Since We’re Child 2


Click to visit the original post

Since We’re Child and Now You Love Me

| Author |

Bekicot Princess / Saarah Salsabila Shofa

| Main Cast |

Kim Jongin aka Kai EXO

Jung Soojung aka Krystal F(x)

| Genre |

Friendship, Fluff Romance, Family

| Length |

Mini-chapter / 3 Part or above

| Rating |

T

| Disclaimer |

All things in this fanfic are mine expect casts. Don’t be a plagiator or you will get the regrets.

| Summary |

Cinta itu tumbuh di tempat yang tidak terduga dan di waktu yang tidak terduga

NO SILENT READER AND PLAGIATOR

Sasa rekomendasikan FF ini pd Kaistal shipper dan juga pencita cinta pertama

“Apa aku akan benar-benar kuliah?”

Manik mata hazel itu memandangi secarik kertas yang ditariknya dari sebuah amplop cokelat yang begitu berharga. Pelupuk matanya menebal menyimpan air mata, terharu karena surat ini sampai kepadanya. Ia memandangi lekat-lekat kertas itu dengan raut tidak percaya. Aku? yang benar saja. Daejon University. Universitas terbaik di Daejon. Yeoja ini benar-benar menginginkannya hingga ia belajar mati-matian untuk ini. Ia berjanji takkan mengecewakan ibunya. Sekalipun ia gagal ia akan terus berusaha membangun keluarganya.

Semua perlengkapan dan kebutuhan mahasiswa anda ditanggung oleh pemerintah daerah setempat.

Daejon University,

“Kau bercanda?!”

Soojung melompat kegirangan. Ia berkali-kali menghempaskan kakinya ke ranjang lalu mendorongnya sehingga tubuhnya terpantul ke atas. Di wajahnya terdapat raut bahagia yang amat sangat. Ia melempar kertas kemenangan itu ke udara dan berputar-putar.

“Aku kuliah! Aku kuliah! Aku kuliah!” Dia masih belum selesai berputar-putar. Di putaran ke-59, yeoja itu berhenti dan ia memilih untuk mengganti kegiatan menjadi melompat-lompat di atas ranjang dan bernyanyi lagu band favoritnya. Hingga lima menit kemudian ia lelah dan terkapar di atas ranjangnya yang sudah hancur di tempanya. Ia langsung lemas dan raut wajahnya melemah karena terlalu bahagia.

“Ibu, aku kuliah…”

#

Sepasang mata cokelat yang rupawan dan sering dipuja-puja itu memandangi buku lama miliknya. Bersampul cokelat tua, berdebu, kusam. Ia tidak berniat membersihkannya, ia hanya menatapnya sangat lama dan tidak bergeming sedikitpun. Bulu matanya bergetar saat ia menyadari ada selembar kertas pembatas yang berbentuk kupu-kupu berwarna ungu di dalamnya. Yang tentu saja, sudah termakan oleh waktu dan menjadi kusam. Tidak berbentuk sempurna. Lelaki ini hampir tidak mengenalinya. Tapi, walau ia mengenalinya juga, itu bukan masalah baginya.

“kenapa? kau takut kupu-kupu hah?”

Bibir nya tidak bergerak sedikitpun menanggapi memori yang sekelebat waktu menyeberangi pikirannya. Ia tetap diam. Hingga saatnya ia membuang buku itu ke kotak pembuangan dan memberikannya pada pelayan yang sudah menunggu di penghujung pintu kamarnya.

“Buang semuanya, aku tidak membutuhkannya lagi.” Lelaki itu berbicara tanpa menoleh pada pelayannya. Tidak melayangkan ekspresi apapun yang dapat diolah. Ia hanya membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangannya yang sudah usang itu.

Pelayan itu membungkuk sembari gemetar dan langsung terbirit-birit membuang semua barang yang tampak di matanya ke tempat pembuangan.

#

“Tidak mudah menerima semua ini, nak.”

Kai tidak menoleh sama sekali dan tetap memandang kosong pada kolam renangnya yang berada di outdoor dengan terpaan angin bukit. Rambutnya beterbangan ke belakang, menghempas pipinya yang sudah tidak merah dan wajahnya yang sudah tidak lucu, menggemaskan seperti dulu. Tidak ada pelayan yang bebas menyapanya sekarang, saling tersenyum, bermain mobil-mobilan bersama, dan Kai tumbuh menjadi orang yang sangat serius di hadapan keluarganya.

