OMCIA! YBIMA _ part 15a [Kematian Kai]


WARNING! SEBELUM BACA OMCIA PART 15A INI, AKU SARANIN BACA DULU PART 14 ! https://sasafanfictions.wordpress.com/2013/11/10/omcia-yadong-boy-in-my-apartement-part-14-of-16/

huhuh

| Title |

One Month Crush In Apartemen! [Yadong boy in my apartemen!]

| Author |

Bekicot Princess aka @Saarahsalsabil

| Main Cast |

Park Leera

Kim Jong In

Park Chanyeol

Seo Joo Hyun

| Genre |

School life, romance, fluff, AU

| Length |

Chapter 15a of 16

| Rating |

PG-15

| Summary |

Tinggal dengan namja mesum itu di apartemen ini?! GILA! Shireo!

Previous Part

| Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6a | Part 6b | Part 7a | Part 7b | Part 8 | Part 9a | Part 9b |Part 10| Part 11|Part 12|Part 13|
100% ORIGINAL BY @SAARAHSALSABIL

no plagiat !

:’)

maaf gak disusun rapih, soalnya gak sempet dan ini waktunya mepetttt! yang penting kalian bisa baca ya ceritanyaaa… mianhae banget deh! sorry for all typos !

Previous Part

Kai tidak punya pilihan lagi selain lari. Kai lari menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Ia langsung memencet tombol mobilnya dan bergegas masuk. Ia tak membiarkan Seohyun masuk. Kai langsung memberi pesan pada Kyungsoo untuk menjemput Seohyun disini dan Kai bilang bahwa ia menemukan Jiyeon kembali. Mobil merah Kai langsug melaju di jalan. Beradu dengan kecepatan angin. Layaknya menempuh monster yang menghalangi jalannya. Alis Kai berkerut dan dari mulutnya ia menggeram. Dalam hatinya, ia berkecamuk. Ia merasa menyesal mengapa tidak bicara apapun. Ia merasa menyesal,

Ia sudah menemukan Jiyeon. Tetapi mengapa Jiyeon pergi terlalu cepat. Kai tidak memikirkan apa-apa lagi selain Jiyeon. Hormon adrenalin di tubuhnya menyebar, detak jantungnya langsung menyepat dan nafasnya memburu. Keringat di dahi Kai mulai mengalir deras hingga ke lehernya. Kai hanya memandang jalanan dan matanya mencari-cari mobil yang dinaiki oleh Jiyeon. Kini kecepatan mobilnya sungguh fantastis dan melebihi batas. Kai sudah melanggar beberapa aturan lalu lintas. Ia menerobos lampu merah juga menyalip sebuah mobil van. Sehingga mobil tersebut menepi.

Aku pasti akan menemukanmu!

Mata Kai memincing saat melihat mobil yang dikendarai Jiyeon muncul. Sekitar 100 meter di depannya. Baiklah, ini peluangnya besar. Kai akan menyusul mobil itu bagaimanapun caranya. Ini adalah kesempatan terakhirnya! Ia tidak boleh gagal dan membiarkan Jiyeon pergi lagi! Ia akan mengejar jiyeon sampai kapanpun!

Ia akan mengorbankan segalanya!

Mobil Jiyeon berbelok di tikungan pertama. Kai takut dalam jarak ini, ia tidak akan tahu kemana arah Jiyeon pergi. Sehingga ia menyusul beberapa mobil dan mendapati mobilnya berada di bagian depan. Namun ternyata ia berada di tengah-tengah perempatan.

~~

Mobil merah Kai tertabrak sebuah truk yang melaju ke arah yang berlawanan.

Mobil mahal dengan polesan merah yang mengkilat kini hancur berkeping-keping. Kacanya yang kuat kini pecah. Tidak menyisakan apa-apa. Sebuah truk yang bertabrakan dengan mobil Kai ternyata mengangkut batu-batu gunung. Membuat segalanya terpental dan menerjang atap mobil Kai yang lebar. Tubuh Kai bersimbah darah, kepalanya pecah tertimpah atap mobil yang terhantam oleh batu-batu gunung yang besarnya seukuran sepeda motor. Tangan Kai yang sedang memegang stir menjadi sungai yang mengalirkan darah dari kepalanya sendiri. Kelopak mata Kai tertutup, melindungi matanya dari cairan kental yang disebut darah. Bayangkan saja kepalamu yang tertimpa oleh batu-batu gunung seberat 2 ton. Mungkin saja otakmu sudah mencuat keluar dengan bentuk yang sudah tidak keruan. Segala pusat kegiatan manusia diatur di dalam otak. Dan Kai mendapat serangan di bagian kepala.

Kai bisa saja mengalami gangguan otak.

Bentuk tubuh Kai yang sudah tidak keruan membuat sebagian masyarakat takut untuk mengambil jasadnya. Setidaknya meminggirkan kendaraan kedua belah pihak agar lalu lintas tidak macet pun tidak terjadi. Tidak ada yang peduli dengan jasad kedua korban. Sampai akhirnya satu jam kemudian polisi datang untuk mengevakuasi. Mereka membereskan kedua kendaraan dengan derek besar. Kedua mayat diangkat dan dimasukkan ke dalam ambulance untuk diteliti tim forensik. Kai tidaklah beruntung. Detak jantungnya telah berhenti dan secara singkat dinyatakan tewas. Sedangkan sang supir masih berjuang dengan ajalnya, walaupun ia sudah dinyatakan sebagai ‘jasad’ oleh petugas.

“Pukul empat  sore. Catat waktu kematiannya.”

Seorang lelaki dengan masker di tangannya bertutur tegas. Tak ada raut sedih, jijik, atau prihatin dengan tubuh Kai yang sudah tidak berbentuk ini. Kepalanya penyok dan bolong. Beberapa cairan aneh keluar dari sana.

