OMCIA 5B (END)


cropped-blenhjd.jpg

Please say no to plagiarism. kalo ada kata-kata yang dempet dan tidak di spasi itu adalah bawaan dari sananya, karena aku hanya copy paste dari wattpad demi yang mau baca di wordpress. mohon maaf kalo gaenak bacanya, karena aku gak sempet mengedit copasan dari wattpadnya. mohon dinikmati aja ya, dan kalo mau baca lebih enaknya langsung aja yuk capcus ke wattpad ! hehe

***

Sudah sehari sejak kejadian yang menurut Leera sakral itu. Tak ada tanda-tanda Kai di kursinya, tak ada aroma tubuh Kai saat Leera melewati tempat yg biasanya Kai tempati. Kelas yg ber-KBM normal itu terus melanjutkan aktifitas belajar tanpa seorang Kim Jong In. Disaat seperti ini Leera sering sekali memikirkan apa yg akan terjadi pada namja itu. Apaiakembalidirawatdirumahsakit? Tak tahu. Tak ada kabar dari keluarga Kim. Itulah yg menyebalkan. Bahkan eommanya yg cerewet dan kepo minta ampun itupun gagal meng-contactMrs. Kim.

Leera hanya ingat saat bayangan Kai menjauh pergi–hilang dari sekolah. Kemudian, saat ia bertanya kepada Seohyun.

Iapergidengansebuahambulance.”

Saat ia mencoba menghubungi Taemin. Kaiakanmenjalaniperawatankembali. Tenangsajaiaakansegerabaikbaiksaja.”

Rasa khawatir Leera menjalar kemana-mana. Apakah saat ini Kai sedang merasakan kesakitan? Atau merasa tidak berdaya di atas ranjangnya? Leera tidak tahu.

“Hei.”

Leera terbuyar dari pikirannya yg kusut. Ia mendapatkan wajah kalem Seohyun muncul di hadapannya.

“Oh. Hai.” Leera mencoba tersenyum. Tak ada mimik bahwa ia sedang bergairah hari ini.

Seohyun sedikit bergumam. “Aku tahu ini sedikit sulit. Tetapi cobalah tetap tenang, Leera-ya.”

Seohyun memberikan senyum menyemangati. Leera sedikit tertegun. Rasanya seperti Leera tersadar dari jebakan pikirannya yang gelap lalu awan-awan hitam itu mulai terbuka akibat senyum seorang yeoja di depannya.

“Ah. Gomawo.”

Rasanya seperti sehabis bangun dari mimpi buruk. Leera mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mendapati bahwa pelajaran terakhir hari ini sudah berakhir.

Bahkan ia tidak mendengar bunyi bel yang biasanya membuat ia mengerutu kebisingan.

***

“Waktunya tidak tepat.”

Apa yang dikatakannya tadi siang? Tidak tepat. Apa yang sebenarnya tidak tepat?

* * * * *

***

02:00 p.m.

Leera bertumpu pada balkon yang biasanya ia tempati saat musim dingin. Memandangi lalu lalang murid di lapangan basket. Suasananya begitu bising dan tak terkendali. Sekarang sudah bel pulang, dan tujuannya saat ini bukan rumah. Melainkan…

Rumah keluarga Kim.

Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia begitu khawatir. Tapi ia bersikeras menolak, inicumarasapenasaran, akuhanyapenasaran. Kaikenapa. Diadimana. Danbagaimanakondisinya.

Tidak. Kali ini Leera tak ingin menangis seperti dulu saat Kai masuk rumah sakit. Kelopaknya kering dan pandangannya kosong. Hanya itu.

“Park Leera.”

Terdengar sekilas suara berat dari balik tubuh Leera. Leera spontan berbalik dengan respon cepat tak seperti biasa. Ia sedikit linglung mendapati 4 orang lelaki berdiri di depannya. Sehun, Kyungsoo, Baekhyun, dan Suho. Biasanya ada Kai di sebelah Sehun.

Ya. Biasanya.

“Ada apa?” Sorot mata Leera kembali normal. Namun air mukanya masih sama sejak ia melamun di balkon tadi.

Sepertinya keempat namja itu menyadari atmosfer aneh yg berada di sekitar Leera.

“Ingin ikut kami?”

Ikut? Tentu saja Leera ingin ikut. Itulah yang dipikirkannya 3 jam terakhir. Pergi ke rumah keluarga Kim. Memastikan keadaan namja yg dianggapnya dulu menyebalkan itu. Itulah yg ingin ia ungkap-ungkapkan sejak tadi.

Mulut Leera agak sedikit tebuka. Terngiang. Terngiang. Perlahan-lahan kata-kata mereka hanyut ke dalam pikirannya. Inginikutkami?

“Tidak.”

Leera berkedip. Memberi jawaban yang mencengangkan kepada teman-temannya itu.

Wajah keempat namja itu menyeruakkan ekspresi kaget. “Jinja?” Baekhyun tak berkedip.

“Kami pikir kau ingin sekali ikut?”

“Tapi mengapa tidak?”

Leera hanya menggeleng dan tersenyum hambar.

“Waktunya tidak tepat…”

***

07:00 p.m.

Rumah besar bertingkat milik keluarga Kim malam ini dipenuhi banyak tamu. Bukan karena keluarga itu mengadakan pesta atau sebangsanya. Ada aura kesedihan yang mengambang di atmosfer, udara dingin berkali-kali berhembus–menembus gorden merah terang di kamar seorang Kim Jong In. Tak ada suasana gembira di kamarnya. Tidak ada lagu nge-beat yang selalu diputar. Yang ada hanya suara mesin, dan cahaya kamar yang redup.

Kamar namja itu kini dipenuhi oleh mesin-mesin putih kecil yang mengeluarkan bunyi-bunyi melengking tiap sepersekian detik. Mesin itu diisi oleh angka-angka yang selalu berubah tiap detiknya. Juga sebuah layar tipis tertancap di dinding kamar Kai, berisikan replika pusat saraf yang terus bekerja. Beberapa orang yang notabene bekerja sebagai tim medis kecil duduk berjaga di pojok-pojok ruangan. Tak lupa selang infus berisi cairan penenang pasif tertancap di tangan Kai sebelah kiri. Mata Kai tetap tertutup. Ia tidak pernah bangun sejak tadi siang.

Tidak ada kata hening. Bahkan suara jarum jam pun akan dikalahkan oleh suara mesin-mesin kecil itu.

Night. 36 kelvin. 6758-00-90 [NORMAL]

Salah satu tim medis yang bekerja di dekat layar terus bekerja memandangi mesin kerjanya. Ia terus mengetik, menganalisa, dan mengamati layar penuh angka itu.

Alzheimer-VVXII-7286671-14%[NULL]

Itu artinya, kemungkinan Kai menderita Alzheimer adalah sebesar 14%. Kai tidak sepenuhnya menderita Alzheimer. Penyakit saraf yang dideritanya adalah komplikasi. Meskipun jangka waktu kumatnya tidak terlalu aktif. Namun, jika dibiarkan terlalu lama. Gangguan saraf bisa menjadi lebih parah. Usia Kai memang belum terlampau tua. Ia seharusnya tidak terkena Alzheimer.

“Apa ini penyakit turunan?” Si Ahli medis bergumam pada dirinya sendiri.

Ibunya sendiri tidak tega menamakan ini penyakit. Vonis dokter beberapa bulan yang lalu sejak Kai kecelakaan yang tidak dipercayainya itu, kini malah menjadi sebuah petaka yang nyata. Ini bukan penyakit. Kai bahkan tidak mengeluhkan rasa sakit dimanapun padanya.

Kai hanya merasa dirinya bukan dirinya. Saat penyakit sarafnya muncul.

Tiba-tiba pintu kamarnya terketuk pelan. Semua ahli medis mengecek ponsel khususnya dan mendapati pesan dari Nyonya Kim.

tolong bukakan pintu untuk mereka, mereka hanya ingin menjenguk.

Pintu kamar yang terbuat dari wallnut krim itu akhirnya dibukakan. Muncullah wajah-wajah sedih dari ke-4 namja disana. Suho, Sehun, Baekhyun, dan Kyungsoo. Mereka merasa asing dengan suasana kamar kawannya ini. Ini lebih terlihat sebagai rumah sakit buatan daripada kamar kawannya yang dulu mereka jadikan taman-bermain-para-lelaki. Sehun ingat dinding bercat merah itu, yang penuh dengan poster mobil balap yang keren. Baekhyun ingat dvd koleksi Kai (bukan yadong). Kyungsoo yang sering membereskan tempat tidur Kai jika mereka selesai bermain, dan Suho yang selalu memesankan delivery food ke kamar ini.

Kini berubah.

Mereka mulai masuk, menghirup aroma kamar yang dingin.

***

Pandangan miris Kyungsoo berhenti pada ranjang Kai yang dihiasi oleh selang infus. Kai masih terbaring disana.

“Dia tidak koma kan.” Baekhyun mendahului percakapan seperti biasa.

“Dia hanya tertidur. Mungkin.” Suho menanggapi seruan Baekhyun yang tidak terdengar semangat. Melihat Kai terbaring lemah seperti ini untuk kesekian kalinya. Membuat mereka bertambah sedih.

Kyungsoo tetap tidak menanggapi perkataan teman-temannya. Ia dengan langkah cepat mendekat ke arah ranjang dan mengamati Kai dari dekat. Alisnya mengernyit sembari menelusuri apa yang terjadi pada Kai. Pandangannya lalu beralih pada mesin-mesin dan layar yang mengeluarkan bunyi-bunyi nyaring sedari tadi.

“Hey. Kau tidak apa kan. Kau kuat kan.” Kyungsoo tersenyum hambar sembari berbicara dengan Kai yang sedang tertidur. “Ayolah. Diantara kami semua, kau lah yang paling kuat.”

“Apa kau akan terus seperti ini hingga kita dewasa nanti?”

Kata-kata Kyungsoo meresap di hati kawan-kawannya. Arah pandang mereka yang kosong, spontan beralih pada wajah Kai yang begitu teduh tertidur. Mereka memang paling sering melihat Kai tertidur, namun bukan tidur yang seperti ini. Melainkan tidur karena terlalu lelah bermain bersama mereka.

Sedari SMP, mereka selalu bersama. Selalu bersama dalam banyak hal. Selalu satu kelas. Walau pernah satu semester Sehun terasing dari mereka. Yang paling sering membuat mereka tertawa adalah Baekhyun. Yang sering menjadi penraktir mereka adalah Suho. Yang paling mengerti mana yang benar dan mana yang salah adalah Kyungsoo. Yang paling lamban berfikir adalah Sehun. Sedangkan Kai? Ia hampir menguasai semua kemampuan itu walau hanya 20 persennya. Terkadang ia melakukan hal konyol, tertawa berlebihan hingga jatuh ke tanah, menraktir bermain bilyard, menjadi penasihat yang baik tentang wanita #ups, dan menjadi sangat maknae. Walau terkadang Kai bisa menyebalkan dan dingin.

Hanya mereka berempat yang mengetahui sifat asli Kai hingga sekarang. Dengan dirinya yang asli, mereka tidak keberatan. Mereka tau semua tabiatnya, buruk dan baik. Mereka takkan marah. Mereka mengerti.

Tapi bukan berarti mereka bisa terus bersama selamanya.

Sehun menyusul Kyungsoo yang terus memandangi keadaan Kai di atas ranjang. “Ia tampak menahan sesuatu yang berat.” Sehun kembali menelusuri ekspresi Kai. “Ia sedang menahan sesuatu. Entah apa itu.”

Tiba-tiba Suho nyeletuk. “Infusnya.” Ia menunjuk ke arah selang infus. Lalu memandang tim medis secara bergantian. Nadanya terdengar getir, “Kai membutuhkan penenang agar bisa menekan penyakitnya yang bisa kumat.”

“Apa itu begitu sakit sehingga ia menjadi seperti ini?” Tanya Kyungsoo dalam.

Suho kembali melirik ke arah tim medis yang berada di balik kelambu penghalang. “Aku tidak tahu.”

Beberapa saat setelah Suho berbicara. Bibir Kai bergerak sedikit, seperti ingin berbicara. Alisnya berkali-kali mengernyit. Apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuhnya?

Baekhyun menyadari itu dengan merespon sedikit takut. Ia menggigit bibirnya pelan dan langsung memandangi teman-temannya. “Apa yang terjadi?”

Suho menghembuskan nafas panjang dan menggeleng. Ia ingat percakapannya dengan tim medis itu saat teman-temannya tidak sadar.

“Apa temanku akan segera sembuh total?”

“Kualitas pengobatan disini belum baik. Aku khawatir, kami tak banyak membantu.” Tim medis itu meneguk ludahnya. “Mungkin ia akan dibawa ke luar negri setelah ini. Banyak yang harus dipersiapkan Mrs. Kim. Berobat di luar negri mempertimbangkan masa depan juga. Tak semudah itu.”

Suho bergidik mengingat percakapan singkatnya tadi. Tim medis itu memang sudah membicarakan banyak hal pada keluarga Kim tentang Kai. Kai, sebenarnya kau kenapa? Aku tidak pernah membayangkan kau akan menjadi seperti ini.

Hanya Mrs. Kim yang mengetahui semuanya. Alasannya dan rencana ke depannya. Suho tidak peduli Kai akan keluar negri atau apa. Ia hanya mengharapkan Kai sembuh. Bahkan sembuh saja tidak cukup. Tapi yang dibutuhkannya ialah, sembuh total. Jika perawatan di Korea Selatan tidak memungkinkan, lantas ia akan dibawa kemana? Keluar benua? Amerika? Eropa? Ini tentang jarak dan waktu. Bisa-bisa mereka tidak akan hidup dengan Kai selama satu tahun.

Perawatan seperti ini membutuhkan kebiasaan (rutinitas sehat) dan kejernihan saraf otak. Ia membutuhkan waktu yang lama untuk berobat disana.

“Suho hyung! Sedang apa kau? Sudah beberapa menit yang lalu Kai sudah bangun!” Baekhyun dengan suara nyaring memanggilnya.

Suho langsung terbuyar dari lamunannya. Mengerjapkan matanya yang kecil dan mendapati Kai terbangun dengan senyum tipis di bibirnya. Wajahnya masih kelihatan lemas. Ekspresinya menandakkan ia sangat kaget sekaligus senang melihat kawan-kawannya yang berada di kamarnya saat ini. Suho langsung mendekat dan memberikan tangannya untuk tos.

“Kemana saja kau?” Tanya Suho sedikit bercanda.

Kai tertawa kecil hingga menyipitkan matanya, “Aku hanya tidur siang, hyung.” Suara namja ini masih terdengar serak sehabis bangun tidur.

“Tidur siang yang sangat panjang, ya Kim Jong In?” Baekhyun mengangkat alis dan menepuk pundak Kai yang terbalut t-shirt abu-abu.

Kai lagi-lagi tertawa kecil menanggapi ejekan usil teman-temannya. Entah kenapa hanya respon tertawa yang bisa ia berikan, walau sebenarnya ia jarang tertawa. Ia lebih senang tersenyum miring.

Kai menyipitkan matanya dan melihat ekspresi teman-temannya yang begitu sedih dan prihatin. Ia sadar itu karena keadaannya saat ini. Tidur siang dengan ditemani selang infus, mesin-mesin kecil yang mengeluarkan suara nyaring, 3 orang tim medis di dalam kamarnya, kelambu putih yang sangat protektif terhadapnya, apakah itu tidak cukup membuat orang-orang iba?

“Tak perlu sedih begitu. Mereka hanya terlalu berlebihan memperlakukanku.” Kai berujar masih dengan suara seraknya. Lalu melanjutkannya lagi, “Aku lebih dari tidak apa-apa. Aku tidak merasa pusing, mual, ataupun sakit dimanapun. Tapi mereka memasangkan selang ini padaku.”

Kyungsoo tersenyum hambar sembari menyadari ekspresi sok tegar milik Kai. Kau itu sakit, Kai-a. Tapi ia takkan pernah sadar seberapa orang mencemaskannya. “Lantas, apa yang kau rasakan saat menerima cairan dari selang itu?”

Kai berdehem pelan, lalu menjawab dengan berat. “Rasanya seperti dialiri jarum yang berukuran sangat kecil.”

Keempat namja itu selain Kai saling berpandang-pandangan. Menyadari ternyata cairan infus itu sedikit keras pada Kai.

“Tapi kau masih bisa menahannya bukan? Maksudku, kau tidak apa-apa?” Kyungsoo memasang air muka cemas. Yang sepertinya ekspresi itu begitu dibenci oleh seorang Kim Jong In.

Kai memutar bola matanya lalu memberikan ekspresi meremehkan. “Sejak kapan kalian terlalu berlebihan begini? Air muka kalian membuatku mual.”

“Aku tidak apa-apa, kawan.” Kai menjawab ringan.

Terdengar hening beberapa menit. Hingga saatnya Suho bicara,

“Sebenarnya aku tidak ingin bicara ini.”

“Tapi aku hanya ingin memastikan.”

Tiba-tiba udara di sekitar mereka menjadi dingin dan kosong. Kai mencoba menebak apa yang akan Suho bicarakan. Tapi tak ada yang melintas di benaknya. Pikiran Kai benar-benar kosong saat ini. Sehun, Kyungsoo, Baekhyun pun ikut-ikutan penasaran. Penasaran bercampur dengan rasa takut juga.

Suho lalu menghembuskan nafas panjang dan berdehem.

“Kau benar-benar akan keluar negri?”

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Kata-kata itu seolah-olah mengambang di atmosfer. Semuanya diam dan belum memberikan respon sedikitpun.

Kai mengernyitkan alisnya terlalu dalam. Mencoba mencerna, tapi ia tak tahu maksudnya.

“Berobat keluar negri jika pengobatan disini tidak berhasil.” Suho memperjelas, walau ia sedikit enggan. Secara tidak langsung membiarkan sedikit beban tertaruh ke atas pundak Kai yang lemah.

Kai sedikit tegang dan secara spontan menegakkan badannya, mencoba duduk. Semua tim medis langsung mengarahkan pandangannya pada Kai dengan was-was. Hendak menerobos kelambu, seolah-olah melarang Kai melakukan aktifitas lain.

Kai masih setengah duduk dan hendak jatuh kembali, namun Sehun membantunya duduk.

“Tidak berhasil? Apa maksudmu, hyung?”

Suho tak tahu harus bicara apa. Ia mencari banyak alasan. Mencoba menenangkan Kai yang sedang dilanda rasa kaget. Bodohnya Suho, yang membicarakan hal ini pada sang target yang justru menjadi pemain utama dalam semua ini.

Semua kaget. Namun, tidak ingin memperjelas situasi yang bisa membuat Kai lebih shock.

“Semua usaha mempunyai tingkat keberhasilan yang berbeda-beda.”

Kai langsung membulatkan matanya. Kaget.

Tunggu, ia mengerti semua ini. Ia tahu maksud Suho. Keluar negri? Berobat? Ia tahu maksudnya. Itu berarti ia takkan berada di Seoul selama jangka waktu yang ditentukkan. Kai tidak akan pernah menebak sampai kapan ia disana. Apa jadinya ia dan bagaimana keadaannya di masa depan.

Dan ia melupakan satu hal yang penting.

Park Leera.

Sial, ingatannya mulai membaik lagi. Memorinya mulai terbuka satu persatu.

Terakhir ia bertemu Leera. 2 hari yang lalu.

Dan apa yang ia lakukan saat itu?

Ia menghilang.

Kai panik, dan segera bangkit dari ranjangnya. Tim medis langsung berlari menerobos kelambu, dan menyuntikkan cairan aneh ke dalam tubuhnya.

Kai langsung ambruk. Pandangannya menghitam.

***

18:00 p.m.

Sejak kapan Leera mengunci diri dari kehadirannya bertemu Kai? (read: saat Kai dalam kondisi sakit). Tidak pernah. Dahulu, ia bersikeras ingin menjaga namja itu di rumah sakit dan menunggu Kai bangun hingga kapanpun. Sekarang justru ia takut bertemu dengan Kai.

ini bukan rasa takut.

Baiklah. Kalau begitu, ini perasaan yang lain. Yang membuatnya enggan untuk melihat wajah Kai.

“Apa kau takut Kai akan dibalut perban seperti dulu, Leera-ya?”

Leera terdiam. Ia tidak melakukan apapun selain menatap lantai marmer ruang tamunya.

“Semua akan baik-baik saja.”

Chanyeol tersenyum menenangkan. Berbeda dari senyum palsunya sebelumnya. Senyum kali ini lebih bermakna pertemanan.

Seohyun mencoba merangkul Leera dan membuatnya kembali ceria.

Leera membuka mulutnya sedikit. “Semua orang selalu bilang apapun akan menjadi baik-baik saja.”

“Ya, semua orang.”

Seohyun dan Chanyeol sama-sama menghembuskan nafas berat. Sebenarnya tujuan mereka ke rumah keluarga Park adalah untuk mengajak Leera menjenguk Kai. Prediksi Seohyun sangat meleset. Ia pikir Leera akan bersemangat untuk menjenguk Kai. Ternyata tidak.

Chanyeol yang tidak mengerti mengapa Leera menjadi seperti ini akhirnya bingung. Ia kehilangan selera humornya untuk menghibur orang lain. Justru sifat angel nya lah sekarang yang berkobar-kobar. Mungkin ada kalanya ia seperti ini. Menjadi seorang calm Chanyeol. Sedangkan Seohyun, ia mengetahui sedikit isi hati Leera. Dimana ia merasa sangat kesal dengan Kai sejak insiden headset sialan itu di lapangan. Sekarang justru Kai dirawat dan entah apa kabarnya. Leera merasa sangat shock sekaligus merasa bersalah.

Seohyun mendekatkan mulutnya pada telinga Leera. “Kai justru mencemaskanmu jika kau tidak datang.”

Leera sedikit bergeming namun tetap tidak bergerak. Seohyun pun melanjutkan lagi, “Sebelum dia menemukanmu. Ia sudah terlanjur pingsan.”

Leera sedikit merintih.

“Ia bahkan belum sempat melihat ekspresi wajahmu seperti apa. Ia sama sekali tidak ada bayangan.”

Leera merasakan makin sakit di dadanya. Semakin ia mendengar fakta bahwa Kai sangat lemah, ia semakin tidak tega. Semakin ia sadar bahwa Kai pingsan karena ia. Ia semakin sakit dan tidak tenang. Perasaan macam apa ini?

“Kau mau ikut kami kan?” Seohyun berbisik dengan suara lembut.

Chanyeol hanya memandangi suasana itu dari jauh. Merasa kagum dengan sifat keibuan Seohyun. Sekaligus merasakan aura kesedihan di antara mereka.

Belum lama sejak pertanyaan Seohyun tadi, Leera menggeleng pelan. Kemudian, ia langsung berdiri dari sofa ruang tamu dan tidak melihat ke arah wajah mereka berdua sama sekali. “Kalian duluan saja.”

Leera langsung berlalu ke arah ruang tengah.

Seohyun mendapati Chanyeol bangkit dari sofanya secara cepat dan berteriak, “Leera-ya!”

Langkah kaki Leera langsung berhenti. Diam beberapa detik. Ekspresi wajahnya berada di balik sana, tak ada yang mengetahuinya. Ia pun mencoba mengeraskan suaranya sebisa ia melakukannya agar mereka dapat mendengarnya dari jarak jauh.

Bibir Leera terbuka sedikit,

“Aku sedang tidak enak badan.”

Lalu ia langsung berlalu dan hilang dibalik sekat ruang tengah.

Seohyun dan Chanyeol tidak mengerti lagi bagaimana cara membujuknya. Mereka berdua merasa, Leera memang harus benar-benar ikut menjenguk Kai. Menengok keadaannya sebagai classmate. Kai senang dan Leera juga pasti akan senang. Tak ada yang salah dengan menjenguk Kai bukan? Suasana di ruang tamu Leera menjadi lebih renggang dibanding tadi, Chanyeol memberi isyarat pada Seohyun untuk segera pergi dari sini.

“Ia membutuhkan waktu untuk gila sendirian di kamarnya.” Chanyeol berujar tanpa bercanda. Ia serius mengeluarkan kata-kata ‘gila’. Ia sama sekali tidak bercanda. “Dia memang jauh lebih anak kecil dibanding orang yang lebih muda darinya.” Lanjut Chanyeol yang menjadi lebih peda.

Seohyun hanya mengangkat  bahu. Kau tak tahu apa yang Leera rasakan. Itulah yang dipikirkan Seohyun secara wanita. Berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikiran Chanyeol. Menurut Chanyeol, Leera terlalu kekanak-kanakkan saat ini.

Apa susahnya sih menjenguk teman sendiri?

Kamar Kai,
18:30

Suasana kembali hening sejak pulangnya 4 orang tadi, Sehun, Baekhyun, Kyungsoo, dan Suho. Kai kembali sendirian, hanya ditemani oleh tim medis yang tidak penting baginya, mesin yang berisik, dan ya sudah hanya itu yang menemaninya. Ia tertidur karena terpaksa. Cairan dari suntikkan itu begitu kuat sehingga membuat tubuhnya serasa pegal saat ia bangun. Saat bangun, ia tidak mengerjap-kerjapkan matanya seperti biasa, melainkan langsung bangun hanya dengan sekejap bukaan kelopak mata. Ia bangun seperti kaget. Seperti sehabis di dorong oleh sesuatu dan jatuh ke jurang.

Rasanya pegal.

Tetapi ia tidak sadar apa yang membuatnya begitu liar tadi sehingga ia disuntikkan cairan penenang.

Yang jelas ia hanya ingat. Wajah keempat kawannya. Hanya itu.

Ia tidak pernah merasa marah saat disuntikkan paksa seperti itu. Justru itu malah membantunya. Ia tidak boleh menyusahkan ibunya lagi. Ibunya sudah tahu segalanya lebih dari dirinya sendiri. Ibunya lebih tahu. Juga, ini sudah kesekian kalinya Kai disuntikkan secara paksa.

Namun Kai tidak tahu apa hal yang membuatnya menjadi liar seperti itu.

Tidak. Tidak ada apa-apa yang bisa kuingat tentang itu.

Kai memejamkan matanya erat-erat. Lebih erat lagi. Lebih kuat. Ia sudah menekankan matanya seutuhnya hingga membuat kerutan matanya semakin jelas.

Kai ingat.

“Sebutkan saja lagi semua yang kau katakan. Aku akan mendengarnya.”

“Park Leera!”

“Ada yang melihat dimana Park Leera?”

blssst!

Hal terakhir yang Kai lihat setelah ia ingat hanyalah tim medis mendekat ke arahnya.

Ia disuntik lagi.

19:00 p.m.

Ia akan disuntik jika ia mengingatnya.

Itu terpaksa.

Karena, setiap ia mengingatnya. Ia akan menjadi lebih buruk.

“Kim Jong In? Kau sudah bangun?”

Samar-samar sebuah suara berat menyapanya. Mengalir kecil di telinganya. Kai belum terhubung ke saraf otaknya.

“Kai-a.”

Lama kelamaan ia sadar. Voila, rasanya sama seperti tadi. Begitu pegal. Rasanya sangat tidak enak bangun dari tidur yang terpaksa. Entah sudah berapa mili cairan masuk ke pembuluh darahnya dan mempengaruhinya sejauh ini.

Secercah cahaya timbul di pandangannya secara cepat. Ia melihat wajah Chanyeol yang tersenyum padanya. Begitu juga yeoja di sebelahnya yang membawa satu keranjang buah. Seohyun terlihat menekuk alisnya karena merasa sedikit aneh dengan cara Kai bangun dari tidurnya.

“Park Chanyeol?” Kai berujar dengan lemas sembari menekan area tubuhnya yang pegal.

Annyeong, Kim Jong In.” Chanyeol memberikan senyuman gigi seperti biasa.

Seohyun membungkuk sopan lalu menunjukkan sekeranjang buahnya pada namja yang terbaring itu. “Kami membawakan buah untukmu.”

