OMCIA! s2p4 “Confess it Kim Jong In”


saarah-poster-copy

thanks for the poster! 🙂

\ Title \

One Month Crush In Apartment [SEASON 2]

\ Author \

sasa / @Saarahsalsabil

\ Main Cast \

Park Leera
Kim Jong In

\ Genre \

School Life, Fluffy Romance

\ Length \

Mini Chapter

\ Previous \

| p1 | p2 | p3 |

\ Rating \

PG-17

p.s. : fanfic ini adalah kelanjutan dari fanfic OMCIA! Yadong Boy In My Apartment. fanfic ini adalah original buatan sasa ( @Saarahsalsabil ). tidak diperkenankan untuk plagiat (kayak ada yg mau plagiatin aja-,-)

Blend33

— sorry for typos or any wrong typing rules —

Previous Part>

#

“Kita hendak kemana?”

Leera memandang kaca mobil di depannya. Jalanan terlihat kosong sehingga Kai mengambil kecepatan tinggi untuk mobilnya.

“Kau gila!” Teriaknya saat Kai menginjak gas.

“Kai-a! Kau masih waras?”

“Kim Jong In!”

Leera dengan cepat menutup kedua matanya saat menyadari tekanan dalam mobil semakin tinggi karena kecepatannya yang melebihi batas. Tentu saja Kai yang menghendaki mobil ini melaju dengan cepat. Atau lebih tepatnya, melaju dengan tidak normal.

“Kai?” Tanya Leera sedikit bergidik saat kecepatan ditambah lagi. Masih memejamkan matanya karena takut.

“Kau masih sakit bukan? Pikiranmu sedang kacau!”

Leera menggigit bibirnya sangat dalam saat ia menyadari semua kondisi ini diluar batas. Ia ingat, tentu saja sangat ingat. Kecelakaan mobil Kai yang telah lalu. Bukannya saat itu Kai dalam keadaan kacau juga?

“Kai! Tenang!” Leera mulai menjerit dan memberanikan membuka mata walau sulit. Pandangannya pada kaca mulai tidak jelas karena kecepatan pengemudi. “Sadarlah. Kau tidak baik-baik saja!”

Namun sialnya Kai tetap memandang lurus ke kaca mobil. Memandang ke depan tanpa menoleh sedikitpun. Menyetir dengan alis ditekuk. Dengan urat kepala yang menonjol di sisi dahinya.

Leera meringis. Benar-benar mencelos dan ingin menangis. Berkali-kali ia menggigit bibirnya. Menggali-gali pikirannya tentang ‘sebenarnya ada apa ini?’ sedari tadi Kai kelihatan normal dan tidak berekspresi.

bodoh! mengapa aku membiarkan Kai mengajakku pergi? aku seharusnya sadar ia masih sakit!

Kai terus menyetir dengan kecepatan yang sama. Tiada henti. Tetap lurus. Tetap fokus. “Tenang” Kai berujar pelan di balik stirnya.

Leera melotot kepada Kai dengan panik. “Apanya yang tenang bodoh!” Ujarnya menjerit dengan mata berair. Entah kesal, entah marah, entah khawatir. Leera tak bisa menjelaskannya. Sementara itu kondisi mereka masih sama. Udara yang terasa sesak dan tekanan yang semakin menekan mereka.

Mobil itu bagai rolercoaster yang tidak terkendali. Yang Leera ingin hentikan. Namun tetap tidak bisa karena ia harus menikmatinya hingga titik penghabisan.

“Apanya yang tenang! Kau tidak baik-baik saja! Kau berbohong!” Jerit Leera ditengah-tengah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu. Berkali-kali Kai mengerem mendadak dan mendadak hingga tubuh Leera terhempas begitu saja.

“Kau mau membunuhku?!” Leera menjerit. Menjerit takut. Menjerit marah. Mengungkapkan isi utama dari kepanikan ini.

Senyap sejenak. Mendengar Leera berbicara seperti itu sama saja mendengar sirine ambulans yang melewati kedua telinganya. Nyaring dan sungguh menusuk. Apa? Apa yang hendak ia lakukan sebenarnya hingga membuat seorang yeoja menjerit seperti itu. Menjerit dengan nada yang pasrah dan penuh harapan. Harapan yang ingin menyadarkannya dari sesuatu yang gelap dan menjebak.

Seakan bangun ke permukaan dan menghirup banyak oksigen. Kai tersadar dan otaknya kembali berjalan. Layaknya mesin berdebu yang kembali hidup.

Spontanitas, Kai langsung menginjak rem. Mobil mereka terhempas ke belakang, mengikuti hasrat roda yang bergesek keras dengan aspal. Tubuh mereka sama sama terlonjak pada dashboard karena tuntutan rem mendadak. Leera tiba-tiba saja kaget dan panik merasakan bahwa namja yang notabene mengemudi ini langsung mengerem dengan klimaks.

Sedangkan Kai. Bagai riak air yang tenang. Hanya mengerem tanpa seuntai kata.

“Kau mau membunuhku?!”

Kata-kata itulah yang justru dapat membuat Kai menghentikan mobilnya. Kini namja itu baru sadar bahwa mobil yang ia kendarai mengarah ke pembatas jurang. Kai tercengang bukan main. Matanya yang tenang bagai riak air itu membulat seketika. Membentuk rangkaian kesadaran yang membawanya ke dunia nyata.

Leera terisak di dalam dekapan tangannya sendiri, tak kuat menahan segala emosi psikologisnya. Menangis dengan perasaan takut. Bibirnya kembali berdarah. Memberikan rasa sedikit pahit pada lidahnya saat ia menjilatnya. Ototnya menegang dan menegang. Apa yang membuat Kai begitu tega melakukan ini? Apa ini semua salahnya?

Kai melepas kedua tangannya dari stir. Lalu mengusap dahinya yang dingin. Sejenak ia memejamkan matanya, mencoba mengerti. Mencoba memahami apa yang terjadi. Kai terlihat seperti frustasi. Menundukkan kepalanya dalam-dalam dan memegangi dahinya.

frustasi.

Leera menangis semakin jadi seiring waktu berjalan.

Mereka masih larut dalam diri masing-masing.

Sementara itu terdapat banyak panggilan masuk di dalam ponsel Leera.

‘Taemin 15 missed call’

#

flashback

“Pikirannya akan kacau”

Hyunsik sedikit tidak percaya dengan perkataan dokter itu hingga meminta dokter untuk mengulangi perkataannya. “Apa kata anda barusan?”

“Pikiran kacau, obsesi yang meluap, alam bawah sadar yang tidak terkendali.”

Hyunsik tercengang memandang pria yang mengenakan stetoskop di lilitan lehernya itu. Beberapa kata yang membuatnya shock. Pria tua yang disebut dokter terbaik di rumah sakit ini. Di Seoul, ibukota salah satu negara maju di Asia, Korea Selatan. Youngheal.

“Apa itu … –” Hyunsik menelan ludahnya sebelum melanjutkan “Berbahaya?”

Hyunsik sesungguhnya tidak ingin mendengar jawabannya. Ia cukup bisa memprediksikan dan mengharapkan seribu alasan yang kuat bagi dokter untuk menjawab ‘tidak’. Dia sungguh ingin anaknya bisa kembali seperti semula setelah kecelakaan itu. Namun,

“Ya.”

Hyunsik merasa terdorong ke jurang. Spontan ia meraih dadanya dengan tangan. Terasa jelas detak jantungnya beradu. Berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya. Tak sanggup berkata-kata. Hanya menyimak. Dan menyimak.

Masih ada secercah harapan tersisa.