Tim lain bertugas menyelamatkan barang-barang berharga yang dimiliki Kai  yang terdapat di dalam mobil. Juga mengutak-atik ponselnya untuk mencari siapa yang patut dihubungi karena kejadian ini. Tubuh Kai dipasangi alat elektrokardiogram untuk melihat apakah detak jantungnya masih berdetak atau tidak. Sebagian dokter berpendapat bahwa ia sudah tewas namun sebagian lagi berpendapat bahwa Kai masih bisa ditolong. Selama lima belas menit, tidak ada pergerakan di alat tersebut. Garis di monitor tetap mendatar yang artinya jantungnya sudah berhenti berdetak.  Ketua pengoperasi mengomando bahwa jika dalam setengah jam alat itu tidak menunjukkan jantung Kai masih berfungsi, maka Kai akan segera dikirim ke ruang mayat.

Polisi menganggap bahwa kasus ini, kedua belah pihak sama-sama dirugikan. Kai dinyatakan bersalah apabila keluarga sang supir truk menuntut. Kejadian ini dianggap polisi ketidakpatuhan Kai dalam mengemudi. Sehingga jika Kai tetap hidup, ia akan dikenakan denda dan sanksi yang setimpal. Sekarang para tim penyelamat lalu lintas sedang sibuk menghubungi sanak keluarga Kai atau kerabat untuk datang mengunjungi Kai dan bertanggung jawab. Anak SMA yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas mobil parah memang sangat jarang. Beberapa orang di rumah sakit yang mendengar kabarnya pun merasa prihatin.

“Iya, katanya murid SMA…”

Mereka berbisik-bisik melewati ruang operasi Kai.

Kai memang sudah mati.

#

Hawaii

Hyunsik : Ibunya Kai
Hyeonjoo : Ayahnya Kai

Hyunsik memandangi ponselnya hendak menelpon seseorang. Jarinya terhenti di kontak anaknya sendiri, Kai. Suaminya masih di luar bersama Park Hyeonjoo—ayahnya Leera—

Eomma nya Kai ini masih mendesah malas.

Sudah tiga minggu ia berlibur ke Hawaii bersama teman-temannya. Dan ia sama sekali tidak mencari kabar anaknya. Menelponnya saja tidak pernah. Bagaimana ia bisa dekat dengan anaknya? Akhir-akhir ini Kai memang terlihat menyendiri. Tidak seperti saat ia berusia 12 tahun yaitu sifatnya yang sangat ceria. Kai adalah anaknya satu-satunya dan Hyunsik teramat menyayanginya namun ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikan rasa sayangnya kepada Kai. Kai memang tidak pernah terlihat bahagia.

Drrrttt drtttt

Ponselnya bergetar. Telpon dari Kai!

Yeoboseyyo? Nyonya Kim?”

Terdengar suara berat dari ujung telepon. Namun, itu bukan suara anaknya. Telinga Hyunsik berdenging hebat. Perempuan tengah baya itu kini mulai merasakan sensasi aneh. Ia sangat curiga.

“Yo.. Yeoboseyyo?” Hyunsik tergagap.

Terdengar hening cukup lama. Lalu berdenging.

Ngiiiinggggg

Hyunsik mencoba memfokuskan telinganya ke arah suara.

“Nyonya Kim. Anak anda dinyatakan tewas sekitar 5 menit yang lalu.”

.

.

.

.

.

.

Hyunsik menjatuhkan ponselnya. Ponsel tersebut diam untuk menunggu respon Hyunsik. Hyunsik menangis dalam diam. Air matanya mengucur deras tapi ia diam dan tak bersuara, kini pandangannya kosong. Selang beberapa menit, ponsel itu mulai memanggil-manggil.

Yeoboseyyo?”

Yeoboseyyo?”

Namun Hyunsik tidak menjawab dan tetap mengucurkan air mata. Kemudian ia bangun dan menginjak ponselnya dengan ujung highheals , sehingga telepon terputus. Hyunsik langsung menyambar mantelnya lalu bergegas mengambil koper dan membereskan barang-barangnya. Ia memasukan barang-barangnya ke koper dengan kasar dan tidak peduli, bajunya terlipat-lipat tak keruan dan yang penting semua benda itu bisa masuk koper. Tangisnya masih mengucur. Ia pun segera bangun dan menelfon suaminya.

“Kita pulang ke Korea Selatan. Sekarang.”

#

Seoul,

Drrrtt

Drrtt

Yeoboseyyo?”

Kyungsoo yang sedang membaringkan tubuhnya di sofa terpaksa mengangkat telepon. Ia sebenarnya sedang berelaksasi, sehabis menjemput Seohyun tadi rasanya pegal sekali. Sebaliknya, Kyungsoo merasa senang karena akhirnya temannya itu dapat menemukan Jiyeon kembali. Kai pasti akan sangat bahagia.

Yeoboseyyo?”

“Apakah anda kerabat Kim Jong In? Pemilik mobil sport berwarna merah bermerek Yashino?”

“Ya saya sendiri. Do Kyungsoo imnida. Teman sekelas Kim Jong In.”

Kyungsoo menyadari ada yang tidak beres disini. Orang asing menelponnya menggunakan nomor ponsel Kai, pasti ada yang tidak beres dengannya.

“Teman anda, Kim Jong In dinyatakan tewas 5 menit lalu. Harap anda kesini untuk mengkonfirmasi.”

“Tewas? Kenapa?”

Kyungsoo langsung melemas. Pegangannya terhadap ponsel mulai mengendur.

“Kecelakaan di perempatan Shihena Street. Kami akan menjelaskan lebih lanjut di RS Youngheal. Ruang ICU.”

Gamsahamnida saya akan segera kesana.”

Namja ini keringat dingin. Kepalanya mulai berdenyut-denyut seirama detak jantungnya. Rasanya sudah kehilangan semangat hidup. Sahabat terbaiknya kini sudah tiada, ia sekarang merasa hatinya kehilangan potongannya. Kyungsoo langsung bergegas mengemudikan mobilnya. Sembari member pesan ke anggota EXO bahwa Kai tewas karena kecelakaan.

Tak lupa ia memberitahu Leera, Seohyun, dan juga tentu saja pihak orang tua.