Kai hanya membalas mereka dengan senyum tipis. Senyum yang terlihat lemah.

“Kau sangat sakit ya?” Chanyeol yang biasanya lincah mulai memutari ranjangnya. Memperhatikan sekujur tubuh Kai. “Kau bahkan terlihat seperti habis ditindih besi 1 ton.” Chanyeol menyilangkan tangannya di dada.

“Aku merasa aku mati dan bisa hidup lagi beberapa jam kemudian.” Kai menjawab jujur. Menyindir suntikan yang berkali-kali menusuknya. “Itu sudah biasa kurasakan.”

Kai bertingkah seolah-olah ia kuat. Chanyeol. Ia memang belum seberapa dekat dengan Chanyeol, tidak seperti Baekhyun yang sudah sangat lengket dengannya. Itu sangat berbeda.

Ia mempunyai banyak momen dengan Chanyeol. Tetapi, kebanyakan momen itu adalah momen buruk. Entah mengapa, hanya momen buruk yang ia ingat. Mungkin karena itu adalah momen yang paling menonjol? Saat awal ia bertemu Chanyeol. Ia menatap Chanyeol dengan tatapan ‘ayo kita berkelahi‘. Saat Chanyeol berpura-pura menyukai orang lain karena kalah taruhan.

Tunggu.

Kalah taruhan?

Otot-otot Kai sedikit menegang.

Tapi.

Kali ini, Kai tidak akan terjebak lagi. Ia akan menahan gejolak aneh itu. Yang merupakan bagian dari penyakitnya. Ia tidak akan tertipu lagi.

Namja itu tersadar kepada suasana di dalam kamar. Lampu kamarnya yang sudah terang sekarang dan Chanyeol yang berputar-putar di samping ranjangnya. Seohyun yang hanya menjadi patung hias. Ia menjadi sadar kembali.

Ia meremas tangannya kuat-kuat. Memejamkan matanya erat-erat.

Kurasa memori ini tidak cukup memancing emosiku.

Seohyun menoleh ke arah Kai yang meremas tangannya dengan kuat. “Gwaenchanayo?”

“Kai-a?”

Kai masih meresap ke dalam memorinya. Hingga suara Seohyun masuk ke dalam pikirannya.

Ne, nan gwaenchana.” Kai berujar. Seohyun menghembuskan nafas lega. “Syukurlah.”

Untungnya, Kai kembali tenang. Tim medis tidak mencurigainya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada Park Chanyeol. Ia ingin memberikan semua kebenaran. Menjelaskan semua asal salah paham dan sakit hati yang berputar-putar di antara mereka. Sebelum Kai pergi, dan mereka tak tahu apa-apa.

Chanyeol tidak boleh buta seumur hidupnya. Kai rasa ini bagian dari campur tangannya juga. Ulangan sosiologi itu. Itu tidak sepenuhnya nilai yang benar. Kai curang. Kai tidak adil. Kali ini, itu bukanlah tingkah yang disebut ‘jahil’. Ditinjau dari subjek yang disakiti. Itu jahat. Sungguh jahat. Tak ada kebohongan lagi. Setelah ini, tidak ada lagi.

“Chanyeol-ah. Aku ingin bicara.”

***

“Chanyeol-ah. Aku ingin bicara.”

Tubuh tinggi seorang Park Chanyeol spontan berbalik. Ia mendapati Kai menatapnya dengan tatapan serius. Kai membuka sedikit mulutnya, hendak mengutarakan sesuatu yang sepertinya amat berat baginya.

Mwo?” Chanyeol mengangkat alisnya sembari menaruh kedua tangannya di atas ranjang untuk menopang dirinya. Seohyun mendelik kepada Kai. Memberi kode.

Sepertinya Kai mengerti arti telepati Seohyun. “Kau boleh mendengar.”

Seohyun mengangguk pelan.

((waktu dimajukkan 1 jam kemudian))

Kamar Leera.

Aku harus pergi kah?

Leera berbaring di atas ranjang pinky nya sembari menghadap langit-langit kamarnya yang dipenuhi pola floral berwarna pastel. Berkali-kali ia memandangi hiasan bintang-bintang nya secara bergantian. Bintang yang di ujung berwarna merah dan bintang lain di ujung sana yang berwarna pink. Leera merenung. Memikirkan.

Kai itu temannya. Yang butuh jengukan olehnya. Yap. Mengapa urusan menjadi rumit seperti ini? Apa susahnya menerima ajakan mereka. Bahkan sudah dua teman yang memintanya menjenguk bersama. Kini justru ia sendiri yang skakmat. Hanya ia yang tersisa dari beberapa temannya untuk menjenguk Kai.

Alasan Leera enggan menjenguk Kai adalah. Ia sendiri tidak tahu. Entah itu sisa kesesalan ia kemarin karena tragedi headset atau karena tidak kuat dan takut melihat Kai kembali ambruk seperti ini. Leera kembali melirik bintang merah di langit kamarnya.

Kai sangat suka warna merah. Bintang itu semakin mengingatkannya akan Kai. Tapi warna itu juga mengingatkannya akan kecelakaan Kai berbulan-bulan lalu. Ia selalu sakit.

Warna merah seakan menghipnotisnya ke semua kejadian yang membuat Kai menderita. Merah. Merah.

Why red.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Leera sudah menguncinya sejak pergi sejak ia berlari dari ruang tamu saat Chanyeol dan Seohyun datang ke rumahnya. Tak ada siapapun di rumah kecuali dirinya. Tapi sepertinya, yang mengetuk adalah Ibunya.

“Park Leera.”

Suara ibunya tampak tidak cerewet seperti biasanya. Nada itu berbeda. Tapi Leera tetap tidak perduli. Ia sedang badmood dan akan terus bertahan di dalam kamar hingga esok hari.

Leera mulai memejamkan matanya, mencoba tidur. Agar tidak dapat mendengar ketukan pintu itu lagi.

Tok!

“Park Leera buka pintunya.”

Hingga satu menit berlalu. Tetapi ketukan itu tetap tidak berakhir. Leera mulai kesal. Namun ia tetap memejamkan matanya dengan keras. Ayo tidur. Ayolah!

Tok! Tok! Tok!

“Park Leera!” Kali ini Ibunya mulai menjerit.

Apalagi sih? pikir Leera. Tak ada yang lebih penting dibanding perasaanku saat ini. Apalagi? Aku tidak mencuci piring? Aku merusak permukaan wajan? Aku tidak menutup makanan? Itu basi. Besok akan kutebus semua kesalahan kecilku itu, Eomma cerewet. Batin Leera sembari menarik selimut dan memejamkan matanya kuat dan lebih kuat lagi.

Tapi ketukan itu makin keras, “Park Leera!”

“Park Leera, kau harus mengucapkan selamat tinggal malam ini.”

Mata Leera spontan terbuka. Ia langsung bangkit dengan cepat dari tempat tidurnya dan matanya tampak terbelalak kaget. Ia pun langsung mencoba turun dari ranjangnya. Saat hendak berdiri, kakinya menghantam suatu benda kecil. Saat ia melihat apa yang disenggolanya. Ia begitu kaget. Bintang merah tadi. Jatuh?

Leera langsung menatap takut pintu kamarnya yang sedari tadi masih digedor. Ia langsung lari dengan cepat ke pintu dan membuka kuncinya dengan sekali tindakan. Ia membuka pintunya dan memandang Ibunya dengan tatapan takut sekaligus penasaran.

Belum sempat ditanya. Mrs. Park sudah menjelaskannya. Dengan ekspresi yang sangat tidak mengenakkan.

“Kai akan pindah ke USA mulai besok.”

((waktu kembali dimundurkan 1 jam kemudian))

Kamar Kai,

“Taruhan itu…”

Air muka Chanyeol langsung berubah di sepersekian detik. Pikirnya, untuk apa Kai membahas perkara yang sudah lama sekali? Dan. Mengapa ia berfikir bahwa itu penting? Bahkan Chanyeol sudah melupakannya. Sekitar 90% sudah hilang di pikiran Chanyeol. Karena lelaki itu tidak mementingkan hal itu sama sekali. Kemudian, jika ia diminta menjelaskan apa yang ia ingat. Ia hanya ingat wajah seorang Park Leera menangis. Berwarna merah seperti lebam. Chanyeol sangat merasa bersalah.

Tapi, sekarang ia bersyukur karena hubungan mereka semakin membaik sebagai seorang teman.

Sedangkan Seohyun. Otaknya yang pandai merangkai kejadian apapun di memorinya mulai bekerja. Ia akhirnya menemukan bayangan Leera yang menangis di kamar rumah sakit, memeluknya erat, dan bilang padanya bahwa “Mungkin kau yang dimaksud oleh Chanyeol. Kau, Seohyun-ah. Bukan aku.”

Namun Kai sama sekali tidak menoleh padanya. Mungkin Kai berfikir, bahwa Seohyun tidak ada sangkut paut sama sekali dengan perkaranya dengan Chanyeol itu. Tapi, tanpa mereka semua tahu. Semua kejadian yang mereka alami saling berhubungan satu sama lain. Semua masalah yang sebenarnya sudah tertimbun, masih memiliki benang kusut yang perlu dilepaskan kembali.

Tetapi, keputusan Kai adalah benar. Bahwa,

Ia harus…

“Kau lah yang menang taruhan, Chanyeol-ah.”

…jujur.

Chanyeol langsung membelalakkan matanya. Rasanya seperti ditimpahkan sebongkah es yang sangat berat dan dingin. Air es itu mencair dan mengalir ke seluruh tubuhnya. Chanyeol tidak bodoh. Ia sangat tidak mau dirugikan. Tetapi, kecurangan Kai waktu itulah yang membuatnya rugi. Dan bodohnya, ia tidak tahu bahwa Kai.

Melakukan kecurangan.

Kai tersenyum miring pada Chanyeol.

Chanyeol memiringkan kepalanya, meminta penjelasan lebih lanjut. Ia tidak seperti Chanyeol biasanya yang selalu cerewet. Dalam situasi seperti ini, ia diam dan mendengarkan hingga semua selesai.

“…aku. Aku kalah.” Kai mengangkat bahu. “Aku menukar jawaban ulanganku. Nilaiku seharusnya tidak 100. Mau sampai dunia kiamat juga. Aku takkan sepintar itu.”

“Aku… tidak belajar.”

Chanyeol menarik kedua tangannya yang menopang pada ranjang Kai. Ia langsung berdiri tegak dan terlihat mengerutkan alisnya. Wajah Chanyeol yang lawak tak ada lagi disini. Ia benar-benar terlihat seperti namja yang selalu serius. Lalu Chanyeol memandang Kai dengan ekspresi tidak percaya.

“Kau bahkan menghianati perjanjianmu sendiri.” Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kai bahkan tidak takut sama sekali mengakui semua ini. Ia siap menanggung resikonya apabila Chanyeol benci padanya atau tidak mau melihat wajahnya lagi. Terpenting dari semua itu, ia sudah jujur. Ia sanggup menerima konsekuensinya.

“Aku minta maaf, Chanyeol-ah.” Kai mencoba menegakkan badannya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Wajahnya menampakkan ekspresi bersalah. Kai tahu diri.

“Bahkan secara tidak langsung. Kau menyakiti yeoja itu ne, Kai-a? Aku pikir siapa yang bodoh disini.” Chanyeol tidak membalas ungkapan minta maaf Kai. Ia terus meminta penjelasan. Apa yang Kai pikirkan sebenarnya sehingga semua menjadi seperti ini?

Seohyun agak sedikit waswas dengan pembicaraan antar 2 namja ini. Ia menatap Kai lalu menatap Chanyeol. Tunggu, Seohyun tidak mengerti. Leera hanya bilang bahwa Chanyeol pura-pura mencintainya. Sebenarnya apa isi dari taruhan itu.

“Kau menyakiti dia. Kau sendiri yang menyakitinya, bukan aku.” Chanyeol mengangkat kedua tangannya di udara. Seperti orang yang hendak ditembak peluru. Ia mengangkat alisnya pada Kai yang duduk terlemas (lemas karena tembakan Chanyeol yang tepat terkena di jantungnya).

Kai bahkan tidak sadar bahwa. Ia secara tidak langsung menyakiti Leera?

“A, ak, aku ingin membuatnya bahagia! Ia suka denganmu. Saat itu. Ss,, saat itu–”

“–justru aku ingin membuatnya bahagia dengan menjodohkannya denganmu.” Wajah Kai mulai terlihat berkeringat. Pikiran di otaknya mulai diracuni oleh apa yang seharusnya ia hindari.

Seohyun mendelik ke arah luar kelambu. Ia melihat beberapa tim medis itu makin mendekat ke arah kelambu. Jangan-jangan, mereka. Tim medis itu…. Seohyun mengerti. Jika Kai terlihat tidak tenang, Tim medis itu akan masuk ke dalam sini.

“Kai-a. Kau harus tenang. Mereka mengawasimu. Jangan terlihat kaget atau terkejut. Atau mereka akan masuk.” Seohyun berusaha mengingatkan.

Kai langsung tersadar. Jangan sampai ia dikuasai pikiran liarnya sendiri. Ia yang harus menguasainya. Bukan otaknya yang dijangkiti penyakit ini. Ia harus bisa.

Chanyeol tidak memedulikan. Lalu ia kembali meminta penjelasan, “Jadi?” pandangannya tetap serius.

Kai pun melanjutkan dengan tegas.

“Aku akan pergi besok. Aku tidak akan disini lagi. Aku bukan anak kecil yang semua orang bisa menutupi apapun dariku.” Kai menarik nafasnya. Matanya seperti ingin mengeluarkan air mata. Menyadari bahwa ia sekarang begitu terbuka akan isi hatinya. Membuatnya lebih emosional. “Aku tidak mau kalian tidak mengetahui apa-apa. Chanyeol-ah. Aku minta maaf. Selama ini aku salah. Aku bahkan tidak sadar jika aku menyakiti yeoja itu.”

“Tidak sadar? Pikiranmu memang terlalu pendek huh?” Chanyeol mengangkat alisnya. Ia pindah dari posisinya berusaha berjalan ke lain sisi dari ruangan ini. “Tapi…”

Chanyeol tiba-tiba teringat sesuatu.

“Bagaimana jika aku membuat taruhan? Besok ada ulangan sosiologi. Jika nilai sosiologimu lebih rendah dariku, maka kaulah yang harus dengan Park Leera. Jika sebaliknya, berarti aku yang kalah.  Bagaimana?”

Tunggu dulu. Apa yang kukatakan waktu itu? Chanyeol kembali ingat. Bukan hanya wajah Leera yang merah sehabis menangis yang ia ingat. Melainkan ingatannya sudah mulai melebar kemana-mana. Chanyeol yang tadinya berjalan ke lain sisi ruangan, kini mulai berhenti di tempatnya. Ia terlihat berpkir dan bergumam. “Benar.”

Aku jahat. Apa aku benar-benar jahat? Chanyeol memejamkan matanya dan memukul-mukul kepalanya dengan tangannya. Aku yang membuat taruhan bodoh itu!

Benar?” Kai menirukan kata-kata Chanyeol yang diucapkannya detik lalu. “Apa maksudmu ‘benar’?”

Seohyun menekukkan alisnya.

“Atau mungkin aku yang salah? Aku memang berniat bermain saat itu.” Chanyeol mulai ingat niat busuknya saat itu. Ia sepenuhnya bukan namja yang baik. Ia masih banyak kekurangan. “Bermain-main dengan perasaan orang lain. Tapi ternyata aku tidak menyangka jika ia memikul beban yang berat sekali saat itu.”

“Aku juga salah.” Chanyeol tersenyum getir. Mengingat kejahatannya sendiri, membuat ia malu sekaligus sedih.

Kai tertegun mendengar kata-kata Chanyeol. ‘salah’ ?

Chanyeol menghembuskan nafas panjang, lalu memulai penjelasannya.

“Aku tahu aku akan menang taruhan. Taruhan mendapat nilai lebih besar olehmu di ulangan sosiologi? itu sangat mudah. Aku berfikir bahwa aku positif menang. Aku berani membuat taruhan itu, karena aku tahu aku akan menang. Tapi ternyata dugaanku meleset. Aku yang kalah bukan? Dan sayangnya, cinta tidak bisa dipaksakan, Kai-a. Selamanya, tidak bisa dipaksakan.” Chanyeol berusaha menjelaskan semuanya. “Akhirnya aku hanya bisa memainkan peran.”

Kai tersadar, bahwa saat itu memang tidak mungkin Chanyeol kalah. Kecuali, jika Kai sendiri yang berlaku curang.

“Lantas bagaimana denganmu, Kai-a. Aku yakin ada alasan yang membuatmu, menyetujui taruhan itu bukan?” Tanya Chanyeol.

“Saat itu aku kasihan dengan yeoja itu. Karena ia selalu ditindas oleh Minyeong. Tingkah bodoh kumpulan yeoja aneh itu membuatku mual. Aku berusaha mencari jalan keluar. Aku tidak tahan Park Leera terus diinjak-injak dan kembali padaku dengan wajah bengap sehabis menangis. Aku tidak tega. Suatu saat aku terpikirkan sebuah ide. Sehingga aku memutuskan melakukan semua ini denganmu. Tapi yeoja itu tidak mengetahui jika kau hanya pura-pura mencintainya.” Begitu pula Kai yang menjelaskan semuanya pada Chanyeol.

Pikiran antar manusia tidak akan pernah sama. Semua yang terjadi tidak ada yang dapat memperkirakan. Akhirnya, terjadilah sebuah kesalahpahaman.

Seohyun mendengar percakapan itu dengan miris. Sedih, membayangkan wajah Leera membuatnya bertambah sedih. Ia sangat polos. Ia tidak mengerti apa-apa. Mengapa sebuah rasa suka yang kecil. Bisa menjadi serumit ini? Semua perasaan hanya berputar-putar di antara mereka. Terus berputar hingga menjadi sebuah kesalahpahaman.

Chanyeol tiba-tiba mendekat ke arah Kai dan mengulurkan tangannya. “Kau mau maafkan aku?”

Kai membalas uluran tangan itu. “Kau mau maafkan aku?” mengucapkan kata-kata yang sama.

Lalu mereka berjabat tangan. “Kau dimaafkan.” Chanyeol bergumam pelan.

Kai  mengangguk, “Kau juga.”

Chanyeol lalu menepuk pundak Kai selayaknya seorang teman (yang benar benar dekat). Chanyeol sudah merasa lega, namun sepertinya Kai masih merasa sedih. Wajahnya masih murung dan pandangannya kosong.

“Oi, Kai-a.” Chanyeol memanggilnya mencoba menyemangati. “Jangan sedih begitu.”

“Semua sudah berlalu. Itukan hanya masa lalu kita. Yang sekarang, hanya kau perjelas. Aku tidak marah. Kau sudah minta maaf. Dan aku juga sudah minta maaf. Semua sudah adil. Pikirkan saja hal yang sekarang terjadi. Bukan yang kemarin.” Chanyeol tersenyum tulus pada Kai sembari masih menepuk pundaknya.

Seohyun senang melihat mereka bersama berbaikan. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya iba pada masalah ini. Juga, semua yang mulai terlihat jelas.

“Chanyeol hanya pura-pura mencintaiku. Ia memilihmu Seohyun-ah. Bukan aku.”

Seohyun menggigit bibirnya membayangkan kalimat itu. Juga, ia ingat dahulu, di musim dingin, tepatnya di balkon tempat favoritnya untuk sendirian. Ia menulis pada notes kecilnya. Yang kemudian ia jatuhkan kertas itu lewat lantai dua. Ia masih ingat kata-kata yang ia tuliskan disana.

Aku menyukai seseorang. Tapi, ia sudah dimilikki.

Ia iri. Ia benci. Namun, ia merasa sangat bersalah jika ia membenci temannya sendiri. Park Leera. Pandangannya selama ini berubah. Leera bukanlah beruntung. Leera tak seharusnya ia iri-irikan. Karena semuanya sudah jelas sekarang. Bahwa,

orang yang disukainya juga menyukainya.

Orang yang satu apartemen dengannya. Yang berasal dari desa yang sama. Yang satu mobil dengannya saat perjalanan ke Seoul. Yang pertama kali berbicara dengannya saat di mobil. Yang pertama kali menggodanya karena ia tak sengaja tidur di pundaknya. Park Chanyeol.

Diam-diam. Dari tempat duduknya, ia memandang Chanyeol dari samping. Mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia menatap bayangan Chanyeol, yang sedang sibuk berbicara dengan Kai. Seohyun seakan tidak mendengar suara apapun di ruangan ini. Selain detak jantungnya sendiri, dan bayangan Chanyeol yang ada di depannya.

Ini nyata Seo Joo Hyun…

Seohyun lalu mengerjap-kerjapkan matanya kembali, hingga pandangannya menjadi normal. Mesin-mesin berisik itu mulai berbunyi dan suara bass milik Chanyeol mulai terdengar lagi.

Keadaan kembali seperti semula.

Seohyun terlewatkan beberapa momen dan langsung meloncat ke detik ini.

“Haha. Aku ternyata masih menyimpan lembar jawabanku yang asli.” Tanpa sadar Kai merasa konyol sendiri. Chanyeol yang dijuluki happy virus ini. Ternyata berhasil menghiburnya.

Kai menyodorkan kertas putih yang sudah diremas-remas. Chanyeol mengambilnya dan membukanya hingga semua tulisan disana terlihat jelas. Ia meneliti semua jawaban Kai. Ada 10 soal disana. Namun Kai hanya menjawab nomor satu.

“Sial. Kau salah semua, Kai-a! Nilaimu nol! Hahaha.” Chanyeol tertawa terbahak. “Kau benar-benar gila. Aku ditipu terlalu jauh. Sial. Hahaha.” Chanyeol tertawa sembari menggerak-gerakkan kertas itu di udara.

Seohyun yang sedari tadi terjebak oleh pikirannya sendiri, ikut-ikutan tertawa. Tiba-tiba, kepala Park Chanyeol menoleh padanya sembari masih menyisakan tawanya.

“Oi, Oi Seohyun-ah. Lihatlah tingkah bodoh temanmu ini! Hahaha.” Sialnya Chanyeol masih terbahak.

Seohyun langsung menyengir. Agak sedikit malu, tetapi Chanyeol tidak menyadarinya sama sekali karena sedang asyik tertawa.

Sedangkan Kai mencoba membela dirinya sendiri, “Itu karena semalam aku mengurusi orang yang sedang sakit!” Wajah Kai kali ini terlihat bersungut seperti anak kecil.

“Dia membela diri! Oh ya ampun.” Chanyeol menyelesaikan sisa tawanya. Sial. Di ujung-ujung kisah menyedihkan ini. Ia malah tertawa.

“Eit-eit. Sabar dulu.” Chanyeol mengangkat tangannya ke arah depan. Seolah-olah menerawang makhluk halus. “Sepertinya aku agak tidak ikhlas ditipu.” Chanyeol mengeluarkan ekspresi sedikit nakal. Lalu menunjuk hidung Kai.

Kai kaget dengan telunjuk Chanyeol yang tepat di depan hidungnya. “Ige mwoya?” Tanya Kai dengan alis terangkat.

Chanyeol tersenyum miring sembari mengangkat kedua alisnya berkali-kali. Mencoba memberi isyarat pada Kai.

Kai mengerutkan kening. “Apa? Aku tidak mengerti.”

“Kau mengerti.” Ujar Chanyeol tersenyum nakal. “Kau mengerti Kai-a. Bahkan saangat mengerti!”

Chanyeol tiba-tiba mennggerak-gerakkan mulutnya, namun tidak mengeluarkan suaranya. Memberikan isyarat.

Kai mencoba mengartikannya dengan mengucapkannya kembali, “Re? si? ko? ka? lah? ta? ru? han?” Tanpa sadar Kai mengucapkan arti dari isyarat gerakan mulut Chanyeol yang tanpa suara. Lalu Chanyeol mengacungkan jempol, tanda benar.

Kai kembali berfikir, ” ‘Resiko Kalah Taruhan’ em?”

Kai berfikir satu detik. Dua detik. Kemudian ia tersentak sendiri.

“Yang kalah taruhan. Apa resiko dari kalah taruhan? Yang sebenarnya kalah itu kan kau. Bukan aku kan, Kai-a?” Chanyeol tertawa lepas. “Hahaha. Kau sendiri yang akan bertanggung jawab atas itu. Kurasa kau senang akan resiko kalah taruhanmu.”

Kai masih membelalakkan matanya. Resiko. Resiko.

“Kau lah yang akan bersama Leera. Itu resiko dari kalah taruhan!” Chanyeol berujar semangat.

Jackpot Kim Jong In! Kau harus membuat Leera menjadi milikmu. Itu adalah resiko dari kalah  taruhan.

“Simpel bukan?” Chanyeol menepuk-nepuk pundak Kai. “Kalian memang ditakdirkan untuk bersatu. Kujamin.”

“Kuucapkan selamat Kai-a!” Seohyun tiba-tiba ikut menggoda Kai. Sepertinya virus Chanyeol sudah menyebar.

Sudah pasti kan?

Wajah Kai sekarang seperti udang rebus. Kai akhirnya menutupi wajahnya dengan selimut. “Pergilah kalian.” Ujarnya mengusir. Namun dengan nada orang  yang habis kalah perang.

Seohyun dan Chanyeol sama-sama tertawa melihat tingkah Kai yang salah tingkah.

***

Park Leera dan Ibunya akhirnya datang ke rumah keluarga Kim dengan segera. Mrs. Kim memang sudah memberitahu Ibunya saat beliau sedang dalam perjalanan pulang. Bahwa besok ia dan anaknya akan berobat keluar negri, alias USA. Bukan hanya berobat sementara waktu, tetapi membutuhkan waktu yang lebih lama. Mrs. Kim tidak tahu kapan ia bisa pulang kembali ke Korea Selatan.

Sebelum mereka pergi, Mrs. Park ingin sekali menjenguk anak temannya itu. Lalu mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Mereka akan pergi esok hari. Pagi-pagi sekali.

Kini Ibu dan anak perempuannya itu sudah berada di depan pintu besar rumah keluarga Kim. Pintu utama. Dimana mereka akan memasuki rumah besar ini. Leera terus menerus menggenggam erat tangan ibunya. Entah apa yang akan ia temukan di dalam rumah besar ini. Di dalam kamar Kai. Yang entah terletak di lantai berapa. Ia takut. Sungguh sangat takut. Mendengar fakta bahwa Kai akan pergi. Membuatnya makin lemah.

Ting Tong.

Bel rumah besar itu menggema ke seluruh isi rumah. Setelah menunggu, terbukalah pintu itu. Dibukakan oleh seorang pelayan keluarga ini. “Silahkan masuk, Mrs. Park.” Sapanya sambil tersenyum.

Saat masuk ke dalam sana untuk pertama kalinya, Leera merasakan bahwa rumah itu sangat gelap di pandangannya. Dan juga. Dingin. Pandangan Leera menyeruak ke langit-langit ruang tengah. Di atas sana terdapat balkon dan beberapa ruangan. Mereka berdua terus melangkah ke arah tangga. Atau lebih tepatnya, Ibunya menariknya ke arah tangga.

Satu anak tangga. Dua anak tangga. Hingga akhirnya kaki kecil Leera yang gemetar itu diinjakkannya di lantai dua. Terdapat lorong yang diujungnya terdapat sebuah pintu. Pintu kamar Kai. Pintu itu berwarna merah. Sama persis dengan warna hiasan bintang yang jatuh di kamarnya tadi. Leera menghembuskan nafas panjang. Ia terus menarik nafas melalui mulut.

Mereka semakin mendekat ke pintu itu. Hingga saatnya, pintu itu terbuka.

“Park Leera?” Seohyun dan Chanyeol berujar dengan bersamaan. Chanyeol dan Seohyun baru saja ingin keluar. Mereka belum menutup kembali pintu itu. Tentu saja mereka kaget melihat temannya tadi yang tidak mau diajak. Tiba-tiba datang kesini. Dengan Ibunya.

