OMCIA! s2p3 “This Re-Hurt”


saarah-poster-copy

thanks for the poster!🙂

\ Title \

One Month Crush In Apartment [SEASON 2]

\ Author \

sasa / @Saarahsalsabil

\ Main Cast \

Park Leera
Kim Jong In

\ Genre \

School Life, Fluffy Romance

\ Length \

Mini Chapter

\ Previous \

| p1 | p2 |

\ Rating \

PG-17

p.s. : fanfic ini adalah kelanjutan dari fanfic OMCIA! Yadong Boy In My Apartment. fanfic ini adalah original buatan sasa ( @Saarahsalsabil ). tidak diperkenankan untuk plagiat (kayak ada yg mau plagiatin aja-,-)

Readers pada bilang kurang greget kalo perasaan Kai jadi diumbar-umbar gitu… aku pgn coba di part ini kalo gak di umbar, kira kira lebih grget gak ya?

#

Leera POV

Yang kupikirkan adalah. Untuk apa? Untuk apa Kai mengajakku melihat bintang bersamanya? Aku larut dalam pikiranku sendiri, tidak tahu harus memberikan jawaban apa pada namja di depanku. Yang menatapku dengan tatapan serius.

Entah mengapa, aku selalu hanyut dengan tatapan yang bertajuk ‘serius’ itu. Kalian tentu tahu. Aku paling tidak suka dibohongi. Aku tidak mau perasaanku sendiri dipermainkan. Alhasil, aku selalu tertarik dengan sesuatu yang terlihat serius.

Bukan hanya tawaran Kai yang mengagetkan. Tangannya yang secara tiba-tiba meraih tanganku membuatku sedikit terlonjak. Aku… tidak bisa memarahinya seperti dulu. Apalagi membentaknya. Sejak Kai kecelakaan, kurasa ia begitu rapuh dan tak pantas mendapat caci maki. Setidaknya, ia bersikap lebih hangat.

“Baiklah”

Lagipula, aku terlalu malas untuk kembali ke meja.

Kai menarikku tidak terlalu keras. Jalannya sengaja dipelankan kurasa, mempersilahkanku berjalan beriringan dengannya. Tidak seperti dulu, saat ia selalu mengekor berjalan di belakangku sedangkan aku memimpin dengan wajah dingin dan marah. Ya, sifat kekanak-kanakkanku yang dulu.

Aku kaget ketika Kai membawaku ke sisi lain restoran. Tempat itu lumayan sepi, hanya dipenuhi cahaya remang dan angin yang hilir mudik. Kai berjalan menuju balkon, ekspresi mukanya terlihat biasa saja. Masih tetap datar. Aku pun tak tahu apa yang ada di pikirannya. Sedangkan aku? Dibandingkan wajahnya yang terlihat baik-baik saja. Jantungku berdetak semakin cepat seiring ia membawaku ke tempat tujuan.

Kai meletakkan tanganku di atas stainless balkon yang dingin. Sangat berbanding terbalik dengan tangan besarnya yang begitu hangat. Kepala namja itu lurus ke depan. Seakan-akan pandangannya kosong. Aku pun agak bingung dengan tindakannya. Dan untuk apa ia mengajakku kesini?

“Ini tempat apa?” Tanyaku. Ingin mengetahui lebih banyak tentang tempat ini.

Sedetik setelah aku bertanya, kepala namja itu langsung mendongak ke atas. Tanpa pikir panjang aku pun mengikuti arah tatapan itu, dan memandang takjub langit di atasnya. Sungguh? Maksudku… di jaman modern seperti ini… masih terdapat milyaran bintang bertaburan di langit? Ini sungguh pemandangan yang langka!

Aku pun terus terpaku menatap langit. Dan angin-angin kecil mulai menerbangkan rambutku ke belakang. Angin ini belum terasa dingin untukku walau gaun ini cukup terbuka, karena aku mempunyai sebuah pengalih perhatian yaitu objek penting yang sedang kuamati sekarang. Bintang. Aku benar-benar terhipnotis dengan langit malam ini.

“Kau benar-benar cantik”

m… mwo?

Apa yang baru saja kudengar? Aku pun langsung berhenti bernafas dan pandanganku langsung teralih seketika pada orang yang mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Kata-kata yang benar-benar… eum. Well, tidak pernah ku dengar.

Membuat nafasku seketika menjadi tidak teratur.

Untuk apa dia mengatakanya?

Saat ku menoleh pada Kai, ia sedang menoleh ke arah lain. Aneh, namja itu memang sangat aneh. Alisku hanya bertaut memandangnya. Lalu nafasku pun mulai teratur kembali. Ia tidak serius bukan dengan pertanyaannya… bukannya ia namja super dingin yang tidak pernah memuji ? tidak ada untungnya baginya untuk memuji. Kecuali… apa karena ciuman itu?

Aku pun merasa suasana ini terlalu canggung bagi kami berdua. Sehingga aku mencoba mencairkan suasana. “Ehm..”

“Em.. ya, aku hanya ingin bilang bahwa perkataan tadi tidak biasanya keluar dari mulutmu, Tuan Kim”

Berharap perkataan itu bisa membenarkan hatiku yang begitu canggung.

Ya, aku memang memerhatikan wajah Kai. setelah memalingkan wajahnya. Ternyata ekspresi miliknya, biasa saja. Tidak menunjukkan apa-apa. Dingin. Seperti biasa. Namun, kata-kata yang ia keluarkan padaku sejujurnya membuat dada ini terasa hangat.

#

Author POV

Sehun mengotak-atik ponselnya. Sedari tadi ia sudah mengirimkan belasan pesan pada Kai di LINE. Tetapi pesannya itu tak kunjung dibalas. Sehun mengetik lagi, kali ini dengan capslock dan sebuah stiker karakter yang sedang menjerit.

Mengapa namja ini begitu heboh? Karena kemarin, diwaktu pulang Sehun melihat suatu kejadian yang menurutnya wajib didiskusikan dengan Kai. Saat itu ia melihat wajah Park Leera yang kelihatan tidak nyaman saat diajak namja cantik itu—Sehun tidak mengetahui nama Taemin tentunya—pulang bersama. Sehun mengetahuinya, tetapi Kai salah paham. Salah paham bahwa Leera lebih memihak namja cantik itu ketimbang dirinya.

Kai pasti salah sangka bukan? Pasti waktu itu, Kai mengira Leera menolak ajakannya. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah… Leera terpaksa memenuhi ajakan Taemin. Karena, pertama, Taemin adalah kakak tingkatnya dan yeoja itu tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua, entahlah, mungkin karena Leera begitu pasrah.

Sehun pun melirik jam dinding kamarnya.

Pukul 20:00

Sehun menguap dan mengucek-ucek matanya seakan habis bangun dari tidurnya. Ia masih memandang layar ponselnya yang senyap. Tidak ada satupun pemberitahuan yang masuk. Kecuali grup whatsapp. Siapalagi yang berkoar di grup kalau bukan gank exo nya itu? Paling, hanya itu itu saja yang menghubungi Sehun atau mengajak mengobrol lewat social media. Tidak. Tidak ada gadis yang sangat fanatik mengidolakannya di sekolah. Karena Sehun kelihatan pasif dan mungkin beberapa gadis di sekolahnya itu, ilfil dengan kelakuan Sehun yang begitu kekanak-kanakan. Tidak seperti namjanamja lainnya yang membawa mobil ke sekolah. Sehun pun lebih memilih menggoes sepeda. Mungkin itu sebab-sebabnya Sehun tidak mempunyai segelintir fans pun. Entahlah, mungkin ada. Tetapi, tidak terdengar sampai ke telinga Sehun.

Sehun? Jatuh cinta? Tidak, tidak ada orang yang pernah bilang kalau Sehun bisa jatuh cinta.

Beberapa menit Sehun melamun. Lalu terdengar ringtone ponselnya yang berbunyi.

Mata Sehun membulat senang melihat nama yang terukir dilayar ponselnya. Kai.

Tanpa berfikir panjang, Sehun langsung menekan tombol hijau.