Saat menyetir, air mata Kyungsoo jatuh. Ia tidak bisa membendung kesedihannya. Ia terus menangis di dalam mobilnya. Menyesal mengapa ia membiarkan Kai mengejar Jiyeon.

#

Taman

“Chanyeol-ah? Kau datang?”

Leera mengungkapkan semangatnya. Walau rambutnya sudah sebeku es serut dan bibirnya sudah membiru. Tetapi ia masih bisa tersenyum tanpa meretakkan mulutnya.

Chanyeol menarik tangan Leera. Lalu mengajaknya berjalan dibawah salju. Namja ini tidak peduli yeoja ini kedinginan atau tidak. Yang jelas, Chanyeol beranggapan Leera baik-baik saja karena ia begitu semangat sekarang. Sedari tadi Leera selalu tersenyum dan tidak mau melepaskan tangan Chanyeol. Hanya disanalah sumber kehangatan dari dirinya. Sisanya membeku.

“Tentu saja aku datang.” Jawab Chanyeol sembari menerawang cuaca abu-abu di sekitarnya. Kini jalanan mulai sepi dan hanya tinggal mereka berdua. Di sepanjang jalan setapak lebar yang mereka berdua lewati, di pinggirnya terdapat pohon maple yang berjejer. Lalu ada juga pohon cemara yang dihiasi lampu-lampu.

“Sweater mu keren.” Puji Leera mencairkan suasana. Sedari tadi Chanyeol hanya diam seribu bahasa. Namja itu hanya menggantungkan tangannya pada Leera dan menatap kosong jalan di depannya.

Chanyeol hanya membalas. “Hmm..” dan Leera menganggap itu sebuah penghargaan atas dirinya.

Chanyeol kembali diam.

Mereka terus berjalan ke ujung sana.

Di dalam hati Chanyeol, ia memikirkan seribu satu cara untuk mengakhiri hubungannya dengan Leera. Apa haruskah sekarang? Atau beberapa menit lagi? Sesungguhnya waktu sangat singkat!

Chanyeol hanya punya hari ini untuk mengakhiri hubungannya dengan Leera. Atau lebih tepatnya hubungan palsu yang tidak didasari rasa suka.

Ayolah yeol, jangan hiraukan wajahnya yang polos dan manis itu. Kau kan lebih memilih Seohyun. Kali ini kau harus jujur pada dirimu sendiri dan berhentilah menipu gadis itu.

Aku pasti bisa melakukannya!

Mereka terus berjalan bersama. Bergandengan tangan tanpa mengucapkan apa-apa. Leera akhirnya menyadari keheningan ini dan mencoba berfikir keras apa topik yang pas untuk dibicarakan. Mengapa Chanyeol kehilangan seluruh kata-katanya? Apa ia sedang bosan?

Tiba-tiba Chanyeol membuka mulutnya.

“Park Leera,”

Chanyeol melepaskan genggaman tangan Leera. “Aku ingin bilang sesuat…”

Drrttt

Drrrttt

Ringtone ponsel Leera berbunyi. Leera langsung mengambil ponselnya dan mengangkat.

Yeoboseyyo?”

“Leera-ya. Ayo cepat menuju RS youngheal. Ruang ICU, naiklah taksi!” Kata suara di ujung telpon. Leera panik,  ia menatap Chanyeol lalu Chanyeol menggeleng tidak mengerti.

“Apa? Apa yang terjadi?” Tanya Leera pada telpon. Ia mendengar suara berisik yang amat sangat, juga suara Suho, Baekhyun, dan Kyungsoo. Sepertinya member EXO sedang berkumpul di suatu tempat. Namun mengapa tempat itu rumah sakit?

Yang terdengar adalah keheningan.

“Apa yang terjadi?!” Jerit Leera tak sabar.

“Kai.. dia..”

.

.

.

.

.

.

.

“Dia tewas karena kecelakaan.”

Dunia berhenti.

Air mata Leera mengucur dari kelopak matanya hingga dagu. Mengalir begitu saja tanpa hambatan. Pandangan gadis ini kosong dan ia tidak sempat menarik nafasnya.

“A.. a..ap.. apa? Kau bercanda kan?” Leera berusaha tersenyum untuk menganggap ini adalah sebuah candaaan belaka.

Dalam otak Leera, dimainkan memori saat ia melihat Kai tertawa dan tersenyum miring. Kai yang masih sehat. Kai yang sering menjahilinya dulu. Tidak mungkin.

“Haha, jangan mencoba menipuku.” Leera tertawa dibuat-buat. Tatapannya entah melihat kemana. Chanyeol menatapnya dengan bingung. Tidak mengerti apa yang terjadi dan sepertinya Leera juga tidak mengetahuinya.

“Leera-ya, kalau kau mau mengetahui keadaan Kai yang sebenarnya. Naiklah taxi yang ada disana.” Balas namja di ujung telepon yang diduga Suho.

Kali ini Leera menggigiti bibirnya sampai berdarah lagi. Bibirnya yang beku membuatnya lebih gampang berdarah karena retak dan pecah-pecah. Tubuh Leera lemas, namun keinginannya untuk melihat keadaan Kai membuat semangat lagi.

Leera langsung berlari ke sebuah taxi di tepi jalan beraspal. Ia lari dan menenteng ponselnya. Yeoja ini langsung memusatkan perhatiannya pada perjalanan ke rumah sakit. Bahkan Chanyeol sudah lenyap dari daftar prioritasnya. Chanyeol hanya mampu terdiam dan bingung di bawah salju serta memandangi Leera dari jauh.

“Leera-ya!”

Chanyeol berlari menuju taxi. Namun yang ada taxi itu malah melesat pergi.

“Sial!” Umpat Chanyeol sambil mencengkram lututnya sambil berusaha bernafas.

