OMCIA! s2 p2 “The Family Dinner”


Bop2bX9IQAEerHl.jpg large

thanks for made this fanfic poster for me >.< ! Thank you! from @SungHyo123 . Kalo ada yang mau nyumbang lagi gakpapa :3 *modus* yang udah ngirim tapi belum aku pake posternya. sabar yaa, karena aku pakenya ganti-gantian!^^

\ Title \

One Month Crush In Apartment [SEASON 2]

\ Author \

sasa / @Saarahsalsabil

\ Main Cast \

Park Leera
Kim Jong In

\ Genre \

School Life, Fluffy Romance

\ Length \

Mini Chapter

\ Rating \

PG-17

p.s. : fanfic ini adalah kelanjutan dari fanfic OMCIA! Yadong Boy In My Apartment. fanfic ini adalah original buatan sasa ( @Saarahsalsabil ). tidak diperkenankan untuk plagiat (kayak ada yg mau plagiatin aja-,-)

Aku mau ngasih tau siapa aja cast dan muka para cast biar greget (with uniform)

Park Leera

24247909

Kim Jong In / Kai

0B3wZQR9Dj96Ydm9tSWpCT3I5Unc

Lee Tae Min / Taemin

14180-0cwb0zv1f5

Park Chan Yeol / Chanyeol

$T2eC16JHJHsFGk5-Y0s1BS!e24e4sw~~60_35

Seo Joo Hyun / Seohyun

seohyun2

wish u can imagine them in this fanfic🙂

100% ORIGINAL BY @SAARAHSALSABIL

Hai untuk part ini aku sengaja jabar-jabarin semuanya panjang lebar supaya kalian ngerti tentang perasaan masing-masing cast. Karena kemarin masih banyak yang bingung. ‘kok kai kayakgini sih sifatnya? Padahal dulunya kayakgini’ ‘kok leeranya nurut nurut aja sama taemin?’ pokoknya aku jabarin aja semuanya sama kalian biar kalian ngerti. Dan kemarin banyak yang kritik (yaiyalah orang aku yang minta) haha, katanya bahasanya lebay dan bahasa di part 1 agak gaenak. Iya aku ngetik part itu juga gak enak deh, sekarang itu rasanya beda, dulu kalo ngetik kayaknya ngalir aja. Tapi sekarang ngetik apus ngetik apus, kayak gak pernah ngetik -_- yaa itulah aku. Terserah kalian mau lanjut baca omcia apa kagaaak sampe sekarangg, toh ini hobi aku dan aku akan tetep nulis tapi tetep aja sesuai mood ihihihii :3 okay happy reading, mungkin aku terlalu suka sama kopelan ini makanya aku hampir punya ide buat lanjutin mereka sampe nikah-,- waw. Krn akhir akhir ini aku srg baca ff genre married life, dan trs terang krn fluff nya kebangetan (tuh author kamvrt fluffy bgt gaknahan) aku sampe senyum senyum sendiri :’) okey maaf banyak cincong (halah gak dibaca juga) silahkan baca ff absurd aku^^

HAPPY READING

$$$$

#

Rumah Kai

Poster mobil yang berkelas bertaburan di dindingnya yang putih bersih. Jendela seukuran lima buah pintu tertanam di dinding yang kokoh. Ruangan persegi lima yang luas itu berisikan banyak perabotan mewah. Di tengah tengah ruangan terbentang karpet yang lebar, di atasnya bertumpu sebuah deluxe bed yang besar. Seorang namja masuk ke dalam ruangan itu dengan masih mengenakan seragam SAS. Langsung ia lempar tas sekolahnya ke lantai, lalu tanpa basa basi ia membuka kancing kemeja sekolahnya satu persatu dari atas hingga bawah. Satu, dua, tiga kancing, hingga kancing terakhir. Setelah melepas semua kancingnya, ia melempar kemejanya. Lalu namja ini berbaring di deluxe bednya dengan badan yang basah berkeringat.

Enak rasanya berbaring di atas kasurmu dengan bertelanjang dada. Tangan Kai ia lebarkan agar ia merasa nyaman. Ia biarkan perut berototnya dijilati angin-angin dari Air Conditioner.

Kai menatap langit-langit kamarnya. Berharap bisa menemukan jalan keluar dari masalah ini. Lalu ia menyapu dahinya, menaikkan rambutnya keatas kepala agar tidak menghalangi dahinya yang terasa panas seakan membentuk jambul.

Kenapa? Kenapa jadi begini?

Kai menekan rahangnya kesal. Kejadian di sekolah tadi berputar-putar di benaknya tanpa ia hendaki. Taemin menggandeng tangan Leera, Taemin dekat dengan Leera, Taemin pulang dengan Leera. Entah sekarang apa yang dilakukan mereka berdua?

Kai takut.

Takut ia kalah dalam berkompetisi. Apalagi sekarang waktu Leera dengan Taemin lebih banyak daripada dengannya. Kai benar-benar takut perasaan Leera padanya akan berubah. Berubah karena namja pengganggu watados itu. Namja yang datang ke kehidupannya tanpa ia kehendaki. Kai juga bingung, apakah Leera benar-benar menyukainya? Atau sekedar perhatian sebagai teman?

‘dia menangisimu sepanjang hari, Kai-ya. Menunggu kau bangun dari koma’

Tapi kenapa ia malah menuruti semua kata Taemin? Berdua-duaan dengan Taemin? Selalu bersama Taemin? Apakah selama ini, perkiraan Kai salah?

Kai tentu saja menyukai yeoja itu. Ia sudah terlanjur merasa nyaman dengannya. Perasaannya yang selama ini sengaja ia tutup-tutupi hingga menunggu waktu yang tepat kini gagal. Kalau ia terus menutupi perasaannya dengan bersikap cuek terus-menerus pada Leera. Tentu saja Taemin akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri hati Leera yang sepi! Pasalnya, Kai harus berkompetisi dengan Taemin. Mau tidak mau, ia harus menunjukkan rasa itu walaupun sedikit. Namja memang benar-benar pencemburu. Tetapi, susah sekali mengakui rasa cemburu tersebut.

Kai fikir, mencium Leera adalah tindakan yang tepat. Dan Kai fikir, mengakui bahwa ia cemburu adalah hal yang lebih tepat lagi. Ia berharap, Leera akan mempercayai perasaannya. Ia berharap, Leera akan berfikir dua kali jika ia ingin menyia-nyiakan dirinya.

“Aish, jinja” Gerutu Kai sambil mengacak-acak rambutnya.

Rasanya aneh jika kau ingin mendapatkan hati seorang yeoja hanya dengan menyimpan perasaan secara diam-diam. Dan tiba-tiba ada namja lain yang datang dengan sangat agresif. Memeluk, mengajak mengobrol, tersenyum, dan mereka tertawa bersama. Namja itu datang dengan perasaan yang meluap-luap dan blakblak-kan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang, Kai merasa kalah.

Apasih yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Taemin? Dia adalah orang kaya di atas orang kaya. Keluarganya punya kekuasaan besar. Ayahnya adalah bos dari segala bos. Ayahnya berkuasa di atas Tuan Park/ayah Leera. Dan mungkin juga berkuasa di atas ayah Kai.

Jika Taemin dan Kai melamar Leera di waktu bersamaan. Tentu saja yang akan diterima lamarannya Taemin. Jelas bukan bahwa Taemin memiliki segalanya? Pasti orang tua Leera lebih senang dengan Taemin dibanding dengannya.

Kai? namja cuek dan tidak ramah. Sedangkan Taemin? Namja yang penuh perhatian dan ramah. Suka tertawa, punya segalanya.

Kai benar-benar harus melakukan sesuatu agar hati Leera benar-benar tidak berpaling darinya. Tapi apa? Kecemburuannya yang berlebihan menghancurkan semuaya. Bahkan, ini kali pertamanya membentak seorang yeoja yang tidak bersalah. Bodoh.

Pikiran Kai benar-benar sudah terlalu jauh.

Kai meraih sekaleng minuman dingin dari atas meja tidurnya dan melemparnya ke dinding.

Namja cuek ini merasa aneh sekali. Memang susah baginya jatuh cinta…

Kai meraba perutnya yang basah karena keringat. Tidak menyangka ia, kini otot-otot perutnya sudah mulai tumbuh. Latihannya selama ini berbuah juga.

“tidak mungkin namja cantik itu mempunyai perut seindah ini”

Kai tersenyum sendiri sambil meraba perutnya yang rata. Kini sedikit kepercayadirian hinggap pada dirinya. Setidaknya ia masih unggul daripada Taemin.

Pintu diketuk.

“Masuk” jawab Kai dengan suara lelah. Sedari tadi ia hanya berbaring di ranjangnya, berkeringat, dan membayangkan segala cara untuk merebut hati Leera kembali. Meskipun di dalam hatinya banyak gagasan yang meluap-luap, tetapi saat dilihat dari luar, Kai hanyalah namja biasa yang tidak mempunyai motivasi.

Kembali dengan pintu yang diketuk. Kepala seorang yeoja menyempil dari balik pintu. Eomma Kai.

Mungkin ia dikira aneh karena berbaring di atas kasur sembari memandang langit-langit dengan waktu yang lama oleh eomma nya.

Kai masih berbaring tidak mau menoleh pada eommanya sama sekali. Memang sudah kebiasaan.

“Kai-a. lelah sekali ya dari sekolah? Bekas operasimu tidak apa-apa kan?”

Suara lembut eomma mendekat ke arah ranjangnya.

Nde” Kai hanya menjawab singkat sambil menatap lurus ke langit-langit sembari berbaring.

“Baguslah kalau begitu..” tutur eommanya sambil duduk di sebelah Kai. lalu membelai rambut anak lelakinya yang basah karena keringat.

“Kau sangat berkeringat”

Kai hanya bergumam untuk menanggapi seluruh perkataannya.

Ibunya senang melihat Kai tidak apa-apa. Kepala Kai yang hancur kini sudah kembali. Senang melihat Kai hidup kembali. Tentu saja tingkat perhatian orangtuanya bertambah kepadanya. Rasanya tidak mau membiarkan anak lelakinya satu-satunya kenapa-napa.

Kai tidak menyadari perubahan perhatian orang tuanya sama sekali. Menoleh saja tidak kepada eommanya itu.

Kai masih sibuk memikirkan Leera.

Park Leera.

Sial…

Mengapa jadi serumit ini?

“Oh iya, mandilah lebih awal hari ini. Kita diundang keluarga Park makan malam bersama”

Deg

Pikiran Kai langsung melayang pada acara makan malam antar keluarga. Keluarga Leera dan Kai. duduk berhadap-hadapan. Dengan lilin besar di atas meja. Musik biola mengalun. Obrolan-obrolan dengan canda tawa. Sementara ia sedang kacau begini?

“Pakailah tuxedo terbaikmu. Kau tidak mau terlihat berantakan di depan anak gadis keluarga Park kan?” Eommanya tertawa kecil. Lalu mengusap kepala Kai seakan-akan ia masih berumur 5 tahun.

Gotcha, Ibunya justru benar-benar tau apa isi hatinya.

Muka Kai langsung merengut mendengar ibunya menggodanya.

“Jangan merengut seperti itu dong. Kau jadi seperti bebek”

Ibunya langsung mencubit pipi Kai yang hampir tidak pernah disentuh siapapun. Diperlakukan seperti itu, tentu Kai hanya bisa pasrah. Ibunya memang suka mengaggapnya seperti anak kecil. Sementara itu, Kai masih betah menatap langit-langit. Sama sekali tidak menatap ibunya yang menggodanya habis-habisan.

“Kalau kau seperti ini. Manis sekali! Yasudah, eomma pergi dulu. Jangan lupa mandi lebih awal!”