“Hai hyung kau kemana saja? Aku mencoba menghubungimu sejak tadi tetapi kau tak kunjung membalas pesanku!” Protes Sehun sebelum Kai sempat menyapa.

Terdengar suara menggumam dari ujung telfon. Lalu Sehun kembali menyahut. “Ya, hyung? Aku ingin bicara penting denganmu kau tahu?”

Kai sebenarnya hendak membuka mulutnya, tetapi Sehun sudah menghalanginya duluan sedari tadi.

“Sehun-ah aku baru pulang” tutur Kai pendek dan cepat. Dengan nada datar seperti biasa.

Sehun pun memutar bola matanya dan berusaha menjelaskan semuanya. Tetapi ia malah lupa kata –kata pembukanya. Sehun pun berusaha berfikir. Otaknya mulai berfikir namun lambat.

Senyap selama beberapa detik. Lalu giliran Kai yang membuka suaranya,

“Hey Sehun-ah. Jika ini tidak penting….—“

“Sebenarnya kau ingin membicarakan apa?” Tanya Kai, sedikit tidak sabar.

Mendengar Kai yang benar-benar tidak sabar. Sehun pun mendapat sebuah ide. Dan ia telah mendapatkan kata-kata pembuka yang pas untuk mengawali cerita ini.

“Aku tahu! Ini .. baiklah ayo kita mulai ceritanya. Hmm” Sehun bergumam lama lalu mulai menceritakan semuanya.

“Leera sebenarnya tidak… hmm bagaimana menjelaskannya padamu ya. Ini terlalu sulit”

Dari ujung telfon terdengar grasak grusuk yang begitu dahsyat. Lalu Kai langsung menyahut dengan antusias begitu mendengar nama Leera.

Wae? Wae? Leera? Apa maksudmu?” dari ujung telfon terdengar suara Kai yang semakin kecil. Sepertinya Kai tidak ingin ibunya mendengar isi telfonnya. Grasak grusuk tadi mungkin keributan yang dihasilkan dari kegiatannya untuk menyembunyikan diri dari ibunya.

Sehun merasakan Kai mendekatkan ponselnya pada mulutnya.

“Ya, cepat katakan apa yang terjadi?” Tanya ujung telfon. Tentunya dengan nada yang lebih antusias.

Sehun pun meneguk ludahnya. Lalu mulai mengeluarkan kata-kata yang telah dirangkainya.

“Leera tidak menyukai namja itu. Aku melihatnya. Aku melihat sorot mata tidak suka.”

“Saat pulang sekolah. Leera sebenarnya terpaksa mengikuti ajakan namja itu.”

“Maksudmu namja cantik itu?” Kai sengaja tidak menyebut namanya. Ia tidak suka mulutnya menyebut nama yang tidak perlu. Bahkan sangat tidak perlu.

#

SAS

Aku melangkahkan kaki menuju gedung senior. Melalui jembatan seperti biasa lalu melewati koridor yang panjang. Tadi malam benar-benar malam yang melelahkan. Memang makan malam tersebut sangat mengesankan bagiku. Aku senang, dapat melihat pemandangan yang indah. Tentu saja, dengan namja itu. Ya, walau ia agak menyebalkan.

Gara-gara ia menyinggung masalah gaun yang kukenakan. Aku jadi semakin berfikir. Bahwa, ke-byuntae-annya masih hidup di dalam dirinya.

Aku pun terus berjalan menyusuri koridor untuk mencapai tangga dengan santai. Lagipula, ini baru pukul setengah tujuh.

“Leera-chan”

“Hei, Park Leera”

Dua suara yang berbeda itu beradu dari telinga kananku menuju kiri. Apa ini? Kurasakan pundakku ditepuk. Dua-duanya, di kanan dan kiri. Kutolehkan wajahku, dan darahku berdesir seketika dan oksigen di sekelilingku menipis begitu melihat kedua namja itu datang kepadaku di saat yang bersamaan.

Aku berulang kali memandang mereka berdua. Mengerjap-kerjapkan mataku seakan ini adalah kejadian aneh. Tetapi, memang aneh bukan? Tidak ada ekspresi di antara keduanya ketika aku menatapnya. Kai disebelah kananku dan Taemin. Disebelah kiriku. Aku lagi-lagi memandang mereka secara bergantian. Diam. Jengah. Tak ada suara.

Mungkin karena mereka sama-sama menyadari wajahku yang kebingungan? Atau… menyadari bahwa mereka menepuk pundak orang lain secara bersamaan.

Akhirnya, karena aku tak sanggup berbicara. Taemin menyingkirkan tangannya dari pundakku dan tersenyum ramah kepadaku… eh tunggu. Bukan! Melainkan tersenyum kepada Kai. senyuman itu tidak menyiratkan kejengkelan ataupun kelicikkan. Melainkan, ia memang tulus untuk tersenyum seramah itu. Dan bukan padaku. Senyum itu.

Untuk Kai.

Annyeong Kai-ya. Senang dapat berjumpa lagi denganmu” Taemin menyapa ramah dongsaengnya itu. Melupakan kejadian kemarin, saat Kai bertindak tidak sopan kepadanya.

Kai hanya menarik ujung bibirnya. Hanya sedikit. Memandang Taemin lamat lalu menatapku. “Ayo kita pergi”

Aku… aku merasa salah lagi disini. Apa yang harus kulakukan? Terkadang, kecuekkan Kai terhadap orang lain. Membuatku.. ah, tidak nyaman. Kalau begitu, aku harus membalas sapaan Taemin.

Annyeong semua. Taemin-kun dan Kai-ya” Sapaku dengan respon yang sangat lambat karena kebingungan. Wajahku sudah tak keruan. Aku benar-benar diapit situasi yang sangat tidak mengenakkan.

Kai mengangkat alis padaku “Ayo kita pergi,”

Akupun langsung mengalihkan wajahku kepada Kai. Meminta padanya lewat tatapan mata, untuk sopan sedikit saja pada sunbaenya ini. Aku sedikit melotot pada namja itu. Tetapi ia tetap tidak menghiraukanku. Akhirnya Taemin yang memutuskan untuk pergi.

“Kalau begitu, aku duluan” Taemin berjalan melewatiku dan Kai yang sedang berpelotot-pelotot tidak jelas. Lalu melambaikan tangannya pada kami. Aku hanya mencelos melihat Taemin pergi. Aku tidak menyangka. Biasanya ia selalu membutuhkanku? Apa ia marah terhadap tingkah, temanku ini?

Kai masih menaruh tangannya di pundakku. Ia melihatku menatap bahu Taemin yang menjauh dan memindahkan tangannya tadi untuk memegang pipiku guna menoleh padanya. Aku pun merasakan sentuhan jari milik Kai dan entah mengapa spontan menyingkirkannya dari wajahku. Aku sedikit kesal.

“Ya, bisakah kau ini sopan sedikit? Dia itu sunbaemu” entahlah, mengapa aku jadi menyalahkan Kai dalam hal ini. Dari dalam hatiku, aku ingin Kai menjadi orang yang lebih baik. Terlebih lagi jika ia menghormati teman masa kecilku dulu, Lee Taemin. Meskipun aku tidak begitu menyukai tindakan Taemin terhadap diriku. Namun rasanya tidak sopan jika tidak menghargai senyum ramahnya.

Kai memegangi tangannya yang baru saja ditepis olehku. Ekspresi Kai hanya berubah sedikit dari wajah datarnya. Alisnya bertaut dan menatap wajahku lurus. Tajam.

Seakan tercengang melihat tingkahku.

“Apa aku terlihat terlalu buruk untukmu?” Kai masih menatap manik mataku. Pas sekali, sorot yang lurus. Hingga terasa tajam di benakku.

Aku menggeleng secepat mungkin. “tidak, aku ingin kau lebih baik memperlakukan orang-orang” setelah mengatakan itu, aku menggigit bibirku sembari mengalihkan tatapanku dari namja itu.

Aku hanya tidak mengerti.

Baru saja tadi malam aku senang menikmati waktu berdua dengannya. Namun mengapa kini? Aku sedikit kesal? Bukannya tadi malam justru aku kesal dengan Taemin karena dengan seenak jidat ia mencium tanganku?

