OMCIA! YBIMA | 15b


huhuh

| Title |

One Month Crush In Apartemen! [Yadong boy in my apartemen!]

| Author |

Bekicot Princess aka @Saarahsalsabil

| Main Cast |

Park Leera

Kim Jong In

Park Chanyeol

Seo Joo Hyun

| Genre |

School life, romance, fluff, AU

| Length |

Chapter 15a of 16

| Rating |

PG-15

| Summary |

Tinggal dengan namja mesum itu di apartemen ini?! GILA! Shireo!

Previous Part

| Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6a | Part 6b | Part 7a | Part 7b | Part 8 | Part 9a | Part 9b |Part 10| Part 11|Part 12|Part 13|
100% ORIGINAL BY @SAARAHSALSABIL

no plagiat !

mian for any typos ! maaf kalo ada code code komputer gajelas, aku juga gakngerti kenapa bisa gitu -_-

HAPPY READING

Chanyeol teringat perkataan Kai sebelum ia kecelakaan.

“Kau yang harus bertanggung jawab. Tidak bisa seenaknya menyakiti perasaan orang lain. Kau harus punya cara untuk mengakhirinya. Namun aku mohon jangan hari ini. Selesai kau melakukannya hari ini kau bebas. Besok terserah kau mau melakukan apa. Yang penting, kau harus melakukannya dengan lembut. Susul dia dan  anggap saja yang menulis isi kertas itu kau.”  -part 13

Ia melindungi Leera, pikir Chanyeol.

“Ingat, kita sudah punya perjanjiannya.”

Ia menginginkan yang terbaik untuk Leera!, pikir Chanyeol lagi.

Senyum Chanyeol tertarik. Hatinya sekarang sudah tenang. Ia takkan merasa berdosa karena memutuskan Leera karena Kai sudah merelakannya. Kai sudah tahu apa yang terbaik untuk Leera.

#

Rumah Sakit,

Aroma obat, suara mesin detak jantung, tubuh yang terbaring lemah di atas ranjang.

Leera masih duduk di samping Kai untuk mengawasi namja itu. Ia akan terus menunggu namja itu bangun. Ia tidak peduli mau ia lupa ingatan atau apalah. Yang ia butuhkan sekarang adalah Kai siuman. Itu saja,

Itu saja bisa membuatnya lega dan sangat bersyukur.

Boiji anheun neol chajeuryeogo aesseuda

deuliji anhneun neol deureulyeo aesseuda (Mencoba menemukanmu, kau yang tidak dapat kulihat lagi

Mencoba mendegarmu, kau yang tidak dapat kudengar lagi )

 

Boiji anhdeonge boigo deulliji anhdeonge deullyeo

neo nareul ddeonan dwiro naegen eobdeon himi saenggyeosso (Dan saat aku melihat semuanya, mendegar semuanya karena setelah kau beranjak pergi, aku mendapatkan satu kekuatan baru )

EXO – Miracle In December

Leera POV

Aku memutar memori tentang Kai, sembari mengamati wajah Kai yang tenang dengan matanya yang tertutup rapat. Tubuh itu tidak pernah bergerak lagi. Tidak pernah menyetir mobil lagi sebagaimana dahulu. Tidak pernah menarik tanganku seenaknya lagi seperti dulu. Tidak pernah bisa menjadi sandaranku lagi saat aku sedih dan tertekan seperti dulu.

Haha, mengingat dirinya yang duduk di kursi pemudi dan aku hanya dapat tersenyum kecut lalu memandanginya dari samping memang lucu. Kami yang selalu diam jika hanya berdua. Atau malah berkelahi terus seperti anak kecil. Masalah yang kami perdebatkan memang hal-hal sepele. Aku ingat sekali saat ia menyelamatkanku dari cuaca dingin, saat itu aku hampir tidak sadarkan diri dan ia memapahku ke dalam mobilnya. Apa? Apa kata-kata yang diucapkannya waktu itu?

“Aku tidak akan membiarkanmu menunggu selama satu jam dan membeku begitu saja.”

Aku bisa menyadari ia mengkhawatirkanku. Aku ingat sekali saat aku berada di dalam mobil waktu itu, rasanya aku ingin mengucapkan terimakasih. Tapi, saat itu aku berfikir bahwa rendah sekali harga diriku jika berterimakasih pada namja byuntae tidak tahu diri seperti itu. Haha, bodoh.

Jika dia tidak bangun lagi, bagaimana cara aku berterimakasih? Membisikkan ‘gomawo’ di telinganya? Telinganya yang sudah tidak berfungsi itu? Apa bisa? Dia kan sudah tidak punya nyawa. Tentu dia tidak akan bisa mendengar ucapan terimakasihku. Leera bodoh. Bodoh!

Sudah, tidak ada gunanya menyesali hal-hal seperti itu.

Cklek

Pintu kamar terbuka, aku menoleh dan mendapati wajah tirus Min Ka dari balik pintu. Wajahnya menyiratkan raut sedih sekaligus prihatin. Di tangannya terdapat sebuah bingkisan roti. Roti hangat.

“Annyeong..” Ucapnya sembari menunduk.

Kepalanya ditolehkan kearah Kai dan aku melihat ia meneguk ludahnya. Mungkin ia agak sedikit ngeri melihat banyak perban yang melilit kepala Kai.

“Ini belum seberapa. Aku melihat jasad aslinya saat otaknya hampir keluar.” Ucapku datar seolah-olah itu biasa saja. Padahal sejujurnya, hatiku sangat sakit jika mengingatnya.

Min Ka semakin takut dan ia berusaha mengalihkan pembicaraan. “Aku membawakan roti untuk Kai.” Ucap Min Ka lalu menaruh bingkisan itu di atas meja.

Aku meneliti bingkisan itu secara jeli lalu menatap wajah Min Ka yang semakin tenang. Aku mengernyitkan alisku padanya dan berdecik.

“Hah.. aku tidak yakin ia bisa makan roti itu dalam keadaan yang masih hangat.”

“Ia koma, bukan tidur.” Aku menekankan kata itu pada Min Ka. Agak sedikit sangar, karena aku sensitif terhadap orang yang tidak tahu apa-apa tentang keadaan fisik Kai.

Min Ka terlihat kaget. “Mianhae, aku tidak tahu.”

Aku terdiam terlalu lama. Min Ka berdiri di sampingku seraya mengamati tubuh Kai.

“Kau menjaganya sendirian dari kemarin?” Tanyanya untuk menghangatkan suasana dan ia setengah tidak percaya.

Aku menoleh padanya sambil bertutur datar. “Ya..”

“Apakah ada kemajuan tentang kondisinya?”

Aku tercenung sejenak dan diam. Aku memilih tidak menjawab pertanyaan Min Ka. Karena menjawab ‘tidak bisa’ membuatku sangat sakit hati. It feels so deep you know.