#

Leera POV

Aku tidak percaya ini. Aku sungguh merasakan kehilangan yang mendalam. Namja itu memang tidak berarti untukku saat ia ada di depanku. Aku baru menyadari kehadirannya saat ia sudah tidak ada. Bodoh! Aku terlambat sadar! Aku tidak sadar bahwa ia adalah bagian penting dari hidupku! Aku merasa kehilangan sekarang!

Aku membenci Kai!

Dan kini ia membuatku lebih benci kepadanya karena ia pergi terlalu cepat!

Ia bodoh karena memberikan surprise semacam ini untukku, kau pikir kau bisa menipukku hah tuan Kim? Aku ingat segalanya tentangmu! Tuan Kim yang tidak suka tidur di sofa karena kedinginan? Tuan Kim yang suka ikan? Tuan Kim yang mengintip rokku? Tuan Kim yang mengurusku saat aku demam dan gengsi mengakuinya?

Kau Kim Jong In! Kau mempermainkanku!

Katakan padaku, mengapa aku merasa kehilangan saat kau pergi! Katakan padaku kenapa? Bahkan aku tidak tahu!

Air mataku sudah habis sekarang. Tanganku gemetaran tak keruan dan aku baru merasakan bahwa aku kedinginan. Otakku telat merespon dan bibirku berdarah karena kugigiti. Aku membiarkan air mata menyatu dengan darah segar di bibirku.

Supir taxi itu sebenarnya sudah bertanya padaku lebih dari 10 kali. Bertanya tentang tempat yang dituju olehku. Tetapi aku baru menjawab pertanyaannya selang 5 menit. Sudah kubilang otakku kacau.

“RS Youngheal.” Jawabku dengan suara amat pelan dan lemas. Aku menarik syalku dan mengelapkannya ke bibirku agar bekas darah bisa hilang.

Sepanjang perjalanan ke RS, mataku membuka lebar. Kulihati dengan jeli tiap mobil di jalanan. Otakku memerintahkan untuk menggigit bibir lagi. Namun aku menahan diriku untuk melakukannya. Aku tidak mau menyiksa diri sendiri. Bau darah itu sangat amis di hidungku.

“Sudah sampai.” Ujar supir taxi itu.

Aku tersenyum samar padanya sembari melihat box yang mengeluarkan digit angka. Lalu aku mengeluarkan 200 won dari dompetku.

“Terimakasih.”

Aku menutup pintu taxi dan bergegas lari. Aku menatap takjub RS Youngheal yang luas dan megah. Kemudian aku berlari ke sayap barat untuk mencari ruang ICU. Bisaanya ruang ICU lebih dekat dari luar gedung dan aku akan mudah menemukannya.

Aku berlari sambil mengendalikan nafasku yang memburu. Pikiranku hanya terkunci pada keadaan Kai. Dia sekarang sudah tewas, rohnya sudah diangkat ke langit dan aku tidak akan pernah melihat tubuhnya berbicara/bergerak lagi. Pipiku merasakan dingin, air mataku ternyata membeku di tulang pipiku.

Aku terus berlari dan menabrak beberapa orang yang mengerubungi ruang ICU dan berlalu lalang di koridor rumah sakit. Aroma obat yang semerbak menyanding hidungku dan membuatku terbuai pada antiseptik. Walau kepalaku sedikit pening melihat puluhan manusia yang mendesak-desak tubuhnya satu sama lain, aku tetap berjuang menuju ICU.

Akhirnya pintu itu ada di depan mataku.

Kau tahu? Aku  berharap Kai tidak jadi mati. Aku berharap, saat aku membuka pintu ini, dia langsung menghambur memelukku.

Sret. Kubuka pintunya.

Aku tidak merasakan siapapun memelukku. Percuma aku menunggu pelukan itu. Aku pun membuka mataku dan memandang seisi ruangan ICU. Aku hanya melihat 4 orang yang duduk tercenung di sofa rumah sakit. Wajah mereka menyiratkan kepedihan. Tidak ada yang menangis, atau lebih tepatnya mereka menghapus air matanya.

Saat aku mulai melangkah masuk, Suho oppa memberikan tatapan cemas padaku dan menenangkanku.

“Duduklah. Semua akan baik-baik saja.”

Spontan aku memegangi pipiku. Dan aku kaget karena air mataku mengucur tanpa seizinku. Suho kembali menyuruhku duduk dengan lembut. Aku mengangguk dan segera duduk bersama mereka. Kami tidak berbicara satu sama lain selama 10 menit pertama. Baru ketika Baekhyun berdeham aku mulai terbuka untuk bertanya.

“Sebenarnya…. Mengapa Kai bisa kecelakaan..”

Nadaku begitu rendah, nyaris tak terdengar. Aku hanya memandangi lantai di bawahku. Bergantian memandang sepatuku, sepatu Suho, atau kembali memandangi lantai putih. Namun, kali ini air mataku hampir jatuh lagi dan akhirnya aku mendongakkan kepalaku ke atas agar aku tidak menangis.

Kyungsoo tertarik untuk menjawab. Suaranya terdengar parau.

“Ia mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi, Leera-ya. Ia juga kurang hati-hati.. “

Aku mengernyitkan dahi. Hanya itu alasannya? Aku pun terdiam untuk mencerna namun aku tidak menemukan jawabannya.

“Ia mengejar seseorang dengan mobil itu…”  Baekhyun menatapku. Tiba-tiba pelipisku berdenyut karena kaget.

Mengejar seseorang? Aku hanya tahu satu orang yang penting bagi Kai. Wanita yang membuat Kai sampai tergila-gila. Yaitu Jiyeon.. Apa Kai kehilangan akal sehatnya saat itu? Apakah sebegitu pentingnya seorang Jiyeon sehingga ia harus mengorbankan nyawanya? Aku merasa marah, namun tubuhku menolak untuk membanting sesuatu ataupun menjerit karena tubuhku sedang begitu lemah. Aku tidak mengerti mengapa aku sebegitu ikut campurnya dengan urusan masalalu Kai. Tapi yang jelas, aku peduli akan kematiannya karena aku teman sekamarnya. Orangtua ku dan orangtuanya berteman sejak dulu. Kami seharusnya dekat dan peduli satu sama lain!