Perasaanku ini sangat aneh.

Kai menunduk sesaat sambil memegangi kepalanya. Lalu, membuka mulutnya. Mengeluarkan suara beratnya. “Ya, terimakasih sudah mengingatkanku” Kai menghembuskan nafas , “untuk bersikap sopan” lanjutnya.

Aku merasa…

Kai menjadi tambah dingin.

Padahal baru tadi malam, aku … senang.

Aku pun memandang jam tanganku. Jam tangan mungil dengan tali yang sangat panjang. Tentunya berwarna pink. Kesukaanku. “Eh, kajja. Kita harus ke kelas” ujarku setelah mengamati benda mungil yang kusebut jam tangan itu.

Bukannya cepat bergerak. Kai malah semakin menghentikan langkahnya. Seakan-akan ada tali yang menariknya untuk tetap tinggal. Aku menoleh pada Kai. Ia meringis. Lalu berposisi menunduk lagi seperti tadi sembari memegangi ubun-ubunnya.

Aku memberinya tatapan sedikit khawatir. “Kai-a?” tanyaku memastikan ia menjawab.

Kai tidak menjawab. Aku pun semakin khawatir dibuatnya. “ada apa dengan kepalamu?” tanyaku. Ingin rasanya aku bertanya bertubi-tubi. Namun, kurasa otak Kai sedang bermasalah sehingga ia lamban dalam menjawab pertanyaanku barusan. Buktinya, ia tak kunjung menjawab.

“Kai-a?”

Semakin jengah. Aku tak mengerti mengapa Kai terus diam dan menunduk sembari mengelus-elus ubun-ubunnya. Tanganku mencoba meraih kepalanya tetapi ia menyela.

“Jangan sentuh kepalaku”

Aku pun berlagak mundur karena merasa sedikit takut. Dan menjauhkan tanganku sejauh-jauhnya dari kepalanya. Yang sekarang sedang dipeganginya erat-erat.

Aku gusar. Saat itu juga. baru kali ini aku melihat Kai meringis. Meringis yang benar-benar keterlaluan. Atau lebih tepatnya, baru kali ini aku melihat Kai berjuang melewati rasa sakit. Ini lain saat ia koma waktu itu. Ia tenang, berbaring, memejamkan matanya, tidak terlihat perjuangannya untuk melewati rasa sakit.

Namun kali ini… berbeda.

Aku hanya bisa memanggil-manggil namanya pelan. “Kai..” “Kim Jong In” aku memandangi wajahnya yang begitu meringis. Dan mengerjapkan mataku, sakit rasanya melihat Kai dalam keadaan seperti ini.

#

Seohyun dan Chanyeol masih berada di dalam bis menuju sekolah, SAS. Mereka duduk di kursi paling belakang. Seohyun sengaja memilih duduk di dekat jendela, agar dapat melihat pemandangan. Pemandangan inilah yang selalu dilihatnya berbulan-bulan. Gedung-gedung pencakar langit, orang-orang berlalu lalang, kota yang takkan pernah tidur, semua orang selalu sibuk.

Mata Seohyun sudah terbiasa melihat ini semua. Tidak seperti awal kedatangannya kesini. Yang menganga melihat kemegahan Seoul. Begitu juga Chanyeol.

“Hey, apa yang kau lihat?”

Suara Chanyeol terdengar berbisik di telinga Seohyun. Seohyun mendelik, sedikit kaget Chanyeol mengusiknya. Sedikit mendongak untuk menatap wajah Chanyeol. “Ah… “

Chanyeol terus diam. Menunggu jawaban Seohyun.

Homesick!” Teriakan kecil Chanyeol membuat puzzle-puzzle penyusun jawaban atas pertanyaan Chanyeol –yang ada di pikiran Seohyun—menjadi buyar.

Seohyun merona karena Chanyeol dapat mengerti isi hatinya dengan cepat. “Ya” desis Seohyun singkat dan pelan.

Tak disangka oleh Seohyun. Chanyeol tiba-tiba membuka mulut lebarnya.

“Oh~ Insandong~ aku rindu lautmu yang berkilau~” Chanyeol melantunkan sedikit lagu kebangsaan desanya. Mulutnya terbuka lebar untuk mengeluarkan nada-nada ‘indah’ itu. Giginya terpancar dan senyumnya melebar sembari menyanyi. Yeah, sebenarnya tidak terlalu buruk.

Seohyun pun beranjak tertawa. Apa ini? Chanyeol memang pandai membuatnya tertawa. Lagu kebangsaan itu terdengar lebih lucu jika Chanyeol yang menyanyikannya. Lirik-lirik indahnya pun jadi tidak berarti lagi. Berganti menjadi semacam lelucon di pikiran Seohyun.

Karena biasanya Seohyun menyanyikan ini dengan khidmat. Sedangkan Chanyeol menyanyikan lagu ini seperti penghiburan gratis di jalan.

“Ikan-ikan bermunculan~ Ohh~ indahnya desa kita~~” Chanyeol mulai melanjutkan nyanyiannya lagi. Kali ini tangannya dikepal seakan membentuk sebuah mikrofon. Seohyun kembali tertawa, tertawanya yang kecil berubah menjadi lebih liar. Ya tidak terlalu liar. Namun semakin keras.

Bis tentu saja tetap melaju. Keadaan dan orang-orang yang duduk di dalam bis tentu saja masih bersisa. Beberapa penumpang yang duduk di dekat Seohyun dan Chanyeol tersita perhatiannya pada mereka. Memandang kedua remaja itu dengan pandangan heran. Apalagi memandang namja bertubuh besar yang seolah-olah sedang bernyanyi di atas panggung solo konsernya. Suara beratnya menggema, membuat penumpang semakin menoleh dan berbisik-bisik. Lalu tertawa kecil

“Oh~~ Insandong desa ku yang tercinta~~”

Chanyeol tetap percaya diri melanjutkan nyanyiannya. Ia memejamkan matanya saat mencoba menggapai nada tinggi. Lalu Seohyun menghentikannya.

“Chanyeol… tolonglah ehmp—“ Seohyun ingin tertawa lagi. Tapi ia ingin terus melanjutkan kata-katanya.

“Hentikan, semua orang memerhatikan kita” Lanjut Seohyun. Dengan nada lembut dan berbisik. Masih ada sisa-sisa tawa di mulutnya.

Mulut besar yang bernyanyi seolah-olah di konsernya sendiri itupun berhenti sejenak, dan matanya membulat ketika melihat seluruh penumpang di depan matanya menoleh pada mereka berdua. Chanyeol pun memamerkan senyum giginya pada penumpang yang entahlah, merasa terganggu? Atau lebih tepatnya, terhibur!

“Hehe, miansahamnida” Chanyeol menundukkan kepalanya beberapa kali. Meminta maaf, begitu pula Seohyun. Dengan wajah merona karena malu Seohyun pun menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Chanyeol-ah…” ujarnya bergumam di dalam dekapannya sendiri.

Chanyeol bergumam mendengar Seohyun memanggilnya. “Hmm?”

“Lain kali hibur aku—“

“seperti tadi” Ujar Seohyun jujur, lalu tersenyum.

#

Kai bersikeras bilang—dengan wajah dinginnya—bahwa ia tidak apa-apa.

“aku tidak apa-apa”

“tapi.. kau tadi meringis!” ujarku sedikit ngotot sembari menatapnya dalam.

Dia tidak memerhatikan kekhawatiranku. Atau lebih tepatnya tatapan cemasku dan mengabaikanku. “aku bilang aku baik-baik saja” ujarnya, kulihat wajahnya berubah menjadi ketus. Dan setelah kulihat-lihat lagi. Warna kulitnya berubah menjadi kemerahan. Diseluruh wajahnya. Sebenarnya ada apa ini?

Kai pun kembali berpangku tangan di atas meja. Sembari memejamkan mata. “aku mau tidur, tolong jangan ganggu aku”

Terdengar nada dingin dalam ucapannya. Tetapi aku bersyukur mendengar kata ‘tolong’ di dalam ucapannya. Itu sedikit berkesan. Maksudku, kata ‘tolong’ sangat menghangatkan hatiku. Walau kedengarannya sepele.