Min Ka merasa tidak enak dan ia akhirnya menyandarkan bahunya di sofa.

“Maaf jika aku membawakan berita tidak mengenakan untukmu. Masih ingatkah perkataanku tentang Chanyeol yang menjadikanmu barang taruhan?”

Deg!

Jangan bodoh. Aku tidak percaya itu sedikitpun. Aku menganggap Min Ka pembual besar dan menganggap bahwa semua omongannnya adalah omong kosong.

“Masih ingat?”

Tanyanya dengan nada yang direndahkan.

Apa ia masih mau menambah bebanku? Setelah Kai, sekarang apa lagi? Chanyeol?

Aku tidak mau gila karena semua ini.

Aku sudah cukup menderita karena Kai. Dan sekarang, Min Ka ingin menyangkutpautkan barang taruhan dengan namja seperti Chanyeol?

Aku pun tertarik untuk menjawab. “Tidak. Atau lebih tepatnya aku tidak percaya apapun yang kau katakan.”

Min Ka mengamati wajah ketusku. “Kau harus mendengarkanku.” Katanya dengan nada memohon. “Aku serius. Ini demi kebaikanmu, buat apa aku berbohong padamu.”

“Aku tetap tidak percaya.”

Andai ia membayarku satu milyar dan membuat Kai hidup tanpa lupa ingatan. Tetap tidak akan kupercayai bualannya.

“Aku serius Park Leera! Aku tidak mau menjerumuskanmu. Aku memang tidak ada relasi apapun dengan Chanyeol. Namun aku tahu semua rahasia itu karena aku membuntuti dia. Aku terus membuntuti dia demi kau Park Leera. Waktu itu, kau memang tidak mengenalku. Tapi aku paham siapa itu dirimu.”

Aku meneguk ludahku. Kali ini aku tidak mau ketinggalan satu hurufpun perkataannya. Karena aku ingin tahu apa ia hanya membual. Atau tidak.

“Biar kuceritakan semuanya padamu agar kau percaya.”

Aku tercenung dan dadaku naik turun. Nafasku menjadi tidak teratur dan aku mulai menatap wajah Min Ka yang mencoba meyakinkanku dengan jelas.

“Ceritakan.” Ujarku. Yang secara tidak langsung mengizinkan masalah baru masuk dalam hidupku.

Min Ka sedikit tercengang dengan jawabanku. ia terdiam sebentar sembari menarik nafas dalam-dalam. baru ia memulai ceritanya.

“Apa kau ingat permintaanmu pada Kai? Permintaan agar kau bisa bersatu dengan Chanyeol? Apa respon Kai? Apa kau tahu asal usul Chanyeol bias menyatakan perasaan palsunya padamu?”

“Apa kau tahu prosesnya?”

Aku menggeleng dan meneguk ludah.

“Saat aku melewati balkon kelas kalian, aku melihat Chanyeol dan Kai, berdua berbisik-bisik membicarakan sesuatu. Kai meminta pada Chanyeol agar ia mau membuka hatinya untuk yeoja yang menyukainya. Chanyeol bertanya-tanya siapa yeoja itu. Namun Kai tak mau memberitahunya. Itu berarti, Kai melindungimu. Keesokan harinya, Chanyeol akhirnya menyadari siapa yeoja yang menyukai dirinya. Yaitu kau, Park Leera. Akhirnya Chanyeol mengajukan taruhannya. Mau tahu apa taruhannya?”

“ Taruhannya adalah, ‘siapa yang mendapat nilai sosiologi lebih rendah. Maka ia harus menyatakan perasaan palsunya pada Leera.’ Maksudnya, jika Chanyeol mendapat nilai sosiologi lebih rendah dari Kai. Maka Chanyeol lah yang akan mendapatkanmu atau dengan kata lain terpaksa mendapatkanmu walau ia tak ingin. Sebaliknya, Chanyeol tidak menyukaimu. Tetapi, ia ….”

“Menyukai Seohyun kan? Aku sudah tahu itu..” aku tertawa miris, sungguh mataku sudah berair sekarang.

“Kau ingat kan Kai dapat nilai sosiologi berapa? 100! Kau tahu mengapa ia bisa dapat nilai sebesar itu? Itu karena ia menukar jawaban aslinya dengan jawaban baru yang sudah di cocokkan di buku. Istilah lainnya, ia curang dalam taruhan itu. Harusnya, ia kalah dan harusnya ia yang mendapatkanmu. Taruhan ini salah. Tetapi malah Chanyeol yang kalah. Akhirnya Chanyeol menjadi boneka Kai dan terpaksa menuruti segala keinginan Kai. Ia bersikap romantis padamu, dan sebagainya. Aku menyesal mengatakan ini tapi…. perlakuan Chanyeol padamu hanyalah akting. Beberapa hari kemudian Chanyeol tidak tahan lagi. Kau ingat kertas yang di lemparkan Chanyeol saat pelajaran sosiologi kemarin-kemarin? Itu bukan surat ajakan kencan. Itu ajakan putus… kalau kau tidak percaya, kalau kau mau bukti? silahkan konfirmasi dengan guru sosiologi kita. Aku yakin ia masih menyimpan kertasnya.”

“Maaf jika kata-kataku begitu menyakitkan, aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat dan aku dengar. Aku hanya ingin kau tahu  yang sebenarnya. Dan aku ingin kau mengerti keadaan. Aku tidak tega melihatmu larut dalam kebohongan . apalagi melihatmu menderita..”

Dadaku sesak!

Apakah aku harus percaya?

Bahkan semua ceritanya belum tentu benar. Leera, tenang.. tenangkan dirimu oke. Belum tentu semua ceritanya adalah fakta. Bagaimanapun, kau tidak boleh percaya.. tetapi mendengar ceritanya yang belum tentu benar saja dadaku sudah sesak. Apalagi jika aku menyadari bahwa semua yang diceritakannya adalah kebenaran? Chanyeol.. ia namja yang baik …

Aku bahkan terus mengelak atas semua pernyataan Min Ka. Otakku terus menolak diri untuk mempercayai perkataan Min Ka. Aku tidak mau Min Ka terus khawatir padaku karena aku masih tidak percaya dengan perkataannya. Jadi, aku mengucapkan ini..

“Terimakasih sudah memberitahuku..”

Yap. Hanya itu,

Hanya sekedar untuk membuatnya tenang.

“Baguslah..” Jawabnya dengan wajah perhatian.

Setidaknya aku harus sedikit percaya kepada ceritanya tadi. Karena akhir-akhir ini, Chanyeol bersikap aneh. Mungkin aku hanya perlu sedikit menunggu sampai Chanyeol mengutarakan segala kebenaran untukku. Ya, mungkin..

Mungkin aku harus siap-siap untuk patah hati.