Lelaki tua yang berada di kursi roda ini adalah ayahnya. Pemegang Kim Coop. Perusahaan besar yang bercabang ke segala bidang mulai dari menjual jasa hingga produksi tekstil. Ayah dari Kim Jong In ini tidak kuasa melihat anaknya yang terus-terusan diam di kolam ini puluhan menit tanpa bergerak.

“Rumah ini sudah tidak indah lagi bukan. Kau hanya bisa menyakiti hatimu lebih dalam jika berada disini.” Tuan Kim mendorong rodanya agar lebih dekat ke arah anaknya. Sang pelayan langsung tersentak dengan tindakan tuannya yang sangat sembrono itu. Salah sedikit, ia bisa masuk ke dalam air dingin milik kolam renang. Tuan Park menoleh pada sang pelayan dan menolak bantuannya dengan halus. Sang pelayan menunduk dan mundur.

Tuan Kim juga minta untuk meninggalkan ia dan Kai berdua saja.

“Keputusanmu tepat.” Ujar Kai pendek. Lalu namja itu bangkit dari duduknya dan berbalik masuk ke dalam ruangan rumahnya. “Aku tidak suka rumah ini.” Lanjutnya lagi. Meninggalkan ayahnya sendiri di pinggir kolam renang.

Raut tuan Kim masih sama. Di sorot matanya terlihat rasa sesak dan khawatir. Kursi roda, kepergian istrinya, kecelakaan, semua menghancurkan hidupnya menjadi kepingan. Harta berlimpah takkan dapat menggantikkan semua kenangan indahnya bersama keluarga. Ia merasa, ia memang harus mati setelah ini.

Lalu terlihat semburat senyum di bibirnya. Yang entah untuk apa ia melakukannya.

#

“Aku pergi.” Soojung merapatkan pelukannya pada ibunya. Mata hazelnya yang indah terbasahi air matanya yang akhir-akhir ini sering keluar. Ibunya yang sudah keriput ini akan tinggal sendiri di rumah tua ini. Sendirian dan entah melakukan apa. Bekerja? Ya, ibu Soojung memang orang yang pekerja keras. Ia akan tetap menjadi petani keong emas. Mungkin saja, bila badai tak terus mengguncang desa ini.

“Ibu di rumah saja jika ada badai. Ibu tidak usah memaksa bekerja. Krystal bisa melakukannya. Di pusat kota Daejon pasti banyak tempat yang membutuhkan pekerja keras seperti aku!”

Ibu Soojung hanya tersenyum sedih. Ia membelai rambut Soojung yang hitam lurus. Persis seperti miliknya. Ia mengarahkan tatapan Soojung ke wajahnya yang sedang tersenyum. Namun ia hilangkan raut sedih di wajahnya.

“Iya, aku mengerti. Kau tidak ingin kelihatan sedih di hadapanku? Bodoh sekali.” Soojung tertawa kecil. Lalu ibunya melepaskannya. Ia menuju ke kopor yang hendak Soojung bawa dan mengangkatnya, memberikannya pada Soojung. “Kau adalah Ibu terbaik.”

Ibunya hanya menggeleng. Lalu mengucapkan sesuatu. “Krys… krystal.”

Soojung mengangguk haru. Melihat ibunya yang berusaha menyebut namanya. Alias nama buatan Ibunya untuknya. “Nde…”

“Bersinarlah seperti Krystal. Krystal yang sangat menawan. Krystal yang sangat indah…” Soojung menirukan nyanyian ibunya saat ia masih kecil. Ia mengacungkan jempol pada ibunya tanda ia mengingat lagu itu dengan baik walau sekarang ibunya takbisa lagi menyanyikannya karena gangguan saraf untuk berbicara. “Aku akan selalu mengingatnya.”

Ibu Soojung lalu memberi isyarat kode tangan untuk segera pergi, karena taxi sudah menunggu sangat lama untuk perpisahan Soojung ini. Perpisahan untuk meninggalkan desa terpencil yang jauh dari pusat kota Daejon. Perpisahan untuk menuju tempat tinggal baru.