Aku pun beranjak bangun dari bangkunya. Berusaha meninggalkannya sendirian disana. Sebelum aku benar-benar pergi darinya. Aku bilang padanya, “Kalau butuh bantuan, panggil aku”

Rasa kesal tadi pagi—di koridor—sungguh tidak berbekas saat aku sadar Kai sedang mengalami sakit. Buktinya ia meringis? Aku memang bisa menjadi sangat lemah jika menghadapi orang yang sedang sakit.

Ya, kalau kau mau tahu. Aku sangat sangat ingin merawatnya. Duduk di sebelahnya sepanjang hari.

Wae?” Suho yang baru menggeser pintu kelas, spontan mendekati kami. Kebetulan aku memang belum terlalu jauh dari bangku Kai.

“Anu..” aku mencoba menjelaskan pada Suho.

“Aku tidak apa-apa” Kai langsung bangun dari kegiatan berpangku tangannya tadi. Menatap Suho dengan pandangan datar, tak ada sedikitpun terbesit di wajahnya bahwa ia sedang menahan rasa sakit dan meringis. Sungguh berbeda seperti tadi. Aku rasanya ingin menjerit pada Kai ‘kau tidak baik baik saja! Kau sakit Kim Jong In! kau butuh perawatan!’ tetapi aku tidak tega membentaknya dalam keadaan seperti ini.

Suho semakin mendekat ke arah Kai dan duduk di sebelahnya, seperti yang kulakukan tadi. “Bisakah kau jujur saja dengan keadaanmu? Kau tahu kami sangat khawatir”

Suho benar-benar mengerti bagaimana membujuknya.

Namun, Kai tidak bergeming dan tetap menggelengkan kepalanya.

Sekarang, aku ingin sekali memaksa ia mengatakan yang sebenarnya.

Sret, aku mendengar pintu digeser lagi. Langsunglah masuk Seohyun dan Chanyeol dari sana. Dengan ekspresi cerah. aku hanya tersenyum tipis pada mereka dan menelengkan kepalaku kepada Kai yang sedang diintrogasi Suho.

Author POV

Chanyeol pun berlari terbirit ke arah meja Kai. Di atas meja Kai, Kai hanya duduk seperti biasa. Bertingkah malas dan menjawab seluruh pertanyaan demi pernyataan yang diajukan oleh Suho. Lalu menatap hyung nya itu dengan tatapan ‘aku baik-baik saja’. Kai menguap lalu bertingkah seolah-olah ia mengantuk. Namja ini mengusir Suho secara halus dari mejanya. Sengaja tidak memperhatikan Chanyeol yang mulai datang ke arahnya.

“Hei”

Chanyeol menelengkan kepalanya pada Kai. Berusaha mengintip ekspresi wajah Kai dari arah bawah. Lalu Kai tetap mengabaikan Chanyeol dan menaikkan alisnya pada namja yang terkenal jahil itu. Chanyeol sungguh tidak tahu jika kepala Kai sakit parah.

“Kau tidak membalas sapaan hangatku kawan” Chanyeol menatap lurus Kai yang berwajah lemas. Atau lebih tepatnya, dibuat-buat datar.

“Ayo high five! Mengapa kau tampak tidak bersemangat hari ini?” Chanyeol mengukir senyum di wajahnya lalu mencolek dagu Kai jahil. lalu memandang Kai yang notabene namja dengan pandangan genit.

Kai mundur dari Chanyeol secara refleks. Dan melempar tatapan menjijkkan pada namja yang telah mencolek dagunya sembarangan. Dagu Kai yang sedikit terbelah di ujungnya itu telah ternodai oleh kegenitan namja super jahil, Park Chanyeol.

Kali ini baru Kai angkat bicara. “Apa yang kau lakukan huh?” menatap dengan pandangan sedikit sinis. Kebetulan saat itu juga, rasa sakitnya sudah sedikit berkurang.

Chanyeol hanya tertawa dan otomatis menepuk bahu Kai. Kai menjadi sedikit takut dan segera menepis tepukan Chanyeol dengan enggan. “Apa?” Tanya Kai lagi.

Chanyeol menghembuskan nafasnya lalu kedua tangannya yang besar itu bertumpu pada meja Kai. Chanyeol menatapnya seolah-olah ingin menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar.

“Aku tahu kau mau bicara sesuatu” Ujar Kai mencoba to the point. Ekspresi namja beraura dingin itu tampak tidak melunak sama sekali. Masih datar dan meringis.

Leera tampak memerhatikan itu dari jauh. Pikirannya melayang-layang. Sebenarnya apa yang dibicarakan Kai dan Chanyeol? Atau lebih tepatnya, apa yang sedang dirahasiakan kedua namja yang sempat memikat hati Leera itu? Sebuah rahasia? Lagi?

Leera menjadi semakin penasaran. Namun, sialnya Chanyeol mengajak Kai untuk keluar kelas. Leera pun segera membulatkan matanya. Ketika Kai masih meringis memegangi kepalanya. Atau lebih tepatnya ubun-ubunnya. Ada apa sebenarnya dengan kepalanya? Bukannya kemarin dia tampak baik-baik saja?

Kali ini semua tampak membingungkan di benak Leera.

Apa itu? Ada apa di kepalanya?

#

“apa dia selalu menganggumu?”

Kai perlu banyak waktu untuk mencerna seluruh perkataan Chanyeol. Tidak ada yang masuk akal baginya sekarang—sejak kepalanya merasa sakit—omongan Chanyeol bagai angin yang masuk ke dalam otaknya lalu pergi lagi, menghilang tanpa jejak.

Ia tidak mengerti sama sekali.

Sampai akhirnya ia melihat wajah Chanyeol yang mulai mengabur. Mengabur. Dan mengabur. Hidung mancung Chanyeol dan telinga besarnya seakan-akan pudar. Menghilang. Melesat pergi dari pandangan Kai.

Chanyeol terus mengoceh tentang idenya. Menuangkan sedikit demi sedikit pemikirannya dan tentu saja rencananya pada namja ini. Namun Kai malah semakin meringis dan mengeratkan pegangan pada kepalanya.

Lalu Kai merasakan rasa sakit itu mengalir ke tengkuknya. Pundaknya.

Kai masih meringis. Rasanya tak ada oksigen lagi yang dapat ia hirup. Pandangan matanya mulai pudar. Dan tubuhnya serasa di remuk sebuah batu. Pertahanannya mulai pecah. Tubuh tingginya itu melemah. Sehingga ia …

“Kai-a? kau kenapa? Gwaenchanayo?”

Chanyeol mulai tersentak melihat Kai yang benar-benar membatu tidak merespon sedikitpun kata-katanya. Biasanya Kai akan menjawab sedikit demi sedikit, karena pribadinya yang tidak banyak omong. Tetapi ini lain. Chanyeol merasa ada yang tidak beres.

Kai hampir oleng. Ia tetap berusaha menahan seluruh rasa sakit yang menyerangnya sekarang. Tetapi, percuma. Otaknya tak dapat mengendalikan sarafnya. Kai pun mulai jatuh ke depan.

Terdengar sedikit remang kata dari Kai yang oleng. “bekas ope, operasi..”

Lalu tubuhnya sudah jatuh. Kai sudah tidak dapat melihat apa-apa lagi. Pandangannya hitam. Namun, rasa sakit itu. Semuanya lenyap tak bersyarat. Hanya kata-kata tadi yang setidaknya dapat memberikan jawaban.

Bekas Operasi?

Bersyukur sekali. Chanyeol menangkap tubuhnya yang begitu berat. Lalu berusaha mencari bantuan.

Wajahnya dipenuhi rasa takut dan cemas. Alisnya menekuk pertanda khawatir tentang apa yang terjadi. Chanyeol benar-benar panik dan segera memanggil yang lain.

“Tolong! Kai pingsan!”