Leera membeku. Sehingga Ibunya lah yang membalas sapaan mereka (walaupun terdengar lebih mengangetkan daripada sebuah sapaan sopan). “Oh, Annyeong. Kalian sudah mengucapkan selamat tinggal?” Ujar Ibunya dengan senyum sopan.

Seohyun dan Chanyeol otomatis membungkuk sopan. “Annyeonghaseyo. Sudah, Ahjumma.” Balas Seohyun sopan. “Kai ada di dalam dan untungnya ia masih terjaga.” Seohyun tersenyum sopan.

“Kami permisi dulu Ahjumma dan Leera-ya.” Seohyun memandang Leera setelah itu. Tersenyum sopan (lagi). Namun ekspresi Leera tidak berganti sama sekali. Pandangannya kosong. Ia melamun. Chanyeol ikut pamit. Sebelum pergi menjauhi mereka, Chanyeol sempat tertarik untuk menggoda Leera akan hasil pembicaraannya dengan Kai tadi. Namun, ekspresi Leera yang tidak memungkinkan menghalanginya untuk melakukan itu.

Pandangannya kosong.

Akhirnya kedua anak itupun pergi setelah pamit. Kini kembali dengan Leera dan Ibunya yang gantian memasuki kamar Kai.

Sret. Bunyi pintu yang digeser ke dalam. Terlihat sebuah kelambu. Leera masih menarik nafas dengan mulutnya secara perlahan. Ia melihat kelambu berwarna putih, dan beberapa orang yang terlihat seperti dokter. Dokter-dokter itu menyapa Mrs. Park dengan sopan. Leera tidak fokus. Ia bahkan tidak mendengar bunyi mesin-mesin berisik itu. Ia terombang-ambing oleh pikirannya sendiri.

Manik mata Leera berlari-lari dari kelambu itu dan menyusuri ke dalam-dalamnya. Ibunya semakin berjalan ke depan, menuju ke dalam kelambu. Leera terpaksa mengikutinya dalam ketidaksadarannya. Hingga akhirnya.

zlrup!

Telinganya kembali seperti semula dan mendengar bunyi mesin-mesin berisik itu.

TItt. Titt. Titt

Mereka mulai memasuki kelambu itu. Pandangan Leera mulai menjelas.

Kai menatapnya.

Itu Kai.

Dan ia sungguh-sungguh menatapnya.

***

Leera semakin mencengkram tangan Ibunya saat ia menyadari Kai menatapnya.

Leera POV

Aku tak kuasa melihat wajah rapuh Kim Jong In. Tangannya yang kudapati ditusukkan jarum infus, tatapannya yang kelihatan lemah, dan selimut tebal yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya. Ia terlihat berantakkan.

Aku tidak takut. Aku tidak akan pergi dari ruangan ini. Aku akan terus menguatkan diriku sendiri. Rasa sesak di dadaku akan terus kuabaikan. Malam terakhir ini harus kumanfaatkan dengan baik untuk mengucapkan selamat tinggal.

Kalian mungkin menganggap aku begitu bodoh. Untuk apa aku menghindarinya? Untuk apa aku merasakan kesedihan dan ketakutan berlebihan secara bersamaan? Ia tetap Kai. Kini matanya masih terbuka dan ia masih sanggup menatap seseorang. Ia tidak terpejam di atas ranjangnya, kepalanya tidak dibalut perban sama sekali, dan ia siuman. Ia tidak koma. Ia tidak seperti dulu. Ia jauh lebih baik sekarang.

Tapi entah mengapa aku merasakan kesesakkan di dalam hatiku saat ia terbaring sakit seperti itu. Oh god, aku tidak bisa melihat ia terus-terusan sakit seperti ini. Lihat semua mesin berisik yang aneh ini? Dokter-dokter yang selalu mengawasi kelambu ini dengan tatapan tajam dan suasana kamar yang begitu gelap. Semua hal itu menguatkan fakta bahwa Kai tidak baik-baik saja.

Ia sakit. Sangat sakit dan esok hari ia harus pergi dari Korea Selatan. Ke US.

He’s gone. Tomorrow.

Aku masih merasakan sesak di dadaku.

Tiba-tiba aku merasakan tangan Ibu meremas pundakku. Aku baru tersadar ia masih mau meladeni genggaman tanganku. Mungkin ia tahu kalau aku begitu takut dan cemas. Juga sesak. Ibuku adalah versi dewasa dariku. Ia tahu segalanya.

“Sudah merasa lebih baik, Jongin?” Kulihat eomma meraih dahi Kai lalu mengusapnya. Aku tersenyum tipis. Senyum lemah yang sedikit melegakanku.

Pandanganku beralih kembali pada ranjang. Aku masih tidak berani menatap manik mata Kai secara langsung. Di bagian ranjang yang ku paksa tatap, terbaring telapak tangan Kai yang mengepal kuat. What’s wrong with this guy? Apa ia sedang mencoba menahan sesuatu? Apa penyakit gejolak emosinya itu masih kumat hingga sekarang?

Leera kau begitu pabo. Tentu saja. Untuk apa ia dirawat seperti ini jika ia tidak apa-apa.

Aku menghembuskan nafas berat.

“Lebih dari baik-baik saja.” Kai menjawab datar seperti biasa. Tetapi ada nada rapuh di dalam ucapannya.

Sialnya, aku masih mematung tak berani mengeluarkan sepatah kata apapun. Aku hanya sempat bergumam kecil ingin mengeluarkan kata, namun berkali-kali aku batalkan niatku itu. Kulihat kepalan tangan Kai suatu saat makin kuat. Namun beberapa menit setelah itu kembali melonggar. Aku bertanya-tanya apakah ia sedang menahan rasa sakit yang begitu menusuknya?

Membayangkannya saja membuat dadaku semakin sesak.

Aku selalu tidak tahan melihat Kai mengerang kesakitan. Atau melihat ada luka yang menyebar di tubuhnya. Aku tidak tahan. Apalagi melihat Kai berjuang melawan rasa sakitnya seperti ini.

Aku meneguk ludahku. Aku selalu mensugesti diriku sendiri untuk berani berbicara. Tapi aku selalu takut.

“Ahjumma, ”

Kudengar Kai sedikit merintih. Ibuku sedikit kalut. “Ada apa? Gwaenchanayo?”

“Sedikit sakit.” Kai menjawab lemah.

Mendengarnya. aku menjadi lebih sesak dari sebelumnya. Spontan manik mataku menatap Kai. Kulihat sudut matanya yang berair, ia ingin mengeluarkan air mata. Lalu kulihat tangannya yang semakin mengepal kuat. Hingga urat-urat tangannya yang tampak muncul.

Kai begitu sakit hingga ingin mengeluarkan air mata.

“Bertahanlah.”

Aku menatap manik mata Kai dengan pandangan memohon. Kai balik menatapku-sedikit terkejut melihatku berbicara padanya-tatapannya tampak lemah. Air yang tersendat di sudut matanya, tiba-tiba jatuh.

“Kumohon bertahanlah.” Aku melanjutkan kata-kataku masih dengan tatapan memohon.

Kai menatapku lama. Dengan raut wajahnya yang terlihat menahan sakit yang menusuk tubuhnya. Ia mengepalkan tangannya lebih kuat. Lalu ia tersenyum lemah padaku.

Aku tertegun. Tak sadar aku pun tersenyum. Tersenyum dengan lega.

“Terimakasih, Leera-ya.” Ia mencoba tersenyum di antara rasa sakitnya.

Rasa sesak di dadaku seolah berganti menjadi rasa bahagia. Melihat Kai menatapku sambil mencoba tersenyum di antara rasa sakitnya, membuat rasa sesak di dadaku berkurang. Ia berbicara padaku saat ini. Setelah ia lama membisu dan menghilang dari pandanganku.

“Maafkan aku, besok aku harus pergi.” Kai melanjutkan ucapannya dengan nada sedikit merintih. Mencoba to the point. Kurasa ia ingin mengucapkan kata-kata itu sejak tadi.

Aku mengangguk cepat sembari mengulum bibirku menahan rasa sesak yang memaksa air mata ini keluar. Aku benci menangis lagi. “Kau tidak salah. Jangan minta maaf.” Ucapku sarkatis.

“Semoga kau cepat sembuh disana.”

Author POV

Kau tahu.

Aku ingin mengucapkan sesuatu yang lebih dari sekedar berpamitan dan minta maaf.

Kai kembali mencoba menenangkan alam bawah sadarnya yang sedari tadi mengamuk. Penyakit itu akan kumat lagi sekarang jika ia tidak mencoba menahannya. Kai tidak mau penyakitnya kambuh di saat ada tamu yang menjenguknya. Apalagi yang menjenguknya saat ini adalah Park Leera.

Sedari tadi syaraf otaknya berusaha mengeluarkan memori-memori yang dapat membuat Kai memberontak kesetanan. Yang membuat gejolak emosinya naik tanpa batas. Kai sudah terbiasa dan ia sudah tahu. Ia harus menahannya agar semua baik-baik saja.

Ia senang hari ini Leera dating. Ia lega. Yeoja inilah yang ditunggu-tunggunya dari sekian lama sejak ia dirawat. Ia ingin melihat ocehan cerewet Park Leera, gayanya yang sering salah tingkah, dan banyak hal yang membuat Kai ingin terus bertemu dengannya. Aku membutuhkanmu.

Kai tersenyum senang. “Baik-baiklah disini.”

Leera tertawa kecil. “Aku seharusnya yang bilang begitu. Kau seharusnya baik-baik saja disana.”

Mrs. Park juga tertawa kecil. “Leera benar. Kau seharusnya yang baik-baik saja disana, Jongin.” Mrs. Park menghembuskan nafas lega. “Syukurlah, kau akan diberikan pengobatan terbaik disana.”

***

1 jam kemudian.

Eomma Leera beranjak keluar kamar setelah lama berbincang. Suasana yang terkesan sedih sudah berganti menjadi lebih tenang dan percakapan kecil mulai hidup diantara mereka. Leera sedikit demi sedikit sudah dapat menghilangkan rasa sesak di dadanya. Ia mencoba memberanikan diri menyamankan dirinya membuka pembicaraan dengan namja di depannya.

“Apa kau harus berbaring seperti ini setiap harinya?”

Leera menghembuskan nafas berat setiap ia berhasil mengucapkan beberapa kata. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah. Lalu menunggu beberapa detik hingga namja di depannya itu menjawab.

Kai tercenung sejenak. Membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah Leera. “Tidak juga.”

“Orang-orang itu terlalu berlebihan dalam mengurusku.”

Leera bergumam kecil, “Kau bercanda?”

Kai menggeleng di posisi berbaringnya, “Tidak tentu saja. Aku baik-baik saja tanpa segala peralatan berisik ini. Mereka hanya mau aku melatih diriku sendiri agar penyakitku tidak sering kambuh.” Ujar Kai meyakinkan. Nadanya datar seperti biasa tetapi kali ini suaranya yang serak dan kecil membuatnya sungguh berbeda.

Leera tertegun. Entah ia hanya berbohong, mencoba kuat, atau apa? “Kau tidak baik-baik saja Kim Jong In. Besok kau pergi ke US.” Ungkap Leera ketus. Entah mengapa ada nada tidak rela dalam ucapannya.

Kai akan pergi ke US. Entah sampai kapan. Ia akan kembali kehilangan namja itu sekali lagi. Sekali dari beberapa kali. Baru saja ia berjumpa dengan Kai beberapa puluh menit yang lalu dan ia akan segera kehilangan Kai kembali.

Aku kesini hanya untuk melihatmu terbaring lemah seperti ini dan pergi di keesokan harinya huh Kim Jong In?

Suasana menjadi hening di antara mereka berdua. Hanya suara-suara mesin berisik itulah yang menyelingi atmosfer di dalam kamar. Dengan Leera yang hanya meremas-remas tangannya tak tahu ingin berbicara apa. Begitu pula dengan Kai yang hanya terombang-ambing di dalam pikirannya.

Kai mempunyai banyak sekali kata-kata yang ia ingin ucapkan kepada Park Leera. Hanya saja ia tak tahu bagaimana memulainya. Ia ingin tahu segalanya saat ia pingsan. Kejadian tempo hari yang membuat Leera lari darinya dan beberapa fakta yang ingin diketahuinya. Semua pertanyaan itu berputar-putar dalam benaknya.

biip biip

“Leera-ya.”

Kepala Leera yang sedari tadi tertunduk kini menoleh ke arah wajah Kai yang sudah menatapnya sedari lama. Leera mengerjapkan matanya beberapa kali dan menyahut dengan air muka sedikit kaget.

Mwo?”

Kai terdiam sejenak. Mengapa ia selalu membutuhkan waktu beberapa detik sebelum berbicara dengan Park Leera?

Mianhae.”

“Untuk apa?” Alis Leera mengernyit. Sebenarnya Leera sudah tahu untuk apa Kai minta maaf dan ia juga cukup sakit hati tentang kelakuan Kai tempo hari yang mendengarkan headset saat ia sedang bicara serius. Sejak itu ia kesal dan tak ingin melihat wajah Kai hingga pulang sekolah. Tapi naasnya Kai malah pingsan dan langsung dibawa ke rumah.

Akan tetapi, lupakan saja. Keadaan Kai yang begitu lemah sekarang membuat Leera tidak peduli lagi soal kejadian kemarin.

“Hanya kau yang tahu apa salahku, Leera-ya.”

Deg.

Detak jantung Leera berdegup lebih kencang. Kata-kata yang Kai ucapkan. Seolah-olah Kai bisa membaca pikirannya. Ia tak mau menyebutkan apa salahnya, karena ia tahu Leera pasti lebih mengetahuinya. Kai menganggap dirinya salah. Ia menyerahkan kesalahannya seutuhnya.

“Kau tidak bisa berpura-pura tidak tahu. Karena hal itu sempat mengganggu pikiranmu bukan?” Ucapan Kai tempat menembak sasaran.

Leera merasa dirinya tertebak seutuhnya. Kai memang pandai membaca pikirannya layaknya seorang cenayang yang handal.  “Ya. Eum.” Leera bingung ingin mempertahankan posisinya sebagai orang yang berpura-pura tidak tahu atau mengikuti arus yang telah Kai ciptakan.

“Apa yang hendak kau bicarakan padaku saat itu? Setelah kita di hukum berlari mengitari lapangan.”

Deg.

Leera merasakan darahnya berdesir seketika dan meninggalkan sisa pusing di kepalanya. Why this guy actually remember what just happened? tanpa sadar ia menutup mulutnya.

Kai mengangkat alisnya bingung dan hendak tertawa. Geli melihat pipi Leera yang bersemu merah. “Wae, Park Leera?” Tanyanya sedikit menahan tawa dan mencoba serius.

Sepertinya Kai sudah bisa menebak apa yang dikatakan Leera waktu itu. Semua itu bisa tertebak dari gelagat Leera yang begitu aneh saat Kai kembali mengulang kejadian kemarin.

1 detik. 2 detik. Senyap.

Hingga akhirnya ada suara kecil yang menjawabnya. “Aniyo.” Leera mengibaskan tangannya di depan wajah, “Tidak penting.”

What the hell Kim Jong In. Aku sudah tidak ada tenaga lagi untuk mengatakan hal memalukan seperti itu. Mungkin memangaku tidak ditakdirkan mengatakannya sama sekali. Decak Leera dalam hati.

Kai menatap Leera dengan penuh selidik. Lalu melakukan sebuah smirk.

Tunggu-tunggu. Kai melakukan smirk. Kai melakukan smirk! Kai menyeringai.

Ternyata Leera menangkap ekspresi menyeringai Kai yang tepat di depan wajahnya. “Me–mengapa menatapku seperti itu?” Tanya Leera sedikit terbata. Gila. Ia sedang sakit tapi masih berlaku aneh seperti dulu.

“Aku tidak percaya.” Balas Kai. Masih dengan ekspresi yang sama. Ternyata namja ini begitu menuntut Leera memberitahunya. Tapi, Leera takkan berubah pikiran soal ini.

“Kau terlihat aneh. Apa aku yang salah melihat?” Sindir Kai. Damn man. Kai selalu menembak Leera tepat sasaran sehingga dapat membuat yeoja itu skakmat sebelum bermain.

“Aku tidak aneh, Kim Jong In!” Oh baiklah. Leera yang seperti dulu kembali lagi. Menjerit. Dia menjerit di tengah kondisi mellow nya. Ia merasa terjebak di antara permainan-permainan kata yang dibuat oleh Kai sekarang. Jika ia dalam kondisi seperti ini, biasanya ia akan bersikukuh membela diri–walau dengan sedikit terbata dan gugup–

“Kau bertambah aneh sekarang.” Kali ini Kai menunjukkan gigi-giginya. Tertawa kecil. Kegeliannya terhadap tingkah aneh Leera sudah tak tertahankan. Ia tertawa. Jika ia tertawa, itu berarti sudah ada sesuatu yang berhasil menembus “kotak tertawanya”.

Ia tertawa? Leera tertegun.

Tetapi masih ada rasa tidak terima saat ia dijuluki aneh oleh namja di depannya ini.

“Aku-tidak-aneh.” Ujarnya ketus.

Kai kembali tertawa kecil. “Maaf. Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya ingin meminta maaf.” tiba-tiba tangan Kai terulur ke kepala Leera.

Namja itu mengacak rambutnya gemas.

“Aku hanya bercanda.” Ujar Kai lagi. Menampakkan eye smile nya yang biasa keluar saat ia tertawa lepas.

Leera hanya bisa terbengong mendapati perlakuan Kai.

Sejak kapan namja ini. Menjadi…

***

Ruang Tengah.

“Apa? Kau akan pergi lebih dari setahun?” Mrs. Park tercengang mendengar penjelasan kawan dekatnya itu. “Aku pikir bahkan hanya sebulan! Kau pergi terlalu lama, kawan!”

Mrs. Kim hanya bisa mengangguk lemah.

“Itu informasi yang kudapatkan dari dokter langganan kami.” Jawabnya.

Mendengar kata dokter langganan Mrs. Park menjadi bingung. “Apa maksudmu? Kau pernah berobat dengannya sebelumnya?”

Ekspresi Mrs. Kim berubah muram. Ia tersenyum getir. Lalu ia memutar memori lama. Fakta penting yang baru saja diketahuinya kemarin.

“Mertuaku pernah mengalami apa yang Kai alami.” Ia menghembuskan nafas berat.

“Mm.. maksudmu? Jadi, ini adalah penyakit keturunan?”

“Aku baru saja tahu ini. Andai saja suamiku tidak angkat bicara, aku tidak akan tahu. Ia terlalu sibuk untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya dan keadaan di rumah.” Ia berhenti sejenak. “Sampai-sampai ia memberitahuku dengan sangat terlambat. Tapi ia cukup membantu. Ia memberikan solusi pengobatan. Ke US.”

“Mertuaku sembuh, Nami-ya. Sembuh!” Kim Hyunsik tiba-tiba memekik dengan mata berbinar. “Kai juga akan sembuh.”

“Ia akan kembali seperti semula.” Ujarnya bahagia. Namun wajahnya yang kusut masih tidak bisa dihindarkan. Ia tetap Kim Hyunsik yang terlihat berantakkan dengan seberkas  “senyum” menghias wajahnya. Senyum getir dan mata yang berbinar penuh harap.

Park Nami hanya bisa memberikan sahabatnya pelukan simpati. Berharap impian sahabatnya ini bisa menjadi kenyataan.

“Aku mendukungmu, Hyunsik.”

***

21:00 p.m.

Sudah 2 jam ibu dan anak keluarga Park mengunjungi kediaman rumah keluarga Kim. Sedari tadi mereka saling berbincang di kamar Kai. Satu jam kemudian Kai harus istirahat. Sehingga Leera keluar dari kamar dan membiarkan Kai terlelap di balik selimutnya. Kelambu ditutup. Hanya tinggal Kai, tim medis, dan mesin-mesin berisiknya. Setelah itu Leera dan eommanya pindah ke ruang makan. Menikmati makanan yang dimasak di pantry. Mrs. Kim menyiapkan mereka teh. Akhirnya mereka makan bersama disana. Membicarakan tentang pengobatan Kai disana, pembicaraan yang serius memang.

“Mertuaku juga mengidap penyakit yang sama. Bedanya, ia dalam kondisi lebih kritis daripada Kai. Ia sudah hampir tidak dapat ditolong. Karena mereka sudah berkeliling Korea Selatan. Hingga ke Jepang tentu saja. Tetapi tidak kunjung mendapatkan hasil yang memuaskan. Suamiku bilang, Kai terlalu kecil untuk menderita penyakit ini. Mertuaku mengidap penyakitnya di usia 70.” Jelas Kim Hyunsik panjang lebar sembari mengaduk teh hangat.

Leera dan Nami mengangguk mengerti. Sementara Leera, ia sangat tahu secara detail penyakit Kai. Khususnya gejala-gejalanya karena Kai pernah menceritakannya sendiri padanya. Ia sendiri yang mengalami akibat dari gejolak emosinya itu. Kai yang waktu itu hampir saja membawanya melompati jurang. Kejadian gila, pikirnya. Bertolak belakang dengan Nami yang hanya samar-samar mengerti tentang penyakitnya. Penyakit yang hanya ia tahu dengan sebutan ‘kelainan syaraf otak’.

“Oh ini dia. Teh kalian sudah siap.” Hyunsik tersenyum kepada ibu dan anak itu. Leera membalasnya dengan mengangguk sopan.

Disusul dengan pelayan keluarga itu yang mengantarkan beberapa piring berisi makanan untuk dinner.

“Whaa. Gomapta!” Nami menerima piring itu dengan suka hati. Mac and cheese. Ya walaupun masih banyak aneka makanan lainnya. Seperti sphagettiteriyaki, dll. Leera merasa ibunya memang sangat mirip dirinya. Begitu. Oh, histeris. Untungnya Kim Hyunsik adalah sahabatnya. Ia tidak perlu menjaga imej.

Ya intinya ibu dan anak sama saja.

Suara sendok dan garpu mulai terdengar. Mereka sudah memulai makannya. Begitu dengan Nami yang begitu antusias dengan Mac and cheese miliknya. Kim Hyunsik lebih memilih meminum teh daripada makan. Ia tidak merasa antusias sama sekali dengan piring-piring di depan matanya.

Tiba-tiba terdengar suara kecil di antara mereka.

“Bagaimana dengan Kai? Ia tidak makan malam?” Leera bertanya di sela-sela kunyahannya. Semua wajah spontan menoleh kepadanya. Ibunya mengangkat alis menanggapinya. Sementara Hyunsik menjawabnya dengan santai.

“Oh… ia makan makanan khusus. Ia juga tidak boleh banyak bergerak.” Ujarnya tersenyum kecil lalu melanjutkan lagi.

“Tim medis sudah menyiapkannya.”

Leera membulatkan mulutnya. Lalu mengangguk mengerti. Okay, sejak kapan ia menunjukkan kepeduliannya pada Kai dengan orang lain. Dulu, itu adalah hal yang paling ia hindari. Harga dirilah apalah. Tetapi, sekarang jutsru ia lebih terbuka akan sifat barunya. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia seratus persen peduli dengan namja itu. Yang kini begitu rapuh terbaring disana.

Percakapan mereka terus berlanjut. Hingga akhirnya makan pun selesai.

***

Leera membuka pintu kamar Kai. Ia melihat kelambu putih itu dan menerawang ke dalamnya. Terlihat seorang namja yang terlelap di balik selimutnya. Ia tersenyum sedih dan melangkahkan kakinya ke dalam. Tim medis itu memberikan jalan karena Hyunsik sudah memberikan izinnya. Beberapa menit lagi Leera akan pulang dan ia ingin mengucapkan selamat tinggal sekali lagi.

Tangan kecilnya membuka helaian kelambu. Dilihatnya lebih jelas wajah Kai yang tampak sangat lelah dengan jarum infus menancap di tangannya. Ia beranjak ke kursi di sebelah ranjang, duduk disana dan menatap wajah Kai dalam-dalam.

Kai-ya. Aku akan sangat merindukanmu.

“Selamat tinggal, Kai-ya. Cepat kembali oke? Aku pasti akan merindukanmu tiap harinya.” Ujar Leera spontan. Hanya mendikte apa yang ada di hatinya tanpa filter yang biasa ia terapkan saat berbicara dengan Kai yang sadar.

Kai masih tampak tenang di balik selimutnya. Wajahnya tetap teduh, polos, dan tidak menyiratkan apa-apa.

“Aku tidak tahu kau pergi sampai kapan. Tetapi entah mengapa aku berfikir bahwa kau akan sangat lama disana. Kuharap kau baik-baik saja disana. Jangan pernah ingkari kata-kata dokter dan kata ibumu. Itu demi kepentinganmu. Dan… mungkin akan sulit melihat bangkumu yang kosong di sekolah. Ataupun tidak ada yang menemaniku pulang lagi–”

“Hah sudahlah, aku memang tidak boleh terus bergantung padamu. Sejak kita hidup bersama di apartemen. Aku selalu bergantung padamu, maaf ya. Aku hanya merepotkan. Aku baru sadar jika aku selalu menyeretmu di tiap masalahku.”

“Kau adalah lelaki baik, Kim Jong In. Kau pantas mendapatkan kesembuhan disana.”

Leera tersenyum getir di akhir kalimatnya. Lalu memandang Kai lekat-lekat. Ia masih tetap diam tak bergerak. Ia tak mendengar semua kata-katanya. Leera bodoh. Mengapa ia hanya berani di belakang layar? Terkadang Leera menyesal ia selalu begini, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak pernah berani melakukannya.

“Leera-ya. Kau sudah selesai?” Terdengar suara pintu kamar berdecit. Kepala Nami menyembul dari balik papan pintu. Sepertinya Leera mengambil waktu terlalu lama.

Ne.” Balas Leera.

“Selamat tinggal, Kim Jong In. Jaga dirimu baik-baik.” Bisiknya di telinga Kai. Berharap namja itu mendengarnya.

Leera segera melangkah keluar kamar. Ibunya mengelus kepalanya. “Ayo kita pulang.” Leera mengangguk dan segera menjauhi kamar.

Dibalik semua itu, Kim Jong In berbisik di balik tidurnya.

“Selamat tinggal, Park Leera. Juga, jaga dirimu baik-baik.”

***

06:00 a.m.

Leera tak bisa tidur dari semalam. Kini ia berbaring di kamar tidurnya yang gelap dengan mata terbuka. Ia tak mengantuk sama sekali sedari ia pulang dari rumah keluarga Kim. Ia terus memandangi langit-langit kamar yang dipenuhi oleh bintang-bintangnya. Semuanya berwarna pink. Kecuali bintang yang paling ujung disana. Akan tetapi sekarang bintang merah itu tidak ada lagi. Ia jatuh.

Leera sepertinya membawanya ke rumah Kai. Tetapi ia lupa ia taruh dimana. Ia simpan itu di kantung celana bagian belakang setelah benda itu jatuh.

Ia memeluk selimutnya dan menariknya lebih ke atas. Menutupi hingga lehernya. Lalu mencoba memejamkan mata lagi. Menekannya secara paksa, mencoba tidur. Oh come on! Leera memekik pada dirinya sendiri. Tapi tak ada gunanya, sinar yang samar-samar menembus gordennya membuatnya tambah tidak nyaman untuk tidur.

“Ini sudah pagi?!”

Oh god! Aku sekolah hari ini!

***

Bandara (parkiran)

Namja itu mengenakan balutan mantel panjang berwarna coklat cerah. Berjalan bersama Ibunya dan beberapa tim medis lainnya. Menerobos kerumunan yang ternyata sudah ramai di pagi hari. Hyunsik menarik kopor kecil. Sedangkan Kai hanya berjalan dengan tangan kosong.

“Aku bisa membawakan kopormu.” Kai menarik kopor itu dari tangan Ibunya.

Ibunya menggeleng. “Aniyo, tidak usah aku bisa.”

Kai tetap menarik kopor itu sambil tertawa kecil, “Aku bisa, sini.” Akhirnya Kai yang menarik kopor itu. “Ibu kan sudah banyak pekerjaan. Aku tahu pikiran ibu berat.” Ujarnya lagi.

