OMCIA – part5a


Hai! ini dia OMCIA part 5a nya, smoga kalian senang ya aku post di tengah2 jadwal kesibukan hoho, gak sempet ngedit dan gak sempet ngasih embel2 di awal. cuma ini aja, maap kelamaan chingudeul!😄

words: 19000

happy reading!

Blenjijid

cropped-blenhjd.jpg

 

 

Tidak. Itu semua bukanlah kejadian yang sebenarnya. Itu hanyalah bayangan Leera semata apabila ia tidak menghindarkan wajahnya dari Kai sekarang. Leera pun mulai tersadar dan menyadari bahwa Kai sudah sangat mencurigakan baginya. Entah apa yang membuat Leera berfikir untuk menolak Kai sekarang.

Kai pun mulai memajukan wajahnya dengan perlahan, hingga akhirnya. Kai tidak merasakan bibir Leera seperti dulu. Melainkan sebuah jari telunjuk yang menghalangi bibirnya.

Hey?Kai tersentak. Ia bingung mengapa Leera menghindar.

Kai pun langsung membuka matanya, sedikit kaget. Tepat di depan wajahnya, air muka yeoja yang katanya cute itu berubah sedikit takut dan ragu. Ia masih keukeuh menaruh jari telunjuk di bibirnya untuk menjadi penghalang. Pikiran Leera kuat mengatakan, bahwa ia tak mau lagi membiarkan Kai melakukannya lagi.

Entah mengapa, feelingnya begitu kuat.

Dari bawah dagu mereka, tangan Kai bergerak untuk meraih jari Leera yang menghalanginya. Ia menarik jari itu dengan perlahan, agar tidak ada lagi yang menghalanginya. Namun, jari itu tetap kuat berdiri disana, tidak mau pergi. Leera menggeleng.

Maaf

Kai pun segera mundur dan memandang Leera lamat. Benar-benar tidak mengerti apa maksud yeoja itu. Ia hanya menatap Leera seakan bertanya , ‘mengapa?’

Leera kemudian melepaskan rengkuhan Kai terhadapnya dan menjauhkan wajahnya. Ia pun mengusap wajahnya perlahan yang telah sedikit basah karena keringat. Lalu bangkit dari posisi berbaringnya dan terduduk lemah. “Maaf.” Ujarnya pelan sembari menghadap kea rah pohon dengan tatapan kosong.

Kai juga bangkit untuk duduk dan menghampiri Leera yang menjauh. “Gwaenchanayo?”

“Aku tidak bisa.” Ujar yeoja itu lagi sembari memeluk kedua lututnya.

Kai pun hanya mengangkat alisnya, bertanya-tanya dalam hati. Sejujurnya, ia sedikit kecewa. Namun, bagaimanapun juga Leera menghindar darinya, dan itu sungguh memalukan.

Ia merasa tertolak.

Kai pun menghembuskan nafasnya lewat mulut. Lalu mencuri pandang Leera dari samping. Sedangkan Leera hanya menatap kosong pada pohon, berfikir keras dalam benaknya.

Leera POV

Aku tak bisa membiarkannya menyentuhku lagi bukan? Sudah cukup sekali aku merasakannya seakan-akan itu kecelakaan semata. Tetapi, kali ini sungguh berbeda. Kami bukanlah sepasang kekasih atau apalah. Aku juga bingung memikirkannya. Kami tidak ada hubungan apapun, dan aku tidak tahu apa Kai hanya mempermainkanku atau tidak. Mulai sekarang, aku harus kuat!

Aku tidak boleh bertindak gegabah. Ya benar, Kai ingin membuktikan bahwa kejadian yang lalu itu nyata dan bukan karena luapan emosinya semata. Ia sadar melakukannya. Namun, apakah itu cukup membuktikan bahwa ia serius? Aku sudah tidak kuat dipermainkan lagi. Untuk apa aku menyerahkan bibir ini terus menerus padanya.

Aku tidak ingin merasa murah dan lemah.

Lain kali aku harus berani menolak.

Ya! Tindakan kau benar Park Leera.

Walaupun aku begitu menyukainya. Tetapi, aku akan terus berlatih agar tidak buta. Aku tidak akan dipermainkan lagi oleh namja. Aku butuh pengakuan yang sebenarnya, apa ia menyukaiku atau malah sebaliknya. Baru aku akan menyerahkan diriku seutuhnya. Kai? Gila. Aku takut ia tak dapat mempertanggung jawabkan tindakannya. Ia selalu melakukan hal yang tiba-tiba dan sangat tidak kumengerti.

Karena ia selalu memendam rasanya sendiri.

Dengar tadi bahwa ia hanya memberitahukan gejala-gejala psikologisnya hanya padaku? Itu bukti bahwa ia benar-benar tertutup pada orang lain. Ia pasti tidak akan mengakui perasaannya. Yah, aku tidak ingin percaya diri. Aku akan tetap menjaga diri.

Lagipula, kami hanya teman. Dan aku mengirimkan sinyal pada otakku bahwa aku adalah malaikat penjaganya, karena ia sakit sepanjang waktu.

Sekarang, kami hanyalah seorang teman yang saling menjaga satu sama lain. Benar?

Yah, aku tidak boleh bertindak kekanak-kanakkan seperti dulu. Aku harus mulai tumbuh dewasa.

“Jadi kau tidak ingin aku membuktikannya?” Kai membuka mulutnya.

“Mungkin kau bisa membuktikannya suatu saat nanti.” Aku menarik ujung bibirku, lalu menoleh padanya. “Oke, Kim Jong In?” Tanyaku memastikan.

Sekarang, ia seperti bayi yang diiming-imingi sebuah permen. Ia terlihat berfikir di dalam ke kosongan dan akhirnya, namja berambut hitam kecoklat-coklatan itu mengangguk padaku. Lalu sedikit melakukan smirk.

“Baiklah.” Jawabnya. Aku sedikit ngeri, apa ia menganggap ini adalah sebuah tantangan?

“Aku akan berjanji untuk membuktikannya secepat mungkin, sebelum aku berubah pikiran.” Kai kembali melakukan smirk.

Aku tak pernah mengerti jalan pikiran Kai. Ia punya sisi besar yang tidak dapat ditebak. Ia rumit. Serumit masa lalunya.

Kurasa, smirk adalah sebuah klise.

Bahwa akan ada yang terjadi lagi selanjutnya.

Aku menatap matahari yang mulai pudar. Sebenarnya sudah berapa lama kami berada disini? Satu jam kah? Atau bahkan dua jam?

Akupun mengecek jam tangan dan menyadari bahwa ini sudah terlalu siang bagi kami berdua jika belum pulang ke rumah. Tetapi tunggu, aku ingat akan permintaan Kai sebelumnya untuk menemaninya sepanjang hari, hari ini. Itu berarti, aku akan terus bersama Kai hingga sore hari bukan?

#

Taemin mendongak-dongakkan lehernya kesana-kemari sedari tadi. Bertanya-tanya kemana Leera pergi dan mencari klu. Baiklah, tidak ada yang dapat Taemin temukan. Satu-satunya harapan Taemin hanyalah bertanya kepada seorang teman dari Leera sendiri. Kim Jong In. Namun sayangnya tak kunjung kelihatan juga batang hidung namja itu.

Taemin tidak sadar bahwa Kai sakit dan Leera menemaninya di poliklinik. Taemin juga tidak tahu kalau mereka bolos dari sekolah, dan tentu saja teman sekelas Kai dan Leera juga tidak tahu kalau mereka kabur. Hanya Chanyeol yang menyadarinya, walau ia tidak tahu persis apa maksud dari mereka berdua kabur dari poliklinik.

Sementara itu di tempat lain, Gank EXO dan juga Seohyun berkumpul ke depan poliklinik. Do Kyungsoo telah menenteng tas punggung Kai di sebelah tangannya. Dan Seohyun menenteng tas punggung milik Leera. Baekhyun memasuki ruang poliklinik yang benar-benar dingin menusuk. Apalagi saat Baekhyun melihat tidak ada siapa-siapa di dalam ruangan ini, benar-benar tambah menusuk.

Baekhyun menekuk alisnya dan menyipitkan matanya hingga tidak tampak lagi matanya.

“Hei, kemana mereka pergi?!” Kagetnya yang tiba-tiba berbalik dan melotot pada Gank EXO dan Seohyun. Chanyeol mengangkat alisnya dan merasa mengerti dengan apa yang ia lihat barusan, namun ia mencoba tetap diam. Sementara itu mata Kyungsoo membulat sempurna layaknya telur.

“Kau tidak bercanda kan?” Tanya Kyungsoo dengan nada sedikit naik. Tiba-tiba ia mencuat masuk ke dalam ruang poliklinik dan mendapati ranjang yang kosong tak berbekas. Seharusnya Kai ada disana. Begitu juga dengan Leera.

Hingga Suho angkat bicara. “Aku akan hubungi orang tua mereka.”

“Atau jangan-jangan mereka sudah pulang terlebih dahulu?” Chanyeol membuka mulutnya.

Mereka saling berceletuk satu sama lain. Banyak ide-ide yang hanya mengambang di udara dan tersingkir begitu saja. Banyak pernyataan yang membuat ini semakin rumit.

Sehun mulai menyahut, “Sepertinya mereka pergi dari sini.” Sehun bodoh. Jelas-jelas tidak ada Kai dan Leera disini, semua nenek-nenek di galaksi juga tahu kalau mereka pergi.

“Kau ini! Tidak lulus TK huh?” Baekhyun memandang Sehun dengan death glarenya seolah olah matanya hampir menimpuk kepala Sehun yang lonjong itu. Sehun hanya tersenyum-senyum ala orang sopan.

“Sudah-sudah kalian ini.” Kyungsoo mengingatkan sembari menatap mereka.

Setelah itu mereka saling mencuatkan gagasan-gagasan tentang kemana Leera dan Kai pergi. Lalu saling memberi solusi tetapi juga saling membantah karena solusi tersebut kurang bijak. Sehun berkali-kali bertingkah bodoh dan hal itu membuat Baekhyun mengeluarkan jitakan hangatnya yang special. Sementara Seohyun juga ikut-ikut memberi solusi namun dengan nada yang tenang, diikuti keaminan dari seorang Park Chanyeol.

Mereka berenam terlihat absurd. Seperti kumpulan anak-anak aneh yang menempel-nempel di pintu poliklinik. Dan tentu saja begitu mencuri perhatian sekitar. Sehingga seseorang menghampiri mereka.

“Permisi.” Seorang namja bertubuh sedang, kulit yang seputih susu dan rambut hitam jamurnya. Sedang tersenyum gigi, ramah. Chanyeol yang menangkap arah suara itu langsung memandangnya hina. Sehun yang menoleh dengan lamban segera menyadarinya,

Dia kan…

Sehingga Chanyeol dan Sehun saling berpandangan. Sementara Seohyun memilih tetap tenang walau ia tahu siapa yang dihadapinya ini.

Atmosfer kerusuhan yang terjadi di antara mereka lenyap seketika. Berganti menjadi suasana penerimaan orang asing.

“Aku Lee Taemin. Kurasa kalian adalah teman-teman dari Park Leera bukan?”

Chanyeol duluan membuka mulut dalam menjawab pertanyaan yang lebih dari sopan itu. “Ya, terimakasih atas perkenalannya Lee Taemin. tetapi kami bukan teman Park Leera.” Ujarnya sembari tersenyum sok sopan kepada Taemin. Walau sebenarnya ada seuntai kata yang kurang sopan.

Ia akan terus menjauhkan Taemin dari kehidupan mereka. Karena menurutnya, Taemin adalah penggangu besar. Sudah untung akhir-akhir ini, Leera sudah mulai menjauh dari Taemin. Ia takkan membiarkan Taemin mampir lagi di kehidupannya. Karena, ia sendiri punya chemistry negative dengan Lee Taemin. Seakan-akan ia pernah merugikan sesuatu.

“Maaf?” Ujar Taemin mencoba memastikan. Jika mereka bukan teman-teman Leera lantas mengapa sedari tadi pembicaraan mereka tentang Park Leera?

Taemin juga merasa kurang dihormati. Menyebut namanya tanpa embel-embel ‘sunbae’ ? Tsk. Namun Taemin tetap berusaha sopan dan bergaya high class. Bertanya apakah mereka mau membantunya.

Suho mengerjapkan matanya, lalu berdengus kea rah Chanyeol. “Tentu saja kita teman dari Park Leera.”

Lalu Chanyeol memelototkan matanya pada Suho. Suho tidak bisa diajak kompromi rupanya.

“Dia menghilang.”

“Maksudmu apa dengan ‘menghilang’ ?” Tanya Taemin.

“Sebelumnya Leera ada di ruangan ini,” Jawab Kyungsoo tiba-tiba sembari menunjuk ruang poliklinik.

Taemin mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

“Aku sudah menelfonnya lebih dari sepuluh kali. Namun tidak dijawab.” Ujar Taemin menambah sebuah fakta bahwa Leera sepertinya sibuk dengan kegiatannya sekarang sehingga ia tak sempat mengangkat telfonnya.

Sementara Sehun mendengus ingin tertawa, mungkin karena ia muak denganmu.

Chanyeol juga tertawa dalam hati.

“Paling juga mereka pulang duluan ke rumah. Mungkin saja bukan?” Asal Chanyeol. Karena ia tahu Leera dan Kai pergi tadi.

“Ya, jangan panik.” Timpal Sehun mengamini Chanyeol.

Taemin pun tidak terima dengan alasan Chanyeol. Ia tidak mudah di santaikan seperti itu. Ia butuh sesuatu yang pasti. “Aku akan menelfonnya lagi.” Sahut Taemin lalu mulai merogoh saku celananya.

Chanyeol menghadangnya. “Shireo, kubilang mereka pasti baik-baik saja.” Sehun mengaguk keras. “Ne, mereka baik-baik saja!”

Namun justru sebaliknya Suho dan Kyungsoo menentang mereka. “Ya! Apanya yang baik-baik saja huh? Sekarang mereka menghilang dan petugas poliklinik pun tidak tahu mereka kemana. Mereka meninggalkan tas mereka!”

Sementara itu Baekhyun hanya memandang dengan ekspresi mengejek.

“Jangan telfon,” Bisik Chanyeol pada Taemin di sebelahnya.

Taemin hanya mengangkat bahu dan menganggap ide Chanyeol benar-benar tidak rasional. “Kurasa idemu buruk. Aku akan tetap menelfon.” Taemin tersenyum tanpa dosa dan mulai mengetik nomor.

Chanyeol pun tersentak dengan tingkah Taemin dan tangannya mulai mencegah jemari Taemin untuk mengetik. “Jangan-telfon” perintah Chanyeol sembari menahan tangan Taemin.

Taemin bingung dan merasa aneh, “Hey, apa masalahmu kawan?”

Taeminpun menarik tangannya agar lepas dari tahanan Chanyeol. Chanyeol pun terhempas dan Suho memandangnya nista, “Kau kenapa Chanyeol. Ia hanya ingin melakukan hal baik.”

Chanyeol mendengus kesal dan memandang Sehun. Sehun hanya mengangkat bahunya. Mungkin lain kali hyung, begitu arti tatapan Sehun.

Sementara itu Taemin mulai menekan nomor Leera, lalu menekan tombol call.

#

Mobil,

Leera hanya memandang lurus ke depan kaca mobil. Berpura-pura menikmati pemandangan jalan yang tadi di laluinya. Gedung-gedung kecil mulai kasat dari matanya, dan mulai berganti dengan gedung-gedung pencakar langit yang begitu mewah. Suasana langit yang sedikit mendung membuat gedung-gedung itu tampak terlihat abu-abu kehitaman.

Ia tak kuasa mengajak Kai berbicara, menengok pada namja itu saja rasanya susah sekali. Ia masih mengingat kejadian tadi. Nyata tidak nyata. Kai tidak dapat membuktikannya karena Ia menghindar. Ia sadar bahwa selama ini Kai selalu memberi jawaban lewat tindakan. Bukan perkataan. Kai bukanlah tipe lelaki yang suka membual dengan perkatannya. Jika kebanyakan lelaki mengumbar perasaan lewat perkataannya, maka Kai akan melakukannya langsung dengan tindakannya. Namun, Leera ragu akan tindakannya. Dan membiarkan dirinya untuk menghindar.

“Ehem”

Leera berdehem dan memasang sitbeltnya seakan memberi kode pada Kai untuk memasang sitbeltnya juga. Biasanya Kai melakukannya terlebih dahulu dari Leera, namun kali ini Leera lah yang mengingatkannya. Walau secara tidak langsung.

Kai menyadarinya dan spontan tertawa kecil. Lalu tangannya mulai menyusuri jok dan meraih sitbelt. “Baik, Nona Park.” Ujarnya sembari tetap memerhatikan jalan.

Baiklah, ini sudah kesekian kalinya Kai tertawa. Walau hanya tertawa kecil. Ia tampak lucu.

Leera hanya tersenyum tersembunyi di balik wajahnya. Ini kesekian kalinya ia menyadari bahwa ia bertambah calm. Dulu ia begitu cerewet dan pemarah. Bahkan tak segan-segan ia menjitak Kai dan berdebat dengannya. Ia ingat saat dulu Kai menyuruhnya menggunakan sitbelt.

“ Kenakan sitbeltmu. Atau kau mau aku yang memasangkannya untukmu?”

“Cih. Apa-apaan kau ini!”

“Ya! Kau harus memakainya. Kau mau mati huh jika kita kecelakaan?”

“Baiklah-baiklah, babo. Sebenarnya aku ingin memasangnya sedari tadi, tetapi aku lupa yasudah. Tidak usah mengingatkanku. Aku juga tahu!”

“Yayaya, terserah.”

Keadaan yang sungguh-sungguh berbeda. Dulu ia begitu tergila-gila dengan Chanyeol dan ia begitu benci dengan Kai karena ke-byuntae-annya. Entahlah. Di mata Leera, Kai begitu agresif dan byuntae sehingga ia kesal habis-habisan saat Kai tinggal bersamanya. Merepotkan dan menjijikkan. Begitu pikirnya. Namun sekarang begitu berbeda. Seakan bumi terbalik, Kai mulai menghormati Leera seakan wanita semestinya. Pandangan mereka menjadi berbeda satu sama lain.

Begitu juga Leera yang memandang Kai sebagai lelaki sekarang.

Minyoung? Jiyeon? Semua sudah lenyap dan seakan tak berbekas. Mereka sudah hilang dari kehidupan mereka.

Jika dulu suasana di mobil selalu hening karena mereka tidak menyukai satu sama lain. Sekarang mereka saling terdiam karena kaku satu sama lain. Aish, jinja. Mereka sama saja. Mereka menghabiskan setengah perjalanan dengan kesenyapan.

Mobil pun terus melaju dan sampai ke jantung kota Seoul. Dimana terletak banyak café, commercial, dan residental jika mereka menempuh beberapa km lagi.

Namun, tiba-tiba di tengah keheningan mereka. Kai membuka mulutnya.

“Ah, aku lupa bahwa aku berjanji sesuatu padamu.”

Leera membulatkan matanya merasa tersentak dan refleks menoleh kea rah namja di sebelahnya. “Janji?” Tanyanya. Malah bingung sendiri dengan apa yang dijanjikan Kai di taman rerumputan sebelumnya.

Leera tidak ingat bahwa Kai menjanjikannya sesuatu yang sangat-sangat penting! Babo, apa ia tidak ingat?

Leera membuka mulutnya dan berfikir keras. Lalu Kai menyahut, “Jika kau lupa, lupakan saja.” Ujarnya merasa bodoh. Dan memasang wajah seperti emoticon “-_,-“

“Andwae! Aku tidak mau melupakannya. Aku tahu ini penting, namun kenapa aku bisa lupa?” Leera menepuk jidatnya. Langsung mengutarakan apa yang ada di hatinya. Begitu histeris saat ia sadar ia melupakan hal yang sangat sangat sangat penting.

Kai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jadi kau benar-benar lupa?”

Leera mengangguk polos “Ah! Tadi hampir ketemu haduh. Sedikit lagi aku mengingatnya!” Leera begitu dalam memasuki pikiran dan memorinya namun hanya sedikit klu yang ia dapat. Ia tidak tahu bahwa hal yang harus diingatnya adalah hal yang sangat sangat mencengangkan baginya saat ia teringat kembali.

“Baiklah-baiklah.” Ujar Kai menyerah. “Aku yang akan memberitahunya padamu.” Nada Kai semakin merendah dan pelan.

“Kalau aku sebenarnya—“

Drrtttt~ Drrrttt~ Drrrrt~

Sebuah panggilan masuk. Leera langsung tersadar bahwa itu adalah bunyi dari ponselnya sehingga ia mengabaikan kata-kata Kai sejenak dan mulai focus dengan bunyi ponsel. Setelah ia menemukannya—dengan gupek—ia langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa penelfonnya.

“Yoboseyo?” Sapa Leera mengawali percakapan.

Kai yang menyadari Leera sudah tidak focus dengan ucapannya pun seratus persen tidak mood lagi melanjutkan ucapannya tadi. Lalu kembali berkeluh kesah, memalingkan muka dan kembali menajamkan tatapannya pada jalanan.

Kai kesal.

Sementara Leera dengan wajah tanpa dosanya tetap meladeni panggilan masuk tersebut.

“Ya! Leera-chan!” Terdengar suara lelaki dari ujung telfon dan sahutan-sahutan suara lain.

“Telfonnya tersambung, ia mengangkatnya!” Ujar lelaki itu lagi.

“Taemin-kun? Apa ini kau?” Leera mempertanyakan siapa penelfonnya. Rasanya janggal saat ia mendengar suara-suara lain yang berisik selain Taemin disana. Hanya Taemin yang memanggilnya dengan sebutan ‘Leera-chan’ dan spontan, Leera juga akan memanggil Taemin dengan sebutan ‘Taemin-kun’.