Leera pun segera berlari ke arah suara. Menghampiri Kai yang telah ambruk. Dengan perasaan panik.

#

Kim Hyunsik tampak menyesap teh. Bersandar di sofa nyaman berwarna kemerahan. Merasakan sensasi lembut memijat punggungnya. Sungguh nyaman berada di rumah Park Nami. Sudah dari 10 menit yang lalu mereka berbincang-bincang. Membahas apapun yang dapat mereka bahas. Persahabatan mereka sejak kecil, perkawinan, berlian, liburan, kerja, suami, dan anak-anak mereka.

Terkadang ada canda yang membuat mereka tertawa saat melihat dan mengingat-ingat kembali masa lalu. Saat mereka masih satu sekolah. Tak jarang juga Hyunsik memutar masa-masa kritis Kai dan dirinya yang hampir gila karena kecelakaan itu. Wanita itu benar-benar bersyukur anak lelakinya itu tidak apa-apa. Karena hanya ia satu-satunya harapan mereka.

Dandanan kedua wanita ini sangat similar. Hyunsik. Rambut hitam berkilau, lurus, dengan gaya bob khasnya. Dan anting-anting panjangnya yang menggantung di telinganya. Benda kecil menggantung itu seringkali berkilau dikala cahaya menerpanya. Membuat Hyunsik menjadi wanita yang identik dengan kilauan. Lalu Nami, memilih potongan rambut pendek juga. Rambut coklat dengan sedikit sapuan warna merah. Membuatnya terlihat elegan.

“Apa yang kau pikirkan tentang anakku, Nami-a?”

Hyunsik menelusuri mata Nami yang bulat persis anaknya, Park Leera.

Sebelum menjawab pertanyaan itu. Nami tertawa, membayangkan wajah Leera yang bersemu merah kemarin—saat makan malam—

“Kurasa dia telah membuat anakku mabuk cinta” Nami masih tertawa, mempelihatkan gigi-gigi kecilnya yang putih. Tertawa dengan gaya yang sedikit berlebihan itu menjadi ciri khasnya. “Leera jelas-jelas menunjukkan bahwa ia—“

Namun Hyunsik memotongnya, “Jinja? Oh! Maksudku Jongin tidak pernah berbuat baik pada orang-orang sebelumnya. Aku nyaris tidak percaya.”

Nami mengangkat alisnya sedikit prihatin. Sedikit tertegun. “Kau bilang waktu itu, ia berubah bukan? Dahulu, ia begitu manis. Mungkin sekarang, ia berubah”

Hyunsik menyesap teh nya lagi. Lalu menaruhnya di atas piring kecil. “Begitukah?”

“Aku saja hampir lupa dengan semua fakta itu. Ya, kau benar. Dulu, saat ia punya seorang teman kecil. Yang juga bermarga sama denganmu” Hyunsik mulai memperdalam topik ini. Lalu menggali-gali ingatannya.

Kemudian Hyunsik teringat dan mengeluarkan telunjuknya ke udara. “aku ingat! Keluarga Park. Yang bangkrut itu. Ia pindah ke kota lain. Hidup di Seoul memang benar-benar butuh perjuangan. Mungkin di kota itu. Ia bisa mendapatkan keuntungan lebih besar.” Di akhir kalimatnya wanita ini meneguk ludahnya.

Nami menyimaknya dengan serius. Lalu menampakkan air muka penasaran. “lantas? Sekarang apa yang terjadi dengan mereka?”

Hyunsik menarik nafasnya dalam-dalam “Molla, Jongin tidak pernah cerita lagi kepadaku. Kalau tidak salah, nama teman kecilnya itu. Park Jiyeon” Ibu Kai ini tidak tahu menahu bahwa anak lelakinya pernah jatuh hati dan sekaligus patah hati karena nama itu. Bahkan ia tidak tahu kisah antara anaknya dan Park Jiyeon tersebut.

Juga, ia tidak tahu sama sekali kaitan antara Jiyeon dan kecelakaan itu. Terlebih sekarang, Kai sudah kehilangan sebagian ingatannya tentang Jiyeon. Ya, ingatan tentang Jiyeon yang dulu sangat melekat hingga membuatnya hampir nekat dan gila. Tetapi, sekarang justru ingatan itu pudar begitu saja. Hyunsik mungkin tidak akan pernah mendengarkan kisah Park Jiyeon lagi.

“Kedengarannya seperti nama yang familiar.” Nami berujar singkat lalu melanjutkan. “OH iya! Aku baru ingat!”

Hyunsik menautkan alisnya “Wae?” tanyanya melihat reaksi Nami yang begitu antusias.

“Kurasa Tuan Park adalah kerabat dari Presdir Lee. Aku rasa aku pernah mendengar tentang sebuah kasus kebangkrutan. Sekitar, 2 tahun yang lalu.” Nami mengangguk mantap.

Presdir Lee. Berarti keluarga dari seorang Lee Taemin.

“Oh? Begitu rupanya. Dunia benar-benar begitu sempit.” Hyunsik menjawab antusias.

#

POLIKLINIK

“Kai-a!”

“Kim Jong In”

Tubuh besar Kai terbaring di atas ranjang putih POLIKLINIK. Posisi tidurnya yang tegap dan kaku menandakan dia benar-benar tak sadarkan diri. Kelopak matanya yang sangat teduh ketika tidur masih terpejam. Ruangan POLIKLINIK itu tampak sepi. Satu-satunya siswa yang dirawat disana adalah Kim Jong In. karena serangan sakit secara mendadak di bagian kepala. Kepala Kai tentu saja tidak diperban atau apapun. Karena tidak terlihat luka fisik. Secara keseluruhan, kepala Kai—secara fisik—baik baik saja dan tim dokter sekolah yakin bahwa ia hanya mengalami pusing biasa.

Bekas operasi

Kai memang mengalami luka berat di bagian kepala saat ia mengalami kecelakaan dulu. Dan itu sudah beberapa minggu yang lalu. Tentu saja perawatan modern dari rumah sakit sudah benar-benar menyembuhkannya. Namun mengapa sekarang Kai masih merasakan sakit di kepalanya?

“Kau bisa menjaganya ?” seorang perawat POLIKLINIK mendelik pada Leera dari balik maskernya. Seharusnya, perawat itu menjaga siswa yang sakit—Kai—Namun, karena ia ada sedikit urusan. Ia terpaksa meninggalkannya. Untung saja ada seorang siswa yang setia menjaga Kai. Park Leera.

Gadis itu mengangguk lemah dan menatap Kai dengan ludah diteguk. “Tentu saja”

Perawat itu pun mengucapkan terimakasih dan menuju keluar POLIKLINIK. Menutup pintu beruangan AC itu dengan lembut. Menciptakan bunyi decitan yang khas. Seiring bunyi decitan itu terdengar di telinga Leera. Semakin ia sadar betapa dinginnya ruangan ini.

Kini hanya ada dirinya dan Kai.

Sebenarnya banyak yang prihatin dengan keadaan Kai. Gank EXO dan Seohyun berbondong-bondong mengerubungi tubuh Kai yang tertidur di POLIKLINIK. Namun, perawat mengatakan bahwa hanya satu siswa yang boleh menemaninya. Sisanya harus melaksanakan KBM seperti biasa. Karena semua orang berfikiran sama. Akhirnya mereka menyuruh Leera untuk menemaninya.

Kai masih terlihat tenang. Entah tertidur entah pingsan. Leera mempunyai hasrat untuk menyentuhnya. Setidaknya ia ingin mengecek suhu tubuh Kai sekarang. Apa ia demam? Atau memang rasa sakitnya itu berasal dari bekas operasinya?

Dengan rasa ragu yang besar. Leera mulai menggerakan punggung tangannya untuk meraih dahi namja yang terbaring tersebut. Lalu ia merasakan darahnya berdesir saat menyentuhnya. Benar, ia tidak demam. Tidak ada rasa panas sama sekali pada dahinya. Ia tidak demam. Lantas ia kenapa? Bekas operasinya?

Leera benar-benar khawatir akan keadaan Kai. ingat saat ia menangisi Kai sepanjang namja ini koma? Beginilah kira-kira rasanya sekarang. Leera takut Kai akan mengalami rasa sakit itu lagi.