Hyunsik hanya geleng-geleng kepala terhadap tingkah anaknya. Tetapi, akhirnya ia membiarkannya. Melihat Kai menarik kopor itu dengan wajah yang terlihat ceria. Mungkin ia senang dapat meringankan sedikit beban ibunya. Hyunsik senang bisa melihat anaknya terlihat ceria, walau ia mengalami sakit seperti ini.

Kai terus berjalan menuju gedung sembari menarik kopor dengan ibunya yang berjalan di sebelahnya. Ia memasang headset di telinganya. Mendengarkan lagu klasik yang diusulkan oleh tim medis, agar syaraf otaknya tenang. Itu dapat meminimalisir gejalanya kumat. Juga, tim medis menyarankan pada Kai untuk tidak memikirkan memori yang sensitive. Tak lupa ia meminum pil kesehatannya.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu sebelum ia pergi. Sesaat sebelum ia keluar kamar. Ia melihat sebuah bintang merah kecil. Ia memungutnya dan memasukannya ke dalam kantung mantelnya dengan tersenyum samar.

“Leera-ya.”

Kai ikut tersenyum sembari berjalan menuju gedung bandara. Ya,selamat tinggal.

***

08:00 a.m.

Leera sudah duduk di kursinya. Ia menoleh ke belakang.

Kursi itu kosong.

Kai pasti sudah berangkat sekarang. Di sebelah Sehun tidak ada lagi namja yang memerhatikan pelajaran dengan terantuk-antuk. Kosong. Tidak ada siapa-siapa disana. Leera meneguk ludahnya. Tetapi ia tahu itu semua untuk kebaikan Kai. Ia pun kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Kembali memerhatikan sasangnim berbicara. Pelajaran sosiologi. Ia ingat sekali saat ia ulangan pertama kali. Ia belum belajar karena semalam ia terkulai demam dan Kai lah yang merawatnya.

Ya walaupun ia tidak mau mengaku bahwa ia yang merawatnya.

Sementara itu dari jauh Chanyeol mengamati Leera yang terlihat tercenung walaupun matanya ke arah sasangnim. Pandangannya tampak tidak focus. Chanyeol menghembuskan nafas berat. Semoga yeoja itu baik-baik saja, pikirnya. Begitu juga Seohyun yang mengerti dengan keadaan Leera. Dari samping, dagu Seohyun sedikit menghadap kea rah Chanyeol yang berada di sampingnya.

Seohyun tersenyum sendiri memandang Chanyeol. Tak sadar, Chanyeol menoleh dengan wajah bingung sekaligus salah tingkah.

w, wae?” Ujarnya. Lalu Seohyun hanya tertawa sembari menutupi mulutnya.

Chanyeol menaikkan alisnya dan mencoba biasa saja walaupun sebenarnya ia salah tingkah menghadapi yeoja  di depannya ini. “Kau memerhatikanku ya?” Ujar Chanyeol bercanda.

Seohyun menggeleng, namun perkataannya sungguh berbanding terbalik dengan gelengannya, “Sedikit memerhatikanmu.” Ujarnya.

Deg.

Chanyeol merasa darahnya yang mendesir dan detak jantungnya yang meloncat sangat hebat. Pipinya memerah seketika. Apa maksudnya yeoja ini? Spontan Chanyeol menutupi mulutnya dengan tangan besarnya. Agar pipinya yang memerah tidak terlihat.

Seohyun sepertinya menyadarinya dan kembali berdalih, “Tidak. Aku hanya bercanda. Ayo kembali perhatikan sasangnim.” Ujarnya dengan nada calm seperti biasanya.

Chanyeol dengan cepat membalikkan kepalanya menuju papan tulis. Dasar yeoja! Pekiknya dalam hati. Chanyeol merasa saangaaat senang.

Sementara itu, member exo juga merasa sedikit kosong tanpa Kai. Tetapi mereka harus tetap berjuang. Kai pasti akan segera pulang, pikir mereka. Mereka terus memerhatikan gurunya yang menjelaskan tentang sosiologi.

“Alkulturasi. Siapa yang tahu apa itu alkulturasi?” sasangnim bertanya memancing muridnya untuk menjawab.

Kyungsoo mengangkat tangannya seperti biasa. Menjawab dengan percaya diri. “Alkulturasi adalah pencampuran antar dua budaya yang tidak menghilangkan budaya aslinya.”

“Benar, Do Kyung Soo! Satu poin untukmu.”

***

Pulang Sekolah.

Taemin memandang Leera yang berada di sebelahnya, wajahnya tampak sedikit berbeda. “Pasti karena Jongin, ne?” tanyanya sarkatis. Ia memang selalu mengutarakan ketidaknyamanannya secara terbuka.

Taemin ingat apa kata Kai waktu itu padanya, tolong jaga Leera baik-baik, Taemin sunbae. Taemin mengerti dan ia akan mempertanggungjawabkan apa kata Kai padanya.

“Kai tidak suka kau berwajah sedih karenanya.” Ucap Taemin lagi sembari menepuk pundak Leera.

Yeoja itu hanya merubah sedikit ekspresi wajahnya. Bibirnya mengukir senyum. Senyum yang tipis. “Aku bahkan bingung mengapa aku bersedih. Padahal aku tahu itu semua demi kebaikannya.” Leera berujar sembari menatap koridor di depannya dengan pandangan kosong.

“Yah, karena kau masih berfikir bahwa kau sangat merindukannya, Leera-chan.” Taemin mencoba tersenyum menguatkan.

“Kau tahu, ia pasti kembali. Dengan baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskannya secara berlebihan. Kai tidak pergi selama-lamanya. Ia hanya keluar negri sebentar, lalu ia akan kembali bukan?”

Benar. Taemin benar. Leera menghembuskan nafas panjang dan pandangannya yang kosong terasa berisi setelah Taemin menyadarkannya dari lamunannya. Ia langsung menoleh pada Taemin dengan mata membulat, “Kau benar, Taemin-kun!” Ujarnya merasa diberikan hikmah.

Taemin mengangguk senang, “Ya. Kita harus menjalani hidup kita saat ini dan mencoba memperbaiki yang ada sekarang. Dibanding memerhatikan masalah yang ada disana. Karena jika dipikir-pikir. Bersedih-sedihan tidak ada gunanya. Coba kau pikir. Jika kau terus sedih seperti ini apa orang-orang di sekitarmu akan senang memandang wajahmu ?”

Leera menggeleng keras. “Tidak.”

“Tentu saja tidak.” Taemin mengacungkan jempol tepat di depan hidung yeoja itu. “Terkadang kita lupa bagaimana berfikir logis. Lebih baik menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk sesuatu yang bermanfaat ketimbang bersedih-sedih seperti itu!” Taemin kembali menepuk-nepuk pundak Leera menyemangatinya.

“Semangat Leera-chan!”

Leera mengangguk semangat.

“Aku akan semangat!”

Sejak saat itu, seorang Park Leera selalu bersemangat menjalani hari-harinya. Berbincang dengan kawan-kawannya, tertawa, bermain tanpa merasa ada beban di pundaknya. Ia terus berfikir untuk merubah diri menjadi lebih baik. Selalu belajar tiap hari. Mencoba menjadi yeoja  yang lebih mandiri dan tidak suka merengek juga cengeng. Leera tahu ia bisa.

Ia ingin saat Kai pulang nanti. Ia akan mendapatkan Leera yang lebih baik!

***

10 Bulan setelah Kepergian Kim Jong In ke US.

Sepuluh bulan sejak kejadian itu, Park Leera banyak berubah. Berubah menjadi yeoja yang lebih ‘benar’ pastinya. Sifatnya yang terlalu egois, tempramental, dan terlalu manja itu makin lama makin menghilang. Mungkin karena akhir-akhir ini ia lebih sering berbincang dengan Seo Joo Hyun dibanding teman-teman masa sekolah menengah dulu. Dari seorang yeoja yang menggilai koleksi lipgloss menjadi seorang yang menggilai design. Apakah setelah berbulan-bulan ditinggal oleh seorang namja bernama Kim Jong In, Park Leera jadi pandai men-design? Atau lebih artistik? Jawabannya adalah iya. Ia memang belum terlalu handal di bidang design. Tapi ia tertarik mati-matian dengan design sejak ia memutuskan untuk mencari hobi.

Ia pikir dengan mencari kesibukan dengan hobi, ia bisa mengalihkan pikirannya dari seorang namja yang selalu menarik rasa rindunya. Kim Jong In. Namja yang selalu memutari pikirannya. Maka ia memutuskan untuk mencari sesuatu yang menarik untuk ditekuni. Ditambah lagi, program sekolah yang dikenal dengan nama ‘Raih Cita-Cita!’ itu—yang selalu disuapkan pada murid-murid 3 bulan sekali—sangat menghantui pikiran seorang yeoja labil bernama Park Leera.

“Kau ingin jadi apa, Park Leera?” Pertanyaan itulah yang sangat menghantuinya secara spesifik.

Ia lebih memilih menjadi seorang designer kostum & mode, karena ia begitu menyukai fashion dan make up. Ia sama sekali tidak tertarik dengan pekerjaan yang menurutnya membosankan seperti: dokter, profesor, guru, dosen, dll. Ia sudah memutuskan kalau ia ingin menjadi seorang designer. Untungnya, Mrs. Park sangat mendukung hobinya.

Leera pun mulai memutuskan untuk mengikuti les melukis sejak itu. Apabila dihitung, ia sudah menekuni hobinya selama 8 bulan. Angka yang cukup lama untuk memperdalam hobinya. Kini yeoja itu telah menguasai beberapa teknik melukis. Ia sudah bisa sketch, memberi warna, dan teknik-teknik lain yang belum terlalu kompleks.

Sekarang ia tumbuh menjadi yeoja yang mandiri. Meskipun belum berhasil memasuki peringkat 10 besar di kelasnya, namun ia terhitung cukup rajin. Seohyun benar-benar mempengaruhinya untuk hal ini. Syukurlah ada Seohyun di sisinya.

Kini Park Leera sudah duduk di kelas 2 SMA. Hari ini adalah hari pertamanya sekolah di kelas 2. Kelas 2 unggul berada di lokasi yang jauh dari kelasnya dulu. Yaitu di dekat ruang guru. Di dekat ruang guru terdapat layar komputer yang sangat besar. Berisikan nama siswa, pas foto dan beberapa datanya di sana.

Suasana kelas 2 sangat berbeda dari kelas 1. Ia merasa ia menjadi lebih dewasa. Roknya yang dulu pendek ia panjangkan kembali, rambut yang berwarnakan terang ia kembalikan menjadi natural. Tidak ada make up ke sekolah. Kecuali lipbalm berwarna pink muda yang menghiasi bibirnya agar terlihat fresh. Kini terlihatlah Park Leera sebagai siswa yang ‘baik-baik’.

Sepertinya kehadiran banyak masalah dalam hidupnya membuatnya menjadi semakin dewasa. Bukannya itu adalah hokum alam? Tuhan menguji hambanya agar mereka berfikir. Juga, agar mereka berubah. Menjadi lebih baik.

Sepertinya hokum itu berlaku bagi seorang yeoja labil ini.

Hari itu masih pagi. Pukul 07:00 tepatnya. Hanya segelintir siswa yang baru datang. Angin pagi yang segar di berhembus ke mengenai kulit. Membuat semua orang terasa senang dengan gelitik angin pagi. Cahaya putih kebiruan menghiasi angkasa. Hanya secercah kecil sinar matahari yang terlihat. Hari ini tidak terlalu panas untuk disebut pukul 7 pagi. Masih banyak awan besar yang menutupi matahari. Suara decitan sepatu terdengar ke penjuru lantai 3. Kelas 2 unggulan, kelas baru Park Leera. Ia bertemu Seohyun di tengah jalan menuju kelasnya. Hanya tinggal beberapa langkah hingga pintu kelas. Masih dengan posisi menjinjing tas sekolah dan rapi. Mata Park Leera tercengang mendapati sesuatu yang mengejutkan di papan layar siswa.

Seohyun menghentikan langkahnya, menyadari temannya yang tiba-tiba antusias memandang layar besar di depannya. Dilihatnya Park Leera. Sibuk menyapu layar dengan telapak tangannya.

“Apa?”

Kim Jong Dae.

Kim Sang Eun.

Kepala Park Leera mencari-cari ke ujung-ujung layar besar itu. Tapi nihil. Tak ada nama Kim Jong In disana. Tangannya mengepal di dinding-dinding layar yang memancarkan cahaya kecil. Ada raut putus asa di wajahnya dan sinar kesedihan di sorot matanya. Nafasnya menjadi sedikit lemah dan tubuhnya lunglai, membuat lututnya terasa tidak kuat menyangga tubuhnya.

Seohyun menatap layar besar itu dengan kaget. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Mencari nama itu berulang-ulang.

Tidak ada.

Nama Kim Jong In. Tidak ada.

Kali ini Park Leera hampir jatuh, tapi ia menahannya.

“Dia pindah, Seohyun-ah.”

Seohyun yang masih tidak percaya dengan pemandangan di depannya itu spontan menoleh pada yeoja di sebelahnya. Ia mendapati Leera menatap dinding itu dengan sorot kekosongan.

“Namanya telah dicabut dari almamater. Apa yang sebenarnya ia rencanakan?” Nada suara Leera berubah menjadi lirih. “Apa….”

Seohyun menegak ludahnya dan mengangguk lemah. “Ia tidak akan bersekolah disini lagi. Itu berarti—“ ucapan Seohyun terpotong oleh suara Leera.

“Ia tidak akan pulang selama lebih dari 3 tahun. Apa itu benar?”

Kim Jong In. Absen 25. Nama itu sudah tidak ada lagi di layar nama siswa. Jika ia masih bersekolah disini, itu berarti namanya akan terus disana hingga 2 tahun ke depan. Tetapi, mengapa sekarang namanya tidak ada? Hampir 1 tahun sejak kepergian Kim Jong In ke US. Kejadian disini justru semakin memburuk. Seharusnya tinggal beberapa bulan lagi ia pulang.

Jika nama seorang siswa telah dihapus dari layar nama siswa tersebut. Itu pertanda bahwa siswa tersebut telah pindah dari sekolah itu. Seharusnya Kim Jong In tidak pindah karena kepergiannya tidak terlalu lama. Juga, ia tidak pindah ke US. Ia hanya tinggal disana beberapa bulan.

Apakah itu berarti ada perubahan dengan semua omongan Mrs. Kim?

“Tapi mungkin. Ada kesalahan di papan ini—“ Seohyun mencoba menenangkan. Tetapi suara Leera yang lirih kembali memotongnya.

“Tidak Seohyun-ah. Kemungkinan ia akan pindah kesana. Selama-lamanya.”

Tubuh Leera gemetar, hatinya serasa ditusuk-tusuk saat itu. Tetapi, bibirnya masih bisa mengulaskan senyum. Ia tersenyum tipis—hampir lemah—sembari mengatakan itu.

Mata Seohyun melebar dan ia mencoba merangkul Leera untuk menenangkannya. Tapi Leera malah terlebih dahulu merangkul pundak Seohyun.  “Ayo mulai hidup baru, Park Leera.” Ucap Leera kepada dirinya sendiri. Seohyun mendengarnya dan menepuk pundak Leera pelan.

Kau adalah wanita yang paling tegar, Park Leera.

#

Tak ada hari yang bahagia di hari pertama Leera bersekolah di kelas 2. Semua tampak biasa. Teman yang lama, kelas yang sama (tata letaknya), guru yang sama, dan suasana yang sama. Bedanya, tak ada lagi kursi kosong untuk Kim Jong In. Kursi disini terisi penuh dengan semua murid. Member EXO yang selalu ribut, tanpa seorang namja yang menyempil di tengahnya sembari bermain game.

Ya, hanya itu  yang bisa Leera tangkap.

Pukul 4 sore ia berangkat ke tempat les melukisnya. Tempat les itu tidak jauh dari kompleks perumahannya sehingga ia bisa pulang terlebih dahulu, lalu ia kesana dengan berjalan kaki.

Gedung les seni itu terdiri dari 5 lantai. Dengan 2 lantai yang penuh berisi lukisan—galeri—hasil tangan murid-muridnya dan beberapa lukisan yang dapat menjadi inspirasi. Gedung itu tersusun dari kaca dan kayu. Sehingga suasananya tampak segar dan menginspirasi. Cahaya-cahaya indah memantul dari satu kaca ke kaca lainnya, menyinari tekstur kayu yang sudah di pelitur. Membuatnya tampak indah. Mereka tidak menggunakan lift, melainkan tangga melingkar yang terbuat dari kayu. Juga, sepertinya, gedung itu lebih pantas disebut rumah berarsitektur tinggi dibanding sebuah gedung kotak yang membosankan.

Tempat inilah yang mengisi relung hati Leera yang kosong selama ini. Ia menaiki tangga kayu yang melingkar itu dengan menghirup aroma ruangannya yang khas. Bau cat air berputar-putar di ruangan tertiupkan air conditioner. Dipadu dengan aroma parfum sakura yang khas. Aroma inilah yang tak ubahnya membuat Leera nyaman.

Akhirnya ia sampai di lantai 5. Kelas. Ia duduk di depan kanvas. Menatap kertas coklat muda yang masih polos. Lalu menyiapkan beberapa pensil yang akan ia gunakan.

“Pelajaran hari ini. Sketsa wajah.”

“Pikirkan seseorang yang ingin sekali kalian gambar pada kanvas ini.”

#

Malam ini, Leera lebih banyak diam. Sifatnya yang biasanya cerewet itu serasa hilang bak ditelan bumi. Di telfonnya nomor ponsel Kai berkali-kali. Tapi nihil, sejak Kai pergi ke US. Ponselnya selalu mati dan sepertinya akan selalu mati  hingga sekarang. Leera tak mengerti, mengapa ponselnya tak bisa dihubungi.

Okay, calm down Leera. Ia berobat di US, ia sedang berjuang disana, dan kau selalu berniat menganggunya. Bahkan siapa aku? Aku bahkan tidak mempunyai hak istimewa untuk boleh mengganggunya.

Babo.

Leera sudah berjanji selama seminggu untuk tidak terus-terusan mengebom Kai dengan ribuan miscall dan pesan. Tapi, sejak ia melihat nama Kai yang menghilang dari papan sekolah. Ia benar-benar khawatir. Ia sudah memendam rasa rindu sejak lama, ditambah lagi rasa khawatir yang sejak tadi pagi menghantuinya. Ia sungguh tidak kuasa menahannya. Ia ingin sekali ini saja Kai menjawab telfonnya. Sekali ini saja, ia mendengar suara berat seorang Kim Jong In untuk direkam di telinganya selamanya.

Kim Jong In, kau sedang apa sekarang?

Apa yang membuat sekolah mencabut namamu dari almamater?

Kapan kau akan kembali?

atau kau takkan pernah kembali?

Apa kau sudah sembuh?

Kau akan kembali kan?

Kau sudah janji akan kembali.

Sekarang aku sudah menjadi lebih baik. Aku bisa melukis.

Aku bisa mensketsa wajah sebelum guru memberi materinya.

Aku melukis wajahmu setiap hari.

Merangkai senyummu. Memberi warna pada bibirmu. Menggariskan lengkungannya dan membuat manik matamu menghadap ke arahku.

Aku ingat wajahmu, semua dari wajahmu, Kim Jong In. Aku ingat pemandanganmu saat kau tertawa. Saat matamu mengecil dan mengeluarkan kerutan akibat tertawa. Aku ingat ekspresimu saat kau sedang kesal dan sedih. Aku ingat wajah datarmu yang lebih sering kau tunjukkan dibanding ribuan ekspresi lainnya. Aku ingat.

Sehingga aku bisa melukismu di kanvasku.

Di lukisan ini, kau tidak terlihat sakit, Kai-ya. Kau terlihat sehat dengan senyummu yang kuat. Kau tampak seperti orang yang tidak mengalami sakit sama sekali, karena senyummu itu. Senyummu yang tulus untuk membuat semua orang tenang akan dirimu.

Disini, aku bisa memandangimu. Senyummu yang indah menguatkan. Manik matamu yang menatapku dengan lekat. Wajahmu yang bahagia. Kau ada disini. Di kamarku. Disini, di kanvasku.

Kim Jong In,

Sekarang aku sedang melihat langit yang ditaburi bintang. Cobalah engkau keluar. Lihatlah bintang di atas sana. Lihat, Kai-ya! Ayo kita memandangi bintang bersama-sama. Bersama-sama, di tempat yang berbeda. Karena, walau kita jauh. Kita tetap memandang langit yang sama bukan?

Aku hanya berharap, agar langit mampu memantulkan bayangan manusia yang sedang memandanginya sekarang. Halo bintang-bintang di angkasa, sampaikan salamku untuknya. Bercahayalah yang terang, agar ia dapat berpaling kepadamu.

Aku merindukanmu, Kim Jong In.

Cinta tumbuh lebih pekat saat dilindas oleh sesaknya rasa rindu. Kehilangan adalah titik lemah sebuah perasaan. Jika cinta terbentuk karena terbiasa, maka siap-siaplah merasa jatuh saat ia tak biasa lagi disisimu.

Tak ada yang lebih sesak selain rasa rindu dan patah hati. Rasa rindu yang tidak terbayar adalah kehilangan. Tetapi Leera berharap, apa yang dirasakannya sekarang hanyalah rasa rindu. Bukan kehilangan. Ia yakin suatu saat rasa rindunya akan terbayarkan. Juga doanya akan terkabulkan. Kai sembuh. Itu saja. Kai sembuh.

Itu saja dapat membuatnya bahagia.

Lukisan Kai yang tersenyum, itu bukanlah sekedar dusta. Leera yakin, akan ada senyum Kai yang selanjutnya. Yang akan live tampil di depannya.

#

United States.

Kai mengenakan sweater hijau natal dan setelan jeans. Oh come on! Kai tidak suka mengenakan sweater. Tetapi sejak ia disini, ia harus dilindungi dan diatur secara fisik maupun nonfisik. Di US, ia tidak bebas seperti di Korea Selatan. Sehari sekali, ia harus pergi ke rumah sakit yang berada di pusat kota untuk terapi syaraf otak. Rumah sakit disini jauh lebih besar dan megah. Juga, terdapat banyak alat-alat canggih yang membantu pengobatan disana. Semua itu jauh tidak terprediksi oleh Kim Jong In. Teknologi di US jauh lebih canggih dibanding manapun.

Mesin yang digunakannya untuk terapi itu terlihat seperti robot raksasa seukuran manusia. Berlapis alumunium yang mengkilat dan saat beroperasi mengeluarkan bunyi yang khas. Bunyi itu terdengar seperti mesin-mesin di kamarnya dulu yang sangat mengganggu. Di mesin itu terdapat tempat duduk dan mangkuk yang seperti helm untuk menyelimuti kepala sang pasien. Disanalah tempat syaraf otak di terapi. Kemudian Kai harus duduk disana selama setengah jam.

Ia juga harus meminum aneka macam obat dari dokter. Lidahnya sudah kebal dengan pahit-pepahitan.

Ini sudah kesekian kalinya Kai meminta obat ke apotek karena obatnya yang telah habis dan setiap obatnya habis itulah ia selalu mengajukan pertanyaan yang sama pada ibunya.

“Apa boleh aku mengambil ponselku sekarang?”

Hyunsik memasukkan bubuk obat pada air mineral Kai lalu mengaduknya. Perempuan itu diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan anaknya. “Jangan pandang layar ponsel, sebelum aku membolehkannya padamu.” Hyunsik tersenyum lalu menyodorkan gelas berisi obat itu pada namja ber-sweater di depannya.

Kai menerima gelas itu, mengangkatnya sedikit, tanda ia akan meminumnya. Lalu ia tersenyum tipis pada ibunya yang telah berbaik hati meracikkan obatnya. Ia meneguknya seperti meneguk air mineral biasa. Lalu meletakkan gelasnya di pantry.

“Aku ingin menghubungi seseorang.” Ucapnya ditengah kesenyapan.

Hyunsik spontan menoleh. Menatap Kai lekat-lekat. Menatapnya dengan sedih. “Mianhae.”

Kau berhadapan dengan penyakit yang tidak membolehkanmu mendekati memori yang dapat merusak otakmu sendiri.

“Sebaiknya kau tidur. Ini sudah larut.” Sahut Hyunsik lagi sembari mengambil gelas Kai untuk dicuci. Ia sengaja memunggungi anaknya agar tak dapat melihat ekspresinya. Entah ia sedih, atau marah karena ia tak sama sekali dibolehkan untuk mengecek ponselnya sendiri.

Setelah selesai mencuci gelas, Hyunsik berbalik. Ia mendapati kesenyapan dan tak ada lagi Kai disana. Terdengar suara pintu yang ditutup. Ya, Kai langsung beranjak ke kamarnya. Tiba-tiba ada derap langkah yang berjarak dekat ke arahnya.

“Apa yang terjadi?” Tanya suara berat milik Hyoenjoo, suami Hyunsik.

Hyunsik menoleh dan menjawab, “Ia ingin merusak otaknya lagi dengan benda itu.”

Kamar Kai,

Telapak tangan besar milik Kim Jong In menangkup sebuah benda kecil berwarna merah. Ia menggenggamnya sangat lama sembari memejamkan matanya. Di dalam pikirannya banyak terdapat memori-memori yang membuatnya menguras hati. Bintang ini

Kai membuka matanya bersamaan dengan dibukanya telapak tangannya. Ia mendapati sebuah bintang berwarna merah di tangkupan telapak tangannya. Kosong dan tidak bergerak. Sekilas melihatnya takkan mengartikan apapun. Namun, bintang itu membangkitkan ingatan Kai akan sesuatu. Kai bangkit dari posisinya yang sedang duduk di pinggir ranjang. Pandangannya menuju kea rah pintu kamar yang mengarah ke balkon apartemennya. Dibukanya pintu kaca yang besar itu. Disambutnya langit hitam yang gemerlapan.

Malam ini dipenuhi oleh bintang-bintang yang sangat menyilaukan sinarnya.

Kepala namja itu mendongak ke atas. Disana, ia mendapati bintang yang paling terang di antara bintang-bintang lainnya. Perlahan namja itu tersenyum. Ia membuka tangkupan tangannya yang berisikan bintang merah pemberian dari Park Leera. Di pandangnya lekat.  Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti hatinya saat ia mengalami suasana seperti ini.

Bintang itu seakan memberikannya pesan. Juga bintang di atas sana, yang paling berkilau menembus mata. Seakan-akan ingin mengatakan sesuatu.

Leera-ya. Aku akan pulang lebih lama. Tunggu aku ya. Nae bogoshippo. Jeongmal bogoshippo-yo, Park Leera.

Andai ada Park Leera di depannya sekarang, mungkin Kai akan langsung memeluknya.

#

Korea Selatan,

Sudah 2 tahun sejak kepergian Kim Jong In. Ia belum lagi pulang ke Korea. Leera kini telah menginjak kelas 3 SMA. Ingatannya tentang Kai masih belum pudar walau ia tak sebegitu memikirkannya. Di tahun ini, Taemin sudah lulus menjadi mahasiswa. Ia akhirnya kembali lagi ke Jepang atas perintah ayahnya. Leera juga tidak tahu menahu mengapa Taemin hanya tinggal di Korea selama 2 tahun saja. Taemin adalah sosok kakak lelaki yang pas baginya, walau terlalu protektif. Ialah yang selama ini menggantikkan Kai—mengantar Leera kemana-mana—

Tahun ini Leera sedikit meninggalkan hobinya. Karena ia harus fokus pada ujian akhir sekolah untuk mendapati universitas terbaik di Korea Selatan. Ia sudah memutuskan, ia ingin menjadi seorang designer. Bukan seorang designer baju. Melainkan interior atau ruangan kecil. Bukankah itu berarti ia akan menjadi seorang mahasiswa arsitektur? Wah, siapa sangka Leera kuat mengambil cita-cita itu. Maksudnya, seorang arsitek?