“Maaf, aku tidak bisa berlama-lama. Setidaknya aku dapat tenang karena kau sudah percaya dengan seluruh ceritaku. Tapi responmu memang tidak mengagetkan ya.”

“Ya.. “ aku hanya membalas itu. Dengan lemas,

Lalu Min Ka bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu. “Semoga keadaannya membaik.” Ucapnya pada Kai.

“Terimakasih.” Ucapku pelan.

Dia hanya tersenyum tipis dan memutar kenop pintu. Saat ia hampir menutup pintunya kembali dari luar, aku berseru.

“Semoga harimu menyenangkan!”

“Kau juga..” ucapnya.

Setidaknya, itu empas.

#

Author POV

Kyungsoo menatap layar ponselnya. Ia menatap pesan dari ibunya Kai.

From: Hyunsik

Pesawat kami masih di delay. Aku juga semakin frustasi disini. Katanya ada badai lah apa lah. Aku pusing dengan semua ini.

Bagaimana keadaan anakku?

Kyungsoo segera mengetik jawaban dengan cepat. Kyungsoo bilang bahwa Kai mulai membaik dan ia tidak meninggal. Ia hanya koma dan mungkin beberapa hari lagi akan segera bangun (hanya untuk menenangkan ibunya Kai) Kyungsoo bilang pada Hyunsik untuk jangan khawatir.

Lalu Kyungsoo mendapat balasan lagi dari Hyunsik.

From: Hyunsik

Syukurlah kalau begitu. Maaf kami datang telat. Tolong ucapkan pada Leera agar selalu menjaga Kai dan aku minta maaf karena telah merepotkannya untuk menjaga Kai. Selalu kabari aku.

Kyungsoo membalas dengan ‘oke’. Lalu tersenyum saat menyadari ibunya Kai sudah mulai tenang. Setidaknya ia tidak panik lagi. Dalam hati Kyungsoo mengharapkan agar Kai baik-baik saja dan cepat pulih. Agar orang-orang yang mengkhawatirkannya akan turut senang dan lega.

#

Sore Harinya,

Author POV

Chanyeol mengetuk  pintu kamar tempat Kai di rawat inap. Ia membawa bucket bunga berwarna merah muda. Untuk Leera tentu saja, ia akan mengajak Leera jalan-jalan sekitar jalan setapak. Dan mengakui semuanya. Ya, agar Leera mengerti apa yang terjadi. Dan Chanyeol bisa lega.

Sebenarnya Chanyeol merasa sedikit kasihan dengan yeoja itu. Tetapi mau apalagi? Inilah resiko dari berbohong. Chanyeol merasa ia pantas mendapatkannya. Pantas mendapatkan julukan ‘jahat’ dari teman-temannya. Atau khususnya, Leera. Bucket bunga ini adalah yang pertama dan yang terakhir untuk Leera. Hati Chanyeol berdebar. Berbeda dengan berdebar saat kau sedang jatuh cinta. Ini bahkan jauh lebih buruk dari serangan jantung.

Chanyeol merasa berdosa.

Tok!

 

Chanyeol membuka pintu kamar dan masuk. Suara mesin detak jantung yang nyaring menjadi daya tarik kamar ini.

Pip,

Pip,

Bunyinya menghujani telinga milik Chanyeol. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Leera tertidur di kursinya—kursi yang berada di sebelah ranjang Kai—kursi yang selalu didudukinya akhir-akhir ini. Raut wajah yeoja itu terlihat kusut dan lelah. Matanya terpejam rapat. Tangannya menggantung ke bawah.

Yang satunya adalah namja bernama Kai yang ‘tertidur’ tapi tidak bisa dibangunkan.

Sedangkan satunya lagi adalah yeoja bernama Leera yang tertidur tetapi bisa dibangunkan. Contoh saja, apabila kau mengguyur Leera dengan air, mungkin ia akan segera bangun. Tetapi sebaliknya, pada Kai itu tidak akan berfungsi. Kai akan terus tidur. Dan sekali lagi,

Entah sampai kapan.

“Hey..”

“Bangun,”

Jemari Chanyeol dengan lembut mengusik anak rambut di kening Leera. Namja itu masih menyembunyikan bucket bunganya di belakang tubuhnya.

Leera mulai terasa terusik dan ia pun mengerang kecil. Sebelah tangannya mulai mengucek matanya dan matanya mulai mengerjap-kerjap seolah-olah dunia begitu buram. Dalam pengelihatannya ia melihat wajah Chanyeol yang tersenyum. Chanyeol menyambut Leera dengan mata besarnya yang berusaha menelusuri raut wajah Leera.

“Hmm..” Leera bergumam tidak jelas. “Chanyeol-ah?” tanyanya.

Chanyeol mengangguk dan senyumnya luntur. “Ya ini aku..”

Leera langsung mengusap wajahnya dan membenarkan letak rambutnya. “Oh.. hai” Sapanya. Kaku.

“Sana cuci muka.”

“Baru saja aku akan melakukannya..”

Leera bangkit dari kursinya dan melangkah dengan gontai ke kamar mandi. Oh my god. Apa yang dilakukan Chanyeol barusan?

Leera memandangi refleksinya di cermin lalu menghidupkan keran. Banyak garis-garis bekas benda keras mengecap ke pipinya akibat posisi tidur yang salah. Tangannya juga sedikit aneh. Ia terlalu bersikeras menjaga Kai. Dan, memaksakan diri.

Sambil mencuci mukanya, Leera kembali teringat segala perkataan Min Ka padanya siang tadi. Ia juga jadi merasa aneh dengan Chanyeol. Kenapa tiba-tiba ia bersikap hangat kembali. Leera penasaran apa yang akan dilakukan Chanyeol. Dan, ia berfikir. Bahwa jika Chanyeol mengajaknya kencan sekalipun. Tidak akan lebih menarik dibanding melihat Kai membuka matanya.

Cklek!

Leera keluar dari kamar mandi dan ia langsung melihat Chanyeol tepat di depannya. Berjarak sangat dekat dengannya. Spontan, tentu saja pipi yeoja itu memerah seperti udang rebus. Gejala ini ternyata masih bisa terjadi di keadaan sedih sekalipun.

Namja itu mengulurkan bucket bunganya untuk Leera.

“Untukmu..”

Srttt

Dunia berhenti.

Sudah. Sudah. Detak jantung Leera sudah bisa dipastikan bagaimana keadaannya.

“Kau serriiu—“

Pertanyaan Leera langsung terpotong. Chanyeol langsung menyelipkan bucket bunga itu ke tangan Leera.

“Mau jalan-jalan?”

Deg

Leera terdiam. Pernah diulas sebelumnya kalau Leera lebih memilih menjaga Kai daripada jalan berdua dengan Chanyeol. Tapi.. pikiran Leera berubah seketika. Karena apa?

