menyuruhku untuk menunggunya di jalan setapak dengan pohon willow di sekitar jalan. Jalan setapak disana sepanjang 2 kilometer, dipinggirnya banyak aneka jajanan yang disukai anak-anak. Disana banyak anak kecil yang berlari-larian dan beberapa pasangan yang berkencan. Dia menyuruhku menunggu sembari duduk di atas bangku taman.

Kencan pertamaku adalah disaat musim dingin!

Kai bangkit dari kursinya dan segera menghampiri Chanyeol. Gambaran aneh menurutku, saat ia terlihat teramat kesal dengan Chanyeol. Pada saat istirahat, Chanyeol mengajakku ke kantin dan aku menyetujuinya namun Chanyeol mengajak Seohyun juga. Kai terlihat tidak peduli dengan kami. Kemudian saat pulang sekolah ia begitu terobsesi dengan Chanyeol? Masabodoh. Yang terpenting ialah menuju bangku dan duduk disana hingga Chanyeol datang.

Oh iya, aku mungkin sedikit kesal dengan Seohyun. Tetapi karena Chanyeol bilang Seohyun adalah teman dekatnya aku mulai membuang prasangka buruk jauh-jauh

Aku terbirit keluar kelas lalu berbelok menuruni tangga setelah kulihat Min Hee sudah turun duluan. Aku ingin menyampaikan berita gembira ini kepadanya karena mungkin ia akan memberiiku usul. Sedangkan Min Ka tidak bersama Min Hee sekarang. Ia hilang. Sekarang aku sudah menyamai langkahku dengan Min Hee. Aku menjerit histeris dan dia juga.

“Dia mengajakku kencan !”

Kami langsung berpelukan seperti seseorang yang tidak bertemu bertahun-tahun. Lalu mengoceh panjang lebar di sepanjang perjalanan dengan topik yang sama, Chanyeol. Min Hee menyuruhku agar tetap biasa saja dan jangan terlalu tegang. Dia bilang aku harus bersikap hangat agar Chanyeol merasa nyaman. Aku sedikit jijik mendengarnya karena aku belum terbiasa dengan kencan. Min Hee bilang aku tidak boleh gagal dan kalau bisa aku harus mendapatkan first kiss ku hari ini juga. Tidak. Aku belum siap untuk itu. Namun aku tidak mengutarakan ketidaksiapanku pada Min Hee.

Matahari tidak terlihat di langit. Cuaca tetap dingin dan menurunkan salju-salju putih yang lembut sementara langit berwarna biru pucat keputih-putihan. Jika kalian melihat langit hari ini. Ini seperti kue pudding berwarna biru transparan yang ditaburkan gula bubuk dan tepung. Juga kapas-kapas yang berperan sebagai awan.

Aku berjalan menuju jalan setapak tempat janjian sementara Min Hee menemaniku.

#

Author POV

Sekolah

“Dengar, kau harus melakukannya.” Bisik Kai pada namja di depannya, Park Chanyeol. Chanyeol memutar bola matanya sebal dan membiarkan Seohyun menjauh dari obrolan dua lelaki ini.

“Aku tidak mau menjadi bonekamu.” Ulas Chanyeol sembari memundurkan langkahnya dari Kai.

“Tapi kau belum mengakhirinya.” Sergah Kai sembari menarik pundak Chanyeol. “Kau yang harus bertanggung jawab. Tidak bisa seenaknya menyakiti perasaan orang lain. Kau harus punya cara untuk mengakhirinya. Namun aku mohon jangan hari ini. Selesai kau melakukannya hari ini kau bebas. Besok terserah kau mau melakukan apa. Yang penting, kau harus melakukannya dengan lembut. Susul dia dan  anggap saja yang menulis isi kertas itu kau.” Lanjut Kai panjang lebar.

“Ingat, kita sudah punya perjanjiannya.”

“Aku sudah mau mengakhirinya kemarin. Namun guru sosiologi itu menghalangiku. Ini bukan salahku.” Elak Chanyeol melepaskan tangan Kai dari pundaknya. Chanyeol melesat pergi dan menyuruh Seohyun pulang dengan mobil Kai sementara ia akan menyusul Leera di bangku tempatnya menunggu.

Seohyun tidak mendengar apapun. Namun ia tahu Chanyeol sedang tidak baik-baik saja. Jauh diujung sana Lee Min Ka berdiri. Mengamati apa yang terjadi dengan saksama dan hendak memencet tombol di ponselnya untuk menelfon seseorang.