Bahkan sulit dipercaya jika seorang Park Leera menyukai tehnik.

Nama Kim Jong In memang takkan pernah kembali di papan nama siswa itu. Di hari pertama sekolah di kelas 3 Leera datang sangat pagi dan ia tidak menemukan tanda-tanda nama Kai di papan nama siswa tersebut. Tetapi, akhirnya ia tidak peduli. Ia sudah mencoba menghubungi ribuan kali. Tetapi ponsel itu takkan pernah aktif. Juga, Kai tidak akan pernah menjawab telfon darinya. Kali ini Leera berfikir, bahwa. Oh, sudahlah. Ia hanya satu orang teman di antara puluhan temannya bahkan ratusan temannya di kota ini. Mengapa Leera harus mengharapkan Kai terlalu banyak?

Mengapa ia harus terus-terusan memikirkannya? Itu sangat tidak penting. Jika ia pergi, yasudah biarkan saja pergi. Toh, tidak akan berubah kenyataannya mau ia terus memikirkannya atau tidak. Seharusnya Leera berpaling. Berpaling sejauh-jauhnya. Ia seharusnya tidak memikirkan itu setiap waktu. Ia punya kehidupan sendiri. Yang jauh lebih penting.

1 tahun di kelas 3 terasa sangat singkat bagi Park Leera. Baru belajar beberapa bulan, ia sudah disambut oleh ujian yang tak henti-hentinya menyapa. Ujian praktek, tertulis, dsb. Ia juga harus pintar mencari informasi tentang universitas yang ia incar, agar ia mendapatkan kemudahan untuk mendaftar disana. 1 tahun yang diiisi oleh kelelahan membuat waktu terasa singkat.

Tak terasa, ujian akhir sekolah telah dimulai. Leera hanya perlu mengulas sedikit pelajaran untuk menghadapi ujian karena ia sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari. Setelah ujian berakhir, tiba waktunya pesta kelulusan.

Di sabtu pagi yang cerah. Semua murid kelas 3 berkumpul di dalam gedung pertemuan sekolah yang sangat luas dan lapang. Ruangan itu bercat putih terang, membuat suasana terasa segar dan khusyuk. Ruangan itu dipenuhi oleh beberapa deret kursi yang diduduki oleh sebagian murid dan sebagian wali murid. Di depan deretan kursi, terdapat panggung yang sangat besar, dan terdapat sebuah podium yang berdiri kukuh di tengah-tengah panggung. Terdapat sebuah tulisan yang tergantung di dinding.

Selamat akan kelulusan siswa Seoul Academy Seniors angkatan ke-20!

Tulisan itu dipenuhi oleh gambar-gambar siswa yang tertawa bersama. Bahagia dan melompat kegirangan.

Ruangan itu juga dipenuhi oleh suara mikrofon dari seorang guru yang berbicara mengumandangkan sambutannya. Ucapan bangga dan syukur diucapkannya akan kelulusan murid-muridnya. Semua murid mengenakan seragam yang biasa dipakai saat wisuda, lengkap dengan topinya dan juga jubah kelulusannya.

Annyeong! Wah lihat posisi topimu, Leera-ya!” Baekhyun seperti biasa dengan suara berisiknya mengingatkan Leera akan posisi topinya yang terlihat berantakan. “Kau bahkan tidak mengenakannya dengan benar.” Tiba-tiba tangan namja itu meraih ujung topinya dan membenarkannya.

Leera sudah biasa dengan kegratilan tangan seorang Byun Baekhyun. “Ne, gomawo!” Balas Leera senang.

“Dan kau terlihat lebih namja dengan seragam kelulusanmu itu,Baconnie!” Tiba-tiba terdengar suara nyaring versi 2 dari tempat lain. Yang ternyata itu adalah Park Chanyeol. Dengan telinga besarnya yang tampak menawan karena sensasi dari topi yang dikenakannya.

Tapi, sialnya Baekhyun malah tidak terima ia dibilang lebih namja. “Wah, sialan kau, Park Chanyeol!” Jeritnya sambil meringis sebal. “Aku kan memang namja sejak aku dilahirkan. Lihat ototku yang kekar ini! Juga wajahku yang kekar—“

“Sejak kapan wajah mulus porselen milikmu itu bisa disebut ‘k3k4r’ huh, Bacon?” Chanyeol mengangkat sebelah alisnya sembari mencolek pipi milik Baekhyun.

Mata Baekhyun langsung terbelalak dibuatnya dan spontanitas mundur dari kursinya. “Hii, pergi kau. Mengerikan!” dan Chanyeol hanya tertawa-tawa melihat respon Baekhyun.

Sementara itu Park Leera setuju dengan ucapan Park Chanyeol, “Ya! Benar sekali. Kau lebih cocok dibilang cantik selama ini.”

Seo Joo Hyun duduk tepat di sebelah Park Leera dan ia tertawa kecil melihat tingkah mereka yang selalu menimbulkan keributan di tengah-tengah kesenyapan. Selalu saja mereka yang menghidupkan suasana. Sementara Kyungsoo, ia duduk di depan Chanyeol. Di sebelahnya terdapat Sehun dan Suho yang sedang mengobrol. Tentang universitas yang mereka tekuni tentu saja.

Tidak ada. Tak ada Kai di hari kelulusan mereka. Kai tidak lulus di sekolah ini. Tidak bersama mereka.

Tetapi entah mengapa di hari kelulusan ini Leera seakan lupa akan Kai. Ia hanya menikmati momen yang terjadi sekarang. Yaitu, tertawa bersama teman-temannya, menikmati suasana haru biru di hari kelulusan dan ucapan perpisahan. Tak ada Kai yang menempel di otaknya. Tidak di waktu itu.

Tiba-tiba kepala Sehun menoleh ke belakang,

“Tapi kurasa hyung Baekhyun sudah sepenuhnya namja.” Sehun bertutur dengan nada berbisik agar terdengar misterius. Chanyeol langsung menengok pada Sehun dengan ekspresi mengejek.

“Yang benar saja?” Ejeknya pada Baekhyun.

Sehun mengangguk dengan mata berbinar. Berbicara dengan menggebu-gebu. “Aku melihat isi chatting nya dengan seorang yeoja.” Ujar Sehun mengedipkan matanya. Sejak kapan maknae mengerti hal-hal begini?

Chanyeol membulatkan matanya, “Mwo?!”

Baekhyun hanya tersipu-sipu malu. Wajahnya yang imut terlihat sangat menggemaskan menjijikan. “Eh eh. Itu—“

“Byun Baekhyun dekat dengan wanita?!” Chanyeol langsung terbelalak dan menggoncang-goncangkan pundak Baekhyun dengan buas. “KAU.” Ia menatap wajah Baekhyun yang terlihat polos dengan tatapan ingin memakannya.

“Siapa namanya huh?”

“Kang Taeyeon!”

“Shh. Jangan terlalu keras—“

Begitulah guyonan-guyonan mereka yang membuat suasana menjadi berisik. Hingga akhirnya Suho dan Kyungsoo menolehkan kepalanya ke belakang dan menyuruh mereka diam.

“Bisa pelankan sedikit suara kalian? Dengar, sedang ada pengumuman siswa berprestasi.” Tutur Kyungsoo pelan kepada teman-temannya. Yang lain hanya mengangguk pasrah melihat raut Kyungsoo yang sangat serius. Maklum, ia telah belajar mati-matian untuk mengejar prestasi dan score terbaik di SAS. Semoga saja ia bisa menjadi juara 1 paralel di SAS.

Wajah Kyungsoo menyiratkan ketegangan. Hatinya berdebar-debar menunggu nama yang akan disebut oleh kepala sekolah.

“Baiklah. Saya akan menyebutkan 5 siswa berprestasi di sekolah ini. Juara ke-5 paralel dengan nama…” Beliau sengaja memberikan banyak jeda di akhir kalimatnya. Membuat semua murid berhenti bernafas dan berdoa.

Kyungsoo semakin tidak sabar. Begitu juga dengan Seohyun dan Suho yang benar-benar mengejar target. Ya, sebenarnya juga termasuk Leera yang sedikit berharap. Sedangkan Chanyeol, Baekhyun, dan Sehun. Masih saja terlibat dengan guyonan-guyonan tidak penting mereka.

“Bae Soo Ji (suzy) !” Sahut kepala sekolah itu. Para murid pun meyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah. Menyelamati Bae Soo Ji. “Siswa berprestasi diharapkan ke atas panggung untuk menerima hadiah.”

Kyungsoo dan kawan-kawan menghembuskan nafas berat. Oke, ini baru peringkat 5. Masih ada 4 peringkat lagi bukan?

“Selanjutnya, peringkat ke-4 Kim Dae Ri!” Dengan respon yang sama murid-murid bertepuk tangan menyelamati sang siswa.

“Peringkat ke-3…”

Para murid berdebar dan berdoa dalam hati dan entah mengapa Leera jadi ikut-ikutan berdebar juga. Sementara Chanyeol, Sehun, dan Baekhyun masih saja tidak focus dengan omongan di depan.

“Seo Joo Hyun!” Kali ini tepuk tangan makin keras. Terutama para member exo dan Park Leera sendiri spontan bertepuk tangan dan mendorong-dorong Seohyun untuk maju ke depan. Leera langsung menyelamati Seohyun dengan adegan berlebihan dan terharu sekaligus senang.

“Wah selamat Seohyun-Ah! Usahamu selama ini tidak sia-sia!”  Pekik Leera senang. Ia tahu Seohyun begitu membutuhkan dana beasiswa.

Chanyeol yang tadinya tidak peduli sama sekali dengan pengumuman itu. Karena mendengar nama Seohyun ia langsung menoleh kea rah Seohyun dengan tatapan terkejut. Lalu dengan semangatnya bertepuk tangan dan berteriak-teriak . “Whoa! Seohyun-ah! Daebak!” Pekiknya dengan suara beratnya.

Seohyun hanya menanggapi mereka dengan senyum senang sekaligus malu. Ia langsung beranjak ke depan.

Kepala sekolahpun melanjutkan pengumumannya. “Dan selanjutnya adalah peringkat ke-2. Dengan nama, Do Kyung Soo!”

Oh Syukurlah. Kyungsoo langsung mengusap wajahnya tanda bersyukur pada Tuhan dan menampakan ekspresi senang. Ternyata usahanya selama ini berhasil! Ia sangat senang.

“Wah. Kyungsoo-ya daebak! Kau memang paling pintar di antara kami yang bodoh-bodoh ini! Hebat hebat!” Baekhyun bertepuk tangan sembari menepuk pundak namja bermata bulat dengan wajah imut itu. Walaupun sebenarnya Sehun agak tersinggung dengan kata bodoh. Dasar maknae. Sedangkan Suho tak henti-hentinya bertepuk tangan senang karena banyak teman-temannya yang ternyata termasuk siswa berprestasi.

Kyungsoo pun segera berlari ke depan. Tersenyum dengan bangga.

“Selanjutnya adalah peringkat pertama. Siswa yang benar-benar luar biasa!” Kepala Sekolah mengeraskan suaranya dan meheroikannya agar terdengar meriah dan menginspirasi. Semua murid terdiam dan menerka-nerka siapa murid yang paling pintar di sekolah ini.

“Park Chanyeol!”

Member exo saling berpandangan satu sama lain dengan ekspresi yang terlihat konyol. Okelah, seorang Park Chanyeol yang tingkahnya tidak pernah benar. Kini diakui menjadi murid paling pintar di SAS. Baiklah. Jika ditanya siapakah orang yang paling berisik saat kepala sekolah berbicara? Jawabannya adalah Chanyeol. Justru sekarang ia yang mendapatkan hadiah utamanya.

“Selamat untuk kalian semua yang termasuk siswa berprestasi!” Kepala sekolah tersenyum sumringah sembari bertepuk tangan, disambut oleh seisi gedung dengan tepuk tangan yang tak kalah meriah.

“Whoa! Whoa! Homina! Kau juara 1 nya?” Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan berbinar. Ia menampar pipi Chanyeol berkali-kali sehingga membuat bibirnya terbang kemana-mana.

“Aku tak menyangka orang segila kau bisa mendapatkan juara 1 di sekolah.” Suho menggeleng-gelengkan kepala. “kau ini orang yang selalu membuat telingaku sakit saat kau berbicara.” Suho menepuk pundak Chanyeol keras-keras, “Tapi, jeongmal.. kau-sangat-hebat! Good job!

Namja yang dipuji-puji itu menyahut berterimakasih kepada orang-orang yang menatapnya memuja.

Chanyeol berjalan ke depan dengan badan yang tegap. Postur tubuhnya yang tinggi dan kurus mebmuat gaya jalannya makin sempurna. Ia berdiri di depan. Di samping Seohyun. Ia melempar kan Seohyun sebuah senyum bahagia begitu juga dengan Seohyun.

“Selamat untukmu, Chanyeol-ah.”

“Selamat untukmu juga, Seohyun-ah.”

Lalu seseorang yang mengarahkan kamera memberi aba-aba kepada mereka untuk segera berfoto setelah menerima piala. Lalu akhirnya, mereka bersiap untuk berfoto.

“Baiklah, cheese!”

Blitz!