Aku terlambat untuk peduli padanya!

Buat apa aku peduli padanya sedangkan ia sudah mati?

Harusnya Kau berikan aku satu kesempatan lagi!

“Mungkin Kai sudah kehilangan kesadarannya…”

“Kau tahu kan, ia agak ceroboh dan keras kepala..” Kyungsoo mencoba tersenyum untuk menghibur namun tidak berefek padaku. Bibirku masih tidak bergerak dari posisi pertama dan mataku sedikit bengkak karena menangis.

“Aku seharusnya tidak memanggilmu kesini ya kan Leera-ya? Kau pasti tidak akan kuat melihat kondisinya. Sangat parah. Aku tidak akan menceritakannya padamu, itu lebih buruk dari melihat sendiri mayatnya”

Suho bangkit dari sofanya. Lalu Sehun, Baekhyun, dan Kyungsoo ikut bangkit. Aku masih duduk di sofa dengan pandangan kosong. Mereka berempat memandangiku, lalu Sehun menarik tanganku dan membujukku untuk bangun dan melihat tubuh Kai yang aku yakin sudah tidak berbentuk lagi.

Mau matanya hilang satu, tulang hidungnya patah, atau ususnya menjuntai keluar. Tetap saja dia sudah mati. Jadi, aku tidak mau mempertimbangkannya.

“Terimakasih, Sehun-ah..” Aku bangkit sembari bertumpu pada tangannya. Kami berdua adalah orang terakhir yang masuk ke ruangan otopsi.

Aroma aneh menusuk hidungku. Pandanganku yang sedikit kabur membuat orang-orang bermasker itu terlihat seperti tidak punya mulut. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah untuk mencari ranjang roda yang ditiduri Kai yang sudah mati. Tidak ketemu.

Tetapi ketika aku menghadap ke bawah. Aku sudah bisa melihat wajah Kai tepat di bawah daguku. Pingganggku sudah menabrak ranjangnya.

Aku meratapi lekuk wajahnya yang tinggal sedikit, pahatan hidungnya, matanya yang cekung, ya hanya itu yang bisa kulihat dengan jelas. Dari dahi hingga pucuk kepalanya sudah tidak bisa kudeskripsikan. Dadaku bergetar ingin menangis lagi. Gigiku kuadu satu sama lain agar aku bisa menahan tangis. Tetapi air mata itu tetap keluar.

“Leera-ya..” Baekhyun menatapku prihatin.

Aku akhirnya menangis lepas di atas tubuh Kai. Di atas wajah Kai yang terpejam dan teduh.

Aku memejamkan mataku seperti dia memejamkan matanya dan aku berusaha tersenyum di depan wajahnya sekarang. Agar ia tahu aku kuat.

Air mataku terjatuh tepat di atas hidungnya lalu mengalir ke pipinya. Aku pun mengusap wajahnya untuk terakhir kalinya. Lalu karena aku tidak kuat, aku memeluk orang di sebelahku, Sehun. Akhirnya aku sesenggukan di dada Sehun.

Kematian temanmu sendiri itu menyesakkan. Apalagi ia sudah menemanimu hampir tiap detik.

#

“Aku lolos..”

Jiyeon menyandarkan tubuhnya di jok kursi. Lalu ia memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan diri. Sungguh beribu rasa syukur ia lontarkan karena Kai tidak dapat mengejarnya. Terakhir ia melihat Kai adalah di perempatan dan setelah itu Jiyeon langsung menyetel mobilnya dengan kecepatan maksimum dan melesat begitu saja. Akhirnya sampailah ia disini, lapangan parkiran sebuah restoran.

Gadis itu menghembuskan nafasnya secara teratur untuk mengembalikan kondisinya. Ia pun melihat jam.

“Sudah malam..” Ucapnya lalu menguap lepas.

Ia sama sekali tidak sadar bahwa Kai kecelakaan. Tidak hanya kecelakaan, Kai tewas.

Drrrrttt

Yeoboseyyo?”

“Jiyeon-a! Kau kemana? Kau tidak apa-apa?”

Suara Hyomin di ujung telepon. Jiyeon langsung duduk tegak untuk dapat berbicara dengan lancar.

“Aku baik-baik saja. Maaf mobilmu kubawa kau jadi tidak bisa pulang”

Lalu Hyomin langsung panik

“Aku dijemput salah satu supirku. Apa yang terjadi padamu Jiyeon-a! katakan padaku!”

Jiyeon menggigit bibirnya.

“Tidak ada apa-apa.”

“Kau berbohong, Jiyeon-a! Pasti ada hubungannya dengan lelaki itu. Ia menyakitimu?”

Ini gawat. Hyomin semakin mendesaknya sedangkan Jiyeon tidak mau Hyomin ataupun Myungsoo mengetahui rahasia masalalunya. Jiyeon pun berdalih ala kadarnya. Berharap masalah tidak bertiup padanya. Tapi ia berubah pikiran. Berbohong justru akan menyulut lebih banyak masalah. Jiyeon lebih memilih untuk memberitahu mereka.

“Tidak, ia tidak menyakitiku..”

Mungkin sebaliknya, mungkin aku yang menyakitinya. Maafkan aku Kai. Bahkan aku tidak tahu bagaimana keadaanmu sekarang..

Di ujung telepon Hyomin mendesah lega.

“Syukurlah, tapi aku masih butuh banyak penjelasan darimu..” Ungkap Hyomin.

Lalu Jiyeon pun mendesah lega.

“Tenang saja, suatu saat akan kuceritakan padamu, Hyomin-ah”

#

Apakah kau pernah mengenal kehilangan?

Apakah kau pernah mengenal penyesalan?

.

.

 

Aku menekan-tekan pelipisku hingga cekung. Basah memang, karena keringat. Aku terus duduk manis di sofa bersama 4 anggota EXO yang dulu sangat berisik. Yang suka bercanda dan menggodaku. Sekarang terbaring lemas tak berdaya.