Karena ia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Chanyeol selanjutnya dan membuktikan apakah pernyataan Min Ka tadi siang itu benar? Ya, walau sebenarnya Leera sudah memercayai itu sebanyak 70% . Sejujurnya juga Leera sudah siap sakit hati.

“Ya.” Akhirnya dua huruf itu lah yang keluar dari mulutnya. Demi untuk menyelidiki semuanya.

Akhirnya Leera tersenyum dan menggapai mantel dan syal miliknya. Bersiap-siap untuk keluar. Ia masih memegangi bucket bunga itu.

Chanyeol menuju pintu dan keluar. Sebelum Leera keluar, ia memandangi tubuh Kai yang terkujur lemas dan mengucap.

“Wish me luck.”

Leera tersenyum samar dan langsung menutup pintu. Rasanya ia sudah siap untuk menangis.

#

Bandara Hawaii,

Suara bising dan berdenging, orang yang berlalu-lalang, koper-koper, kaca bening tembus pandang untuk melihat lapangan penerbangan. Wanita dengan kacamata hitam di wajahnya, duduk terlemas sekaligus geram di kursi tunggu yang menghadap ke lapangan penerbangan. Dia Kim Hyunsik, eomma Kai.

Kegeramannya memuncak saat speaker sialan itu dengan seenak jidat mengumumkan bahwa keberangkatan menuju Korea Selatan di delay lagi. Padahal anaknya disana, kondisinya sudah parah dan dinyatakan kehilangan kesadaran. Sungguh Hyunsik sangat membutuhkan mesin teleportasi secepat mungkin, atau ia akan gila. Kai! Anaknya sendiri! Hyunsik begitu sedih, sekarang ia dipisahkan oleh jarak. Bermil-mil nan jauh disana anaknya sedang menderita!

“Sabar ne, Hyunsik-ah. Semua akan baik-baik saja..” Park Nami alias eomma Leera yang begitu cerewet itu mengelus pundak sahabatnya—Hyunsik— untuk menenangkannya.

Siapa yang tidak geram ?

“Aku sudah tidak tahan! Lebih dari lima kali pesawat kita di delay!”

Hyunsik berceloteh kesal dari balik kacamata hitamnya. Matanya yang membengkak dan merah menjadi alasan mengapa ia memakai kacamata hitam. Suaminya sudah menyerah dan sekarang berada di kantor konfirmasi bandara untuk bertanggung jawab atas tindakan Hyunsik yang melewati batas.

Kejadian itu berlangsung sehari yang lalu, disaat pihak bandara mengumumkan bahwa pesawat mereka di delay untuk yang ketiga kalinya. Hyunsik menuju pusat informasi dan mengkomplain dengan cara yang salah. Ia menjerit, membanting vas bunga, dan menjambak rambut seorang petugas yang melayani komplainnya. Petugas keamanan datang dan mengancam akan melaporkan Hyunsik ke kantor polisi. Akibatnya, suaminya datang dan mengajukkan diri untuk memberi keterangan lebih lanjut.

“Oh, kau sudah kembali?” Tanya Nami (Eomma Leera) kepada suami Hyunsik.

“Ya, terimakasih sudah menjaganya. Emosinya memang suka tidak stabil..” Bisik YOUNGJIN pada Nami agar ucapannya tidak masuk ke telinga Hyunsik.

Hyunsik duduk bertolak belakang dengan Nami dan YOUNGJIN yang sedang mengobrol tentang dirinya. Pikiran Hyunsik kacau, ia hanya memandang kosong lapangan penebrangan. Memandangi sebuah pesawat yang baru mendarat. Rasa sesak mengalir di darahnya.

“Bagaimana ?”

“Aku sudah memberi uang ganti rugi. Mereka tidak akan membawa Hyunsik ke kantor polisi. Untung saja.” Jawab YOUNGJIN. Lalu ia beralih memandang Hyunsik yang sedari tadi terdiam lesu, YOUNGJIN pun duduk di sampingnya.

“Ya, kau kenapa?” tanyanya.

Hyunsik terdiam. Matanya masih memandang  dengan kosong.

“Aku merindukan anak kita.” Hyunsik meneguk ludahnya.

“Apakah ia akan sempat dewasa? Bahkan ia terlalu muda untuk menjadi seperti itu.”

Hyunsik bertutur kata lemah sembari (masih) menatap dengan tatapan yang tidak bermakna ke arah yang tidak jelas. Mata Hyunsik terlihat berair. Menimbulkan keanehan di mata indahnya yang dihiasi eye liner dan mascara tebal.

“Tenang saja. Kai…. Dia lelaki yang tangguh. Dia tidak mungkin menyerah. Dia pasti akan kembali bangun, Kai..”

“Dia anak kita yang sangat keras kepala..” Hibur YOUNGJIN panjang lebar. Kata-kata itu mengalir saja dari mulutnya, padahal ia jarang sekali membicarakan anaknya hingga sehangat ini.

Hyunsik tersenyum.

“Aku berharap.. ia bangun.” Ucapnya.

“Bangun seperti Kai yang kukenal. Kai yang mengingat kita berdua.” Hyunsik menolehkan kepalanya pada YOUNGJIN, tersenyum sedih.

Manik mata Hyunsik bergetar menahan tangis. Ia punya mata yang sama dengan Kai. Mata yang indah berwarna cokelat gelap, berkilau, dan memesona. Sedangkan Hyeonjoo, ia mewariskan alisnya dan hidungnya kepada Kai. Dengan hanya melihat wajah Kai, otomatis kau akan melihat wajah kedua orang ini. Mereka bertiga adalah satu kesatuan. Yang saling menyayangi walaupun sebatas mengucap dalam hati.

#

Seoul, Jalan Setapak,

Salju-salju putih lembut melambai-lambai di langit abu-abu. Pohon-pohon willow dan maple menghiasi jalan setapak itu. Sore ini tidak banyak orang yang berlalu-lalang.

Chanyeol dan Leera berjalan berdampingan di jalan setapak tersebut. Cuaca memang sudah agak hangat dan pohon willow yang berwarna terang membuat suasana tambah hangat. Leera mengeratkan syalnya, lalu memandang lurus ke depan dengan kosong. Tidak ada rasa senang yang khusus. Ini aneh, padahal harusnya ia senang karena bisa menghabiskan waktu berdua dengan orang yang disukainya. Bukannya senang, Leera malah khawatir. Ia menyadari bahwa ia lebih senang menjaga Kai di rumah sakit ketimbang bersama Chanyeol. Bucket bunga besar itu masih digenggamnya, namun.. sekedar digenggamnya.

Sedari tadi tidak ada yang mereka berdua bicarakan.

Sementara Chanyeol berjalan agak kaku dan pikirannya mengarah kepada ‘bagaimana-caranya-aku-mengakuinya’

Ya, tidak ada yang bersituasi nyaman saat ini. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Apa kau tahu yeolie?”