Terlihat seorang Park Chanyeol dengan V sign andalannya.

~~~

Mereka semua keluar dari gedung pertemuan usai acara selesai. Masih mengenakan pakaian resmi perpisahan, namun ada yang topinya sudah dilepas dan jubahnya sedikit di acak agar terlihat keren. Chanyeol melepas topinya karena telinganya selalu diejek oleh Baekhyun. Dan akhirnya, Baekhyun mengenakan 2 topi di kepalanya. Yap, dipaksa oleh Chanyeol karena Chanyeol menyangkutkan topinya terlalu kuat pada kepala Baekhyun.

Di samping mereka ada Leera, Seohyun, dan Sehun. Lalu di depan mereka ada Suho dan Kyungsoo yang sedang asyik berbicara tentang masa depan. Sepertinya kedua orang ini sangat serius tentang apa yang dibicarakannya.

“Hah, sudah kubilang telingamu terlihat lebih bagus dengan topi itu.” Baekhyun mengejek sembari mengumpat Chanyeol karena telah menyangkutkan 2 topi ke kepalanya.

“Ya! Kau juga lebih tampan seperti itu, pasti Kang Taeyeon akan tergila-gila padamu, huw.” Chanyeol mengangkat alisnya pada Baekhyun yang memerah. Memerah karena kesal dan malu. OH indahnya Baekhyun saat jatuh cinta. Walaupun identitas Kang Taeyeon masih belum diketahui, tetapi sepertinya kalian sudah bisa membayangkan wajah yeoja itu. Benar bukan?

Leera yang sedari tadi tidak mengobrol hanya bisa menyahuti Baek-Yeol dengan, “Jinja, kalian sangat berisik hingga penjual es krim memandangi kalian selama satu menit.” Ucapnya sarkatis. Jujur ia merasa rombongannya sangat berisik dibanding rombongan murid-murid lain.

Ia sadar hanya ia lah yang mempunyai rombongan paling banyak. Sisanya hanya berjalan beriringan berdua atau berempat. Leera tersadar, ia bertujuh. Dengan teman-temannya. Atau lebih tepatnya, sahabat-sahabatnya sejak kelas 1. Yang selalu bersama hingga sekarang. 3 tahun yang telah dilalui. Dan 2 tahun yang dilalui tanpa temannya, yang sudah pindah ke Amerika. Yang sampai sekarang belum kembali. Kai.

Dedaunan pohon Acretyc yang kecil seperti semanggi beterbangan tertiup angin sore. Rambut mereka berkibas seiring angin berhembus. Berjalan beriringan bersama, ke depan sana, melawan cahaya keperakan matahari. Secercah sinar terang menerpa wajah bahagia mereka yang baru saja lulus bersama. Tertawa dan bercanda.

Leera tersadar bahwa setelah ini, setelah mereka mengobrol dan berfoto bersama.

Mereka akan pergi ke universitas-universitas yang mereka tuju masing-masing. Suasana akan berubah. Dan mereka akan jadi orang yang mandiri. Sudah berbeda jalan.

“Hei kalian semua.” Suho menoleh dari depan. Ia tersenyum sedikit malu. “Aku senang punya kawan yang asyik seperti kalian.” Lalu ia tertawa kecil sembari menggaruk rambutnya, “Terimakasih ya.”

Leera seakan terbangun dari lamunannya saat menyadari ada suara seseorang bicara yang omongannya menyangkut dengan isi di pikirannya.

Kyungsoo ikut menoleh dan mengangguk sembari tersenyum tipis. “Aku memang sering menyuruh kalian untuk diam dan tidak berisik. Tapi sebenarnya, aku suka kalian berisik!” Tiba-tiba Kyungsoo menjadi sedikit histeris. Pandangannya berhenti pada Chanyeol dan Baekhyun yang sedang mengeluarkan ekspresi aneh. Em, ekspresi canggung bercampur sedikit bangga.

“Aku tahu itu.” Leera tiba-tiba menyahut. “Kau ingin berisik juga kan, Kyungsoo-ya?” Ujarnya sembari tertawa kecil.

Seohyun membuka mulutnya, “Aku… tidak pernah punya teman sedekat ini sebelumnya.” Yeoja calm itu mengangkat kepalanya untuk memandang semua wajah disana. “Aku benar-benar senang. Tapi aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya pada kalian. Mianhae-yo.” Seohyun tiba-tiba menunduk.

Mereka semua tertawa melihat tingkah Seohyun,

“Tak perlu begitu. Aku juga sering tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku.” Chanyeol mengibas-kibaskan tangannya di depan hidung mancungnya sembari tertawa kecil. Sedikit kode mungkin akan membuka hati Seo Joo Hyun, pikirnya. Baekhyun meliriknya dengan tatapan ‘wah dasar telinga besar masih sempat di keadaan begini.’

Sementara itu Leera memeluk Seohyun, “Aku juga. Itu terlalu memalukan untuk diakui. Yang jelas, aku senang.”

Kyungsoo, Suho, Sehun menyahut. “Aku juga.”

“Walau hyung suka mengerjaiku!” Sehun memekik dengan ekspresi tertindas.

Baekhyun berdecak pelan, “Ckckck, makanya jadilah dewasa, Sehun-ah! Kau akan menjadi mahasiswa. Kau akan segera punya istri nantinya.” Baekhyun menepuk pundak Sehun dan mengusapnya berkali-kali.

“Aku belum siap punya istri!” Sehun tiba-tiba merengek.

Baekhyun hanya bisa memutar matanya, lalu membuka mulutnya. “Itu nanti, bodoh–”

Tetapi Chanyeol terlanjur menampar bibir Baekhyun, “itu nanti, wahai Sehun tampan.” Sembari tersenyum manis. Mengganti embel-embel ‘bodoh’ menjadi ‘Sehun tampan’.

Setelah mengobrol akhirnya tibalah saat berfoto. Mereka berfoto bertujuh, dengan latar belakang taman sekolah yang begitu indah, apalagi dengan seragam perpisahan mereka. Baekhyun tetap mengenakan 2 topi, sementara Chanyeol  meminjam topi milik Daehyun untuk sementara.

“Wow topinya cukup longgar sehingga telingaku  terlihat kecil!” Begitu kata Chanyeol saat memakainya. Setelah berfoto bertujuh, tiba saatnya selfie, Leera tentu saja selfie dengan satu persatu temannya. Gayanya yang paling heboh adalah saat selfie dengan Baekhyun dan Sehun. Sementara dengan Chanyeol. Chanyeol yang heboh. Hingga jepretan gagal karena foto buram 5 kali. Leera terlalu grogi saat selfie mungkin? Saat selfie dengan Seohyun, yeoja itu seperti tidak punya gaya lain selain senyum tipis. Padahal Leera sudah membentuk-bentuk mulutnya menjadi aneka ragam. Fish, duck face, semua sudah dicoba oleh Leera tetapi Seohyun hanya tersenyum tipis di 10 frame.

Setelah acara berfoto selesai,

“Aku baru sadar jika kita kekurangan sesuatu.” Lirih Chanyeol pelan.

“Kai.” Jawab Kyungsoo sarkatis.

Aku bahkan sudah memikirkan itu sejak kita keluar gedung. Ucap Leera dalam hati. Saat bukan hanya ia yang mengingat Kai. Melainkan teman-temannya juga. Hati Leera serasa teriris. Tidak biasanya ia rindu bersama-sama temannya. Dulu ia hanya merindukan Kai sendirian, di kamarnya, di depan kanvasnya. Tetapi sekarang, semua orang mengumbar kerinduannya terhadap Kai.

“Kai…” Sehun menunduk. Terlintas bayangan Kai di pikirannya. Selintas bayangan tentang wajah Kai yang tertawa lepas berlari di kepalanya.

“Ia akan sangat tampan mengenakan seragam perpisahan ini.” Baekhyun menyahut. Entah ini bercanda atau serius. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Leera, orang yang sangat merindukkan Kai. Tetapi tidak bicara sedari tadi. Ia hanya diam. Dengan pandangan kosong yang hampa.

Chanyeol menoleh kepada yeoja itu. Merasakan aura yang biasa ia rasakan. Park Leera. Pasti ia sangat merindukan Kai. Itu pasti. “You’re so missing him, aren’t you?”  Chanyeol menoleh pada Leera.

Leera tidak menoleh padanya, masih dengan pandangan kosongnya. “Ya.”

Sangat merindukannya. Ujar Leera dalam hati.

“Aku sudah menelfonnya, tak pernah menyambung.” Kyungsoo angkat bicara. “Jika aku tahu kabarnya, aku pasti akan memberitahukan pada kalian semua.” Ia menegak ludahnya, lalu melanjutkan. “Aku bahkan tak tahu apa ia akan kembali lagi atau tidak.”

“Aku hanya ingin ia kesini bersama kita. Merasakan kita lulus bersamanya.”

Leera merasakan tubuhnya bergetar mendengar perkataan temannya sekarang. Kai, ayo kesini. Kita lulus bersama, kita ucapkan selamat tinggal bersama-sama. Leera memejamkan matanya, merasakan dirinya yang masih bergetar.

Sementara yang lain memasang ekspresi sedihnya.  Baekhyun mengusap punggung Chanyeol meragkulnya, Kyungsoo masih berkoar-koar mengucapkan usaha-usahanya untuk terus menghubungi Kai, sementara Sehun terlihat sangat sedih menyadari Kai tidak ada disini bersama mereka. Mereka semua ingat akan Kai. Namja cuek itu. Masih mempunyai banyak sisi baik di dalam sisi dinginnya.

“Semoga, disana. Ia baik-baik saja,”

“Kai-a! kami lulus! Kami lulus kai-a! lihat kami. Kami berhasil!”

Kim Jong In, lihat siapa saja yang merindukanmu disini…

Aku

Dan mereka.

#

2 months later,

Sudah 2 bulan setelah wisuda. Kini para lulusan sedang menikmati liburannya dan beranjak mengurus universitas yang akan mereka masuki. Sekarang bulan februari dan esok hari adalah hari ulang tahun Park Leera. Besok, ia akan genap 19 tahun. Ia sendiri tak menyangka kini ia telah lulus dari Sekolah Menengah Atas dan menjadi seorang mahasiswa.

Sejak liburan kelulusan, Seohyun dan Chanyeol pulang ke kampong halaman mereka. Insandong, yang terletak di bagian barat Korea Selatan. Menjumpai sanak keluarga mereka. Sedangkan Kyungsoo, Sehun, Suho, dan Baekhyun memilih untuk pergi liburan ke Jeju merayakan kelulusan mereka selagi liburan. Park Leera tak ada pilihan lain selain tinggal saja di Seoul. Toh, jika ia ikut para namja. Ia akan menjadi yeoja sendirian, karena Seohyun sudah pulang ke kampungnya dan ia merasa kurang pas saja jika ia mengajak teman lainnya pergi bersama mereka. Park Min Hee misalnya. Ia rasa komplikasi Minhee dan gank EXO tidak cocok.

Baiklah, ia hanya menghabiskan waktunya di rumah untuk melukis, belanja, pergi dengan ibu dan ayahnya makan malam di luar, tidur, melukis, belanja, les melukis, dan sebangsanya. Kegiatan yang ia selalu keluhkan karena begitu membosankan. Percuma mengalami libur yang panjang namun membosankan seperti ini.

Suatu sore di hari sabtu, 6 februari. Park Leera pergi ke suatu toko di daerah Gangnam. Ia sengaja pergi sendiri di sore hari menggunakan taksi, eomma nya sudah memintanya untuk mengantarnya, begitu juga dengan appa nya. Namun yeoja itu menolak, ia ingin pergi sendiri. Taksi itu melewati apartemen yang ditinggalinya dulu, Sunrise Apartment. Disaat ia masih bersikap bocah dan sama sekali tidak dewasa. Disaat hal-hal konyol dan menyebalkan terjadi. Lagi-lagi bayangan wajah Kai yang tersenyum, marah, datar, hingga tertawa lepas terngiang di pikirannya. Manic mata Leera hanya sekedar mengintip dari balik kaca taksi. Tersenyum tipis mengingat kejadian 3 tahun yang lalu. Banyak sekali masalah yang menghampiri hidupnya, disaat ia masih terlampau belia. Segala perasaannya diaduk-aduk menjadi satu. Antara sedih, bahagia, senang, ataupun kesal. Dan semua itu membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Menjadi lebih dewasa, dan belajar dari pengalamannya dahulu.

Tak ada kejadian tanpa hikmah.  Semua itu kita lalui dengan sukar, walau akhirnya kita dapat keluar juga. Park Leera tertegun sembari memikirkan semua itu,

Benar juga…

Ia memang sering mengalami masa sulit. Tetapi Tuhan selalu membantunya melaluinya. Hingga ia seperti sekarang ini. Entahlah, mungkin tanpa semua masalah yang terjadi di masa lalu, ia takkan belajar dari ketegaran. Ia mungkin takkan menjadi sekuat ini.

Rasa rindu pada Kai yang meluap-luap. Tidak semelankolis di waktu-waktu terdahulu. Leera mengolah pikirannya menjadi hal yang positif. Kai, oh teman lamanya yang sempat ia menaruh hati padanya… adalah orang yang tegar. Yang selalu meyakinkan semua orang bahwa ia baik-baik saja. Sedang apa ia sekarang? Leera bertanya-tanya. Ia memang tak bisa mengelak bahwa ia merindukan Kai yang berada disana. Akan tetapi, ia akan terus menahan rasa rindu yang berlebihan untuk dinetralisir menjadi suatu rindu yang tipis. Karena, semakin ia memikirkan kerinduan itu. Ia akan semakin tidak dewasa. Benar bukan?

Sampai sekarang Leera terus berharap agar ia bisa hidup tanpa gangguan apapun di otaknya, di pikirannya, dan di memorinya. Seperti orang lain, yang menjalani hidup normalnya.

Titik embun sore di kaca taksi terjatuh secara bergantian, jalanan semakin riuh, dan taksi berjalan semakin jauh dari daerah perumahan menuju daerah komersial. Sedikit lagi menuju Gangnam. Leera mengedip-kedipkan matanya yang sedikit berair. Tidak. Ia tidak menangis. Atau lebih tepatnya, belum menangis.

Ia hanya terharu, telah mengalami masa-masa yang indah di masa lalu.

#

Gangnam,

Tangan mungil itu merasuki permukaan kain katun yang lembut, mengitari sisi atas hingga bawahnya, sembari memandangi keindahannya. Aroma di toko itu membuatnya begitu senang dan membantunya mengingat sesuatu. Parfum jeruk. Ia terus menghirup aroma segar itu ke dalam hidungnya sembari menikmati keindahan baju-baju mahal yang dipandanginya dan disentuhnya.

Ia tidak ingin membeli baju indah itu. Ia hanya tertarik dengannya saat ia melintasi toko ini. Toko yang tampak bersinar di benaknya, kacanya yang bersih dan tembus pandang memberinya ruang untuk masuk ke dalamnya. Ia ingat saat dahulu ia bebas membeli apapun tanpa harus berpikir panjang. Hanya membutuhkan sedikit waktu untuk mencapai kompleks perbelanjaan disini.

Ia masih kenal dengan pemilik toko ini, hingga ia tumbuh menjadi seorang yeoja yang penuh kerja keras seperti sekarang. Dahulu ia hanya seorang gadis bertubuh mungil. Sekarang, ia memandang toko ini dengan pandangan yang berbeda.

Ahjumma.” Manik mata yeoja ini menangkap sesosok wanita paruh baya dengan lehernya yang semakin keriput. Ia masih mengenakan eyeshadow berwarna biru tua secara tipis, memadukannya dengan mantel yang ia kenakan.

Yeoja ini membungkuk sopan, “Annyeonghaseyo.”

“Wa, jinja? Ini kau?” Wanita paruh baya itu dengan tidak percaya menekan-nekan pipi yeoja di depannya. “Ini benar-benar kau? Kau sudah sangat besar sekarang!”

“Iya, Ahjumma. Ini benar-benar aku.” Ujar yeoja itu sembari tersenyum ramah.

Sang wanita paruh baya langsung menghambur memeluknya dan ia membalasnya dengan erat. “Kenapa kau jarang kesini?”

Aku tidak punya banyak uang seperti dulu, ahjumma.

Yeoja itu hanya menjawabnya dengan tersenyum. Memilih tidak menjawab. “Lihatlah tokomu yang semakin bagus ini.”

“Aku suka wangi parfumnya.”

Wanita paruh baya itu tertawa senang, “Wah kau memang pintar memuji! Kau tampak lebih cantik dan dewasa sekarang. Jauh lebih indah dari perubahan tokoku.” Balas wanita itu. “Oh iya, ini tanggal tua. Pantas saja kau tidak membeli baju disini.”

Yeoja itu hanya mengangkat alisnya dan mengangkat bahu. Lalu tertawa kecil, “Kau selalu dapat membaca pikiranku, ahjumma.”

Tiba-tiba tangan sang ahjumma menyodorkan sesuatu pada yeoja itu. Lalu tersenyum senang, “Aku sangat menyukai anak sepertimu sehingga entahlah. Aku merasa kau harus mengambil salah satu baju di toko ini dengan gratis.” Ujarnya mengedipkan sebelah mata.

“Apa ini?” Tanya yeoja itu. Mempertanyakan kertas kecil yang diberikan ahjumma padanya.

Ahjumma menjawab dengan senang, “Itu tanda pembelian baju tanpa bayar. Silahkan tunjukkan itu pada kasir.”

“dan oh, sayangnya aku sangat sibuk. Aku takbisa menemanimu mengobrol sejak kita lama tidak bertemu.” Ahjumma itu menunjukkan layar ponselnya. Sebuah panggilan masuk. “Aku permisi dulu ya. Salam untuk ayahmu.”

Yeoja itu tersenyum dan matanya mengikuti ahjumma yang berbalik badan dan pergi menuju pintu keluar toko.

Kring.

Bunyi bel pintu toko berbunyi seiring tertutupnya pintu itu.

Tiba-tiba mata yeoja ini melotot. Ia mendapati sesuatu di luar toko. Yeoja itu!

Park Leera!

Ia pun memasukkan kertas kecil tadi ke kantungnya dan berlari menuju pintu keluar toko. Mengejar Park Leera yang berjalan pelan menuju arah lain.

Yeoja ini berlari hingga berada tepat di belakang Park Leera. “Annyeonghaseyo, Park Leera.”

Yeoja yang dipanggil itu sedikit tersentak karena ada yang memanggilnya, lalu ia menoleh dan semakin tersentak akan siapa yang ditemuinya sore ini di Gangnam.

“Park Jiyeon?”

Jiyeon menatap Leera dari atas hingga bawah, dan ia sungguh-sungguh menyadari bahwa gadis di depannya adalah Park Leera. Gadis yang ditemuinya 3 tahun yang lalu dengan wajah sembab yang terlihat seakan-akan ia menangis setiap harinya. Ia hanya ingat hidungnya yang merah, bibirnya yang pucat, dan wajahnya yang sangat frustasi. Gadis yang cengeng dengan jiwa yang rapuh.

“Jagalah ia baik-baik, Park Leera.”

Ia selalu ingat itu semua. Disaat Kai kecelakaan.

“Dasar gila! Yeoja macam apa kau hah?! Kau berani datang kesini?!”

Hingga nada suara Leera yang meninggi karena marah padanya. Jiyeon benar-benar diliputi rasa bersalah juga saat mengingatnya. Semua itu langsung mencuat ke permukaan, disaat ia mengingat semuanya.

“Aku memang salah. Aku minta maaf.”

Jiyeon terpaku, membeku. Hingga Park Leera memandangnya dengan heran dan memanggilnya.

“Park Jiyeon? Annyeong?”

Jiyeon mengejap-kejapkan matanya, ia melihat wajah Leera yang tersenyum ramah padanya. Seperti senyumnya saat menyapa ahjumma tadi. Ia benar-benar senang Leera masih ingat padanya dan meresponnya dengan senang seperti ini.

Jika Jiyeon bertemu Leera tentu saja kita semua tahu apa topic yang akan dibahas oleh mereka. Karena hanya satu hal itulah, mereka punya alasan untuk saling kenal.

Kai.

Annyeonghaseyo, sekali lagi. Senang bertemu kembali.” Jiyeon membungkuk sopan.

“Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di Gangnam.” Leera bertutur sarkatis. Walau awalnya ia bingung ingin bicara apa. Saat ia melihat Jiyeon, itu juga semakin membangkitkan ingatannya akan Kai. Kai yang pergi. Yang tidak akan kembali. Apa, Jiyeon tidak tahu bahwa Kai pergi ke US?

“Aku juga tidak.” Jiyeon tertawa kecil. “Tidak terasa sudah selesai masaku disini. Kita sudah lulus sekolah.”

Leera mengangguk. Entah mengapa ia merasa sedih menyadari semua orang bertambah dewasa dan akan meniti jalannya sendiri-sendiri.

“Kurasa lebih baik kita mengobrol sembari berjalan. Apa kau ingin makan di Light Sheets?” Jiyeon tiba-tiba menawarkan untuk pergi ke sebuah café.

“Oh baiklah.”

#

US.

“Kau tidak akan terus berdiam disini bukan?”

Hyunsik duduk di sebelah anak lelaki satu-satunya itu. Menatap wajahnya yang disukainya, lalu menyadari bahwa ia tak menanggapi ucapannya. “Kau sudah ada disini sejak satu jam yang lalu dan kau tidak beranjak kemana-mana.”

Anak laki-lakinya itu menghembuskan nafas panjang setelah mendengar ibunya berbicara. Ia mengalihkan pandangannya dari langit yang mulai gelap di senja hari. “Aku hanya merasa bersyukur.”

Hyunsik tertegun mendengar ucapan Kai. Sedangkan aku, merasa seperti ibu yang paling bahagia di dunia,”Apa kau merasa berbeda?”

Kai mengangguk pelan. Lalu menoleh pada ibunya dengan tatapan sangat bahagia, “Sangat berbeda.”

Kai baru saja menjalani operasi dan pemeriksaan syaraf di rumah sakit yang selalu ia datangi tiap harinya.  Operasi itu merupakan operasi yang paling besar dibanding operasi-operasi yang Kai alami sebelum-sebelumnya.  Paling besar dan juga yang paling berpengaruh.

Kai. Ia sangat senang ketika ia mendengar pernyataan bahwa ia.

Telah sembuh.

Telah sembuh dari penyakitnya. Yang selama ini mengganggu memori indahnya yang ingin selalu ia ingat. Yang selalu ingin ia ingat selamanya.

Tak ada kata-kata yang dapat terungkap saat Kai menyadari bagaimana keadaannya sekarang. Ia hanya tertawa. Tertawa seakan-akan baru saja mendengar lelucon terbaru dari Byun Baekhyun, temannya di Korea Selatan. Tidak ada tangisan, tak ada rasa haru yang berlebihan di wajah Kai. Semua itu hanya dibalut oleh tawa keringnya tadi.

Tawa biasa yang kau lakukan saat orang-orang membuat lelucon yang lucu, lalu kau tertawa.

“Dimana kau ingin kuliah?” Tanya Hyunsik memecah suasana. Pertanyaan yang begitu sensitive tadi sepertinya terasa merubah atmosfer di sekitarnya.

“Di tempat yang aku inginkan.”

“Dimana itu?” Tanya Hyunsik, hingga memajukan tubuhnya untuk tegak menghadap wajah anaknya. Ia butuh ekspresi anaknya untuk menentukan apa ia serius atau tidak.

“Kau pasti tahu dimana aku ingin kuliah kan, eomma?”

#

Light Sheets,

Mereka tampak seperti makan di meja taman yang terbuat dari kayu alami dengan aroma café yang dipenuhi wangi roti yang dibakar dengan mentega. Suasana di café itu benar-benar hangat, dengan kepulan asap minuman panas yang menghangatkan tenggorokan.

Leera dan Jiyeon duduk berhadapan di balik kaca café yang begitu luas dan licin. Dari sana terlihat rombongan orang yang berlalu-lalang.

Pelayan berseragam dengan warna pastel mengantarkan dua buah minuman. Satu gelas tinggi yang berisi serutan es dank rim berwarna cokelat dan secangkir coffee late dengan asap yang mengepul di atasnya.

“Aku sedang tidak lapar.” Ujar Leera sembari menyeruput coffee latenya yang hangat. Sore ini begitu berembun dan ia rasa pas jika ia memesan minuman hangat.

Jiyeon mengaduk es nya dengan sedotan, “Aku juga.” Balasnya.

Mereka terlihat menikmati minuman masing-masing hingga beberapa menit terdiam. Sehingga Leera yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.

“Apa kau tidak pergi kemanapun di saat liburan?” Tanya Leera, bertanya-tanya apakah ada orang yang bernasib sama dengannya.

Jiyeon tertawa kecil, “Ani. Aku harus menjaga toko hingga 2 hari yang lalu. Kemudian aku berhenti bekerja setelah itu.” Ia terhenti sebentar untuk menyendokkan krim ke dalam mulutnya, “Hari ini, aku akan pulang kembali.”

Leera mengangkat alisnya heran, “ ‘pulang kembali’ ?” tanyanya.

Jiyeon mengangguk, “Ya. Pulang kembali ke Insandong—“

“Kalau begitu kau kenal dengan Seohyun dan Chanyeol?” Leera mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu mendapati Jiyeon yang tertawa sedikit geli.

“Kau tampak sangat antusias, Leera-sshi. Tentu saja aku kenal mereka. Mereka teman beasiswaku dan Chanyeol adalah sahabatku sejak aku pindah kesana.” Jiyeon menjawab dengan stay cool. Leera memandangi dan memerhatikan cara Jiyeon menjawab, ia memang mirip dengan Kai. Bedanya, Jiyeon sangat suka tertawa kecil dan ramah.

Leera sebenarnya baru mengetahui tentang status Chanyeol sebagai seorang sahabat bagi Jiyeon, mantan kekasih Kai. “Maksudmu, Park Chanyeol? Teman sekamar Seo Joo Hyun?”

Jiyeon yang sedang menghirup serutan es di gelas panjangnya serasa tersedak mendengar pertanyaan Leera, “Oh, jadi ia tidak bohong. Ia benar-benar sekamar dengan Seohyun.” Jiyeon batuk sebentar. “Eh iya, Park Chanyeol.”

Leera mendapatkan fakta baru bahwa Chanyeol ternyata mempunyai sahabat seperti Park Jiyeon. Ia tak menyangka orang yang pernah disukainya dulu bersahabat dengan gadis yang sangat fenomenal baginya ini. Mengapa dunia begitu sempit?

“Oh iya, bagaimana denganmu?” Jiyeon menatap Leera yang baru selesai berantusias.

Leera menggeleng kecil, “Aku hanya berdiam disini. Sementara semua temanku pergi berlibur.”

“Kai?”

Dep.

Leera akhirnya sampai di topic yang entah ditunggunya atau  dihindarinya. Kai. Tak bisa dipungkiri, pasti semua basa-basi ini akan berakhir dengan topic, Kai. Inilah tujuan Jiyeon sebenarnya bukan?

“Dia pergi ke US.”

Terdengar kesenyapan yang terlalu lama. Jiyeon tampak tidak bergeming dengan pupilnya yang ternyata mengecil. “US?” Tanyanya kaget, namun dengan ekspresi yang samar.

Leera mengangguk sangat keras, “Exactly, jadi kau tidak pernah mendengarnya? Ia berobat ke US. Penyakitnya sudah semakin parah.”

Jiyeon meneguk ludahnya berat-berat. “Aku kira ia sudah sembuh sejak dirawat di rumah sakit? Sejak kapan ia di US?” Bahkan Jiyeon bertanya bertubi-tubi. Ia sangat terlihat kaget, terkejut, dan panic. Entahlah, mungkin ia merasa bersalah atau prihatin.

“Sejak 2 setengah tahun yang lalu kira-kira. Ia pergi di semester 2 saat kita kelas 1 dan masih belum kembali hingga hari ini.” Entah mengapa ada rasa tergores di hati Leera saat mengucapkannya. Mengucapkan kenyataan pahit yang terkubur dari dalam hatinya, yang tak pernah disuarakannya.

“Du,du, dua tahun?” tiba tiba Jiyeon terbata. Jarinya semakin kuat menggenggam lengan gelas. “Apa kau sudah menghubunginya?”

Leera menjawab sarkatis, “Jika kau bertanya begitu. Aku terlalu over dalam menghubunginya sehingga aku berlatih untuk mengurangi untuk menghubunginya. Ia tak pernah mengangkat telfon tetapi terkadang ponselnya juga mati.”

“Pasti kau sangat merindukannya.” Ucap Jiyeon sembari menunduk. Terdengar nada sedih dari ucapannya. Entah mengapa ia jadi ingat saat ia berpisah dengan Kai dulu.

“Selamat tinggal, Kim Jong In.”

Walau sebenarnya, ia yang membuat perpisahan dan Kai yang setengah mati merindukannya dan mencarinya kemana-mana.  Tetapi, siapa yang tidak sakit hati. Tentu saja sakit meninggalkan apa yang seharusya tidak ditinggalkan. Jiyeon tahu benar, apa yang dirasakan Leera saat ini.

Sekarang, rasa yang dimilikkinya terhadap Kai memang sudah tidak ada. Tetapi, yang ada hanyalah. Rasa kasihan, prihatin, dan khawatir. Mau bagaimanapun juga. Dahulu, Jiyeon dan Kai adalah sahabat yang dekat. Mereka hanyalah sepasang sahabat yang jatuh cinta. Tapi itu dahulu, saat mereka kecil dan tentunya akan berbeda untuk sekarang.

“Park Leera. Aku yakin ia akan datang kembali.” Jiyeon mengusap tangan pundak Leera yang tampak lemas setelah memberitahu keadaan Kai padanya.

Leera hanya menghembuskan nafas berat. “Molla. Aku tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Masih banyak yang harus aku pikirkan.”

Ya, sebenarnya Leera sudah mencoba untuk menahan semua emosinya yang berlebihan tentang Kai,  karena itu sungguh tidak dewasa. Ia harus focus kepada hal yang lebih penting. Tetapi, saat ia bertemu Jiyeon saat ini. Semua menjadi berbeda.

“Kau ini benar-benar hebat mengalihkan sesuatu ke sesuatu yang lain.” Jiyeon tersenyum miring, “Tapi kau tidak akan pernah kuat jika hal yang kau coba alihkan itu tiba-tiba datang kembali. Reaksimu akan sama sebelum kau coba untuk mengalihkannya.”

“Usaha yang bagus.” Jiyeon mengangguk dan memberikan jempolnya.

Leera hanya tertawa prihatin pada dirinya sendiri, “Haha. Entahlah. Aku bahkan tidak mengerti apa yang coba aku lakukan–”

“Kau tidak bisa memaksa untuk melupakannya.” Sahut Jiyeon.

Leera memandang Jiyeon lama, benar juga. Kai tidak akan hilang semudah itu.  Yeoja di depannya ini memang jauh lebih dewasa darinya. Jiyeon, ia sangat pandai membaca pikiran orang lain dan sangat berpengalaman dalam hal apapun. Orang ini begitu pintar.

“Oh iya. Leera-sshi. Kau tahu, daritadi sebenarnya aku merasa tidak tenang. Mendengar  bahwa Kai dirawat ke US. Membuatku merasa bersalah.” Jiyeon meneguk ludahnya dan pandangannya terlihat sedih.

Leera menggeleng, “Kau tidak perlu khawatir, karena mau bagaimanapun juga. Ia sudah memaafkanmu bukan? Itu bukan salahmu, aku saja yang waktu itu terbawa emosi. Mianhae. Kai memang mempunyai penyakit keturunan.”

“Jika itu benar. Aku akan sangat senang jika aku dimaafkan. Semoga ia cepat sembuh ya.” Jiyeon meghembuskan nafas lega. Tetapi masih jga merasa sedih karena sahabat lamanya yang sakit.

“Lain kali, kau harus bilang itu langsung padanya.”

Drrrt

Drrrt

Tiba-tiba sebuah dering telfon berbunyi. Ponsel milik Jiyeon. Kepala yeoja itu terlihat celingak-celinguk kea rah luar café. Mencari seseorang yang telah dijanjikannya.

“Dimana kau?” Tanya Jiyeon pada ponsel.

“Ooh. Baiklah. Tunggu aku disana.” Jiyeon langsung mematikan telfon dan menatap Leera dengan tatapan minta maaf.

“Aku sungguh minta maaf karena aku harus pergi sekarang.” Jiyeon beranjak dari kursi. “Sebelum itu, bolehkah aku meminta nomor telfonmu?”

Leera mengangguk dan memberikan kartu namanya.

“Ne, gomapta, Leera-sshi. Lain kali kita ketemu lagi. Senang berbincang denganmu. Tolong sampaikan salamku padanya. Aku pergi dulu.” Jiyeon melambaikan tangan pada Leera dan membalikan badannya.

“Selamat tinggal, Jiyeon-sshi. Senang dapat berbincang denganmu.” Ujarnya dengan tersenyum ramah.

Ketika sudah sampai pintu café, Jiyeon kembali berbalik dan berlari kea rah Leera.  “Ini. Untukmu.” Jiyeon menyerahkan sebuah kertas kecil ke dalam telapak tangan Park Leera. “Aku tahu aku tak akan sempat membeli barangnya sekarang. Selamat tinggal.”

Leera memandangi Jiyeon dengan sedikit terbengong. Hingga akhirnya yeoja itu pergi menuju seseorang dan berlari menuju tempat parkir.

Ia merasa sedikit terkejut bertemu Park Jiyeon hari ini. Namun ia senang dapat berbagi pikiran kepada orang lain. Sepertinya Jiyeon adalah orang yang tepat untuk diajak mencurahkan isi hati.

#

“Aku pulang.”

Leera memasuki ruang tamunya dan memandangi isi rumahnya. Appa nya yang sedang tertidur di sofa. Beliau baru saja pulang dari tugas ke luar kotanya dan ia kini begitu lelah. suara televisi masih menggema di ruang tengah, ditinggal olehnya tidur. leera menghampirinya dan mematikannya. lalu memandangi raut ayahnya sejenak, ia sangat lelah.

sekarang waktu telah menunjukkan pukul 7  malam. leera menaikki tangga dan menuju ke kamarnya untuk berganti baju, sebelumnya ia meratapi dirinya di cermin panjang. style nya masih seperti dulu, dan ia baru sadar bahwa sekarang ia mengenakan dress berwarna lemon yang dlu dipakainya saat pergi bersama kai ke supermarket. ia pun mengambil handuknya dan menghidupkan air panas untuknya. ia  butuh berendam di bath tub karena ia merasa sangat lelah malam ini.

#

Di suatu tempat,

namja itu memasang earphone miliknya lalu memandangi jendela yang dipenuhi awan gelap. disana sudah hampir larut dan langit sudah hitam. ia mendengarkan lagu favoritnya seperti biasa dan mulai bermain game di ponselnya. amazing ninja permainan yang simpel namun sulit, tapi apa sulitnya bagi Kai jika ia sudah mengumpulkan high score sebesar 12233? angka yang fantastis. jika kebanyakan orang hanya dapat mencapai angka puluhan, kai akan mencapai ribuan.

walaupun kini ia bebas memikirkan memori apapun. kai tidak memanfaatkannya untuk itu. melainkan ia sekarang sedang berusaha menetralkan untuk tidak memikirkan apa-apa. ia sudah mempunyai tujuan yang besar. sesuatu yang semua orang takkan menyangkanya. walaupun rencananya ini terdengar sangat cheesy dan berlebihan. tetapi kai harap ini akan dapat membayar semuanya. ia memang tidak terlalu jago membuat orang terpukau dengan sengaja. tapi kali ini ia akan berusaha.

“jangan terlalu banyak bermain game, kau harus istirahat.” eomma berbisik padanya di telinganya. kai tidak bergeming, masih melanjutkan permainannya.

game over.

“Oke, baiklah.” kai menoleh pada eommanya. melihat eommanya sekarang, ia ingin memberitahu sesuatu kepadanya tentang rencananya itu, tapi mungkin ia takkan mengizinkannya. ah sudahlah, lebih baik kai mengurungkan niatnya untuk memberitahu. ia akan melakukannya sendiri secara diam-diam.

dan benar juga. ia harus tidur agar ia tidak mengantuk malam itu.

#

10:00 p.m.

mereka semua telah selesai makan malam. hanya leera yang belum makan malam karena ia tertidur di kamarnya, eomma dan appanya sudah mencoba membangunkannya namun nihil, ia takkan pernah bangun dengan cepat jika ia sudah benar benar mengantuk.

“Hoam.” leera menguap dan menarik tangannya ke langit langit. ia  mengerjapkan matanya berkali kali dan mengusapnya. jam berapa ini? ia melihat ke arah jam weker di atas meja kecil di samping ranjangnya. 9 malam?! aku tertidur terlampau lama! leera langsung bangkit dari ranjangnya dan turun ke lantai bawah untuk mencari makan.

ia sangat lapar tentu saja. ia belum makan malam. ia berjalan pelan ke dapur dan menghidupkan lampu, benar saja tak ada orang lagi di ruang tengah. sebenarnya ia sempat berfikir, mengapa rumahnya begitu sepi? lalu leera berfikir lagi, bahwa hanya ada ia, eomma, dan appanya saja di rumah besar ini. entah mengapa ia merasa aneh sendiri menyadari rumah ini hampir kehilangan nyawanya jika leera tumbuh besar. yeoja itu mulai mendekati pantry dan dilihatnya sebuah kalender kecil di atas kulkas.

Febuary, 7th. LEERA BIRTHDAY!

ditulis dengan tinta pink di dekat tanggal 7 februari. leera tersenyum sendiri memandangi tulisan itu. itu kerjaan eommanya, membuat tulisan-tulisan di kalender. dan ia tersadar bahwa esok hari adalah ulang tahunnya, ya esok hari. atau lebih tepatnya 2 jam lagi. ia akan berusia 19 tahun. ulang tahun? semakin ia bertambah usia, ia merasa semakin sedih. dan sialnya alasannya adalah karena kai. kenapa kai? karena leera memang sangat tidak bisa melupakan suatu hal yang telah terlanjur ditunggu olehnya untuk kembali.

seiring bertambahnya usianya, ia semakin sadar bahwa kai pergi sudah terlalu lama. ya. itu yang selalu dipikirkannya tiap ia berulang tahun.

benar kata park jiyeon.

“kau tidak akan bisa memaksa untuk melupakannya, leera-ya.”

Leera jadi teringat percakapannya tadi sore dengan park jiyeon. bertemu dengan park jiyeon memang seakan-akan mimpi baginya.

kembali pada dunia yang sedang leera hadapi saat ini. ia mengambil piring dan mulai melakukan kegiatan makan malamnya di tengah malam.

skip>

kini leera telah selesai makan malam dan kembali ke kamarnya, ia membanting tubuhnya di ranjang. lalu ia memandang jendela kamarnya yang langsung berhadapan dengan langit. karena ia merasa tidak mengantuk sekarang, ia pun membuka gordennya dan memilih untuk memandang bintang dari balik jendelanya. di dekat jendela, terdapat kanvasnya, bertabur warna warna dan goresan tinta yang mengukir wajah seorang kim jong in yang belum jadi.

leera duduk di atas ranjangnya sementara tangannya menempel ke kaca jendela, seakan-akan ingin menyentuh bintang itu. ia pun memilih untuk membuka sedikit jendelanya agar angin malam yang dingin menerpanya, ia butuh sedikit manjaan angin malam. agar ia bisa kembali mengantuk. ia tidak mau terus terjaga hingga pagi bukan?

satu menit dua menit. hingga sepuluh menit. mata leera mulai lelah dan angin malam yang mengenakan menidurkannya bagaikan serbuk ajaib yang membuat orang tertidur. matanya pun mulai terpejam dan kepalanya terjatuh ke atas bantalnya.

dan bodohnya, jendela kamarnya itu belum tertutup!