Park Leera. Itu adalah kontak yang ia tuju. Namun ia tidak bisa melakukannya sekarang. Hal ini akan membuat hati Leera sakit saja. Masih butuh waktu lama agar Leera mengetahuinya. Rahasia itu mahal. Min Ka tidak senang atas perilaku Chanyeol dan Kai. Ia berpihak pada Leera. Min Ka hendak mencari Min Hee dan beberapa menit kemudian ia baru sadar Min Hee pasti menemani Leera disana.

Semoga beruntung, Park Leera

#

Author POV

Salju tidak tebal. Angin tidak begitu dingin. Namun langit masih pucat pasi. Kai mengiyakan permintaan Seohyun. Menemaninya ke toko alat tulis di dekat apartemen.

Perlu di ketahui bahwa salah satu pramuniaga disana adalah Park Jiyeon.

Kai tidak turun dari mobil. Itu titik kelegaannya.

Namun ia merasa Seohyun terlalu lama di dalam. Ia tidak tahan dan turun. Memastikan keadaan temannya. Seorang yeoja menyapanya di ambang pintu dengan lonceng berbunyi dan aroma jeruk memasuki rongga pernapasannya.

“Selamat datang.” Kata pramuniaga itu.

Kai tidak sadar bahwa ini adalah kalimat kedua pramuniaga itu setelah selamat tinggal. Kalimat selamat tinggal yang diucapkannya Desember beberapa tahun lalu. Kata ‘selamat datang’ memang tidak seara pribadi di tunjukkan oleh pramuniaga itu ke Kai. Kalimat itu tidak lebih dari sekedar sapaan kepada pelanggan. Pramuniaga itu menyadari siapa namja yang disapanya. Namun sebaliknya, Kai tidak. Kai tidak mengenali siapa pramuniaga yang menyapanya.

Mata Jiyeon terbelalak kaget. Tangan ia mengepal kuat, menahan untuk memeluk namja di depannya. Ia dingin sekarang. Hal ini berarti baik dan buruk. Dan Jiyeon tidak suka ini. Gadis ini sudah berjanji akan melupakan Kai selamanya dan tidak ingin membuat Kai sakit hati untuk kedua kalinya. Tidak, bukan keputusan tepat untuk membuat Kai menyadari kehadirannya. Jangan sampai Kai mengenalinya. Jiyeon! Kuatkan dirimu!

Kai menghambur masuk ke dalam dengan pandangan menerawang. Rak logam, meja kasir, lukisan-lukisan sponsor, beberapa buku. Ia belum melihat batang hidung Seohyun sampai sekarang. Kai mengecek jam dan ia mendesis. Kai sama sekali tidak ada inisiatif untuk menengok siapa pramuniaga yang disapanya.

Gadis dengan syal itu adalah yeojachingu Kai. Kai tinggal di dekat daerah sini dan berarti aku tidak amani, pikir Jiyeon dengan menekan alisnya. Sekarang, yang ia pikirkan ialah bagaimana cara meloloskan diri dari sini tanpa disadari yang lain. Dan itu rumit.

To Be Continued

setuju gak omcia ada season dua nya?🙂 oh iya maaf telat posting🙂

278 comments

  1. itukan gegara jiyeon kai tersiksa! ah pokoknya gara gara ini aku gak suka ama jiyeon, eh malah si leera pernah ngira si kai rapuh kek gitu boongan..
    eh makin banyak plashbek aja tentang jiyeon nyebelin amat :3

  2. Kai yg dingin kek es, sdgkan leera kek api yg meletup2..
    Leera keknya benci ama kai tuh mendarah daging, ampe ke ubun2 bencinya wkwkwk
    Kasian kai ada kek semcm pd trauma musim dingin gara2 jiyeon..

  3. Jujur ni ff ud pernah ga kuikutin lgi ceritanya.. Tp krna ga sengaja ketemu ff ini lgi, jdnya dibaca… Heheh… Untung msh inget sebelumnya..

  4. Aduuhh, tapikan kai nya udah berusaha lupain jiyeon. Jiyeon nya aja kalik yg overpd dikira kai masih suka sama dia? Eh tauk deng, aku bingung–” pendapatku ini keknya ga nyambung ya.-. #abaikan komentar ini

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s