Sahutan-sahutan suara yang lainnya adalah suara milik Chanyeol, Sehun, Kyungsoo, Baekhyun, Suho dan Seohyun. Mereka tentu saja sangat penasaran akan dimana Leera berada. Kecuali Chanyeol yang dengan percaya diri mengetahui dimana mereka berada.

Chanyeol berfikir bahwa Taemin hanya mengganggu waktu bersenang-senang Leera dan Kai saja. Chanyeol yakin mereka sedang melakukan hal yang penting. Dan tak dapat dipungkiri, firasat Chanyeol selalu benar. Yah, sebenarnya Kai ingin mengakui perasaannya saat itu juga. Tapi apa boleh buat, Taemin menelfonnya dan mengacaukan semuanya.

“Yoboseyo ne? Ada apa?”

“Kau dimana?”

Mendengar pertanyaan itu dan serbuan kata-kata sahutan yang melatarbelakanginya. Manik mata Leera pun beralih pada Kai yang sedang menyetir seakan-akan, aku harus bilang apa?

“Di jalan.” Ungkap Kai dibalik kekesalannya, sama sekali bukanlah jawaban yang praktis.

Tentu saja mereka—yang berada di ujung telfon—merasa bodoh mendapat jawaban ‘di jalan’ tersebut.

“Maksudku, di jalan apa? Kami khawatir denganmu.” Taemin menjawab dari ujung sana. Mengungkapkan kekhawatirannya. Ia selalu mengungkapkan tentang apa yang ada di hatinya.

Kata-kata ‘kami’ dan ‘denganmu’ membuat hati Leera sedikit bergetar. Apa Taemin dan sisanya tidak tahu menahu kalau Leera dan Kai pergi bersama?

“Em…” Leera bingung ingin menjawab apa. Apakah ia boleh memberitahu mereka bahwa ia dan Kai yang notabene sedang diberikan izin resmi berdiam di poliklinik, memanfaatkan kesempatan itu untuk membolos? Bagaimana cara Leera menghadapi serbuan pertanyaan mereka. Jika mereka menanyakan ‘mengapa kalian pergi, bukannya Kai sedang sakit?’

Apa yang harus Leera jawab? Menjelaskan bahwa Kai mengalami suatu kelainan setelah kecelakannya. Leera kira itu benar-benar suatu rahasia yang Kai tidak mau bagi pada orang lain kecuali untuk dirinya sendiri.

Leera menggigit bibirnya dan bingung ingin menjawab apa. Sementara Kai hanya diam memegang stir dan berpura-pura tidak peduli.

Leera pun menutup speaker telfon dan berbisik pada Kai yang sedang kesal. Tentu saja Leera tidak tahu bahwa Kai begitu kesal. Leera hanya menampakkan wajah tanpa dosanya.

“Ya! Kai-a aku harus jawab apa?” Tanya Leera sembari menatap Kai sedikit panik.

Kai hanya mengangkat pundaknya.

Leera memutar bola matanya, dalam keadaan panic seperti ini Kai masih saja sempat bersikap dingin? “Hey! Tidak bisakah kau urusi mereka? Ini tentangmu kau tahu?”

Hati Kai sedikit bergetar mendengar ‘ini tentangmu’. Ia pun tergerak untuk membuka mulutnya, “Matikan telfonnya.” Ujarnya, dua patah kata yang sukses membuat Leera bertanya-tanya dan

“Itu tindakan bodoh kau tahu? Mereka justru akan makin penasaran kita kemana!” akhirnya Leera menjerit.

Kai menolehkan sedikit kepalanya. “Ikuti saja perintahku.” Lalu kepalanya kembali menoleh lagi ke jalan.

Dasar namja dingin. Leera menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlakuan macam apa itu? Menoleh dengan mata sinis lalu langsung berbalik?

Namun Leera segera mengikuti kata-kata Kai tanpa basa-basi. Ia pun langsung mematikan telfonnya dan mematikannya.

Lalu Leera menyilangkan tangannya dan bersandar di kursi.

“Kita pulang,” Tiba-tiba Kai membuka suara setelah mereka saling terdiam.

Hah? Bukannya Kai sendiri yang mengajak Leera untuk menemaninya hingga sore? Alis Leera pun bertaut bingung dan ia langsung bangun dari sandarannya.

“Aku sedang tidak mood.”

Kai akhirnya memutar stirnya dan mobil pun berbelok, menuju kompleks perumahan yang ditempati keluarga Park.

Leera hanya menganga menanggapi pernyataan Kai. Tidak mood? Dia ini semacam yeoja. Ia sangat labil. Sejak kapan Kai jadi moody?

Namun sudahlah, Leera hanya pasrah. Lagipula, yang mengajaknya keluar adalah Kai. Mengapa ia harus berngotot-ngotot pada Kai untuk tidak membatalkan jalan-jalannya?

Ia tidak tahu bahwa Kai tidak mood karena sebuah telfon menghalangi rencananya untuk mengakui perasaannya. Jelas sekali, seratus persen bahkan seribu persen kehilangan minat untuk mengakuinya lagi. Mengapa harus ada telfon itu huh?

Apalagi ia sadar bahwa yang menelfon Leera adalah Taemin.

Sial kau Lee Taemin

#

 

1 minggu kemudian,

Author POV

Tentu saja Kai masih terbayang-bayang kejadian beberapa hari yang lalu. Ia sama sekali tidak peduli pada Taemin yang tampak di depan wajahnya dengan senyum tanpa dosanya itu. Yang selalu berlalu-lalang di depannya, menyapa, tebar pesona, menyentuh Leera di depannya, dan melakukan segala sesuatu di depan wajahnya. Kai akan langsung berbalik badan, dan tak mau melihatnya lagi. Daripada ia muntah disana?

Ia masih kesal dengan semua itu hingga Sehun mulai mempertanyakan jati dirinya. “Kenapa kau?” “Kau ingat misi kita tidak sih?” Segala yang berhubungan dengan perasaannya, dan mengerjai Taemin. Ia sudah muak.

Hal apalagi yang akan menghalanginya jika ia berusaha lagi? Sudah cukup bukan semua itu.

Kai memandang sasangnim di depan dengan perasaan hambar. Sementara itu, ia memang tidak pernah tertarik untuk menghampiri Leera lagi. Karena sejak kejadian Leera menghilang secara tiba-tiba dari sekolah dan Taemin begitu cemas, sekarang Taemin menjadi overprotektif pada Leera dan bilang bahwa ‘ibumu memberi tugas padaku untuk selalu menjagamu, Leera-chan’. Suara Taemin selalu menggelegar hingga ke telinganya walau sekecil apapun ia berbicara.

Tak jarang, waktu berangkat sekolah, waktu istirahat, pergantian jam, dan waktu pulang. Kai selalu melihat namja cantik rambut jamur itu timbul di depan wajahnya. Menyapanya dan langsung menghampiri Leera.

Bahkan tak jarang gossip hilir mudik, bahwa Leera sudah menjalin hubungan dengan Taemin.

Kantin>

“Oh ayolah Kai-a! dimana jiwa lelakimu itu hah?”

“Kau ini yeoja atau namja mengapa menyerah begitu?”

“Apa yang kau pikirkan selama ini huh?”

“Sebenarnya ada apa denganmu?”

“Kau akan menyerahkan dia pada namja cantik itu?”

Beribu pertanyaan menyerbunya dengan tak terkendali, pikiran Kai pun menjadi terpecah. Dan ia menatap temannya satu persatu. Soal yeoja, mereka selalu saling mengetahui satu sama lain dan selalu membicarakannya walau tidak dipinta oleh pihak yang sedang mengalami masalah dengan yeoja tersebut.

Kai menggeleng, “Tidak semudah itu hyung!” Ujarnya pada Baekhyun dan Chanyeol yang paling ngotot.

Sehun hanya menepuk-tepuk pundak Kai. Menyemangatinya lewat gerakan tangan.

“Babo! Aku yakin yeoja itu juga punya perasaan yang sama denganmu!” Chanyeol menatap Kai dari bawah ke atas, berujar dengan bibir yang maju kedepan.

Baekhyun mengamini perkataan Chanyeol dan bertutur layaknya professional. “Kau hanya perlu mengakui perasaanmu,”

Suho tiba-tiba berbicara, walau ia lemah tentang persoalan yeoja, “Ya, kurasa kau terlalu ragu untuk mengakuinya.”

Kata-kata yang diucapkan mereka masuk ke dalam telinga Kai hanya sebagai gelombang yang hambar. Tidak berisi. Dan tidak mempengaruhinya sama sekali. Ia masih terdiam dan melamunkan sesuatu. Walau Kai terlihat dingin dan dewasa, bagaimanapun juga maknae tetap maknae. Walau yang termuda di antara mereka adalah Sehun. Kai masih satu line dengan Sehun tentunya, yaitu 1994. Ia masih sulit menyelesaikan masalahnya sendiri bukan?

Seiring para anggota exo berkoar di depan Kai. Menimbulkan suara berisik seperti lalat yang bergaung di telinga, Kai terdiam dan menatap kosong. Dan tiba-tiba suaranya menyembur ke permukaan bagai sentakan.

“Aku tahu!”

Suara bass Kai menggelegar ke seluruh telinga mereka.

Suho pun langsung menyumpal mulut Baekhyun dan Chanyeol yang saling berdebat. Sehun pun langsung memfokuskan telinganya pada Kai. D.O, seperti biasa, mengerutkan alis terlalu dalam dan membulatkan matanya. Seakan membentuk O.O

Namja yang dikenal dingin itu berpangku tangan layaknya anak kecil sembari memandang atap kantin. Ia menggumam, dan saat ia turunkan pandangannya pada teman-temannya, ia baru sadar mereka menatap dan menunggunya berbicara.

Kai pun terhenyak dan melepaskan pangkuan tangannya. “Eh?” Tanyanya bingung. Seakan ia tidak sadar bahwa ia menyemburkan suaranya terlalu besar hingga menarik perhatian.

Baekhyun menyipitkan matanya yang sudah sipit, membuat indra-indra di tubuhnya berkurang satu. “Kau tadi bilang ‘aku tahu!’ sambil menjerit, Kai-a.” Ujar Baekhyun.

Chanyeol mengamini, “Ya, Baekki benar!” Chanyeol membinarkan matanya.

Lalu anggota exo yang lainnya mengangguk-angguk setuju. Kai semakin terhenyak “Sejak kapan?” tanyanya bingung.

“Yak!” Chanyeol dan Baekhyun menjerit dan melemparkan pandangan kesal.

Dalam hati, Kai sadar rencana yang tiba-tiba terlintas di benaknya itu … sedikit memalukan. Bahkan sangat memalukan jika diumbar.Sehingga ia tidak mau membeberkannya pada teman-teman.

“Ya baiklah, kurasa aku sudah kenyang dan ingin pergi.” Kai beranjak dari bangkunya dan menatap kea rah Sehun member kode agar Sehun bersamanya.

Sehun pun mengangguk dan ikut bangkit juga.

Seiring Kai dan Baekhyun berdiri dari kursinya. Membuat para yeoja di sekitarnya menoleh kea rah mereka, karena mereka sangat mencolok akan tinggi badan yang menjulang. Dan pesona yang mengerikan.

Kyungsoo menghentikkan mereka, “Ya, kalian belum menghabiskan makanan, nde?” Lelaki satu ini tahu bahwa membuang-buang makanan tidak baik. Kyungsoo adalah kompas kebaikan para anggota exo jika mereka melakukan hal-hal yang kurang baik.

Kai hanya menggaruk kepalanya dan tersenyum sangsi. “Eh, kami sudah kenyang hyung.”

“Mungkin Baekhyun hyung bisa menghabiskan makanan kami.” Sahut Sehun tiba-tiba.

Baekhyun pun langsung mengeluarkan death glare pada Sehun sembari menjaga-jaga menatap sekitar. Baekhyun tukang makan, itu adalah aib besarnya dan ia tak ingin yeoja-yeoja di sekitarnya mendengar hal itu. Sendok sudah di tangan kanan Baekhyun. Bukan untuk memakan sisa makanan Kai dan Sehun, melainkan untuk melempar benda stainless itu kea rah mereka.

Sehun meneguk ludahnya dan membentuk tangan memohon pada Baekhyun. Baekhyun membalasnya dengan death glare dan sendok ancaman.

“Baekhyun … sudahlah.” Suho menenangkan Baekhyun.

Kai langsung menyahut, meredakan suasana yang Baekhyun buat ini, “Kalau sudah kenyang tentu saja tak bisa dipaksa bukan? Ayo Sehun-ah kita pergi.” Kai dan Sehun langsung berbalik badan.

Berjalan melewati tengah-tengah kantin. Jalur yang selalu digunakan anak-anak popular di sekolahnya. Mereka sangat menarik perhatian hingga mata-mata mengikuti langkah mereka hingga pintu keluar kantin.

Anggota-anggota exo yang lain hanya menganga memandang duo maknae itu pergi.

#

Di depan jajaran loker di koridor, setelah pulang dari kantin.

Itu lagi, itu lagi. Taemin yang sedang menghampiri Leera yang menaruh barang di loker. Mengapa mereka selalu bersama dimanapun, kapanpun? Kai memandang mereka dari ujung koridor yang hendak berjalan masuk ke dalam sana untuk menuju kelas mereka. Atau lebih tepatnya Kai dan Sehun yang sedang berjalan berdua.

Melihat pemandangan itu, otaknya mulai menjadi aneh dan gejolak itu timbul lagi. Emosi yang meluap-luap, obsesi yang berlebihan, dan entahlah. Kai mulai menjadi aneh. Ia menatap Taemin-Leera dari jauh dengan tatapan yang tajam sekali. Jangan sampai mereka berkelahi.

Walau Kai jago berkelahi, namun ia tak pernah mendapat blacklist dari sekolah karena tertangkap berkelahi. Hello Kai? Sadarkah kau bahwa ia seorang Lee Taemin? Ia seniormu dan sepertinya ia mempunyai banyak dukungan (juga) layaknya mereka.

Kai mulai mempercepat langkahnya, dan rahangnya spontan mengeras. Untung saja Sehun segera menyadarinya, “Kai-a?” Ia menoleh secepat mungkin pada Kai yang terlihat mendengus.

Sehun segera menahan Kai untuk terus berjalan dan mencengkram pundaknya keras. “Kai?” “Sadarlah!”

Kai terus menatap tajam kea rah Taemin-Leera hingga ia memaksa Sehun untuk tidak menghalanginya. “Pergi.” Ujar Kai pendek.

Sehun menggeleng. “Tidak akan.” Ujar Sehun. Untung saja letak Taemin dan Leera masih cukup jauh. Sehingga Sehun masih punya banyak waktu.

“Sadar Kai-a. Kau tidak baik-baik saja. Kau tampak marah. Semua bisa diselesaikan dengan cara baik-baik.” Sehun menahan Kai. Maknae yang dijulukki babo ini ternyata punya sisi positif juga. “Ingat, kau bukan Kai yang melakukan segalanya dengan kekerasan kan? Kau punya otak.” Ujar Sehun.

“Kita bisa lakukan apa saja untukmu jika kau mau. Tapi tidak untuk cara seperti ini.”

Pandangan Kai yang tajam seolah langsung melemah. Rahangnya yang mengeras kembali lunak dan ia terhenti oleh langkahnya sendiri. Yang pertama ia lihat di depan wajahnya adalah Sehun yang menatapnya sedikit cemas dengan tangannya yang menahan tubuhnya.

Kai sudah mengerti tentang gejolak ini dan ia telah sadar. Ia kini tak lagi mengatakan “apa yang terjadi?” karena ia sudah mempelajari otaknya. Namun, sayangnya ia belum dapat mengendalikan gejolaknya ini.

Untung saja Sehun mengerti.

“Gomapta.” Kai menatap Sehun yang berada di depannya. Lalu spontan Sehun melepaskan cengkraman tangannya sendiri.

Sehun menarik sebelah bibirnya, “Tugasku sebagai seorang teman.” Ujarnya pada Kai. Tetapi, saat Sehun menatap mata Kai, pandangan namja itu bukan kepada dirinya.

Kai sedang menatap loker. Ia mendapati Taemin dan Leera yang sudah menghilang dari sana.

#

Sepulang Sekolah,

Sehun dan Chanyeol mengendap-endap di tempat parker sekolah. Pandangan mereka focus pada sebuah mobil berwarna putih. Chanyeol melotot pada Sehun dan menunjuk-nunjuk ban mobil tersebut.

“Itu itu!” Ujarnya, menjerit namun tidak bersuara.

Sehun mengangguk-angguk mengerti lalu ia berjongkok sembari memegang sebuah jarum special pengempes ban. Atau Chanyeol lebih suka menyebutnya dengan Jarum Pelenyap Ban. Julukan dramatis yang sangat mengerikan.

Chanyeol pun membuntuti Sehun dari belakang untuk berjaga-jaga. Mereka selalu berbicara, member kode, dan berbisik dengan sangat pelan. Chanyeol juga menggenggam erat sebuah jarum istimewa tersebut di dalam tangannya.

Kini ban mobil tersebut sudah ada di hadapan hidung mereka masing-masing. Sembari berjongkok. Tangan mereka mulai menjulur kea rah ban dan…

Akhirnya ban tersebut pun mulai mengempes secara perlahan dan mengeluarkan anginnya.

Sehun dan Chanyeol tertawa-tawa tanpa suara sembari menepuk-nepuk tanah yang ada di depan mereks. Puas. Puas karena rencana mereka berjalan lancer.

Lalu mereka melakukan high five dan melempar jarum itu jauh-jauh dari mereka. Akhirnya jarum tersebut mental entah kemana. Mereka pun kembali mengendap-endap keluar parkiran dan…

Mission success!

Setelah jarum itu di lempar, sepertinya telinga polos Sehun mendengar sesuatu. “Eh, hyung? Kau dengar tidak? Sepertinya jarum kita mengenai seseorang.”

Chanyeol mengendus tak acuh lalu memasang wajah angkuh yang sok, “Siapa yang peduli?” Balasnya sembari menyeringai.

Sehun pun segera melupakan suara tadi—tertawa keras—dan mereka pun berjalan berlalu dari sana. Dengan gaya cool dan tentu saja. Tanpa dosa.

#

Leera memandang Taemin dengan tatapan bosan. Setiap detik Taemin selalu ada di hadapannya dengan wajah berbinar, tersenyum tanpa dosa, dan mengacak-acak rambutnya. Seringkali pertanyaan-pertanyaan menyebalkan diajukan padanya. “kau tak apa?” “apa ada yang mengganggumu?” “Tidak ada yang menculikmu kan?”

Hello! Leera sudah bisa menjaga dirinya. Walaupun ia sedikit ceroboh sih-_-

Namun sungguh. Leera merasa jenuh dan sedikit tidak tenang dengan dirinya sendiri. Sifat Taemin yang seperti ini dirasakannya sejak ia pergi membolos bersama Kai dari poliklinik. Taemin sendiri berdalih, bahwa adalah tugasnya untuk selalu menjaga Leera untuk tetap bersamanya. Sikap overprotektif Taemin padanya, kadang membuat Leera kehilangan kebebasannya dan merasa asing dengan teman-temannya sendiri.

Taemin selalu mengajaknya pulang cepat, makan jajanan sehat di kantin, dan entahlah. Ia tak tahu harus berbuat apa. Apa ia akan selamanya diam di tempat dan tidak berusaha melakukan apapun? Sementara itu, dibalik sisi kepribadian Leera yang lain, ia merasa, ia harus menghargai sifat angel Taemin yang selalu menjaganya.

Kini dirinya dan Taemin sedang menuju tempat parker mobil. Mata Leera tertuju pada sebuah mobil putih dengan polesan mewah. Anak CEO mana yang tidak punya mobil mewah? Pikir Leera. Mengingat Taemin adalah orang kaya diatas orang kaya. Mobil itulah yang terus mengantarnya pulang-pergi mulai dari 1 minggu yang lalu hingga saat ini.

“Aduh!”

Tiba-tiba Taemin menjerit kesakitan dan memegang kepalanya. “Apa ini?” Ujarnya. Sembari melihat benda yang tiba-tiba melayang ke arahnya.

Sebuah jarum. Kini jarum itu telah jatuh di tanah, dan Taemin tidak berniat sama sekali mengambilnya. “Jahil sekali. Melempar siswa dengan benda begini.” Timpal Taemin sembari menginjak dua buah jarum tersebut dengan kakinya.

Leera merasa terusik dan menoleh. “Wae?” Tanyanya. Lalu pandangan Leera beralih pada dahi Taemin yang sedari tadi dipegangnya.

Leera mengucap kata ‘oh’ pelan lalu kembali memalingkan wajahnya. Taemin yang terlihat kesakitan berbeda di benaknya dibandingkan Kai yang terlihat kesakitan. Leera tidak merasa iba sama sekali.

“Disini sangat berbahaya. Banyak jarum terbang. Lain kali aku harus memayungimu.” Taemin berkutat pada dahinya dan mengucapkan kata-kata tersebut dengan serius.

Yang benar saja?! Leera yang mendengarnya merasa shock. Shock yang menganggap Taemin benar-benar berlebihan tentang dirinya. Hello? Sebuah jarum kecil? Apa yang kau bicarakan Lee Taemin?

Leera masih menganga di tempatnya. Ia membayangkan ia dan Taemin berpayungan di tengah siang hari yang terik. Bodoh sekali. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Taemin?

Rasanya sangkar yang mengurung mereka berdua semakin rapat dan rapat.

“Taemin-kun, kau berlebihan.” Ujar Leera sembari menekankan nada bicaranya.

“Kau yang seharusnya waspada, Leera-chan.” Jawab Taemin sembari focus pada pandangannya, takut-takut serangan jarum terbang kedua meluncur.

“Hah..-_-“ Leera mendesah sedikit kesal dan mereka pun akhirnya sampai di tempat parker.

Ternyata di sebelah mobil putih milik Taemin, disana ada mobil merah milik Kai. Mobil sport yang keren. Kai selalu memuja-muja mobilnya. Yah, begitulah.