Barulah Kai menolehkan muka pada eommanya. Butuh topik yang pas agar Kai mau menoleh pada lawan bicaranya.

“Oke eomma. Tenang saja”

Dan butuh usaha yang keras untuk membuat Kai merespon perkataan lawan bicaranya.

Ibunya tersenyum angelic padanya lalu keluar dari kamar.

Aku harus berlatih untuk ini!

#

Sore Harinya,

Rumah Leera,

Leera tidak tahu bahwa keluarga Kim juga diundang ke acara makan malam bersama nanti malam. Ia hanya memikirkan keluarga Lee. Ia ingat kata eomma tadi.

‘keluarga Lee adalah keluarga yang terhormat Leera-ya. Jagalah perkataan dan sikapmu. Eomma sudah belikan gaun yang pas untukmu nanti malam. Tenang saja, eomma sudah panggilkan ahjumma salon terbaik di kota ini ke rumah kita. Jangan lupa pakai sepatu yang dibelikan Appa dari Paris’

Ribet sekali bukan? Leera berfikir keras mengapa orang tuanya benar-benar antusias dengan makan malam ini. Sebenarnya acara apa ini? Leera hanya takut ada sesuatu dibalik ini semua. Sesuatu yang benar-benar Leera takutkan.

Apakah orang tuanya lebih memilih Taemin?

“Pikiranku kenapa sih? Hanya acara makan malam biasa kok”

Leera terus menerus menenangkan dirinya sendiri.

Tenang saja Leera. Tidak ada apa-apa.

Tetapi tetap terlintas di benak Leera. Taemin yang dengan jiwa bangsawannya menyambutnya. Lalu menyisakan kursi di sebelahnya. Ia bisa menyangkut ke semua topik pembicaraan orang tua. Merespon pembicaraan itu dengan baik lalu tertawa sopan dengan wajah ramahnya. Ia benar-benar pribadi ramah yang memikat hati. Lelaki yang handal. Tidak mungkin orangtua Leera tidak menyukainya.

Orang tua mana yang tidak menyukai namja muda yang sopan dan ramah?

Leera pun bangkit lalu menuju ke kamar mandi. bath tub berisi cairan hangat menunggunya. Ia melepas pakaiannya dan berendam disana dengan tenang. Rasanya lega sekali berendam di air hangat.

Pikirannya terus memikirkan makan malam itu. Tapi lama-lama pikiran itu melayang ke arah lain.

Apa dengan menciumku dan bilang bahwa ia cemburu, cukup membuktikan bahwa ia menyukaiku?

Leera menggigit bibirnya ragu.

Aku tak boleh terlalu banyak berharap. Siapatahu hanya … ah sudahlah

Ia berendam lebih dalam. Lalu mengeluarkan gelembung-gelembung di atas permukaan air. Mengusap seluruh tubuhnya dan menumpahkan lulur di atas tubuhnya. Sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah Kai serius? Atau hanya mempermainkan dirinya?

Setengah jam berlalu dan Leera baru selesai mandi.

Leera POV

Huh! Aku harus bersemangat. Tidak boleh muram-muram durja begini. Ini acara makan malam antar keluarga yang sangat penting. Keluarga ku yang mengundang? Aku harusnya berpenampilan baik dan senang. Bukannya suram. Leera! Kau harus kembangkan senyummu! Kenakan gaun terbaik dan berikan pesona cute mu ini pada seluruh isi restoran!

Yaya! Benar! Tepat sekali. HAHAHA

Aku akan selalu menghibur diriku sendiri demi makan malam ini.

Aku pun melangkah ke dalam ruangan lemariku. Ruangan itu seukuran kamar tidur size light. Namun isi kamar itu tidak lain tidak bukan hanyalah lemari yang luas di sepanjang dinding. Yang seluruh isinya adalah bajuku dan long dress yang akan dipakai di acara makan malam. Jika seluruh baju yang kalian milikki hanya memenuhi satu lemari. Maka seluruh bajuku akan memenuhi satu ruangan . Seperti saat ini.

Di dalam sebuah lemari kaca tranpsaran berbentuk persegi panjang yang tinggi, terjuntai sebuah long dress berwarna merah satin. Seluruh bahuku tidak akan tertutup dengan kain itu, juga lenganku. Jadi ini? Ini dress yang diinginkan eomma untuk kupakai? Aigo jeongmal eottheokke? Apa dress ini tidak terlalu dewasa untukku?

Tapi apa boleh buat, sekarang sudah hampir malam dan aku harus bergegas untuk acara ini. Akupun membuka balok kaca besar–transparan itu dan menyambar gaun merah yang sudah disiapkan disana. Kulepaskan kimonoku dan kukenakan seluruh kain yang seharusnya kupakai. Tidak perlu disebut kan? Setelah selesai. Aku pun melangkah ke depan cermin besar seukuran sepertiga dari dinding kamarku yang memberiikan refleksi dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Tubuhku yang putih dan mungil ini kini dibalut oleh kain satin berwarna merah. Bahuku bersih tiada kain sedikitpun. Lalu kulepas kuciran rambutku hingga rambut cokelat naturalku terjatuh ke atas bahu.

Perfect. Or not.

Aku agak risih sebenarnya dengan gaun ini. Memakai gaun yang vulgar di depan seorang namja (apalagi namja itu satu sekolah denganku) rasanya sungguh … memalukan! pandanganku pun beralih ke bawah. Sial, memang ketat sekali. Perut dan pinggangku yang amat kecil dijepit oleh kain satin merah ini sehingga tampak seperti korek api berjalan. Lalu di bawah bagian perut, kain itu sedikit mengembang. Namun menjuntai dengan lemas hingga di atas mata kakiku.

Aku melirik ke sebelah cermin besar ini. Oh good. Sebuah kotak sepatu pesta dari Appa. Aku meraih kotak itu dan membukanya. Sebuah high heels berwarna hitam pekat yang mungil. Sebuah model yang begitu simpel dari Paris. Oke, eomma kau ingin aku jadi apa hah? Mbak-mbak di night club?

Baiklah Leera, tenangkan dirimu. Kau hanya mengenakan ini sekitar satu jam. Setelah ini kau aman dan dapat merebahkan diri di kasurmu.

Kulihat diriku sekali lagi di cermin besar.

Aku benar-benar terlihat dewasa.

Apalagi eomma bilang ia memanggil seorang penata rias dari luar. Tetapi tentu saja hal itu akan kuhindari. Memakai penata rias hanya untuk hal sekecil makan malam? Gila.

Terdengar grasak grusuk dari luar. Suara detakan lantai dan suara bel pintu. Itu pasti si penata rias. Tepat detik itu juga saat ku mendengar bunyi-bunyi aneh, aku langsung memutar mataku remeh. Aku harus merias wajahku sendiri agar si penata rias itu tidak meriasku. Aku yakin aku akan lebih terlihat dewasa dibanding ini.

Beberapa menit setelah aku memastikan penampilan ku di cermin. Eomma berteriak memaksaku untuk segera mengoleskan lipstik merah di atas bibirku.

 

 

Aku melangkah ke meja riasku, kupandang dengan horror lipstik bertemakan merah darah itu. Pelan-pelan ku raih tabung kecil itu sambil menggigit bibirku. Sedikit lagi…. Sedikit lagiii…!

Akhirnya! Lipstick itu sudah ada di genggaman tanganku.

Akupun mulai membuka tutupnya dan memutar lipstik tersebut.

Baiklah aku akan menggunakannya setipis mungkin!

Aku hanya mengoleskannya sekali!

Aku langsung bangkit dari meja rias. Lalu menata rambutku serapih mungkin.

Huh untung saja Kai tidak datang di acara makan mala mini. Kalau iya. Apa yang akan ia pikirkan tentang penampilanku ini? Jangan sampai otak byuntae nya itu bekerja kembali.

Setelah aku selesai dengan penampilanku. Aku lekas pergi ke mobil. Menuruni tangga sehati-hati mungkin agar gaun ini tidak membuat ulah. Sudah 15 menit aku menunggu di mobil. Lalu barulah eomma selesai berdandan dari si penata rias. Ia langsung masuk ke dalam mobil dengan cengiran kuda khasnya. Lalu penata rias itu melesat pergi.

mianhae ne. eomma harus tampil terbaik untuk acara ini!” seru eomma yang membuatku kaget.

Mengapa ia jadi begitu bersemangat? Apa firasatku benar?

#

Author POV

18:10

Bagaimana cara menjadi ramah seperti Taemin?

Kai memandangi tubuhnya yang sudah dibalut tuxedo berwarna hitam yang sangat pas ditubuhnya di cermin. Tubuh kurus tinggi menawannya terlihat lebih gagah dan elegan. Rambut hitamnya ia rapihkan dan ia beri gel agar terbentuk jambul. Ia sisir poninya ke atas. Lalu sentuhan terakhir, ia menyingkirkan debu dari pundaknya dan tersenyum manis pada cermin.

Kalian bingung mengapa Kai berdandan terlalu detil? Mengapa ia tersenyum manis pada cermin?

Itulah lelaki. Jika ada namja menyainginya atau mengajak berkompetisi (secara langsung maupun tidak langsung) maka ia akan bersiap-siap untuk tempur dan menang. Ia ingin tampil terbaik di depan keluarga Park. Entahlah? Mungkin agar keluarga Park lebih melirik Kai daripada Taemin yang akhir-akhir ini menjadi dekat dengan Leera. Berlatih senyum? Tentu saja berlatih agar bisa tampil lebih ramah. Secara, Kai itu sangat dingin seperti kulkas berjalan.

Ia harus ramah sedikit malam ini.

Kai dengan wajah datarnya menatap cermin di depan pandangannya.

“Hmm..”

Annyeong. Kim Jong In imnida. Naega chingu sekelas Leera di sekolah.” Kai berbicara dengan cermin di depannya dengan memaksakan seulas senyum karena ingin dibilang ramah. Entahlah, apa nanti ia akan mengucapkan kata-kata itu atau tidak.

Dia benar-benar sulit mengubah kebiasaan buruknya itu. Yaitu berwajah datar dan tidak ramah. Apa wajahnya yang memang sudah disetel begini dari zaman azali?

Kai berusaha tersenyum. Tersenyum. Dan tersenyum lebih lebar lagi.

Di depan cermin.

Lalu berdialog kecil-kecilan. Berbobot basa-basi yang manis. Mencoba menjawab seluruh pertanyaan dengan senyum.

“Kai-ah! Ayo sebentar lagi kita berangkat!” suara cempreng namun lembut milik eommanya menusuk telinga Kai secara tiba-tiba. Sekarang, detik ini juga, eomma sudah berada di ambang pintu. Matanya menatap Kai dengan tajam dan kaget.

Saat Kai menoleh. Eommanya sedang melongo bingung dan kaget melihat anak lelakinya tersenyum-senyum sendiri di depan cermin.

ige mwoya?” Tanya eommanya terheran-heran. Lalu tertawa terbahak. Wanita tua itu memegangi perutnya yang kram akibat tertawanya sendiri.

Atmosfer ruangan itu menjadi tidak mengenakkan bagi Kai. rasanya Kai ingin pergi dari sana sekarang juga. Seumur hidup. Baru kali ini Kai tertangkap basah seperti orang bodoh.

Kai merasa sangat malu dan merutuki dirinya sendiri dalam hati. Namun ia tidak terlihat panik dari luar. Ia hanya membuang mukanya dan membiarkan muka malunya tertutup.

“Eomma… apa yang eomma pikirkan? Aku hanya bercermin” Kai mencoba menjawab santai. Namun sebenarnya ia sangat malu. Itu hanya alasan semata tentunya.