“Mau kuberitahu suatu rahasia?”

Aku menengok ke arah suara. Itu Kyungsoo, yang menatapku lamat-lamat. Aku meneguk ludahku dan kata-kata ‘iya’ sudah ada di tenggorokanku.

“Iya..” Balasku datar.

Kyungsoo memantapkan duduknya. Lalu aku melihat 3 orang lainnya menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Baiklah kali ini apa yang akan mereka ceritakan?

“Aku akan menceritakanmu latar belakang Kai mengejar Jiyeon.”

DEG

Aku merasakan dadaku yang panas. Pelipisku berdenyut lagi.

Kyungsoo menarik nafas panjang lalu menatapku nanar.

“Jiyeon adalah mantan yeojachingu Kai dulu. Suatu saat Jiyeon menghilang selama beberapa minggu. Kai begitu resah bahkan ia menceritakan keresahannya pada kami berempat. Ia tidak tenang dan selalu bermimpi buruk. Ia takut Jiyeon kenapa-napa. Ia datang ke rumahnya, tetapi tak ada yang menyambutnya. Sampai suatu saat di akhir Desember disaat salju turun, Jiyeon datang kembali. Namun kau tahu apa yang Jiyeon ucapkan saat itu?”

Aku menggeleng. Kyungsoo melanjutkan lagi dengan nada yang lebih parau.

“ ‘ Selamat Tinggal ‘ … “

“Hanya itu yang Jiyeon ucapkan. Lalu ia menghilang untuk selama-lamanya. Sampai saat ini.”

“Aku tidak bisa bilang bahwa Jiyeon adalah penyebab Kai mengalami kecelakaan. Aku rasa yeoja itu mengalami gangguan psikologi sehingga ia selalu ingin melarikan diri dari Kai. Aku juga tidak tahu mengapa yeoja itu begitu keras kepala. Kai tentu sangat kaget bisa menemukan Jiyeon kembali setelah sekian lama menghilang. Sehingga ia begitu bahagia dan berobsesi berlebihan untuk mengejar yeoja itu. Sampai akhirnya ia nekat dan kecelakaan seperti ini.”

“Leera, apa kau punya seseorang yang kau sayangi dan tiba-tiba ia pergi dan menghilang selama-lamanya? Apalagi orang itu memutuskan sendiri bahwa ia ingin pergi dan dia tidak memberikan alasan yang jelas. Dan kau sadar bahwa kau begitu merindukannya.. apa responmu jika kau bertemu lagi dengannya huh?” Baekhyun menambahkan dengan nada yang lebih tegas.

“Aku tidak memihak. Kai ataupun Jiyeon. Tetapi yang jelas, secara hukum jika Kai masih hidup, Kai yang salah dan jiyeon tidak akan pernah terlibat dengan kecelakaan ini.”

Dadaku sesak. Benar-benar sesak!

Mengapa Kai tidak memberitahuku semuanya?

Ternyata dibalik pribadinya yang dingin dan cuek. Ia menyimpan banyak rahasia kelam. Ia adalah lelaki muda yang malang. Yang selalu pontang-panting menunggu kedatangan orang yang disayanginya.

Kami semua diam tak ada yang berbicara. Aku masih syok dan aku menutup wajahku untuk menangis.

“Tidak apa-apa, Leera-ya.. “ Suho merangkul pundakku dan menenangkanku. Aku menepisnya dan beranjak keluar ICU.

Aku menerobos kerumunan yang tidak tahu apa-apa itu. Menabraknya tidak masalah, yang penting aku bisa menenangkan diriku di suatu tempat.

Later

Suasana hatiku sudah membaik dan aku sudah kembali ke ICU, duduk di sofa. Sekarang sudah malam dan aku harus kembali pada mereka.

 “Aku sudah memberitahu Chanyeol dan Seohyun. Mereka akan datang sebentar lagi”

Suho mengedarkan pandangannya kepada semua orang. Terutama aku,

Oh iya bahkan aku lupa! Aku lupa mengajak Chanyeol ikut bersamaku ke ICU. Bodohnya. Mungkin karena aku terlalu panik dan serius. Chanyeol tidak tahu apa-apa namun aku yakin ia kaget setengah mati.

“Bagaimana dengan orangtua Kai dan orangtua ku?”

Aku bertanya dengan tidak antusias. Suho kembali menjawab.

“Mereka sampai kira-kira 3 hari kemudian. Disana pesawat terus di delay.”

Bahkan aku tidak menelfon ibuku.

Hari ini sudah malam dan aku merasa sangat kedinginan. Sebenarnya untuk apa kita disini? Itu pertanyaannya.  “Sebenarnya untuk apa kita terus menunggu disini?”

“Untuk menunggu vonis dokter..” Sehun menjawabnya dengan polos. Jelas-jelas Kai sudah mati dan tinggal di dandani dengan jas. Tetapi ia masih saja ngotot dan bilang bahwa kita menunggu vonis dokter. Vonis apa? Vonis tentang penyakit huh?

Tetapi yang lain tidak protes. Mereka diam dan tidak ada yang menyanggah sehun. Aku pun ikut-ikutan diam. Lalu menyandarkan kepalaku di sofa.

Andai saja.. andai saja yang dikatakan Sehun itu benar

Ya kami masih duduk di sini. Antara mayat Kai dan kami hanya dibatasi oleh dinding tipis dan kaca. Aku berharap bau busuk mayat tidak tercium olehku karena mungkin aku akan menangis lagi. Kapan Chanyeol dan Seohyun akan datang?  Mereka akan memberikan respon apa? Itu yang kupikirkan. Dan aku merasa kehilangan sebagian dari hal yang penting. Diantara kami semua, walau yang jarang tertawa adalah Kai. Tetapi Kai selalu dikenang semua orang karena kebaikannya di masa lalu.