Berbicara tentang Kai. Ialah salah satu factor yang membuat hati Leera tak tenang saat ini. Kejadian 3 hari yang lalu seakan-akan menjadi pudar dan tak berbekas lagi jika Taemin selalu di sisinya sekarang.

Leera tidak sadar kalau mengangkat telfon di mobil waktu itu adalah sebuah kesalahan besar!

Ia terus memandangi mobil merah itu, Kai tidak pernah mengajakku berbicara lagi. Ia tak pernah menghampiriku lagi. Ia seperti orang asing. Dan bodohnya, aku tidak pernah bisa mengawali pembicaraan! Babo!

Akhirnya, aku akan tetap di sangkar emas yang dibuat Taemin!

Sangkar emas.

“Leera-chan!” Taemin tiba-tiba muncul di depan wajahnya. “Kurasa ada sesuatu yang salah dengan mobilku.” Taemin berdecak kecil.

Sementara itu Leera mulai mencari-cari sesuatu yang membuat Taemin seperti ini namun Leera tidak kunjung menemukanya karena ia sedang memikirkan hal lain tentunya.

“Ban Leera-chan! Ban! Ban mobilku kempes.”

“Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?!”

Taemin menghujat dirinya sendiri. Sama sekali tidak terpikir olehnya, bahwa ada yang melakukan hal buruk untuknya.

Leera pun mulai antusias dengan kepanikkan Taemin. “Ban? Ban mobil?” Otak Leera mulai berjalan dan sorot matanya langsung beralih pada ban mobil milik Taemin.

“Aneh.” Ujar Leera pelan sembari berjongkok untuk meraih tatapannya pada ban mobil.

Ia memandang ban yang terlihat kempes itu. Sayangnya, bekas jarum takkan kasat mata. Sehingga Leera tidak menyadarinya. Kurasa, aku tahu sesuatu

“Kita tidak bisa pulang. Aduh, bagaimana ini. Siapa yang akan mengantarmu? Oh tunggu! Aku punya supir pribadi yang akan datang kesini. Tenang saja.” Taemin berkoar-koar dan Leera hanya mencoba memikirkan tentang ban ini.

Sepertinya ia mencium suatu kejanggalan.

“Hey.”

Tunggu, suara bass ini.

Leera langsung menoleh dan menemukan Kai yang berdiri di sebelah posisi jongkoknya. “Apa?” Ujar Leera, memandang Kai dari bawah.

Kai ikut berjongkok di sebelah Leera. Mengabaikan Taemin. “Apa yang terjadi?” Ujarnya.

Darah yeoja ini berdesir saat menyadari Kai kembali mempersempit celah di antara mereka. Lalu, Leera hanya mendesah pelan dan tetap menatap ban. “Menurutmu apa yang terjadi jika aku terus mengamati sebuah ban?”

Aih! Mengapa kata-kataku begitu kasar! Leera memaki dirinya sendiri saat ia sadar mengeluarkan kata-kata semacam itu. Mungkin akibat dari darah yang berdesir?

Kai merasa tersentak dan mundur. “Oke… kurasa kau tak butuh bantuan.” Menyadari sikap Leera yang kelihatannya tidak butuh Kai lagi. Kai berfikir mungkin Leera sudah punya Taemin dan ia tidak dibutuhkan sama seklai. Kai bangkit dari kegiatan berjongkoknya dan memalingkan muka.

Leera menggigit bibirnya dan bangkit juga. Lalu langsung menangkap tangan Kai yang hendak menjauh. Yeoja it uterus menggenggamnya agar tangan itu tidak kembali menjauh. Ia ingin Kai terus ada disini.

Kai sadar. Namun, ia tidak menoleh sama sekali pada Leera.

Sementara itu Taemin yang baru menyadari bahwa ada Kai disana, dengan senyum tanpa dosa menyapa Kai. “Annyeong Kai-a.”

Kai memutar bola matanya dan mendengus. “Apa kau tidak mengerti kalau aku membencimu?” Ujar Kai dalam hati. Taemin masih saja tersenyum-senyum begitu.

Sementara itu Kai tetap ingin pergi namun tangannya terus ditahan oleh Leera.

“Maafkan kata-kataku yang kas—“ Leera membuka mulutnya, berusaha meminta maaf.

Kai langsung memotongnya, “Aku ingin pulang.” Potong Kai tanpa menoleh. Tak ingin mendengarkan apa yang dikatakan Leera lebih jauh.

Terjadi kesenyapan setelah itu.

“Tapi, aku butuh bantuanmu.” Leera memberanikan bicara lebih jauh kepada Kai yang membelakanginya. Ia tetap menggenggam tangan Kai dengan kuat agar Kai tidak segera pergi.

Bukan, Leera tidak terlalu mengharapkan bantuan Kai. Tetapi Leera ingin Kai bersamanya sebentar saja. Kai sudah lama menghilang darinya. Mereka sudah lama tidak bertegur sapa.

“Kau kan sudah punya Taemin yang bisa membantumu kapan saja.” Jawab Kai sinis.

Leera langsung melongos mendengar pernyataan Kai barusan.

“Kau kan sudah punya Taemin yang bisa membantumu kapan saja.”

Bukankah, bukankah itu berarti?

“Kau tidak butuh aku lagi bukan, Leera-a?” Kai melanjutkan ucapannya masih dengan nada yang sama. Nada tidak peduli.

Bukankah itu berarti kau tidak menganggapku lagi?

Leera masih terdiam. Tak tahu ingin bicara apa. Kesalahpahaman ini sungguh membuat hatinya tak keruan. Ia masih larut dalam pernyataan Kai barusan. Kata-kata itu terngiang-ngiang di otaknya. Yang dapat ia rasa sekarang hanya sentuhan hangat di tangannya yang terus memaksa Kai untuk tinggal. Kai jangan pergi.

“Kai hoobae,” Taemin datang ke sebelah Kai dan memukul pundaknya pelan. Cirri khas seorang lelaki yang akan berbicara dengan lelaki yang lain. “Kau tidak perlu cemburu padaku.”

Ah?

Ah?

Kai dan Leera sama-sama mencelos mendengar apa yang dikatakan Taemin.

Jadi, ia sadar kalau…

Ia sadar?

Sebenarnya apa yang ingin ia katakan?

Taemin memperlihatkan senyum tanpa dosanya yang sepertinya untuk detik ini, senyum ini agak dewasa. *perhatikan saja senyum tokoh manga, Naruto. Senyum Taemin satu jenis dengan senyum si ninja itu*

Taemin muncul di depan wajah Kai. Lalu tertawa. “Kau salah paham selama ini. Aku adalah Lee Taemin. Aku mempunyai naluri untuk selalu menjaga gadis ini.” Mata Taemin beralih pada Leera sata menyebut kata ‘gadis ini’.

“Aku sudah dibiasakan sejak kecil untuk menjaga perempuan yang lebih muda dariku. Karena aku, pernah kehilangan seorang adik perempuan.”

Leera dan Kai sama-sama tertegun.

Hati yeoja itu mulai bergetar. Adik perempuan? Bahkan ia sendiri tak tahu cerita Taemin tentang adik perempuannya. Ia tak pernah dengar riwayat cerita Taemin yang begitu menyedihkan. Ini semua mengejutkan dan juga—mengharukan.

Taemin tak pernah kelihatan sedih.

Namja yang disebut oleh Kai dengan sebutan namja cantik itu kembali tersenyum ceria kembali. “Aku selalu merasa bodoh tiap waktu. Tapi apa boleh buat, itu naluriku.” Lalu namja itu mengangkat pundaknya dan menghembuskan nafas panjang.

“Leera telah kuanggap adikku sendiri. Walau ia tak punya ikatan darah denganku.”

Leera meneguk ludahnya dan ia sungguh merasa tersentuh dengan kisah yang diceritakan Taemin. Apalagi, saat ia sadar bahwa Taemin bilang bahwa ia telah dianggap layaknya seorang adik. Taemin yang selalu tersenyum, tanpa dosa. Selalu tertawa tiap waktu. Hingga Kai membencinya karena ia selalu bertingkah seperti badut yang tidak mengerti keadaan?

Leera bahkan menganggapnya seperti namja yang membebani hidupnya, yang selalu mengusik hidupnya. Walau di dalam hatinya ia bersikeras bahwa Taemin adalah orang yang baik. Hati Leera bergetar dan merasakan pikirannya selama ini terhadap Taemin sungguh salah. Ia bukanlah seorang badut yang selalu menyebalkan. Tetapi, ia adalah orang tegar yang selalu menutupi kesedihannya dengan sebuah senyuman.

Maafkan aku Taemin-kun…

Leera menunduk dan menggigit bibirnya. Menahan rasa sedih dan rasa menyesalnya yang amat dalam. Sementara itu tangannya masih menggenggam tangan Kai yang mulai terasa dingin dan berkeringat.

Sementara itu Taemin meminta maaf. “Maafkan aku jika aku selalu mengganggu kehidupanmu, Kai-a. Kuharap kau tidak tersinggung karenaku.” Sorot mata Taemin menatap lurus pada Kai.

Lalu namja ini mengulurkan tangannya pada Kai untuk meminta maaf sembari tersenyum. “Kau memaafkanku?” ujarnya. Tak ada nada mengasihani diri sendiri dalam ucapan Taemin.

Leera yang menyaksikan itu semakin sedih dan menyesal. Tak ada yang terlihat oleh Leera dari belakang. Ia tak dapat melihat ekspresi Kai, ia hanya dapat menatap bahunya, menggenggam tangan Kai erat. Dan… melihat Taemin yang terus berbohong dengan perasaan sedihnya sendiri.

Aku hanya dapat menyaksikan Kai yang terus diam.

Leera melepaskan genggaman tangannya perlahan. Ia bersyukur karena Kai tidak pergi dari sini.

Suatu ketika, terlihatlah, tangan Kai yang menyambut tangan Taemin. Mereka saling bersalaman dan melakukan gerakan seperti panco kecil. Taemin tertawa ceria dan tiba-tiba.

Kai langsung memeluk Taemin.

#

Rumah,

“Iyap… kisah yang sangat mengharukan bukan?” Leera mengoles sebuah selai di atas rotinya.

Ibunya mengangguk-angguk dan tertegun dengan cerita yang dibawakan putrinya itu. “Eomma sepertinya tahu kalau Taemin punya adik sebelumnya. Tapi eomma lupa.”

“Taemin memang selalu ceria dan merupakan sosok kakak yang baik.” Ujar Ibunya mengangguk mantap.

Leera terus mengoles selai di atas rotinya dan ia rasa pembicaraan selesai. Namun,

“Bagaimana dengan Kim Jong In?” Ibunya menoleh dari balik dapur. Tidak ada nada menggoda sama sekali. Sehingga Leera tertarik untuk menjawabnya.

“Ia memeluk Taemin—“ Leera belum selesai berbicara. Tetapi ibunya sudah memotong perkataannya dengan sebuah tawa yang menggelegar.

“Ternyata dua anak itu sudah saling memaafkan. Sungguh mengharukan!”

Leera sedikit tersentak dengan tingkah ibunya yang tiba-tiba tertawa dan begitu aneh. “Eoh? Apa maksud eomma?”

“Mereka pasti tadinya saling bersaing memperebutkanmu bukan? Kau memang primadona! Putrikku yang paling cantik!” Ibunya kembali tertawa menggelegar dan memasukan beberapa sayuran kedalam rebusan.

Leera memutar bola matanya, “Eomma aku serius!” Merasa sedikit kesal karena eommanya tertawa-tawa. Walaupun kekesalan itu sedikit tertutupi karena puas karena ia dilantik sebagai ‘putri yang paling cantik’. Eh tunggu, sabar. Putrikku yang paling cantik ? Tentu saja paling cantik! Bukankah anak dari nyonya Park Cuma satu. Wajar kalau Leera disebut paling cantik.

Kecuali Leera adalah 12 bersaudara. Mungkin ia sudah turun ke peringkat 12. Poor Leera.

Menanggapi perkataan Ibunya ‘memperebutkanmu’. Leera membantah. “Taeminkan hanya menganggapku adiknya, eomma!”

Eomma lalu tersadar dan mengangkat alisnya jahil. “Oh, kalau begitu, Kai yang memperebutkanmu dan salah paham? Iyakan? Putranya Hyunsik memang benar-benar menggemaskan!” ujar Ibunya lagi, lalu menghampiri Leera yang ternyata sudah selesai mengolesi rotinya tetapi karena salah tingkah, ia masih terus-terusan mengoles hingga tebal selai tersebut bisa dihitung dengan centi. Bahkan ada bagian roti yang selainya meluber. Eomma tertawa genit lalu mencubit pipi anaknya.

Tentu saja Leera langsung memprotes.

“Eomma!!”

“Kai tidak memperebutkanku!” Bantah Leera mencoba untuk tidak percaya diri.

Eommanya kembali tertawa karena anaknya kembali masuk ke dalam perangkapnya. “Yah, sayang sekali, padahal kami sudah menyiapkan pernikahan kalian. Yuhu~”

Wajah Leera langsung memerah membayangkan dirinya menikah dengan Kim Jong In.

Di tengah-tengah sebuah gazebo mewah beratap bulat, dengan aneka warna putih memoles dinding-dinding megahnya. Rangkaian-rangkaian bunga indah nan berwarna-warni cerah menghiasi dinding-dinding tersebut, belum lagi pita berwarna putih lembut sebagai pemanis disana-sini. Seorang namja berpakaian bak seorang pangeran dengan tubuh tegapnya melangkah maju ditemani senyuman manisnya. Tangan sebelah kanannya ditekuk ke depan dada, membuatnya benar-benar terlihat seperti pangeran. Wajahnya sangat cerah, seperti malaikat yang suci, ia melangkah layaknya seorang lelaki yang siap menyambut bidadarinya. Ia terus melangkah dan melangkah menghampiri seorang wanita yang tak kalah indahnya. Wanita itu …

Park Leera.

Wanita itu tersenyum menyambut mempelai prianya. Yang datang padanya dengan sejuta aura kebahagiaan.

WHAT?!

APA APAAN INI HUH?!

Wajah Leera benar-benar telah memerah sempurna. Ibunya semakin menjahilinya dan menjahilinya lagi. Membuat Leera benar-benar mati kutu.

Setidaknya jika kedua orang tua mereka telah merestui? Apalagi yang tidak mungkin?

#

 

Keesokan Harinya, di Pagi Hari.

Sekolah,

“Apa?!” Terdengar jeritan kaget dari mulut kedua namja tersebut.

Taemin mengangguk-angguk pelan pada dongsaengnya itu. “Aku tidak pernah menyukai Leera, kau tahu.”

Sehun dan Chanyeol mengerjap-kerjapkan matanya takjub. “Maafkan kami!”

Mereka berdua langsung menyerbu Taemin. Taemin hanya tertawa ala khasnya yang hampir menghilangkan setengah matanya.

Tentu saja meminta maaf untuk semuanya, khususnya karena mereka telah mengempeskan ban mobil Taemin. Akhirnya kemarin, Taemin harus menunggu supirnya datang dan Leera-Kai pulang duluan dengan mobil Kai sendiri.

Dan tentu saja…

Jarum terbang itu.

“Jadi selama ini kalian kesal padaku ya? Mianhae ne.” Taemin berujar sembari menggaruk-garuk kepalanya. “Aku memang selalu bertingkah seperti itu pada adikku sendiri. Atau lebih tepatnya, orang yang kuanggap adik. Sama seperti Park Leera.”

Sehun dan Chanyeol selesai dari kegiatan menyerbunya dan ber ‘oh’ ria sembari berwajah-wajah tidak enak.

“Ya, habisnya…” Ujar Sehun. “Sunbae memang agak menyebalkan sih.”

Chanyeol menggeplak kepala Sehun dan menyuruhnya diam. Lalu berbisik, “Paboya, jangan berkata seperti itu dasar tidak sopan!”

Sehun hanya meringis dan mengelus-elus kepalanya. “Ne ne mian, hyung.” Lirihnya pada Chanyeol.

Taemin hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka. Ia kelihatan masih ceria, ramah, dan rapih seperti biasa. Dengan wajahnya yang super cantik, kulit putihnya yang mulus, dan tutur katanya yang sopan membuatnya terlihat berwibawa.

Lalu Chanyeol kembali meminta maaf pada Taemin dan Sehun juga walau ia sedikit tidak sopan.

Tettt

Bel masukpun berbunyi dan mereka bertiga seolah tersentak mendengarnya. Lalu sadar kalau mereka harus kembali pada kelas masing-masing.

“Oh baiklah kalau begitu. Kami permisi dulu.” Ujar Chanyeol mulai bertingkah sopan di hadapan sunbaenya ini.

Sehun mengamini perkataan Chanyeol dan mengagguk.

“Annyeong, Taemin sunbae.” Ujar mereka sembari membungkuk sopan.

Taemin membungkuk sedikit lalu melambaikan tangannya berlalu. “Sampaikan salamku pada Jongin ne?”

Mendengar perkataan Taemin yang seperti itu, Chanyeol memberikan thumbs up pada Taemin dari jauh, menandakan bahwa ia pasti akan menyampaikan salamnya. Mereka pun melihat pundak kecil Taemin menjauh, berjalan dengan lincah kea rah kelasnya yang berada di ujung sana.

Wah, ini benar-benar berita bagus bagi Kim Jong In.

Merekapun berjalan beriringan menuju kelas mereka sembari bercakap-cakap ria. Chanyeol di sebelah kanan dan Sehun di sebelah kiri. 2 namja tinggi yang sangat menawan.

Mereka mulai membicarakan hal-hal sensitive ketika Taemin sudah benar-benar pergi.

“Kalau begitu, rencana kita batal bukan?” Sehun menengok ke arah wajah Chanyeol yang berjalan sembari menghadap ke atas.

Rencana? Tentu saja rencana untuk selalu mengerjai Taemin dan membuatnya menjauh dari Leera. Mulai dari ban kempes itu, dan tadinya mereka ingin melakukan hal yang lebih mengerikan lagi tentunya. Berkat otak licik Park Chanyeol dan kepolosan seorang Sehun yang dapat disuruh ini itu. Terbentuklah sebuah organisasi yang tidak waras ini.

Chanyeol tidak menoleh dan hanya menjawab, “Ya! Tentu saja!”

“Sekarang giliran Kai si pecundang itu yang harus cepat-cepat mengakui perasaannya sebelum ada namja lain mengganggunya lagi.” Chanyeol mengangguk mantap. Kai si pecundang benar-benar terdengar kasar namun, menurut Chanyeol itu hanya sepatah kata yang pas untuk menggambarkan namja cuek, dingin, namun ragu-ragu itu.

Sehun mengiyakan, “Ya benar. Kai selalu ragu jika ingin melakukan sesuatu. Padahal sudah jelas Leera juga mempunyai perasaan yang sama. Apa lagi ia dan Leera begitu dekat dan orang tua mereka saling tahu.” Sehun berujar tenang dibalik wajah innocent miliknya.

Chanyeol mencerna perkataan Sehun dan berfikir. Sudah jelas? Orang tua?

Namja tinggi nan sempurna ini jadi teringat akan Seohyun. Ia sendiri mengatai Kai adalah seorang pecundang yang tidak berani mengakui perasaannya sendiri. Namun, apa sebutan yang pantas untuk dirinya—Chanyeol? Apakah ia juga seorang pecundang yang bertopeng ceria di depan seorang Seohyun?

Chanyeol tidak tahu apa-apa.

“Apa kah kau sedang menyukai seorang namja, Seohyun-Ah?”

“Mwo? U, untuk apa kau bertanya seperti itu?”

Chanyeol ingat saat ia terus-terusan bertanya pada Seohyun.

“Hyung? Kau melamun?” Sehun menyadari langkah Chanyeol yang melambat dan pandangannya yang kosong.

Chanyeol pun tersentak seketika dan sadar. “Eh?”

“Kau melamun hyung.” Sehun memperjelas dan menyipitkan matanya. “Mencurigakan.” Timpal Sehun lagi.

Sehun pun menge-scan tubuh Chanyeol dari atas hingga bawah.

“Atau jangan-jangan… kau masih punya perasaan dengan Leera sehingga kau kurang menyukai keadaan ini?” Sehun menembak asal. Yang sukses membuat Chanyeol seratus persen tidak terima.

Menyukai? Kalau mau jujur Chanyeol sama sekali tidak pernah menyukai Leera jika Sehun ingin tahu. Apakah pandangan Sehun selama ini padanya adalah ‘Park Chanyeol. Namja yang gagal Move On’ itukah? Itukah pandangan Sehun padanya selama ini?!

Tapi tetap saja, Chanyeol tak dapat menjelaskan yang sesungguhnya.

Giliran Chanyeol kini yang menyipitkan matanya,

“Apa katamu?!” Chanyeol berkacak pinggang menghadap wajah Sehun yang terlihat ‘eh hyung aku salah bicara ya?’ sembari ketakutan.

Tetapi benar juga, Sehun dan anggota EXO lainnya tidak tahu jika Chanyeol hanya taruhan sewaktu itu. Chanyeol jadi turut merasa bersalah lagi, ia merasa kejam. Sekarang, ia takmau membahasnya lagi. Apalagi dengan Sehun yang mempunyai mulut bocor layaknya ember.

Tentunya ia akan berdalih habis-habisan.

“Kau ini lucu sekali, Sehun-Ah. Tentu saja aku sudah punya yeoja lain yang kusukai!” Chanyeol malah terlihat menggebu-gebu. Hidungnya memekar dan matanya melebar, juga tangannya yang mengepal ke atas.

Seakan membuat Sehun mundur sejarak dari namja hyperactive ini. “Hyung kau baik-baik saja bukan?”

Chanyeol mendengus mantap. “Aku baik-baik saja! Makanya jangan coba-coba menuduhku yang tidak-tidak. Aku ini Park Chanyeol! Jangan remehkan aku.” Chanyeol tersenyum ala-ala namja tampan yang menawan dan membenarkan rambutnya.

Terdengar teriakan kecil seorang yeoja dari ufuk timur.

Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih ada saja yeoja yang tergila-gila. Hyungnya satu ini memang sangat-sangat percaya diri. Oke, Park Chanyeol yang super pinter, popular, dan tampan. Siapa yang tidak tahu dia? Seharusnya ia suka dengan yeoja yang sama popularnya dengan dia. Tetapi, ia lebih memilih yeoja calm, manis, dan pintar.

Yeoja yang mandiri seperti Seo Joo Hyun.

Mereka berduapun menaikki tangga, dan berbelok. Kelas 1-1 sudah ada di depan mata dan mereka melangkah kesana.

#

Kelas,

Pelajaran di mulai. Sasangnim mulai menjelaskan tentang materi & kisi-kisi yang akan keluar saat ujian kenaikan kelas nanti. Mulai minggu depan, mereka akan disibukkan dengan aneka ulangan harian, tugas praktek, dan sebagainya.

Jadi, sasangnimpun menuntut muridnya untuk selalu memperhatikannya dan para murid sendiri tentu saja tidak mau melalaikan kesempatan pemberian materi ini.

“Ingat, kalian harus perhatikan materi ini baik-baik! Karena aku hanya memberikan materi sekali! Tidak ada pengulangan! Yang mengganggu konsentrasi akan kusuruh keluar.” Utara Sasangnim tegas.

Postur tubuhnya yang jangkung dan kurus kering memang membuat sifatnya yang tegas terlihat sepele. Apalagi di mata Kai.

“Baik, pak!” Ujar para murid. Kecuali Kai yang hanya mengatupkan mulutnya dan mencari-cari dimana letak Park Leera.

Ia sadar kalau Leera sama sekali belum masuk ke kelas. Apalagi bangku Leera terletak di depan. Jelas sekali kelihatannya kalau bangku itu kosong.

Kai duduk di belakang, sedangkan Leera duduk di depan, hampir menyentuh meja guru tentu saja. Perubahan tempat duduk ini bisa diakibatkan oleh rolling tiap minggunya. Kini, yang duduk di sebelah Kai adalah Sehun. Sehun sebenarnya sangat giat memperhatikan pelajaran, tetapi bodohnya, ia lupa membawa kacamata hari ini!

Unfortunately, ia duduk di belakang. Pastinya tak ada satupun tulisan yang dapat ia baca dari posisi bangku tersebut.

“Sasangnim.” Sehun mengangkat tangannya polos. Sasangnim yang sedang membuka tutup spidolnya menoleh pada arah suara dan mengerutkan dahinya.

“Apa yang terjadi?”

Sehun langsung to the point tetapi nada bicaranya yang sedikit kaku dan takut membuatnya terbata.

“A, aku lupa membawa kacamata. Maukah anda memberiku kompensasi?”

Tidak. Sehun bukan ingin meminjam kacamata siapapun. Tapi ia ingin mencari posisi duduk yang memungkinkannya untuk melihat papan tulis dengan keadaan tanpa-kacamata.

Sang sasangnim menangguk mengerti. Lalu mata tuanya yang tajam menyorot bangku kosong yang terdapat di depan, bangku Park Leera—yang kosong.

Kemudian Sasangnim menunjuk bangku kosong itu dengan spidolnya. “Ya, kau Oh Se Hun. Silahkan pindah ke bangku tersebut.”

Sepertinya nama Sehun begitu populer di mata guru. Mengapa? Tentu saja karena ibunya yang selalu bolak-balik berkonsultasi ke ruang guru tiap minggu sekali tentang perkembangan anaknya sendiri.

“Bagaimana dengan anak saya, Oh Se Hun? Blablabla”

Tak lama dari itu. Terdengar suara decitan bangku dari Sehun yang sedang bangkit dari kursinya, namja tinggi-kurus itu berdiri lalu membawa seluruh bukunya yang berhubungan dengan materi ini. Lalu sepatunya mengitari meja dan ia pun melangkah secara cepat namun hati-hati kea rah bangku Leera tersebut.

Sepertinya hal itu menyita perhatian Kai terlalu banyak sehingga ia tak pernah berhenti mengarahkan sorot matanya pada Sehun yang pindah bangku.

Sasangnim benar-benar menganggap Park Leera tidak masuk sekolah. Pikir Kai.

Kai agak sedikit kecewa karena yeoja itu tidak masuk sekolah. Pasalnya, ia punya banyak hal yang ingin ia bicarakan kepadanya. Entah itu permintaan maaf, atau tentang mereka berdua. Walau Kai tahu semua itu akan terjadi dengan sangat awkward dan memalukan.

Seiring detik bergulir, Sehun sudah rapih duduk di bangku barunya itu. Lalu ia member kode pada sasangnim bahwa ia telah selesai.

Sasangnim pun segera memulai pelajarannya dan akhirnya terdengar gaungan suara darinya. Gaungan tentang materi, segala hafalan, penjelasan, dan segalanya yang harus dicatat dan diingat matang-matang oleh anak muridnya.

Belum lama sasangnim menjelaskan, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar.

Tok

Semua murid otomatis menoleh kea rah suara. Terutama sasangnim yang merasa terusik dengan ketukan itu.

Tak lama dari itu terdengar sebuah geseran pintu. Lalu geseran pintu lagi alias pintu ditutup. Dan pasti kalian semua dapat menebak siapa yang berdiri disana?

Yap! Park Leera dengan wajahnya yang tertekuk, mengenakan sweater, dan rambut yang berantakkan. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan yeoja yang katanya cute itu sehingga ia bisa menjadi seperti ini?

Apa ia tidak sempat mandi?

“Mianhamnida sasangnim, mobilku mogok di jalan dan aku terpaksa menunggu satu jam untuk sampai ke sekolah.” Wajah Leera benar-benar terlihat lusuh seperti sehabis belanja lele. Lalu ia membungkuk-bungkuk minta maaf.

Sorot mata Kai benar-benar teralihkan pada yeoja itu. Dan wajah lusuhnya yang benar-benar mengganggu. Kenapa dia?

Sehunpun merasa sedikit tidak enak karena ternyata, si pemilik bangku telah masuk kelas hari imi. Sedangkan ia sedang mendudukki bangku Leera alias sang pemilik bangku? Lantas Leera duduk dimana? Di tempat duduk Sehun? Sementara semua murid memandangi Leera yang menjadi pusat perhatian. Sehun menoleh pada bangkunya yang tepat berada di sebelah Kai.

Ia merasa harus pindah kesana.

Sedangkan Chanyeol, Seohyun, dan members EXO lainnya merasa sedikit kaget karena tumben sekali seorang Park Leera telat. Kecuali saat telat bersama Kai waktu itu. Kai kan memang pemalas, kerbau(?), dan tidak berniat masuk sekolah kecuali ada maunya.

Sasangnim pun mengangguk memaklumi sembari terhanyut-hanyut mellow saat melihat wajah muridnya yang telat itu. Begitu memelas, lusuh, dan seperti sehabis bekerja di bengkel.

“Sekali lagi aku minta maaf, sasangnim!” Leera terus membungkuk. Alisnya menekuk meminta maaf. Wajahnya yang katanya cute itu benar-benar tidak cute sama sekali.

“Baiklah. Silahkan duduk.”

Sasangnim tentu saja kembali mengoceh ria tentang materinya.

Leera lalu beranjak dari tempatnya—di depan papan tulis—kemudian menoleh kea rah bangkunya. Yang ternyata diduduki oleh orang lain, yaitu Oh Se Hun. Tentu saja Leera bingung setengah mati. Kenapa Sehun duduk di bangkunya? Lantas? Ia duduk dimana?!

Leera pun sedikit melotot kepada Sehun yang berada di depannya. Menyuruh Sehun pindah. Bertindak secara tidak bersuara. Sehingga kelas tetap hening.

Kelas tetaplah hening—yang mengisi keheningan itu hanyalah suara sang sasangnim–,lalu suara kedua muncul, yaitu suara decitan kursi dari seorang Sehun lah yang terdengar. Sehun langsung bangkit dari tempat duduk Leera dan…

“Oh Se Hun. Tetaplah disana.” Ujar Sasangnim yang tanpa diduga menangkap gerakan Sehun yang sangat menonjol di tengah keheningan itu.

Sehun pun otomatis tergagap. “Eh, eh iya..” sembari menatap sasangnim dan Leera secara bergantian. Leera menginginkan dirinya duduk di kursi itu, sedangkan sasangnim sebaliknya. Wajah sasangnim yang begitu tegas, dan Leera yang melotot padanya.

Menang siapa? Tentu saja menang sasangnim!

Leera dari tempatnya benar-benar kaget dan otomatis mulutnya menganga, “Hah?!” Ujarnya tak sengaja.

Semua muridpun menoleh ke arah yeoja asal bunyi tersebut, merasa heran dan memandang dengan ekspresi ‘kenapa lagi sih anak itu?’, Chanyeol yang menyadari apa yang terjadi pun bergetar menahan semburan ketawanya, Baekhyun pun demikian, lalu mereka mengarahkan ‘genit glare’ nya ke seorang Kim Jong In yang masih terdiam dengan wajah datarnya di belakang sana.

Tentu saja Kai juga tahu apa yang terjadi. Itu berarti….

“Park Leera kau silahkan duduk di kursi Sehun yang berada di belakang!” Tegas sasangnim, sembari memiringkan lehernya kea rah meja Kai.

Leera pun otomatis mengikuti arah miringan leher sang sasangnim di depannya, yaitu ke bangku paling belakang, sebuah bangku yang kosong. Seakan-akan eksklusif untuknya, bangku yang bercahaya-cahaya keperakan. Semua mata chingudeulnya memandang padanya dan bangku yang berada di sebelah Kai itu secara bergantian.

Yeoja yang barusan telat itu tersadar, bahwa bangku itu.

TEPAT-BERADA-DI-SEBELAH-KAI!

Leera menghembuskan nafasnya panjang lalu mengikuti apa kata sasangnim. “Baik, sasangnim.” Ujarnya pasrah sembari menunduk suram.

Dalam hatinya, apa yang akan terjadi jika ia duduk disana? Duduk di sebelah namja itu? Entahlah… Leera hanya bergidik, sedikit….. eum… susah dijelaskan.

Huh! Apa sih yang kupikirkan?! Ujar Leera dalam hati.

Sepatu pantopel hitam milik Leera mulai melangkah menyusuri deretan bangku Kai. Pelan dan pelan. Seakan ragu, kenapa? Ia begitu malukah melakukannya? Hello Park Leera? Kau hanya duduk, duduk disana dan diam dengan tenang. Mengapa kau begitu memalukan?

Tidak akan ada yang terjadi selain kau duduk disana dan memperhatikan guru di depan.

Begitu. Leera menguatkan dirinya sendiri.

Sementara itu, Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, Sehun, dan Suho pun memandang kejadian itu dengan serius. Begitu pula dengan Seohyun. Pengecualian special untuk BaekYeol, mereka menanggapi kejadian itu dengan jahil. Mereka merasa ini merupakan kemajuan yang pesat bukan? Bahkan sasangnim seolah-olah menjodohkan mereka? Hah apa? Ya, menjodohkan.

Chanyeol dan Baekhyun saling senggol dan tertawa-tawa dalam hati sedikit besar—dibatasi juga oleh mereka karena takut pada sasangnim tentunya—tertawa dengan memukuli mejanya.

“Hahaha bacon, lihat itu. Aww.” Chanyeol mulai mengobarkan bara kompor.

“Mereka akan bersatu eaea.” Sahut Baekhyun sembari menaik-naikkan alisnya pada Leera yang berpasrah diri. Leera membuang muka dan sedikit kesal karena ulah duo pembuat onar itu.

Sasangnimpun merasa terganggu dengan ocehan dua murid paling berisik itu. Sehingga matanya mengarah tajam pada mereka yang sedang tertawa-tawa.

Otomatis Chanyeol dan Baekhyun langsung diam. Lalu duduk manis kembali.

Sementara itu sasangnim yang puas akan Baekhyun-Chanyeol yang berhenti berulah—kembali menegor Leera yang terlalu lama berdiri dan tidak lekas duduk di bangkunya. “Park Leera, lekaslah segera duduk!”

Keganasan sasangnimnya membuat bulu kuduk Leera bergidik sehingga ia cepat-cepat meraih bangku Sehun tersebut, tentu saja ia menghindari menatap Kai yang berada di dekatnya itu. Seolah-olah wajah namja itu diburamkan seperti tersangka. Lalu Leera mendaratkan pantatnya disana dan menarik nafas biasa lalu mengunci pandangannya ke depan.

Tidak akan ada pandangan ke samping.

Bagaimana coba kalau saat aku tak sengaja melihat ke samping, ternyata ia juga sedang melihat padaku? Aku benci eye contact!

Rasanya seperti saat makan malam, saat Kai terus-terusan duduk di sampingnya. Layaknya ada beban di pundak Leera.

“Baiklah, aku akan melanjutkan pelajaran! Mohon kalian perhatikan!” Sasangnim kembali mengoceh ria.

Sementara itu, di bangku Kai-Leera.

Kai berpangku tangan di atas meja dan tangan yang satunya memainkan sebuah pena. Pena itu dihentak-hentakkan ke meja. Tentu saja, pena yang dimainkan itu terlihat jelas dari sudut mata Leera yang jelas-jelas duduk di sebelahnya.

Sebenarnya… itu terlalu berisik bagi Leera.

Lalu Kai pun berganti posisi lagi, yaitu bersandar di atas meja. Sikut Kai yang besar pun mengenai tangan Leera yang hendak mencatat. Leera pun segera menggerakan tangannya sedikit agar menjauh dari sikutnya.

Namun, cukuplah Leera hanya melihat semua itu dari sudut matanya. Ia tidak boleh menengokkan dagunya sedikitpun!

Posisi duduk Kai benar-benar sangat labil dan mengambil banyak tempat. Apa Sehun tidak risih?

Setelah Leera perhatikan, ternyata seorang Kim Jong In memang tidak peduli sama sekali dengan penjelasan guru ini, ia bahkan tidak mengeluarkan buku catatan, ataupun kelihatan memerhatikan pelajaran. Ia seperti mengabaikan semuanya?

Mengapa ia begitu pemalas? Pikir Leera.

Dan ia cukup mengganggu teman sebangkunya sendiri dengan posisi-posisinya yang tidak keruan itu.

Leera pun terus mencatat apa yang penting dari penjelasan gurunya. Dengan secepat kilat dan cekatan ia memasang telinga, dan tangannya yang sudah sigap menulis huruf apa saja.

“Jumlah kepulauan mencapai 3900. Dengan pertumbuhan sebesar 0%” Sasangnim mengoceh.

Leera sibuk mencatat data-data otentik yang harus dihafalkannya. Toh, tidak mungkin kan ia langsung ingat semua angkanya hingga besok, lusa, bahkan minggu depan.

Dan dari sudut matanya. Lagi-lagi Kai tidak mencatat atau memerhatikan penjelasannya sama sekali? Leera benar-benar shock. Bagaimana cara ia belajar?

Ah, tapi Leera berusaha mengabaikan fakta itu dan kembali focus pada Sasangnim.

But, ternyata sikut Kai menimpa buku catatannya sehingga buku catatan tersebut terkunci dan susah digerakkan. Leera pun berusaha menariknya dengan halus, namun percuma, sikut Kai terlalu berat. “Eh…” Leera mencoba berbisik kecil pada rambut Kai yang menutupi wajahnya yang sedang bersandar di atas meja.

“Kai-a…” Bisiknya lagi, ditengah-tengah pelajaran.

Namun, Kai tetap tidak bergeming.

Kenapa namja ini sangat susah dibilangin sih?

Leera pun berusaha mendorong tangan Kai (tentu saja ia tidak ragu-ragu lagi untuk menyentuh namja itu, karena ia sudah biasa) dari atas buku catatannya. Namun, sikut itu tetap tidak bergerak. Namun, ternyata Kai sadar kalau Leera menyentuh sikutnya sehingga kepala namja itu ia dongakan sejenak kea rah wajah Leera yang berada di atasnya.

Kai mengangkat alisnya pada Leera sembari bertanya—menggumam—dari balik sandarannya. Dengan wajah-wajah imut mengantuk*kebayang gak? >.<*, Kai meniup poninya yang menghalangi matanya sehingga poninya berpindah ke atas lalu tetap menatap Leera menunggu yeoja itu merespon.

Tentu saja, tubuh Leera sudah bergetar tak keruan dan jantungnya semakin cepat beradu saat melihat ekspresi wajah Kai yang seperti itu padanya.

Darimana-kau-belajar-ekspresi-seperti-itu-Kim-Jong-In?!

Leera pun menarik nafas dan membuangnya berulang-ulang kali secara cepat.

“A, nu sikutmu…” bisik Leera. Masih berbisik takut-takut sasangnim menyadarinya.

Kai pun segera sadar dan berbangun dari posisi bersandarnya, masih berwajah mengantuk, namun datar seperti biasa. “Oh, catatanmu.”

Bukannya menyingkirkan sikutnya dari sana, Kai malah menarik pena dari jemari Leera.

“Aku saja yang catat.”

Leera langsung merasa terlonjak dari kursinya. Yang benar saja?! Si pemalas ini? Si raja cuek dan dingin ini? ingin mencatat materi-materi di buku catatanku? Omona!

Kai mengangguk mengantuk, “Aku serius,” Ujarnya.

Lalu ia menarik buku catatan milik Leera. Melanjutkan tulisan hangul rapih seorang yeoja, dengan tulisan hangulnya yang sedikit berantakan di paragraph selanjutnya. Sebenarnya Leera agak protes, karena nantinya buku catatannya bisa tidak rapih, tapi toh ia merasa sedikit senang karena Kai mau membantunya mencatat.

Tetapi… tunggu dulu, pasti Kai ada maunya.

Kai pun mulai menulis dengan serius, rambut hitam lurus agak berantakkan sehabis tidur itu menutupi wajah seriusnya yang sedang tekun menulis. Tahu posisi menulis? Ya, sedikit menunduk. Alis Kai yang terlihat match dengan ekspresinya saat ini membuatnya tampak…

Leera yang tadinya hanya berani memandang namja itu melalui sudut matanya, kini memberanikan diri untuk menatapnya dari samping.

Selain Kai yang begitu dingin, terkadang cute saat tidur, dan menggemaskan dengan wajah mengantuknya. Ia juga bisa terlihat sangat keren walaupun hanya saat serius menulis.

Namja memang akan menjadi sangat keren saat ia melakukan hal yang begitu serius.

Kai terus mencatat, sekali-kali ia mendongak pada sasangnim, sesekali ia mengambil tip-x untuk menghapus tulisannya yang salah. Mencatat-memerhatikan sasangnim-tip x, kegiatan yang berulang-ulang yang detik demi detiknya terus Leera perhatikan.

Saking senangnya memerhatikan seorang Kim Jong In yang sedang serius mencatat. Leera jadi lupa diri bahwa ia memandangi Kai terlalu lama.

Hingga saatnya pun, Kai menyadari seseorang terus memandanginya dan menoleh.

“Kenapa melihatku seperti itu?” Ujarnya dengan wajah yang datar mix ngantuk mix serius, sorot matanya mengarah tepat pada yeoja di sampingnya.

Leera yang merasa tertangkap basah itu pun sebisanya mengelak. Ia mencoba untuk mengelak tentunya, sebagaimana dulu di apartemen, Kai yang mengelak jika ialah yang membuatkan sup untuk Leera, menjaga Leera yang sedang demam, dan mengompresnya. Kali ini, tidak ada salahnya kan Leera mengelak?

“Aku tidak melihatmu.”

Kai mengangkat alis, “Kalau begitu, kau pasti sedang memandangi Chanyeol?” Umpan Kai.

Leera malah menjadi tidak senang dengan tuduhan yang lebih parah dari sebelumnya itu, ia mendengus dan memutar matanya. “Tidak sama sekali.” Ia ingin menjerit tapi ia tahan tentunya. Sehingga, Leera hanya bisa memelototkan matanya sedikit.

“Kalau begitu, kau melamun seperti orang idiot?”

“Atau kau kagum dengan tulisanku yang indah ini?”

“Atau, kau kagum dengan tampangku yang sedang menulis ini?”

Sangat sial.

Mengapa ketiga pertanyaan Kai semuanya tidak mengenakkan. Apalagi yang terakhir. Apa ia seorang peramal ulung?

Leera yang merasa tertebak pun terdiam tak tahu harus mengelak bagaimana lagi.

“Kau, memandangi ku bukan?” Tanya Kai tiba-tiba.

Kesalnya, Leera melihat sedikit semburat senyum dibalik wajah datarnya itu. Ya, sedikit. Sehingga hampir saja Leera tidak menyadarinya.

Apa maksudnya? Ia mau mengerjaiku eoh?

“Mengaku sajalah. Pipimu memerah tuh.” Tiba-tiba Kai bicara seperti itu. Entah ada angina pa yang membuatnya bicara seperti itu.

Tentu saja Leera langsung merasa bodoh, malu, dan eum… tidak enak.

Rasanya seperti tertangkap basah mencuri pakaian dalam seseorang. Lagipula, untuk apasih Kai bilang bahwa pipi Leera memerah?

Spontan Leera langsung menggeleng-geleng ketus bahwa pipinya tidak memerah!

“Sembarangan kau bicara, pipiku tidak memerah tahu!”

Ia tentu saja tidak terima jika ia ketahuan mengagumi namja di depannya ini.

Namun sialnya,

Ia

Menjerit!

“PARK LEE RA! KIM JONG IN!”

Jeritan menyeramkan siapa lagi kalau bukan milik sasangnim seorang? Sasangnim galak & tegas tersebut langsung menyemprot mereka dengan segala ocehan gratis.

Entah ocehan tentang ‘mengapa kalian mengobrol?’ ‘mengapa kalian menjerit?’ ‘mengapa kalian tidak mendengar penjelasanku?’

“Keluar dari kelas ini!”

“Lari keliling lapangan 20 kali!”

“Cepat keluar! Ini perintah!”