Wanita itu masih melakukan sisa-sisa tertawanya. Lalu menatap jahil ke arah Kai. senyum kebanggaan yang artinya ‘kau ketahuan’ dipampangkanya di depan wajah kai sendiri.

“Apa ?” Tanya kai ngambek.

Wanita itu menyadarinya dan segera berhenti menggoda putranya.

“yaya, dandanlah yang benar ya. Agar keluarga Park bisa terpikat oleh pesonamu,” ujar eommanya semakin menggoda sembari menutup pintu.

“yayaya,” jawab Kai sambil memutar matanya.

Sial…

Alhasil, kejadian tadi membuat kai tidak mood lagi melakukan latihan aktingnya.

Rasanya ingin muntah jika aku melihat diriku sendiri.

Kai yang begitu dingin. mengobrol dengan sebuah cermin?

Setelah memutuskan out dari akting depan cermin ini. Kai menghembuskan nafas lewat mulut . lalu merapikan rambutnya walau yang rusak hanya nol koma satu millimeter. Ia mengangkat tangannya ke atas kepala. Memasukan jari jari nya ke dalam helaian rambut yang sudah dibentuk dengan gel agar bentuk rambutnya kembali teratur (yah, hanya lelaki yang mengerti ini). Lalu ia menatap tubuhnya sendiri lewat cermin. Oke, tubuh kurus yang tinggi, tuxedo yang benar-benar pas dengan ukuran tubuhnya sehingga ia kelihatan begitu memesona. Sepatu hitamnya yang benar benar mengkilat. Tidak ada noda kecil sedikitpun pada dirinya. Terakhir ia memegangi areal wajahnya satu persatu. Pahatan wajah yang sempurna.

Ia melirik meja di dekatnya, meraih jam tangan di atas sana. Lalu ia mengenakannya,

Kai sudah tampan. Sudah rapih. Dan sudah sangat sempurna. Dijamin jika kalian melihat Kai dalam penampilannya sekarang. Kalian akan mendapati tubuh kalian pingsan di tempat. Sekian.

Kai pun mengecek waktu.

Pukul 18:30 (makan malam dilaksanakan pukul 19:00)

Ia pun dengan sigap melangkah keluar kamar. Menuju keluar rumah. Menghampiri eommanya yang sudah ada di dalam mobil. Saat ia lihat kemudi, disana tidak ada ayahnya. Tentu saja ayahnya tidak harus ikut. Karena Appa Leera juga tidak ikut dan sedang tugas keluar kota.

Berarti ia yang menyetir.

Pintu rumahnya pun ditutup oleh seorang pelayan. Lalu Kai menuruni tangga kecil rumahnya yang hanya berjumlah 6 anak tangga (tangga turun teras).

Lalu masuk ke dalam mobil ibunya.

“lama sekali ya putra eomma ini berdandan, hmm”

Kai hanya memutar bola matanya dan menginjak gas.

Sebelum menjalankan mobilnya, tak lupa ia memandang kaca spion dan merapikan rambutnya (lagi).

Mobilnya pun memutari air mancur terlebih dahulu yang terdapat di halaman rumahnya. Baru melaju keluar pagar.

Oh iya. Kai tidak tahu bahwa Taemin juga diundang di acara makan malam ini.

#

Sementara itu di tempat Taemin. Taemin sama sekali tidak terobsesi dengan apapun. Sangat berbanding terbalik dengan Kai yang berdandan serapih mungkin dan berlatih seramah mungkin. Karena sosok Taemin memanglah tipe yang suka berdandan rapih dan ramah . Sehingga ia tidak perlu mengubah apapun.

Ia sudah mempersiapkan semuanya. Merapihkan rambutnya dan segalanya.

Ia pun mengucapkan selamat tinggal pada cermin dan melangkah percaya diri keluar rumah megahnya. Lalu menuju resto yang dijanjikan.

Taemin tentu saja tidak tahu bahwa Kai ikut juga. Dan walau Kai ikut juga. Ia sama sekali tidak masalah.

#

19:00

Resto Languishine

Author POV

Leera benar-benar merasa aneh jika tampil dengan baju seperti ini di depan Taemin. Bahunya yang terbuka itulah yang mengganggunya. Untung saja ia punya rambut panjang yang dapat menutupi bahunya.

Tetapi…

“Leera-ya. Kau pasti akan gerah jika seperti itu. Rambutmu harus diikat” Eomma dengan seenak jidat mengutak-atik rambut Leera.

Mengambil sebuah karet kecil dan membentuk cepolan yang masih cocok dengan suasana gaun yang dipakai. Leera benar-benar risih. Namun mau bagaimana lagi? Inilah dirinya sekarang. Dirinya yang bukan dirinya sendiri. Semua dandanan dewasa ini adalah karya ibunya. Sejujurnya Leera lebih senang dandanan dengan nuansa cute. Bukan seperti ini.

Di meja kaca berukuran besar dan megah ini, sudah tersedia aneka macam makanan malam western. Mulai dari steak, Tetrazinni, Lemony Barbecued Chicken, Meatloaf, dan sebangsanya. Disajikan di atas piring datar bersih berwarna putih. Pada permukaan kaca, gelas-gelas ramping terbias sinar lilin. Meja dimana acara ini diadakan dikelilingi oleh sebuah kolam. Dan tak lupa berdiri beberapa lelaki pemain biola di sudut ruangan. Menggesek biolanya dengan khidmat, menciptakan suasana yang hangat.

Leera merasakan semilir angin meniup bahunya yang bersih. Lalu ia memegangi bahunya beberapa kali. Merasa canggung. Untuk menghilangkan rasa canggungnya, matanya pun berkeliling ruangan resto yang begitu mewah dan klasik. Meniti setiap dekor dari ujung ke ujung. Memandang lilin, makanan, gelas wine, dan yang lebih serius ia tatap: pintu masuk resto. Menunggu dengan waswas seorang namja datang dengan senyum tanpa dosanya. Taemin.

Menit demi menit berlalu. ia terus terpaku pada pintu masuk resto. Tiba-tiba,

Seorang namja tinggi dengan rambut gelapnya yang disisir ke belakang. Mengenakan tuxedo hitam. Sepatu hitam yang menyilaukan. Melangkah mendekat dari pintu masuk. Leera benar-benar tidak percaya. Entah ini hanya halusinasinya atau bukan. Ia benar-benar melihat orang yang tidak diharapkannya datang.

Leera hampir membuka mulutnya, kaget. Kaget melihat namja itu dengan terang-terangan tersenyum padanya. Senyum itu. Smirk.

Satu kesimpulan yang Leera ambil.

Dia bukan Taemin.

Rasanya Leera ingin mengambil oksigen banyak-banyak sekarang juga. Rasanya ingin sekali ia mengganti gaun ini dengan jubah agar bahunya tidak terekspos di depan namja itu. Leera ingin sekali memakai topengnya sekarang. Dan pergi sekarang juga. Dari tempat ini.

Ia tak sanggup berkata-kata. Ia hanya menegang dan menegang. Seiring dengan langkah kaki Kai, ketegangan yeoja ini semakin parah. Leera kembali menggigit bibirnya. Tidak terkontrol.

Kai masih tersenyum padanya dalam waktu yang sangat lama. Senyuman itu semakin dekat dan dekat. Hingga akhirnya Kai dan ibunya pun sampai di meja mereka.

Dia tersenyum padaku?

Nyonya Kim tersenyum ramah pada Nyonya Park lalu segera memeluk teman dekatnya itu. Kemudian manik mata Nyonya Kim yang persis samanya dengan milik Kai menoleh pada Leera dengan balutan gaun merahnya. Leera tersentak dan segera menunduk hormat dengan kaku.

Annyeong

Perasaan gugup langsung menyelimuti Leera saat Kai mengambil tempat duduk di sebelahnya. Mata lelaki itu langsung beralih kepada gaun Leera dan tentu saja, bahu Leera. Namun setelah itu Kai segera mengalihkan pandangannya dan menatap Leera dalam-dalam. “Hai”

Leera langsung merasa aneh mendengar suara berat Kai tepat di telinga kanannya. Ia hanya menoleh pada Kai sejenak dan tersenyum tipis karena gugup. Tiba-tiba Leera punya ide cemerlang untuk melarikan diri dari situasi ini.

“Aku ingin ke kamar mandi” ujar Leera dengan nada yang dibuat senormal mungkin.

Baru saja ia beranjak. Tangan ibunya menahannya. Ibunya memberi ekspresi marah padanya. Yang mengatakan ‘jangan ke toilet dulu dasar tidak sopan’. Setelah ini, Leera hanya bisa pasrah. Ini menyangkut tata karma dan kesopanan. Tidak baik berdebat dengan ibunya di waktu seperti ini.

“Senang kau bisa datang, Hyunsik-ah” tegur Nyonya Park pada Nyonya Kim setelah selesai menahan Leera pergi.

Jadi keluarga Kim juga ikut makan malam? Bisik Leera dalam hati.

Bodohnya Leera, mengapa ia tidak terpikirkan sebelumnya?

Kini ada Kai di sebelahnya, namja yang benar-benar ia hindari pada makan malam ini. Jika saja ia tahu bahwa Kai akan datang, pasti ia akan berdandan habis-habisan. Jika saja ia tahu Kai akan datang, pasti ia tidak akan mengenakan gaun ini. Apalagi sekarang Kai tepat beberapa centi di sebelahnya. Gerak sedikit saja, bahu mereka dapat bersentuhan. Leera tidak tahan.

Ia benar-benar gugup.

Kini kursi di sebelah kirinya kosong. Apakah Taemin akan duduk disana? Kalau begitu Leera akan diapit oleh 2 namja paling beken di sekolahnya. Bayang-bayang Leera dan seluruh prediksinya saat ia tahu bahwa yang datang hanya Taemin langsung luntur seketika.

Disela-sela kegugupannya. Leera akhirnya lega. Karena apa?  karena jika Kai juga datang di makan malam ini. Itu berarti ini semua bukanlah perjodohan.

Disamping itu, dibalik kegugupan Park Leera. Kim Jong In juga merasakan hal yang sama. Justru ia merasa, membiarkan mereka satu sama lain tidak mengobrol adalah salah. Kai berfikir keras bagaimana caranya ia bisa membangun obrolannya dengan yeoja ini. Meskipun terlihat biasa saja dari luar. Kai justru lebih gugup dari apapun . Dan terbesit sifat kompetitif di hatinya saat ini.

“Bagaimana kabarmu?”

Bodohnya. Hanya itu yang ada di pikiran Kai. baru saja tidak bertemu beberapa jam dengan Leera. Ia sudah menanyakan pertanyaan seakan-akan mereka tidak bertemu satu tahun?

Leera menoleh pelan pada Kai. berbicara dengan nada yang aneh.

“baik”

“bagaimana denganmu?”

“baik sekali”

Leera merasa tertampar saat melihat Kai tersenyum padanya (lagi). Ada apa ini? Kai bukan seperti yang Leera kenal. Ia terlalu ramah malam ini.

“Gaun yang bagus”

Leera sekali lagi merasa tertampar. Kai ternyata benar-benar memperhatikan gaunnya? Leera berfikir ini sedikit menyebalkan. Kegugupannya sedikit tergantikan dengan rasa kesal.

“Ya, bisa kau tutup mulut tentang gaun?”

“tidak. Karena gaunmu sangat mencolok di mataku”

“aku tidak mengaggap kata-katamu adalah sebuah pujian”

“aku tidak mencoba memuji. Apa mengatakan bahwa kau cantik malam ini termasuk sebuah pujian?”

deg

Pipi Leera langsung bersemu merah. Refleks ia menutup mulutnya. Tidak pernah ia mendengar perkataan semacam ini. Hatinya memang belum terlalu berbunga-bunga. Namun, yang ada sekarang adalah, rasa kaget bercampur senang. Oh ya, juga bercampur bingung karena kelakuan Kai yang terlalu ramah. Memuji adalah kegiatan yang tak pernah Kai lakukan.