Dokter menarik nafas dalam dan membuangnya. Menatap lurus pada Hyunsik. Pria itu membuka mulutnya. ” ‘tak terkendali’ adalah sesuatu yang benar-benar berbahaya, Nyonya.” ujarnya santai namun hati-hati.

“Bagaimana cara mengatasi hal itu? mak, maksudku–“

Dokter itu menggeleng sebelum Hyunsik sempat melanjutkan perkataannya. “Tidak dapat di atasi dengan apapun. Itu adalah pembawaannya. Ini adalah resiko dari bekas kecelakaannya.” Lalu dokter itu memasang wajah prihatin. Ingin menenangkan.

Bagaimanapun juga perkataan dokter itu lebih menarik daripada ekspresi wajahnya. Sehingga Hyunsik takkan pernah bisa tenang melihat wajah prihatinnya itu.

“Kau yakin? sungguh, aku bisa membayar–“

Dokter tetap menggeleng. “Maaf, hanya ini yang dapat kami lakukan”

Hyunsik menganga. Ia percaya apapun dapat dilakukan demi kesembuhan anaknya. Ia tahu, semua penyakit dapat disembuhkan disini. Hanya uang yang dapat merealisasikannya. Hanya uang. Uang takkan ada artinya dibanding dengan kehidupan anaknya. Namun Hyunsik tetap tidak mau menyerah dan terus membantah.

“lima ratus juta won? aku bahkan bisa membayar lebih lagi jika kalian mau berusaha. Aku hargai itu.” Hyunsik bicara dengan cepat dan bergetar. Kursinya ia majukan sehingga dapat berbisik. Bicara serius. Sekaligus memohon.

Dokter itu dengan pelan menaruh kedua tangannya di atas meja lalu bertutur lembut memberi penjelasan dengan bijaksana. “Sekali lagi maaf, Nyonya.” Ujarnya mencoba berbisik lirih.

Hyunsik memandang dokternya tidak percaya. Matanya membesar dan memohon. Rasa sayatan di hatinya semakin jelas dan ia ingin kembali tenang. Ia ingin tenang ia ingin dokter itu membalasnya dengan senyuman dan bilang bahwa semua dapat dilakukan demi anaknya. Ia mengharapkan peran seorang dokter yang sesungguhnya. Dokter yang dapat mengabuli semua permintaannya. Termasuk penyakit Kai.

Hyunsik terus menghirup oksigen di ruangan berAc itu sebanyak-banyaknya untuk menenangkan pikirannya. Mencoba untuk tetap rileks. Atau ia bisa membanting sesuatu.

Ia akan terus tahan tabiat buruknya itu. Sebagaimana yang ia lakukan di bandara.

Ia terus mengharapkan keajaiban. Namun, tentu saja. Sebuah fakta mengatakan bahwa tak akan ada keajaiban untuk hal ini.

“Maaf Nyonya Kim. Saya ada operasi” Dokter berseragam putih itupun bangun dari kursi dinginnya kemudian berlalu melewati pundak Hyunsik yang ternganga. Lalu menutup pintu.

Membuat Hyunsik tercengang seketika dan otot-ototnya menegang. Merasa kehilangan sebuah kesempatan besar. Dokter itu pergi, meninggalkan bekas sisa-sisa harapan yang tertabur bagai debu. Hyunsik terus membeku di kursinya.

Sang dokter terlihat berbisik pada asisten perawatnya yang berjaga. Asisten itu mengerti maksudnya. “Nyonya.”

Seorang perawat menintip dengan sangsi dari balik pintu.

“Anda boleh keluar Nyonya Kim”

flashback end

#

“Apa yang terjadi?”

Seorang wanita dengan lencana di seragamnya menundukkan kepala ke arah kaca mobil. Mengetuknya berkali-kali. Tertera di seragamnya sebuah tulisan ‘polisi lalu lintas’.

Kawanannya melihat mobil ini melaju dengan kecepatan kencang sejak 200 meter pertama di kawasan ini. Mengerem berkali-kali tanpa maksud yang jelas dan sekarang, mengerem mendadak di ujung pagar pembatas sebuah jurang.

Ini tidak normal. Pikir mereka.

Mata seorang polisi lalu lintas itu terus menelusuri isi mobil. Ia tercengang menyadari bahwa pengemudi sekaligus penumpangnya adalah seorang pelajar. Ia mengecek arlojinya dan menyadari bahwa sekarang masih pukul 1 siang. Sedangkan para pelajar pulang ke rumah pukul 2.

Kegiatan polisi yang sedari tadi megetuk, berubah menjadi menggedur. Sementara Leera yang kacanya sedang digedur makin menangis mendengarnya. Ia masih terus menyembunyikan wajah tomat sehabis menangisnya itu dibalik kedua tangannya, tidak peduli apa yang terjadi di luar. Walau ia digedur sekalipun.

Kai yang sudah sadar dengan semuanya tiba-tiba membuka pintu. Ia langsung berdiri tegap dan menghadap si polisi lalu lintas dengan berani. Memandangnya dengan tatapan datar.

Polisi itu kembali bertanya dengan cepat. “Apa yang terjadi?” Ujarnya dengan nada ketus layaknya seorang polisi.

Mata Kai melirik pada bayangan Leera yang sedang menangis di dalam kursi penumpang. Lalu berujar santai. “Ia sakit”

Polisi itu mengikuti arah pandang Kai dan hendak membuka mulutnya. Merasa tidak percaya. Ingin menyanggah.

“Ia sakit dan aku diberi amanat mengantarnya pulang” Kai kembali menatap si polisi dengan ekspresi datarnya seperti biasa.

Polisi itu mengubah air mukanya yang tadi tidak percaya menjadi sedikit yakin walau terbesit keraguan di benaknya. “Kau yakin?”

Kai mengangguk. “Ya”

Mata polisi itu tetap menelusuri isi mobil dan ingin kembali bertanya.

“Aku punya suratnya” Ujar Kai. “Surat dari poliklinik sekolah”

Polisi itu bergemumam menanggapi pernyataan Kai. Lalu mengangguk . “Hmm.. lain kali kemudikan mobilmu dengan hati-hati, nak” Ujarnya. Hendak berbalik.

“Pastikan ia sampai ke rumah” Polisi itu berlalu.

Pernyataan yang Kai berikan tadi sungguh berbanding terbalik dengan kondisinya. Sesungguhnya yang sakit adalah ia, bukan Leera. Keadaan seolah-olah terbalik sekarang. Serangan sakit Kai yang terjadi secara tiba-tiba, obsesi yang meluap, tidak terkendali, semua itu terjadi di waktu yang tidak diduga-duga. Entah satu menit, satu jam, atau satu hari. Semuanya tidak pasti.

Hingga akhirnya Kai sadar di waktu tertentu. Dan kesadaran itu juga tidak terlihat secara jelas di mata orang lain. Hanya Kai yang tahu ia sadar atau tidak. Hal ini mulai bangkit di kehidupannya.

Yang terjadi hari ini adalah ‘alam bawah sadar yang tidak terkendali’. Hal ini baru satu dari sekian gejala yang dapat timbul akibat kecelakaan itu. atau lebih tepatnya, gangguan otak itu.

Kai menggaruk kepalanya dengan seidkit ringisan dan menghirup udara banyak-banyak saat menyadari polisi itu pergi menjauh.

Lalu kepalanya menoleh ke arah kaca mobil.

Apa yang terjadi padaku?

Kai menelan ludahnya. Lalu memejamkan matanya erat-erat.

Aku tidak sadar.

Sebenarnya, apa yang terjadi?

Kai memandang bayangan Park Leera yang berada di dalam mobil. Yeoja itu masih meringkuh sedih, entahlah sepertinya menangis. Kai berkecamuk dalam hatinya, merasa bersalah teramat dalam karena telah membuat yeoja itu menangis untuk kedua kalinya. Sebenarnya, apa yang terjadi pada dirinya sehingga ia turut membuat orang lain menderita seperti ini?