Mata terpejam, pahatan wajahnya yang sempurna, air mukanya yang teduh saat tertidur membuat Leera merasa nyaman dan sakit pada satu waktu. Nyaman. Tentu saja. Melihat namja dengan ekspresi wajah seperti ini sungguhlah nyaman. Namun, menyadari bahwa ia sedang bertempur melawan rasa sakit itu menyakitkan.

“Ah…” Kai meringis dalam tidurnya. Giginya bergemeletuk dan tangannya bergerak-gerak tidak jelas ingin meraih sesuatu di kepalanya.

Dengan spontan, Leera yang melihat itu langsung menangkap tangan Kai agar tidak terlalu banyak bergerak. Ia menaruhnya lagi di atas ranjang dan menggenggamnya dengan erat.

“Tsk, tenanglah.” Leera mencoba menenangkan.

Kai semakin meringis dan Leera semakin mengeratkan genggamannya. “Tenanglah. Aku disini.”

Dengan sedikit rasa takut dan ragu. Leera ingin mengelus kepala Kai yang dingin. ingin membuatnya tenang dan menyebarkan rasa hangat padanya lewat sentuhan lembut miliknya.

Leera mulai mendaratkan telapak tangannya pada dahi Kai dan akar-akar rambutnya di atas kepala. Lalu mengelusnya secara teratur dan hati-hati. Berulang kali dan berulang kali. Semakin lembut dan semakin lembut. Hati Leera menjadi hangat ketika melakukannya. Apalagi ia terus melakukan itu dengan terus memandang wajah teduh seorang Kim Jong In yang sedang tertidur.

Dia memang cute saat tidur seperti di apartemen dulu.

Lalu tak disadari senyum Leera tertarik. Masih terpaku menatap wajah Kai yang begitu teduh.

Jari-jari Leera terus menyapu helai demi helai rambut hitam milik Kai. rasanya benar-benar halus. Ia senang merasakannya. Setelah melakukan itu terlampau lama, Leera baru sadar bahwa Kai sudah tidak meringis lagi. Leera senang usahanya berbuah juga.

Akhirnya Leera terus melakukan itu. Sembari tangannya yang sebelah kanan bertumpu pada ranjang agar ia bisa menyandarkan kepalanya di tangannya tersebut. Tentu saja untuk tidur. Sewaktu Leera ingin memejamkan matanya dan menghentikan usapan lembutnya pada dahi Kai, sebuah tangan yang lebih besar dari tangannya menangkupnya.

Kai? sudah bangun?

“Jangan berhenti”

Ujar Kai sembari menyelimuti telapak tangan Leera dengan tangannya.

Leera tercengang mendengar suara di dekat wajahnya dan sebuah tangan yang tiba-tiba menyelemuti tangannya yang sedang mengusap dahi Kai. ia sudah bangun?

Ribuan rasa syukur terucap dalam hati Leera saat menyadarinya.

“aku menyukai itu”

Refleks, detak jantung Leera seolah berhenti. Ia meneguk ludahnya mendengar Kai mengatakan kata-kata itu dengan nada lelah dan rapuh. Leera masih terbengong sehingga ia belum melanjutkan usapan tangannya kembali.

“lakukan lagi” ujar Kai memohon dengan nafasnya yang menyapu wajah Leera yang berada di dekatnya.

Serius? Kai minta aku melakukannya lagi? Leera rasanya ingin menampar dirinya sendiri. Rasanya begitu aneh jika Kai memintanya.

Kini ruangan POLIKLINIK yang seakan kosong itu mulai hidup.

Leera dengan pelan dan sedikit kikuk mulai mengusap kepala Kai lagi secara konstan. Lalu memberanikan diri untuk berbicara. Seakan-akan ia tidak gugup “untung kau sudah bangun”

Kai melakukan smirk mendengar Leera berbicara dengannya. “Ne, rasanya aku tidak bisa apa-apa tadi. Tubuhku begitu kaku” ujarnya masih pelan dan rapuh. Dan jangan lupakan bahwa Kai berbisik.

Leera masih merasakan detak jantungnya yang beradu sedari tadi. Semakin Kai membuka mulutnya dan berbisik, semakin membuat darahnya berdesir dan jantungnya kehilangan kendali.

dasar kim jong in

Leera baru saja tersadar bahwa sedari tadi Kai memerhatikan wajahnya yang sedang serius mengusap kepalanya. Tentu saja lama-kelamaan Leera menjadi tidak nyaman dan mengalihkan pandangannya. Untung saja pipinya memerah di saat ia memalingkan wajahnya. Kalau tidak, bisa gawat kalau Kai menyadarinya.

Kai terus memerhatikannya.

Terus memerhatikannya.

Sembari menarik senyum tipis nan rapuh.

Akhirnya Leera mengungkapkan ketidaknyamanannya. “Ya! Mengapa melihat wajahku seperti itu?” ujarnya sedikit menjerit namun ia pelankan karena sadar namja di depannya ini masih terlalu rapuh.

Jangankan membalas jeritan Leera. Kai justru tertawa melihat tingkah Leera. Tertawa kecil yang membuat mata elangnya menghilang dan bibirnya yang tertarik membuat seluruh giginya terlihat. Leera merasa kehangatan membalut tubuhnya saat melihat tawa Kai.

Mengapa tawanya begitu hangat?

Namun di depan Kai, Leera hanya mendengus kesal. “Kau ini!”

Kelihatannya Kai tidak menggubris sama sekali dengusan kekesalan Leera dan tetap menatap wajah Leera.

Tidak terprediksi Leera sama sekali. Tiba-tiba Kai mengatakan hal yang tidak terduga.

“Berbaring di dadaku”

Leera membulatkan matanya “Mwo?” Tanya Leera ragu ia salah mendengar. Apa sebenarnya yang terjadi pada Kai sehingga ia mengatakan ini?

untuk apa?

Leera menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tsk. Untuk apa aku berbaring di dadamu eoh?”

Leera membayangkan kepalanya yang berada di atas dada Kai yang sedang berbaring. Mendengar detak jantung Kai.

Merasakan helaan nafasnya.

Leera pun memejamkan matanya mencoba membuang semua khayalan-khayalan aneh di kepalanya.

“Kau tidak ingin aku sehat kembali?” Kai berdesis pelan. Manik mata coklatnya yang padat menembus manik mata Leera dalam-dalam. Seakan memohon padanya. “Mungkin dengan seperti itu. Aku bisa merasa lebih baik”

Leera mengangkat pundaknya dan hendak menggeleng. Namun, tangan besar Kai telah menariknya kedalam pelukannya. Kini kepala Leera telah berada di dalam dekapan Kai. di atas dadanya.

Leera merasakan detak jantungnya yang begitu cepat beradu dengan detak jantung milik Kai. yang sekarang dapat ia dengar lewat telinga sebelah kanannya—yang langsung berhadapan dengan dada Kai. spontan mata Leera membulat. Begitu tercengang dengan tindakan Kai terhadapnya. Menariknya ke dalam pelukannya? Dalam keadaan rapuh seperti ini?

Suara air conditioner melewati telinganya. Mereka berdua sadar bahwa ruangan ini begitu sunyi. Dan mereka sadar mereka saling mendengar detak jantung masing-masing.

“Mengapa detak jantungmu begitu cepat berpacu?” Kai berbisik di tengah-tengah pelukannya. Tentu saja detak jantung Leera semakin cepat lagi. “Mengapa sekarang bertambah cepat?”

Bodoh! Pertanyaan bodoh Kim Jong In!

Tentu saja akan terus bertambah dan bertambah cepat. Apalagi prilaku Kai sekarang begitu … hangat pada Leera. Bagaimana detak jantung Leera tidak stabil?

Namun Leera juga turut mengetahui, bahwa detak jantung Kai berpacu seiringan dengannya. “Kau juga” jawab Leera. Namun tidak menjawab pertanyaan Kai.