Entah apa karena gaun ini? Atau karena lipstik merah ini? Leera benar benar bingung mengapa Kai dapat mengatakan hal semanis itu. Tidak tahukah ia perkataan itu sangat mematikan?

“mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” kai menoleh pada Leera yang menutupi mulutnya.

“apa itu termasuk pujian bagimu?” ulang Kai.

Bertubi-tubi Kai menghajarnya dengan pertanyaan.

“karena kau tidak jujur. Mungkin itu adalah sebuah hinaan” balas Leera merendah.

“kalau aku jujur?”

“ah, terserah dirimu tuan Kim”

Leera terlihat kesal namun begitu gugup di dalam.

Kai hanya tersenyum simpul “kau memang cantik nona Park”

Pembicaraan terhenti karena Leera tidak kuat lagi menjawab tutur kata Kai. Semua mata pun memandang dua orang yang datang.

Taemin dan ibunya, nona Lee.

Kai tercengang. Jadi keluarga Lee turut datang? Kai berdecik pelan, berarti ia harus lebih ramah lagi. Karena saingannya kini benar-benar di depan matanya.

Taemin memang terlihat tampan dengan tuxedo yang juga pas di tubuhnya. Rambut hitam konvensionalnya tidak ditata sama seperti Kai. namun, ia menjadikannya sebuah poni. Setidaknya paras cantik Taemin sedikit berkurang karena balutan pakaian pria itu. Ia jadi terlihat sedikit lebih manly. Ia berjalan ke arah meja sembari merangkul ibunya dengan akrab. Tersenyum gigi dengan semua orang. Wajahnya yang ramah dan tidak dibuat-buat.

Itu memang benar-benar dirinya.

Annyeong ahjumma, Nona Park, Nona Kim. Lee Taemin” Taemin membungkukkan tubuhnya 90 derajat lalu berdiri kembali dengan senyum khasnya.

Kai mendengus kesal dalam hatinya. Setidaknya itu kata-kata yang pernah ia latihkan di rumah bukan?

Leera hanya memandang Taemin seperti biasa. Tiada tampak sesuatu yang mengagumkan. Ia hanya Taemin. Tak lebih dari itu. Ia terus memandang Taemin agar ia punya tempat memandang atau lebih tepatnya agar ia tidak gugup.

Taemin pun memandang lurus ke arah Leera. “Annyeong Leera-ya” meraih tangan kecil Leera dan mencium punggung tangannya sekitar 5 detik.

Kai rasanya ingin bangkit dari kursinya dan memukul Taemin tepat di wajah.

Leera tersentak kaget akan perlakuan Taemin. Namun, yeoja itu merasa bahwa Taemin memang seperti ini. Ia harus memakluminya. Dan membiasakan dirinya menghadapi Taemin yang melakukan hal-hal aneh padanya. Seakan membalik waktu, Leera teringat dengan kejadian tadi siang di taman belakang sekolah.

“Aku ingin bicara serius”

“Aku cemburu”

Leera memutar otaknya seribu kali. Ingin rasanya ia melepas bibir Taemin dari tangannya dengan kasar dan menoleh pada Kai sekarang. Lalu bilang ‘sungguh, aku tidak menginginkan ini’. Agar Kai bisa tenang. Namun, yang ada di pikiran Leera sekarang adalah, apakah waktu itu Kai serius dengan pernyataannya? Bagaimana kalau pernyataan kemarin itu hanyalah sebuah elakan?

Sehingga, yang bisa dilakukan Leera sekarang hanyalah membiarkan Taemin menguasai dirinya. Ia tidak akan memberontak ataupun mengelak.

Ketiga eomma itu merasa tersentuh dengan perlakuan Taemin pada Leera. Entah para orang tua itu berfikiran apa.

Setelah selesai dengan urusannya. Taemin, namja penuh kebahagiaan tak berdosa itu menarik kursi dan duduk dengan anggun. Masih tersenyum ramah pada semua orang.

“Aku senang bisa melihat kalian bertiga berkumpul bersama” Taemin tersenyum gigi pada ketiga wanita tua itu. Ketiga wanita tua itu kembali tersenyum ramah.

“aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi, Nami”

“Taemin memang pandai mencairkan suasana ya”

“sekarang kau tambah tampan dan dewasa ya?”

“tentu saja, aku sudah tumbuh dengan baik karena eomma mengurusku dengan segala kemampuannya”

“wahh, kau memang anak yang berbakti, Taemin-kun”

Lalu mereka tertawa. Mereka semua, kecuali Kai. ia tidak mau tertawa jika sumber obrolan berasal dari namja cantik itu.

Dan sepertinya ketiga wanita itu memang menyukai Taemin. Kai tidak hanya diam di kursinya. Ia pasti akan melakukan sesuatu.

Tiba-tiba tangan besar Kai meraih sebuah botol berisi minuman pembuka.

“Air putih untuk mengawali makan malam” ujar Kai mencoba tersenyum ramah lalu menuangkan minuman tersebut ke sejumlah gelas kaca yang ramping.

Nyonya Park bertepuk tangan kecil. “benar benar mandiri”

“terimakasih” sahut Nyonya Lee sembari menerima gelasnya yang sudah penuh.

Kai menuangkan air ke seluruh gelas, saat menuangkan ke ketiga wanita tua itu. Rasanya biasa saja. Namun untuk menuangkannya pada Leera dan Taemin.

Leera menatap air yang mengalir dari tuangan Kai. aliran air itu berhenti ketika permukaan gelasnya sudah mencapai bibir gelas.

“terimakasih” ujar Leera. Kegugupannya mulai sedikit berkurang.

Taemin yang agresif menyodorkan gelasnya pada Kai. Kai pun menuangkannya pada Taemin dengan perasaan kesal. Namun mau tidak mau ia harus menuangkannya juga walau Kai malas melakukanya.

“terimakasih, Kai-ya” ujar Taemin masih dengan senyum giginya. Tak berdosa seperti biasanya.

Kai mengembalikan botol itu di tempatnya. Merasa menang.

“baiklah, ayo kita mulai makan malamnya!” Nyonya Park sebagai tuannya. Membuka acara ini.

Semuanya pun lekas mengambil garpu dan pisau mereka. Memulai makan malam dengan anggun.

Sedangkan, Leera merasa sesak diapit dua namja. Ia benar-benar menjaga etika makannya. Menyadari bahwa Kai ada tepat di sebelah kanannya. Membuatnya merasakan sedikit beban berat di pundak sebelah kanannya.

#

Apartemen Chanyeol-Seohyun

Chanyeol menatap layar televisi dengan lesu dan kosong. Seakan-akan acara hiburan yang mengundang gelak tawa itu sama sekali tidak masuk ke dalam indra pengelihatannya. Apa yang dilihat Chanyeol di layar tv nya sekarang hanyalah keabu-abuan dan kegelapan. Chanyeol terlihat lesu dan tidak bersemangat.

“Tidak biasanya kau seperti ini Chanyeol-ah”

Seohyun ikut duduk di sofa. Memerhatikan wajah Chanyeol yang terlihat lesu. Biasanya malam hari begini, ia akan tertawa terbahak melihat acara tv paling gila ini. Tetapi sekarang, yang didengar Seohyun hanyalah suara tawa bahak dari tv nya . bukan Chanyeol sendiri.

Chanyeol tidak menoleh ke sumber suara yaitu Seohyun, ia hanya bergumam panjang sekali , mengucek matanya, lalu kepalanya secara otomatis bersandar pada pundak Seohyun yang berada tepat di sebelahnya.Dada Seohyun bergetar menerima perlakuan Chanyeol–walau sudah teramat sering– Suara berisik dari tv semakin keras, dan akhirnya Seohyun mengecilkan volumenya.

“kau tidak apa-apa?” Seohyun berbisik pada Chanyeol yang berada di pundaknya setelah volume tv mulai kecil.

Chanyeol hanya menarik nafas panjang lalu membuangnya. Ia terlihat begitu lesu dan membosankan. Hening barang sejenak. Chanyeol memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Seohyun. Seohyun menyerah untuk bertanya lagi. Ia hanya membiarkan Chanyeol bersandar di pundaknya. Sebagaimana dahulu ia tidak sengaja bersandar di pundak besar Chanyeol—pada saat di van perjalanan menuju Seoul—namun itu secara tidak sengaja, bukannya sengaja seperti sekarang.

Seohyun teringat akan kejadian dahulu. Terbesit di memorinya saat Leera menangis tersedu, memeluknya sambil mencurahkan segala isi hati dan kesedihannya. Kejadian itu bermula sejak entahlah Seohyun juga belum menemukan jawabannya. Banyak yang belum ia tahu, mulai dari ‘sebenarnya apa yang terjadi antara chanyeol dan leera?’ dan Jiyeon. Seohyun merasa aneh sekali. Jiyeon yang berasal dari perkampungan seperti Insandong? Lingkungan kumuh? Pribadi yang tidak ramah dan asing. Sulit ditebak dan begitu tertutup. Bisa mengenal anak-anak paling beken di sekolahnya? Yang kaya, terkenal, tampan, dan disukai semua orang. Tidak, bukannya Seohyun meremehkan Jiyeon. Namun Seohyun realistis. Ia hanya ingin menyambungkan fakta demi fakta disini. Pikiran Seohyun melayang pada kejadian dahulu.

“Seohyun.. jangan sakit hati lagi. Jangan menulis puisi sedih lalu kau tangisi tiap malam lagi. Jangan pura-pura tegar dihadapan kami lagi. Karena jawaban dari seluruh teka-teki adalah… dia menyukaimu..”

“Ya, dia menyukaimu, menyayangimu, atau bahkan.. mencintai..-mu.”

Seohyun memejamkan matanya, mencoba mengingat semuanya.

“Chanyeol hanya bercanda. Ia tidak mencintaiku kok dan ia tidak menyayangiku. Dan bahkan menyukaiku sedikitpun tidak. Semuanya, dari awal.. ia hanya bercanda kok haha.”

Deg

Seohyun kaget akan ingatannya sendiri yang mulai menajam. Ia jadi ingat semuanya.

Pada saat itu, Seohyun mengelak habis-habisan. Namun,

“Aku beritahu kau satu hal….”

“Kita ini… hidup dalam kebohongan yang tiada habisnya..”

Tubuh Seohyun bergetar dan ia menolehkan matanya pada Chanyeol yang ada di pundaknya. Merasa Chanyeol menjadi pribadi yang berbeda saat ia sadar akan semua itu. Seohyun pun memandang ke arah lain menghindar dari menatap Chanyeol. Sepertinya Seohyun terlalu banyak bergerak, sehingga Chanyeol bangun dari sandarannya dan menatap Seohyun dengan lemas.

Wae?” Tanya Chanyeol pelan. Suaranya masih terdengar lemas.

Seohyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa menjawab.

Seohyun pun diam terlalu lama, hendak bangun dari sofa. Namun tangan Chanyeol menariknya. “Jangan tinggalkan aku disini sendirian.”

Seohyun menoleh bingung lalu mengangkat pundaknya. “Baiklah”

Entahlah, mungkin Chanyeol membutuhkan seorang teman dalam menghadapi masa-masa sulitnya seperti ini. Tetapi apa benar sekarang adalah masa-masa sulitnya? Tadi, di sekolah. Ia menjerit-jerit seperti biasanya. Tertawa seperti biasanya. Sekarang rasanya memang berbeda.

Apa ia masih merasa tidak enak ?

Setelah hening terlalu lama,

“Mau tahu apa yang membuatku seperti ini?” Chanyeol menatapnya menagih jawaban.