Apa ini ada hubungannya dengan.

Perkataan ibunya?

“Kau akan baik-baik saja”

Tidak. Ibunya tidak benar. Kai menggeleng tidak percaya sedikit pun.

Kai merasakan sedikit pusing sehingga ia menekan pelipisnya keras. Lalu namja yang masih mengenakan seragam–namun dengan lusuh–ini segera berlari tanpa pikir panjang ke arah pintu mobil. Ia membuka pintu dimana Leera berada.

Saat ia menatap yeoja itu. Ia tampak berantakkan, rambutnya yang kesana-kesini, seragamnya yang tak keruan, sedari tadi wajahnya terus bertumpu pada telapak tangannya, menangis disana, yang Kai sendiri tidak tahu mengapa.

Apa yang telah kulakukan?

Walau Kai tetap memasang ekspresi datarnya, namun dibalik itu ia menyimpan sejuta ekspresi di dalamnya. Ia bingung, dan ia merasa marah pada dirinya sendiri.

Dengan sigap tangan namja ini menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Leera agar dapat melihat wajahnya. Ia kesampingkan rambut-rambut itu dan terlihatlah wajah Leera yang memerah karena menangis.

Kai masih terdiam dengan wajah datarnya dan menatap lurus pada wajah yeoja di depanya. Kai menarik kedua telapak tangan Leera yang menutupi wajahnya itu dengan hati hati.

Setelah Kai melihat wajahnya secara utuh. Ia merasa tertusuk. Pipinya yang basah menyiratkan bahwa ia mengeluarkan air mata terlalu banyak. Kai tidak menghapusnya, mempertanyakan mengapa ia menangis sebanyak ini. Sebenarnya apa yang telah ia lakukan?

Leera sadar bahwa Kai menyingkirkan tangannya. Ia tahu kini wajahnya sudah tereskspos. Namun ia tak berani mendongak dan menyambut Kai yang berada di depannya. Monster

Leera juga tak sanggup berkata-kata. Tindakan Kai yang cukup gila atau lebih tepatnya sangat gila tadi benar-benar membuatnya takut dan waswas terhadap Kai. Ia malah berfikir Kai hampir membunuhnya. Leera benar-benar takut. Ia berfikir, apakah ada sesuatu yang mengganggu benaknya hingga ia menjadi seperti ini?

Leera sedih, takut sekaligus kecewa. Ia hanya dapat mengekspresikannya lewat menangis.

Apa sebenarnya yang ada di pikirannya? Menaikkan kecepatan dan mengemudi ke arah jurang? Ia lantas membunuhku!

Kupikir niat ia baik…

Leera tetap tidak mau melihat namja yang hampir mencelakainya itu. Ia merasa sedikit hilang dan terhempas. Ia tidak kenal siapa dirinya.

“Maaf”

Kau hanya bisa bilang maaf namun kau tidak mau menjelaskan semuanya, Leera bergumam dalam hati. Masih enggan merespon.

Kai tetap berusaha, “Maaf”

Jahat, Pikir Leera.

Kai menenggak ludahnya karena ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Ia merasa Leera benar-benar tidak mau bicara dengannya.

Hingga akhirnya ia menggendong Leera keluar dari mobil.

Leera tentu saja benar-benar kaget dan langsung berusaha mencegah. Ia terus memberontak, memukul-mukul tangan Kai yang bertumpu untuk menggendong tubuhnya. “Pergi!” Teriak Leera kesal dengan wajah sehabis menangisnya.

Menggendong? itu benar-benar ekstrim. Dahulu, Kai pernah melakukannya namun hal itu tidak disadari oleh Leera namun sekarang Leera benar-benar menyadarinya . Sadar bahwa tangan Kai menyentuhnya. Tentu saja Leera merasa risih, apalagi kejadian tadi benar-benar membuatnya trauma. Apa lagi yang hendak dilakukan namja byuntae monster ini huh?!

“Turunkan aku bodoh!”

Kai tetap tidak peduli dan terus menggendong tubuh mungil Leera ke suatu tempat. Kai tetap berusaha mendekapnya agar dapat menggendong yeoja itu ke tempat tujuannya. Manik mata Kai mengarah ke ujung sana. Sebuah padang rumput yang luas, di turunan jurang. Entahlah, tempat yang indah, yang bersandingan dengan jurang–yaitu tempat mengerikan–.

Leera tetap ngotot untuk lepas dari dekapan Kai tentu saja. Ia hendak menggigit tangannya. “Lepaskan aku! Kim Jong In turunkan aku!” Leera terus meronta-ronta. Wajah cutenya menjadi sangat takut dan mengerikan namun Kai tetap tidak menghiraukannya dan terus bersikap cool layaknya tidak ada seorang pun yang menyanggah tindakannya. “Tenang” ujarnya yang sedari tadi hanya mengucap sepatah kata. Tak lebih.

Tentu saja Leera yang merasakan tindakan Kai merasa marah. Mengapa Kai bersikap tenang begitu? Padahal Leera sudah jelas-jelas panik terhadapnya. Bodoh, mereka sungguh berbanding terbalik. Gupek dan Santai. Leera benar-benar tidak suka ini.

Ia sungguh kesal.

“Kau hendak membawaku kemana dasar babo!”

“Hei Kim Jong In turunkan aku!”

“Eomma!”

“Sudah cukup kau !”

Akhirnya segala sifat asli Leera mencuat ke permukaan. Meronta, menjerit, mengadu, menyebut nama eomma nya, dan memberontak dengan jeritan. Kai berusaha menutup telinganya namun ya sudahlah. Ia ingin menjelaskan semuanya pada yeoja ini disana. Di padang rumput yang luas dengan teduhan sebuah pohon besar.

Ia butuh seseorang untuk berbagi. Dan itu butuh sebuah tempat yang pas untuk mengungkapkannya.

“Sabar sedikit, nanti aku akan menurunkanmu.” Jelas Kai namun terlihat cuek sekali di mata Leera.

“Apanya yang sabar? Kau byuntae! Kau jahat! “

“Berani-beraninya kau menggendongku!”

Leera memutar matanya dan hendak menangis lagi karena kesal Kai tidak mengindahkan sedikitpun kata-katanya untuk menurunkannya. Apalagi wajah Kai yang begitu cuek seakan-akan menganggap seluruh keadaan ini baik-baik saja.

“Jika kau tidak kugendong mustahil kau mau ikut aku ke tempat ini.” Kai bertutur pada Leera tanpa menatap wajahnya. Matanya masih tetap angkuh melirik pada padang rumput di depannya. Sedangkan tangannya tetap tangkas memapah tubuh Leera.

“Aku bisa berjalan sendiri!” Ujar Leera ngotot. “Lepaskan aku!” Sembari kakinya di gerak-gerakkan agar bisa melumpuhkan pertahanan Kai.

Tak tahan di protes, Kai berhenti dari langkahnya dan wajahnya pun mendongak ke bawah untuk menatap Leera. “Hei, diam dan tunggu saja kemana aku membawamu oke?”

Manik mata Kai begitu dalam menatapnya. Sehingga membuat Leera sedikit bergetar. Bisa kau hentikan tatapan itu?!

“Dasar gila!” Cibir Leera sembari mengalihkan tatapan dari pandangannya. Buat apa Kai menatapnya seperti itu.

Kai terus berjalan menuju tempat yang tidak Leera ketahui tentunya.