Kai terdengar bergumam kecil. Leera juga. Karena mereka sama-sama tak tahu ingin mengatakan apa lagi. Mereka terdiam di masing-masing kehangatannya. Ingin momen ini tak segera berakhir.

Untung saja petugas POLIKLINIK tidak segera kembali.

“Leera-a…”

Kai bergumam sembari berbisik. matanya terpejam, hanya mulutnya yang membuka memanggil nama yeoja yang ada di dekatnya. Leera langsung membalas panggilannya “Mwo?”

Kai menghembuskan nafasnya kecil. Takut mengenai wajah Leera.

“Aku ingin kau menemaniku sepanjang hari ini. Sepulang sekolah. Bersamaku.”

Deg

Leera tak tahu harus merespon apa. Seakan dunia berhenti, perkataan Kai mengambang-ambang di udara. Membuat jantung Leera semakin berdebar. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Bersama Kai sepanjang hari? Menemaninya? Berdua saja?

Seluruh perkataan Kai mengubah mindset Leera sepenuhnya.

Leera tak sanggup menjawab permintaan Kai tersebut. Ia masih diam. Mencerna. Berfikir. Entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Yah, aku hanya ingin ada seseorang menemaniku selagi sakit. Tetapi, aku ingin keluar. Mungkin kita bisa pergi ke suatu tempat.”

Jadi? Ini adalah permintaan Kai karena ia sedang sakit? Leera semakin mengolah perkataan Kai. Semakin ia mengolahnya. Semakin jelas bayang-bayang Kai berjalan berdua bersamanya. Tertawa. Memandangi matahari terbenam. Leera sempat bertanya-tanya. Mengapa harus dia?

“Er… ” Leera bergumam kecil. Pertanyaannya sudah ada di tenggorokannya. Sedikit lagi.

Kai masih memejamkan matanya. Tetapi tetap memasang telinga apabila Leera ingin berbicara. Toh, suara Leera juga bergema di dadanya.

“Tetapi, Wae? Mengapa mesti aku?”

Kai hanya tersenyum kecil dalam diam menanggapi pertanyaan Leera. Lalu wajahnya ia netralkan kembali. Kai berdeham. “Ya, karena yang ada disisiku sekarang adalah kau”

Leera tertegun. Berada disisi? apa itu artinya, berada di hati? atau… hanya sebuah klise yang … apa, apa maksudnya ini? Apa rasa percaya diri di dalam hati Leera terlalu besar. Atau Kai hanya membual?

“Maksudku, Aku tidak mungkin kan mengajak Sehun atau Chanyeol? Aku memilihmu” Kai melanjutkan perkataannya dengan sedikit tertawa kecil. Membuat telinga Leera yang mendengar tertawannya sedikit bergetar. Suara Kai yang sekecil apapun, dapat terdengar jelas pada Leera karena posisi mereka sangat dekat.

Perkataan Kai masuk ke dalam otaknya dua kali. Merasa sedikit tidak puas dengan jawaban Kai. Mengapa ia membandingkanku dengan Sehun dan Chanyeol? Leera sedikit mendengus dalam hati. Leera merasa dipermainkan. Apa yeoja ini hanya dimanfaatkan selagi Kai sakit? Jika begitu, Leera tentu saja tidak terima!

Tetapi,

“Aku akan sangat senang jika kau mau ikut bersamaku. Karena segala hal tentang sekolah sangat membuatku pusing dan aku butuh udara segar di luar agar kepalaku dapat membaik.”

Oke baiklah Kim Jong In. Sekarang apa yang kau katakan?  dia membujukku untuk membolos?

“Kita bisa pergi sekarang. Hingga bel pulang sekolah.” Kai mengatakannya dengan nada parau. Mungkin karena suaranya yang sedikit serak.

“Jadi, kau akan pergi sementara kepalamu masih sakit?” Leera memandang Kai dari balik sandarannya dengan alis mengangkat. Kai memang benar-benar nekat.

Tetapi justru pertanyaan itu dibalas tawa renyah dari seorang Kim Jong In. Tawa renyah yang rapuh. “Kau bercanda? Babo. aku sudah membaik sejak aku sadar kau menemaniku.”

“Sudah kubilang” Kai mengakhiri pengakuan tersiratnya. Namun Leera tidak menangkapnya dan hanya terbengong-bengong.

M,mwo? aku?” Tanya Leera terbata sembari membulatkan matanya. “Ap, apa maksudmu?” Tanya yeoja yang punya daya pikir kurang itu. Ia memang benar-benar tidak sadar Kai sedang mengungkapkan sesuatu yang penting.

Menyadari Leera yang tidak menangkap maksudnya. Kai pun memutar matanya. “Ah, yasudah kalau kau tidak mengerti. Dasar babo.”

Leera pun tidak menyangka ia diejek di tengah-tengah rasa bingungnya. “Ya! berhenti mengejekku!” Leera langsung bangun dari sandarannya dan membiarkan Kai berbaring tanpa dirinya di atas dadanya. “Ya!”

Leera pun bersungut kesal dan membersihkan dan memukul-mukul seragamnya yang sedari tadi tersentuh tubuh Kai seolah-olah jijik. “Aku menyesal berbaring di sana.”

Kai kembali tertawa kecil. Tawa yang sangat benar-benar langka. “Terserah” katanya sembari memandang Leera yang bersungut.

“Sebagai kompensasinya. Aku akan mentraktirmu apa saja yang kau mau. Bagaimana?” Tanya Kai kembali cerah. Anehnya wajah datarnya itu sedikit luntur. Mungkin karena ia ingin membujuk yeoja itu. Takut-takut ia marah dan tidak mau menemaninya membolos.

Leera yang masih bersungut terlihat berfikir layaknya anak umur 5 tahun. Ia memandang langit-langit lalu bergumam-gumam. Menimang-nimang tawaran seorang Kim Jong In. “Hmm…”

Kai pun bangun dari ranjangnya dan berdiri sembari mengepak-kepakan seragamnya yang lusuh. “Jangan terlalu lama berfikir. Atau kesempatan akan hilang.” Ujarnya sembari menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari. Lalu melakukan smirk.

Terdengar kesenyapan yang terlalu lama. Hingga akhirnya seseorang bertutur. “Baiklah”

#

Kelas

Chanyeol diliputi rasa cemas dibalik wajah seriusnya yang memerhatikan sasangnim.

“Tolong pahami bagan ini. Ini adalah bagan persilangan bunga Andromed yang langka. Bunga ini dapat menghasilkan warna-warna–”

“Jika bentuk 34-b disilangkan dengan 12-a maka variabelnya menjadi–”

Sedari tadi guru sainsnya menjelaskan tentang persilangan bunga yang entahlah. Chanyeol malas untuk memerhatikannya. Tetapi. Otaknya yang jenius itu walau tidak memerhatikan sekarang tetapi tetap akan bekerja saat ujian.

Sedangkan, Seohyun memerhatikan dengan serius. Matanya tidak berkutik sama sekali dari papan tulis & sasangnim. Seohyun tahu, ini adalah mata pelajaran utama yang akan dimasukkan dalam ujian kenaikan kelasnya. Seohyun harus berjuang untuk memahaminya.

Chanyeol mencuri pandang pada jendela kelasnya. Matanya menyorot lantai satu. Tempat dimana POLIKLINIK berada. Kira-kira apa yang terjadi pada Kai. Bekas operasi?

Chanyeol terus menyorot ruang POLIKLINIK dengan seksama dan memerhatikan.

Sedangkan Gank EXO yang lain. Mereka sama cemasnya dengan Chanyeol karena Kai bagaimanapun juga adalah sahabatnya. Mereka tak sabar menunggu bel istirahat, agar dapat mengunjungi Kai di POLIKLINIK. Ibu Kai tentu saja sudah tahu tentang kejadian ini.

flashback

“Jongin? Kau kenapa?”

Kai meringis memegangi kepalanya sedari tadi. Ibunya mendengar suara ringisan yang besar dari kamar Kai sejak tengah malam. Tepatnya pukul 12.00. Ibunya pun segera berlari ke kamar putranya. Membuka pintu dengan kasar dan berlari menghampiri tubuh rapuh Kai yang berada di ranjang kamarnya.