Seohyun hanya mengangguk kalem. Ingin tahu. Ingin tahu sekali.

Chanyeol meregangkan pergelangan tangannya. Lalu menguap lebar. “Hmm baiklah” ujarnya, siap mengawali cerita.

“aku merasa tidak… “

Seohyun mengangkat alisnya,

“tidak enak”

Seohyun menghembuskan nafas.. baiklah firasatku benar.

“Jangan beritahu siapapun” sahut Chanyeol lagi mencoba lebih misterius.

Seohyun sedari tadi hanya mengangguk-angguk kalem. Tidak bicara, namun menjadi penyimak yang baik.

“Aku merasa resah jika tiap melihat Leera.”

Seohyun tertegun. Ternyata firasatnya benar. Namun, Chanyeol langsung melanjutkan ceritanya.

“Rasanya, dadaku selalu bergetar melihatnya. Apakah kau pernah merasa amat amat sangat bersalah lalu kau merasa ingin mengulang waktu agar kau tidak akan pernah membuat kesalahan itu?”

Seohyun diam.

“ya, aku mengalaminya. Sesungguhnya aku tidak mau mempermainkanya. Aku hanya… yeah, well

Baru saat ini Seohyun membuka mulutnya, “kau membohongi perasaanmu sendiri. Demi dia”

Chanyeol meneguk ludahnya saat mendengar suara Seohyun. Ya, sebenarnya lebih dari itu

“aku tidak…. Aish jinja, susah menjelaskannya padamu. Mohon jangan anggap aku namja jahat atau apapun. Namun sungguh, aku berjanji seumur hidupku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi. Sesungguhnya semua itu adalah kecelakaan. Aku, aku…” Chanyeol menggaruk-garuk kepalanya kasar. Bingung bagaimana menjelaskannya pada Seohyun. Ia tak ingin Seohyun mengecapnya sebagai namja tidak tahu diri.

“Aku bukan aktor hebat. Aku tidak ingin menipu orang lain lagi. Aku serius, maksudku… sekecil apapun aku membuat kesalahan, dan meminta maaf dengan setimpal. Tetap saja, hmm tepat saja luka itu masih ada bukan? Aku kasihan, pada yeoja itu. Ia pantas mendapatkan kebahagian yang lebih besar. Aku tahu ia sudah memaafkanku. Tapi, tapi, aku…. Merasa tak pantas untuk dimaafkan—“

Seohyun tak tahu harus merespon apa.

Ia bahkan tak tahu apa maksud Leera waktu itu. Apa ia sudah memaafkannya atau belum? Atau sudah mengikhlaskannya? Seohyun tak tahu.

“Apa ia pernah bercerita padamu? Apa ia sudah merelakan semuanya?”

Tidak tahu

Seohyun menggeleng pelan. Agak sedikit takut.

“menurutmu, apa yang harus kulakukan, Seohyun-ah? Aku tak mungkin membohongi perasaanku lagi kan. Aku sudah berusaha untuk memberi kejujuran padanya.”

Kau salah dari awal

Tapi kejadian yang berlalu takkan pernah bisa diulang.

“Kau tidak perlu membohongi perasaanmu lagi. Mungkin, kau hanya perlu melanjutkan hidupmu dengan normal. Mencoba berteman dengannnya secara normal…” ucap Seohyun, menanggapi pertanyaan Chanyeol yang menuntut jawaban yang panjang.

“hanya itu? Aku tidak yakin. lukanya takkan pernah bisa tertutup.”

Seohyun mulai mengerti sekarang.

“tapi,, tapi, Luka bisa ditutup dengan sesuatu, walau ia masih ingat ia pernah terjatuh, walau masih ingat ia pernah terluka… tetapi dengan obat, luka bisa tertutup dan hilang kan?” Jawab Seohyun menggebu.

“Kita bisa mencari penggantinya untuk Leera. Aku yakin Kai ada hubungannya dengan semua ini”

Chanyeol membulatkan matanya. Merasa otaknya ditumbuhi cahaya-cahaya terang. Menatap Seohyun takjub. Takjub akan perkataannya.

“Kau…. Kau jenius Seohyun-ah!” Chanyeol mulai kembali bersemangat. Ia kini mulai mengetahui cara bagaimana membuat Leera bahagia lagi. Ya walau sebenarnya, Leera sudah mulai melupakan masalah itu. Tetapi Chanyeol berpikiran bahwa Leera masih mengingatnya dengan detil.

Seohyun tersenyum sedikit bangga. Merasa dipuji seperti itu oleh Chanyeol, membuat pipinya menjadi panas. Apalagi,

Chanyeol langsung menghambur memeluknya.

“Terimakasih Seohyun-ah!”

Pelukan yang sangat hangat. Tetapi terlalu hangat untuk Seohyun sehingga membuat pipi yeoja itu panas seperti terpanggang. Seohyun senang bisa membantu Chanyeol. Dan… senang karena Chanyeol memeluknya.

Sampai sekarang Chanyeol masih memeluknya dengan erat. Seakan tak mau melepasnya. Namun Seohyun tidak berusaha melepasnya.

“Terimakasih, terimakasih !” Chanyeol mengucapkan itu beribu kali. Sudah tak terhitung lagi oleh Seohyun.

Seohyun hanya mengucapkan kata ‘iya’ dan ‘sama sama’ dengan malu-malu.

“Iya, iya , iya, Chanyeol-ah sama sama” masih dalam dekapan Chanyeol yang begitu erat.

Setelah lama sekali, baru Chanyeol melepaskan pelukannya. “Ya! Sekali lagi terimakasih! Aku jadi makin bersemangat!”

Chanyeol langsung bangkit dari sofa dan berdiri tegap lalu melayangkan tangannya keatas layaknya power ranger. Setelah itu ia mengajak Seohyun bangkit juga.

“kau juga harus bersemangat seperti aku, Seohyun-ah!” Chanyeol mulai mengeluarkan senyum giginya pada Seohyun.

Seohyun hanya tersenyum lalu mengangguk.

Tetapi setelah Chanyeol menatap wajah Seohyun secara serius. Ia baru menyadari,

“pi, pi, pipimu? Mengapa memerah?” Tanya Chanyeol.

Seohyun spontan langsung menutupi wajahnya. Lalu menggelengkan kepalanya.

Dan Chanyeol hanya tertawa menyadari itu.

“Yasudah, ayo kita masak makan malam bersama!”

#

Resto Languishine

19:00

Sudah satu jam berlalu. rangkaian canda tawa menemani makan malam mereka. Pada saat mereka makan Taemin selalu nyeletuk, berkomentar tentang semua makanan yang dihidangkan, dan bercerita tentang Jepang, tak lupa ibunya juga ikut campur dalam omongan Taemin. Kai tidak akan pernah bisa melanjutkan aksi ramahnya lagi. Ia terkadang hanya diam dan merespon pertanyaan lalu tertawa kecil karena lelucon yang sempat mengocok perutnya. Ibunya, Kim Hyunsik seringkali mengumbar kelakuan-kelakuan aneh Kai saat dirumah. Mulai dari hal kecil hingga hal yang memalukan. Kai merasa tidak nyaman karena cerita itu di dengar Taemin dan Leera, orang yang disukainya dan orang yang tidak disukainya. Ketidaknyamanannya memuncak saat Leera tertawa dengan sangat keras dan Taemin menepuk-tepuk perutnya karena terlalu banyak tertawa–tentunya karena mendengar cerita Kai–

“aku baru sekali ini melihat Kai mengobrol dengan cermin” canda Ibunya sembari memainkan tangan ke udara.

“waktu itu Kai tertidur di kamarnya dan saat aku masuk kudengar ia mengigau. ‘Leera leera’ katanya. Menarik sekali putraku ini”

Semua cerita konyol tentang Kai diumbar oleh ibunya dengan wajah tanpa dosa. Kai sudah memberi tatapan ‘aku ingin pulang’ pada ibunya tapi tidak mempan. Ibunya tetap keukeuh berkoar-koar tanpa henti. Membuat seisi meja tertawa terbahak. Sakit perut.

Saat Leera mendengar ada dirinya ada di dalam cerita Nyonya Kim. Ia tidak tertawa melainkan bungkam dan tersipu. Begitu juga dengan Kai. Leera merasakan beban di pundak kanannya semakin berat– tepat di sebelah kanannya Kai juga pasti sedang tersipu–

Oh ya, setelah makan hidangan utama, kini mereka mulai memakan hidangan penutup. Tetapi

Tiba-tiba…

“Sebagai remaja berumur 16 tahun dan Taemin yang 17 tahun. Apakah kalian sudah punya first kiss?”

Salah seorang dari ketiga wanita tua itu, Nyonya Lee. Mengeluarkan kalimat yang benar-benar membuat jantung Kai dan Leera nyaris copot.

“uhuk uhuk”

Leera dan Kai tiba-tiba tersedak. Secara bersamaan.

Mereka pun langsung mengambil segelas air dan meneguknya dalam waktu yang bersamaan juga.

Suasana hening membuat suara batuk Leera dan Kai menjadi pusat perhatian. Suara tidak indah itu justru diindahkan oleh mereka. Ketiga wanita itu terheran-heran melihat tingkah Kai dan Leera. Begitu pula Taemin yang heran.

Lalu setelah kedua anak itu meneguk minumannya lalu bersikap tenang. Tidak ada yang membuka suara sama sekali.

“Eh, aku sedang bertanya. Tolong dijawab anak-anak muda” ulang Nyonya Lee sembari tersenyum jahil.

Taemin mewakilkan diri untuk menjawabnya. “Hmm.. tidak” Tentu saja Taemin tidak berbohong. Walau menyukai skinship, Taemin tidak akan pernah melakukan itu sembarangan.

Lalu pandangan Nyonya Lee beralih pada Leera dan Kai. “Kalau kalia—“

“Aku izin ke kamar kecil” potong Leera. langsung beranjak. Kursinya menimbulkan bunyi decitan yang nyaring. Detakan highheelsnya melangkah pergi.

“Aku juga izin ke kamar kecil” Kai tiba tiba bangkit dari kursinya juga.

Ketiga wanita tua itu saling berpandangan, merasa atmosfer disana berubah tiba-tiba. Lalu mereka tertawa walau awalnya mereka tidak mengerti.

Hanya tinggal Taemin disana. Terpana dan bingung dengan alasan Kai pergi ke kamar kecil pada waktu yang bersamaan dengan Leera. Namun Taemin tetap tinggal. Ia masih harus menghabiskan vanilla shortcake kesukaannya. Rasa heran itu pun lama lama lenyap, tergantikan oleh kelezatan vanilla shortcake.

~

Leera memasuki toilet wanita dan langsung menuju cermin besar disana.

Entah apa yang ia rasakan sekarang. Senang, kaget, malu, kesal. Semua bercampur aduk jadi satu. Leera berfikir untuk apa tiba-tiba Nyonya Lee mengatakan itu? Sesuatu yang sangat privasi tapi mengapa? Apa yang membuat ia tergerak mengeluarkan pertanyaan seperti itu? Tak ada yang tahu mengapa. Tetapi tingkah Leera dan Kai benar-benar sudah ketahuan. Mereka sama sama tersedak dan sama sama gugup. Ini benar-benar acara makan malam yang sangat campur aduk. Ya, perasaan Leera bercampur aduk sekarang.

Atau jangan-jangan? Ketiga wanita tua itu tahu? Tentang kejadian di belakang taman itu? Tidak mungkin. Pikir Leera. Leera selalu bungkam dan tidak memberi tahu siapapun tentang kejadian itu. Kalau bukan ia yang memberi tahu? Lantas siapa? Atau jangan-jangan Kai sendiri yang mengadukannya? Tapi buat apa?