#

Perasaan yang tercipta pada benak Leera saat ini adalah: kesal, emosi, malu, semua menjadi satu-kesatuan yang tanpa nama. Malu karena dihukum oleh gurunya, malu karena satu kelas mengamati mereka, malu menyadari bahwa mereka harus memutari lapangan SAS selama 20 kali. 20 kali? Yang benar saja? Apa sasangnim itu gila?

Kesal karena ia tertangkap basah memandangi Kai, kesal karena tiba-tiba Kai membuatnya mati kutu, kesal karena Kai yang tiba-tiba begitu percaya diri, Kesal karena ia gagal mengelak dari semua perasangka Kai padanya.

Tapi, apa boleh buat. Mereka dihukum sekarang.

Leera dan Kai. Dihukum lari memutari lapangan SAS yang luas selama 20 kali. Untung saja, semua kelas sedang berada di dalam KBM dan tidak ada yang keluar kelas. Sehingga, mereka tidak lebih malu lagi.

“Ini semua gara-gara kau, Kim Jong In.” Tutur Leera sinis setelah mencapai lapangan. Lapangan SAS luas, dengan pupping yang rata berwarna abu-abu dengan sedikit line kemerahan. Hanya terdapat pohon di sudut-sudut lapangan saja. Sehingga mereka harus lari ke dekat sudut agar tidak terkena panas matahari.

Kai yang disalahkan hanya mengangkat bahu, “Menurutmu, siapa yang menjerit. Bukannya itu kau?”

Leera menghembuskan nafas panjang. Benar juga, bukannya ia yang menjerit sehingga menyita perhatian sesisi kelas terutama sasangnim sendiri? Akhirnya Leera membongkokkan tubuhnya dan mengeluh.

“Yah benar juga,” Ujarnya mengalah.

Kai memasukkan tangannya di kantung dan mendongak—mencoba melihat matahari yang belum terlalu panas—

“Hey, lebih baik kita mulai sekarang. Karena matahari belum terlalu mencolok.” Kai memimpin jalan di depan. Kalau disaat-saat seperti ini, entah kenapa ia jadi lebih bijak.

Mungkin karena ingin menunjukkan pada yeoja yang bersamanya bahwa ia juga bisa jadi bijak?

Leera yang tadinya membongkok-bongkok. Tambah bongkok lagi dan mengeluh. “Ya ampun, baiklah. Sengsara sekali hidup ini,”

Kai tidak merespon pertanyaannya dan segera memencet tombol di sebuah tiang di tengah lapangan. Tiang tersebut special, hanya ada di yayasan SAS saja. Di sekolah lain tidak ada.

Leera pun terheran-heran mengapa Kai memencet sebuah tiang—yang dilihatnya sebagai tiang polos biasa—apa Kai sudah mulai gila? Ia jadi ingat salah satu episode Spongebob disaat temannya si bintang laut itu menikahi sebuah tiang.

“Kenapa kau tekan-tekan tiang itu?” Tanya Leera keheranan, sembari menghampiri Kai.

Kai tetap memencet-mencet tiang itu sembari menjawab pertanyaan Leera tanpa menatap wajah si lawan bicara, karena ia serius dengan kegiatan pencet-memencetnya itu. “Ini bukan sembarang tiang. Ini namanya tiang hukuman. Semua murid yang dihukum disini, wajib menulis nomor siswanya di tiang ini—tiang ini adalah sebuah mesin berbentuk tabung langsing–, memasukkan nama, lalu member data tentang berapa putaran yang harus murid jalani. Kau lihat beberapa line/garis merah di ujung lapangan sana? Itu adalah garis penentuan, apakah kau sudah memutari lapangan selama satu kali, dua kali, atau sepuluh kali. Garis tersebut mempunyai sensor. Lapangan ini khusus dirancang untuk murid yang dihukum.”

Kai mengoceh panjang lebar, yang sebenarnya Leera kurang percaya bahwa Kai bisa mengoceh sepanjang ini? Biasanya ia hanya mengucapkan sepatah dua patah kata, kecuali jika itu benar-benar perlu layaknya curahan hati miliknya saat di taman rerumputan kemarin.

Mendengar penjelasan Kai yang begitu lengkap dan panjang. Leera bukannya mengerti malah tidak mengerti sama sekali karena yang ia perhatikan adalah orang yang berbicara, bukan perkataannya.

“Kau mengerti?” Tanya Kai.

Leera mengangguk pelan, walau ia tidak mengerti. Tentu saja ia mau dianggap cepat mengerti.

“Baiklah, ayo lari.”

Akhirnya mereka pun mulai berlari mengitari lapangan. Leera mempersilahkan Kai di depan, karena ia tidak sudi jika ia berlari roknya terbang kemana-mana dan Kai melihatnya dari belakang.

Selama berlari, Kai sengaja memelankan larinya, namun Leera tetap saja masih merasa lari Kai cukup cepat baginya.

“Kai-a pelan-pelan saja! Hosh, “

“Kau tidak tahu kalau aku ini tidak bisa berlari dengan cepat ?”

Leera terus memprotes Kai yang berpura-pura lamban. Namun bodohnya, Kai malah berpura-pura tidak mendengar apa kata Leera dan tetap cuek berlari.

Skip>

Mereka pun selesai berlari, tentu saja semua itu sangat melelahkan. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat di pinggir lapangan, tempat yang teduh tentunya, dengan sebuah pohon rindang di atasnya.

Tetapi itu bukan oak.

Leera yang notabene seorang yeoja yang jarang sekali berlari, kehilangan banyak nafas teraturnya sehingga ia terlihat gila oksigen. Ia bernafas sangat cepat karena kelelehan dan mulutnya selalu terbuka lebar untuk menarik nafas sebanyak mungkin. Ia duduk dengan menyelonjorkan kakinya sementara kedua tangannya bertumpu di belakang.

Sementara Kai, duduk di sebelahnya—tidak terlalu dekat, masih dengan jarak yang normal tentu saja. Kai bersandar di pohon tersebut sembari menyelonjorkan kakinya.

hosh, hosh, hosh, melelahkan sekali…”

Sepertinya Kai tidak terlihat begitu lelah. Buktinya nafas seorang Kim Jong In tersebut masih teratur. Hanya saja, buliran-buliran keringat yang menghiasi wajah dan kepalanya.

“Sepertinya kau tidak terlihat lelah huh?” Ujar Leera sembari mengipas-kipas dirinya sendiri dengan tangannya.

Namun, Kai dengan gaya dinginnya seperti biasa tetap diam. Ya, Leera maklumi itu karena ia memang suka mengoceh sendiri jika ia sedang lelah seperti ini.

Suara burung-burung kenari yang melewati lapangan berbunyi. Berkicau pendek menghiasi suara nafas tidak teratur mlik Leera. Mereka tampak tidak mengobrol lagi setelah itu.

“Sepertinya pelajaran sasangnim itu juga belum berakhir. Kita akan kembali setelah bel istirahat.” Ujar Leera mengoceh sendiri sembari mengipas-kipas.

Seperti biasa Kai hanya menggumam. “Hmm.” Lalu diam.

“Hah…” Leera menghembuskan nafasnya, merasa lega sudah melakukan hukuman berat ini.

“Ngomong-ngomong, maafkan aku yang menjerit tadi. Gara-gara aku, kita jadi dihukum kan? Kau juga, mengapa kau memancing-mancingku segala? Sampai bilang kalau aku kagum padamu eoh? Tentu saja aku merasa kesal. Jadi, aku terpaksa menjerit deh.”

“….” Leera tidak mendengar respon apapun dari Kai.

“Kai-a? mohon jangan marah padaku ya, aku benar-benar minta maaf.”

Leera merasa keheningan Kai adalah pertanda bahwa Kai marah padanya.

“Ehm…. Iyadeh, aku mengakuinya, ya… sebenarnya—“

“Aku memang sedang memandangimu yang sedang serius mencatat. Karena kau tampak—“

“Em.. Keren.” Setelah mengucapkan itu Leera langsung membekap mulutnya sendiri tidak percaya.

Dan karena ia begitu gugup. Tentu saja ia tidak akan berani menoleh pada namja di sebelahnya itu.

“Ya, tidak masalah kan kalau aku bilang kau keren? Pasalnya, dengan menyesal aku mengakui kau memang keren.”

Terdengar jeda yang sangat panjang.

Apa aku harus mengatakannya sekarang? sesungguhnya, aku sudah tidak tahan lagi.

Leera terus-terusan mendengar debaran jantungnya sendiri, bilang bahwa Kai keren benar-benar sebuah keajaiban. Dan disaat-saat seperti ini, disaat mereka berdua sama-sama lelah, sama-sama berdua dalam keheningan, rasanya gadis itu ingin mengungkapkan semuanya,

ia memutar balik watu saat pertama kali bertemu dengan namja itu, wajahnya yang terlihat mesum dan menyebalkan. Hingga saatnya ia tinggal seapartment dengannya, saling melengkapi, saat Kai mengurusinya, menjadi penyelamatnya, menjadi pendengar curahan hatinya, membantunya untuk menggapai namja yang disukainya, dan semuanya. Semuanya hingga ia mengingat masa-masa terburuknya saat Kai kecelakaan, disaat tubuhnya sudah lemas tak berdaya. Leera masih ingat semua itu, naik turun emosinya, dan segalanya yang menekan batinnya. Hidupnya berkaitan sangat erat dengan namja itu.

Ia tak mau hampir kehilangan seorang Kai lagi. Ia tak mau menangis menyesal lagi. Ia tahu Tuhan telah memberikannya kesempatan untuk bersua dengan Kai hingga hari ini. Ia tahu Kai kembali hidup itu ada alasannya. Atau lebih tepatnya, ia harus bersyukur akan hari ini, dan esok.

Dan ia harus memanfaatkannya dengan baik.

Mengingat semua kejadian di masa lalu, memang membuat hati Leera bergetar, bahagia, sekaligus terharu. Sebuah senyum menghiasi bibirnya, jantungnya yang tadi berdebar, kini makin berdebar. Sosok utama yang sedang ada di pikirannya kini tepat di sebelahnya, menunggunya berbicara. dan mengungkapkan sesuatu yang benar-benar penting.

“dan—“

“Bukan hanya itu, itu karena aku… aku—“

Leera menggigit bibirnya. Lama sekali. Kata-kata itu sudah ada di tenggorokkannya. Ia sedang memikirkan bagaimana cara mengeluarkannya.

Dan akhirnya!

“Aku menyukaimu Kim Jong In.”

Pipi seorang Park Leera langsung memerah seketika, dan ia pun dengan gugup langsung menunduk dalam-dalam. Kedua tangannnya mengepal, meremas roknya sendiri. Saking malunya, ia tak berani untuk berbicara apa-apa lagi. Sudah cukuplah, ia mengakui perasaannya yang lama ia pendam-pendam.

Walau itu terdengar simpel dan kurang berkesan, namun… isi dalam hati Leera begitu besar.

Setidaknya, jika Kai tidak ada di sisinya lagi. Leera sudah mengungkapkan perasaanya kan? Itu melegakan. Namun, sekaligus memalukan.

Bilang bahwa Kai keren, dan Leera menyukainya. Memang membuat harga diri Leera jatuh ke bawah tanah.

Tetapi, Leera senang bisa mengungkapkannya.

Ia hanya berharap, namja itu dapat membalas perasaannya.

Yeah, berharap.

“……”

Kai masih diam. Atau lebih tepatnya hanya diam.

Entah apa Kai tidak tahu harus berbicara apa lagi, entah apa dia sangat malu untuk berbicara, atau ia bahkan masih menunggu Leera berbicara lagi?

Leera hanya menunggu Kai berbicara, tak berani menagih jawabannya ataupun menatap Kai sekarang.

Tetapi, Kai tak kunjung berbicara.

Hingga saatnya, bel istirahat berbunyi.

Teeeettttt!

Suara berisik langsung mengusik semua orang yang berada di gedung sekolah itu, termasuk Kai dan Leera. Suara bel sekolah itu memang sangatlah badai, topan, dan halilintar. Menggelegar—mengguncang setiap siswa.

Tiba-tiba Kai membuka mulutnya.

“Wah, sudah bel rupanya?”

Eh sabar. Leera berfikir keras, mengapa jawaban Kai seperti itu? Bukankah seharusnya ia membahas tentang pengakuan Leera barusan? Sungguh, butuh perjuangan keras untuk mengakui perasaannya sendiri! Namun, mengapa Kai malah seolah tidak peduli dan tidak mau membahasnya? Kai jahat.

Leera tetap menunduk, dan merasa sesak. Bukannya menjawab tentang hal tadi, malah meributkan bel sekolah, Kai payah! Kai payah!

“Mengapa kau ini menyebalkan sih? Mengapa kau tidak perduli terhadap apa yang kubicarakan? Mengapa kau mengganti topic dan seakan-akan kau tak pernah dengan seluruh perkataanku?” Leera terisak di dalam tundukkannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Kai pun menoleh pada yeoja itu, merasa bingung.

“Eh, memangnya kau tadi ngomong apa? Maaf, tadi aku sedang mendengarkan headset sejak kita duduk disini. Jadi aku tidak bisa mendengar suara apapun, kecuali suara yang seberisik bel sekolah.”

APA

APA

APA?

APA-KATAMU?

APA-KATAMU-KIM-JONG-IN?

Leera terbata dalam hati. Kini bukannya merasa sedih dan sesak. Ia justru merasa bodoh!

Sehingga tangisannya makin keras seperti anak kecil.

Berbeda dengan tangisan-tangisan dewasanya sebelumnya. Justru tangisan Leera kali ini, seperti bocah 5 tahun yang begitu greget karena tidak dibelikan balon.

Kai merasa linglung dan bingung, “Eh, Leera-a kenapa kau menangis?”

“Eh?”

Kai justru jadi takut sendiri karena ia tidak tahu mengapa Leera menangis.

“Leera-a?” Tanyanya sembari menggeser tempat duduknya. Tangannya menarik tangan Leera yang terus menutupi wajahnya.

“Kenapa kau menangis, Leera-a? katakan padaku?”

Justru Leera malah menangis lebih keras lagi. Dan keukeuh menutupi wajahnya,

“Shhhhhh… Park Leera sekarang sudah istirahat, kau tidak malu dilihati oleh murid lain hah?” Kai tetap membujuknya agar berhenti menangis.

“Sebaiknya katakan padaku apa yang membuatmu menangis. Apa itu karena aku?” Kai tetap mendesaknya menjawab. Tetapi Leera tak berniat sama sekali untuk meladeni namja yang terus membujuknya itu.

Bodoh! Kai bodoh! Payah!

Huweee!

Leera terus menangis.

Menangis? tentu saja! tidak ada yang salah dengan itu, sangat wajar apabila seorang park leera menangis. Setelah ia memutar masa lalu? berperang dengan hatinya sendiri tentang perasaannya? Leera benar-benar terisak dan merasa gemas dengan apa yang barusan terjadi.

Sedangkan, Kai tambah bingung tentang apa yang harus ia lakukan.

“Baiklah, baiklah, jika ini karena aku. Aku minta maaf. Tolonglah hentikkan, kau tidak mau sunbae-sunbae yang lewat melihatimu lho. Hei, Park Leera ayolah.” Kai tetap membujuknya untuk berhenti menangis. Dan ingat apa yang dikatakan Kai barusan?

‘maaf’

Itu yang dinamakan minta maaf? Tentu saja, Leera tidak peduli dengan permintaan maaf seperti itu. Kalau saja Kai tahu, apa yang ada dalam hatinya. Leera begitu kesal. Ini semua tidak sebanding!

“Sssh.. Park Leera sudahlah,”

Tetapi Leera tetap tidak mau berhenti.

“Baiklah-baiklah, sekarang, ulang saja setiap perkataanmu yang tidak sempat kudengarkan tadi. Aku siap mendengarkan sekarang.”

Tidak bisa Kim Jong In! Kau pikir semudah itu aku mengatakannya huh?! Itu antara hidup dan mati tahu! Sudah setengah hidup aku berusaha mati-matian memberanikan diri mengungkapkan perasaanku! Namun ternyata selama ini kau mengenakan headset dan tidak mendengarku sama sekali?! Dasar Kai payah! Kai bodoh!

Leera terus-terusan merutuki Kai di dalam hatinya. Kesal setengah mati.

Kesal dengan Kai, kesal dengan headsetnya.

“Kenapa? Ayo, aku siap mendengarkan. Silahkan ulangi setiap perkataanmu, sepanjang apapun itu aku akan dengarkan.”

“Park Leera, ayolah. Atau kutinggal kau disini?”

Namun Leera tetap menangis dan tidak bergeming.

Kai berdecik pelan, dan menghembuskan nafas ‘huft’. Ia merasa kasihan juga jika ia terus membiarkan Leera sendirian disini.

Sementara itu, karena ini adalah waktu istirahat, fans-fans Kai yang berada di SAS. Mulai mencuri-curi pandang ke arahnya yang terlihat berduaan dengan seorang yeoja. Yeoja bodoh yang terus menutupi wajahnya dan menunduk.

Ya sepertinya mereka bilang,

“Ada yang salahkah disana?”

“Kai ! itu Kai!”

“Kenapa dia disana?!”

“Eh, itu Kim Jong In, guys. Take a look!”

“Itukan yeoja? Itu siapa sih?”

“Iya. Kok yeoja itu menutup-nutup wajahnya seperti itu?”

Rasanya sungguh asdfghjkl. Saat kau mencoba mengutarakan apa yang ingin kau utarakan sejak lama dan sangat sulit mengungkapkannya. Dan kau berfikir bahwa kau akan mengucapkan hal itu cuma sekali seumur hidupmu. Namun ternyata orang yang kau ajak bicara, tidak-mendengarnya-sama-sekali.

Hanya karena ia,

Mengenakan

Sebuah Headset.

#

#

Kelas,

Seohyun mendelik kepada Chanyeol yang asyik mengunyah permen karetnya sejak 15 menit terakhir pelajaran. Sampai sekarang, ia masih mengunyahnya. Ternyata, selain Kim Jong In yang tidak mencatat sama sekali—kecuali mencatatkan untuk Leera, tentu saja itu hanya modus semata agar ia terlihat baik—Park Chanyeol melakukan hal yang sama.

Tetapi bedanya, Park Chanyeol tetap memerhatikan ocehan-ocehan sasangnim dan mendengarkan segala penjelasannya. Yang benar saja? Semua-penjelasan-rumit-dan-otentik-itu? Ditelan Chanyeol bulat-bulat? Untuk kalian yang belum mengerti tentang proporsi otak seorang Park Chanyeol. Sesungguhnya, ia sangatlah jenius.

Seringkali ia tidak belajar untuk ulangan, namun seringkali juga ia mendapat nilai terbaik. Ia kan murid terpintar di SAS. Bahkan melebihi murid-murid lain yang lebih serius belajar daripada dirinya sendiri yang leha-leha membiarkan buku-buku pelajaran bertumpukkan dan dingin.

Semua orang tentu mempertanyakan bahan material apa yang menyusun partikel-partikel otak seorang Park Chanyeol?

Seohyun masih mendengar suara decakkan permen karet yang dikunyah namja tinggi bertelinga besar itu. Sementara ia sibuk merapihkan catatannya. Selesai Seohyun menulis akhir paragraph, ia pun menggoreskan tinta penanya yang terakhir.

“Selesai” Ujarnya riang. Tentu saja menyelesaikan sebuah catatan dengan rapih itu sangat menyenangkan rasanya.

Sementara itu, perhatian Seohyun kembali pada namja yang duduk di sebelahnya itu. Park Chanyeol yang sedang mengunyah permen karetnya sembari merapihkan rambut. Karena ia melihat Chanyeol yang sedari tadi tidak mencatat apa-apa yang disampaikan sasangnim, ia pun berinisiatif meminjamkannya catatan untuk Chanyeol. Tak ada salahnya meminjamkannya bukan? Seohyun memang berjiwa angel dan baik pada semua orang, apalagi Chanyeol. Walau Chanyeol termasuk saingannya—dibidang pelajaran—dalam kelas ini.

“Annyeong, Chanyeol-ah.” Sapa Seohyun dengan senyum calmnya yang begitu manis. Bahkan teman dekatnya sendiri yang duduk di sampingnya pun, masih ia sapa dengan ‘annyeong’? Kadar kesopanan seorang Seo Joo Hyun benar-benar melebihi batas.

Chanyeol tanpa babibu tentu saja langsung menengok kepada yeoja yang bertutur kata Annyeong dengan wajah polos itu, siapa yang tega menyuekki seorang Seohyun? Ia gadis yang sangat baik. Lebih dari baik.

“Nde?” Tanya Chanyeol dengan suara beratnya—masih mengunyah permen karet—suara decakkan berhenti seketika. Bisa terlihat mata Chanyeol yang melebar menanggapi panggilan Seohyun.

Seohyun menarik nafas, jantungnya berdegup karena masih harus menatap Chanyeol lebih lama lagi. Lalu menyodorkan sebuah buku catatan. “Nah,” Ujarnya kecil.

Alis Chanyeol berkerut memandang uluran tangan Seohyun yang begitu mulus dan suci. Lalu bola mata besarnya beralih pada sebuah buku berwarna coklat kayu. Mulutnya masih terkatup. Bingung dengan sebuah buku yang mengambang di udara tersebut. Untuk apa gadis yang sangat baik ini memberiku bukunya? Pikir Chanyeol secara idiot. Oh iya, aku kan sudah bisa menangkap semua yang diocehkan sasangnim ke dalam otakku. Tidak mungkin aku bisa lupa. Pikir Chanyeol lagi—secara percaya diri.

“Kukira kau membutuhkannya.” Tutur Seohyun dengan nada pengertian.

Tentu saja spontan tubuh Chanyeol terangkat ke udara, menembus lapisan-lapisan langit, satu-dua, hingga ketujuh. Apalagi saat ia melihat Seohyun tersenyum sekarang, wah. Ia benar-benar sudah mengapung di langit. Bunga-bunga seakan tumbuh di sekelilingnya, menciptakan aroma harum nan segar, kupu-kupu pun beterbangan di perutnya, lalu terdengar suara orchestra biola yang begitu harmonis memenuhi telinganya.