Chanyeol menoleh pada wajah mungil yeoja itu. Yeoja itu tersenyum samar sembari menengadah ke atas salju. Chanyeol menampakkan wajah bingung pada Leera.

“Tahu apa?” Chanyeol mencoba tersenyum juga. Walaupun ia sedikit kaku untuk berakting lebih jauh di depan yeoja ini.

Leera menurunkan pandangannya dan menatap ke tanah yang terbungkus salju putih. Lalu ia bertutur malu.

“Aku menganggap ini adalah kencan pertama kita.”

Chanyeol terkesiap. Ia menoleh dengan pandangan sedikit kaget pada Leera. Saat ia melihat wajah yang begitu suci itu, tiba-tiba ia merasa iba. Iba yang sangat berlebihan. Yang hampir membuatnya goyah saat itu juga.

Chanyeol? Kau tahu kan apa yang kau fikirkan? Sekarang kau membuat yeoja itu senang dan bahagia. Ia sangat menghargai kencan ini. Ia berfikiran sangat berlebihan tentang kencan ini. Ia sadar ini kencan pertamanya. Ia sadar semuaya! Tapi, ia tidak sadar bahwa ini adalah kencan terakhirnya juga. Bodohnya aku… bodoh karena aku menambah beban penderitaannya lagi!

 

Ini adalah kencan terbaik yang pernah kau terima dariku Leera-ya.

Ini adalah kencan pertama kita.

Namun, ini adalah kencan terburuk yang pernah kau terima dariku Leera-ya.

Karena, ini adalah kencan terakhir kita.

Ini adalah… kencan pertama sekaligus yang terakhir…

 

“Maafkan aku.” Lirih Chanyeol dengan sangat pelan. Namja itu menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.

Leera melihat sepatu Chanyeol yang tiba-tiba berhenti melangkah. Salju memperlambat jatuhnya. angin-angin kecil menghempas rambut Leera. Yeoja itu kaget dibuatnya.

“Ada apa?”

“Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” Tanya Leera begitu gugup. Wajahnya terlihat khawatir. Namun ia juga sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia menulusuri raut wajah Chanyeol. Well, raut wajahnya tampak aneh.

Tidak, tidak sama sekali. Akulah yang salah! Rintih Chanyeol dalam hati.

Ia berperang dengan hatinya sendiri. Apakah ia akan mengakui semua ini sekarang? Atau tidak sama sekali. Ia tidak tega melihat Leera sakit hati, namun sebaliknya ia ingin Leera mengetahui semuanya demi kebaikannya sendiri. Ia ingin dunia ini berubah menjadi lebih terang karena kejujuran. Gadis yang bernama Leera itu, pantas mendapatkan kebahagiaan. Namun bukan dengan cara yang tidak jujur. Melainkan dengan kejujuran yang tulus. Yang bisa menghangatkan hatinya.

“Aku…” Chanyeol masih bertutur pelan. Tenggorokannya tidak mampu berjuang lagi. Hatinya yang mencegahnya. Tangannya mengepal kuat. Kalau bisa, Chanyeol ingin meremukkan tulang pergelangannya sekarang juga. Ia tidak mau melihat wajah polos yeoja itu, atau kalau tidak. Ia tidak akan lebih kuat lagi.

Kau terlalu baik, Leera-ya. Maafkan aku ya.

 

Pohon maple mulai menjatuhkan daunnya disekitar jalan. Daun-daunnya tertiup angin hingga membentuk suatu filosofi yang mengharukan. Jalanan setapak yang lebar dan hanya dibatasi pagar-pagar pendek yang terbuat dari papan kini mulai dipenuhi daun-daunan yang beterbangan. Sisanya hanya pasrah jatuh disekitar pagar-pagar papan. Tak ada suasana kehidupan selain mereka berdua.

Leera menggenggam bucket bunganya erat-erat. Ia mengingat cerita yang diceritakan oleh Minka. Ia ingat semuanya. Ia ingat. Dan cerita itulah yang mengambang-ambang di pikirannya sekarang. Leera merasakan gemetar di tubuhnya. ‘apakah-yang-dikatakan-Minka-itu-benar?’

Sementara Chanyeol menggigit bibirnya, ia ragu, ia bingung, dan ia tidak mau melakukannya. Ia , ia marah pada dirinya sendiri. “Aku..”

“Apa?” Suara Leera tidak mengalun pelan lagi. Suaranya lantang, nadanya pun meninggi.

“Aku apa?” Tanyanya lagi penuh penekanan. Pada saat seperti ini, ingin sekali menangis. Leera masih menggenggam bucket bunga itu, seakan itu adalah simbol kepercayaanya pada Chanyeol. Mata Leera terkunci kepada wajah Chanyeol seutuhnya.

Chanyeol masih berperang dengan dirinya sendiri. Ia tak kuat ingin mengatakannya. Tetapi..

“Aku ingin kita akhiri saja hubungan ini..”

Dunia berhenti.

Leera menjatuhkan bucket bunganya.

“Aku tidak mencintaimu sejak awal..”

Setelah itu bibir Chanyeol terkatup rapat. Matanya memejam karena takut, saking kuatnya ia memejamkan mata, dahinya sampai berkerut. Ia juga mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, membuat seluruh uratnya muncul ke permukaan. Ia tidak mau melihat respon Leera, wajahnya tetap ia tundukkan ke bawah. Tak tahu atmosfer disana sudah seperti apa.

Leera tersenyum. Tersenyum getir. Ternyata, apa yang dikatakan Minka selama ini memang benar adanya. Leera sadar, ia begitu bodoh, begitu buta, begitu tergila-gila, dan begitu percaya diri. Tak ada hal lain yang dapat membuatnya seperti orang yang tidak punya nyawa kecuali cinta dan harapan.

Kau yang kupercayai selama ini

 

“Aku, aku minta maaf..” Chanyeol menggenggam tangan Leera dengan lembut. Leera kaget lalu bertutur pelan.

 

“Sesuatu yang ingin kau utarakan sejak lama…–“

Leera tersenyum getir sembari melepas genggaman tangan Chanyeol dengan lembut. Ia mengepalkan tangannya di tengah salju yang turun. Air matanya yang sudah lama membeku kini mulai mencair. Mengalir di sudut ukiran matanya.

“—aku tahu… aku tahu itu.”

Chanyeol beku tanpa kata.

“Jika kau mau mengakhirinya, akhiri saja…”

Angin berhembus menusuk tulang Leera dan berhembus dibalik jaket dan mantel mereka.

“Aku tidak butuh perhatian palsumu dan semuanya..” Ungkap Leera dengan nada meninggi. Chanyeol kembai menggenggam tangan Leera. Leera terdiam, sejenak ia rasakan aliran hangat dari tangan Chanyeol. namun, ia bersikeras ingin mengabaikannya.

“Aku, aku tidak membutuhkanmu… kita empas kan?”