Dah!” Soojung berlari sambil menggeret kopornya. Sebuah taxi berwarna kuning menyambutnya dengan label di pintunya Daejon University. Soojung hendak membuka pintu namun seseorang dari dalam mobil membantunya menaruh barang-barangnya ke dalam bagasi lalu membukakan pintu pada Soojung. Soojung berterimakasih senang. Tidak biasa ia diperlakukan seperti ini sebelumnya.

Kini Soojung berada di balik kaca hitam sebuah taxi. Dimana ia hanya dapat melihat ibunya melambaikan tangan dari balik kaca. Roda mobil bergerak, perlahan taxi itu berjalan menjauhi rumah Soojung. Hingga saatnya 3 detik terakhir ia dapat melihat Ibunya, beliau tersenyum kepadanya.

Soojung tiba-tiba menjatuhkan air matanya. Perpisahan yang sangat bodoh dan menyedihkan. Mengapa aku menangis terlalu banyak?

#

Rumah yang sama besarnya dengan rumah lama. Hanya berbeda suasana, dengan nuansa minimalis yang terlihat fancy. Pagar rumah itu mirip sekali dengan tebing yang tinggi dan halaman depan untuk masuk ke dalam sana begitu luas nan asri. Kedua ayah anak Kim ini baru saja turun dari mobil yang mengantarnya kesini dan berdiri di halaman depan dekat air mancur.

“Sebenarnya aku tidak suka rumah yang terlalu besar dan ada ratusan pelayan di dalamnya. Kita hanya tinggal berdua. Seakan-akan ini rumah pelayan, bukan rumah kita.” Ujar Kai yang berada di samping ayahnya yang masih terpaku memandangi rumah barunya. Kai menatap air mancur di depannya. Lalu semak hijau yang terpotong dengan rapih membentuk suatu shapes.

“Aku hanya ingin menikmati rumah ini sebentar. Kau akan segera melakukan semuanya dengan kehendakmu sendiri nantinya.” Jawab tuan Kim sarkatis dan tersenyum bijaksana. “Aku membutuhkan banyak pelayan. Kau tidak hidup sendiri disini,” Lanjutnya lagi sembari tertawa kecil ala orang tua yang bersuara serak.

Kali ini Kai menoleh pada ayahnya, “Kau ingin bilang kalau kau sebentar lagi mati?” Lalu namja ini menghembuskan nafasnya berat. “Aku sendirian.”

Lalu ayahnya tertawa lebih keras saat mendengar kalimat terakhir. “Kalau begitu temukan seseorang agar kau tak kesepian.”

Setelah mengatakan itu, Tuan Kim meminta pelayan mendorong kursi rodanya menuju pintu rumah yang utama. Kursi roda itu berjalan menjauh, menjauhi Kai yang masih mematung memikirkan kata-kata ayahnya. Namja ini begitu gila akan kepergian ibunya dan kecelakaan yang membuat hidupnya menderita.

“Ingat. Kau Kim Jong In. Jangan pernah buang waktumu untuk sesuatu yang tidak pernah penting. Apa kau akan terus bertahan seperti ini? kau terlihat berantakan.”

“Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya kami? Ini terlalu jauh untukmu. Kau tidak pernah jadi anak senakal ini sebelumnya. Kau sungguh licik.”

Kai berjalan mengitari air mancur dan berjalan menuju taman belakang. Ia melihat sebuah batu batu di sekitar kolam ikan yang bersinar seperti kristal. Perlahan ia memejamkan matanya, Aku tidak akan licik lagi, bu. Aku akan melakukan hal yang berguna untukku dan tidak membuangnya untuk orang lain.

To be Continued

2 comments

  1. Sasaa.. kok pendek sih? Tapi tetep suka kok. Hihi.
    Kirain di chap ini kai sama klee bakalan ketemu lagi.. ternyata engga:”))
    Jujur aku lupa udah apa belum comment dichap 1 nya. Secara chap1nya udah lama banget aku rasa. Dan jujur lagi.. aku udah lupa sama jalan ceritanya. Ya kalo dikit2 masih inget sih. Hehe
    Jadi kesimpulannya adalah.. kayanya abis ini aku bakalan re-read chap1nya deh. Wkwk sekalian comment lagi juga kayanya. (Ampuni aku)
    Next chap panjangin lagiii, yayaya?
    Sign love deh buat sasa;)))

    P.S. : pecinta kaistal’s here!!

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s