Oke, itu semua hanyalah hayalan seorang Park Chanyeol. Tidak untuk kenyataan.

Lain lagi dengan Seohyun yang sedari tadi dag dig dug tak keruan karena Chanyeol menatapnya terlalu lama.

Chanyeol yang tadinya tidak tahu harus bicara apa, namun entah terserang sesuatu, iapun tertawa keras dengan bukaan mulutnya yang lebar. Hah? Seharusnya kan ia menjadi gugup, mengapa tertawa? Yap. Chanyeol memang pandai menutupi rasa gugupnya sehingga ia sengaja tertawa. Hingga semua giginya terlihat,

“Kau ini baik sekali padaku!” Ungkapnya, dengan nada bahagia.

Chanyeol lalu meraih buku itu. Namun rasa pura-pura tidak gugupnya entah hilang kemana. Sehingga, Chanyeol tidak menarik buku itu dengan benar, kemudian buku itupun terjatuh ke bawah meja. Seohyun yang melihat buku catatannya terjatuh, spontanitas menunduk ke bawah meja—ingin mengambilnya.

Bodohnya, sudah tahu celah di bawah meja begitu kecil dan sempit. Chanyeol ternyata ikut-ikutan mengambil bukunya juga.

Akhirnya kepala mereka pun saling berjedutan.

“Aduh.” Seohyun mengaduh karena ia merasa sesuatu yang keras menabrak kepalanya—walau sebaik apapun, manusia jika merasa sakit pasti akan mengaduh bukan?

“Adaaaw!” Berbeda dengan respon Seohyun yang biasa saja. Tentu saja, Park Chanyeol sangat berlebihan.

Tangan mereka sama-sama meraih-raih buku di bawah meja, keduanya tak bisa masuk lebih dalam lagi karena kepala mereka saling menghalangi.

“Chanyeol-ah. Aku saja yang mengambilnya.” Seohyun meminta Chanyeol mundur di tengah-tengah konsentrasinya meraih buku bersampul coklat tersebut.

“Tidak, aku saja!” Tetapi bodohnya , Chanyeol semakin ngotot dan bersikeras ingin mengambilnya.

Arghh…. Ehh…. Mereka pun saling berusaha meraih buku tersebut yang berada di bawah.

Mereka berdua sama-sama berusaha meraih, namun takkan mungkin tangan keduanya dapat sampai di bawah sana kecuali jika ada satu orang yang mengalah.

“Ayolah Seohyun-ah. Mengalah saja, aku sebagai laki-laki sejati yang akan mengambilnya!” Chanyeol tetap ngotot dan menobatkan dirinya sendiri sebagai seorang lelaki sejati. Tentu saja, ia ingin menunjukkan seolah-olah ia mau berkorban untuk mengambil buku tersebut.

Hello Park Chanyeol? Berkorban hanya untuk beberapa helai kertas yang dijilid?

Mereka terus mencoba meraih, tetapi tak ada yang dapat meraihnya.

Padahal, dapat lebih praktis jika salah satu dari mereka mengalah.

Gwaenchana, aku bisa mengambilnya sendiri, kau tidak perlu membantuku. Lagipula itu—eh—buku mililkk, millikku.” Seohyun mulai mengelak dari tawaran bantuan Chanyeol. Merasa tidak enak jika merepotkan orang lain tentunya.

Hey, posisi seperti ini begitu menyesakkan! Chanyeol yang menyumbang kepala paling besar sangat beresiko menjepit kepala orang lain. Apalagi menjepit kepala Seohyun yang begitu kecil.

“Aih, kau ini… jangan malu-malu begitu, biar aku yang mengambilkannya untukmu.” Ujar Chanyeol, berubah seketika menjadi seorang gentleman.

“Tidak usah, Chanyeol-ah. Aku, aku saja.” Seohyun pun merasa sungkan jika ada orang lain yang direpotkannya, sehingga ia memutuskan untuk membantu dirinya sendiri.

Sementara mereka tetap ngotot dengan opini masing-masing. Kengototan dalam kelembutan dan damai. Bukanlah kengototan yang tidak slow dan jeritan layaknya Kai dan Leera. Tangan mereka tetap meraih-raih buku tersebut. Namun nihil, tidak ada yang dapat menyentuh permukaan buku itu sedikitpun.

Yang satu ingin terlihat seperti gentleman, yang satunya lagi tidak ingin merepotkan orang lain. Memang susah jika begini.

“Aku saja Chanyeol-ah. Aku tidak mau merepotkanmu.”

“Tidak usah sungkan, aku ini lelaki sejati!”

“Tidak, tidak usah repot-repot.”

“Lelaki sejati tak pernah repot!”

“Chanyeol-ah sudahlah,”

“Seohyun-ah.”

Pada akhirnya, beberapa menit mereka berdebat di bawah kolong meja. Namun buku itu tidak kunjung terambil juga. Tidak membuahkan hasil sama sekali.

Tap

Tap

Tiba-tiba suara langkah mendatangi meja mereka.

Mata Chanyeol dan Seohyun yang selalu focus ke buku tersebut pun kaget. Ketika ada sebuah tangan yang meraih buku tersebut terlebih dahulu.

Buku itupun lama-lama menghilang dari tatapan mereka berdua, naik ke atas dan terdengar suara sebuah buku yang ditaruh di atas meja.

“Ya! Telinga besar! Kau bodoh sekali!” Suara cempreng menghiasi telinga Chanyeol dan Seohyun.

Lalu mereka pun dengan segera dan juga kaget langsung beranjak dari posisi di bawah kolong meja tersebut, namun malah kepala mereka saling menghantam lagi.

“Aduh.”

“Adaaw!”

Bahkan nada mengaduh mereka berdua tetap sama.

Suara cempreng itupun terdengar lagi, “Makanya jangan bodoh, Chanyeol-ah. Masa hanya ingin mengambil barang begini saja, kalian harus berdebat lama begitu sih? Dari depan sana aku jadi tidak tahan sendiri.”

Siapa sih ia? Pikir Chanyeol.

Saat Chanyeol membuka matanya, ia baru sadar kalau suara cempreng itu berasal dari mulut seorang…

Byun Baek Hyun!

Tentu saja kalau dia orangnya. Chanyeol tak segan-segan membantah kata-kata ‘kau bodoh sekali!’ versi Byun Baekh Hyun tersebut.

“Bacon! Mau apa kau datang-datang ke mejaku?” Ujar Chanyeol terlihat percaya diri. Apakah Baekhyun rindu pada sahabat tercintanya ini?

Tatapan Chanyeol yang tiba-tiba menggelikan membuat Baekhyun tersadar tentang apa yang Chanyeol pikirkan. Hah? Orang ini kenapa?

Lalu Baekhyun pun member penjelasan lebih lanjut agar Chanyeol tidak begitu percaya diri bahwa ia rindu padanya. Yang benar saja?

“Ya, Chanyeol-ah aku hanya kasihan dengan Seohyun. Kau bertindak bodoh sehingga ia menjadi seperti itu, kau lihat?” Baekhyun menaikkan alisnya, lalu bermuka melas memandang Seohyun.

Namun, sejujurnya di dalam hati Seohyun. Ia tidak keberatan dan justru senang.

“Seohyun yang begitu rapuh nan suci, apakah kepalamu memar, Seohyun-ah?” Baekhyun kembali menyusuri dahi Seohyun yang sehabis terhantam dengan Chanyeol tadi.

Seohyun hanya menggeleng pelan tidak bersuara,

“Oh, kau pasti memar.” Ujar Baekhyun mencoba perhatian. Namja jahil itupun berusaha memegang dahi Seohyun yang sebenarnya tidak memar, Baekhyun hanya mengada-ada.

Yap, jari-jari lentik Baekhyun mulai mendekat ke areal wajah Seohyun. Seohyun tentu dengan polosnya hanya bisa diam.

Namun, ada satu namja di sebelahnya yang tidak bisa diam melihat Baekhyun yang dengan seenaknya hendak menyentuh-sentuh wajah Seohyun.

“Jangan sentuh!!!”

PLAK

Sebuah tamparan keras mengenai tangan lentik Baekhyun. Chanyeol tentu saja sangat tidak terima Seohyun-nya disentuh-sentuh seperti itu oleh namja lain. Akhirnya, ia refleks melakukan itu dengan klimaks. Seohyun yang menatap kejadian itu tepat di depan wajahnya pun kaget setengah mati tentang apa yang Chanyeol lakukan barusan.

Ia berfikir, mengapa Chanyeol begitu sensitif?

Dan… menjerit?

Jauh di lubuk hati Chanyeol. Cih! Enak saja! Sembarangan! Kini ekspresi di wajah Chanyeol adalah, alis ditekuk, mata menyipit, tangan menyilang di depan dada, dan sorotan tajam yang menghujam namja jahil tersebut.

Chanyeol terus mengawasi Baekhyun yang masih tak sanggup berbicara akibat tamparan di tangannya tadi.

Sebenarnya bukan tidak sanggup berbicara, namun Baekhyun sengaja melakukan itu agar terlihat dramatis.

“Hiks, Chanyeol-ah. Apa yang kau lakukan padaku?” suara Baekhyun menjadi parau seketika, dengan latar belakang suara isakan yang menyayat hati.

“Yaya terserah kau, babi panggang.” Chanyeol berujar sinis.

Seohyun malah merasa bingung dengan perubahan sikap Chanyeol.

Sedangkan Baekhyun yang disapa hangat Bacon tersebut hanya cengengesan setelah puas mengerjai Chanyeol.

“Hahaha baru kukerjai seperti itu saja kau sudah emosi duluan,”

Baekhyun memegangi perutnya tertawa, lalu menatap Seohyun.

“Lihat Seohyun-ah. Dia cemburu padaku!” Baekhyun semakin menggoda Chanyeol yang ternyata jika dikerjai tentang yeoja, ia bisa salah tingkah tingkat akut.

Chanyeol pun langsung marah-marah tidak jelas namun pipinya jelas memerah. “Cemburu ? apa-apaan bodoh?!” Chanyeol langsung mendekap Baekhyun agar namja itu tak bergerak-bergerak lagi. Mereka berdua terlihat konyol, salah tingkah Chanyeol benar-benar membuat dirinya sendiri terus-terusan menganiaya anak dari Mr dan Mrs Byun tersebut.

Seohyun yang menyadari apa yang Baekhyun katakan barusan pun pipinya ikut-ikutan memerah juga, siapa yang tidak malu jika dibicarakan seperti itu?

“Jangan bicara sembarangan, dasar bacon!” Chanyeol mengeratkan ‘cekik-an’ nya itu terhadap Baekhyun. Wajahnya masih memerah karena malu tertangkap basah cemburu, namun sisi wajahnya yang lain menunjukkan kemarahan—walau masih sedikit bercanda dengan amarahnya itu.

“Ampun! Eh-eh heiii aku tidak bisa—se, se, sesak tahu!” Baekhyun protes sembari menarik-narik tangan Chanyeol yang terus mencekiknya. Namun ada aura puas pada wajah Baekhyun saat menyadari Chanyeol benar-benar salah tingkah.

Biasanya Chanyeol lah yang suka menggoda orang lain, dan menjahili orang lain. Namun kini, ia sendiri yang menjadi korbannya. Lucu saat melihat si biang jahil dikerjai oleh teman separtner jahilnya sendiri.

Apalagi sekarang, Chanyeol benar-benar malu! Ia masih sibuk menguyek-uyek Baekhyun yang terlihat sangat menderita sekarang. Yap! Itu adalah sebuah pelampiasan dari rasa salah tingkah miliknya.

Seohyun pun hanya tertawa kecil dan tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah teman-temannya ini. Apa beginikah pekerjaan para namja? Berkelahi-berkelahi tidak jelas saat melampiaskan ke-salah-tingkah-annya?

Chanyeol dan Baekhyun masih belum bosan terlibat adu debat dan adu pencekikkan. Sedangkan Seohyun ingin merubah suasana awkward ini menjadi netral lagi.

“Cha, Chanyeol-ah. Kutaruh buku catatanku di lacimu ne? aku permisi sebentar Baekhyun-ah, Chanyeol-ah.” Seohyun berujar sopan dengan wajah polosnya walau sedikit terbata karena malu. Lalu membungkuk pergi dari sana. Kemana lagi Seohyun jika bukan ke perpustakaan?

Seohyun pun beranjak dari bangku dan langkahnya mulai menyusuri deretan meja, dan pada akhirnya ia keluar dari kelas. Seiring kepergian Seohyun yang mulai menjauh, Chanyeol pun memerhatikan hingga Seohyun benar-benar hilang dari sana dan melepaskan Baekhyun dengan lega.

Sedari tadi Chanyeol sibuk menutup mulut Baekhyun agar ia tidak berbicara yang aneh-aneh lagi. Baekhyun terkenal dengan mulut penyebar rahasia. Tidak apa jika rahasia orang lain yang disebar, namun Chanyeol menolak mentah-mentah jika rahasianya sendiri disebarkan.

Eh tapi tunggu dulu, mengapa Baekhyun bisa tahu kalau Chanyeol memendam perasaannya kepada Seohyun?

Chanyeol mengorek-orek pikirannya dan seingatnya ia tak pernah bilang perasaannya ini pada siapapun. Ia bukan tipe namja yang membicarakan siapa yang ia suka kepada orang lain. Kecuali jika itu bohong.

“Ah, kau ini merepotkan sekali.” Chanyeol mengipas-kipas dirinya sendiri dengan sebuah buku tetapi bukanlah buku milik Seohyun tadi. Udara AC tak cukup mendinginkan pipi panasnya itu. Wajahnya masih terlihat kesal,

Baekhyun hanya menyengir kuda pada Chanyeol yang tampak kesal, berkeringat, dan well salah tingkah. “Hehe.” Baekhyun lalu menaikkan alisnya beberapa kali.

“Tapi kau benar-benar punya perasaan—“

PLAK

Chanyeol refleks lagi menampar, kali ini bukan menampar tangan Baekhyun melainkan mulutnya yang sedari tadi tidak pernah berhenti membeberkan rahasianya.

Baekhyun pun langsung memegangi bibir indahnya yang terkena tamparan. “Sakit tahu!” Protes Baekhyun. Namun apa boleh buat,

“Bisa kau diam sedikit? Byun Baek Hyun… dengar ya, aku bicara baik-baik. Kau-tidak-boleh-sembarang-bicara, oke?” Chanyeol berbisik pelan pada Baekhyun. Suara Baekhyun yang begitu besar tentu saja memancar hingga ke penjuru kelas.

Baekhyun pun ikut-ikut memelankan suaranya dan berbisik, “Oke, jadi kau benar-benar punya perasaan—“

Tanpa bunyi ‘PLAK’ Chanyeol langsung memotong perkataan Baekhyun, tidak kuat jika ia mendengar lebih jauh.

“Yap, kau benar. Sekarang diam dan simpan itu baik-baik.”

Oke, mari kita lihat apakah rahasia ini akan aman atau justru sebaliknya?

#

Seohyun baru saja sampai di perpustakaan. Aroma AC perpustakaan SAS yang khas begitu menusuk hidungnya, ribuan buku tersusun rapih di masing-masing rak, lalu ada beberapa meja-kursi, tempat murid-murid menyandarkan diri untuk membaca. Tak lupa seorang pustakawan bertengger di tempatnya, di depan sebuah computer atau terkadang sibuk mendata buku-buku yang baru sampai di perpustakaan besar SAS.

“Annyeong.” Seohyun membungkuk sopan pada sang pustakawan. Sebenarnya, ia tak perlu melakukan itu. Tetapi bukan Seohyun namanya jika ia tidak sopan begini.

Sang pustakawan yang tentu saja sudah hafal dengan yeoja manis di depannya ini, tersenyum sopan membalas bungkukan Seohyun.

Seohyun pun langsung beranjak dari pintu dan mencari buku secara random. Mengapa random? Karena ternyata, seorang Seo Joo Hyun…

Salah tingkah!

Tidak disangka, alasannya datang ke perpustakaan kali ini adalah sebagai pelarian dari keadaan yang memalukan di kelas tadi. Sedari tadi, pipinya sudah sangat panas, jantungnya yang terus beradu dengan dada, dan mulut yang terbata. Apalagi Baekhyun dan Chanyeol tak henti-hentinya bertengkar di depannya, membuat suasana makin meyakinkan Seohyun bahwa Chanyeol cemburu padanya.

“Lihat Seohyun-ah. Dia cemburu padaku!”

Apa aku tidak salah dengar? Batin Seohyun disela-sela jemarinya yang menyusuri buku-buku di rak.

Tetapi, untuk apa ia cemburu ?

Apa ia juga punya perasaan—

Lalu tiba-tiba Seohyun menggeleng keras. “Tidak. Tidak mungkin.”

Bodohnya, padahal merea mempunyai perasaan yang sama.

Seohyun menghela nafasnya, “Tidak mungkin namja seperti dia menyukaiku.”

“Chanyeol maksudmu?”

Siapa itu? Seohyun langsung menengok kea rah suara di sebelahnya. Dilihatnya seorang yeoja dengan wajah sembab.

“Park Leera?”

Leera tersenyum getir, walau ia sedang sedih sekarang. Setelah selesai dihukum dan insiden gagal menyatakan perasaannya karena sebuah headset, dari puluhan tempat di SAS Leera entah kenapa punya insting untuk melarikan diri ke perpustakaan besar ini. Untuk menyembunyikan diri dari Kai tentu saja, namja tidak tahu diri itu kini mencarinya yang langsung lari entah kemana.

“Kau? Sudah selesai emm—berlari?” Tanya Seohyun polos, tak lupa secercah senyum menghiasi pertanyaannya.

Gantian Leera yang menghela nafas. Sedih. Lalu menatap buku-buku sambil menjawab, “Yah, begitulah.” Terdengar nada sedih dari wajah yeoja yang katanya cute itu.

Seohyun menyadari ada kejanggalan.

“Sepertinya kau sedih. Ada apa? Apa lari membuatmu sangat lelah?”

Leera hanya menggumam sambil menunduk. Mungkinkah ia memberitahu hal ini pada Seohyun, atau tidak?

Tapi…

Sepertinya, ia pendengar curahan hati yang baik.

“Begini—“

“Aku—“

Seohyun pun menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum Leera melanjutkan kata-katanya. Memastikan tak ada orang yang mengupingi mereka. Tetapi, kelihatannya suasana tidak aman karena. Oh tidak.

Kyungsoo baru memasuki perpustakaan, bersama Suho.

“Hah, penjelasan sasangnim tadi membuatku semakin tidak mengerti, hyung.” Keluh Kyungsoo sembari menggaruk tengkuk.

Suho mengangguk, “Ya, mungkin di perpustakaan ada buku-buku yang berkaitan dengan materi tadi. Kita bisa sedikit terbantu bukan?”

Akhirnya Kyungsoo dan Suho pun melangkah ke rak sayap kanan. Dan ternyata, itu adalah sayap yang sama dengan sayap yang Seohyun-Leera tempati.

Seohyun langsung menyuruh Leera untuk diam. “Ssh, Leera-a. Bagaimana kalau ada yang mendengarmu?”

“Itu, Kyungsoo dan Suho oppa.” Lanjut Seohyun.

Bisa gawat kalau di dengar mereka! Batin Leera dalam hati.

“Pergi! Ayo kita bicara di tempat lain!”

Leera yang panik pun langsung menarik tangan Seohyun ke sayap lain. Yaitu sayap barat, di sebelah sananya sayap kanan.

Namun,

“Hai, Leera dan Seohyun-ah?” Suho dengan wajah tenang menyapa mereka yang hendak kabur dari tempat itu.

“Oh hai,” Sahut Kyungsoo.

Leera dan Seohyun berpandangan. Apa yang harus mereka lakukan? Rencana curhat colongan seorang wanita menjadi terganggu karena kedua namja ini.

“H, h- hai!” Bata Leera. Entah mengapa ia jadi terbata. Mungkin karena, perasaannya yang tiba-tiba tidak enak.

Seohyun gantian menyapa, “Annyeong,” Seohyun membungkuk pada mereka.

Tentu saja mereka serentak kagum akan kesopanan seorang Seohyun. Suho yang sopan juga nyatanya membalas membungkuk sopan.

“Leera-a. Bagaimana dengan hukumannya? Eh, maksudku larinya?” Tanya Kyungsoo. “Mana Kai?” Tanya Kyungsoo lagi.

Sudah bagus Kyungsoo hanya menanyakan tentang hukuman. Setelah mendengar pertanyaan yang satu lagi, Leera langsung bermuka masam.

Kyungsoo kaget,

“Eh aku salah bicara ya?”

Leera langsung cengengesan jaim. “Hehe tidak kok, oppa.” Berusaha terlihat sebagai gadis yang baik.

“Lariku lancar, walau sedikit melelahkan sih.” Jawab Leera tetap tidak mau meladeni pertanyaan tentang ‘Kai’ itu. Tetapi tunggu dulu, ‘sedikit melelahkan’? Bukannya Leera terus mengeluh-eluh sedari tadi tentang lelahnya ia? Uh, yeoja jaim.

“Oh baguslah kalau begitu. Bagaimana dengan Kai?” Tanya Kyungsoo lagi.

Hey oppa tidak lihat wajahku yang sudah masam begini?

Kyungsoo selalu menanyakan Kai, Kai, dan Kai. Leera jadi sebal, lain dari pipi yang memerah jika ia ditanyai tentang Kai kemarin-kemarin. Kali ini Kai sangat menyebalkan! Tetapi apa boleh buat. Ia dituntut menjawab pertanyaan itu.

“Dia mati.”

Satu detik. Dua detik. Tiga.

Seohyun, Kyungsoo, dan Suho terdiam seketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Leera barusan.

Apa? Apa yang ia katakan barusan? Mati? Kyungsoo tidak bisa berkata-kata.