Leera menghidupkan keran lalu mencuci tangannya disana. Ia memberii penyucian lebih bersih pada punggung tangannya. Kalau saja Taemin mengenakan lipstik, pasti sudah ada bekasnya di punggung tangan Leera. Leera ingat sekali tadi, Taemin menekan bibirnya terlalu keras pada punggung tangannya.

Leera pun menghentikan semua kegiatannya di westafel. Membenarkan rambutnya sedikit lalu beranjak keluar. Tepat di depan pintu kamar mandi yeoja, Kai berdiri disana menatapnya dengan tatapan serius. Tatapan yang tidak seperti biasanya. Langsunglah Leera salah tingkah, tangannya langsung menggapai-gapai sesuatu yang dekat. misalnya meremas-remas gaunnya?

Kai secara tiba-tiba menggenggam tangan Leera.Tentu saja remasan Leera terhadap gaunya semakin keras.

“maukah kau melihat bintang bersamaku?”

deg

 

Setelah Leera meremas-remas gaunnya yang entah sekarang jadi apa gaunnya. Juga pusing memikirkan para tebakan orang tua tentang first kiss? lalu punggung tangannya. Sekarang apa lagi?

Leera mengangkat alisnya bingung dan juga kaget. Pikirannya kosong sekarang dan memang benar ia sangat malas kembali lagi ke meja—tentu saja para orang tua itu akan menyerbu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan aneh–

Akhirnya Leera menjawab.

“Baiklah”

Membiarkan momen dengan Kai kembali bertambah. Ya? Ini tidak salah bukan? Mengiyakan ajakan seorang Kim Jong In?

Ia biarkan tangannya digenggam Kai, tidak seperti dulu saat Leera selalu protes jika tangannya disentuh Kai sedikit saja. sembari Kai menariknya menuju tempat entah dimana, Leera semakin penasaran dan perasaannya semakin meluap-luap. Ia ingat tentang kejadian di belakang gedung sekolah kemarin. Apa yang akan terjadi lagi selanjutnya? Apakah Kai akan memarahinya karena perbuatan Taemin tadi?

Kai membawanya ke sisi lain restoran. Jauh dari kebisingan para pengunjung, di sebuah balkon dengan pemandangan langit malam di atasnya. Tidak terlihat apa ekspresi Kai sekarang. Namun wajahnya begitu teduh dan tanpa ekspresi. Leera bersyukur dapat melihat wajah Kai yang seperti itu. Teduh,

Sampai di balkon tersebut. Mereka dipayungi oleh langit malam yang indah. Bertaburan bintang. Jutaan bahkan milyaran diatas sana, berkelap kelip pada mereka.

“ini tempat apa?” Tanya Leera polos, sedikit gugup.

Kai mengalihkan pandangannya pada langit hitam yang bertabur bintang. Menunjukkan bahwa ini adalah tempat paling tepat untuk melihat bintang. Ekspresi Kai masih nampak teduh tanpa tersenyum ataupun cemberut. Ia akan selalu datar walau ia gugup. Tetapi sekarang, bukan rasa gugup yang menghinggapi Kai. melainkan kehangatan yang amat sangat. Walau cuaca malam ini terasa dingin bagi awam.

Kai menaruh tangan Leera untuk berpegangan pada stainles balkon. Darah Leera berdesir merasakan sapuan tangan Kai menyambutnya lagi. Lalu ia tersadar bahwa Kai terlalu sering memegang tangannya tanpa izin sekarang. Namun Leera tidak peduli, bahkan ia akan izinkan ribuan kali. Ia senang, Kai tidak menganggap dirinya layaknya yeoja pemarah seperti dulu. Yang selalu protes jika tangannya disentuh satu mili pun.

Leera mendongakkan kepalanya ke atas. Ia takjub memandang langit malam yang penuh bintang. Biasanya bintang sudah sangat jarang sekarang. Namun Kai membawanya ke tempat yang benar-benar istimewa. Bintang-bintang itu seakan tersenyum pada Leera. Leera membalas senyumnya, senyuman kesenangan karena bisa melihat pemandangan indah seperti ini.

Kai memandang Leera dari samping. Pandangan yang memuja. Berusaha memahami kecantikan Leera. Entah mengapa, yeoja jadi lebih cantik jika dilihat dalam keadaan gelap begini. Beberapa bayangan gelap memantul pada wajahnya. Sehingga dari samping Leera hanya terllihat seperti siluet. Namun angin-angin malam yang nakal terus-terusan menerbangkan rambutnya yang coklat. Tetapi justru Kai suka itu. Ia lebih banyak memandangi Leera daripada memandangi bintang-bintang indah yang menjadi tujuan utamanya kesini.

Dalam lubuk hati Kai yang paling dalam. Ia . ia benar benar terpana. Sampai akhirnya tanpa sadar ia mengucapkan…

“Kau benar-benar cantik ”

Mata Kai  tak dapat terlepas dari Leera. Namun setelah ia sadar apa yang ia ucapkan, langsunglah ia membuang muka ke arah kanan dan menutup wajahnya malu. Sejak kapan Kai menjadi seperti ini? Sungguh kejadian yang sangat langka. Apa karena kecelakaan itu otaknya menjadi sedikit … gila?

Leera yang sedang mengambil nafas sebanyak-banyaknya dari udara malam pun. Berhenti bernafas seketika. Seakan jantungnya diremas-remas. Apa yang didengarnya barusan dari mulut seorang Kim Jong In yang begitu dingin ?

‘cantik?’

Leera menyadarinya bahwa dia cute. Tetapi ini perkara lain. Leera pun menoleh ke kanan dengan kaku, ingin mengucapkan kata-kata ‘terimakasih tapi tidak’ pada Kai. namun, baru saja menoleh sedikit. Dilihatnya Kai yang sedang membuang muka dan menutup wajahnya karena malu mungkin? Leera hanya tertawa dalam hati.

“Em.. ya, aku hanya ingin bilang bahwa perkataan tadi tidak biasanya keluar dari mulutmu, Tuan Kim” respon Leera , mencoba sedikit cuek agar bisa mencairkan suasana canggung ini. Ia rindu sifatnya yang dulu pada Kai. yang selalu mengelak. Yang cuek.

Kai yang tadinya menutup wajah karena malu kini membuka tangannya dan menoleh pada Leera. Ya, ia ingin meladeni sikap cuek itu. Panggilan ‘Tuan Kim’ hanya diucapkannya jika ia sedang bersikap seperti dulu. Baiklah,

“Ya, Tuan Park. Akan kutarik kata-kataku tadi”

“Ya! Tuan Kim kau ini sangat plin plan”

“Kau yang meminta bukan?”

“Aku hanya bilang kalau perkataanmu padaku dulu tidak seperti itu!”

Leera kembali menjadi dirinya yang dulu. Yang selalu ‘ngotot’ setiap ada perdebatan. Yang selalu membela diri. Wajah ‘ngotot’nya itu mencuat ke permukaan lagi setelah sekian lama. Sedangkan Kai, di akhir ke ‘ngotot’ an Leera hanya tertawa kecil menanggapi suasana ini.

“Dasar Park Leera” cibir Kai.

“Dasar Kim Jong In!”

Setelah itu mereka tertawa lepas sambil berpengagan pada stainless balkon dan menghadap ke langit luas. Angin-angin pun menerpa tawa mereka. Suasana mulai hangat dan kegugupan benar-benar telah mencair.

Leera pun memutuskan membuka suara. “Aku tak tahu kenapa. Tetapi mengapa tadi kau begitu ramah. Maksudku, saat makan malam.”

Kai tidak merasa tertangkap basah atau apapun. Ia hanya lega Leera menanyakannya. Tidak masalah kan bersikap sedikit terbuka?

“Ya, aku hanya ingin mengambil hati ibumu. Ya kira kira begitulah”

Leera tertegun mendengar jawaban Kai. mengambil hati ibunya? Yang benar saja. Apa ini berhubungan dengan Taemin?

“Ya, Taemin. Aku khawatir, khawatir ia akan lebih baik dariku. Aku tahu tindakanku konyol. Tapi.. aku hanya ingin menjadi Kai yang tidak dingin lagi. Kai yang disenangi orang-orang. Kai yang ramah.”

Mata Leera membulat sempurna. Ini? ini alasan mengapa Kai menjadi lebih ramah dari biasanya? Taemin? Mengambil hati ibunya? Seorang Kim ternyata benar –benar gigih.

“Selain tadi aku bersikap seakan-akan ramah. Namun, aku masih saja gugup. Ya, maaf tadi aku tidak mengajakmu mengobrol”

Leera mengangkat alisnya pada Kai.

“Ya, hanya sedikit gugup sebenarnya. Mungkin karena gaunmu yang terbuka itu”

Leera langsung tercengang mendengar respon Kai. Untuk kesekian kalinya, merasa tertampar. Entah mengapa rasa kesal langsung menjalar begitu saja ke ubun-ubun Leera. satu kalimat yang membuat kejaiman Leera hancur berkeping-keping.

“Ya! Jadi itu maksudmu? Apa apaan huh? Aku baru sadar tadi kau melihat gaunku terlalu lama, dasar namja byuntae yadong! Kau masih sama seperti dulu!” Leera menjerit tepat pada telinga Kai dan langsung menyerbu Kai dengan pukulan-pukulan wanita dari tangannya.

“Ya!” pukulan ke dua puluh mendarat.

“Kim-Jong-In! Byun! Tae! Ya! Dong!” pukulan ke lima puluh satu mendarat.

Hebatnya, Kai tertawa membuat matanya menghilang sambil membuat pertahanan dari pukulan Leera.

“Hey hey,” sanggah Kai berusaha mengelak sembari tertawa.

Byuntae!” jerit Leera pada Kai. lalu yeoja itu berwajah cemberut dan berhenti menatap Kai.

Kai masih tertawa geli karena tingkah yeoja di sampingnya ini.

“Haha, jangan berpikiran yang tidak-tidak Park Leera.” Sanggahnya.

Leera hanya bergumam lalu berpangku tangan pada pegangan balkon. Merasa sedikit kesal mendapat fakta tadi. Kai melihati gaunnya? Gugup karena gaunnya? Dasar namja yadong!

Sekarang obrolan mereka terhenti karena kekesalan Leera. Bibirnya masih cembetut, dan ia tak sudi melihat pada Kai sedikit pun. Namun Kai tetap diam dan seakan tidak peduli.

Akhirnya mereka saling diam sembari menatap bintang di  atas sana.

Angin-angin pun berhembus. Semakin kencang dan semakin kencang ke arah mereka. Jika Kai yang terkena hembusan itu tentu tidak apa-apa. Tetapi bagaimana dengan Leera?

Hembusan pertama ia masih tahan. Walau gaunnya terbuka seperti itu, lehernya dan bahunya tak tertutup sama sekali, tetapi ia akan terus tegar dan kuat di depan Kai. ia tak sudi Kai menyadarinya bahwa ia lemah.

Hembusan kedua, Leera mulai goyah. Ia sudah mulai resah dan memegangi lehernya. Glek!

“HATCHIIIYY!”

Pertahanan yang sudah dibangun Leera sejak awal telah hancur berkeping-keping tanpa sisa. Baru saja hembusan angin kedua. Ia sudah goyah. Apa jadinya harga dirinya?

Leera yang kedinginan pun hendak memeluk dirinya sendiri, tetapi

Sebelum ia sempat memeluk dirinya sendiri, sebuah jas tuxedo besar hinggap di tubuhnya. Sudah menyelimuti tubuhnya dengan sempurna. Dan.

“Bagaimana? Sudah hangat?”

Leera menjerit dalam hati mendapat perlakuan seperti itu dari Kai. selemah itukah ia? Kelihatannya Leera begitu rapuh di mata Kai.