Dep!

Disaat itu juga Leera melepaskan genggaman Chanyeol dengan kasar. Lalu yeoja itu berlari menjauh. Ia biarkan bucket bunga itu ditimbun salju dibawah sana. Sambil berlari, air matanya banyak terjatuh, yeoja itu menumpas salju dengan lari yang menyesakkan. Ia terus berlari tanpa tahu arah, dengan menangis, dengan rasa sakit, dengan perasaan kacau yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.

Di hutan, saat kau mengakui perasaanmu padaku. aku senang sekali.
Di hutan, saat  kau melindungiku, aku senang sekali.
Saat kau menjagaku dan khawatir aku akan sakit, aku senang sekali.

Tapi.. itu semua bohong..

Kau pembohong…

Sementara Chanyeol. ia diam. Menanggung seluruh rasa malu dan rasa bersalah.

#

Rumah Sakit,

Suara mesin detak jantung mendominasi ruangan. Suara itu seakan menggema di telinga Leera. Ia menahan tangisnya, mencoba untuk tidak mengingat Park Chanyeol lagi.

“Kai…….”

Kau tahu, sekarang,  aku hanya dapat mengandalkanmu. Tidak ada orang yang dapat kupercaya lagi…

 

Bip

 

Bip

 

Masih suara mesin detak jantung dengan irama yang sama, Leera hafal benar suara itu, tetapi, itu bukan pertanda bahwa Kai bisa bangun dari komanya.

Setelah merasa dicampakkan dari Chanyeol tadi, yeoja itu kini merasa tertekan di batinnya. Dulu, ia meremehkan perkataan MinKa namun sekarang ia menyadari bahwa seluruh ucapan Lee Min Ka itu benar. Rasanya, ia ingin memeluk siapapun yang datang dan mencurahkan seluruh isi hatinya. Kecuali, yang datang adalah Chanyeol. Namja itu dicap sebagai namja berengsek, pembohong, dan actor terhebat sepanjang masa. Dan namja yang sedang koma itu sekarang dicap sebagai pahlawan, seorang pahlawan di hati Leera. Oh, Leera tidak sadar akan seluruh kebaikan Kai di masa lalu.

Sekarang, semua keadaan berbanding terbalik dengan yang sebelumnya.

Tok

 

Pintu diketuk.

Leera segera bangkit dan menuju westafel. Pipinya yang basah ia lap terlebih dahulu disana, ia menghabiskan waktu sekitar lima menit hanya untuk mencuci muka. Dan membiarkan tamu yang belum diketahui di depan pintu menunggu terlalu lama.

Leera akhirnya membuka pintu, dan menemukan seorang yeoja berdiri di depannya.

“Seohyun-a?” Tanya Leera. Seohyun mengagguk.

Apakah Chanyeol yang mengirimnya kesini?

Sebenarnya apa maunya. Mau menyakitiku lagi dengan cara mengirim yeoja yang DISUKAINYA datang kesini untuk menemaniku? Kau mau hatiku hancur jadi berkeping-keping?

Leera hanya tersenyum paksa menyambutnya, lalu menyuruhnya duduk. Setelah senyum paksa tadi, tak akan ada senyum lagi buat Seohyun. Seohyun pun duduk dengan tenang di sofa, dengan tidak mengetahui apa-apa. Ia tidak tahu masalah antara Chanyeol dan Leera. Sekali lagi, ia tidak tahu apa-apa.

“Bagaimana keadaannya?” Seohyun hendak bangun dari sofa. Namun,

“Jangan dekati dia.” Ujar Leera sinis.

Seohyun menjadi kaku dan kembali duduk. Hanya karena tiga kata tadi, Seohyun jadi merasa tidak nyaman. Ya, tiga kata yang diucapkan dengan nada yang tidak manis.

“Mianhae..” ujar Seohyun dengan nada yang dalam.

Leera hanya menghembuskan nafas untuk berusaha sabar. Ya? Sabar untuk apa? Sabar untuk tidak membentak Seohyun. Kalau saja Seohyun berbicara aneh-aneh lagi untuk kedua kalinya, maka Leera akan berteriak untuk mengusirnya. Ya, sifat Leera memang begini.

Bip

 

Bip

 

Akibatnya, suasana hening menyelimuti mereka. 30 menit tanpa bercakap-cakap. Seohyun merasa tidak enak. Namun, ia tetap menenangkan dirinya sendiri bahwa ada gunanya juga ia disini ( untuk menemani Leera ).

Seohyun tidak ingin berkata “kau kenapa?” “apa kau sangat stress?” itu pertanyaan bodoh yang hanya akan membuat emosi Leera kembali naik.

Leera POV

Aku… aku marah dengan Chanyeol.

Tapi aku… mengapa aku juga kesal dengan Seohyun… aku cemburu? Aku tidak berhak. Chanyeol bukan milikku lagi. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya actor hebat. Kalau saja ia main film aku yakin tiap tahun ia akan menang awards. Saking hebatnya ia, sampai menyakiti hati wanita.

Aku menganggap Seohyun dikirim oleh Chanyeol kesini. Namun, aku juga tidak tahu fakta aslinya. Apa, apa Seohyun dating dengan niat baik untuk menemaniku sepanjang hari? Lihat sisi positifnya oh Leera. Yeoja itu sama sekali tidak bersalah!

Andai aku bisa memeluknya sekarang. Meminta maaf karena salahku di masalalu yang membuat hatinya selalu perih. Bukannya ia menyukai Chanyeol? Dan sebaliknya, si actor itu juga menyukainya. Oh, beruntungnya kalian..

Tetapi keberuntungan itu harus dirusak olehku hanya karena sebuah taruhan dan acting sialan. Bodoh! Aku tidak berfikir bahwa ada pihak yang disakiti selain aku. Kalau bisa, kalau bisa.. aku mau mengucapkan pada Seohyun ‘selamat’ karena ia akan memulai keberuntungannya. Ia akan bahagia mulai sekarang. Karena… si actor itu sudah tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Seohyun..

Aku…

“Aku minta maaf.”

Tanpa basa-basi aku mengucapkan itu dan langsung memeluknya. Aku menangis di pundaknya yang tertutupi rambut indahnya.

“Aku minta maaf.” Ulangku beribu kali padanya.

Ia kaget. Sungguh sangat kaget hingga tangannya begitu kaku.

Ia, tak sanggup berbicara apapun. Bibirnya masih terbuka bingung untuk mengucapkan apa.

“Chanyeol..” tuturku pelan.

“Chanyeol hanya bercanda. Ia tidak mencintaiku kok dan ia tidak menyayangiku. Dan bahkan menyukaiku sedikitpun tidak. Semuanya, dari awal.. ia hanya bercanda kok haha.”

Itu bukan tertawa.

Hatiku sakit sekarang.