Ada yang kupikirkan juga sedari tadi. Kalian tahu? Aku mulai merasakan sensasi aneh saat aku bersama Chanyeol. Aku rasa ia bukanlah Park Chanyeol yang dulu, yang selalu tertawa tiap bersamaku. Ia tidak agresif lagi seperti dulu. Bahkan ia terlalu banyak diam. Beberapa tuduhan Min Ka kepadanya tentang taruhan itu membuatku tertekan. Sampai sekarang aku masih berfikir. Apa itu benar? Atau hanya akal bulus Min Ka semata?

Lalu Jiyeon, sekarang aku sepenuhnya membenci yeoja itu. Setelah mendengar cerita Kyungsoo. Yeoja itu bagai iblis yang tidak tahu diri. Apa ia yang merencanakan kecelakaan ini? Dia ingin Kai mati huh? Huh?! Lihat saja nanti Park Jiyeon!

Sret.. Chanyeol dan Seohyun muncul di ambang pintu. Raut Chanyeol tampak datar seperti terakhir aku menemuinya namun terlihat ada yang berbeda di wajahnya. Seohyun, matanya merah. Aku bisa melihat wajah putihnya yang memerah sempurna karena menangis. Hidungnya seperti cherry. Ia menutupi mulutnya dengan tisu.

Chanyeol dan Seohyun ya..

“Bagaimana?” Tanya Chanyeol kepada kami semua. Aku tidak menjawab karena kemampuanku untuk mau berbicara masih rendah.

Suho menunjuk pintu kaca di belakang kami. Yaitu ruang otopsi Kai.

Chanyeol mengangguk pelan dan ia menatapku prihatin. Ia tersenyum. Namun sangat samar.

Chanyeol menggenggam tangan Seohyun dan masuk ke ruang otopsi. Saat melihatnya dadaku terasa sakit karena cemburu. Namun, aku harus ingat mereka hanya teman oke?

Aku tidak ikut mereka berdua ke ruang otopsi, bahkan keempat orang itu juga ( Suho, Sehun, Baekhyun, Kyungsoo ) tidak ingin melihat lagi tubuh Kai yang remuk. Aku memejamkan mataku pasrah.

Aku tertidur.

#

Apa yang terjadi padanya ?

Chanyeol memandangi tubuh Kai dengan alis mengerenyit. Ia sama sekali tidak ingin menangis, tetapi sudah cukup ia merasa sedih. Seohyun mengucurkan air matanya lebih deras saat melihat ubun-ubun Kai yang sudah hancur. Bagaimanapun juga, Kai adalah orang yang baik. Ia mau mengantarnya kemana saja. Walau ia jarang tertawa namun Seohyun yakin dia orang yang ramah dan baik. Seohyun adalah orang yang terakhir bersama Kai waktu itu. Tepatnya sebelum Kai mengejar Jiyeon. Dan Kyungsoo adalah orang terakhir yang mendengar suara Kai lewat telepon.

Chanyeol mengusap rambut bagian depan Kai.

“Beristirahatlah dengan tenang kawan..” Ujarnya. Sedangkan Seohyun tidak sanggup berkata-kata.

Chanyeol memejamkan matanya untuk berdoa. Begitu juga Seohyun.

Tetapi tiba-tiba.

Pip.. pip..

Suara elektrokardiagram!

Jantung Kai berdetak lagi.

#

Aku mendengar suara ribut-ribut. Dan tubuhku diguncang-guncang. Kepalaku sangat pusing dan mataku begitu samar-samar untuk melihat. Aku hanya melihat Baekhyun yang nyengir-nyengir dan tertawa. Ia mengguncang-guncang bahuku seperti orang gila.

“Leera-ya! Bangunlah!”

“Kai masih hidup! Jantungnya berdetak kembali!”

Ini adalah sebuah keajaiban..

Aku akhirnya tersadar sepenuhnya dari alam mimpi. Spontan aku memeluk Baekhyun karena begitu bahagia. Aku kembali menangis lagi.

“Sudah! Harusnya kau senang dia masih hidup! Jangan menangis lagi!”

Iya, ini dia Baekhyun yang dulu. Baekhyun yang begitu ceria dan eksplosif.

Aku spontan menarik tubuhku lalu tersenyum padanya. “Terimakasih..”

Aku memandang ruangan ini dan keempat member EXO lainnya sudah menghilang ke ruang otopsi. Aku sempat mendengar Chanyeol mengucap syukur sambil berteriak. Aku ingin menangis lagi mendengarnya.

Akhirnya aku bangkit dari sofa dengan bantuan Baekhyun. Lalu menghambur ke ruang otopsi. Aku tersenyum melihat alat pengukur detak jantung itu masih berbunyi dan garisnya naik turun yang berarti normal.  Jantung Kai kembali berdetak!

Kami semua berpandangan dan berpelukan.

Aku sangat bahagia merasakan pelukan dari mereka. Mereka teman-teman baruku, sahabat terbaikku, yang selalu menghibur dan membantukku tiap ada kesulitan. Mereka bagian dari hidupku sekarang. Aku janji aku akan berubah menjadi lebih dewasa. Aku bukan Park Leera anak pemalas lagi yang sama sekali tidak tahu arti cinta sesungguhnya.

Aku Park Leera yang baru!

Walau Kai belum siuman. Tetapi mendengar detak jantungnya saja bagaikan melihat ia tersenyum pada kami.

#

Keesokan Harinya,

Kai dipindahkan ke ruang inap. Kami semua ( anggota exo, aku, dan Seohyun ) terpaksa izin dari sekolah. Tentu saja kami menginap dan menunggu Kai bangun.  Aku berpikir bahwa ia hanya tertidur sementara dan akan bangun esok paginya. Tapi ternyata tidak.

Aku terbangun tengah malam dan mengecek detak jantungnya juga mengusap kepalanya yang diperban. Luka gores bekas kaca di pipinya selalu kuusap. Aku berinsting bisa menyembuhkannya. Walau itu konyol..