Kai mencondongkan kepalanya pada wajah Leera lalu berucap.

“Tidak usah pura-pura kuat.”

Tiba-tiba wajah Kai langsung muncul ke depan pandangan Leera. Padahal Leera sedang menghadap ke luar balkon.

“Ya! Kim Jong In jangan mengagetkanku!” Jerit Leera pada Kai yang tiba tiba muncul di depannya. “Aku kuat!” lanjut Leera lagi. Tetapi bodohnya, jika ia kuat mengapa ia tidak melepaskan jas itu? Dasar Park Leera.

“HATTTCHI!”

Sialnya ia bersin lagi. Sangat memalukan dan menjatuhkan harga diri. Benar-benar bertolak belakang dengan pembelaannya bahwa ia ‘kuat’.

Kai menahan tawanya. Takut Leera lebih marah lagi. Yeoja ini benar-benar konyol. Tepat saat itu juga Leera menepuk jidatnya.

Pabo! Mengapa aku jadi seperti ini?

“Hmphh” Tertawa Kai sudah benar-benar di ujung tanduk.

Namun akhirnya Kai tertawa juga. “Kau ini benar—benar konyol Park Leera” ujar Kai sembari memegangi perutnya.

“Ya! Aku hanya bersin tahu” Elak Leera, memalingkan wajahnya dari Kai.

Leera kembali cemberut. Namun angin kembali menghantam tubuhnya sehingga ia semakin merapatkan jas Kai pada tubuhnya. Namun, jas itu justru melorot lagi.

Kai menoleh pada Leera. Tangan besarnya bergerak untuk merapatkan jas itu pada tubuh Leera. Masih tertawa. “Nah, begini cara merapatkannya” ujarnya. Berusaha mendapatkan perhatian Leera kembali.

Leera masih membuang muka, tidak menghiraukan pertolongan Kai.

Tetapi ia…

“terimakasih,” ujar Leera pelan. Pikirannya berubah cepat sekali, buat apa kesal lagi. Kai sudah menolongnya bukan? Baiklah, setidaknya Leera harus menjadi hangat sedikit.

Kai mengangkat alisnya “sama-sama”

Hening. Apalagi Leera, ia menelan keheningan ini bulat-bulat. Mungkin Kai masih canggung berbicara karena aku sempat marah tadi? baiklah,

“Oh iya, tolong lanjutkan… pembicaraan kita tadi belum selesai. “ ujar Leera berusaha mencari topik. Sesungguhnya ia ingin berlama-lama dengan Kai disini. Walau di depan, ia kesal sekali. Ia memang belum menoleh pada Kai lagi. Pandangannya masih terkunci pada langit.

“jadi kau lebih memilih menjadi orang lain ketimbang menjadi dirimu sendiri?” sahut Leera lagi. Mencoba memberi tebakan.

Kai menjawab singkat “ya,”

“Tidak biasanya aku memakai baju serapih ini”

Leera kini mulai tersita perhatiannya untuk menoleh pada Kai. “huh?”

“Pantas saja kau begitu rapih” ujar Leera. Butuh seribu kali berfikir bagi yeoja itu untuk mengeluarkan kata kata ini dari mulutnya. Mengakui bahwa Kai terlihat rapih? Sama saja memujinya!

Kai merapihkan rambutnya yang terbentuk seperti jambul itu. “Ne, tetapi, kalau rambutku memang seperti ini” tutur Kai sembari menunjuk rambutnya.

Leera hanya mengangkat bahu “entahlah, tetapi dari segi manapun kau terlihat bukan dirimu sendiri”

“Lain kali, banggalah dengan menjadi dirimu sendiri Kai-ya. Walau kau tidak ramah, setidaknya kau … sedikit… umm.. yeah, baik” aku Leera. Sedikit kaku karena malas mengakui bahwa Kai adalah orang yang baik. Entah kenapa perasaan gugup yang sedari tadi menghantuinya hilang ke mana. Begitu juga dengan Kai.

Molla, kan sudah kubilang aku hanya ingin mengambil hati ibumu dan menjadi lebih baik dari Taemin”

“Apakah kau berfikir dengan menjadi bukan dirimu sendiri kau akan lebih baik dari Taemin?”

Kai terdiam.

“Tidak, aku lebih suka dirimu sendiri” Aku Leera.

Pengakuan macam apa itu?

Kai mengangkat alisnya bingung, sepertinya omongan Leera tadi terdengar ambigu bagi Kai. apa itu berarti… Leera tidak menyukai Taemin? Apa itu berarti Leera lebih memilih Kai daripada Taemin? Kai bertanya Tanya dalam hati. Apakah iya? Pikiran Kai sudah seperti labirin sekarang.

Leera menatap wajah Kai yang terlihat berfikir.

“Hey, maksudku. Aku lebih senang kau menjadi dirimu sendiri” ujarnya menjelaskan takut Kai berfikir yang tidak-tidak. Lalu menyilangkan tangannya di dada. “well, kurasa begitu” katanya lagi. Merasa sedikit canggung karena telah mengatakan hal yang tidak penting tadi.

Kai tersedak seketika, lalu tersadar akan perkataan Leera. “Yeah, um, terserah” Lalu Kai berusaha berwajah datar kembali. Namun tidak puas dengan apa yang Leera jelaskan. Memang aneh sih, jika Leera mengakuinya sekarang? Hey, Kai. kau ini terlalu percaya diri.

Kemudian tanpa Kai sadari, sedari tadi manik mata Leera mengamati pakaian yang Kai kenakan beserta kerapihannya. Leera mengamati semuanya sambil bergumam “Hmmm”

“Kurasa ada yang salah, lihat saja, akan kuubah dirimu menjadi Kai yang sesungguhnya!” ujar Leera sedikit bersemangat. Tangannya mulai menjalar ke arah kemeja Kai.

“Kau ini orangnya, hmm sedikit berantakan” Ujar Leera lalu mengeluarkan kain kemeja Kai yang namja itu masukkan kedalam celana.

Sret, Leera berhasil mengeluarkan kemeja putih itu dari balik celana. “Nah, sudah mulai terlihat berantakan?” tanyanya meyakinkan Kai.

Kai hanya tercengang dan bingung. Leera ternyata punya rasa inisiatif yang cukup besar. Buktinya ia berani mengotak atik pakaiannya sekarang.

Yeoja yang katanya cute itu terlihat berfikir lalu mengamati Kai lagi dari atas hingga bawah.

“Sabar.. aku yakin masih harus ada yang diubah” Leera menekan pelipisnya.

Lalu, ia membuka kancing Kai yang paling atas. Kemudian, membuka kerahnya agar tidak terlihat terlalu rapih. Kai benar-benar tersentak dalam hati karena Leera berani melakukan itu. Tetapi di depan, wajahnya benar-benar datar seakan-akan tak terjadi sesuatu. Kai memandang yeoja yang lebih pendek darinya itu. Kini tangan mungilnya bergerak-gerak lucu membenarkan atau lebih tepatnya mengacaukan kemejanya. Tetapi ini semua demi Kai agar ia bisa menjadi dirinya sendiri.

“Ya! Sudah selesai” jerit Leera dengan bangga.

“Bagaimana hasil karyaku huh?” tanyanya antusias pada Kai yang terbengong dengan wajah datarnya.

Kai diam tidak bisa menjawab.

“bagus” jawab Kai pendek.

“terimakasih” ujar Kai.

Leera mengangkat alisnya tanda ‘sama-sama’ lalu berujar. “Kita empas kan sekarang? Tadi kau yang menolongku. Sekarang aku yang menolongmu. Jadi aku tidak akan pernah berhutang lagi padamu”

“Terimakasih, jeongmal gamsahamnida karena sudah mengajariku untuk menjadi diri sendiri” Kai tersenyum lalu mengarahkan wajahnya ke arah lain.

Leera tersenyum jahil dan merasa menang.

Setelah itu mereka kembali mengobrol tetapi…

“Ya! Kalian kemana saja!”

Salah satu dari ketiga wanita tua itu menjerit pada dua anak muda yang sedang mengobrol. Spontan Kai dan Leera membalikan badannya. Tersenyum sangsi dan “Eh….”

Leera dan Kai membungkuk-bungkuk secara bersamaan. Meminta maaf dengan sopan.

Ani,,, maafkan kami” ujar Kai berusaha sopan. Lagipula, ini salahnya mengajak Leera kesini.

“ini salahku” ujar Leera.

Kai tersentak dan langsung menjawab. “Ani, ini sungguh benar-benar salahku”

“Salahku” ujar Leera.

“tidak ini salahku” balas Kai.

“Salahku!” Leera menyorot Kai sinis.

“Ya! Ya! Sudahlah” ujar Nyonya Park. “tidak masalah kalian berdua disini. Asal jangan buat kami khawatir”

Nyonya Kim ikut membuka mulut setelah melihat jas tuxedo Kai menempel di bahu Leera. “Kim Jong In? apa saja yang kau telah lakukan pada Leera barusan?” sembari menatap dengan tatapan jahil.

“Kalian mencurigakan” balas Nyonya Park menatap kemeja Kai yang sudah berantakan. “EH, Leera-ya? Apa yang terjadi?”

Nyonya Kim kembali angkat bicara “Kai? mengapa kemejamu jadi berantakan begitu?” lalu pandangannya beralih pada tuxedo Kai yang berada di punggung Leera “apa memberi jasmu pada Leera dapat membuat kemeja mu seberantakan itu?”

“apa yang terjadi anak-anak?”

Kai dan Leera saling berpandangan.

“sungguh tidak ada apa-apa. Sungguh”

Kai mulai mengerti apa arti kekepoan ibunya dan ibu Leera ini. Mereka menyangka mereka berdua melakukan hal yang tidak tidak. Tentu saja itu tidak mungkin!

“kau sendiri yang membuka kancing mu itu dan mengeluarkan kemejamu?” Tanya Nyonya Kim.

Sebenarnya tadi Kai ingin menjawab “Sebenarnya itu Leer—“ bodoh!

Leera langsung memotong. “Tentu saja dia sendiri, ia merasa sangat gerah makanya ia membukanya” ujar Leera, menyelamatkan nyawanya sendiri.

Jika Kai menjawab ‘Leera’ entah apa nasib Leera sekarang! Tentu saja orang tua Kai akan sangat curiga. Buat apa Leera mengutak atik pakaian Kai?

Tidak mungkin Leera menjelaskan yang sebenarnya. Kai pun menghembuskan nafas lega.

“terimakasih” bisik Kai sangat pelan. Leera hanya menyuruhnya diam. Biasanya Kai yang pandai mengarang cerita. Namun kenapa kali ini dia bungkam dan kehilangan cara kreatifnya itu?

Sedangkan Nyonya Lee hanya tertawa-tawa melihat tingkah teman-temannya yang menggoda anaknya sendiri. Lain halnya dengan Taemin yang berwajah masam sekarang. Posisi Taemin sekarang adalah sedang digandeng Ibunya. Sedari tadi, setelah Taemin selesai memakan shortcakenya, ia sebenarnya ingin menyusul Kai dan Leera. Namun ibunya menghalanginya. Ia pun kesal menonton ketiga wanita itu mengobroli hal hal aneh di meja makan malam tadi.

Sedangkan dengan Leera dan Kai.

“Maafkan kami!” ujar mereka berdua serempak.

Namun makan malam itu berlangsung bahagia pada akhirnya. Mereka pun pulang dengan eomma masing-masing. Taemin pun masih kesal saat itu. Namun lain hal nya dengan Leera dan Kai.

Kai menjerit dalam hati. Aku menang!

#

Apartemen Seohyun-Chanyeol

Mereka berdua tampak mendiskusikan ‘mencari pengganti untuk Leera’ saat makan malam. Pikiran Chanyeol melayang pada wajah Kai, namja dingin, cuek, gengsi, dan susah mengakui perasaannya sendiri. Susah tentunya untuk membuat Kai mengakui perasaannya?