Leera sendiri bingung kemana Kai hendak membawanya. Tadi, Kai begitu menyeramkan dan ia begitu takut. Namun sekarang? Ia terlihat baik-baik saja. Sehingga rasa takut Leera mulai berkurang dan berganti menjadi aksi pembelaan diri dengan menjerit dan memberontak. Namun Kai tidak mengindahkan kata-katanya sama sekali dan tetap menggendong tubuhnya dengan cuek. Apa ia begitu ringan sehingga Kai begitu acuh?

Ia bahkan menyuruhnya diam dan menunggu.

Leera merasa ini sedikit aneh, perubahan sifat Kai yang tiba-tiba memang sangat janggal.

Hingga saatnya, mereka sekarang berpijak di atas rerumputan hijau yang lembut.

Dengan sebuah pohon besar di tengahnya.

Angin berhembus mengenai mereka membuat Leera mengerjap-kerjapkan matanya.

“Buat apa kau menggendongku kesini–“

brakkk

Kai menjatuhkan Leera dengan pelan. Namun Leera malah marah-marah sendiri. “Ya! Kim Jong In mengapa kau melemparku ke tanah!”

Leera menekan alisnya dan berdengus kesal. Kini ia terbaring di atas rumput yang lembut. Namun ia kesal karena Kai menjatuhkannya begitu saja. Walau sebenarnya tubuhnya tidak apa-apa. Apa maksud Kai menjatuhkannya di atas rumput dan membawanya ke tempat seperti ini?

ini terlihat seperti taman dengan rumput hijau yang tebal dan lembut. Dengan pemanis sebuah pohon oak besar di atasnya. Yang dapat menjadi peneduh di kala panas.

Leera mengawasi tingkah Kai yang sedari tadi memang tidak berekspresi apapun. Ia tetap berdiri, tidak berinisiatif untuk duduk atau apapun. Sedangkan Leera sudah lelah dan memlih bertahan untuk berbaring saja.

“Kau sungguh tidak masuk akal. Tadi kau benar-benar gila hingga aku takut. Namun sekarang? kau membawaku kesini dan menjatuhkanku di tanah?”

Leera menatap Kai yang sedang berdiri dari posisi berbaringnya di rumput.

Kai hanya menggeleng menatap Leera yang menyindirnya. “Ya, aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Sehingga aku ingin menjernihkan pikiranku disini. Kuharap kau tidak keberatan.”

Keberatan? Leera tentu saja sungguh merasa keberatan. Namun ia tahan sifat kesalnya karena atmosfer di sekelilingnya berubah menjadi serius. Tak terkecuali dengan wajah namja ini.

Leera menjawab dengan antusias dan bingung. “Kau tidak tahu apa yang terjadi?”

Kai menatap kosong lalu menjawab “Ya” Seakan-akan Leera dapat membaca pikirannya saat ini.

Lalu namja itu duduk di sebelah Leera yang tengah berbaring di rumput karena lelah. Di atas mereka terdapat dedaunan yang lebat, yang seakan-akan memayungi mereka dari sinar matahari. Ya, pohon oak tersebut.

“Aku sungguh tidak mengerti apa yang aku telah lakukan” Kai mulai membenarkan posisi duduknya. Ia berbicara dengan yeoja ini tanpa menatapnya. Ia hanya menatap lurus ke langit dan Leera mengikuti arah pandangannya. Mereka hanya saling mendengar satu sama lain.

“Kau sungguh tidak mengerti?”

“Tentu saja aku tidak mengerti. Coba kau pikir, aku tidak akan pernah berniat membunuhmu. Aku bahkan tidak sadar aku mengemudi, aku baru sadar ketika kau meneriakikku.” Kai bertutur pelan dan tentu saja itu jujur. Nadanya diliputi rasa bersalah. Ia teringat wajah Leera yang tadi terisak.

“Kau mau membunuhku?!”

Leera ingat sekali saat ia meneriakki itu pada Kai. Dan Kai langsung mengerem mendadak.

“Sebenarnya, apa yang terjadi dengan pikiranmu, Kai-a?”

Kai dengan keras menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku berusaha mengerti namun ini semakin rumit” Kai mulai menyandarkan kepalanya ke rumput berusaha berbaring disana. “tidak keberatan aku berbaring di sampingmu?”

Leera merasakan sedikit getaran di dadanya. Berbaring? di sebelahnya? omo. Apa yang ada di pikiran Leera saat ini hingga ia menginginkan Kai berbaring di sebelahnya. Tentu rasanya akan sesak dan panas karena namja yang *cough* disukainya berbaring di sebelahnya, di atas rerumputan yang lembut. Jarak di antara mereka akan berubah menjadi atmosfer yang panas dan hampa. Alhasil, Leera membayangkan detak jantungnya yang akan beradu sangat parah. Ia ingin sekali tentu saja, merasakan hal itu. Namun ia tidak sanggup mengekspresikan keinginannya keluar.

“Terserah” Akhirnya, hanya itu yang dapat dikeluarkan mulut seorang Park Leera.

Kai sadar bahwa sebelum melakukan apa-apa yang menurutnya sensitif. Ia harus meminta izin terlebih dahulu pada yeoja ini karena Kai tahu bahwa ia baru saja membuatnya hampir mati.

“Ah…” Kai menghembuskan nafas panjang di awal kegiatan berbaringnya. Manik mata mereka berdua saling menatap awan biru yang berjalan sembari berbaring.

Leera sadar mereka sama-sama berbaring. Dengan jarak yang lumayan dekat. Membuatnya begitu kehilangan jantungnya. Sedikit menoleh saja, ia akan merasakan rambut-rambut jigrak milik Kai mengenai hidungnya. Dan aroma samponya atau apalah itu akan menusuk indra penciumannya.

Semua terletak begitu dekat.

Terlalu hangat.

“Dahulu aku tidak seperti ini. Aku bahkan hampir tidak ingat apapun setelah aku masuk rumah sakit. Aku bahkan lupa apa yang menyebabkanku sakit. Ibu hanya memberitahuku bahwa aku mengalami gangguan di kepala tapi justru aku tidak tahu apapun.”

Leera berusaha mencerna semua perkataan Kai di tengah-tengah kesibukannya menyadari bahwa ‘seorang namja berbaring di sebelahnya di atas rumput dan itu sangat dekat’ dan ia sadar bahwa memori Kai sudah benar-benar rusak. Gangguan otak itu mungkin menyebabkannya menjadi seperti ini. Sedih. Leera merasa mencelos saat ia sadar namja di sebelahnya ini tak tahu apapun.

Seakan-akan bayi yang baru lahir.

Leera tetap bungkam. Oke, ini serius dan Leera seharusnya melupakan hal-hal yang tidak perlu.

Kai mulai membuka mulutnya, melanjutkan cerita panjangnya.

“Tak ada yang bisa memberitahuku meskipun aku berusaha mencari tahu. Sampai aku sadar aku mengalami hal-hal aneh di pikiranku. Kepalaku yang tiba-tiba pusing, sakit, rasanya aku ingin memecahkannya saja agar rasa sakit itu tidak kembali kurasakan. Tidak hanya sakit pada fisik. Aku juga merasakan pikiranku yang melayang kemana-mana dan emosiku yang tiba-tiba naik. Rasanya begitu aneh namun aku tetap berinsting melakukan sesuatu yang diperintahkan otakku. Aku merasa marah, aku ingin memukul siapapun, aku tidak peduli dengan orang lain. Semua gejala itu terjadi tanpa kukehendaki dan semuanya terjadi tanpa kenal waktu”

Leera tercengang sekaligus kaget mendengar seluruh perkataan yang keluar dari mulutnya.  Tak ada lagi hal hal tidak penting yang lewat di benaknya, semua telah terganti dengan perkataan atau lebih tepatnya pengakuan seorang Kim Jong In barusan. Penuh penjelasan, dan ironis sekali. Ia merasa Kai benar benar mengungkapkan semua yang terjadi di dalam dirinya. Sesuatu yang takkan pernah ia bagi kepada siapapun. Yang hanya ia pendam-pendam sedari dulu. Jadi, selama ini ia hanya berpura-pura baik-baik saja?