‘bercanda’ memang bukan kata yang tepat. Itu terlalu bagus.

“Seohyun.. jangan sakit hati lagi. Jangan menulis puisi sedih lalu kau tangisi tiap malam lagi. Jangan pura-pura tegar dihadapan kami lagi. Karena jawaban dari seluruh teka-teki adalah… dia menyukaimu..”

“Ya, dia menyukaimu, menyayangimu, atau bahkan.. mencintai..-mu.”

Pada bagian akhir, aku tidak kuat lagi berbicara. Nada bicaraku sudah goyang karena aku mulai nangis sesenggukan. Seohyun jadi tahu kalau aku menangis.

Seohyun menangis tanpa suara. Namun, aku tahu air matanya mengalir di pipinya. Pandangannya kosong. Tak dapat bicara apa-apa.

Untuk pertama kalinya, ia berbicara begini..

“Jangan bodoh.. aku tahu kau berbohong. Chanyeol hanya.. mencintaimu.. jangan bbo-hon-g.”

Seohyun…

Harus kuapakan kau agar kau percaya? Bukannya rasa sakit ini sudah cukup untuk menjelaskan semuanya?

“Aku beritahu kau satu hal….”

“Kita ini… hidup dalam kebohongan yang tiada habisnya..”

“dan… jika kau tidak mau percaya kata-kataku. Itu berarti kau masih mau berendam dalam kebohongan.. dan membiarkan hatimu untuk tambah sakit. Dan… meradang.”

Sudah saatnya aku merasakan apa yang kau rasakan ya..

Aku melepas pelukanku dan menyuruhnya untuk tegap dan menghapus air matanya. Wajah Seohyun begitu basah dan terlalu tidak pantas untuk menangis. Wajah sucinya itu.. hanya pantas untuk tersenyum dan tertawa.

Aku menyuruhnya untuk menghapus air matanya, karena.. ia seharusnya berbahagia,

.. ini adil.

#

Apartemen Jiyeon,

“Apa? Kai? Kai koma?”

 

“Aku serius. Setidaknya menjenguk bisa kau jadikan wujud penyesalan!”

 

Jiyeon mengingat percakapannya tadi malam dengan Kyungsoo di telfon. Mungkin namja itu mencari nomor telfonnya dengan usaha yang sangat keras. Karena, Jiyeon sudah menghindari mereka, terutama Kai untuk tidak saling contact.

Ia memakai baju terbaiknya dan mengenakan baju hangat berlapis-lapis. Lalu mengambil mantelnya, kemudian menyisir rambutnya yang cokelat. Ia pun bergegas dan mengambil ponselnya sembari keluar dari apartemen.

“Myungsoo? Kau dimana? Aku segera kesana.” Katanya pada telfon.

Kemudian, yeoja itu menuruni tangga dan keluar dari gedung apartemennya. Di tempat parkir, ia sudah menemukan Myungsoo dengan mobilnya.

“Myungsoo-a. Tolong, antarkan aku ke rumah sakit Youngheal..”

Myungsoo mengangguk.

Jiyeon bisa saja menipu temannya ini bahwa ia kelihatan baik-baik saja. Padahal semalam ia menangis menyesal. Menyesal karena telah membuat namja yang tidak bersalah menjadi seperti itu. Sangat menyesal, lebih dari apapun.. mau tidak mau ia harus menjenguk Kai. Walau ia sudah menghindarinya sampai membuatnya koma seperti sekarang.

Kai kecelakaan.. itu salahnya.

“Siapa yang akan kau jenguk,?” Tanya Myungsoo tanpa antusias,

“Seorang teman.” Jawab Jiyeon datar.

Baiklah, hanya teman.

#

Rumah Sakit,

Seohyun menyeduh dua cangkir teh untuk mereka berdua. Mereka berdua meminumnya bersama. Menyesap cairan hangat yang manis dari sana. Lumayan untuk melupakan masalahnya.

“Enak sekali…” puji Leera sambil tersenyum. Perkiraannya salah, ternyata, masih ada senyum lagi buat Seohyun.

Seohyun ikut tersenyum dan menyesap tehnya.

Suasana senyap menyesakki mereka. Lalu,

“Kalau dipikir-pikir, lucu ya kalian berdua..”

“Apa?” Tanya Leera

“Tadinya seperti Tom and Jerry. Selalu berkelahi dan berdebat. Namun sekarang justru kau yang paling merasa kehilangan. Leera-ya. Aku harap saat ia bangun, kau tetap tidak gengsi untuk menangis bahagia.”

Pernyataan itu membuat Leera tertegun.

Aku tidak pernah berfikir, seperti itu sebelumnya..

 

Namun, pernyataan tadi sedikit membuatku sedih.

 

Leera bangkit dari sofa dan kembali duduk di sebelah Kai. Ia menggenggam tangannya dan memandang wajahnya. “Aku….” Ucap Leera pada Kai yang tertidur.

Tiba-tiba..

Tok!

Pintu  diketuk.

Seohyun segera bangkit untuk membuka pintunya.

Ada sedikit ekspresi kaget di wajah Seohyun, tentu saja yeoja ini tidak tahu apa-apa tentang hubungan antara Kai dan Jiyeon. Seohyun tidak tahu apa-apa.

Sekarang, ia sangat bingung karena seorang Jiyeon atau lebih tepatnya temannya dari desa kecil nan kumuh seperti Insandong datang kesini untuk menjenguk seorang namja tampan nan kaya seperti Kai yang berasal dari kota metropolitan. Ini aneh,

Seohyun membeku sebentar lalu berkutik.

“Park Jiyeon?” tutur Seohyun spontan pada yeoja di depannya. Ada nada kaget dalam ucapannya.

Seohyun tentu sangat mengenal yeoja di depannya. Yeoja yang mendapat beasiswa sama sepertinya. Yeoja yang pernah dikenalinya sebagai seorang pramuniaga toko alat tulis.

“Seohyun? Kau Seohyun kan? Kenapa?” Jiyeon menekuk alisnya.

Leera terlonjak saat mendengar nama itu.

Park Jiyeon? Yang aku tahu, itu adalah nama yeoja paling berengsek yang pernah ada..

 

Leera memandang mata yeoja itu (Jiyeon) dengan tatapan tidak suka. Sebaliknya, yeoja itu malah tersenyum seolah tidak punya dosa.

Dan itu membuat emosi Leera menjadi naik..

Naik drastis.

To Be Continued

Menerawang Part 16!

“KAU!”

“Kalau kau mau tahu… aku membencimu dari dulu.”

“Kai… sudah bangun?”

“Yeoja paboya.. kau masih Leera yang cerewet.”

“Karena Appa dan Eomma sudah pulang dari Hawaii. Kau sudah bisa tinggal di rumah sekarang. Ucapkan selamat tinggal pada apartemenmu.”