Seohyun juga ikut masuk ke dalam pikiran Chanyeol. Ia memikirkan Park Leera, yang dulunya sangat tidak akur dengan Kai. Namun, ia benar-benar kehilangan Kai saat namja itu koma. Seohyun ingat sekali. Kai? Ia tidak tahu apa-apa tentang perasaan Kai.

Namun, ia tahu sesuatu…

“Aku… saat itu aku melihat Kai dan Leera saling berpandangan dengan tatapan aneh” Ujar Seohyun, membuka pembicaraan yang sudah lama senyap karena suara sendok.

Chanyeol menjawab sembari mengunyah daging bulgoginya. “hmm?” hanya lewat gumaman. menunggu kelanjutan cerita.

“Lantas?”

Seohyun pun menaruh telunjuknya di bibir pinknya. “Aku rasa ada sesuatu di antara pandangan itu. Apa kau tidak merasakannya?”

Chanyeol hanya mengangkat alis. Jujur ia tidak merasakan apa-apa. Ia masih mengunyah dan mengunyah.

“AH! itu dia.. namja yang bersama Leera waktu itu. Kau ingat saat istirahat bukan?” Seohyun sedikit menjerit karena mengingat hal yang fantastis.

Saking fantastisnya, Chanyeol langsung menelan dagingnya. “Ya! siapa dia?” Chanyeol langsung memutar memorinya. Saat namja itu seenaknya masuk kelas, mencari Leera, lalu memeluknya seenak jidat. Memang namja itu tampan.

“Dia kakak tingkat kita kalau tidak salah!” tambah Chanyeol semakin menggebu. Bulgoginya pun terhenyak karena dicueki oleh Chanyeol.

Menanggapi Chanyeol, Seohyun mengangguk mantap. “Benar”

Namja itu berusaha mendekati Leera bukan?”

“Kelihatannya sih begitu”

“Hm..” Seohyun berfikir lebih dalam lagi.

Kemudian Chanyeol langsung membuka mulut.

“Berarti kita harus mengusir namja itu dari Leera! bagaimana? setuju? mau bergabung di tim ku?” Chanyeol mengeluarkan senyum gigi miliknya.

Seohyun tanpa babibu langsung mengiyakan permintaan Chanyeol.

Setuju? tentu saja sangat setuju! Ia menginginkan yang terbaik buat Leera. Ia juga ingin Leera bahagia.

“Kita akan laksanakan misi kita mulai besok, Seohyun-ah!” Chanyeol tersenyum evil.

Tak disangka Seohyun mengikuti senyum evil miliknya. Lalu mereka tertawa.

Namja yang mereka maksud adalah… Taemin. Lee Taemin.

To Be Continued

A/N: Waaaaaa bahagia banget pas part 2 udh selesai kubuat :’) udah aku edit habis-habisan. semoga aja gak ada typo lah ya :’) (tapi masih ada-_-) semoga bahasanya gak nyeleneh lagi kayak kemarin, dan semoga kalian ngerti gimana perasaan masing-masing cast, skrg aku gak terlalu pilih kasih sama ‘perasaan cast yang mana yang akan lebih diumbar’ sekarang, mau perasaan leera , mau perasaan kai di dalam hatinya.semuanya empas. aku jabarin semuanya. kayak misal dlu kan di season 1 kai keliatan pendiem gt dan dingin, tapi kalian gaktau kan sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran kai saat itu? nah! kalo skrg aku jabarin apa yang ada di dalam pikiran kai. misalnya dia diem/dingin/ wajahnya datar2 aja, tapi sebenrnya di dalam hatinya dia itu gugup lah apalah. ngerti gak? kalo gak ngerti yaudah deh😐 aku bukannya mau ngerubah bahasa gt di season 2 ini, tapi bahasanya keubah sendiri(?) gak tau kenapa wkwk. mugkin karena aku lebih sering di real life skrg? aku aja lupa bahasa korea tanteitu apa=.= padahal ahjumma kan iyuh banget aku iniii. greget sih sebenernya. udh tau itu leera dan kai sama sama suka. tapi ngungkapin perasaannya kayaknya susah bener. bener dah. gak tau tuh gimana. biar kuberitahu kaliaaan part ini sangaaaaat sangaaatlah panjang, tadinya mau aku buat kayak 2a dan 2b tapi gak dehh hehe, skrg juga aku bkkin judul per chapternya biar aku inget pas di part segini tuh momennya apa. maapdee klo aku skrg bahasanya gaenakin yg jelas menulis itu hobi aku jd mau kykmnpun aku akn ttp lanjut nulis (klomood) aku gk terlalu maksa kalian buat komen di ff ku kokk. dan maaf jg klo aku gabisa bales komen kalian, krn gak sempet dan notifnya trkdg penuh._. tp aku sempetin kok buat jawabin komen kalian apalagi yg kmennya panjaaaang super superan, aku balas deeh^^ makasih ya yg udh trs2an baca ff gaje ini dan udh setia nungguin , aku gk nyangka loh ada yang baca dr part1-16 dlm sehari. wow! gak nyangka, tmn2 skolah aku jg pada baca nih ff._. aku pun terkena tekanan batin krn mereka nagih nagih di skolahhh AAAAA. tidak. aku maluuu>.< aku dijulukin ‘omcia’ di sekolah-_- oke tak apa. pokoknya makasih buat kalian semuaaaa! nikahin kai sm leera yok-_-

ada yang nungguin kelanjutan fanfic laen yg aku buat? sekedar nanya aja nih hehe

369 comments

  1. ah, yaampuun! ternyata season 2 nya udah ada ya? ah, kenapa aku kudet sekali sih huhu ;__; tapi gapapalah, yang penting sekarang udah baca (walaupun chapter 1 nya blm, abis di protek.__.) btw, bahasanya berubah? iya sih, jadi keliatan kaya orang yang udah lama ga nulis trus tau-tau nulis lagi, ya agak canggung gitulah bahasanya._. tapi aku sih fine-fine aja, karena walaupun bahasanya kurang baku atau kurang rapi atau apalah tapi kalo ide ceritanya menarik, why not? apalagi ini fanfic yang aku tunggu-tunggu, yeay! *heboh sendiri*
    btw, kenapa jadi ada taemin? kok kamu tau sih aku lagi suka sama taekai? huhu /.\ *salah fokus* ya walaupun aku ga terlalu paham sama karakternya taemin disini (karena part 1 nya aku blm baca) tapi aku suka kok, karena ceritanya jadi tambah seruu, dan tambah greget pastinya! ugh, kapan leera sama kai mau terbuka sih? aaaahh~ *teriak sambil lari ditengah hujan* udah ah, lanjut ke part 3 dulu *teleport*

  2. Aaaa makin kesini makin keren aja.. Chan mau jodohin Kai sama Leera? Ah kayanya ga perlu dijodohin mereka juga udah saling suka kok.. Tapi good lah buat usaha yang akan di jalanin chanyeol-seohyun buat jodohin Kai-Leera..

  3. wuaaaahhhh …so sweet bgt . gk tahu knpa aku suka bgt karakternya kai. tp semua karakternya mendukung bgt. makin greget ma nih ff.
    oh iyh ada sedikit typo, gk trlalu ganggu sih.pokoknya keep writing

  4. wuaaaahhhh …so sweet bgt . gk tahu knpa aku suka bgt karakternya kai. tp semua karakternya mendukung bgt. makin greget ma nih ff.
    oh iyh ada sedikit typo, gk trlalu ganggu sih.pokoknya keep writing…

  5. Wahhh…. ad juga yah part 2x omcia *brubaca *agakKudet pngruh skripsi… minta dong passx part 1x.. aku ikutin kok yg seson 1 nya kok..
    gini seru kai sdh suka g cuek lg… lnjut trus yah…

  6. Haha anjir eomma kim sama eomma park kompak yes -_- asek dah kai-ra moment /cuitcuit~ demen deh sama sikapnye kai disini , taemin sama aku aja yah pliss/jambanxD cie chanyeol ngrasa bersalah nih yeh ! Sett dah lagi ngaca plus ngmong sendiri ketauan emak-_- di umbar lagi :v #poorkai

  7. annyeong, mian kalo.komennya nyampah, cuma mau ninggalin jejak aja hhehehehe,,,, Cieee yang “kegep” lagi berduaan sama ortunya,,,, lucu banget sih tingkah mereka,, aku sampe senyum senyum sendiri, untung gk ada orang :v keep writing thor😉

  8. boleh jujur? aku emang baru baca cerita ini di season duanya wkwk aku negarasa justru penulis diseason pertama sama kedua itu beda. dulu aku baca tulisan kamu itu rapihin bgt, pas gaada yg kurang..
    sekarang aku ngerasa kata katanya berantakan. aku lebih srek sama pas season pertama.
    maaf sebelumnya tapi itu yg aku rasain, banyak kata kata yang gak pas dan juga terkesan dipaksakan..
    cuma itu aja sih so far keren sih Ide ceritanya wkwkwk gak nyangka bakal dilanjutin sampaai season dua
    makasih ~

  9. Ya ampun.. aku udh ngelewatin omcia.
    Maaf ya thor. Aku bru tau soalnya.
    Yeah.. kai leera makin lengket >.<
    Cuma aku gak tau part 1 gmna ceritanya. Mnta pass nya dong thor..

  10. si kai sama yura kenapa ngga pada jujur aja sih kalau mereka itu saling cinta.. bikin gregetan ajaa wkwkwk xD taemin suka ya sama yura? dukung banget sama misinya chanyeol seohyun.. kereeen😀

  11. good job thor ^^ lucu bgt KaiRa moment nya sampe dimarahin ak sama babe krn ketawa2 sendiri xD kasian amat ya Taemin sendirian gitu sama para emak2, sama ak aja sini *eh* ak setuju, mari nikahkan KaiRa wkwkwk *digampar sama fansnya Kai*
    pokoknya angkat 4 jempol buat ff ini, cepet diselesaiin yaa hehe keep writing thor <3<3<3<3

  12. Astaga… Itu eomma-eommanya kenapa malah nge godain anaknya gitu, sih? Wkwk… Ketahuan, deh Kai sama Leera dah punya first kiss. Apalagi first kiss-nya Kai itu Leera. First kissnya Leera itu Kai. Wkwk. Eh… Btw, First Kiss-nya Kai itu Leera, kan? Waahh.. Kai-Leera makin romantis aja >< Daebak!!!

  13. Ya ampunnn akhirnya penantian panjang ku gk sia sia -_- maaf baru bisa komen soalnya ane sibuk sibuk superr sibuk hampir kagak ada waktu buat baca ni ff kesukaan ane >-kagak mau jadi typo gue komen ni ff walaupun udah 3 atau 5 tahun yang lalu bakalan ane komen <=

  14. keren kyaknya yg jadi pasangan yg konyol sekarang bukn hny kai dan leera, tp bertambah dg adanya seohyun dan chanyeol..

  15. Aku masih bingung sama seochan couple
    etjiiieetjieee hahahaha kai menang niih hahaha
    Pergi rapih pas balik udah berantakan gimana gak mau dicurigain coba :3

  16. Kerennnnn… aq ska sma jalur crita’x… aq dh bca dr S1 smpe skarangg…

    Mkin cnta sma KaiRa couple🙂
    Trus brkarya ya😀 biar aq bcain smua ff’x

  17. Aaaaaaaaa
    So sweet bgt ya
    Kai_ra itu saling suka tapi sok2an mengelak satu sama laen
    Hhahhaaha
    Paraaaaaahhh
    Momen liat bintang td emg paling manis dan romantis

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s