Rasanya sesak menyadari Kai memendam semua ini sendirian. Bagaikan beban yang takmau ia keluarkan. Ia terus menelannya bulat-bulat.

Kini kepala Leera menoleh ke arah namja yang berbaring di sebelahnya. Berusaha memahami air wajahnya saat ia mengatakan semua kalimat menyedihkan itu. Namun Kai tetap menyeruakkan ekspresinya seperti biasa. Tak ada yang berubah.

Ia benar-benar tegar..

“Terkadang aku butuh waktu untuk sendiri dan keluar dari kehidupan. Namun aku sadar aku butuh seseorang untuk menenangkanku.” Ungkap Kai dibalik tatapannya pada awan. Lalu perlahan ia menoleh pada yeoja yang berbaring di sebelahnya. Yang ternyata yeoja itu juga sedang menatapnya.

Seseorang untuk menenangkannya?

Tanpa kenal waktu, pipi Leera langsung memerah mendengar perkataan Kai dan pandangan Kai yang tiba-tiba padanya. Kepalanya menoleh dan kini tatapan mereka saling beradu.

Kai terus menatap manik mata Leera yang sedikit goyah.

Dan Leera tak sanggup berkata-kata.

#

Taemin terus memandangi layar handphone nya. Ia terus menelfon Park Leera namun tak kunjung ada jawaban.

“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif”

Taemin terus mencoba menghubungi yeoja itu tanpa henti. Entah sudah berapa kali ia melakukannya.

Namja berambut hitam gelap ini berfikir keras kemana Leera pergi. Sepantasnya pada jam pulang seperti ini dia pasti melewati tangga utama namun kenyataan berkata lain. Tadi pagi, Taemin melihat Leera baik-baik saja. Namun, kali ini kemana yeoja itu pergi?

 Sehingga Chanyeol yang sangat hafal penampilan fisik seorang Taemin pun menoleh. Ia berfikir bahwa si cantik itu pasti sedang mencari Park Leera. Sedang mencari seorang yeoja yang sedang bersama namja lain. Chanyeol tentu saja buru-buru untuk pergi, takmau di wawancarai oleh si cantik itu.

cih, jangan sampai ia bertanya-tanya padaku tentang Leera.

Sehun kebetulan melewati langkah Chanyeol dan tidak sengaja menatap ekspresi wajahnya yang terlihat membunuh. Mata besar milik Chanyeol seakan-akan sehabis menatap sesuatu yang menyebalkan.

“Chanyeol hyung waeyo?” Sehun tiba-tiba muncul ke depan tubuh tingga Chanyeol. Membuat namja rambut coklat ini sedikit terlonjak.

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada namja cantik itu–Taemin–dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya dan memanyunkan bibirnya. “Ya, kau tahu dia siapa.”

Sehun mengangkat alisnya bingung, namun sekitar beberapa detik ia rasa ia mengerti maksudnya. “Oh! Arra! Kau cemburu juga padanya karena sunbae itu dekat dengan Park Leera eoh?” Sehun berujar percaya diri.

Chanyeol memasang wajah ‘wah kau bodoh sekali’ sembari melipat tangan di dada. “Sudah berapa kali kau makan bokong ayam hari ini, babonie.” Chanyeol mengusap kepala Sehun lalu menjitaknya.

“Auw! sakit hyung.” Sehun mengusap kepalanya dengan meringis. “Aku tidak pernah makan bokong ayam bahkan aku tidak tahu bokong ayam bisa dimakan hyung!” Tukasnya protes. Sedangkan Chanyeol hanya memandangnya dengan ekspresi ‘tetap saja kau bodoh’.

Namun tiba tiba Chanyeol menunduk dan membisikan sesuatu pada telinga Sehun. “Kau sungguh-sungguh tidak tahu?” lirihnya. “Tentang namja cantik itu…” Lanjut Chanyeol lagi.

Sehun pun menautkan alisnya pada Chanyeol yang berbisik padanya. Lalu menggeleng dengan wajah tanpa dosa. Chanyeol menepuk jidatnya dan kembali menoleh pada Sehun dengan tatapan mata datar. “Aku dan Seohyun punya rencana.” Ujar namja tinggi besar itu dengan nada yang dibuat misterius.

Sehun menganga lebar dan terdapat banyak kilauan bintang di matanya. “Oh! Sungguh mengejutkan! Aku senang rencana!” Ujarnya girang sembari tersenyum antusias layaknya anak umur 5 tahun.

Sebelum melanjutkan ucapannya, Chanyeol memastikan keadaan sekitar. Dan ia baru sadar bahwa Taemin masih ada di dekat mereka.

“Sebaiknya kita berbicara di tempat lain.”

“Tentang rencana kita ini”

#

“Kau tahu Leera-a. Kau orang pertama yang kuberitahu semua ini.” Kai memandang wajah inocennt Leera yang terlihat keget.

“A, aku?” Tanya Leera terbata sambil mengetes tenggorokannya.

Kai menjawab, “Ya, aku tidak pernah memberitahu siapapun tentang keadaanku. Entah itu sakit. Aku selalu memendamnya, sehingga aku tampak diam. Banyak yang terjadi di dalam sini. Tapi hanya sulit untuk mengungkapkannya.”

Leera meneguk ludahnya. Menyadari bahwa ia adalah orang pertama yang mengetahui ini, membuatnya merasa spesial. “Mengapa kau tak memberitahu ibumu saja?”

Kai menjawab singkat “Tidak.”

Leera menyerah untuk bertanya lagi.

“Maafkan aku jika aku sering menyakitimu. Dan juga, mencelakaimu. Sungguh aku tidak bermaksud melakukannya. Itu semua diluar kesadaranku. Perasaan-perasaan aneh, tak keruan, emosi ku yang tak kenal batas. Aku memang aneh, kuakui itu. dan aku minta maaf padamu.”

“Aku tidak dapat menyalurkan apa yang ada di hatiku dengan baik.”

“Emosi yang ada di dalam jiwaku sungguh tidak stabil. Kau mengerti maksudku?”

Leera menangkap semuanya ke dalam otaknya dan mengingat-ingat masa lalu. Saat Kai melakukan hal-hal aneh padanya. Membentaknya, membawanya berlari, bahkan… menciumnya. Apakah itu termasuk salah satu ledakan emosi nya yang tak terkendali? Apakah Kai dikendalikan emosi anehnya itu sendiri?

Yeoja yang merasa sedikit tertekan dengan ucapan Kai tersebut meneguk ludahnya. dan mengangguk “Aku mengerti.”

Kai memandang Leera sepintas. Menyadari bahwa yeoja itu merasa tidak nyaman dengan emosi Kai yang tidak terkendali. Mungkin yeoja itu sudah menyadari apa penyebab semua tindakan gila itu. Ia sadar bahwa tindakan tersebut adalah buah hasil emosi Kai yang tidak stabil karena gangguan otaknya sendiri. Bukan kemauannya.

“Kau tahu. Aku merasakan gejala itu. Aku merasakannya saat aku melihatmu bersama Taemin. Entah kenapa emosi itu muncul begitu saja, sehingga aku tidak sadar bahwa aku menyakitimu. Membentakmu–“

Kai menggantungkan kalimatnya saat ia sadar apa yang ada di pikirannya. Ciuman itu? Apakah buah dari kekuatan emosinya yang tidak stabil? Atau hanya kemauannya semata? Apakah itu nyata?

