Paragrafku Burung Hantu


owl1Biarkan tatapan itu melayang.
Burung hantuku yang penuh rasa tersembunyi.

Biarkan gigi itu bersembunyi dari tawa.
Atau punggung yang berbalik kilat.

Sekian kali. Namun jika aku adalah seorang master matematika aku tak segan mengakui bahwa pertemuan itu hanya berbatas di bawah angka sepuluh. Bukan matanya yang aku lihat, juga bukan perkataan yang aku inginkan. Karena, aku takkan pernah marah jika mulut itu tak berbicara di depan wajahku. Membuatku melihatnya memandangku sembari membuat komunikasi antar manusia.

Flashdisk itu adalah saksi. Saksi kesunyian tanpa arti. Dimana hanya dua kata yang ada di lisannya. Makasih ya adalah kata yang sangat lazim untuk percakapan antara tukang parkir dan seorang supir. Begitu pula dia dan aku. Tak lebih dari sekedar supir dan tukang parkir.

Tubuh ini selalu mengelak menegak. Matanya pun enggan memandang. Aku ingin menjadi ciut. Berjalan di antara tetembokan. Tidak ingin terlihat. Karena ia begitu nyata dan tinggi. Aku tak pernah berani. Tak satupun kata terucap untuknya. Ia berbalik badan bersamaan dengan ucapan terimakasih yang ia ucapkan. Aku takbisa memberi respon.

Tersenyum pun takbisa.

Karena ia tidak pernah memberikan celah. Untuk membuatku memikatnya.

Aku tidak segenit itu. Aku tak terpikirkan di detik ke sembilan koma delapan. Disaat benda itu jatuh ke telapak tangannya yang besar. Aku hanya berfikir tentang tanganku yang gemetar.

Dan suaraku yang melemah.

Aku harus sok.

Sok berani agar percakapan terciptakan. Tetapi, Tuhan tidak mengizinkanku melakukannya. Aku dijauhkan. Namun di sisi lain, aku tetap dekat walau kami sangat berbeda.

Aku tak berharap apapun. Aku tak berharap semua kebahagiaan kecil ini berubah menjadi kesalahan berbalut dosa yang menggunung. Tuhan harus ikut campur di antara kami. Walau aku tidak menginginkan dan mendoa. Aku tidak peduli. Aku diam. Aku tak berusaha. Aku suka cara Tuhan.

Meskipun aku selalu mendongak ke atas. Melihat kepalanya yang menyembul besar. Entah tersenyum entah berbicara. Yang jelas itu bukan untukku.

Aku suka suaranya. Sedikit. dan selamanya tetap sedikit. Aku tak tahu apa jadinya jika aku mendengarnya langsung setiap hari. Hanya dua kata.

Namun Tuhan membuatnya indah.

Kini aku tahu mengapa Tuhan dapat membuat surga.

Karena Ia bisa menciptakan keindahan walau sederhana. Mengapa ia takbisa ciptakan keindahan yang memewahkan? Terlalu mudah.

82015, Paragrafku Burung Hantu.

2 comments

Kritik dan Saran ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s