Tetapi aku lemas saat suatu pagi tim dokter masuk dan menjelaskan pada kami bahwa Kai koma. Menunggu ia sadar tentu sangat lama. Dan dokter tidak bisa memastikan kapan ia bangun. Berarti kami harus terus menunggu. Dokter bilang jika dalam sebulan ia tidak kunjung bangun. Kemungkinan ia akan divonis mati. Ia mengalami gangguan otak dan itu berpengaruh pada kesadarannya. Aku juga takut…..

Takut Kai hilang ingatan.

Oh iya, mereka semua pulang ke rumah saat pukul 10. Izin untuk mandi dan melapor pada orang tua mereka. Karena pasti orang tua mereka cemas bukan? Sedangkan Chanyeol berbaik hati menawarkan diri mengambil beberapa barang-barangku untuk dipindahkan ke rumah sakit karena aku yang bertugas menjaga Kai selama ia koma. Entah aku akan menunggu sampai kapan. Menunggu sampai Kai bangun.

Author POV

Chanyeol mengetuk pintu kamar rumah sakit. Lalu ia masuk sambil membawa sebuah tas berisi pakaian-pakaian Leera , tentu saja yang memasukkan pakaiannya ke dalam tas bukan Chanyeol yang dengan jelas berjenis kelamin namja, tetapi Seohyun.

Annyeong.. apa yang terjadi padanya?” Sapa Chanyeol sambil menatap Kai.

Leera terdiam sejenak dan menjawab.

“Tidak ada kemajuan..” Ungkap Leera dengan nada sedih.

Chanyeol melangkahkan kakinya ke sofa di ujung ruangan. Ia menaruh tas ransel Leera di atas sana. Lalu berdiri untuk menatap Leera yang terus menerus memandangi Kai.

“Aku berharap ia lekas sembuh..”

Ujar Chanyeol sambil memasukkan tangannya ke kantung. “Kau pasti sedih sekali..” Lanjutnya.

Leera terdiam. Ia hanya bergumam untuk menjawabnya. “Ya..”

Chanyeol berjalan mendekati Leera lalu ikut mengamati wajah Kai dari dekat. “Dia lelaki yang baik, jauh lebih baik daripada aku, Leera-ya..” Singkap Chanyeol sambil memandangi Leera.

Leera yang mendengar perkataan Chanyeol barusan pun mengangkat alisnya lalu tertawa. “Sungguh, kau bercanda ya?”

Mungkin jika Leera sedang minum air tadi, ia akan tersedak sangking lucunya perkataan Chanyeol. Yang benar saja? Kai jauh lebih baik daripada Chanyeol?

Chanyeol mengangguk sangat dalam. “Ini sungguhan. Kau hanya belum tahu” Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

“Aku tidak percaya..” Kekeh Leera.

Chanyeol mundur beberapa langkah dan membenarkan poninya. “Leera-ya.. aku ingin meminta satu hal padamu”

“Apakah kau mau menerima apapun permintaanku?”

Leera tanpa pikir panjang mengangguk.

“Jika aku memutuskan untuk melakukan sesuatu untukmu, namun itu kurang mengenakan bagimu… aku, aku minta maaf. Dan mohon jangan dendam padaku..”

Leera menelan ludahnya sejenak. Kemudian ia menatap Chanyeol,

“Janji?” Chanyeol memastikan sambil memperlihatkan senyumnya yang mematikan. Leera spontan tersenyum,

“Janji.” Balas Leera tersenyum.

Mereka saling mengaitkan kelingkingnya satu sama lain sambil tersenyum.

#

Chanyeol pulang dari rumah sakit, ia hendak naik bus karena tidak ada teman yang akan menumpanginya.

Masih musim dingin, namun saljunya tidak selebat kemarin-kemarin. Chanyeol bersyukur karena itu. Lelaki itu kini mengenakan mantel berbahan kulit dan kupluk berwarna cokelat. Sembari berjalan ia mengantungi tangannya agar hangat. Ia masih terngiang-ngiang percakapannya dengan Leera tadi di rumah sakit.

“Jika aku memutuskan untuk melakukan sesuatu untukmu, namun itu kurang mengenakan bagimu… aku, aku minta maaf. Dan mohon jangan dendam padaku..”

“Janji?”

“Janji.”

Ada sebuah rasa kasihan terbesit di hati Chanyeol. Ia kasihan dengan gadis itu , Park Leera. Sampai kapan ia akan merasakan kebohongan ini? Ia terlalu banyak menelan kesedihan. Dan kesedihan itu berturut-turut menimpanya.

Chanyeol sebenarnya ingin cepat-cepat mengakhiri hubungannya dengan Leera agar gadis itu tidak merasakan kebohongan ini lebih lama. Ia ingin Leera lekas mengetahui semuanya. Namun, Chanyeol tidak tega, gadis itu sudah merasakan kesedihan terlalu banyak. Chanyeol ingin melakukannya besok—memutuskan Leera dan mengakui semuanya—tetapi ada seberkas rasa kasihan. Gadis itu sangat rapuh dan mudah runtuh. Ia takut gadis itu tidak bisa menerima kenyataan. Tapi apa boleh buat, ini yang terbaik untuknya. Jujur padanya lebih baik daripada terus berbohong, dan Chanyeol sudah tidak tahan lagi.

Maafkan aku, Park Leera. Aku harus melakukannya..

>.<

Kai koma, entah sampai kapan. Ada dua pilihan, Kai mati, atau Kai hidup dengan gangguan otak.

490 comments

  1. sedihhhh thor, pengen nangis rasanya tp ga bisa huweeehhh..
    kai koma? omg..
    ga bs ngebyangin kepala kai yg uda pecah, emg bisa diperbaiki ya thor -_- serem ngebyginnya…

  2. yehet!! kai idup😀 tadi sempet hampir nangis,eh kai nya idup lagi 😆 aku kira bakal sad ending, ternyata enggak hehe
    suka banget deh sama ff nya♥♥

  3. Mian, ini pake wpku yg baru, sebelumnya aku comment pake id komen “firelightsy614”

    Sumpaahh thor aku bener bener nangis! Feelnya sangat dapat! Kai bangun ayolahh..

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s