Leera sungguh tidak percaya bahwa Kai ternyata memang tidak benar-benar melakukannya dengan niatnya sendiri. Ciuman? ugh, apakah itu bukti bahwa Kai benar-benar menyukainya? Leera membuang pikirannya jauh-jauh. Tidak mungkin. Tidak mungkin Kai menyukainya. Itu hanya buat-buatan gejala emosi dari gangguan otaknya.

Lagipula, siapa yang memulai ini duluan?

Leera tidak mengerti.

Disaat Kai koma, Leera baru sadar bahwa Kai adalah orang yang sangat spesial baginya. Satu-satunya yang dapat ia percaya. Ia sadar bahwa Kai melindunginya, itulah mengapa perasaan itu semakin tumbuh hingga sekarang. Karena ia tahu, siapa sebenarnya yang patut ia hargai. Orang itu Kai, Kim Jong In.

Namun, apa daya jika Kai tidak membalas perasaannya?

Leera merasa bahwa terus bersamanya itu lebih dari cukup.

Leera lebih memilih pasrah dan mengalah.

“C, ciuman itu… tidak nyata?”

Leera mengutarakan pertanyaannya dengan terbata. Ribuan kalimat menggantung di benaknya. Ia ingin keluarkan semua. Namun hanya itu yang dapat dikeluarkannya.

Kai terdiam. Namja ini berfikir hingga ke ujung-ujung saraf otaknya. Mencoba menerobos ke dalam hatinya sendiri. Apa? Apa yang harus ia katakan?

Apakah ciuman itu tidak nyata? Jawab Jong In! Seseorang menananyakannya dan kau bertanggung jawab untuk menjawab.

Terlalu lama berfikir, Leera mengambil alih pembicaraan.

“Aku tahu itu tidak nyata. Lucu sekali pertanyaanku itu.” Leera tertawa kecil. atau lebih tepatnya tertawa miris. Lalu tersenyum getir. Yeoja ini mengambil keputusan bahwa perasaannya tidak akan pernah terbalas. Ia berfikir bahwa Kai ragu untuk menjawab pertanyaannya. Kai pasti tidak tega mengungkapkan bahwa ciuman itu hanya buat-buatan gejolak emosinya saja.

“Aku sangat bodoh bertanya seperti itu.” Leera mengalihkan pandangannya dari Kai dan menatap daun oak yang berjatuhan ke rumput. Terjatuh dengan pelan dan membentuk sebuah filosofi yang entahlah, membuat Leera sendiri menjadi sedih.

Kai tentu saja terhenyak dan sadar.  Sadar apa yang dikatakan oleh yeoja ini tidak benar. Namun, ia tidak akan bisa menyanggahnya. Apa yang harus ia lakukan? Kini yeoja itu larut di dalam kebohongan lagi, berpura -pura tegar dibalik senyum getirnya.

Kai mengucap dalam hati bahwa ia tidak mau menjerumuskan Leera dalam kebohongan lagi. Sudah cukup ini semua.

Mereka sama sama lelah. Lelah akan semua hal yang telah mereka lakukan. Lelah akan semuanya yang tidak ada hasilnya. Pada akhirnya, mereka hanya teman. Teman yang saling care satu sama lain. Tanpa mengungkapkan sedikitpun perasaan.

Kai meremas tangannya. Apa ini yang harus ia terima?

Tidak.

“Sebenarnya, hasil dari gejolak emosiku yang berlebihan ini adalah cabang terakhir dari sebuah obsesi kecilku.”

Maksud Kai adalah. Begini, jika kau menginginkan sebuah apel yang masih terdapat di pohon dan pohon tersebut dijaga oleh seorang petani–petani tak ingin apelnya di ambil orang lain–. Apa yang kau lakukan? Tentu saja jika kau normal, kau akan mundur dan mencari pohon lain yang lebih aman. Namun, karena gangguan saraf otak pada dirimu, kau akan menggunakan cara yang paling nekat. Yaitu, mengambil apel di pohon yang dijaga petani tersebut, hingga kalian mengalami konflik dengan si petani. Dalam kata lain, kalian bisa saling berkelahi untuk memperebutkan apel tersebut. Kalian menghalalkan segala cara untuk mengamini obsesi bertajuk ‘menginginkan buah apel’ walau dengan cara yang salah sekalipun. Sekali lagi, kalian menggunakan cara yang praktis namun salah.

Obsesi yang berlebihan.

Leera berusaha mencerna ucapan Kai. Rumit sekali baginya.

Namun Leera salah menangkapnya dan tidak mengerti. “Kai, aku tidak mengerti apa penyakitmu sebenarnya. Namun, aku selalu berharap kau baik-baik saja. Aku ingin kau hidup dan terus tersenyum menghadapi kehidupan.

Aku selalu ingin melindungimu kapanpun dan dimanapun. Karena aku tidak ingin sesuatu menimpamu. Walau aku hanya seorang yeoja yang tidak berdaya dengan tubuh kecilku ini. Walau aku suka marah-marah tidak jelas. Aku menyebalkan. Aku akan selalu hadir untuk menjagamu. Karena aku sudah berjanji dari awal kau koma. Aku sudah berjanji bahwa aku akan selalu setia menemanimu hingga kau bangun.”

Leera menarik nafasnya sedih. Ia tidak menangis. Melainkan matanya hanya penuh dengan air. dan setelah mata tak kuat lagi menampungnya, air itu mengalir keluar lewat pinggir matanya. mengalir kebawah. Kemudian membasahi rumput hijau.

Tanpa suara.

Kai menoleh ke arah wajah Leera yang tampak diam dan pucat. Lalu melihat butiran air mata yang mengalir dalam kesunyian. Ia tak mengerti sekompleks apa isi pikiran Leera kepadanya. Namun ia tahu apa yang disampaikan Leera padanya.

Kai sadar, bahwa Leera ingin menyampaikan bahwa… ia punya hasrat ingin terus bersamanya.

Ia ingin menjaganya.

Ia yang selalu mendukungnya saat ia sakit.

Ialah orang yang selalu menunggunya bangun dari koma.

Dalam komanya, ia selalu merasakan tangannya yang hangat. Genggaman tangan yang lembut.

“Kau tidak mengerti maksudku Leera-a. Ciuman itu–“

Leera membantah. “Tidak usah! Aku tahu itu tidak nyata. Tidak penting!”

Kai membuka mulutnya, “Itu sebenarnya–“

“Aku tidak mau tambah sakit hati lagi!” Leera menjerit, “Aku sudah tidak kuat mendengarnya!” Ujarnya sakit hati. Namun di bibirnya masih terlukis sebuah senyuman. “Maaf, aku tidak bisa menahannya…”

“Tidak usah paksakan kalau itu asli atau palsu. Tetaplah menjadi dirimu sendiri.” Leera tersenyum. Tetapi air matanya semakin jatuh. Ya, menangis tanpa suara.

Kai menekuk alisnya dengan ketus. Tidak, ini bukan yang kuinginkan.

Kau tidak pantas sakit hati lagi. Sudah cukup

“Park Leera” Kai berujar. Menghadap ke arah Leera berada. Menarik tubuh Leera agar merapat padanya. Tangan Kai menggenggam lengannya yang terus bergetar. Karena ia ternyata menangis walau tak bersuara.

“Park Leera dengarkan aku…” Ujar Kai serius. Leera masih tersenyum dengan air matanya. Kai tidak kuat lagi melihatnya terus menangis, “Jangan menangis lagi… kau tidak boleh menangis, karena disni aku menemanimu.” Lanjut Kai semakin merapatkan tubuhnya.