Seohyun langsung mengerti mengapa Leera menangis, berwajah masam, dan mengapa ia berkata bahwa Kai mati. Ia dapat mengambil kesimpulan bahwa Leera sedang kesal dengan Kai habis-habisan. Meskipun Seohyun tahu bahwa yeoja itu menyukai seorang Kim Jong In, tetapi, ia rasa hari ini Kim Jong In membuatnya merasa, menjadi yeoja terkesal di dunia.

Tiba-tiba Suho nyeletuk di tengah keheningan ini, “Hahaha, kau pasti bercanda kan?”

Sementara itu wajah Leera masih terlihat seram. Seohyun pun mengusap pundak Leera mencoba menenangkan. “Leera-a.” Lirihnya.

Kyungsoo langsung berwajah tidak enak. Ada masalah apa lagi dengan mereka berdua? Tutur Kyungsoo dalam hati.

Sudah bagus hari ini mereka duduk bersebelahan di kelas, dihukum bersama, dan sudah saling berbicara tidak seperti seminggu yang lalu. Namun, mengapa tiba-tiba muncul masalah lagi?

Suho berdehem. Diikuti Kyungsoo yang berdehem juga.

“Ah, mungkin Leera sedang banyak pikiran.” Bela Seohyun tertawa calm. Membuat matanya mengecil.

“Iyakan Leera-a?” Tanya Seohyun, pura-pura memastikan sambil merangkul yeoja itu.

Namun Leera tidak menjawab. Sepertinya yeoja ini tidak bisa diajak kompromi.

Daripada terus-terusan berada di suasana yang mencekam ini, Suho dan Kyungsoo berusaha lari. “Leera-a, Seohyun-a. Sepertinya kami tidak punya banyak waktu lagi, dah.” Kyungsoo berlalu duluan.

Diikuti Suho yang melambaikan tangannya.

Mereka tidak tahan jika menghadapi situasi ini lebih lanjut. Baru kali ini ia melihat wajah Leera yang seseram itu. Sampai Seohyun menenangkannya.

Seohyun yang sadar dengan keadaan itupun menghembuskan nafas lega sembari memejamkan matanya. Sementara itu, Leera masih mendengus, pandangannya lurus tapi kosong.

“Sudahlah, Leera-a. Aku tahu pasti kau ingin cerita tentang Kai bukan? Ceritalah sepuas hatimu, aku siap mendengarkan, lagipula jika kau mencurahkan isi hatimu siapatahu kau bisa menjadi lega dan rasa amarah mu bisa reda?” Ajak Seohyun menghibur atau lebih tepatnya menenangkan Leera agar kembali seperti semula.

Di benak Leera terulang-ulang pernyataan namja bodoh yang disebut Kai itu.

“Eh, memangnya kau tadi ngomong apa? Maaf, tadi aku sedang mendengarkan headset sejak kita duduk disini. Jadi aku tidak bisa mendengar suara apapun, kecuali suara yang seberisik bel sekolah.”

Kata-kata itu terus terulang-ulang di otak Leera. Seribu kali. Duaribu kali. Seratus ribu kali.

Sampai ia geram sendiri.

Lalu kata-kata dan suara Seohyun yang lembut mulai masuk ke dalam otaknya yang sedang kacau itu.

“Leera-a?”

Greb

“Ah… “ Leera langsung tersadar.

“Iya mian…” Lanjutnya dengan wajah kusut. “Habisnya… Kai—“

Leera memanyunkan bibirnya. Yeoja mana yang tidak sebal jika saat ia serius, namja yang disukainya malah mengabaikannya?

Namun, dari balik sudut pandang Kai. Salah sendiri mengapa tidak memastikan jika aku mendengar perkataanmu atau tidak.

Leera totalitas berfikir bahwa Kai seratus persen salah.

Sama seperti kejadian di mobil saat itu, disaat Kai ingin mengakui perasaannya namun, Leera malah fokus ke arah telfon.

Mereka sama-sama tidak sadar jika mereka bersalah. Intinya, ini semua empas bukan?

Seohyun tersenyum pada Leera, “Tidak apa, Leera-a. Wajar orang-orang merasa marah seperti dirimu. Kau hanya perlu tenang sebentar, lalu rasa kesal akan hilang dengan sendirinya.” Seohyun kembali mengusap pundak Leera.

“Ayo kita duduk disana. Baru kau lanjutkan ceritamu itu.”

#

Kelas,

Kai berlari dengan tergesa-gesa ke arah kelas. Ia langsung menggeser pintu dengan paksa dan tubuhnya kembali berkeringat. Barusan saja ia dihukum berlari mengitari lapangan 20 kali, sekarang ia harus berlari lagi. Tergesa-gesa pula.

Ini semua demi mengejar Leera.

Dan jangan lupa… memuaskan gejolak emosinya.

Spontan, Kai yang terkenal dingin. Kini kontras. Ia berwajah panik, ekspresif, dan berteriak ke penjuru kelas.

“Apakah kalian liat Leera?!” Tanda seru disini menegaskan bahwa Kai mengeluarkan suaranya dengan besar sekali agar satu kelas dapat mendengarnya.

Baekhyun dan Chanyeol yang tampak berbisik-bisik satu sama lain, Sehun yang sedang makan bekal buatan ibunya, Suzy yang sedang bercengkrama dengan Jun Hee yang lebih akrab disapa Juniel itu, Daehyun yang sedang membersihkan papan tulis, dan sisanya menengok ke arah Kai secara eksklusif.

Seorang namja yang sangaaat dingin, seperti kulkas berjalan, penampilan keren, cool, dan terkadang seram. Cuek, acuh tak acuh, dan high class. Kini telah menjerit ke penjuru kelas dengan wajah panik, dan berkeringat?

Pemandangan paling langka di seluruh dunia.

Teman-teman Kai yang satu geng dengannya langsung melongo. Terutama Sehun yang sering menjadi korban curahan hati hyung-hyungnya ini.

“Ada masalah lagi kah?” ujarnya dengan mulut penuh.

Mendapati semua temannya yang malah diam, bukan menjawab. Juga mendapati Leera yang tak terdapat di kelas. Kai langsung mengerti dan berbalik keluar kelas lagi dengan cepat.

Jangan-jangan yeoja itu bunuh diri ? Pikirnya bodoh. Tentu saja pengaruh dari otaknya yang terganggu sekarang. Atau bisa dibilang, penyakit kecilnya itu , kambuh lagi.

Lagipula sepenting apasih hal yang ia ingin bicarakan padaku? Toh, apa susahnya mengulangi perkataannya itu? Kai berkecamuk dalam hati sembari bertanya-tanya. Kepalanya terasa panas.

Kai pun menggeser pintu kelas dengan cepat. Lalu memandang kanan dan kiri. Kira-kira dimana si Park Leera itu?

Tentu saja Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun yang makan bekal, langsung meninggalkan aktifitas mereka yang kalah menarik dengan kepanikan Kai ini.

Teman-teman mereka yang bingung dengan Kai langsung pada bertanya, “Ada apa dengan dia?”

“Tumben Kai seperti itu,” Ujar Suzy.

“Ige mwoya?” Daehyun memberhentikkan menghapus papan tulisnya.

Chanyeol, Baekhyun, dan Sehun otomatis menggeleng dan mengangkat bahu. “Entahlah.” Kata mereka berbarengan dan langsung menggeser pintu.

Untung saja masih ada Kai di depan sana.

“Hyung!” Sehun langsung menjerit pada Kai yang celingukan bingung.

“Hei, Kai-a!” Baekhyun dan Chanyeol spontan melingkari Kai, mencegatnya pergi.

Namja yang dipanggil itu spontan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dimana Leera hyung?! Dimana dia?” Tanyanya frustasi.

Chanyeol mengangkat alis, baru saja ia membicarakan topik yeoja dengan Baekhyun. “Memangnya ia kemana? Mengapa kau jadi panik begitu?” Tanya Chanyeol.

“Iya benar, mengapa? Bukannya tadi Leera menjalankan hukuman bersamamu?” Tanya Baekhyun.

Sehun mengamini kedua pertanyaan bervariasi hyungnya itu.

“Dia kabur dari hukuman dan menghilang ?” Timbrung Sehun, menebak.

Kai menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu sekarang bahwa ia telah dilanda penyakit otaknya yang datang tiba-tiba itu. Emosi yang berlebihan, ia jadi tak dapat mengendalikan pikirannya sendiri sampai ia jerit-jerit tak keruan. Padahal Leera hanya menghilang tiba-tiba. Siapatahu ke kantin karena lapar? Ataupun tempat lain yang sama sekali tidak berbahaya. Read: tidak berbahaya.

“Dia…” dengus Kai. Di otaknya diputar memori saat Leera tertawa, menangis, menjerit, lalu marah.

“Dia—“ Kai memejamkan matanya dengan paksaan. Dahinya berkerut, pelipisnya menonjolkan sepintas—urat. Detik ini diputar di otaknya, bayang-bayang Leera yang sedang digantung, lalu yeoja itu menjerit.

Seakan saraf otaknya terus-terusan menyiksanya dengan bayangan-bayangan aneh dan mengerikan.

“Dia dalam bahaya!” Kai tiba-tiba ambruk ke lantai. Bukan pingsan seperti waktu itu, melainkan jatuh dengan bertumpu di lututnya. Ia memegangi kepalanya, seakan hendak memecahkannya. Masih terus-terusan memejamkan matanya dengan paksa.

Chanyeol yang pernah menyadari keanehan Kai sendiri, langsung merasa sedikit takut dan ikut membungkuk di tanah, “Kai?”

Apa ini yang waktu itu? Batin Chanyeol dalam hati.

Baekhyun yang masih berfikir rasional walau ia keseringan mengibuli orang, tiba-tiba berwajah serius dan meneguk ludahnya.

“Kai-a? apa yang kau pikirkan?” atau lebih tepatnya, Baekhyun seakan menyindir saraf otak Kai yang terus-terusan menciptakan bayangan buruk tentang Leera.

Kai masih diselimuti awan hitam yang berada di pikirannya sendiri, ia tak dapat berfikir realistis. Ia masih larut dalam imajinasinya yang mengerikan.

“Kita fikir baik-baik. Leera tidak mungkin dalam bahaya, jernihkan pikiranmu. Kau tidak perlu panik begitu kau tahu? Jelaskan pada kami, apa yang terjadi dengan kalian dan apa alasanmu bilang bahwa Leera dalam bahaya?” Baekhyun melanjutkan. Kali ini dengan wajah yang lebih serius lagi. Membuatnya tampak ‘bukan Baekhyun’.

Chanyeol mengiyakan pernyataan dan pertanyaan Baekhyun. Begitupun dengan Sehun yang tidak megerti harus berbuat apa.

Tetapi, tunggu dulu! Sehun pernah mengalami kejadian seperti ini bersama Kai. Saat Kai mengamati Taemin-Leera di loker. Mengapa semua itu hanya ‘Leera’ dan ‘Leera’? Apa segala hal utama permasalahan hanya ada pada yeoja itu? Sehun menggigit bibirnya. Lalu mencoba berfikir.

Sewaktu itu ia menyadari tatapan Kai yang tajam, dengusan marah, dan tangan yang sudah dikepal kuat. Sehun sadar. Lalu ia dengan canggihnya, menenangkan Kai. dan itu berhasil. Tapi apa?

Apa kata kunci yang dapat membuat Kai sadar dari alam bawah sadarnya?

Yang membuatnya sadar dari saraf otaknya yang jahat itu?

“Sadar Kai-a. Kau tidak baik-baik saja. Kau tampak marah. Semua bisa diselesaikan dengan cara baik-baik.”

“Ingat, kau bukan Kai yang melakukan segalanya dengan kekerasan kan? Kau punya otak.”

Kau punya otak.

Itu dia!

Sehun terus menjerit lega dalam batinnya.

Jika member dorongan pada Kai bahwa ia punya otak, garis miring bisa mengendalikan otaknya sendiri. Kemungkinan Kai dapat sadar seperti waktu itu?

Walau kali ini pelampiasan Kai bukanlah sebuah ‘kekerasan’ namun malah ‘kepanikkan yang menekatkan’, mungkin kata-kata tadi, dapat membantu Kai untuk sadar. Pikir si maknae yang dijuluki babo itu.

Dilihatnya Baekhyun dan Chanyeol yang masih berusaha menenangkan Kai yang sudah tak keruan. Duduk di lantai, di tengah-tengah jalan. Chanyeol merangkul Kai dari samping menenangkannya, sementara Baekhyun terus-terusan berbicara. Meminta penjelasan.

Namun, Kai yang masih larut dalam dunianya sendiri tak dapat mendengar ataupun mengerti apa yang Baekhyun ucapkan. Setiap pertanyaan yang Baekhyun ucapkan, Kai selalu meresponnya dengan salah.

“Kai, dengarkan aku…” Baekhyun berkali-kali menghela nafas sabar saat Kai tidak mendengarkannya sama sekali.

Kai menatap Baekhyun dengan pandangan kosong. Seakan-akan yang berada di depannya bukanlah Baekhyun. Bukan Byun Baek Hyun, temannya sendiri.

“Aku bertanya padamu, apa yang terjad—“

BUK

Baekhyun langsung terpental ke belakang. Posisinya yang semula berjongkok di depan Kai, kini terpingkal. Baekhyun meringis merasa tulang belakangnya menghantam sesuatu.

Murid di sekitar mereka yang tadinya acuh, kini memerhatikan mereka. Bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan murid yang paling beken di SAS ini? Di antara mereka ada yang berbisik-bisik. Chanyeol yang menyadari bahwa Kai menonjok Baekhyun hingga ia terpental ke belakang merasa sangat kaget.

Sehun yang tadinya berdiri langsung mundur seketika, hampir terjatuh.

Chanyeol melonggarkan rangkulan pundaknya pada Kai. Tidak ada lagi wajah memerah Chanyeol, wajah derpnya, ataupun wajah jahilnya. Kali ini suasana tampak sangat serius. Mereka bertiga memandang Kai kaget.

Lebih dari sekedar kekagetan.

“Kai! apa yang kau lakukan dengan Baekhyun?!” Chanyeol terpaksa membentaknya.

Pukulan Kai tampak kuat, dan Baekhyun sampai terpental jauh seperti itu.

Sehun memandang keduanya tidak percaya.

“Hyung…”

Apakah ia harus melakukannya atau tidak?

Pasalnya, melihat Kai yang begitu kasar dan memulai tindak kerasnya membuat Sehun bergidik takut.

Tiba-tiba, Kai yang semula diam tak bergeming—membuka mulutnya.

“Apa yang kalian lakukan hah? Kalian menghalangiku mencari Leera.” Datar, tapi tajam.

Baekhyun yang tulang belakangnya merasa sakit, langsung berusaha bangun dan membersihkan seragamnya. Ia maju ke depan Kai, menatapnya tajam.

“Menghalangimu katamu? Dengar, kami hanya ingin membantumu. Kau ini tidak waras kau tahu? Kau aneh, Kai-a. Kau seperti bukan kau. Kau orang lain.” Tutur Baekhyun merasa dilukai. Dan merasa tersinggung.

“Hyung, dia memang Kai. Tapi, ia mempunyai sesuatu yang salah dengan otaknya. Kau harus sabar, hyung. Ia tidak stabil. Ia tidak sadar apa yang ia lakukan.” Sehun berujar lemah dari jauh saat menyadari suasana jadi tidak enak.

“Apa yang kau bicarakan, Sehun-ah? Kau tidak tahu apa-apa.” Baekhyun merespon sinis, bukannya percaya.

“Aku pernah mengalami ini, hyung.” Sehun akhirnya maju dari langkahnya. Mencoba berani, mencoba menghentikan kesalahpahaman ini.

Kai diam, bermain dengan dunianya. Tidak bergerak.

Chanyeol mulai bangkit dari posisinya yang sedari tadi di sebelah Kai. Sembari memandangi Sehun yang mencoba berbicara dan Baekhyun dengan ekspresi ketusnya.

“Aku pernah mengalami ini.” Ujar Sehun lagi, dengan nada serius.

Baekhyun mencoba tenang dan menyimak. Apa yang akan dikatakan si babo ini untuk membela Kai huh?

Sehun pun menarik nafas panjang lalu member penjelasan panjang.

“Waktu itu Kai dan aku sedang berjalan berdua di lorong. Lalu ia melihat Taemin dan Leera. Berdua…. Gejalanya sama.” Sehun menatap Baekhyun lalu Chanyeol. “Ia mendengus marah, pelipisnya mengeluarkan otot kecil, kepalannya mengeras… Ia, terlihat seperti banteng yang mengamuk. Tetapi, aku sadar itu. Aku sadar bahwa Kai tidak seperti itu. Ia tidak suka melakukan apapun dengan kekerasan. Aku tahu kalau Kai punya 1001 cara lain untuk mengatasi masalahnya selain kekerasan.”

Baekhyun terdiam.

Chanyeol yang semula punya pemikiran sama dengan Sehun (karena ia pernah mengalami ini saat Kai pingsan) pun mengangguk mengerti.

“Ia tetap Kai. Ia tidak berubah. Ia juga bukan orang lain yang tidak kalian kenal, hyung. Aku bukan semata-mata membelanya.”

Sehun menarik nafas, menatap simpati seorang Kim Jong In yang masih duduk kaku di lantai. “Tapi ini adalah yang sesungguhnya. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri.”

Chanyeol mengangguk lagi namun kali ini lebih pasti dan mantap. Ia menatap pada Sehun seakan-akan ‘yap, kau benar’ lalu datang kea rah Baekhyun, merangkul pundaknya dan menggerak-gerakkannya.

“Ayolah, Baekhyun-ah. Sehun benar. Walaupun masalah yang sedang dihadapi Kai begitu sepele, karena saraf otaknya yang lain dari kita, ia pun menganggapnya besar, dan pemikiran visual otaknya itu, berpengaruh pada tindakannya.” Chanyeol yang dijuluki ‘terjenius di SAS’ mulai menjelaskan secara ilmiah.

Baekhyun mengkerutkan alisnya, lalu ia terdiam.

“Kau tidak percaya pada kami? Mana mungkin Kai melempar hyungnya sendiri? Itu sangat tidak mungkin. Kecuali aku yang mencekikmu tadi.” Chanyeol tertawa. Lalu menepuk pundak Baekhyun keras-keras.

Baekhyun tersenyum sedikit karena menahan tawanya. Lalu pandangannya yang terkunci langsung ia tengokkan pada Chanyeol yang ada di sebelahnya.

“Baiklah, baiklah.” Ujarnya lalu mengangkat bahu.

Lalu Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun kembali menatap Kai.

EH ?

“Kai?”

“Dia pingsan… lagi?”

“Lihat?”

Sehun langsung menghampiri tubuh Kai yang sudah terjatuh di lantai dengan lunglai.

Chanyeol pun member kode pada Baekhyun untuk segera menggotongnya.

“Kemana kita menggotongnya? Ke poliklinik lagi? Kurasa penyakit anehnya ini tidak bisa diatasi dengan poliklinik?”

“Molla, bacon! Kau tidak pernah menonton film action ya? Yang begini, seharusnya kita berikan dulu pertolongan pertama di poliklinik!”

“Sudah-sudah hyung, jadi bagaimana ini? tanganku pegal.”

Mereka bertiga kelihatan gupek dengan ‘harus diapakan’ sebenarnya Kai ini?

Baekhyun yang mengangkat Kai dari sisi kanan, Chanyeol kiri, dan Sehun? Mengangkat kakinya yang paling enteng.

Sementara itu yang melihati mereka sedari tadi hanyalah murid yeoja. Sehingga, tidak akan ada bantuan mereka yang berarti. Bergabung mengangkat tubuh Kai ditengah-tengah namja-namja tampan begitu? Aigo, bisa-bisa mereka ikut-ikutan pingsan bukan?

Mereka hanya bisa berbisik-bisik, dan ada juga yang mengkerutkan alis, merasa prihatin. Dan sebagainya.

Sementara itu Chanyeol menyuruh Sehun memanggil bantuan dari kelas. “Sehun, panggilkan Daehyun dan yang lainnya!”

Sehun mengangguk dan segera masuk kelas.

Mengingat anggota exo lainnya sedang pergi entah kemana (Kyungsoo dan Suho). Jadinya, hanya mereka bertiga lah yang bertanggung jawab atas kepingsanan teman satu gengnya ini.

Namun, saat Daehyun sudah sampai untuk membantu mereka mengangkat.

Tiba-tiba,

“Annyeong. Apa yang terjadi dengan Jongin?”

Taemin yang sedang memegang ponsel, membulatkan matanya dan langsung berlari kea rah namja-namja yang sedang mengangkat tubuh Kai.

Di sekeliling Taemin, terdapat 5 orang berseragam putih. Ada namja dan ada juga yeoja. Terdapat lempengan emas kecil di seragam putih mereka. ‘tim medis’.

“Ada apa ini?!” Tanya Taemin sembari menjauhkan ponselnya dari telinga.

Chanyeol langsung menjawab dan tentu saja kaget melihat banyak orang mengelilingi mereka.

“I-ini! Kai pingsan!”

Baekhyun melongo. Begitu juga Sehun dan Daehyun yang shock melihat Taemin tiba-tiba datang membawa banyak orang berseragam putih. Yang tampaknya juga, mereka bukanlah tim medis poliklinik sekolah.

Lalu Taemin yang telah mendapat fakta dari Chanyeol bahwa Kai pingsan langsung berbicara pada orang yang sedang bertelfonan dengannya tadi.

“Yoboseyo? Ya? Ahjumma, benar! Kai pingsan!” Taemin berujar sedikit histeris pada orang ditelfon.

“Apa? Baiklah!” Taemin langsung menutup telfon dan mengantunginya. Ia menengok kea rah tim medis itu dan berbicara sesuatu. Setelah mendengar Taemin berbicara, salah satu dari tim medis itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah tandu kecil praktis yang bisa di lipat. Lalu terdapat roda terpisah yang dapat di pasangkan. Sementara mereka merakitnya, pandangan Taemin langsung mengarah pada murid-murid SAS yang terbengong-bengong tersebut.