“Jongin? ” Ibunya terus memeluk Kai yang kesakitan. Lalu manik mata Ibunya tersita pada kedua tangan besar Kai yang terus memegangi kepalanya.

“Sakit…” Bisik Kai dalam kerapuhannya. Ibunya terus menenangkannya dan berbisik kalau semuanya akan baik-baik saja.

“Tidak apa-apa.” Ujar Ibunya. Namun dengan alis yang ditekuk ingin menangis. Ia ingat kata dokter beberapa minggu yang lalu saat Kai dipulangkan dari rumah sakit. Tetapi, ia tetap tidak boleh memberi tahu hal itu pada Kai.

“Kau akan baik-baik saja.” Ujar Hyunsik yang notabene adalah Ibunya Kai. Mata Kai memerah dan terus memegangi kepalanya. Ibunya semakin memeluknya erat. Seakan menjaganya.

Kai tetap bungkam di tengah-tengah ringisannya. Ibunya pun mengusap kepalanya dan mencium puncaknya. “Kau akan baik-baik saja, Jongin.” Ucapnya lembut namun suaranya bergetar.

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku” Kai tiba-tiba berbisik pada Ibunya. Dengan nada terbata. dan rapuh.

Ibunya dengan cepat menggeleng. “Tidak, Jongin. Ani.” Lalu wanita itu mencoba tersenyum.

Namun Jongin tidak mau mengabaikannya begitu saja. Ia tetap mengingatnya. “Aku tahu” Ujar Jongin.

Namun Ibunya tetap menggeleng.

Hingga akhirnya rasa sakit yang menjalar di dalam kepalanya berhenti.

flashback end.

“Kau yakin Kai baik-baik saja, hyung?” Tanya Kyungsoo. Melirik Suho yang berada di belakangnya.

Suho meneguk ludahnya lalu menjawab. “Ne, kita doakan saja yang terbaik” Ujarnya. Dengan nada bijaksana seperti biasa.

“Operasi itu sepenuhnya berhasil. Jangan khawatir. Nyonya Kim bilang, bahwa Kai seperti itu karena dia kurang istirahat–”

“–dan juga terlalu banyak berfikir.”

Kyungsoo menautkan alisnya dan kepalanya pun mendongak seutuhnya kepada Suho. “Kai? Kurang istirahat? berfikir?” Kyungsoo cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Kai bukan tipe yang suka berfikir.” Ujarnya.

Suho hanya mengangkat bahunya, “Molla. Mungkin ada hal lain yang Kai sedang pikirkan.”

Kyungsoo hanya menghembuskan nafas tidak puas lalu kembali memutar kepalanya. Memerhatikan sasangnim.

Sedangkan Chanyeol. Yang sedang mengamati jendela kelasnya. Mendapati, dua orang siswa keluar dari ruang POLIKLINIK. Lalu berjalan menuju pintu gerbang dengan cerdiknya.

Mata Chanyeol membulat ketika menyadari bahwa.

Mereka berdua adalah Kai dan Leera.

#

“Kita hendak kemana?”

Leera memandang kaca mobil di depannya. Jalanan terlihat kosong sehingga Kai mengambil kecepatan tinggi untuk mobilnya.

“Kau gila!” Teriaknya saat Kai menginjak gas.

To Be Continued

Bete banget. Suka kehilangan feel kadangan klo nulis ff ini soalnya udh rada basi di otak aku. Anyway beberapa ff ku password karena ada yg smbarang ngeshare ff aku tanpa persetujuan yg jelas. Pengen liat aja siders bermunculan🙂 Khusus s1 p16 aku password ya, mian. Maklumin aja klo update ff ini lama. Hehe thanks all udh relain baca ff abal ini !😄

PLEASE GIVE A REVIEW TO ME WITH ASK.FM! CLICK THE LOVE SIGN

294 comments

  1. hay sasaaaa😀 haha kayanya aku setuju deh sama kamu, pas aku baca part ini emang rasanya kaya ga ada feelnya kaya yg sebelum2 nya hehe but fighting and keep writing yaaa😀

  2. aduh, kasian kai *hug* iya sih, di part ini feelnya kurang dapet, kaya datar aja gitu._. tapi gapapa, aku tetep suka kok ceritanya🙂 oh, aku mau koreksi sedikit, yang bener itu ‘seonsaengnim’ bukan ‘sasangnim’😉

  3. sumpah makin gregetan sasa. btw kpn mrka jadian yah. pgn kai cemburu lagi dong hehe. jiyeon jgn muncul lg yah pergi jauh-jauh ajh

  4. apasih yang disembunyiin sama hyunsik? ahh penasarann ‘-‘

    kai sama leera gila emang yaa, lagi sakit malah bolos, Dan bodohnya malah ketahuan sama chanyeol hahaa.
    aku seneng sama karakternya kai Yang strong haha

  5. Daebakk!!🙂 kak sasa, omcia s2 p1 di password ya? Aku ga bisa buka soalnya. Di situ Hrus tulis password.😦 aku belum baca omcia s2p1😦

  6. Maaf sebelumnya tapi emang chapter ini agak kurabg dapet feelnya, tapi pas bagian leera sama jong in bagus. Semangat buat nulis kelanjutan ff ini ya ^_^

  7. Yaahh sayang, bener sih rasanya part sebelumnya lebih gimana gitu. Penasaran kenapa kai jadi ngerasa sakut trus yg disembunyiin sma eomma kai apa? Yaudah aku baca lagi ya

  8. Kai kenapa??? Mudah mudahan kai gak kenapa aminn😥 , makin kesini si kai makin jadi yah ngbuat gue terbang >< ciecie kabur nih yeh kai-ra xD cepet jadian kek biar tetem buat gue aje xD :*

  9. thor,,, itu kkamjong knp??? semoga gk ada masalah yang berat sama kepalanya, kasian juga kalo ngebayangin dia meringis kesakitan, gws ya kkamjong🙂 thor tetep semangat nulis ff ini ya,,,, mian gk bisa ngasih review, aku gk ada ask.fm hhehehe,,, semangat thor,,,, kalo lagi males nulis nih ff, inget aja ada reader yang setia nungguin kelanjutan dari cerita ini #pengen_banget_diinget
    -_-“

  10. omo omo.. kai sakit apa??? oh ya sasa kok emang nih… nih sih pendapat aku doang… tpi kok kyknya feelnya itu kurang ya .. nggk kyk yg di season 1… tpi overall bgus kok ceritanya…

  11. Aku kadang gak bisa ngebayangin ini cerita -_-
    Sebenarnya kai itu knp? Aku sampe nangis pas kai kesakitan malem”

  12. Hi!! Maap thor aku baru muncul/? Selama ini aku udah baca tanpa ninggalin komen, abis dulunya gatau gimana caranya komen/?
    Btw ceritanya baguss!! Suka banget sama Leera dan Kai!! Kira-kira apa yang disembunyiin sama mamanya kai yah??? Duh penasaran… Gomawo and Mian thor, salam kenal juga^^b

  13. Thor, kok aku ga nemu a new boy in my life chapter 2 kok gaada ya?.-. Tapi, yg chapter 1 juga ga di password(hamdalah). Bisa minta linknya thor?? Kepooo ㅠ_ㅠ pliplispliss…

  14. Aduuuuuuuuuuhhhhh yang benar sajaaaa
    Kai gpp kan?? Bekas operasinya gk knpa2 kan?v
    Hhhhmmmmm
    Seneng bgt momen kai_ra banyak,,, so sweet pulaaa
    Aaaaaaaa ngiriiiiii

  15. Wuaaaaaa kangen bangen sama ff ini kangen sama kai dan leera 😄😄.. kira2 hampir 1 / 2 tahun yaaa .. kayaknya terakhir baca tahun 2014 wkwkwk.. aku sampe lupa terakhir baca chapter yg mana . Dr pada pusing dan banyak pilih2 yaudah lahh aku baca yg ini aja wkwkwk. Meskipun kayaknya aku udah baca tapi tetep seru 😙😙👍👍

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s