Leera semakin menangis. Tangannya tidak dapat bergerak karena Kai terus menahannya. “Tidak-boleh-menangis-” Lirih Kai di telinganya.

Mereka saling berhadapan di atas rerumputan. Kai memeluknya dari samping agar Leera semakin mendekat padanya dan dapat menatapnya dengan lurus. Hingga kini dahi mereka saling bersentuhan.

Kai terus mengingatkannya untuk jangan menangis tetapi justru wajah Kai yang terdapat di depan mata Leera terus membuatnya menangis.

Kenapa kau memelukku sedekat ini sembari berbaring? Kau hanya membuat kenangan-kenangan indah bersamaku, namun sebenarnya kau tidak akan membalas perasaanku kan?

Leera terus menangis, tetapi Kai berusaha menghapus air matanya. Kedua jemari Kai ia tempelkan pada pipi Leera mengusapnya hingga pipinya tidak basah lagi. “Ya, begini lebih baik” Ujar Kai dengan hembusan nafasnya yang mengenai yeoja yang berada seinci di depannya.

Leera tentu saja tidak nyaman dengan itu sehingga ia berusaha melepas tangan Kai yang terus mengunci wajahnya agar tetap berada di depan wajah Kai. Hingga jidat mereka saling bersentuhan seperti ini.

“Hey, jangan banyak bergerak. atau kita akan berciuman lagi arraseo?” perintah Kai sedikit memaksa namun lembut.

bodoh, justru jika aku biarkan diriku seperti ini….. pikir Leera.

Apa yang akan kau lakukan padaku kim jong in?

“Jangan berfikiran yang tidak-tidak. Aku hanya ingin kau menatapku dengan serius seperti ini.” Tutur Kai pelan sedikit berbisik.

Leera menyanggah lemah “Tapi kau membiarkan jarak kita terlalu dekat, aku semakin sulit bernafas.” Balas Leera dengan suara lemahnya.

Kai mengangkat sebelah bibirnya, “Lupakan tentang bernafas.”

Leera semakin bingung , lupakan tentang bernafas?

Namun mereka tetap mempertahankan posisinya masing-masing.

Hingga Kai sedikit memajukan wajahnya walau jarak mereka sudah sangat dekat. Memberikan celah yang sangat sempit. Dan helaan nafas yang tidak berarti. Leera merasa jantungnya beradu, dan ia juga bisa merasakan jantung milik Kai karena mereka saling menempel. Ia hanya dapat merasakan bahwa hidung mereka saling bertempelan hingga akhirnya Kai berbicara di tengah-tengah celah sempit dan panas itu.

Hingga nafas mereka saling tertukar.

“Ciuman waktu itu… sangat nya–ta” bisik Kai terbata karena sulit mengambil nafas. ia hanya dapat mengambil nafas Leera yang berada tepat di depan hidungnya.

Leera hanya terdiam merasakan hidungnya yang bersentuhan dengan hidung Kai, terlalu sibuk dengan detak jantungnya. Ini bukan celah lagi, ini bukan celah, ini terlalu sempit.

“Apa aku harus buktikan bahwa itu nyata?” Bisik Kai lagi lebih pelan. tepat di depan wajah Leera. Leera membulatkan matanya dan jantungnya berdetak semakin cepat menyadari tentang apa yang Kai bicarakan.

Apa maksudnya? membuktikan?!

Leera terlonjak namun ia mencoba tetap fokus dengan Kai. Ia semakin sulit bernafas,

“Aku–tidak, dapat berna, fass..” Bisik Leera sudah tidak tahan, namun tangan Kai tetap menahan wajahnya untuk tetap di depannya.

“Sudah kubilang, lupakan tetang bernafas karena aku akan membuktikannya..–” lirih Kai berbisik, “bahwa itu, nyata…”

Otot-otot Leera menegang saat sadar Kai mulai memejamkan matanya.

To Be Continued

Failed banget LOL. Apa itu dibagian terakhir? Kalian pasti bingung. Sebenarnya aku janji post hari ini, tapi yah sekarang udah jam 0:57 jadi kelewatan 57 menit kan?😄 aku post tengah malem demi kalian deh, maaf lewat 57 menit😄 semoga kalian suka dan happy holiday!

note: untuk next chap, aku bakal ngetik semua dulu omcia nya sampe selesai baru aku post. hehe biar sekalian tamat^^ gimana?

btw thanks for read my absurd fanfic and thanks for review. aku gk banyak edit for this chap. jadi mian buat segala miss typingnya hehe byee!🙂

sasa

434 comments

  1. kai… bikin nyesek thor…
    aq suka karakter kai d akhir yg mw menyatakn dg jelas…
    d chapter slnjutnya sikap leera tolong dunk d buat lbh terbuka m prasaannya…
    bkin greget dech klo si leera jaim2 gt d dpn kai… kan kasian kai… lg skit jg..
    dtunggu y thor klanjutanx.. jgn lm2..
    hwating!!!

  2. huaaa.. keren thorr..
    s2p5 ny d post dong thorr..
    btw kai mau ngapain t >_<
    sebenernya aku udh lama bca ff ni.. tp yg season 1
    tp bru smpet ngoment.. hehehe mian :v
    aku dapet rekomendsi ff..
    dan betul ni ff bikin greget sm penasaran..
    good job..
    oia.. chapter 5 ny thorr😀

  3. Kak sasa, kalo bisa s2p5 nya jangan di protek yaa. Penasaran dehh gimana endingnya
    kalo boleh tau nah kak? Pengen banca s2p1 tapi di protek? Jadi enda kebaca deh? Boleh minta pass nya enda kak?

  4. terserah lah thor,, gpp mau ngepost next part setelah selesai ngetik. ceritanya sampe endingnya juga gpp, tapi jangan lama lama ya,,,,, hhehehehe mian terlalu banyak nuntut. ngomong ngomong, s2 nya sampe berapa. part thor,??? kasian ngeliat kondisi kkamjong yang kayak gini,,, lanjutkan karyamu thor,, sama satu lagi,,,, request ya, aku harap akhirnya happ ending kayak yg s1😉

  5. Sejauh ini aku selalu ngikutin perkembangan (?) OMCIA. Bahkan sampe rela nge-stalk twitternya Author 😁 Ternyata di bio-nya ada password OMCIA. Aku langsung histeris tau ngga saking senengnya. Gaya bahasanya bagus. Aku suka. Penggambaran perasaan tokoh dan semuanya aku suka. Saran ya, sebelum di posting mending di cek ulang penulisannya, terlebih typo di tanda baca. Authornya sering bgt disitu typo 😊 tp overall smuanya bagus. Cepet dilanjut ya. Maaf baru meninggalkan jejak. *bow*
    Cek di wordpress ku kalau mau 😁 ada FF KaiStal juga. Baru 2 judul FF disana😥 ga produktif akunya :”

    Keep writing! ^^

  6. Hello sasa author! (Aku panggil dgn gaya baru haha. Karena umurmu dan umurku msh tuaan umurku😀 *bow.abaikan*) wow!!! Aku suka banget sama FF OMCIA!!! Ah, dan sayang aku belum baca Omcia s2 p1 yang d pass itu. Yah gara gara twitter ku gabisa d buka, ya mau gmn lagi? Aku harus nunggu balesan dari kamu dulu sa, d comenan ini atau d komenan omcia p16 itu, kalo ga comenan aku d asking password. Ya jadi toloooong banget, aku jadi loncat ke omcia s2 p2 deh. Dan aku d kagetin dan d heranin sama cast baru, Lee taemin. Woo! Daebak! Dan aku nunggu nunggu banget omcia s2 p5 post! Dan p6, p7, dan sampai end! Ya semoga omcia s2 nya berchap panjang ya.. biar seru! Haha! Jinsheng!!! :*

  7. Aaaaahh bener-bener ngefly bacanyaaa /heih..ingat! Kau masih umur 15 dev/ wkwk😀 mana orang yg bikin aku ngefly? Ayo tanggung jawab! /seret author/ hahaha.. Ayo dong thor, cepet selesein s2p5-tamat. Pokoknya sbelum thn 2015 pastinya :p dan ingat! Jangan lupa dipost di sini yaa?🙂 fighting!