***

IAM SO SORRY UDAH TELAT NGEPOST, UDAH PHP, BANYAK READERS YANG KEPO, MENTION, DEEM, BAHKAN LINE, BAHKAN ASK.FM PUN JADI KORBAN, READERS I LOVE YOU SO MUCH, MAAF BANGET DARI SASA, MAAF, DEHH,

Biar aku jelasin mengapa aku telat ngepost, first awal awal liburan itu aku mulai ngetik tuh omcia 15b udah seperempat jadi di MS word 2007, eh taugak? pas aku ngecek laptop besoknya datanya udah hilang, semua data aku ilang, dan ternyata leptop diinstal ulang sama ayah tanpa minta persetujuan aku dulu, okesip aku masih sabar, besok besoknya aku mulai ngetik lagi di MS word 2007 di leptop yang baru diinstal itu eh taunya ayah instal ulang lagi, tapi untungnya dataku gak hilang dan folder ff gak ilang *alhamdulillah, but ayah gak bisa nginstal MS word 2007 nya karena ada suatu masalah sama windowsnya so, aku jadi gak bisa nulis + ngelanjutin ff karena gaada MS Word di leptop aku, sa, kan bisa nulis di notepad? okey, aku udah nyoba nulis di notepad tapi rasanya gak perfect kalo gak baca kerangka ff, sedangkan kerangka ff itu dalam bentuk file ms word 2007, okey yang ini gak bisa ngelanjutin omcia, sementara itu aku udah galau kalo udah ditanyain di socmed “kapan lanjut OMCIA?” udah. udah galau aku. gak di twitter, gak di ask.fm, gak di line, apalagi di wordpress, pada nanya gitu semua, sedih bacanya tau gak😦 yaudah aku hanya bisa pasrah dan membalas mention kalian dgn bilang “cooming soon”, “tunggu aja”, dll. ya gakbisa janjiin tanggal, terus akhirnya ayah bilang “sa kalau intsal ms word 2003 aja gimana?” okey, akhirnya ayah instal ms word 2003 dan akupun mulai nuliis ff, pas liburan ayah aku kena cacar so aku disuruh pergi dari rumah dan nginep di rumah uyut aku, + aku bawa leptop buat nulis ff, pas di rumah uyut aku ngakalin supaya file ff omcia yg versi 2007 bisa dibaca di 2003, awalnya aku copas file omcia 2007 ke leptop sepupu aku yg nginep di rumah uyut juga, trs di leptop sepupu kan ada ms word 2007 jd file omcia bisa kebuka deh! *disini aku lega banget*, terus file trsbt di copas ke notepad jd bisa dibaca di leptop aku thennn aku pindahin ke ms word 2003 aku. akhirnya bisa ngelanjut ff dgn tenang sambil liat kerangka jadi gak ngawur, thenn ketika ff 15b nya udah jadi, tinggal di edit+di post di blog eh ada masalah lagi, di rumah uyut aku gaada wifi/internet, jadi gakbisa ngepost ke blog *wahaha sedih banget sih sa*, ya pasrah aja, trss akhirnya 1 minggu kemudian aku pulang ke rumah tp lupa bawa leptop ke rumah krn pulangnya gak direncanain, akhrnya aku nunggu sampe besok *alias hari ini* kapan ke rumah uyut lagi buat bisa ngambil leptop akhirnya sore ini ke rumah uyut+ngambil leptop+baju baju aku yg ketinggalan trs sampe rumah langsung idupin leptop, edit ff, trs di copas ke edit post, tinggal klik publish but first aku berpikir untuk nulis ini juga supaya kalian ngerti napa aku undur undur mulu 15b nya…

+curcol
ayah aku kan kena cacar tuh, dia sbnrnya ketularan adek aku yg ke2, trs akhirnya ayah sembuh (makanya aku pulang dr rumah uyut) suruh ganti sprei dan blablabla, ehh pas malemnya adek aku yang ke3 ketauan kena cacar-_- dan itu di bagian pant*t nya ada bintik2 merah isinya air gitu (?) oh mai gat(?) aku kira wabah cacar ini akan berhenti di ayah aku, ternyata masih nular lagi ke adek aku yg ke2. Ah, kalo ginimah, udah positif aku bakalan kena cacar juga. HAHAHHH HADUH SAA PASRAH AJA, TUNGGU TANGGAL MAINNYA ! BADAN LO BAKAL GATEL GATEL :^) *emot siwon* btw bye,

terakkirr ***** Satu part lagi yihaaaaaaa.. gimana ‘menerawang part 16’ nya? banyak fakta baru kan hihihi….

thank you!^^

-Sasa

nb: btw ada yang punya ask.fm? followan yuk!^^ profilku http://ask.fm/saarahsalsabil ayoo saling ngeask🙂

381 comments

  1. Anyeong ka author Sasa.. aku readers baru disini.. ceritanya keren banget..beberapa part bikin nyesek hati sampe sampe jadi nangi karna terharu.. ini ff ter-Amazing yg pernah aku baca..

    Oia ka author sasa,part 16(part terakhir) ff ini di password ya?? Tolong minta jawabannya ya ka sasa.. pleasee.. kalau iya gimana aku bisa dapetin passwordnya??.. mohon bantuannya ka sasa.. 😉😉

  2. Huhu si jiyeon datang dengan senyuman tanpa dosa huaaa, chanyeol nyebelin banget yiii huh tau ah pusing mending lanjut lagiiiiiiii

  3. untungnya si chanyeol udah ngaku aja :v walaupun si leera udah tau dari minka tapi leera belum percaya, dan akhirnya si leera mempahlawankan si kai, uh betapa baiknya leera menjaga kai hingga nangis gitu karena keadaan kai sekarang:/
    yeay leera mulai deket ama seohyun. dih jiyeon ada tapi untung jiyeon itu kek gitu dam buat aku gak benci dia lagi dan canyol udah jujur jd rasa benci ilang sudah, pokoknya chapter ini juga nangis gegara ketemu jiyeon ama nunggu kai bangun😦

  4. kliatan nya yeol jahat ya, tp entah knapa aku ga bs nyalahin yeol dr awal..
    waduh jiyeon cari mati neh nongol di depan leera hahah..
    seohyun, aku suka karakter dy, walopun kalem gitu, tp enak aja liatnya, diam2 tp perhatian..

  5. Kak ini kl gak salah isi dr omcia s1 part 15 deh, benerkan? Coba kakak koreksi deh soalnya isinya mirip bgt bukan mirip lagi tp persis
    Kl udah di cek post yg lanjutan sebenernya ya kak
    maaf br sempat comment skrg
    Keep writing
    Hwaiting ^_^

  6. Mian eonni aku salah baca #malu sendiri
    Aku kira ff ini yg s2 ternyata s1 maafin ya eon
    Hehehe # garinng
    Musti dimaafin
    Hwaiting eonni

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s