“Aku diberi perintah oleh Mrs. Kim untuk membawa Kai pulang. Sepertinya, Kai masih harus diperiksa secara berkala. Ibunya sangat panik. Untung aku datang di waktu yang tepat.” Taemin menjelaskan pada mereka.

Mereka hanya mengangguk-angguk mengerti,

Setelah beberapa detik. Tim medis tersebut langsung menggantikkan Chanyeol dkk yang sedang menggotong Kai, dan menghempaskan tubuh namja yang sedang pingsan itu ke atas tandu canggih milik mereka.

“Tenang, mereka bawa mobil sendiri.” Taemin berujar.

Chanyeol menggaruk kepalanya, “Ba-baiklah. Apa tas Kai perlu dibawa?”

Taemin mengangguk pasti. “Tentu saja, aku hampir lupa. Tolong bawakan seluruh barang Kai.”

Sehun lagi-lagi yang menjadi korban suruhan. Walaupun ia ikhlas melakukannya, teman dekatnya kini sedang sakit? Tentu saja ia sanggup melakukan apapun!

“Nih, hyung.” Ujar Sehun pada Taemin. Taemin mengangguk dan tersenyum ramah pada Sehun lalu berujar terimakasih.

Tim medis pun mulai membawa Kai turun.

Taemin berbalik dan membungkuk pada mereka. “Ya! Terimakasih untuk kalian semua!” Taemin tersenyum , melambaikan tangan lalu mengikuti jejak tim medis tersebut.

Chanyeol, Baekhyun, Sehun, dan Daehyun berpandangan lama sekali. Seakan-akan kejadian tadi merupakan sebuah kejadian yang benar-benar tidak pernah ada. Alias tidak diduga-duga.

Daehyun tiba-tiba nyeletuk penasaran, “Itu…–“

“Taemin sunbae yang pindahan dari Jepang? Yang terkenal itu kan? Lalu kenapa ada banyak orang berseragam putih? Tandu yang bisa dilipat dan itu memakai roda? Lalu… ah! Ini semua—“

Daehyun bertanya dengan menggebu-gebu. Tidak sadarkah ia kalau ia sedang berhadapan dengan murid terbeken disini?

Lagi-lagi Chanyeol yang mampu membuka suara, sisanya masih diam dalam keheningan, memandangi tim medis tersebut menjauh. “Nde, Taemin sunbae, ia teman dekatnya Leera, dan sepertinya punya ikatan kekerabatan dengan keluarga Kai? Mereka semua saling mengenal.”

Sepertinya Chanyeol masih banyak belum tahu dengan fakta bahwa keluarga Taemin, Kai, dan Leera saling berteman.

Sementara Sehun yang pernah diceritakan Kai lewat LINE mulai angkat bicara, “Atau lebih tepatnya, Keluarga Kai, Leera, dan Taemin sunbae saling berteman. Mereka pernah makan malam bersama sekeluarga.”

Baekhyun yang sama sekali tidak tahu apa-apa hanya bisa mengangguk pelan.

Begitu juga Daehyun yang mengutarakan pertanyaan banyak macam tersebut.

“Kalau soal orang-orang berseragam putih itu, mungkin mereka semacam—“ Jelas Chanyeol yang langsung dipotong.

“Tim medis?” Baekhyun akhirnya mengeluarkan suara. “Aku tak sengaja melihat lempengan kecil di seragam mereka.”

“Dan yang ada di telfon dengan Taemin sunbae tadi adalah ibunya Kai sendiri yang entahlah. Mungkin ia sudah punya insting bahwa putranya tidak baik-baik saja di sekolah, dan butuh pemeriksaan lebih lanjut tentang penyakitnya.” Ada nada sedih dalam ucapan Chanyeol.

Baru saja mereka merasakan kepedihan saat Kai koma di rumah sakit, menyaksikan keanehan bentuk kepalanya, perban disana-sini, suasana sedih dan mengharukan, salju yang dingin menusuk kulit, dan Leera yang terus-terusan menangis.

Baekhyun menghela nafas. Lalu menatap mata Chanyeol yang menyiratkan kepedihan.

Mereka hanya mengharapkan yang terbaik untuk Kai.

Setelah mereka semua saling hening. Meresapi kesedihan masing-masing. Tiba-tiba ada dua orang yeoja datang kea rah mereka dari tangga.

Spontan Sehun yang melihat itu langsung memanggil mereka, “Leera-ya! Seohyun-ah!”

Leera dan Seohyun terlihat berbeda, dengan rona merah di pipi masing-masing langsung berjalan bingung kea rah Sehun. “Ada apa?” Tangkap Leera. Sedangkan Seohyun hanya terbengong menatap Sehun yang memanggil mereka berdua.

Kemudian, Chanyeol, Baekhyun serta Daehyun menengok kea rah dua yeoja yang barusan dipanggil namanya itu.

Melihat Seohyun, tentu saja Chanyeol kembali merasa aneh dan sepertinya ada yang menggelitik isi perutnya. Jantungnya langsung beradu. Ia berfikir, bagaimana jika Seohyun masih mengingat kejadian tadi?

Tidak di rencanakan, mata Chanyeol dan Seohyun bertemu.

Bodoh bodoh bodoh… Jangan melihatku seperti itu! Dasar bidadari kau! Erh. Chanyeol mengutuk Seohyun dalam hati sembari mengalihkan pandangan malu.

Sementara Seohyun hanya tertawa kecil dan langsung menunduk.

Sayangnya, Baekhyun tidak melihat kejadian itu. Sehingga ia tetap diam mengamati Leera yang sedang berbicara dengan Sehun. Entahlah, apa yang akan terjadi jika Baekhyun melihat pemandangan Seohyun-Chanyeol tadi. Mungkin mulutnya sudah berkoar, walau Chanyeol menyuruhnya untuk tetap menjaga rahasia.

“Kemana saja kau, Leera-a? Kai dari tadi mencarimu.” Baekhyun menulusuri raut yeoja itu dan juga kenampakannya. Lusuh, berkeringat, dan sembab.

Leera bergumam kecil, tidak biasanya ia ditanyai seperti ini oleh seorang Baekhyun yang tak lebih dari sekedar teman bercandaannya saja. Sebenarnya, ia sudah tahu ia akan ditanya-tanyakan seperti ini. Ia sebenarnya ingin langsung masuk kelas, mencuekki semua orang yang berbicara tentang Kai dan diam.

“Em… aku bersama Seohyun.” Jawab Leera, tidak menyebutkan tempat. Dan juga tidak menghiraukan ucapan Baekhyun yang bertajuk Kai di akhir kalimatnya.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala sembari melipat tangan, “Dia mencarimu seperti orang gila kau tahu? Lihat baju seragamku yang kotor ini.” Baekhyun membalik tubuhnya, memperlihatkan kemeja putih SAS bagian belakangnya yang terlihat menghitam.

Leera mengangkat alisnya bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi dengan Kai sampai Baekhyun menjadi korbannya? Ya, korban dalam artian santai.

“A, apa itu?” Leera benar-benar tersentak saat melihat seragam Baekhyun.

Baekhyun membunyikan lehernya. “Yak, tulang belakangku sampai sakit. Lain kali ingatkan suamimu itu untuk bertindak lembut pada hyungnya.”

“Suami katamu?!” Leera langsung salah focus terhadap ucapan Baekhyun, bukannya perhatian tentang sikap Kai yang aneh, ia malah bertambah kesal karena embel-embel ‘suami’. Tangan Leera mengepal dan ia sedikit berjinjit karena marah.

Baekhyun langsung mundur dari tempatnya. “Eh, eh maaf.” Ujarnya. Tidak biasa melihat Leera marah kecuali pada Kai sendiri. Jangan sampai aku jadi sasaran korban lagi oleh pasangan gila ini. Pikir Baekhyun.

Tiba-tiba Leera mengusap dahinya, dan berhenti mengepalkan tangan marah, “Mian Baekhyun-ah, aku sedang kesal.” Ujarnya blak-blakan. Setelah meluapkan emosi lewat curahan hatinya kepada Seohyun. Emosinya tentang Kai semakin tidak dapat dipendam-pendam lagi.

Leera menghela nafas.

Baekhyun memandangnya heran, “Sebenanya ada apa?” Tanyanya bingung. “Hah sudahlah, yang penting. Ia tadi benar-benar gila dan kurasa sedikit—em tidak waras, ia saja sampai melakukan ini padaku yah begitulah…”

“Melakukan apa?” Tanya Leera. “Seragammu itu?” Mata Leera membulat mulai sadar. Tadi ia tidak begitu memerhatikan kata-kata Baekhyun karena salah focus terhadap kata ‘suami;.

Baekhyun diam enggan menjawab karena tengsin. Masa ia harus mendzolimi dirinya sendiri dengan bilang bahwa ia ditonjok, dilempar, sehingga ia mental ke belakang?

Tapi harapan sudah pupus, Chanyeol buka suara. “Ia dilempar Kai ke belakang, fantastis hingga terpingkal jungkir balik.” Chanyeol lalu nyengir. Bukannya menganggap kejadian tadi berbahaya, kini ia malah balik menggoda Baekhyun yang meringis.

“Iya kan, Baconnie?”

Chanyeol yang sudah selesai salah tingkah itu tiba-tiba mampir di sebelah Baekhyun, menepuk-nepuk pundak Baekhyun.

“Sakit, bodoh.” Ujar Baekhyun yang menerima hentakkan kecil di tulang belakangnya. Sedikit panas mendengar perkataan Chanyeol. “Lagipula hanya lemparan kecil, itu hanya karena aku kekurangan keseimbangan makanya aku bisa terpingkal!” Elak Baekhyun mencoba kuat.

“Apalagi ‘Baconnie’ ? panggilan macam apa itu?” Baekhyun memandang Chanyeol yang masih menyengir kuda tanpa dosa.

Sehun hanya tertawa kecil memerhatikan hyung-hyung gilanya itu.

Sementara Leera meminta mereka untuk serius, dan Seohyun hanya berdiam diri memerhatikkan.

“Ia… melemparmu hingga seperti itu?” Nada Leera meninggi.

Ini aneh, Pikir Leera.

Apa ada hubungannya dengan yang—waktu itu?

Leera mengubah ekspresinya dan ternyata disadari oleh Seohyun yang berada di sebelahnya, “Waeyo? Leera-a?”

Leera menggeleng, ia ingat perkataan Kai untuk tidak membicarakan ini kepada siapapun.

Tetapi, kalau mereka terus diam dan tidak tahu apa-apa? Mereka akan semakin tidak mengerti bukan? Apalagi Kai sampai melempar Baekhyun begitu. Ia sudah jauh diluar normal. Tetapi, mengapa Kai jadi berlebihan seperti itu? Bukankah ia hanya mencariku? Sedepresi apa ia dalam mencariku huh?

Leera kalut dalam pikirannya sendiri.

“Dimana Kai sekarang?” Tanyanya.

Baekhyun yang tersadar dari debatnya dengan Chanyeol pun sama-sama menengok.

“Oh iya kami lupa memberitahu! Ia dibawa Taemin dengan orang-orang berseragam putih. Mungkin mereka orang-orang rumah sakit?”

“Mereka membawa Kai entah kemana, dengan sebuah tandu beroda. Hm… mereka bilang orang-orang rumah sakit membawa mobil sendiri.”

Baekhyun dan Chanyeol menjelaskan bertubi-tubi.

“Tunggu… Taemin? Mengapa Taemin?” Leera benar-benar antusias dan bertanya-tanya. Mengapa Taemin? Apa hubungannya Taemin dengan penyakit Kai ini?

“Kami tidak tahu, Taemin bilang ia diberi perintah oleh Mrs. Kim untuk membawa Kai pulang. Kebetulan, ia menemukan Kai pingsan disini. Kami juga tidak tahu ada apa dengan orang-orang berseragam putih itu.” Sehun menyahut.

“Kai… pingsan?!” Nada Leera kembali meninggi. “Lagi?!”

“Kenapa kalian tidak bilang padaku?!” Leera menjadi histeris.

“Ya habisnya kau terlanjur aneh duluan.” Baekhyun mengutarakan wajah betenya lagi. Hari ini dia kebanyakan bête dan kesal?

Seohyun menangkapnya, Leera memang seharusnya kesal. Bagaimana tidak kesal? Kai yang bodoh itu bisa-bisanya mengenakan headset disaat mereka berdua. Tentu saja Seohyun sudah mendengar semua cerita Leera.

Seohyun juga telah menceritakan kekalutannya tentang Chanyeol di perpustakaan tadi.

“Ia dibawa kemana?” “Bagaimana ia bisa pingsan?” Tanya Leera lagi.

Chanyeol menggaruk tengkuknya, “Em… mungkin ke rumahnya atau … rumah sakit?”

“Aku kira ini semua karena kecelakaan itu, saraf otaknya menjadi aneh.”

Leera langsung menoleh pada Sehun yang mengeluarkan kata-kata yang mengejutkan barusan. “Kau—“

“Ia sering beremosi secara tiba-tiba. Aku tahu ia tidak sadar dalam melakukan semua itu. Apalagi saat ia melempar Baekhyun hyung. Itu bukanlah disengaja. Mungkin ia jatuh pingsan karena ia merasa lelah. Tentu saja emosi itu membutuhkan banyak energi.”

Leera terdiam. Dalam hati ia mengangguk, membenarkan semua yang dikatakan oleh Sehun.

Memang benar adanya.

Ternyata, mereka sudah sadar sendiri.

Chanyeol memperhatikan kata-kata Sehun yang begitu dalam, begitu juga Baekhyun.

“Sehun, kau jenius.” Mata Baekhyun berbinar.

Seohyun menenggak ludahnya, apa barusan yang baru di dengarnya? Kai? penyakit sehabis kecelakaan? Mata Seohyun mengarah pada Leera meminta penjelasan.

“Ya, kalian benar.” Leera menghembuskan nafas. “Kai sudah bilang padaku sejak lama. Ia punya suatu gejolak aneh yang bisa kumat secara tiba-tiba. Dan waktunya tidak dapat diprediksi. Ia bilang, itu adalah buah dari hasil kecelakaannya. Ia selalu tidak tenang di dalam. Namun diluar, ia berusaha baik-baik saja.”

Leera berujar dengan menunduk. Sangat dalam. Nada bicaranya mulai sedih.

Mengapa semua orang berakting seolah-olah mereka baik-baik saja? Mengapa sesuatu yang menyedihkan harus terungkap pada akhirnya?

“Operasi itu tidak sepenuhnya berhasil. Walau Kai bisa bangun kembali.” Seohyun mengambil kesimpulan.

Suasana mendadak sedih. Mengingat Kai yang begitu lincah, walau dingin. Melihat Kai yang berbicara, tertawa walau jarang, mereka sudah sangat bersyukur. Menyadari Kai yang sekarang suka sakit-sakitan.

Badannya yang besar itu… menyimpan berbagai kepedihan yang membuatnya rapuh.

“Ia terlihat baik-baik saja. Bahkan sangat baik-baik saja.” Chanyeol menggumam.

Mereka mengangguk, membenarkan kata Chanyeol barusan.

Leera mengambil ponselnya, ia selalu mengeceknya secara berkala jika ia sempat. Dan ia baru sempat mengecek ponselnya sekarang. Sejak tadi pagi. Bahkan saat ia di perpustakaan, ia tidak terfikirkan sama sekali untuk mengecek ponselnya.

Dan saat Leera menggeser slide lock. Ia menemukan,

20 missed call. Mrs. Kim

Miscall? Oh! Leera mulai mengerti. Leera mengerti mengapa Mrs. Kim menyuruh Taemin bukan ia. Karena, ia tidak mengangkat telfon itu sama sekali. Ia sungguh tidak sadar! Karena perasaan berkecamuknya tadi, dan ponselnya yang ia silent.

 

 

Melihat alis Leera yang menekuk menatap ponselnya, Chanyeol bertanya. “Ada apa?”

Leera masih tampak menggeser-geser layar ponselnya, dadanya naik turun, merasa bersalah mengapa ia tidak duluan mengangkat dering telfon.

“Ah…” Leera mendongak. “Misscall dari… Mrs. Kim.”

Semua pandang mata langsung tertancap pada Leera. Mendengar kata-kata ‘mrs. Kim’. Sungguh menarik perhatian.

“Mungkin, tadinya Mrs. Kim ingin menyuruhmu melakukannya namun karena kau tidak mengangkat telfon—“

“—jadi ia menyuruh Taemin sunbae?”

Sehun berujar dengan suara Chanyeol yang melengkapinya.

Baekhyun dan Seohyun mengangguk.

“Aku… aku juga tidak mengerti. Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

“Apa Kai baik-baik saja sampai ia dibawa pulang begitu?”

Chanyeol menjawab pertanyaan Leera yang bertubi itu, “Kurasa ia hanya pingsan biasa seperti waktu itu. Kita tidak perlu khawatir, ia pasti baik-baik saja.”

Leera masih tidak percaya, sebenarnya, apa yang ada di benak Mrs. Kim hingga banyak dokter/tim medis membawa Kai pulang? Pasti ada apa-apanya. Tidak mungkin Kai baik-baik saja. Ia sadar, bahwa Kai pasti punya sesuatu yang harus dijelaskan lebih lanjut.

Semua ini, tergantung ibunya.

Bola mata Leera masih bergetar, menunduk.

“Tenang saja, ia hanya pingsan. Besok ia akan masuk sekolah lagi. Kujamin!” Baekhyun nyeletuk menyemangati.

“Tenang Leera-a. Ia hanya dibawa pulang karena ibunya khawatir. Tidak lebih.” Seohyun memang tampak sok tahu. Tetapi, itu semua ia katakan semata-mata ingin Leera tenang.

Namun Leera masih tidak tenang, ia yakin pasti ada apa-apa dengan semua ini.

To Be Continued

Haduh maafkan sasa, jadwal sekolah memang sangat melelahkan, sasa hampir lupa kalo ini ff belom di post2 -_-v maaf baru bisa ngetik sampe sini, karena gak tahan, aku post saja deh, maafkan jika banyak typo yaa.. smoga kalian seneng aku post ini walau sedikit😦 ngepost ini juga butuh banyak perjuangan loh jadi mhn dihargai ya^^

 

283 comments

  1. Unnieee,,chap slnjutnya udh di post blm?kalau blm kpn??kalau udahh ksi tauu dong unn,,aku bnr2 ska sma ffnya unniee sasa,,pkoknyaa daebakk!! Akuu ska ffnyaaa unniee,,unnie ksii tau dongg yaa misalnya kalau next chapt nya keluarr,,seribu jmpol buat unniee :*

  2. Daebakkk Thor !!! Lanjut dongg.. ^^
    Pantes tuh leera nangis kayak gitu. Kai kebangeten !! -_-
    Next chaptnya dong !!! Penasaran gituu. Love this ^^

  3. Readers baru nih😀 udh baca dr part 1 sampe part ini.Maaf ya aku jadi siders mulu ‘-‘ comment dr hp susah masa -_- *ga nanya*.Oh iya,next dong .-.

  4. daebakkkk, next partnya ditunggu lho! ceritanya keren parah,,,, kasian leera udh berjuang mati. matian buat ngungkapin perasaanya, eh si kkamjong malah pake headset, gws kkamjong, semoga authornya nggak males ngepost & moodnya lagi bagus jadi cepet cepet ngepost next partnya deh. hhehehehehe

  5. huft,,,,,, *effect mengeluarkn nafas dr mulut gagal
    sepertinya aku jg sakit *apadeh
    bingung mw comment apa, tp menurutku ff ini baguuuuuuuss bangett, kereeeeeenn b^_^d

  6. impas ..
    hahaha
    menegangkan bgt nih , menyedihkan juga .
    cmpur aduk .
    tp jujur aku sedikit bosen ma chanyeol dan seohyun .
    em mksud ku mereka terlalu gmana gt .
    suka KaiRa aj . hihi :3

  7. YA AMPUN THOR INI DARIDULU AKU TUNGGUIN NYAMPE LUMUTAN/? *oke ini lebay*
    HUAAA DAEBAK BGT THORR
    SAKING SEMANGATNYA BACA INI NYAMPE NUNDA PR+HAFALAN YG SEJUBEL!!

  8. Astageh kai >,_,< == omcia yg p5a susah banget nyarinya alhasil gue otak atik mengklik semua yg berkaitan dengan p5a ampe ampe setengah jam kagak kapokk dibayar ame ceritanya yg menguras lambung eh maksudnye hati :'D gue suka sa semangat semangat \(*-*)/

  9. haduh kai kenapa lagi.?
    Apa penyakitnya akan smakin parah?,
    greget bgt waktu leera mengungkapkan isi hatinya,tp kai sedang memakai headset

  10. aigoo puas banget kalau baca fanfic ini panjangnya trus jalan ceritanya yang gak bisa di tebak yang bikin penasaran
    aku penasaran sama keadaannya kai
    aku minta pwnya ya sa

  11. Iiiiiiiiihhhh kai emg ngeselin parahhh
    Gmna Leera gk bete kalo trnyata drtadi kai pake headset
    Hhhuuuhhhhuuuhhhuuu
    Ada apa dgn kai ya?
    Smoga tdk tjd hal buruk

  12. Haduhh ff kali ini sangat panjang sungguh panjang. Dan otak ku sulit mencerna -_-. Mata sampe pegel, tapi tetep enggak bisa berhenti buat bacanya makin penasaran soalnya 😅😅

  13. Baguuus banget T T sebenernya aku udah baca dari awal, tp mian baru komen sekarang ‘-‘ Aku baca ini kira2 pas smp, kelas 8/9 gk salah, dan sekarang udah 1 sma. Bodohnya aku terlambat mengetahui update-annya fic kece ini T T Bener2 mixed feeling waktu baca. Kadang ketawa, sedih, tegang… Kamu pinter banget bikin aku baperan dalam jangka tahunan kyk gini… Semangat kak Sasa!

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s