  8. Suka banget sama karakter kai disini. Dibalik tampang ‘kulkas atau bahkan lebih tepat freezer’ eh dia ternyata orang yg tegar. Makin suka ama alurnya

  9. Kyyyaaaa…..
    ?melting TT_TT
    eonnie kenpa ini begitu menyentuh????
    Oh my gosh kau tau eonnie? aku bisa gila karena habis”an baca OMCIA! YBIMA season 1 s/d 2 ini!!!!
    Cepet dilanjut y eonnie!!!!! Fighting!!!!!
    🙂 Ganbatte ^_^9 ^_^V ^_^b

    Salam Manis “Park Hyunnie” ^^
    Bangapseuimnida~~
    Readers setia barumu😉

  10. Huaaaahhh…degdeg seerr/?
    Ayo dikit lagiiii.. xD
    Kai jan sakit2 lagi masih ada leera kok yg nemenin kai
    Masih bingung sama taemin ,sebenernya dia itu suka gak sih sama leera??
    Lanjut ya eon…😀

  11. Ih gregetan sama couple iniii!! Gemeeess hahaa. Sama-sama jaim, padahal saling suka. Gak sabar mau baca S2P5nyaaaa!!!! Kapan di post nih??😥
    Oiyaa kira2 kalau ingatan Kai tentang Jiyeon kembali gimana ya? Apa dia udah bener2 ngelupain Jiyeon dan cuma mencintai Leera? Atau dia masih cinta juga sama Jiyeon? Terus gimana kelanjutan kisahnya Chanyeol-Seohyun? Aaaaaaarrgggghh penasaraaann!
    Mohon segera di post yaaa :’) *gomawo*

  12. Maaf baru komen. aku baca OMCIA dari 1 sampe part ini selama 2 hari tapi gak pernah komen. maaf ya^^ soalnya aku gak ngerti cara komen, ini aja cuma jajal-_- cerita ini bagus bgt, kata2nya masuk, ceritanya nyambung dan keren, masuk akal, dan the best! coba kalo ini dijadiin DramKor, aku adalah orang pertama yg membeli tiket untuk menonton ini #plak #emangnyadibioskop /? ini cerita terbaaaaiik yg pernah kubaca (y) btw kapan next s2 p5 nih? apa udah di update dan aku yg kudet? please next,, ini udah 2015 loh. tapi aku gak maksa^^ endingnya di s2p5 ya?? aku tebak, Agar Kim Jong In sembuh dan tidak membahayakan dirinya sendiri, ia harus dijauhkan dengan obsesinya. demi keselamatannya, dan Park Leera akan meninggalkan Kai, demi kesembuhan Kai, agar Kai tidak sakit, ini seperti yg Jiyeon lakukan dulu.. mungkin gitu #mulaisoktau . yaudahya abaikan aja, dan sekali lg, maaf baru komenT.T mian ne^^

  13. Astaga aku baru sadar ternyata aku bisa komen! #plak Tau gini udah dari dulu aku komen-_- btw sebenernya aku bukan kpopers, cuma menyukai cerita2 yang para kpopers buatt, dan aku nyasar ke OMCIA, daaann aku suka banget sama OMCIA. terutama karakter2nyaa. aku jadi suka beneran nih sama Kai *.* hoho .. maaf ya kak baru komen, aku sudah menjadi dark readers selama 2hari karena tidak tau cara komennya T.T ternyata sesimple ini,, maafkan aku kak SasaaaaaaaaaT.T tapi jujur dari awal aku baca OMCIA aku langsung suka, karna karakter Park Leera disini SAMA PERSIS sama karakter aku. yaa bedanya cuma aku gak fanatik sama fashion dan gak kepedean :v isshh pokoknya sulit diterjemahkan dengan kata-kata kak, banyak bgt kata2 yg pengen aku sampein tapi gak ada kesampean saking banyaknya-_- tapi aku inget salah satu nih, author kalo nulis impas itu jadi empas ya? aku kira itu typo. tapi udah berkali2 selalu ditulis empas, jadi aku bingung. yg bener itu mana , Impas atau Empas? ahsudahlah aku membahas yg tidak penting sajaa. tapi aku bener2 gak tau diri ya kaak, setelah 2 hari menjadi dark readers akhirnya menampakan batang hidungnya dan meminta untuk lanjut ceritanya. aku memang tidak tau diri T.T tapi jujur kak, ga ada niat buat jadi dark readers, cuma kukira buat komen disini harus ada akunnya, ya aku gak ngerti dulumah. iniaja aku tau gara2 jajal2 doang. yaudahya kakk, sekali lagi maaf dan selamat melanjutkan cerita/? part s2p5.

  14. Daebakk bagus banget saya suka saya suka :)) terbaik terbaik =astage ane paling telat ni komen ff tapi ane tidak mau menjadi tpyo ane akan komen ni ff meskipun udah beberapa bulan yg lalu >uislebe amet ‘-‘ <

  15. jadi kai punya gangguan saraf stlah kecelakaan waktu itu.. Kasihan dia..
    Gila kai hmpir saja akan membunuh leera dan dirinya sendiri, dgn mengendarai mobilnya ke arah jurang

  16. Omg!!!!
    Ff buatan mu emang terbaik!!!
    Daebakk😆😄😊😘😍😘👍
    Dibuat flim bgus kayaknya..
    Sebeng banget liat pasangan KaiRa.
    Senyum senyum sendiri bacanya.
    Pokoknya terbaikkkk!!
    Maaf baru coment. (Soalnya baru tau caranya hehe. Mian)

  17. Maaf yah author dari omcia season 1 sampe sekarang aku baru bisa komen. Aku harap eonni bisa cemat publish part selanjutnya.

  18. OMCIA sedikit komen aku yg di Season 1 , karakter Leera adalah karakter yang sangat aku suka , dia berani dan percaya diri , cerewetnya yg bikin lucu , dia juga ga lebay masalah sama Jiyeon. Karakter Kai nya , aku sedikit bingung, dia kurang ekspresi banget menurut aku , (kaya laki di Anime aja yg datar melulu,gk jelas ekspreainya apa ) jadi gak tau apa yg dirasakan Kai sebenarnya. Tapi kalau Kai mau ending sama Leera buat dia mengingat semua memory nya dulu (Jiyeon misalnya) jadi kalau Kai cinta sama Leera itu cinta murni di hidupnya melupakan Jiyeon karena dia mencintai Leera bukan melupakan Jiyein karena dia hilang ingatan . Aku harap masalah yg ini di lurusin. Di Season 2 nya kurang jelas sama si Kai nya. Ok sekian dari aku . Dan aku berterimakasih atas penulis yg mau berbagi cerita menarik ini ^^ maaf ya panjang cuma opini aja ko hehe kapan ya kelanjutanya

  19. Aaaaaaaaaaa sasa
    Ini lebih dari cukup
    Suka bgt part ini
    Akhirnya kai mulai trbuka juga ke leera
    Dan hhhahahaha
    Leera jg ngakuin perasaannya ke kai
    Maniiissssss bgt

  20. 😍😍😍😚😚😘😙👍👍👍👍👍 kayaknya aku udah pernah baca ff ini, tapi entah kapan 😅😅. Dan baru ngerti sekarang jalan seritanya wkwkwk..

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s