~~~
~~~

“Hey, Leera-ya. Maafkan aku karena telah pergi terlalu lama.”

Aku benar benar menatap wajah Kim Jong In di depanku. ia benar benar kim jong in dan aku tidak berbohong. manik mata coklatnya mengunci pandanganku dan aku benar benar tidak kuasa untuk balas menatapnya terlalu lama.

aku pun takbisa berbicara apa-apa. ia terus menatapku dan juga takbicara dalam kurun waktu yang lama.

tiba tiba aku melihatnya menghirup udara dengan kuat lalu menghembuskannya dengan panjang. saat itu aku menyadari udara di sini memang sangat segar. udara yang kau takkan pernah bisa lepas untuk terus menghirupnya. namun karena aku terlampau kaku, aku tidak bisa mengikuti apa yang kai lakukan.

aku memandangi kai yang terus menghirup udara segar, lalu kai balik menatapku. “Coba kau lihat tempat yang indah ini.”

aku hanya merasa sedikit terusik karena aku sangatlah asing dengan suasana sepertii ini. akupun mendongakkan kepala ku ke atas dan aku baru menyadari bahwa, aku berada di tempat yang benar-benar tak pernah kulihat.

di atas sana adalah langit biru tua agak toska dengan gradasi gelap. dengan taburan bintang di permukaannya. bintang disana begitu banyak, dan bersinar. bintang yang tak pernah kulihat.

kurasakan kakiku di tanah, aku berdiri di atas rumput yang begitu lembut dan luas. dengan sedikit gelitikan angin yang membuat rerumputan itu mengenai betisku. kupandangi lagi sekitarku, aku bahkan tak tahu apa sekarang ini malam, fajar, ataupun pagi? karena matahari tak pernah mengeluarkan sinar yang teramat aneh seperti toska ke hitaman dengan bintang-bintang yang begitu terang gemerlapan.

hingga saatnya aku melihat ada seekor kunang-kunang yang begitu bersinar terbang melintas di antara aku dan kai. yang kemudian kurasakan cahaya kunang-kunang itu semakin banyak mengelilingi kami. mereka mengeluarkan serbuk serbuk yang bersinar gemercik. yang aku tidak tahu persis apakah mereka kunang-kunang atau bukan?

setelah mataku melihat kesana kemari, aku memandang kai dengan ekspresi takjub. terharu sekaligus senang. lalu kai tersenyum hangat kepadaku, manik matanya menghadap ke arahku. persis, persis seperti lukisanku di kanvas itu. suasana inilah, yang aku lukis di kanvasku.

aku balas tersenyum dan merasa benar-benar senang.

“Park Leera.”

“Park Leera.”

“Park Leera. bangun.”

Author pov

yeoja yang baru bangun tidur itu mengerjap kerjapkan matanya dan saat ia membuka mata, ia merasa sangat terang.

aih sial. hanya mimpi. aku tahu seharusnya aku tidak banyak berkhayal.

leera menguap sangat lebar dan kembali memejamkan matanya, ah sudahlah lagipula hari ini libur. aku terlalu lelah untuk bangun.

Leera kembali mengambil gulingnya. namun saat ia ingin mengambil gulingnya, ia merasakan ada tangan disana. tangan. ya sebuah tangan.

tangan seseorang.

leera spontanitas membuka matanya dengan lebar. melihat siapa yang berani memasuki kamarnya. eommanya? tidak mungkin. ia mengunci kamarnya. tidak mungkin.

tetapi, eh tunggu dlu. ia lupa bahwa tadi malam ia tidak mengunci kaca jendela kembali.

tapi, tunggu dulu…

“Hey, Leera-ya. bangun.”

Suara berat itu…

Itukan suara milik.

Leera membalikan tubuhnya ke kiri. lalu melihat siapa pemilik tangan itu. dilihatnya kai yang sedang duduk di ranjangnya.

Kkk.kai? dia. benar benar kai?

Saat ini bukannya ingin menangis, leera malah ingin menampar dirinya sendiri. jangan sampai alam bawah sadarnya menjadi rusak dan ia terbawa hawa imajinasinya sendiri. bodoh! tidak mungkin kan? tetapi leera terus mengerjap kerjapkan matanya mengusapnya dan menepuk-nepuk pipinya. tapi bayangan orang itu tak berubah.

namja di depannya itu masih diam. sepertinya leera tidak percaya jika itu benar benar dia. penerbangan pesawat dari tadi malam, dan ia baru sampai di rumah 3 jam yang lalu di Seoul. ia sudah mempunyai rencana besar. bukan begitu? sejak di pesawat tadi ia sengaja menetralkan pikirannya.

“Kau tidak sedang bermimpi.”

***

((sorry for typo dan cerita yang gak nyambung/gaje. Warning: bikinnya tengah malem, dikejer deadline, dan dikejer nafsu pengen cepet-cepet selesaian. Maafkan aku ya. Happy reading))

#

Orang ini.

Orang yang kuanggap tak mungkin muncul lagi dalam hidupku. Kini datang, di kamarku pukul 11:00 di tengah malam.

“Aku pulang.”

Kulihat Kai menarik senyumnya. Lalu tertawa setelah mengatakan dua kata yang benar-benar mengandung sebuah arti getir di dalamnya. Bagaimana bisa aku tertawa begitu saja menganggap bahwa tawanya bisa menular kepadaku, disaat aku baru menyadari bahwa ia pulang setelah 3 tahun pergi? Setelah aku tak dapat menghubunginya sama sekali. Disaat aku sudah berubah menjadi bukan Leera yang dulu  lagi.

Aku bahkan tak mengerti mengapa ia dengan mudahnya tertawa dengan kata-kata yang benar-benar mengaduk-aduk pikiranku?

Kai masih dengan air muka yang sama sejak aku melihatnya. Aku masih tercenung menatap wajahnya lama. Mencoba beradaptasi dengan bodohnya. Kusadari air mataku sudah tersesak di pelupuk mata. Tak berkedip, aku takkan berkedip. Aku ingin memandanginya sepuas aku bisa.

Satu detik. Dua detik.

Aku langsung menghambur memeluknya. Sangat erat. Benar-benar erat. Seperti aku tak mau kehilangannya lagi. Walau aku tak ada hak memaksanya untuk tidak pergi. Aku tidak menangis sesenggukan. Aku hanya mencoba merasakan kehangatan tubuhnya lama dan air mataku hanya jatuh perlahan bergantian tanpa aku memintanya.

Kurasakan tangan besar Kai yang juga memeluk tubuh mungilku.

Paboya. Ya, Paboya.

Aku ingin menjerit dibalik pelukannya. Ingin bilang bahwa ia bodoh sambil menjerit. Namun yang ada hanyalah nada suaraku yang lemah dengan linangan air mata.

#

Author POV

Kai menatap dinding di depannya. Ini bukanlah dinding kamarnya di US dulu. Aroma ini bukan aroma obat yang sering muncul di kamarnya. Ini di Seoul. Di kamar Park Leera. Temannya yang telah ia tinggalkan selama 3 tahun tanpa kabar.

Ia terus memeluk yeoja itu dengan erat karena sesungguhnya, tak bisa dipungkiri. Kai sangat merindukannya. Walau ia tak mengucapkannya. Walau kata-kata pertamanya hanyalah sebatas ‘aku pulang’. Sejatinya, ada seribu satu kata yang ingin diucapkan namja ini.  Namun mulutnya hanya sanggup berkata beberapa patah kata.

Paboya, Ya. Paboya.”

Suara Leera terdengar lirih di telinganya. Kata-kata ini. Kata-kata yang sering diucapkannya untuk Kai, di waktu-waktu sekolah dulu.

Paboya!

Kali ini Leera sedikit menjerit. Walau sebenarnya, Kai tahu bahwa ia takkan kuat untuk benar-benar menjerit di saat-saat seperti ini. Kai hanya diam. Ia rela mendengarkan ribuan kata-kata Leera yang menyerbunya sekarang. Ia hanya ingin dengar suara Leera. Yang hanya berceloteh untuknya malam ini.

Air mata Leera terus mengalir tanpa suara. Ia bahkan tak mengerti untuk bicara apa lagi. Ia terdiam beberapa saat. Dan setiap ia ingin mengucapkan sesuatu, ia kembali mengatupkan mulutnya.

“Bicara lagi, Leera-ya.”

“Aku ingin terus mendengar suaramu.”

Leera merasa sangat senang sekaligus sedih mendengar perkataan Kai padanya. Seakan-akan suara dan perkataan Kai adalah sebuah pisau yang selalu menusuk-nusuk hatinya. Setiap apa yang diucapkan Kai baginya mengandung suatu makna yang dalam. Karena ia selalu mengucapkan kata-kata dengan pelit. Sehingga, alangkah berharganya tiap kata yang keluar dari mulutnya.

Tapi, Leera takkan pernah bisa bicara lagi saat ada sesuatu yang menyuruhnya bicara. Ia menggeleng, melakukan gerak refleks yang membuat Kai menyadarinya karena jarak mereka yang berdekatan. Dirasakannya, Leera yang ingin melepas pelukannya dengan pelan. Namun spontan Kai menahannya tanpa babibu.

“Aku belum ingin melepaskannya.”

Leera hanya mengalirkan air matanya. Tak kuasa untuk bicara.

“Apakah kau sudah sembuh?” Leera bertanya dengan ragu-ragu.

Tidak ada suara yang menjawab. Leera malah kembali berujar pada Kai seakan-akan berujar pada dirinya sendiri di saat ia merindukan Kai, memandanginya lewat bintang di langit. Kini pikirannya yang tersumbat oleh kedatangan Kai mulai terbuka lebar. Seharusnya ia tidak mengatai Kai ‘pabo’ karena sesungguhnya itu haknya untuk berobat disana. Selama apapun itu.

“Seharusnya aku mengerti. Seharusnya aku tidak egois. Seharusnya aku tidak bilang bahwa kau bodoh. Seharusnya aku tidak merindukanmu. Seharusnya aku tahu kalau kau sedang berjuang disana. Maafkan aku yang tak tahu apa rasanya jadi kau, Kai-ya. Aku terlalu egois. Kau tahu. Mereka semua merindukanmu. Iya. Mereka, teman-temanmu. Dan juga aku. Disaat wisuda kami berfoto bersama dan kami sadar bahwa tidak ada kau disana.”

“dan jika kau mau tahu. Aku sangat ingin kau sembuh, karena aku tidak kuat melihat wajahmu yang terus menyimpan rasa sakit. Aku tak mau terus melihatmu terbaring di tempat tidur dengan mesin-mesin berisik itu. Aku tak mau melihat bangkumu yang kosong di dalam kelas, walau itu hanyalah 2 tahun yang lalu. Aku takmau melihat nama di papan sekolah yang kosong tanpa namamu.”

“Kim Jong In. Sesungguhnya kau telah melalui hal yang besar. Semakin jauhnya kau. Semakin terasa apa artinya kau bagiku. Karena sekarang aku sadar. Sangat sadar, bahwa aku membutuhkanmu.”

Ulasan panjang seorang park Leera. Tak pernah menyuratkan bahwa ia merindukan kim jong in. ia hanya bilang bahwa ia tidak seharusnya merindukannya. Bukan bilang bahwa ia merindukannya. Ia hanya bilang bahwa ia membutuhkannya, bukan malah merindukannya. Mengapa perasaan tidak tersampaikan dengan mudah. Melainkan rumit serumit memecahkan teka-teki?

Mungkin karena Leera tahu, bahwa perasaannya itu rumit. Perasaannya tidak semudah mengatakan, ‘aku mencintaimu’ atau ‘aku merindukanmu’. Tetapi, ia akan mengucapkan satu juta kata-kata samar yang mendekati perkataan melankolis tersebut.

Lalu Kai, ia juga begitu. Namun, titik perbedaannya terletak pada jumlah kata yang ia keluarkan. Kai hanya mengucapkan sepatah dua patah kata yang benar-benar klise untuknya.

“Park Leera.”

Kai terdengar bergumam.  Leera meneguk ludahnya, merasa sedikit malu dengan apa yang diutarakannya tadi.

“Terimakasih sudah menginginkanku sembuh.” Kai melepas pelukannya terhadap Leera secara lembut dan memegang pundak yeoja itu sembari menatap kedua matanya dengan senyum yang melebar di bibirnya.

Leera merasa kaget karena Kai memandangnya dengan senyuman manis seperti itu. Ini benar-benar senyum Kai. Senyum Kai yang ia lukis di kanvasnya. Dan sekarang senyum itu benar-benar nyata ada di depannya. Kai benar-benar ada di depannya. Menatapnya. Tersenyum kepadanya.

“Aku sudah sembuh.” Ujar namja di depannya itu dengan raut wajah bahagia. Belum pernah Leera melihat wajahnya yang sebahagia ini.

“kau memang orang yang kuat Kai-ya. Kau pantas menerimanya.” Leera ikut tersenyum senang. Walau di pipinya masih terdapat bekas air matanya.

“kau tidak perlu menangis, karena aku sudah disini dan baik-baik saja. Aku tak mau jadi alasanmu menangis, Leera-ya.” Tangan besar Kai beralih pada wajah Leera yang terlihat sembab. Ia memang hanya mengalirkan air matanya, namun efek di wajahnya benar-benar sangat besar. Matanya memerah, hidungnya memerah, dan wajahnya yang basah. Wajahnya yang begitu berantakan membuat Kai benar-benar merasa bersalah.

Kai menyingkirkan air matanya. Mengusap pipinya agar terasa sedikit kering. “Lihat hidungmu yang merah itu.” Kai kemudian mengambil tisu di dalam kantung kemejanya. Ia baru pulang dari airport dan tidak sempat berganti baju. Ia melepas sweaternya.

Ia lalu mengelap bekas air mata yeoja itu dengan sebuah tisu. “Gomapta.”

“Bahkan mengelap air matamu sendiri, kau tidak bisa.” Kai melempar tisunya ke dalam kotak sampah sembari mengatakan itu. Lalu tertawa kecil.

Ia melepaskan tangannya dari pundak Leera. ia masih ingin memeluk yeoja itu tapi, itu terasa sangat aneh. Sehingga ia lebih memilih melepaskannya. ia juga ingin menatap wajah Leera lama-lama. Dan ia juga harus cepat-cepat melaksanakan rencananya kesini.

“Oh iya. Aku juga sangat merindukan mereka.” Kai mengangguk pasti. Sembari mengingat kawan-kawannya di sekolah dulu.

“Rasanya sangat aneh ketika aku baru saja pulang, dan kalian semua sudah lulus.” Kai berujar lagi. Lalu ia mulai beranjak dari ranjang Leera yang sedari tadi ia dudukki.

Leera baru sadar saat ini. Bahwa ia berada di kamarnya di tengah malam, dengan seorang namja yang disukainya. Kim Jong In. tunggu dulu, untuk apa Kai ke kamarnya di tengah malam begini? Bukankahh itu sangat aneh. Apa jangan-jangan ini mimpi?

Leera menatap Kai yang berdiri di depannya. Sedang menatap kea rah lain dan membenarkan kemejanya yang kembali lusuh dan ia menggerak-gerakkan kepalanya agar rambutnya kembali rapi. Ya, itu Kai kan?  Lalu Kai berbalik badan dan mendapati Leera yang memandanginya dengan pandangan aneh.

mwo?” Kai menaikkan sebelah alisnya. Ternyata ia masih sama seperti dulu, sering menaikkan alisnya.

Leera tercenung sejenak, “Kau.. benar-benar—“ Leera terbata.

Kai masih menaikkan alisnya sembari menatap dengan tatapan aneh kea rah Park Leera. Lalu 5 detik kemudian Kai merasa mengerti dengan apa yang Leera pikirkan. “Tenang saja, aku takkan berbuat yang aneh-aneh disini. Kita akan keluar.”

Tunggu dulu. Apa maksud Kai mengatakan ini? Leera benar-benar mengernyitkan alisnya. Ini mimpi ya? Pikirnya. Ia juga baru tersadar bahwa ia baru saja bangun dari tidurnya dan nyawanya belum terkumpul seutuhnya.

Leera masih terlihat berfikir. Sementara Kai kembali menyahut. “Kau masih berfikir jika aku akan berbuat yang aneh-aneh ya? Datang ke kamarmu malam-malam begini?”

Zing!Leera baru saja mengerti apa yang Kai bicarakan. “Aniyo! Kai-ya. Kau masih saja tidak berubah. Bahkan tak terlintas di pikiranku bahwa kau akan berbuat yang aneh-aneh. Huft. Byuntae.

Kali ini ekspresi Leera berubah menjadi sedikit kesal. Namun padu padan antara kesal, sedih, bahagia, dan wajahnya yang sehabis menangis. Terlihat lucu. Bahkan sangat lucu untuk Kai. Mengetahui Leera yang sedang kesal menyadari bahwa pikiran Kai memang tidak berubah dari dulu hingga sekarang, membuat Kai tertawa. Kali ini benar-benar tertawa lepas.

“Kau masih sangat polos, Park Leera.” ujar Kai sarkatis masih menyisakan tawa di tengah-tengah perkataannya.

Oke, kini mereka telah lulus sekolah dan Kai masih menganggap bahwa Leera sangat polos. Baiklah jika Kai sudah tidak polos lantas apa yang ada di pikirannya sekarang ini?

“Maksudku. Aku bertanya-tanya apakah ini mimpi atau bukan.” Leera sedikit bersungut kesal. Namun ia juga geli dengan dirinya sendiri, sehingga ia sedikit tertawa. Kesal dipadu dengan senyum yang menyempil di tengah-tengah kesalnya.

“Aku sudah bilang bahwa ini bukan mimpi, Leera-ya.” Kai berjalan kea rah Leera yang masih terduduk di ranjangnya. Lalu memberi tangannya.

Kajja. Ayo kita keluar.”

Leera spontanitas kaget. “Ige mwoya, Kai-a? Kau gila? Ini tengah malam!” terkejut bukan main karena Kai mengajaknya keluar di tengah malam begini. “Lagipula eomma takkan pernah mengijinkan aku keluar di tengah malam.”

Tapi ada sedikit rasa setuju di dalam hati Leera. karena ia benar-benar ingin menghabiskan waktunya dengan Kai sekarang. Tapi, oh come on. Ini tengah malam. Dan jika ia mau berfikir lebih dewasa, bukankah sebaiknya mereka menunggu hari esok untuk keluar?

Kemudian, manik mata Kai beralih pada jendela kamar Leera yang terbuka lebar.

Leera membelalakan matanya lalu menggeleng, “Aku tidak seberani itu turun dari lantai dua.” Lalu ia melanjutkan kata-katanya, “Kau gila. Mau membunuhku?”

“Tentu saja aku telah mempersiapkan semuanya. Aku akan memegangimu. Itu mudah.” Kai mengangkat kedua tangannya.

Leera menggeleng, “Tidak semudah perkataanmu, Kim Jong In. Jangan keras kepala. Kau baru saja sembuh dan kau baru saja pulang. Baru-saja-pulang.” Leera menekankan kata-katanya sembari menolak dengan tegas. Ia menguatkan dirinya sendiri bahwa ia harus dewasa. Ia harus rasional.

“Aku baru saja pulang dan aku akan langsung membuatmu bahagia.” Kai menarik sebelah bibirnya. Membuat sebuah smirk. Oh tidak. Leera benar-benar tidak kuasa dengan senyum miring Kai yang satu ini. “Percayalah padaku.”

Leera bangkit dari ranjangnya namun ia belum setuju dengan perkataan Kai. Walau ada sedikit rasa penasaran yang menghantuinya karena Kai bilang ia akan segera membuatnya bahagia. Apa sebenarnya yang ia maksud?

Leera dengan penasaran berbalik dan berjalan menuju jendela. Lalu menatap ke bawah.  Ada sebuah tangga yang mudah dinaiki. Tangga itu mempunyai pegangan yang tipis. Pantas saja Kai berani meminta Leera untuk turun.

“bagaimana caramu melewati satpam? Kau bisa dikira pencuri.” Leera bertanya pada Kai yang berada di belakangnya. Terdengar derap langkah mendekat ke arahnya dan berbicara di dekat telinganya.

“aku tak melewati bagian depan rumahmu.” Ujar Kai. “Sudah yakin padaku?” Kai menundukkan kepalanya agar Leera dapat melihatnya.

“Ini tengah malam.” Ujar Leera sembari menatap wajah Kai yang menyempil kecil ke depan wajahnya. Leera sedkit memundurkan wajahnya karena Kai mendekat secara tiba-tiba. Namja ini semakin lama semakin jahil saja. Membuat pipi Leera bersemu merah yang tersembunyi dibalik kegelapan malam.

“Ayolah.” Kali ini Leera ingin menampar dirinya sendiri karena ia sedang melihat Kai yang memperagakan puppy eyes. Oh yang benar saja. Seorang Kim Jong In yang seperti kulkas ini memohon padanya dengan ekspresi, um puppy eyes? Alangkah pintarnya ia untuk membujuk. Leera berusaha kuat dengan jati dirinya, ia kan sudah berjanji untuk merubah sifatnya yang kekanak-kanakan.

Tapi. Ia juga tidak tega melihat Kai yang sia-sia datang kesini. Ia pasti baru saja pulang dari airport. Pikir Leera. ia benar-benar tipikal yeoja yang memikirkan perasaan. Tapi apakah mungkin, Leera harus keluar di tengah malam begini?

Itu sangat beresiko.

Leera berfikir terlalu lama sehingga Kai mengambil alih pembicaraan.

Gwaenchana.” Ujarnya pelan dengan nada sedikit kecewa. Ia melihat jam tangannya dan sekarang sudah pukul sebelas lewat lima belas. Pandangan namja itu menunduk menyisakan siluet patahan wajahnya yang indah dari samping.

“Aku akan pulang. Sampai jumpa.”

Kai tersenyum samar kepada Park Leera sekaligus mengucapkan selamat tinggal. Kai mulai memanjat jendela Leera dan turun melewati tangga. Lalu melambaikan tangannya.  Namja itu pun mulai turun ke bawah.

Leera menggigit bibirnya. Apakah ini keputusan yang tepat? Leera terus berfikir, berfikir, dan berfikir. Ia kembali menatap Kai yang turun ke bawah. Semakin lama Kai akan semakin hilang dan tidak terlihat lagi. Satu detik dua detik. Leera terus berfikir dan memukuli kepalanya sendiri.

He always make me weak. Whatever he does.

Lalu beberapa detik kemudian Leera langsung menyambar jaketnya dan mengenakan alas kaki. Kemudian ia langsung berlari kea rah jendela dan sedikit menjerit ke arah Kai.

“Aku ikut!”

#

11:30 p.m.

Leera tak percaya kini ia duduk di dalam mobil Kai.

Ia tak percaya Kai sudah pulang.

Ia tak percaya Kai menyetir mobil yang ia tumpangi.

Ia tak percaya ini tengah malam.

Ia tak percaya bahwa ia melakukan ini.

Menerima ajakan Kai keluar di tengah malam.

Ia menatap jalanan Seoul di tengah malam. Masih ramai. Lampu-lampu kota masih hidup dan lampu-lampu komersial akan terus bersinar sepanjang malam. Leera membuka jendela sehingga angin malam bisa masuk ke dalamnya. Lalu yeoja itu menatap langit di atasnya dan mendapati banyak bintang bertaburan disana.

Ia langsung ingat saat ia dulu merindukan Kai. Ia selalu memandangi langit yang bertaburi bintang sembari memohon agar Kai juga melihat langit di waktu yang sama dengannya.

Yeoja itu lalu memandangi Kai dari samping. Kai yang sedang menyetir. Kai yang sudah dewasa, mereka kini sudah dewasa. Tidak mengenakan seragam sekolah lagi. Dan mereka akan memilih jalannya sendiri-sendiri.  Tak ada lagi urat yang sering menonjol di kepala Kai tanda menahan rasa sakit. Kai sudah sembuh sekarang. Kai tampak seribu kali lebih baik dari sebelumnya.  Ia terus menatapnya dari samping. Menganguminya, melihatnya dengan wajah yang sedang serius menyetir sangat menyenangkan.

Wae?”

Tak sadar, kini kepala Kai sudah menoleh ke arahnya. Lalu kembali focus ke jalan sembari tertawa geli.

Leera merasa salah tingkah. Bodoh sekali. Leera, kau tertagkap basah. Kau bukan pemerhati yang handal. Wajahnya kini seperti sebuah udang rebus, dan suhu badannya menjadi sedikit panas. Aish jinja. Bodohnya aku.

“Mungkin seiring bertambah dewasanya aku, aku mulai terbiasa untuk menahan gengsiku.” Leera menghembuskan nafas panjang dan mengatur detak jantungnya yang beradu. Tak ada salahnya kan mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya?

“Gengsi yang kau milikki terlalu mudah dibaca.” Kai berdesis pelan dengan nada sedikit mengejek.

Mwo? Sepertinya US memberimu banyak pergeseran budaya sehingga kau tampak lebih sering mengejekku saat ini.” Leera menoleh kea rah Kai yang ternyata sedang tertawa jahil. What was just happened with this guy?

Kai menampakkan wajahnya yang bahagia dengan mata yang mengecil sehabis tertawa. “Mungkin aku terlalu senang.” Lalu ia berdeham kecil, “Lalu apa hubungannya memandangi wajahku dari samping dan sebuah gengsi?”

Leera hanya menggeleng, “Tidak usah dijawab, kau pasti sudah mengetahuinya lebih dulu.”

Ya benar. Kai memang mempunyai daya pikir yang sangat cepat. Sehingga ia mampu membaca gerak-gerik orang lain secara cepat. Ia selama ini memang tahu bahwa Leera adalah orang yang sangat suka gengsi. Di segala bidang. Apalagi gengsi padanya, sudah ribuan kali Kai merasakannya.

Kai hanya membalas pernyataan Leera dengan tawanya.

“Kau sangat sering tertawa akhir-akhir ini.”  Leera memandang Kai dengan aneh. Walau sebenarnya ia sangat senang melihat wajah Kai yang tertawa.

Kai menjawab dengan cepat, “Sudah kubilang aku terlalu senang.”

Dan aku lebih dari itu Kim Jong In.

“Kita hendak kemana?”

Kai berbelok dan menuju jantung kota Seoul dengan aneka lampu-lampu menyilaukannya. Music-musik toko masih terdengar dengan nyaring saat Leera membuka jendelanya. Gedung-gedung setinggi awan bermunculan, menampilkan dirinya di tengah sorot lampu warna-warni milik kota.

Kai hanya tersenyum tipis, “Lihat saja nanti.”

Lalu sorot mata Kai berpindah pada jam di mobilnya. Pukul 11:40. Untung saja tempat itu hanya tinggal beberapa meter lagi. Ia berbelok satu kali, dua kali. Lalu berjalan lurus sehingga menemukan sebuah menara yang sangat tinggi. Yang sudah sangat menjulang di kejauhan beberapa meter. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti di sebuah parking lot di dekat sana. Tentu saja masih banyak lampu berwarna-warni yang menerangi mereka. Juga beberapa mobil yang berlalu lalang, dan orang orang yang berjalan kaki. Membuat suasana tak tampak sepi.

Jalanan itu tidak lengang. Bahkan menara di depan mereka terlihat sangat mewah dengan aneka lampu yang terang menghiasi sisi atas hingga bawahnya tanpa jarak lebih dari satu centimeter. Tinggi menara itu melewati awan dan tentu saja sangat tinggi.

Kai membuka pintu mobilnya dan menghirup udara malam di sekitarnya. Bahkan matanya yang seharusnya mengantuk itu sama sekali tidak merasakan rasa kantuk sama sekali sekarang. Ia menatap takjub menara  yang terbentang luas di depan matanya itu. Merasakan indahnya cahaya yang terpancar dari sana. Arsitektur menara itu memang sekilas jika orang awam melihatnya, akan terlihat seperti Eiffel. Namun, ada sisi yang sangat berbeda antara menara KyuonPong dengan menara Eiffel.  Menara KyuonPong tidak setinggi Eiffel dan warna dari besi menara tersebut lebih terang dari Eiffel.

Menara ini baru saja dibuat 2 tahun yang lalu. Disaat Kai pergi ke US.

“Oh iya, aku belum sempat memberitahu apa-apa saja yang muncul ketika kau pergi.” Sahut Leera tepat di belakang Kai yang sedang menatap menara KyuonPong dengan tatapan memuja.

Kai masih terdiam memandang menara yang terang di depannya itu. Leera hanya dapat merasakan kesenyapan dan angin berhembus mengibas rambutnya yang terurai. Lalu ia menyadari bahwa Kai menarik nafas sangat panjang.

Leera mengira bahwa Kai hanya penasaran dengan isi tower ini. Sehingga ia memilih untuk turun disini. Menurut Leera, malam ini Kai hanya ingin mengajaknya keluar di malam hari. Berjalan-jalan disaat cuaca tidak seterang dan sepanas siang hari.

Yeoja ini akhirnya terbawa suasana dan memilih untuk menatapi keindahan KyuonPong tower dari bawah. Merasakan angin malam yang menyibak rambut hitamnya dan memandangi bahu Kai yang sibuk mengamati keindahan di depannya. Bintang-bintang bertaburan di langit dan memantulkan sinarnya ke seluruh penjuru langit, membuat mala mini begitu terang. Namun tidak menyilaukan mata.

Menyadari Kai disini bersamanya, di bawah taburan bintang yang berkilauan bersamanya, dibawah langit malam yang indah bersamanya, membuat dirinya merasa sangat bersyukur. Tuhan memang akan selalu menjaba doanya, membalas kebahagiaannya dengan kehadiran Kai di depannya. Ia senang, melihat namja itu tersenyum puas memandangi keindahan KyuonPong tower, rambutnya yang terkibas tertiup angin, dan merasakan paras namja itu yang hangat di dekatnya. Leera sudah sangat senang.

Aku akan mengingat detik ini dan mengabadikannya menjadi sebuah potret yang kuciptakan lewat tinta. Agar aku dapat melihatnya selamanya, Kim Jong In.

Sementara Leera terus termenung dan terharu dengan apa yang dialaminya. Tiba-tiba ada sesuatu yang hangat menggenggam tangannya yang dingin. Leera tertegun dan mengangkat pandangannya secara pelan, namja di depannya kini menatap bola matanya dalam sembari berucap,

“Apa kau mau melihat bintang bersamaku, Park Leera?”

Leera benar-benar ingin menangis dan tertawa saat itu juga. Kata-kata ini… adalah balasan dari permohonanku disaat ia tidak ada di sampingku.

Leera tertawa, namun dari pelupuk matanya terdapat air matanya yang mengalir. Benar-benar perasaan yang tercampur aduk menjadi satu, bahagia, senang, haru, sedih. Leera benar-benar merasakan kehadiran Kai seutuhnya. Ia tak menyangka semua rasa rindunya akan terbayarkan seperti ini.

“Kau menangis lagi, Leera-ya. Kau tidak mau ya?” Kai berujar dengan raut muka heran. Lalu ia mengeratkan genggaman tangannya pada Leera. “Andwae. Jangan menangis.”

Leera menggeleng sembari memejamkan matanya. Air matanya mengalir lebih deras dari sebelumnya.  Kai pun menjadi sedikit panic tentang keadaan yeoja di depannya. Mengapa ia menangis? Kai merasa ada yang salah di dirinya yang tak sengaja melukai perasaannya sehingga ia menangis.

Tapi Kai lebih panic lagi saat ia menyadari bahwa Leera tertawa setelah itu. Namun anehnya, ia masih mengalirkan air matanya.

“Kau gila.” Ujar Kai sembari menatap Leera yang tertawa sembari menangis.

Leera malah semakin tertawa dan menutup mulutnya. Lalu mengelap kedua matanya yang basah, “Aku tidak suka dengan diriku yang cengeng.” Ujarnya yeoja itu sambil tertawa kecil. oh Park Leera, mala mini kau bagaikan gadis kecil yang sangat manis.

“Kau mau ikut aku keatas sana?” Kai menunjuk bagian atas tower pada yeoja yang berada di sebelahnya. Leera mengangguk pelan saat ini. Tanpa menangis.

Dasar cengeng, bisik Kai dalam hati. Merasa geli terhadap tingkah Leera yang bisa tertawa dan menangis dalam satu waktu.

Akhirnya mereka melangkah bersama menaiki tangga KyuonPong tower. Untuk mencapai puncak paling tinggi, mereka harus menaikki banyak sekali anak tangga yang mungkin dapat membuat mereka pegal. Tapi, mereka sama sekali tak merasakan pegal. Justru mereka sangat antusias untuk mencapai puncak menara. Pemandangan dari atas KyuonPong tower begitu indah meskipun belum mencapai puncak. Angin malam berhembus semakin lembut dan bintang-bintang terlihat makin berdekatan dengan mereka.

Kai terus menggenggam tangan Leera dan menjaganya agar tidak jatuh hingga sampai ke puncak menara. Di tengah perjalanan menuju ke atas, Leera kebanyakan berkomentar tentang apa-apa yang dilihatnya sebelum mencapai puncak. Gedung Kyoto yang begitu menjulang lah, kompleks perumahaannya yang terlihat darisini, dan sebangsanya.

Oh Hai. Leera yang cerewet.

Tiba-tiba Kai berujar dengan nada yang begitu bersemangat.

“Kita sampai.”

Leera menyadari derap kaki Kai yang berhenti di sampingnya dan berakhirnya anak tangga. Yeoja ini tercengang dengan apa yang dilihatnya disaat ia baru saja menarik nafasnya di puncak KyuonPong tower.

“Indah sekali…” manik mata Leera berlari kesana kemari, menatapi keindahan kota Seoul dari ketinggian belasan kaki. Angin malam yang sejuk menyibak rambut mereka dan hanya ada mereka berdua di ketinggian seperti ini. Ya, hanya mereka berdua. Di sana tidak lah gelap sama sekali. Kegelapan banyak diisi dengan sorot lampu jalan dan lampu-lampu listrik gedung gedung pencakar langit dan yang paling penting. Cahaya ribuan bintang yang terbentang di atas kepala mereka sekarang.

“Kau belum pernah kesini sejak dua tahun yang lalu?” Tanya Kai. Leera hanya menjawabnya dengan menggeleng pelan masih dengan kegiatannya yang sibuk mengangumi keindahan di sekitarnya.

“Kau harus mencobanya. Ini sangat menyenangkan disaat kau begitu lelah dengan pelajaran.”  Ujar Kai lagi dengan sedikit rasa bangga mengatakannya. Ia senang melihat kenyataan bahwa Leera senang diajak kesini.

“Taemin-kun tak pernah mengajakku ke tempat yang indah. Ia selalu mengajakku makan dessert.” Balas Leera dengan bibirnya yang sedang melakukan pout.

Kai tentu saja masih ingat dengan Taemin. Lelaki yang selalu tersenyum dan tertawa disaat ia sedih sekalipun, lelaki yang kehilangan adik perempuannya. Ia begitu baik. Sepertinya, Kai belajar dari Taemin. Bahwa sesungguhnya, ia harus selalu tersenyum minimal sekali dalam sehari.

Lalu Kai melihat jam tangannya. Pukul 11:58.

Deg.

Kai melepaskan genggamannya terhadap Leera dan berjalan sejenak ke tempat lain. Lalu kembali lagi. Leera masih asyik saja dengan pemandangan di sekitarnya. Seakan terhipnotis oleh alam yang selama ini disembunyikan.

“Leera-ya.”

Tiba-tiba Kai berujar di tengah kesenyapan.

Leera menoleh pada Kai, “Mwo?” masih terlihat jelas raut wajahnya yang begitu senang dan antusias.

Kai lalu menarik pundak Leera pelan agar tepat berada di depanya. Lalu menatap matanya sangat dalam. Wajah Kai begitu serius, sangat serius dibanding wajah-wajah lainnya yang pernah Leera lihat. Ia terlihat menarik nafas beberapa kali. Sementara itu dengan Leera, ia benar-benar tak bisa mengendalikan detak jantungnya lagi saat ia menyadari jaraknya yang begitu dekat dengan Kai sekarang. Kini, wajah Kai berada tepat di atas kepalanya dan namja itu kini sedang menatapnya sangat dalam.

Manik mata Kai seolah menyelam ke dalam manik mata Leera yang memantulkan bayangannya disana. Lalu Kai tanpa sadar tersenyum, tersenyum secara alami. Kai tersenyum! Melihat pantulan bayangannya sendiri di mata coklat indah milik Leera.

Leera menjadi sangat risih untuk terus menerus menatap Kai jika namja itu tersenyum kepadanya. Ia benar-benar tidak kuat untuk di tatap lama-lama.

Waeyo, Kai-a?”

ZZIUNG!

JDAR.

Sebelum Kai sempat menjawab, terdapat suara kembang api di antara dua sisi menara yang kini mereka tempati. Kembang api itu begitu mengangetkan Park Leera sehingga membuatnya menengok ke kanan kiri dengan heran. Ia mendapati banyak cahaya berwarna-warni di angkasa. Seperti warna galaksi. Kembang api itu pun semakin banyak dan terus bermunculan, mengisi kesenyapan di antara mereka.

Saenggil Chukkaehamnida, Park Leera.”

Leera terkejut bukan main saat namja di depannya yang bernama, Kim Jong In mengucapkan perkataan itu untuknya. Dan Leera baru saja sadar, ini tepat jam 00:00 di tanggal 7 Februari. Hari ulang tahunnya. Leera baru menyadari, bahwa Kai mengingatnya dan bahkan Kai rela datang ke rumahnya di tengah malam hanya untuk merayakan ini. Hal bodoh yang menurut Leera tidak penting?

Namja di depannya itu tersenyum lebar sehingga membuat matanya menghilang, lalu ia mengambil sesuatu dari balik punggungnya.

Sebuah bucket bunga besar yang seukuran dengan setengah tubuhnya. Bucket bunga itu berwarna pink, warna kesukaannya, dengan aneka macam bunga di dalamnya. Dibungkus dengan kertas yang berwarna putih cerah.

Kai menggenggamnya dan memberikannya pada Park Leera dengan senyuman lebarnya. Sementara itu Leera tak sanggup mengatakan apapun. Takkan pernah sanggup.

“Jadilah pacarku, Park Leera.”

Oh baikah, Kim Jong In. kau baru saja mengucapkan selamat ulang tahun dan ia belum sempat membalas dengan ucapan terimakasih. Lalu sekarang kau sudah menyerangnya dengan kata-kata yang dapat membuatnya mati di tempat saat itu juga?

Kali ini Leera benar-benar tidak percaya. Ia melihat wajah Kai yang berseri-seri di depannya, tersenyum tulus untuknya dengan kemeja lusuhnya yang belum diganti sejak  pulang dari airport. Dengan rambutnya yang berantakan karena terlalu banyak tertiup angin malam, dengan matanya yang seharusnya mengantuk. Senyum itu, senyum itu adalah senyumannya tanpa rasa sakit. Sekarang ia tak menahan rasa sakit lagi. Itu benar-benar senyumannya. Senyuman Kim Jong In yang seutuhnya.

Leera tanpa sadar tersenyum juga.

“Baikla—“

Chu

Belum sempat menjawab dengan sempurna, Kai sudah mempersempit jaraknya dengan Leera, menangkup dagunya, dan menciumnya dahinya.

Leera tentu saja merasa sangat tersentak dan kini matanya masih terbelalak sempurna. Namun lama-kelamaan ia hanya memejamkan matanya dan ikut merasakannya.

Lalu mereka Kai kembali menarik dirinya dan tersenyum kecil, Kai merasa malu sekali tetapi mau apa lagi. ini lah yang ia inginkan bukan? ia ingin mengakui perasaanya. Perasaan asli tentunya. dan juga, Tentu saja Leera masih merasakan sedikit canggung. Lalu ia menengokkan kepalanya ke kanan kiri. Benar saja, darahnya berdesir begitu hebat dan detak jantungnya kini sudah tidak karuan. Apa yang baru saja terjadi? Semua itu seakan mimpi bagi Leera.

“Bahkan aku belum sempat menjawab iya ataupun tidak.” Ujar Leera sembari mengalihkan pandangannya dari namja di depannya.

Kai hanya tertawa geli melihat reaksi yeoja di depannya itu. “Kau hanya sedang gugup.”

Sial. Pikir Leera. ia memang sangat gugup dalam hal-hal seperti ini.

“Ya, terimakasih. Kai-ya. Telah mengucapkan ulang tahunku. Kau adalah orang yang pertama kali mengucapkannya.” Leera hanya dapat berujar polos seperti itu. Seakan lupa bahwa Kai sudah mengakui perasaannya dan ingin ia menjadi kekasihnya.

Leera sendiri bahkan tidak mau mengingat saat ia menjawab dengan kata ‘baiklah’ tadi. Ia benar-benar malu. sangat malu dan lebih dari malu.

“Sama-sama. Dan oh iya, terimakasih juga, Leera-ya. Telah menerimaku.”

Mendengar itu, Leera spontan menutup wajahnya yang memerah. Ya, lebih dari memerah. Lalu yeoja itu mengalihkan pandangannya dan tersenyum malu.

Melihat itu Kai lagi lagi tertawa geli. “Hey kenapa kau? Apa ada yang salah dalam perkataanku?”

Ya,” Kai mencoba mendekati wajah Leera yang daritadi memerah. Menuntut agar Leera menatapnya dan menjawab pertanyaannya. Kai memang benar-benar jahil. Padahal Leera sedang dilanda keadaan malu berat sekarang. Leera hanya bisa menghindar-hindar kecil dari gangguan Kai yang sangat jahil terhadapnya.

“Ya! Kai-ya jangan membuatku—“

“Ya!”

Leera akhirnya menjerit sebal. Sepertinya ia kembali ke sifat asalnya yang kekanak-kanakkan jika ia sedang kesal.

Sementara Kai hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil mengeluarkan V sign.  Lalu mereka tertawa bersama-sama setelah menyadari tingkah mereka yang begitu bodoh.

#

Keesokan Paginya,

Leera mengerjap-kerjapkan matanya. Tak terlihat apapun, hanya sebuah gambar buram yang tidak jelas. Lalu ia mengerjap-kerjapkan matanya kembali. Dan menyadari bahwa ruangan ini adalah kamarnya. Untung aku tidak terbangun di menara itu. Pikirnya. Huh, pikiran bodoh.

Lalu ia melihat jam dinding yang terpampang di seberang matanya.

Pukul 8 pagi.

Leera langsung bangkit ke posisi duduknya dan menguap sangat lebar. Atau lebih tepatnya menguap sangat liar dan besar. Lalu mengucek-ucek matanya yang penuh dengan kotoran mata.

“Selamat pagi, wah hebat sekali kau menguap.”

Tunggu. Suara itu kan…

Leera perlahan menoleh, alangkah terkejutnya ia mendapati Kai berdiri di sudut kamarnya!

Tamatlah riwayatku. Ia bahkan melihat aku menguap lebar seperti singa!

Leera lalu langsung menjaga tindakkannya dan mengabaikan perkataan Kai tadi. “Kenapa kau bisa ada disini?” Tanya Leera pada Kai yang dengan wajah polosnya berjalan-jalan di dalam kamar Leera.

Kai hanya mengangkat bahunya dengan wajah polos. “Yah nanti juga kau akan mengetahuinya.”

Lalu Leera mengamati baju yang Kai pakai. Itu bukan tampak seperti baju yang asing bagi Leera. Kai menggunakan baju milik seseorang di rumahnya,

“Hey, kau memakai baju ayahku?”  Leera bertanya dengan sangat bingung. Untuk apa Kai berada di kamarnya di pukul 8 pagi dengan menggunakan baju ayahnya.

Oh. Atau jangan-jangan.

“Kau menginap.” Ujar Leera mengambil kesimpulan. “Aku takkan pernah bisa menebak apa yang akan eomma katakan padaku.”

“Kau tidak tahu bagaimana aku dimarahi di tengah malam dan kau dengan asyiknya tidur di gotonganku saat kita pulang?” Kai mengangkat alisnya dan memainkan apel yang berada di tangannya. Rambut hitam Kai tampak basah juga parasnya yang tampak rapih menunjukkan bahwa ia sudah mandi.

“Oh ya? Aku tertidur semalam?” Tanya Leera polos. Kai menepuk jidatnya lalu berujar dengan sabar.

“Kau tertidur sejak di mobil hingga masuk ke dalam rumah, chagiya.” Kai menjawab dengan embel-embel chagiya. Membuat Leera menjadi aneh seketika. Leera tidak terbiasa dengan Kai yang menyebutnya chagiya. Sekali lagi. Cha gi ya.

“Apa kau bilang? ‘chagiya’?” Tanya Leera dengan wajah heran sehabis bangun tidur.

“Lupakan, lebih baik kau bangun, mandi dan segera sarapan. Kau harus menghadapi ibumu di ruang makan.” Kai berbicara sambil berlalu keluar kamar. Terlihat sedikit rona merah di pipinya.

Leera hanya mengangguk-angguk pelan masih dengan wajah mengantuk dan tidak mengerti “Baiklah.”

Lalu Kai menoleh sebelum ia menutup pintu kamar Leera.

“Oh iya, lukisanmu bagus juga.”

Leera terbelalak kaget saat Kai mengatakannya. Lalu berteriak histeris setelah Kai menutup pintu kamarnya.

“TERIMAKASIH!”

The End.

*Tambahan*

“Kau ini benar-benar tidak mematuhi eomma ya. Aduh. Hampir saja eomma mengira kau diculik oleh penjahat. Ternyata kau diculik oleh makhluk tampan seperti ini.” Mrs. Park melempar pandangannya kepada namja yang duduk di sebelahnya. Kim Jong In.

Leera menghembuskan nafas lega karena ibunya masih sempat bercanda disaat-saat tegang seperti ini.

“Gara-gara orang itu. Eomma jadi tak bisa memberimu kejutan di pukul 00:00. Sekarang, jelaskan pada eomma . kemana saja kau saat itu huh?”

Shit. Leera hanya bergumam-gumam kecil tak mengerti ingin menjawab apa. “Itu… anu…”

“Anu anu apa?” Tanya ibunya meminta penjelasan.

Tega sekali ibunya memarahinya di depan Kim Jong In. Leera benar-benar mati kutu dan hanya bisa menunduk memandangi pancake ice cream nya.

“Jawab, Park Leera.”

Sialnya Leera semakin takut sehingga ia terdesak untuk menjawab.

“KyuonPong Tower, eomma.”

Kai membelalakkan matanya karena terkejut Leera mengatakannya. Ia pun memandang Leera begitu kuat dan memberi kode padanya bahwa ia salah menjawab.

Wajah eomma berubah menjadi lebih garang lagi, “Apa katamu? KyuonPong Tower?! Di tengah malam?!”

Wajah mrs. Park kini sudah memerah karena marah, lalu ia menoleh pada Kai yang berada di sebelahnya. “Kau membawa anakku ke KyuonPong Tower di tengah malam demi mengucapkannya selamat ulang tahun?!”

Kai menegak ludahnya dengan susah. Lalu menangguk pelan.

Sementara Leera menggigit bibirnya, takut Kai disembelih oleh ibunya yang terkenal jika marah sangat garang itu.

Mrs. Park terdiam sejenak. Lalu menjawab dengan nada yang justru malah ramah,

“Oh bagus sekali! Kau memang benar-benar calon menantu idaman. Kau hebat!”

Sementara itu Leera dan Kai saling berpandangan dan mengangkat bahu. Kurasa ibumu memang sedikit gila.

Ya kurasa juga memang begitu.

Author Notes:

Finally sudah selesai! Wah beban serasa terangkat! Sebenarnya pengen post di tanggal 7 aja sekalian ultah Leera tapi berhubung waktu yang tidak memungkinkan makanya pending jadi tanggal 8 huhu. Maafkan ya yang sudah dijanjikan. Maaf juga part terakhirnya kurang greget dan kurang waw buat kalian semua hihi. Soalnya aku tidak berjiwa waw._. tidak jago bikin yang soswit dan pasti ini jelek banget ya aku sudah tahu itu. Kuterima apa saja yang akan kalian komentarkan terhadapku yang penting ni ff selesai!!! WAHAHA #Tidak bijak# #jangan ditiru# juju raja omcia ini gapernah gue rencanain bikin ff nya dan gapernah pake kerangka pas awal-awal. Ini cerita ya cuma iseng iseng berhadiah doang sih. Setiap bikin part sekarang selalu kepepet waktu, hanya ada waktu di tengah malam, padahal aku jarang bangun malam :’) #curcol ya demi janjiku padamu deh. Gasuka ditagihin mulu. Pengen free karena aku punya banyak hal yang harus dilakukan.

Terimakasih buat semuanya yang sudah dukung ff ini! Akhirnya ff ini sudah seleeesaaiiii! Omaygat seneng banget-_- terimakasih buat orang-orang yang udah dukung, udah baca di awal-awal dan makasih buat EXO Fanfiction World yang memperkenalkan ff ini pada readers yang rame-rame diluar sana. Makasih yang udah rela bikinin poster ff buat omcia yang sudah komen sana sini. Yaah semuanya. Makasih untuk temen-temen di sekolah yang udah baca dan nungguin. Seneng banget hehe. Maaf ya kalo ff nya ga memuaskan.  Soalnya aku bukan alat pemuas :’) #eh apa ini sa#

Kamsahamnida! Pesan aku mohon jangan ditiru adegan-adegan negative yang terdapat di ff diatas, ciuman jangan ditiru lah ya. Ya namanya kan orang korea, budayanya beda, pendek-pendekin rok apalagi jangan deh, ngejer-ngejer mantan pacar sampe ketabrak mobil juga jangan ditiru, taruhan demi cewek wah jangan sampai ditiru juga tuh! Bahaya. Sekali lagi maafkan sasa jika ff ini lebih banyak mengandung mudarat daripada manfaat. Mohon diambil positifnya aja jangan negatifnya, kalau tidak sasa akan berdosa nih :’)

Pesan moral omcia apa ya. Hm… pesan moralnya itu mungkin ((sesotoynya gue))

1.       Tetep bertahan walau sakit-sakitan = kai yang udah sakit parah aja masih bisa bertahan hidup dan senyum.

2.       Perjuangan seorang ibu terhadap anaknya = jadi ibu kai itu udh bela-belain banget untuk kai sembuh sampe di bawa ke US.

3.       Berubah menjadi lebih baik untuk kesuksesan di masa depan = contoh tuh Leera yang rela merubah sifatnya yang kekanak-kanakkan dan lebih mementingkan masa depannya.

4.       Kesolidaritasan teman  = jadi temen itu selalu bareng2 dan solid. Daftar bareng lulus bareng.

 

Sebenernya masih mau nyebutin lagi, tapi sepertinya ini sudah malam. Dahhh.. sasa pamit undur diri, dan sekarang sasa lagi baca ff ini nih. Judulnya Tuyul Batak, GOKIL BANGET FF NYA! Buatan teman aku namanya Marini hihi  ini linknya greenapplestory.wordpress.com .

Read Tuyul Batak part 1 à

Part 2 à

Part 3 à

Part 4 à https://greenapplestory.wordpress.com/2015/02/07/tuyul-batak-4/

 

79 comments

  1. Anyeonghaseo kak sasa.
    Mianhae selama ini aku siders.
    Gak bisa bilang apa-apa untuk FF YBIMA OMCIA dari Season 1 – Season 2 Part5b
    Makasi udah memberikan yang terbaik untuk pembacanya thor.
    Aku cuma bisa bilang kalo FF ini PERFECT ^_^

  2. Anyeonghaseo kak sasa.
    Mianhae selama ini aku siders.
    Gak bisa bilang apa-apa untuk FF YBIMA OMCIA dari Season 1 – Season 2 Part5b
    Makasi udah memberikan yang terbaik untuk pembacanya thor.
    Aku cuma bisa bilang kalo FF ini PERFECT ^_^
    semoga FF ini bisa dibuat menjadi suatu novel.

  3. Onnie.., ini ff terbaik yg pernah aku baca,
    Aku baca dari season 1-2 end. Maaf baru coment hehe..
    Makasih yah on udah buat ni ff. This the Best for me ^_^
    Keep writing on..

  4. Bagus banget si kamu bikin ff nyaaaa:’) terharu deh. untuk seumuran kamu tuh udah bagus banget, aku juga suka banget sama karakter kai dari awal baca OMCIA sampe akhir. Daebak laa pokoknya buat kamu:) Keep writing yaa!

  5. Akhirnya selese *sujudsyukur
    Ini ff terpanjang dan terbaik yang pernah aku baca. Gak pernah bosen nungguinnya sampe2 selalu nanyai mulu di ask.fm dan twitter kapan lanjut dan minta linknya
    Kapan2 buat ff kek gini lagi yah Sa. Eon suka banget dah
    Ff ini perpek
    Tengkyu udah ngasih linknya lewat ask.fm dan ngebalas terus tiap aku kepoin

  6. DAEBAKKKKK!!!
    KYAAAAA INI FF KAI FAV~~
    TERAKHIR BACA PAS LIBURAN, TRUS GAK SENGAJA NYARI ‘OMCIA’ EH UDAH END. BARU BISA BACA DEHH

    HUBU MAKASIII KAA UDAH BERHASIL BIKIN NANGIS TENGAH MALEMM WKWK. MAKASI UDAH BUAT FF NYAAA^^
    DITUNGGU LAGI FFNYA CAST KAI YAH HEHE:D.

  7. ya tuhan aku baru baca ending ff nya
    wuahhh terharu sama endingnya. bnr bener ff yang paling aku suka.makasih udah buat happy ending.
    dan. .
    keep writing. tulis ff yang lain lagi. pasti ga kalah bagus dehh. sasa. . kamu hebat 4 jempol buat kamu ^_^😉

  8. Kyaaaaa!! Sasaaa aku udh baca dari omcia YBIMA sampe season 2nya!! Seru sumpaaah! Maaf baru ngasih komennya di s2 part akhir lagi’-‘v pokoknya keren lah ffnya!

  9. KYAAAAAA!!! aku dapet ff ini dari recommend temen wattpad aku dan ternyata… ah pokoknya puas sama semua ceritanya, maaf kalo aku cuman jadi sider dari s1 soalnya baca ff ini abisnya cuman 2 hari saking panjang dan serunya huehe:’3 berharap ada sequelnya thor, intinya ini ff DAEBAK!!!

  10. Hahaha😄 aku suka end nyaa😘😘 Kai romantis aneddd wks
    Btw maaap bangett thor, aku di part sebelumnya ga komen, sebenernya uda aku ketik komentarnya tapi gada tulisannya, jadi kaya masih kosong kolom komentarnya😰😰

  11. Assalamualaikum, aq reader baru. Menarik sekali ceritanya. Udh bca semua dan benar2 top drpd ff dr blog2 lain. Judulnya yg bkn penasaran dan saat baca menarik bgt ceritanya dan trs bca2 smpai di part akhir s2 dan jg maaf baru komen diakhir part krna itu kebiasaan sya.heheh:-D.. Keseluruhan OKE BANGET.

  12. Kyaaaa aku mau komen setelah finish baca ff kaira ini 😁 setelah bolak balik part akhirnya finish juga.. keep writing chingu!! Azzaaaa….. 💪💪💪 aku menunggu ff yg lainnya suer ini kereeennnt!! 85 dr 100

  13. Wahh eonnie, udah lama banget aku gk baca ini ff, aku kira udah tamat di season satu ternayata pas nyari ada season baru, tadinya sih aku sempet nyari di berbagai web yang pernah disinggahi oleh ff ini, tapi ke ingat web pribadi eonnie jadi aku buka dan baca lagi dehh… hehehe. Keep writing ya eon🙂

  14. Bagus thor!!!

    Seneng banget bacanya haha..
    gk terasa uda selesai. Mungkin keren kalau di bikin flim gitu, jadi lebih gmana gitoh. Ff buatan mu bgus bgt. Aku sampek senyum” bacanya. Daebakkkk!!!🙂
    mksh uda membuat pembacanya seneng. xD

  15. Awal nya cuma iseng-iseng baca ehhhh gak tau nya jadi ketagihan , bikin penasaran \=d/ , s1 smpai s2 nya aku baca dlm 2hari😀, ff iniiiii super duper kerennnnn (y)

  16. Awalnya tadi iseng2 nyari ff yadong :v trus ada ff ini.Pas bacanya part 1 nya awalnya ga tertarik,tapi kagok/? yaudah aku baca sampe last part.Aku suka bahasanya kak ‘-‘)/
    Oh ya maaf yaa kak selama ini aku sider hehe xp

  17. Aku kagummm sma yg buat cerita ini , dari Season 1 samai Season 2 ceritanya di bikin menarik . Konflik konflik yg berbelit di tata rapih sampai penyelesaian masalah-masalahnya. Penjelasan ini kenapa ? Itu kenapa ? Udah di bahas dan penjelasan End nya bener-bener menarik ya walaupun kai masih agak sediktttt gk jelas.jauh lebih baik karakter Kai sesudah sembuh .(jadi inget tokoh pria di Anime). Ku rasa perjalanan mereka panjang juga . Cinta memang gak mudah . Salut sama penulisnya buat cerita beralur panjang dan berkonflik macam macam . Aku tau betapa susahnya nulis haha . SELAMAT buat penulis yg dah menyelesaikan tulisan yang menarik ini dengan mau berbagi tentunya ^^

  18. Wuhuw~ setelah sekian lama dan bahkan aku hampir lupa kalau ini ff belum selesai kubaca,tapi pada akhirnya aku inget juga dan menemukan chapter terakhir! Ini beneran keren banget! Alurnya bikin mangap.Awalnya aku pesimis si Kai ga bakal bertahan,tapi ternyata,ahahaha… Dia sembuh!

  19. Aku sedikit kecewa endingnya gitu.
    Udh ngebayangin ekspresi pasangan gila baekyeol dan temen satu gank EXO beserta seohyun melihat kai telah kembali..
    Lalu mereka pelukan dan tentunya kai ngomong kalau leera udah jadi pacarnya. Baekhyun dan chanyeol godain leera.leekai menikah Lalu berkeluarga,, mempunyai anak(tapi tidak mendapat penyakit turunan dari appanya).penasaran hubungan baekhyun dengan taeyon…
    AHHH,,, banyak deh
    klw boleh,, ada omcia S3 heheheheh

  20. Akhirnyaaa stelah satu stengah hari, selesai juga baca OMCIA 1 & 2 T.T happy ending huhu.. Jadi kangen pas mereka tereak tereak gak jelas gegara tnggal seapartemen :v kangen moment mereka T.T

  21. sumpah udah baca ff ini 3 kali dr awal dan selalu kejer nangis duluan pas udah di part ini. ff fav banget yg sampe gua abadikan dimana mana link dsb. di jadiin novel keren kayanya thor.

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s